Indonesia
NovelToon NovelToon

Sins Of The Playboy

#1

Lorong utama Stone Hospital malam itu biasanya setenang kastil tua.

Rumah sakit yang berdiri megah di pusat kota Chicago ini bukan sekadar tempat penyembuhan; ini adalah simbol kekuasaan mutlak dari Klan Stone.

Dinding-dinding marmer Italia yang berkilau, lampu gantung kristal yang temaram, dan penjagaan super ketat di setiap sudut menegaskan bahwa hanya orang-orang dengan nama besar—atau isi dompet tak berseri—yang bisa menginjakkan kaki di sini.

Namun, ketenangan itu hancur berantakan dalam satu detakan jantung.

"Dokter!!!"

"Dokter!!!"

"Sialan, cepat ke sini!!!"

Suara raungan itu menggema, memantul di antara dinding-dinding kaca IGD eksekutif.

Pintu otomatis lobi utama terbuka paksa, dan beberapa pria berjas hitam dengan wajah tegang mendorong sebuah brankar dengan kecepatan penuh.

Di samping brankar itu, seorang pria muda dengan guratan wajah tegas namun dipenuhi kepanikan luar biasa terus berteriak jahat, tangannya mencengkeram sisi ranjang besi.

Kendrick Stone, sang pangeran kedua dari Klan Stone, kehilangan seluruh ketenangan yang biasanya ia agungkan. Kemeja putihnya yang mahal kini ternoda oleh cipratan darah segar yang kontras.

Di atas brankar, berbaring kembaran identiknya, King Stone. Sang pangeran pertama, pria berusia 27 tahun yang terkenal kejam dan dingin di dunia bisnis Chicago, kini memejamkan mata rapat-rapat.

Wajahnya yang biasa angkuh tampak pucat pasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Di bagian perutnya, kemeja hitam yang ia kenakan telah robek, memperlihatkan luka sayatan yang sangat dalam dan lebar. Darah pekat terus mengalir dari sana, merembes di antara jemari tangan King yang mencoba menahan ususnya sendiri agar tidak keluar.

"Bertahanlah, King! Demi Tuhan, buka matamu, bajingan!" bentak Kendrick, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan kehilangan.

Suasana IGD langsung menegang. Para perawat yang mengenali siapa yang dibawa langsung bergerak panik.

Menangani anggota Klan Stone sama saja dengan mempertaruhkan nyawa dan karier mereka. Jika pria di atas brankar ini mati, tamat sudah riwayat semua orang di ruangan ini.

Di tengah kepanikan massal itu, sebuah langkah kaki yang konstan dan tenang mendekat.

Seorang wanita dengan jubah putih residen berjalan membelah kerumunan perawat.

Di dadanya, tersemat papan nama perak bertuliskan: dr. Olivier Martinez, Residen IGD.

Wajahnya tertutup masker medis hijau, hanya menyisakan sepasang mata bulat yang tajam, jernih, dan sama sekali tidak memancarkan ketakutan.

Usianya sama, 27 tahun, namun ketenangannya di tengah badai darah ini seperti seorang veteran perang.

Begitu matanya menangkap sosok King Stone dan luka di perutnya, Olivier tidak membuang waktu satu detik pun untuk terkejut atau sekadar memberi hormat pada Kendrick yang sedang mengamuk.

"Dorong ke Ruang Tindakan Satu! Sekarang!" perintah Olivier. Suaranya jernih, tegas, dan penuh otoritas yang tak bisa dibantah.

"Kau! Selamatkan kakakku! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan tempat ini!" ancam Kendrick dengan mata memerah, menunjuk tepat ke wajah Olivier.

Olivier bahkan tidak melirik Kendrick. Ia langsung ke sisi brankar, tangannya dengan cekatan mengambil tumpukan kain kasa steril berukuran besar, lalu menekannya dengan kuat tepat di atas luka sayatan di perut King untuk menghentikan pendarahan hebat yang sedang berlangsung.

"Ahg-hh..." King mengerang tertahan, tubuhnya mengejang sesaat akibat tekanan mendadak itu.

Sepasang matanya sempat terbuka sedikit, sayu dan buram, menatap siluet wanita bermasker di atasnya sebelum kesadarannya kembali meredup.

"Tensi darah drop ke 90/60, denyut nadi lemah!" seru seorang perawat yang memasang monitor.

"Siapkan empat kantung darah golongan O-negatif sekarang! Pasang jalur IV ganda, guyur!" perintah Olivier tanpa ragu.

Jemarinya yang dibungkus sarung tangan lateks bergerak dengan presisi yang luar biasa. Ia memeriksa kedalaman luka sayat tersebut dengan teliti.

"Luka sayatan sepanjang Sepuluh sentimeter, untungnya tidak mengenai arteri utama atau menembus organ dalam secara fatal, tapi pendarahan eksternalnya terlalu masif. Ambilkan set jahit darurat dan anestesi lokal. Aku harus menghentikan pendarahan di sini sebelum memindahkannya ke ruang operasi."

Selama hampir tiga puluh menit yang mencekam, Olivier bekerja seperti robot yang diprogram sempurna. Ia tidak memedulikan status King sebagai pewaris utama klan paling ditakuti di Chicago.

Baginya, pria bertato yang sedang sekarat ini hanyalah seonggok daging yang butuh dijahit agar nyawanya tidak melayang.

Dengan gerakan cepat dan rapi, ia membersihkan area luka, menyuntikkan anestesi, dan mulai menjahit pembuluh-pembuluh darah yang robek dengan ketenangan yang luar biasa.

Kendrick yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menyaksikan dengan napas memburu.

Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa takjub yang aneh melihat bagaimana dokter residen wanita ini mengendalikan situasi darurat dengan begitu dingin.

Setelah jahitan terakhir selesai dan perban steril dibalutkan dengan rapi di perut King, monitor mulai menunjukkan angka yang lebih stabil. Napas King yang tadinya memburu kini menjadi lebih teratur, meskipun pria itu masih belum sadarkan diri akibat efek trauma dan obat-obatan.

Olivier mengembuskan napas panjang, melepaskan sarung tangannya yang berlumuran darah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Ia membenarkan posisi jubah putihnya, lalu berbalik untuk berjalan keluar dari ruang tindakan.

Kendrick dengan cepat menghadang langkahnya di ambang pintu. Wajah pangeran kedua Stone itu dipenuhi kecemasan yang tertahan.

"Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja? Kapan dia sadar?" tanya Kendrick bertubi-tubi, menuntut jawaban instan.

Olivier menghentikan langkahnya. Ia menatap Kendrick datar dari balik maskernya. Tidak ada binar rasa hormat, tidak ada ketakutan karena sedang berhadapan dengan salah satu penguasa Chicago.

Dengan suara yang teramat tenang, datar, dan tanpa ekspresi, wanita itu menjawab:

"Dia sudah mati."

Deg.

Jantung Kendrick serasa berhenti berdetak saat itu juga.

Seluruh darah di tubuhnya seolah turun ke kaki. Wajahnya memucat seketika, matanya membelalak lebar menatap Olivier dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan kengerian yang mendalam.

"Apa... apa kau bilang?" bisik Kendrick, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Kau... kau bercanda, kan? Katakan kau sedang bercanda, Dokter Sialan!"

"Aku tidak punya waktu untuk bercanda dengan keluarga pasien," jawab Olivier, nadanya sedingin es di musim dingin Chicago.

"Bisa-bisanya kau!!! Bagaimana mungkin dia mati?! Kau baru saja menjahitnya dengan santai! Kau... kau dokter residen gila! Kau tahu siapa yang ada di dalam sana? Dia King Stone! Dan kau mengatakan hal gila seperti itu di depanku?!" Teriak Kendrick frustrasi, tangannya mengepal erat, siap untuk menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Sarafnya benar-benar putus mendengar kalimat itu.

Melihat reaksi histeris Kendrick, Olivier hanya menaikkan satu alisnya di balik masker. Tanpa dosa, ia melanjutkan kalimatnya yang sengaja dipotong tadi.

"Maksudku, dia sudah mati rasa karena pengaruh anestesi lokal yang kuberi. Dia aman. Masa kritisnya sudah lewat dan dia hanya perlu istirahat. Jika kau mau mengamuk seperti orang kesurupan, lakukan di luar. Ini rumah sakit, bukan ring tinju."

Setelah mengatakan kalimat yang luar biasa tidak sopan itu, Olivier melangkah memutari tubuh Kendrick yang mematung, meninggalkan sang pangeran Stone sendirian dengan mulut ternganga dan dada yang naik turun karena syok ganda.

Kendrick bersumpah, seumur hidupnya, belum pernah ada orang—terlebih lagi seorang dokter residen rendahan di rumah sakit milik keluarganya sendiri—yang berani mempermainkannya sampai hampir terkena serangan jantung seperti ini.

Tiga jam kemudian, di dalam kamar rawat VIP nomor satu yang luasnya setara dengan griya tawang mewah, suasana jauh lebih tenang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi parfum maskulin yang mahal. King Stone akhirnya membuka matanya.

Rasa nyeri yang menusuk di bagian perutnya langsung menyambut kesadarannya, membuat pria itu mendesis pelan.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang kekar, namun segera mengurungkan niat saat merasakan tarikan perban di perutnya.

Sepasang mata elangnya yang hitam pekat menatap langit-langit kamar, lalu beralih ke samping di mana Kendrick sedang duduk di sofa sambil menegak segelas wiski dengan wajah masam.

"Kau belum mati, ternyata," gumam Kendrick menyadari pergerakan kakaknya. Ia berdiri dan mendekati ranjang King.

"Luka kecil seperti ini tidak akan bisa membunuhku, Kendrick," sahut King dengan suara serak yang berat.

Pria berwajah tampan dengan rahang tegas itu mencoba menstabilkan napasnya. Tangan kanannya yang dipenuhi tato bermotif hitam- hingga ke punggung tangan, bergerak menyentuh perutnya sendiri.

"Siapa yang membawaku ke sini? Dan siapa dokter yang menanganiku? Jahitannya terasa sangat ketat."

Mendengar pertanyaan tentang dokter, ekspresi wajah Kendrick langsung berubah menjadi sangat kesal. Amarah yang sempat terpendam beberapa jam lalu kembali meluap ke permukaan.

"Ah, soal dokter itu... Kau tidak akan percaya betapa kasarnya bajingan bermasker yang menanganimu di IGD tadi, King!" adu Kendrick dengan nada berapi-api. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah ranjang kakaknya.

King mengerutkan kening, menatap adiknya dengan tatapan dingin yang biasa. "Kasar? Di Stone Hospital? Siapa yang berani?"

"Seorang dokter residen wanita! Aku bersumpah, dia adalah makhluk paling tidak sopan yang pernah kutemui di Chicago!" seru Kendrick frustrasi.

"Saat aku bertanya bagaimana kondisimu setelah operasi darurat itu, dengan wajah datar dan suara sedingin mayat, dia menatapku dan berkata, 'Dia sudah mati.' Aku hampir mati berdiri saat itu juga, King! Dan setelah membuatku jantungan, dia dengan santai melanjutkan bahwa maksudnya kau hanya 'mati rasa' karena anestesi! Dia bahkan mengusirku dan menyuruhku jangan mengamuk seperti orang kesurupan. Dia benar-benar memperlakukan kita seperti sampah!"

Mendengar cerita adiknya, sepasang mata elang King menyipit tajam. Kilat kemarahan yang berbahaya muncul di sana.

Sebagai pangeran pertama Klan Stone, harga dirinya jelas terusik. Di rumah sakit miliknya sendiri, ada seorang residen yang berani mengintimidasi dan mempermainkan adiknya, bahkan terkesan meremehkan nyawanya? Ini tidak bisa dibiarkan.

"Seorang residen?" tanya King, suaranya merendah, menandakan dia sedang dalam mode paling tidak bersahabat. "Kenapa dia begitu tidak sopan? Apa dia sudah bosan hidup atau sudah bosan bekerja di dunia medis?"

"Aku tidak tahu! Dia memakai masker sepanjang waktu, tapi namanya kalau tidak salah... Martinez. Sialan, aku akan memastikan izin praktiknya dicabut besok pagi!" umpat Kendrick.

"Tidak perlu menunggu besok," potong King dengan nada dingin yang mutlak. "Panggil dokter tadi ke sini sekarang. Aku ingin melihat sendiri seberapa besar nyali yang dimiliki oleh seorang dokter residen wanita yang berani menghina Klan Stone di kandangnya sendiri."

"Bagus. Aku akan menyuruh perawat menyeretnya ke sini," ucap Kendrick puas, segera berbalik dan keluar dari kamar untuk melaksanakan perintah kakaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di dalam kamar yang sepi, King menyandarkan kepalanya di bantal yang ditinggikan.

Pikirannya dipenuhi oleh rasa penasaran yang bercampur amarah. Selama bertahun-tahun memimpin lini bisnis legal maupun ilegal milik keluarganya, semua orang selalu menunduk ketakutan di hadapannya.

Ditambah lagi, reputasinya sebagai mantan playboy internasional saat masa-masa kuliah dulu membuat wanita-wanita selalu bertekuk lutut dan memujanya seperti dewa.

Menemukan satu wanita yang berani berlaku kasar pada keluarganya adalah hal baru yang sangat mengusik egonya.

Sepuluh menit kemudian, pintu kamar rawat VIP itu terbuka kembali.

Kendrick melangkah masuk terlebih dahulu dengan senyum kemenangan yang tertahan di wajahnya.

Di belakangnya, mengikuti sesosok wanita bertubuh ramping yang masih mengenakan jubah putih residennya.

Wajah wanita itu masih tertutup rapat oleh masker medis hijau, dan tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku jubahnya.

Langkah kakinya terdengar santai, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan seolah-olah dia baru saja dipanggil ke ruang eksekusi.

"Ini dia orangnya, King. Dokter sombong yang mengatakanmu mati," ujar Kendrick sambil menunjuk wanita itu dengan ibu jarinya.

Olivier Martinez berdiri di ujung ranjang tempat King berbaring. Sepasang mata bulatnya yang jernih menatap langsung ke arah sepasang mata elang King Stone yang sedang menghujamnya dengan tatapan membunuh.

Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti keheningan yang mencekam, perang urat syaraf terjadi hanya melalui tatapan mata.

"Kau yang bernama Dokter Martinez?" tanya King, suaranya berat dan penuh penekanan yang mengintimidasi.

Olivier tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat santai, bahkan terkesan malas, tangan kanannya terangkat ke wajahnya. Ia menarik tali masker medisnya yang terkait di telinga, lalu menurunkan masker hijau itu hingga ke dagu, mengekspos seluruh wajahnya yang tanpa riasan tebal namun memiliki kecantikan alami yang sangat tegas.

Bibirnya yang tipis terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang menantang.

Ia menatap King, lalu beralih ke Kendrick, sebelum kembali menatap King dengan tatapan yang sangat meremehkan.

"Ada apa? Hah? Kau ingin memecatku?" ucap Olivier dengan nada suara yang santai, bahkan terkesan menantang badai yang sedang bersiap menerjangnya.

Deg.

Atmosfer di dalam kamar mewah itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Waktu seolah berhenti berputar di detik itu juga.

King Stone yang tadinya siap mengeluarkan kalimat kutukan yang bisa menghancurkan karier wanita di hadapannya, tiba-tiba mematung.

Seluruh tubuhnya menegang kaku di atas ranjang. Sepasang mata elangnya membelalak lebar, menatap wajah di depannya dengan rasa syok yang luar biasa besarnya—bahkan jauh lebih syok daripada saat perutnya robek disayat pisau beberapa jam lalu.

Di sampingnya, Kendrick Stone tidak kalah terkejutnya.

Mulut pangeran kedua itu sedikit terbuka, matanya bergerak bolak-balik antara wajah wanita itu dan wajah kakak kembarnya yang kini pucat pasi dengan ekspresi yang belum pernah Kendrick lihat seumur hidupnya: ketakutan dan rasa bersalah yang amat sangat.

King Stone boleh saja melupakan nama-nama, lekuk tubuh, atau wajah dari puluhan—bahkan ratusan—mantan kekasih atau wanitanya selama ia menjadi playboy internasional di masa-masa kuliahnya dulu.

Dia bisa dengan mudah menghapus memori tentang wanita-wanita yang mengejar harta dan ketampanannya.

Namun, gadis yang berdiri di hadapannya saat ini... gadis dengan mata jernih yang menatapnya penuh kebencian dan keangkuhan ini... adalah pengecualian mutlak.

Dia adalah cinta pertamanya. Satu-satunya gadis yang pernah memiliki seluruh hatinya sebelum King berubah menjadi Playboy Gila.

Mantan kekasihnya selama tiga tahun penuh penderitaan dan kebahagiaan di masa high school dulu, sebelum King meninggalkannya begitu saja.

"Olivier... Martinez..." gumam King dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan angin. Suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh otoritas dan kekejamannya. "Kau... kau bekerja di sini?"

Olivier tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bersedekap, menatap King seolah pria itu adalah seonggok sampah medis yang salah tempat.

Kendrick yang menyadari perubahan drastis atmosfer ruangan dan melihat bagaimana kakaknya yang kejam tiba-tiba ciut seperti anak kucing di depan dokter residen ini, langsung menghubungkan titik-titik memori di otaknya. Ingatannya berputar kembali ke masa remaja mereka, saat King sering mengurung diri di kamar sambil menatap foto seorang gadis dengan seragam sekolah yang sama.

Sialan, batin Kendrick. Gadis betina gila ini adalah Olivier yang itu?!

Dengan gerakan perlahan dan wajah yang dipenuhi kengerian baru, Kendrick mendekatkan wajahnya ke telinga King. Ia berbisik dengan volume suara yang sangat rendah, namun masih bisa terdengar jelas di keheningan kamar itu.

"Syukur kau tidak disuntik mati oleh gadis betina gila ini kak," ucap Kendrick, menelankan suaranya yang bergetar menahan tawa sekaligus ngeri. "Jika aku jadi dia, aku sudah menyuntikkan racun tikus ke dalam cairan infusmu saat kau pingsan tadi."

Meskipun suara Kendrick sangat pelan, telinga tajam Olivier menangkap setiap kata dengan sempurna. Sepasang matanya langsung menghujam Kendrick dengan tatapan tajam yang seolah bisa memotong kepala pria itu menjadi dua.

"Brengsek kau Kendrick, kau mengataiku gila?" potong Olivier dengan nada ketus, sama sekali tidak menggunakan embel-embel sopan santun 'Tuan' atau 'Pangeran'.

Ditunjuk dan dibentak langsung seperti itu oleh sang mantan kakak ipar tiruan, nyali Kendrick yang tadinya besar langsung menciut drastis. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda menyerah, lalu melangkah mundur dengan cepat menuju pintu keluar.

"Tidak-tidak! Aku tidak ikut campur! Aku akan keluar. Urus saja urusan rumah tangga masa lalu kalian!" ucap Kendrick dengan cepat, segera memutar knop pintu dan keluar dari kamar rawat VIP itu, menutup pintu dengan rapat, meninggalkan kakak kembarnya yang penuh tato itu sendirian menghadapi maut dalam wujud seorang dokter residen.

Kini, tinggallah King Stone sendirian di dalam kamar yang luas itu bersama Olivier.

Suasana mendadak menjadi sangat canggung dan mencekam bagi King.

Pria yang biasanya bisa mengintimidasi para CEO papan atas di Chicago itu, kini bahkan merasa kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa sangat kering, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa sangat terintimidasi oleh kehadiran seorang wanita.

Mata King bergerak memperhatikan penampilan Olivier dari bawah hingga ke atas. Gadisnya dulu yang selalu memakai kuncir kuda dan membawa buku-buku tebal, kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang sangat mandiri, mengenakan jubah putih yang melambangkan kecerdasannya. Namun, tatapan mata hangat yang dulu selalu menyambutnya, kini telah berubah total menjadi tatapan dingin tanpa dasar.

Mencoba memecah keheningan yang menyiksa dan menutupi rasa gugupnya yang luar biasa, King berdeham pelan. Ia menatap Olivier dengan pandangan yang melembut, sesuatu yang sangat langka bagi seorang King Stone.

"Bagaimana kabarmu?" tanya King dengan suara rendah, mencoba terdengar ramah.

Olivier menaikkan kedua alisnya, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya yang sangat kentara mendengar pertanyaan dan basa-basi busuk dari pria yang pernah menghancurkan hatinya itu.

Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke ranjang King, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan sorot mata yang penuh dengan kilatan amarah yang tertahan selama bertahun-tahun.

"Untuk apa kau bertanya?" sahut Olivier, suaranya terdengar sangat tajam dan sinis. "Apa kau buta? Aku berdiri dalam kondisi sehat, brengsek."

King tersentak mendengar makian itu keluar dari bibir wanita yang dulu bahkan tidak pernah meninggikan suara di depannya.

Namun, alih-alih marah karena dihina, King justru merasakan denyutan aneh di dadanya. Rasa bersalah yang terpendam selama bertahun-tahun kini bangkit kembali, menghantamnya dengan telak.

"Olivier, aku... soal masa lalu—"

"Jangan berani-berani kau menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, King Stone," potong Olivier dengan cepat, suaranya merendah namun penuh ancaman yang nyata.

Ia menunjuk tepat ke wajah King dengan jari telunjuknya. "Aku di sini sebagai dokter yang sialnya harus bertanggung jawab atas pasien IGD yang masuk ke areaku. Aku tidak datang ke sini untuk bernostalgia tentang masa lalu yang menjijikkan bersama seorang penjahat egois sepertimu."

...🌷🌷🌷...

Happy reading Kak 🦋 semoga suka sama Cerita Kingstone.

#2

"Olivier, aku... soal masa lalu—"

"Jangan berani-berani kau menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, King Stone," potong Olivier dengan cepat, suaranya merendah namun penuh ancaman yang nyata. Ia menunjuk tepat ke wajah King dengan jari telunjuknya.

"Aku di sini sebagai dokter residen yang sialnya harus bertanggung jawab atas pasien IGD yang masuk ke areaku. Aku tidak datang ke sini untuk bernostalgia tentang masa lalu yang menjijikkan bersama seorang penjahat egois sepertimu."

King terdiam. Ia membiarkan Olivier menumpahkan kekesalannya. Ia tahu betul dia pantas mendapatkan semua makian ini.

"Lalu, kenapa kau mengambil giliran untuk menjahitku tadi? Jika kau sangat membenciku, kau bisa membiarkan dokter lain yang melakukannya. Kau bahkan bisa membiarkanku kehabisan darah."

Olivier mendengus remeh, senyum sinis kembali terukir di wajah cantiknya. "Dan membiarkan reputasiku sebagai dokter ternoda karena membiarkan seekor binatang mati di ranjangku? Jangan bermimpi tinggi, Stone. Aku menjahit perutmu semata-mata karena aku terikat sumpah, dan karena aku ingin memastikan kau tetap hidup agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dalam neraka penyesalan."

Olivier melangkah mundur, kembali memasang masker medis hijaunya ke atas hidung, menyembunyikan kembali wajah cantiknya dari pandangan King. Sebelum ia berbalik untuk meninggalkan kamar itu, ia menatap King untuk terakhir kalinya malam itu.

"Ganti perbanmu akan dilakukan oleh perawat besok pagi. Dan kuharap, setelah kau sembuh, kau segera angkat kaki dari rumah sakit ini dan jangan pernah memunculkan wajahmu lagi di hadapanku. Karena jika sampai itu terjadi lagi..."

Olivier menggantung kalimatnya, matanya menyipit tajam. "...aku tidak akan ragu untuk memastikan jahitan di perutmu itu robek kembali secara sengaja."

Setelah mengatakan ancaman yang sangat tidak biasa bagi seorang dokter itu, Olivier Martinez berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan King Stone yang hanya bisa menatap pintu yang tertutup dengan perasaan yang campur aduk antara rasa sakit di perutnya, dan rasa sakit yang jauh lebih besar di dalam hatinya. Chicago malam itu terasa jauh lebih dingin bagi sang pangeran Stone.

Olivier Martinez melangkah keluar dari kamar rawat VIP nomor satu dengan punggung tegak, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.

Namun, begitu pintu kayu ek setebal sepuluh sentimeter itu tertutup rapat di belakangnya, bahunya sedikit merosot. Tangannya yang masih berada di dalam saku jubah putih mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.

Brengsek, umpatnya dalam hati.

Jantungnya yang sejak tadi dipaksa berdetak dengan ritme konstan khas seorang dokter profesional, kini berpacu liar tak terkendali. Bertemu kembali dengan King Stone dalam kondisi pria itu sekarat adalah skenario terakhir yang pernah ia bayangkan dalam hidupnya.

Dari jutaan manusia di kota Chicago, dan dari ribuan rumah sakit di Amerika Serikat, kenapa takdir harus menyeret bajingan itu ke atas brankarnya, tepat di bawah pisau bedah dan benang jahitnya?

Tidak jauh dari pintu kamar, Kendrick Stone bersandar di dinding koridor yang sepi. Begitu melihat Olivier keluar, pria itu langsung menegakkan tubuhnya. Ekspresi angkuh yang beberapa jam lalu ia pamerkan di IGD kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan penuh selidik dan sedikit rasa ngeri.

"Kau benar-benar belum berubah, Martinez," ujar Kendrick, melangkah mendekat dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. "Kau masih menjadi satu-satunya wanita yang berani mengumpat di depan wajah klan Stone. Bahkan setelah bertahun-tahun."

Olivier menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik. "Jika kau di sini hanya untuk membahas masa lalu, Tuan Stone yang kedua, aku sarankan kau pulang dan tidur mengurusi anak istri mu. Kakakmu tidak akan mati malam ini. Aku sudah memastikan jahitannya cukup kuat untuk menahan egonya yang besar."

Kendrick terkekeh hambar, seolah mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di antara mereka.

"Kau tahu, saat dia berteriak memintaku memanggil 'dokter kasar' yang menanganinya, aku hampir tertawa. King mengira dia sedang menghadapi residen biasa yang bisa dia intimidasi atau dia pecat dengan satu jentikan jari. Dia tidak tahu kalau dia baru saja menyerahkan nyawanya pada wanita yang paling dia takuti di dunia ini."

"Aku tidak peduli," sahut Olivier dingin. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Kendrick dengan sepasang mata bulat yang kini tampak lelah namun tetap tajam.

"Bagiku, dia hanya pasien dengan luka robek. Tidak lebih, tidak kurang. Dan jika kalian berdua berniat membuat keributan di rumah sakit ini, aku tidak akan segan memanggil keamanan untuk menyeret kalian keluar—bahkan jika nama 'Stone' tertulis dengan huruf emas di gerbang depan."

"Kau tahu kami bisa memecatmu dalam satu detik, kan?" Kendrick mencoba memprovokasi, meski nadanya tidak lagi mengandung ancaman nyata.

"Silakan," tantang Olivier, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis di balik maskernya.

"Pecat aku, dan biarkan seluruh Chicago tahu bahwa klan Stone memecat satu-satunya dokter residen berprestasi yang baru saja menyelamatkan nyawa pewaris utama mereka hanya karena masalah ego remaja. Aku yakin dewan komisaris rumah sakit ini akan sangat menyukai publisitas seperti itu."

Tanpa menunggu jawaban dari Kendrick, Olivier membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju lift khusus staf, meninggalkan pangeran kedua Stone itu sendirian di koridor yang sunyi.

Sementara itu, di dalam kamar rawat, King Stone masih menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Rasa sakit fisik di perutnya seolah mati rasa, terkalahkan oleh hantaman emosional yang baru saja ia terima.

Pikiran King melayang mundur ke sepuluh tahun yang lalu. Masa-masa di mana namanya belum dikenal sebagai pebisnis yang ditakuti di duni gelap Chicago. Masa di mana dia hanyalah seorang remaja laki-laki pemberontak yang mengira dunia berputar di sekitar jemarinya.

Di koridor high school yang bising, dia pertama kali melihat Olivier.

Gadis itu berbeda dari semua wanita yang selalu mengelilingi King. Olivier tidak peduli dengan mobil sport yang King kendarai, tidak peduli dengan pakaian desainer yang ia kenakan, dan yang paling membuat King penasaran: Olivier adalah satu-satunya orang yang berani menatap lurus ke matanya dan berkata "tidak" saat King mengajaknya berkencan untuk pertama kali.

Butuh waktu tiga bulan bagi King untuk meruntuhkan dinding pertahanan Olivier. Dan begitu dinding itu runtuh, King mendapatkan tiga tahun terbaik dalam hidupnya. Olivier adalah rumahnya, tempatnya pulang ketika tekanan dari klan Stone terasa mencekik lehernya.

Gadis itu yang mengobati luka-lukanya setelah balapan liar, gadis itu yang menemaninya belajar hingga larut malam, dan gadis itu pula yang mempercayainya sepenuhnya.

Namun, ego seorang remaja laki-laki berdarah Stone akhirnya merusak segalanya.

Di tahun terakhir mereka, saat King mulai dipersiapkan untuk masuk universitas bisnis dan kehidupan playboy-nya dimulai sebagai bagian dari kamuflase publik, King mengambil keputusan paling pengecut dalam hidupnya.

Dia meninggalkan Olivier Tepat Hari kelulusan mereka tanpa kata, memutus semua kontak, dan membiarkan gadis itu berpikir bahwa hubungan tiga tahun mereka hanyalah sebuah permainan musim panas yang tidak berarti.

King meyakinkan dirinya sendiri saat itu bahwa seorang pria Stone tidak boleh diikat oleh satu wanita jika ingin menguasai Chicago.

Dan sekarang, sepuluh tahun kemudian, wanita yang dia hancurkan hatinya adalah wanita yang memegang pisau bedah di atas tubuhnya yang tak berdaya.

"Sialan," umpat King lirih. Ia mencoba mengubah posisinya menjadi agak miring, namun rasa nyeri yang tajam langsung menusuk perutnya, memaksanya kembali telentang sambil mendesis kesakitan.

Pintu kamar terbuka pelan, dan Kendrick melangkah masuk dengan wajah yang kini tampak lebih serius. Ia berjalan menuju kursi di samping ranjang King, lalu mendudukkan diri sambil melipat kaki.

"Dia sudah pergi," kata Kendrick tanpa diminta. "Dan jika kau ingin tahu, dia sama sekali tidak takut padamu. Ataupun padaku."

King tidak menoleh. "Aku tahu."

"Kau terlihat mengenaskan, Kak," cibir Kendrick, meski ada nada khawatir yang terselubung di sana. "Pangeran pertama Stone, yang bisa membuat para gangster di dermaga Chicago berlutut memohon ampun, kini terlihat seperti anak anjing yang baru saja kehilangan induknya hanya karena ditatap oleh seorang dokter residen."

"Tutup mulutmu, Kendrick, atau aku akan memastikan helikopter pribadimu mengalami kecelakaan besok pagi," ancam King dengan suara serak yang berat.

Kendrick tertawa pelan. "Ancaman yang sama. Berarti kau memang sudah membaik. Tapi serius, King... apa yang akan kau lakukan? Dia bekerja di sini. Di rumah sakit kita. Berdasarkan data yang sempat kulihat di meja resepsionis tadi, dia adalah salah satu residen tahun kedua terbaik yang dimiliki oleh program bedah di sini. Dia bukan orang yang bisa kau singkirkan dengan mudah tanpa menarik perhatian media."

King terdiam cukup lama. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, memancarkan kilat yang kembali muncul setelah syok yang mendera. "Siapa yang bilang aku ingin menyingkirkannya?"

Kendrick mengernyitkan dahi. "Lalu? Kau ingin membiarkannya berkeliaran di sini dan menatapmu seolah kau adalah seonggok sampah setiap kali dia melakukan visit dokter? Ingat harga dirimu, King."

"Harga diriku sudah hilang sejak aku meninggalkannya sepuluh tahun lalu, Kendrick," sahut King dingin, suaranya terdengar datar namun sarat akan penyesalan yang mendalam.

"Cari tahu semua hal tentangnya selama sepuluh tahun terakhir ini. Di mana dia kuliah, bagaimana dia bisa berakhir di Chicago lagi, dan... cari tahu apakah ada pria lain di hidupnya saat ini."

Kendrick menghela napas panjang, bangkit dari kursinya. "Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu. Dasar keras kepala. Baiklah, aku akan menyuruh orang-orang kita bergerak malam ini juga. Tapi ingat satu hal, King... luka di perutmu itu membutuhkan waktu beberapa minggu untuk sembuh. Jangan membuat wanita itu kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk menyuntikmu dengan sesuatu yang mematikan saat kau sedang tidur."

"Dia tidak akan melakukannya," gumam King, sebuah senyuman tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya. "Dia adalah seorang Martinez. Dia terlalu bangga dengan sumpah medisnya untuk membunuh seorang bajingan sepertiku dengan cara yang pengecut."

Malam semakin larut di kota Chicago. Angin musim dingin yang bertiup dari Danau Michigan menghantam kaca-kaca besar Stone Hospital dengan suara mendesing yang konstan.

#3

Di ruang istirahat staf IGD yang sepi, Olivier duduk di depan komputer, menatap layar yang menampilkan rekam medis pasien atas nama King Stone.

Jari-jarinya diam di atas papan tik. Di layar monitor, tertera grafik tanda-tanda vital King yang terus membaik.

Luka sayatan di perutnya memang dalam, namun tidak ada komplikasi internal yang perlu dikhawatirkan. Secara medis, tugas Olivier sudah selesai.

Besok pagi, kendali atas pasien VIP ini akan dialihkan kepada dokter spesialis bedah senior yang menjadi penanggung jawab utama.

Namun, di dalam kepalanya, bayangan wajah King yang pucat namun tetap memancarkan keangkuhan yang familier itu menolak untuk pergi.

Tenunan tato di lengan King yang sempat ia sentuh saat membersihkan darah tadi terasa begitu asing.

King yang ia kenal dulu tidak memiliki tato itu. King yang ia kenal dulu memiliki binar mata yang hangat, bukan tatapan dingin yang dipenuhi rahasia-rahasia gelap seperti yang ia lihat beberapa jam lalu.

Pria itu telah berubah menjadi monster yang sepenuhnya berbeda, monster yang diciptakan oleh dunia kekuasaan klan Stone.

“Kau bekerja di sini?”

Pertanyaan King kembali terngiang di telinganya. Suara berat pria itu, yang sempat bergetar saat menyebut namanya, memicu gelombang emosi yang sudah Olivier kubur dalam-dalam selama satu dekade.

Olivier menutup layar rekam medis itu dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.

Selama sepuluh tahun ini, dia berjuang mati-matian untuk membangun kariernya dari bawah.

Dia belajar siang dan malam, menghadapi jam kerja yang tidak manusiawi di sekolah kedokteran, semua itu dilakukan hanya untuk satu tujuan: membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa sukses tanpa bayang-bayang patah hati yang disebabkan oleh seorang King Stone.

Dan sekarang, saat dia merasa telah berhasil menata hidupnya kembali, pria itu muncul kembali seperti sebuah kutukan, merusak seluruh ketenangan yang telah ia bangun dengan susah payah.

Pintu ruang istirahat terbuka, dan seorang perawat senior masuk membawa dua gelas kopi instan yang masih mengepul.

"Kau terlihat seperti baru saja menghadapi medan perang, dr. Martinez," ujar perawat bernama Elena itu sambil menyodorkan satu gelas kopi kepada Olivier.

Olivier menerima gelas itu, merasakan kehangatan yang menjalar di telapak tangannya. "Memang. Pasien IGD malam ini benar-benar menguras energi."

"Maksudmu pasien VIP di kamar nomor satu?" Elena berbisik, matanya berbinar penuh gosip. "Seluruh rumah sakit sedang membicarakannya. Pangeran pertama klan Stone dilarikan ke sini dengan luka tusuk sayatan, dan kau yang menanganinya sendirian. Kau tahu, dr. Martinez, kau adalah pahlawan malam ini. Jika terjadi sesuatu pada pria itu, direktur utama kita pasti sudah mengalami serangan jantung."

"Aku hanya melakukan tugas rutin, Elena," jawab Olivier datar, menyesap kopinya yang terasa pahit. "Siapa pun pasiennya, penanganannya tetap sama."

"Ya, tapi tidak semua pasien memiliki kekuasaan yang bisa membeli rumah sakit ini hanya untuk menjadikannya tempat parkir pribadi," gurau Elena, merujuk pada Kendrick.

"Klan Stone... mereka adalah penguasa Chicago yang sesungguhnya. Berhati-hatilah saat melakukan visit besok, Dokter. Mereka bilang King Stone adalah pria yang sangat tidak suka dibantah."

Olivier hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang tidak bisa diartikan oleh Elena. Dia memang tidak suka dibantah, batin Olivier. Tapi dia harus belajar bahwa di dalam rumah sakit ini, akulah yang memegang kendali.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, sinar matahari musim dingin yang pucat mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar VIP nomor satu.

King Stone terbangun dengan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Obat bius yang mengalir di tubuhnya semalaman kini telah habis sepenuhnya, menyisakan rasa perih yang luar biasa di bagian perut bawahnya.

Seorang perawat muda masuk dengan langkah ragu-ragu, membawa nampan berisi peralatan medis baru dan perban steril. Wajah perawat itu tampak tegang, tahu betul siapa pasien yang sedang dia hadapi.

"M-Selamat pagi, Tuan Stone," sapa perawat itu dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku di sini untuk mengganti perban Anda sesuai instruksi dokter."

King melirik perawat itu dengan tatapan dingin, membuat nyali gadis muda itu semakin menciut. "Di mana dr. Martinez?" tanya King langsung tanpa basa-basi.

"Ah... dr. Martinez adalah residen IGD yang bertugas shift malam, Tuan. Shift-nya sudah selesai jam tujuh pagi tadi. Untuk penanganan Anda selanjutnya, dr. Richard, spesialis bedah senior, yang akan mengambil alih," jelas perawat itu sambil dengan cekatan namun hati-hati mulai membuka plester perban di perut King.

Rasa kecewa yang amat sangat mendadak menyelimuti hati King. Ia berharap bisa melihat wajah wanita itu lagi pagi ini, bahkan jika itu berarti dia harus menerima makian atau tatapan dingin lagi.

Mengetahui bahwa Olivier sengaja menghindarinya atau memang sudah pulang membuat King merasa frustrasi.

"Panggil dr. Martinez kembali ke sini," perintah King, suaranya terdengar mutlak dan tidak menerima penolakan.

Perawat itu menghentikan gerakannya, wajahnya memucat. "Tapi... Tuan Stone, dr. Martinez sedang tidak bertugas. Sesuai regulasi rumah sakit, kami tidak bisa—"

"Aku tidak peduli dengan regulasi sialan rumah sakit ini," potong King dingin, matanya menatap tajam perawat tersebut. "Katakan pada direktur utama rumah sakit ini, aku ingin dr. Olivier Martinez yang menjadi dokter residen penanggung jawabku selama aku dirawat di sini. Jika dalam waktu satu jam dia tidak muncul di kamar ini, aku akan memastikan seluruh anggaran dana untuk penelitian departemen bedah tahun ini dipotong habis."

Perawat itu menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu ancaman dari seorang Stone bukanlah gertakan sambal.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia buru-buru menyelesaikan penggantian perban King, lalu membungkuk hormat sebelum setengah berlari keluar dari kamar untuk melaporkan tuntutan gila dari sang pasien VIP kepada pihak manajemen.

Di luar kamar, Kendrick yang baru saja kembali dari lantai bawah setelah mengurus beberapa dokumen pengamanan, melihat perawat itu keluar dengan wajah panik. Ia menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kau benar-benar tidak bisa menahan dirimu, king?" ujar Kendrick sambil melangkah masuk ke dalam kamar, membawa sebuah map dokumen hitam di tangannya.

King melirik adiknya dengan malas. "Apa yang kau bawa?"

Kendrick melemparkan map tersebut ke atas ranjang King, tepat di samping kaki kakaknya yang tidak terluka. "Informasi yang kau minta semalam. Orang-orang kita bekerja cepat jika menyangkut perintahmu."

King dengan cepat meraih map tersebut, mengabaikan rasa nyeri di perutnya yang kembali berdenyut saat dia bergerak. Ia membuka lembaran pertama dokumen itu. Di sana, terpampang foto formal Olivier Martinez dengan rambut yang disanggul rapi, mengenakan jas dokter.

King membaca baris demi baris informasi yang tertera di sana dengan sangat teliti, seolah dia sedang mempelajari dokumen kontrak bisnis bernilai miliaran dolar.

"Olivier Martinez. Lulus dengan predikat summa cum laude dari Johns Hopkins School of Medicine," Kendrick membacakan poin-poin penting dengan suara santai.

"Dia menghilang dari Chicago setelah lulus high school, pindah ke Baltimore untuk kuliah kedokteran, dan baru kembali ke Chicago sekitar satu setengah tahun yang lalu untuk mengambil program residensi bedah trauma di Stone Hospital. Dan untuk pertanyaan sensitifmu semalam..." Kendrick sengaja menggantung kalimatnya, membuat King mendongak menatapnya dengan tatapan tajam.

"Katakan," desak King.

"Dia bersih. Tidak ada catatan pernikahan, tidak ada catatan pertunangan, bahkan tidak ada nama pria yang dekat dengannya selama lima tahun terakhir. Wanita itu hidup seperti seorang biarawati medis, King. Waktunya habis di dalam ruang operasi dan perpustakaan," jelas Kendrick.

Mendengar informasi itu, ada secercah rasa lega yang luar biasa yang merayap di dada King.

Olivier belum milik siapa pun. Dia masih sendiri. Namun, rasa lega itu segera diikuti oleh rasa bersalah yang semakin pekat. Olivier menutup dirinya dari dunia asmara, dan King tahu betul bahwa dialah penyebab utama di balik dinginnya hati wanita itu saat ini.

"Tapi ada satu hal lagi yang menarik, King," lanjut Kendrick, wajahnya berubah menjadi agak serius. "Kau tahu siapa yang merekomendasikannya untuk masuk ke rumah sakit ini?"

King mengernyitkan dahi. "Siapa?"

"Dokter Richard. Kepala departemen bedah kita, yang juga merupakan salah satu sahabat lama Mommy. Tampaknya, dr. Richard sangat melindungi Olivier. Dia menganggap Olivier sebagai aset terbesar yang dimiliki oleh generasi muda kedokteran di kota ini. Jadi, jika kau berniat memainkan permainan playboy-mu lagi dengannya, aku sarankan kau berpikir dua kali. Kau tidak hanya akan berhadapan dengan Olivier yang galak itu, tapi juga dengan dr. Richard."

King menutup map dokumen tersebut dengan perlahan, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur. Tatapan matanya kini beralih ke jendela besar, menembus kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit Chicago.

"Aku tidak sedang bermain-main, Kendrick," ucap King, suaranya terdengar begitu dalam dan penuh keseriusan yang membuat Kendrick terdiam.

"Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku sepuluh tahun lalu ketika aku melepaskannya. Dan sekarang, saat takdir membawanya kembali tepat di hadapanku, aku tidak akan membiarkannya pergi untuk kedua kalinya—bahkan jika aku harus menghancurkan seluruh Chicago untuk membuatnya tetap berada di sisiku."

Kendrick menatap kakak kembarnya dengan tatapan campur aduk. Ia tahu betul watak King.

Jika King Stone sudah menginginkan sesuatu, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menghentikannya. Namun, melihat ekspresi Olivier semalam, Kendrick juga tahu bahwa wanita itu bukanlah tipe orang yang bisa ditundukkan hanya dengan kekuasaan atau uang milik klan Stone.

"Ini akan menjadi perang yang sangat panjang dan berdarah, Kak," gumam Kendrick lirih, bersandar kembali di sofanya. "Dan untuk pertama kalinya dalam hidupmu, aku tidak yakin kau yang akan keluar sebagai pemenang."

King tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya yang penuh tato, merasakan detak jantungnya sendiri yang kini kembali memiliki tujuan yang jelas setelah sepuluh tahun berlalu dalam kekosongan yang dingin.

Pertempuran sesungguhnya antara sang penguasa Chicago dan dokter residen yang keras kepala itu baru saja dimulai di dalam dinding-dinding mewah Stone Hospital.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!