Indonesia
NovelToon NovelToon

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Malam Yang Kelam

Lampu sorot studio baru saja padam, meninggalkan keheningan yang janggal di ruangan besar berlantai beton itu. Alena Kirana menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya bersandar pada kursi rias yang empuk. Di cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu pijar kuning, ia menatap wajahnya sendiri. Riasan tebal yang menutupi kulitnya mulai terasa berat, seberat beban yang menggelayuti pikirannya akhir-akhir ini. Sebagai aktris papan atas yang berada di puncak popularitas, setiap gerak-geriknya diawasi oleh jutaan pasang mata. Namun, di balik senyum menawan yang selalu ia pamerkan di depan kamera, ada rasa hampa yang tak pernah bisa ia jelaskan pada siapa pun. Malam itu, langit Jakarta sedang tidak bersahabat. Hujan badai mengguyur kota dengan sangat deras, petir bersahutan membelah langit yang hitam pekat. Siska, manajer Alena yang terkenal bertangan besi, masuk ke ruang rias dengan tergesa-gesa.

"Alena, perayaan selesainya produksi film malam ini tetap diadakan di Grand Hyatt. Kamu tidak bisa absen. Investor utama dari Dewangga Group akan datang, dan mereka ingin bertemu langsung dengan pemeran utama mereka," kata Siska tanpa memberi ruang untuk perdebatan.

Alena hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu betul bahwa menolak perintah Siska sama saja dengan mengundang masalah besar dengan pihak agensi. Sesampainya di aula hotel mewah itu, suasana sudah sangat ramai. Denting gelas kaca dan alunan musik jazz berpadu dengan gelak tawa para sineas dan sosialita. Alena berjalan dengan anggun, mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang mempertegas lekuk tubuhnya yang indah. Namun, perhatiannya segera teralihkan oleh sosok pria yang berdiri di sudut ruangan, dikelilingi oleh para petinggi industri hiburan.

Pria itu adalah Adrian Dewangga yg sangat menggoda untuk didekati oleh kaum hawa. Sebagai Aktor yang berbakat sekaligus pewaris tunggal dari gurita bisnis Dewangga Group, reputasinya sebagai pria berdarah dingin dan perfeksionis sudah sangat melegenda. Pandangan mata Adrian yang tajam bagai elang tiba-tiba berpapasan dengan mata Alena yg sedang kelelahan.

Ada getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuh Alena, sebuah firasat buruk yang akan terjadi dan bercampur dengan ketertarikan yang tak masuk akal sama sekli. Ketika pesta semakin larut, pengaruh alkohol mulai mengaburkan akal sehat.

Alena yang merasa pusing memutuskan untuk mencari udara segar di koridor lantai atas yang sepi. Disana angin saling bersahutan yang akan membuat dia sadar dari mabuknya.

Namun, langkah kakinya tiba tiba goyah, dan sebelum ia terjatuh, ada sepasang lengan yang kokoh telah menangkap tubuh kecilnya. Orang Itu adalah Adrian, orang yang benar benar dia hindari.

Aroma parfum maskulin yang khas langsung menyerbu indra penciuman Alena, baunya sangat menenangkan bagi Alena.

Ternyata Andrian sedang mengalami yang terjadi pada Alena,dia terlalu parah karena banyak tangan yang ingin mengajak dia minum. Dan dia emang sengaja berada disini untuk sadar sedikit,tapi ternyata ketemu Alena.

Andrian juga menghirup bau parfum Alena yang membuat dia menggoda,wajah Alena juga sangat menggoda dirinya. Apalagi saat dia tidak sadar seperti itu.

Akhirnya Andrian mencoba mencium bibir Alena meskipun kurang sadar dia masih memiliki hasrat yang sangat besar untuk dikeluarkan.

Akhirnya Andrian memutuskan untuk membawa Alena dalam dekapan pelukan nya untuk menuju kamar. Meskipun dia kesusahan untuk melakukan itu, Alena sangat tergoda atas pelukan itu dan dia tidak memberontak dan merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh cowok yang ganteng dan tampan.

Mungkin saat Alena bangun,dia akan menyesal atas yang akan terjadi,tapi sekarang dia lebih memilih untuk berfikir tentang mengeluarkan Nafsunya.

Tiga puluh menit kemudian baru mereka sampai, karena Andrian sedang mabuk jadi kurang sadar. Setelah meletakkan Alena diatas kasur dia memutuskan untuk mencuci muka biar lebih sadar.

Setelah cuci muka dia lumayan sadar,tapi bibir nya membuat lengkungan senyuman yang manis dan ada gerutan liciknya. Dia bahagia akhirnya cewek yang tidak melirik dia sama sekali sekarang akan dia cicipi.

Lagipula dia sangat menyukai Alena secara diam diam karena dia itu cantik,manis,dan menggoda.

Setelah dia keluar,dia melihat Alena sedang membuka atasan dan bawahnya karena panas,Andrian melihat itu sangat tergoda dan langsung menerjang badan Alena yang mulus dan menggoda itu.

Sebenarnya Andrian lumayan sadar,tapi tidak pada Alena yang masih dalam kondisi setengah sadar.

Andrian mencium bibir Alena dengan lembut dan akhirnya dia terbawa oleh atmosfer malam yang penuh gairah di bawah gemuruh badai yang terlihat di luar jendela, keduanya terjebak dalam pusaran nafsu yang tak terkendali.

Di salah satu kamar *suite* mewah itu , terjadi sesuatu yang panas meskipun diluar badak dan malam itu menjadi lembaran kelam sekaligus terindah yang pernah ditulis oleh takdir dalam hidup Alena. Satu malam penuh gairah yang didasari oleh ketidaksengajaan dan kekosongan jiwa masing-masing.

Dan saat ini mereka mengisi dengan gairah meskipun belum ada kata kata cinta yang diucapkan keduanya.

Setelah hal itu terjadi Alena memutuskan untuk pergi dari suite yang mewah itu setelah melihat wajah Andrian yang ada di sebelah nya. Dia sangat takut kalau Andrian tiba tiba membunuhnya hanya untuk membukam atas kejadian ini.

Dia tau kalau dia mabuk,jadi Alena sama sekali tidak akan meminta pertanggungjawaban. Apalagi mana mungkin dia akan hamil setelah permain pertama mereka. Semoga aja dia tidak hamil anak Andrian si kejam ini.

Dua Garis Merah

Isak tangis Alena menggema di dalam kamar mandi yang sunyi. Lantai marmer yang dingin seolah menembus kulitnya, mengirimkan rasa ngilu yang menjalar hingga ke lubuk hati.

Di genggamannya, ketiga alat uji kehamilan yang dia pakai sebelumnya untuk tes terasa begitu berat, seakan membawa beban seluruh dunia yang siap runtuh menimpanya.

Dua garis merah tertera di alat itu. Bagi suami istri yang sudah menikah Warna merah cerah itu sangat berarti karena akan kelahiran anak mereka. Tapi warna yang begitu cerah itu, tidak berarti bagi Alena, itu adalah vonis mati bagi karier yang sedang naik daun dan masa depannya.

"Bagaimana mungkin..." bisiknya pelan di antara sela-sela tangis yang tertahan. Suaranya serak, tenggelam dalam kehampaan apartemennya.

Ia memejamkan mata erat-erat sedang frustasi yang terjadi, mencoba menghapus bayangan malam terkutuk dua minggu lalu di hotel peresmian itu.

Malam di mana ia membiarkan rasa frustrasi, alkohol, dan kerapuhannya mengambil alih akal sehat. Adrian adalah saudara yang menggarap film yang baru ini Alena mainkan dan film itu mendapatkan perhatian lebih. Dan membuat dia selalu bangga dengan pencapaian dan reputasinya yang bersih.

Selama sepuluh tahun berkarier di industri hiburan yang kejam ini, ia dikenal sebagai "Nation's Sweetheart" ikon kesucian, keanggunan, dan panutan bagi generasi muda. Satu-satunya alasan ia bisa bertahan di puncak popularitas adalah karena ia tidak pernah menyentuh skandal sekecil apa pun.

Namun sekarang, rahasia terbesar dan paling mematikan justru sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Alena bangkit berdiri dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Ia melemparkan ketiga testpack itu ke dalam laci paling bawah di bawah wastafel, menyembunyikannya di balik tumpukan handuk kecil seolah-olah dengan begitu kenyataan pahit ini bisa ikut lenyap.

Ketika ia berkaca, bayangan yang terpantul di cermin bukanlah Alena sang aktris papan atas yang bersinar, melainkan seorang wanita muda yang pucat, dengan mata sembap kemerahan dan lingkaran hitam yang mempertegas kelelahannya.

Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas meja rias bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang paling tidak ingin ia lihat saat ini: Mbak Siska (Manager).

Jantung Alena mencelos. Dengan tangan yang masih basah oleh air mata, ia menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel itu ke telinganya, mencoba mengatur napas agar terdengar normal.

"Ya, Mbak?" Alena berusaha menahan getaran di suaranya.

"Alena! Kamu di mana? Apakah kamu sudah siap? ," suara Siska terdengar melengking dan penuh tuntutan dari seberang telepon.

"Supir sudah menunggu di depan lobi apartemenmu sejak tiga puluh menit yang lalu. Hari ini jadwal kita sangat padat. Jam sepuluh ada pemotretan untuk produk kosmetik terbaru, siang jam satu ada wawancara eksklusif dengan majalah mode, dan malamnya kita harus menghadiri gala premiere film terbaru sutradara Hanung. Jangan bilang kamu lupa?"

Alena memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Rasa mual di perutnya kembali bergejolak, dipicu oleh rasa stres yang memuncak. "Maaf, Mbak. Aku... aku agak kurang enak badan pagi ini. Kepalaku pusing sekali."

Terdengar helaan napas berat dari Siska. "Alena, dengar ya. Aku tahu kamu lelah karena syuting drama kemarin sangat menguras energi. Tapi kontrak kosmetik ini bernilai miliaran rupiah. Mereka memilihmu karena citramu yang sempurna dan tanpa cela. Kita tidak bisa membatalkannya secara mendadak hanya karena pusing. Minum obat pereda nyeri sekarang, pakai masker wajah untuk menyegarkan kulitmu, dan turunlah dalam lima belas menit. Oke? Aku tunggu di lokasi pemotretan."

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon diputus sepihak.

Alena menurunkan ponselnya dengan lemas. Citra yang sempurna dan tanpa cela. Kata-kata Siska barusan terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Apa yang akan dilakukan Siska, agensinya, dan pihak brand kosmetik itu jika mereka tahu bahwa ikon kecantikan mereka yang "suci" ini sedang mengandung anak di luar nikah, hasil dari cinta satu malam?

Mau tidak mau, Alena harus bergerak. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, mencoba mengusir rona pucat dari pipinya. Dengan cekatan, ia mengaplikasikan riasan tebal untuk menyembunyikan mata bengkak dan kantung matanya. Ia memilih gaun longgar berwarna pastel agar tidak menekan bagian perutnya yang mendadak terasa sangat sensitif.

Setelah memastikan penampilannya kembali terlihat seperti "Alena sang Bintang", ia melangkah keluar dari apartemen dengan langkah yang dipaksakan tegap, meskipun lututnya terasa lemas bak untaian benang.

Sesampainya di lokasi pemotretan yang terletak di sebuah studio megah di kawasan Jakarta Selatan, suasana tampak begitu riuh. Kru produksi berlarian ke sana kemari mengatur pencahayaan, gaun-gaun desainer tergantung rapi, dan aroma kopi hitam menyeruak di udara. Kehadiran Alena langsung disambut hangat oleh semua orang. Ia membalas senyuman mereka dengan senyum profesional terbaiknya, topeng yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.

"Alena, lewat sini. Tim rias sudah menunggumu," Siska menghampirinya, menepuk pundaknya dengan ramah, beralih dari nada ketatnya di telepon tadi ke mode manajer yang suportif. Namun, tatapan Siska yang jeli langsung menyadari sesuatu. "Kamu kelihatan agak pucat hari ini. Apa riasannya kurang tebal?"

"Hanya kurang tidur, Mbak. Jangan khawatir, begitu lampu kamera menyala, aku akan memberikan yang terbaik," jawab Alena, berusaha meyakinkan.

Saat Alena duduk di kursi rias, pintu studio terbuka dan suasana mendadak menjadi lebih riuh. Alena melirik dari pantulan cermin dan seketika itu juga darahnya seolah berhenti mengalir. Adrian melangkah masuk ke dalam studio. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas kasual yang pas di tubuh tegapnya. Senyumnya yang menawan langsung menyihir para staf wanita di ruangan itu.

Alena baru ingat bahwa pemotretan kosmetik hari ini adalah untuk edisi pasangan, dan Adrian adalah mitra kerjanya.

Adrian berjalan mendekat ke arah kursi rias Alena. Setiap langkah pria itu terasa seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran Alena. Ketika Adrian berdiri tepat di sampingnya, aroma parfum maskulin khas pria itu tercium oleh Alena aroma yang sama persis dengan yang memenuhi kamar hotel malam itu.

Rasa mual di perut Alena langsung naik ke tenggorokan dengan hebat.

"Pagi, Alena. Bagaimana kabarmu?" sapa Adrian dengan suara beratnya yang ramah, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka berdua. Sikap dingin dan acuh tak acuh Adrian pasca-malam itu sebenarnya membuat Alena lega sekaligus sakit hati, namun melihatnya secara langsung seperti ini adalah siksaan yang berbeda.

"Pagi, Adrian. Aku baik," jawab Alena singkat, mengalihkan pandangannya ke depan cermin, tidak berani menatap mata pria itu.

"Baiklah semuanya! Alena, Adrian, silakan naik ke set. Kita mulai sesi pertama!" seru fotografer dan Sesi pemotretan dimulai. Alena harus bersikap profesional. Di depan lensa kamera, ia harus berpose mesra dengan Adrian.

Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Alena, menarik tubuh wanita itu mendekat. Sentuhan tangan Adrian di pinggangnya membuat Alena merinding ketakutan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Adrian, dan ingatan tentang malam itu kembali berputar seperti film rusak di kepalanya. Setiap kali fotografer meminta mereka untuk saling menatap dengan penuh cinta, Alena merasa seperti sedang meminum racun secara perlahan.

"Alena, tatapannya tolong lebih santai dan penuh kemesraan. Kamu kelihatan tegang sekali hari ini," teriak fotografer di sela-sela jepretan kamera.

"Maaf," ujar Alena lirih. Ia menarik napas dalam-dalam, mematikan seluruh emosi pribadinya, dan menampilkan senyum termanis yang ia miliki.

Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Kombinasi antara stres tingkat tinggi, ruangan studio yang panas akibat lampu sorot, aroma parfum Adrian yang menyengat, dan kondisi fisiknya yang sedang hamil muda membuat pandangan Alena mulai kabur. Titik-titik hitam mulai bermunculan di depan matanya. Suara fotografer dan kru di sekitarnya terdengar semakin menjauh, berdengung seperti di dalam air.

Perutnya bergejolak hebat. Rasa mual yang tak tertahankan mendesak keluar.

"Alena? Kamu oke?" Adrian berbisik, menyadari tubuh wanita di pelukannya mendadak bergetar dan mendingin.

Sebelum Alena sempat menjawab, ia kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia melepaskan diri dari dekapan Adrian secara paksa, berbalik, dan langsung memuntahkan cairan bening ke lantai studio, tepat di depan kaki Adrian dan sang fotografer. Ruangan studio yang tadinya bising mendadak hening seketika. Semua orang terpaku melihat sang bintang utama muntah-muntah dengan tubuh yang lemas.

"Alena!" Siska berteriak panik dan langsung berlari menghampirinya dengan membawa tisu dan air mineral.

Alena terduduk lemas di lantai, napasnya terengah-engah, wajahnya kini benar-benar seputih kertas. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung. Ia tahu, dalam industri ini, spekulasi sekecil apa pun bisa berkembang menjadi rumor yang liar. Pandangan mata orang-orang di sekitar studio yang tadinya penuh kekaguman, kini berubah menjadi penuh tanya dan kecurigaan.

"Maaf... maafkan aku..." bisik Alena di sela tangisnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang dan semuanya menjadi gelap gulita.

Alena perlahan membuka matanya. Bau antiseptik yang tajam langsung menusuk indra penciumannya. Ia tidak lagi berada di studio foto yang bising, melainkan di sebuah ruangan serba putih dengan gorden pembatas di sisi-sisinya. Sebuah jarum infus tertancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan dingin ke dalam tubuhnya yang ringkih.

Ia menoleh ke samping dan menemukan Siska sedang duduk di kursi kayu dengan wajah yang sangat tegang, melipat kedua tangannya di dada. Begitu menyadari Alena sudah sadar, Siska langsung bangkit berdiri dan mendekati ranjang rumah sakit.

"Kamu sudah sadar?" tanya Siska dengan nada suara yang tidak lagi ramah atau panik karena khawatir, melainkan nada suara seorang manajer yang sedang menghadapi krisis besar.

"Mbak... aku di mana?" Alena bertanya dengan suara parau.

"Kamu di klinik swasta dekat studio. Aku sengaja membawamu ke sini lewat pintu belakang agar tidak ada wartawan yang melihat," Siska menarik napas dalam-dalam, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Alena. "Dokter sudah memeriksa serum darahmu untuk mengetahui penyebab pingsanmu, Alena.

Dan hasilnya baru saja keluar lima menit yang lalu."

Jantung Alena berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia tahu saat-saat ini akan tiba, namun ia tidak menyangka akan secepat ini.

Siska melemparkan selembar kertas hasil laboratorium ke atas pangkuan Alena. "Jelaskan padaku, Alena. Apa arti dari kadar hCG yang sangat tinggi ini? Dokter bilang kamu sedang hamil, usianya sekitar tiga sampai empat minggu. Siapa ayahnya?"

Pertanyaan Siska menghantam Alena seperti gada besi. Alena memalingkan wajahnya, air mata kembali mengalir membasahi bantal rumah sakit. Ia meremas selimut putih yang menutupi tubuhnya, mencoba mencari kekuatan yang sudah lama hilang dari dirinya.

"Aku tidak tahu, Mbak..." bohong Alena, karena mengakui bahwa Adrian adalah ayahnya akan jauh lebih menghancurkan. Adrian adalah aktor emas agensi saingan. Jika hubungan ini terungkap dalam kondisi seperti ini, perang industri tidak akan terhindarkan.

"Jangan bohong padaku, Alena!" Siska setengah berbisik namun penuh penekanan, menahan amarahnya agar tidak terdengar sampai ke luar ruangan. "Kamu tahu apa artinya ini bagi kariermu? Bulan depan kamu dijadwalkan menandatangani kontrak film internasional di Hollywood. Tiga *brand* besar baru saja memperpanjang kontrak mereka sebagai *brand ambassador*. Jika berita ini bocor ke media, kamu tidak hanya harus membayar denda penalti sebesar puluhan miliar rupiah, tapi kariermu yang kamu bangun selama sepuluh tahun ini akan tamat dalam semalam! Kamu akan dicap sebagai wanita murahan oleh publik!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Siska terasa seperti pisau yang menyayat hati Alena. Ia tahu Siska benar. Di dunia hiburan, standar moral yang diterapkan pada selebritas wanita jauh lebih kejam dan tidak kenal ampun dibandingkan dengan selebritas pria.

"Lalu... lalu apa yang harus kulakukan, Mbak?" tanya Alena pasrah di sela-sela tangisnya.

Siska berjalan mendekati jendela, menatap ke luar dengan pandangan dingin sebelum berbalik kembali menatap Alena. Wajahnya mengeras, mencerminkan keputusan bisnis yang mutlak dan kejam.

"Hanya ada dua pilihan, Alena," kata Siska dengan suara dingin tanpa emosi. "Pilihan pertama, kita cari tahu siapa pria bajingan itu, paksa dia bertanggung jawab, dan kamu mengumumkan pernikahan mendadak lalu pensiun dari dunia hiburan untuk selamanya dengan menanggung semua denda penalti yang ada."

Siska menggantung kalimatnya sejenak, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin mencekam.

"Atau pilihan kedua," lanjut Siska seraya melangkah mendekat dan membungkuk di samping telinga Alena. "Kita singkirkan 'masalah' ini secepatnya. Sebelum perutmu mulai membuncit, sebelum media mencium bau busuk ini, dan sebelum kontrak film Hollywood-mu batal. Kita pergi ke luar negeri minggu depan untuk melakukan aborsi secara diam-diam. Setelah itu, kamu bisa kembali menjadi Alena yang dicintai semua orang. Sempurna, suci, dan tanpa cela. Keputusan ada di tanganmu."

Setelah mengatakan hal itu, Siska berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Alena sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

Alena menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih. Tangan kanannya perlahan bergerak turun, menyentuh perutnya yang masih tampak rata. Di dalam sana, ada sebuah kehidupan baru yang sedang bertumbuh sebuah kehidupan yang tercipta dari kesalahan, namun tidak berdosa sama sekali.

Namun di luar sana, ada dunia yang siap menguliti dan menghancurkannya hidup-hidup jika kehidupan baru ini dibiarkan ada.

Dua garis merah yang ia lihat di kamar mandi apartemennya seolah menjelma menjadi dua jalan buntu yang sama-sama menuntut pengorbanan besar. Alena memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran pilihan hidup mati yang harus ia putuskan sebelum waktu menghentikan langkahnya.

Tekanan Panggung Mewah

Suara jepretan kamera digital terdengar bertubi-tubi, seperti rentetan tembakan yang diarahkan tepat ke wajah Alena. Cahaya lampu flash yang berkekuatan tinggi menyengat matanya yang mulai perih. Studio pemotretan hari itu terasa luar biasa pengap, meskipun mesin pendingin ruangan sudah disetel ke suhu paling rendah. Aroma wewangian dari produk kosmetik terbaru yang sedang ia promosikan—sebuah perpaduan antara ekstrak bunga mawar sintetis dan bahan kimia tajam—terus-menerus menusuk indra penciumannya. Bagi orang normal, aroma itu mungkin terasa segar. Namun bagi Alena, bau itu seperti racun yang mengaduk-aduk isi perutnya sejak kaki pertamanya melangkah masuk ke ruangan ini.

​"Alena, fokus! Tatapannya tolong dibuat lebih sensual namun tetap terlihat polos! Kamu adalah wajah dari produk skincare suci ini!" teriak sang fotografer dari balik lensa besarnya.

​Alena memaksakan sebuah senyuman. Bibirnya yang dipoles lipstik merah muda mengembang sempurna, menyembunyikan fakta bahwa di balik riasan tebal itu, wajahnya seputih kertas tanpa darah. Kedua tangannya yang memegang botol serum kecil mulai gemetar hebat. Rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang bagian belakang kepalanya, membuat ruangan studio yang megah itu seolah berputar terbalik.

​‘Tahan, Alena. Tinggal beberapa jepretan lagi,’ bisik batinnya mencoba menguatkan diri.

​Namun, tubuhnya menolak berkompromi. Sebuah gelombang mual yang sangat dahsyat naik dari ulu hatinya, menyumbat tenggorokannya hingga ia merasa tercekik. Tanpa aba-aba, Alena menurunkan botol kosmetik di tangannya, membalikkan badan, dan berlari meninggalkan set pemotretan tanpa memedulikan teriakan bingung dari fotografer dan kru produksi. Ia berlari kencang menuju toilet di sudut studio, mengunci pintunya, dan langsung tumpah bertumpu pada wastafel porselen. Ia memuntahkan cairan bening berulang kali hingga dadanya terasa sesak dan tenggorokannya terbakar serak.

​Di luar pintu toilet, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat, disusul ketukan keras yang penuh tuntutan. Itu adalah Siska, manajer pribadinya yang telah mendampinginya selama sepuluh tahun terakhir.

​"Alena! Buka pintunya! Kamu apa-apaan sih? Ini brand besar, para petinggi mereka sedang memperhatikanmu dari ruang monitor!" suara Siska terdengar melengking, sarat akan kepanikan yang tertahan.

​Kabar mengenai memburuknya kondisi kesehatan Alena tentu saja tidak bisa disembunyikan selamanya dari Siska. Selama dua minggu terakhir, Alena telah melewatkan tiga kontrak iklan besar dengan alasan sakit yang dibuat-buat, mulai dari gejala tifus hingga kelelahan akut. Tapi Siska bukanlah wanita amatir yang mudah dibohongi. Dia adalah manajer bertangan dingin yang tahu kapan artisnya benar-benar sakit dan kapan artisnya sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar.

​Dengan tubuh yang lemas dan napas yang terengah-engah, Alena membuka kunci pintu toilet. Begitu pintu terbuka, Siska tidak memberikan waktu bagi Alena untuk bernapas. Wanita paruh baya dengan pakaian necis itu langsung mencengkeram lengan Alena dengan kuat, menariknya memotong kerumunan staf yang memandang penuh tanya, dan membawanya keluar menuju area parkir bawah tanah. Target Siska adalah sebuah mobil van mewah pribadi berkaca gelap pekat yang biasa digunakan untuk mobilitas Alena.

​Siska mendorong Alena masuk ke dalam van, menyusul di belakangnya, dan langsung mengunci pintu mobil dari dalam dengan bunyi klik yang terdengar final di telinga Alena. Suasana di dalam van mendadak menjadi begitu sempit dan mencekam. Suara bising studio di luar sana lenyap, digantikan oleh kesunyian yang menekan dada.

​"Alena, jujur sama aku. Apa yang terjadi denganmu?" cecar Siska dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan. Ia berdiri di hadapan Alena yang duduk meringkuk di kursi penumpang. "Kamu tidak bisa menyembunyikan ini lagi dariku. Wajahmu pucat setiap pagi, kamu tidak menyentuh makanan katering sama sekali, dan sekarang kamu muntah-muntah di lokasi syuting iklan kosmetik vital ini! Jangan bilang kamu menggunakan obat-obatan terlarang?!"

​Alena hanya tertunduk dalam-dalam. Rambut panjangnya yang telah ditata rapi kini acak-acakan, menutupi sebagian wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Ia meremas jemarinya yang terasa sedingin es. Tuduhan Siska tentang narkoba mungkin masih bisa diselesaikan dengan rehabilitasi diam-diam, namun kenyataan yang ia simpan jauh lebih destruktif dari sekadar obat-obatan. Perlahan, dengan tangan yang bergetar hebat, Alena membuka ritsleting tas desainer miliknya. Ia merogoh bagian kantung paling dalam, mengeluarkan selembar kertas putih berlogo klinik laboratorium swasta, dan menyerahkannya kepada Siska tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

​Siska merebut kertas itu dengan kasar. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris tulisan medis di atasnya, hingga pandangannya terpaku pada satu kesimpulan di bagian bawah dokumen: Hasil Tes hCG: Positif (Estimasi Kehamilan 4 Minggu).

​Dalam sekejap, warna wajah Siska berubah dari kecurigaan menjadi merah padam karena amarah yang meledak-ledak. Tubuhnya gemetar, dan kertas di tangannya langsung remuk dalam cengkeramannya.

​"Kamu gila, Alena! Kamu benar-benar gila!" teriak Siska, suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding van yang sempit. "Siapa ayahnya?! Siapa bajingan yang telah menghancurkan masa depanmu dan masa depanku?!"

​Alena langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini tumpah ruah, merusak riasan wajah berharga jutaan rupiah yang melekat di kulitnya. "Aku tidak bisa mengatakannya, Mbak... Tolong, jangan paksa aku," tangis Alena pecah.

​Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa rahasia tentang Adrian sampai ke liang kubur. Adrian bukan sekadar aktor biasa; dia adalah pewaris tunggal dari Dewangga Group, salah satu konglomerat terbesar yang menguasai gurita bisnis media dan hiburan di negara ini. Jika nama Adrian sampai terlibat dan mencuat ke permukaan, raksasa bisnis seperti Dewangga Group tidak akan tinggal diam. Mereka memiliki tim hukum terbaik yang bisa dengan mudah membalikkan fakta, menuntut Alena atas pencemaran nama baik, atau membuat hidupnya berakhir di dalam penjara. Lebih buruk lagi, Alena akan dijadikan santapan empuk media massa yang haus akan skandal, dikuliti habis-habis hingga tidak ada lagi harga diri yang tersisa dari dirinya.

​"Jangan paksa kamu?!" Siska tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di telinga Alena. Siska melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahu Alena dan memaksa aktris itu untuk menatap langsung ke matanya yang menyalang penuh amarah.

​"Dengar baik-baik, Alena," Siska menurunkan nada suaranya menjadi bisikan yang tajam, namun terdengar jauh lebih mengancam daripada teriakan sebelumnya. "Kontrak eksklusifmu dengan agensi kita masih tersisa lima tahun lagi. Kamu pikir kamu bisa bersikap romantis dan menyembunyikan anak haram ini? Di dalam kontrak itu, ada klausul moralitas yang sangat ketat! Kamu dinyatakan tidak boleh terlibat skandal moral apa pun, termasuk hamil di luar nikah!"

​Siska melepaskan cengkeramannya dan mulai berjalan mondar-mandir di ruang van yang terbatas, menghitung kerugian di dalam kepalanya seolah Alena hanyalah sebuah produk investasi yang gagal.

​"Jika para investor dan pemilik brand kecantikan di luar sana tahu bahwa ikon kesucian mereka sedang berbadan dua tanpa suami, mereka akan menarik seluruh investasi mereka dalam hitungan jam! Agensi tidak akan mau menanggung kerugian itu sendirian, Alena. Kamu akan dituntut untuk membayar ganti rugi atas pelanggaran kontrak sebesar lima puluh miliar rupiah! Lima puluh miliar! Apakah kamu punya uang sebanyak itu di rekeningmu sekarang?!"

​Kata-kata Siska seperti palu godam yang menghantam seluruh sendi kehidupan Alena. Lima puluh miliar rupiah adalah angka yang mustahil bisa ia lunasi, bahkan jika ia menjual seluruh aset, apartemen, dan mobil mewah yang ia miliki saat ini. Ia akan jatuh miskin, bangkrut, dan namanya akan selamanya tercoreng sebagai produk gagal di industri yang pernah memujanya.

​Siska tiba-tiba berhenti mondar-mandir. Wajah kemarahannya perlahan mereda, digantikan oleh ekspresi dingin, kalkulatif, dan penuh tipu daya. Ia berlutut di depan Alena, memegang kedua tangan dingin artisnya itu dengan kehangatan yang palsu.

​"Alena, tatap aku," ujar Siska lembut, namun nadanya sedingin es. "Kita masih bisa menyelamatkan ini. Belum ada orang luar yang tahu. Pemotretan hari ini bisa kita tunda dengan alasan kamu pingsan karena vertigo. Kita harus menyingkirkan janin itu secepatnya sebelum perutmu mulai membesar dan membuncit."

​Mendengar kata "menyingkirkan", tubuh Alena tersentak hebat.

​"Aku akan mengatur janji dengan sebuah klinik medis swasta yang sangat tepercaya dan rahasia di Singapura minggu depan," lanjut Siska tanpa beban, seolah sedang merencanakan jadwal liburan biasa. "Kita akan terbang ke sana dengan alasan melakukan perawatan kulit eksklusif atau operasi sinus. Prosedurnya hanya butuh waktu beberapa jam. Tidak akan ada satu pun paparazzi atau netizen yang tahu. Setelah itu, kamu pulang ke Indonesia, dan kamu bisa kembali menjadi Alena sang 'Nation's Sweetheart' yang dicintai semua orang. Sempurna, bersih, dan tanpa cela."

​Kata-kata Siska bergaung di dalam kepala Alena seperti belati yang dihunus dan dihujamkan langsung ke jantungnya berulang kali.

​Menyingkirkan janin itu?

​Janin yang bahkan belum sempat membentuk wajah utuh, belum sempat merasakan detak jantung yang sempurna, dan belum sempat melihat bagaimana rupa dunia luar? Alena perlahan menarik tangannya dari genggaman Siska. Ia membawa tangan kanannya turun, menyentuh permukaan perutnya yang masih rata di balik gaun satin yang ia kenakan.

​Pada detik itulah, sebuah getaran aneh menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Itu adalah sebuah perasaan hangat, asing, namun sangat kuat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya: naluri keibuannya bangkit dengan begitu perkasa. Di dalam rahimnya, ada sebuah kehidupan yang sedang mengandungkan harapan, sebuah entitas yang mutlak bergantung pada perlindungannya. Janin itu tidak pernah meminta untuk diciptakan dari kesalahan satu malam yang penuh keputusasaan. Janin itu tidak berdosa. Yang berdosa adalah dirinya dan Adrian yang kehilangan akal sehat malam itu.

​Alena menatap Siska dengan pandangan mata yang perlahan berubah, dari ketakutan menjadi sebuah ketegasan yang rapuh namun menolak untuk tunduk. "Tidak, Mbak... Aku tidak bisa melakukannya," bisik Alena, suaranya bergetar namun sarat akan penolakan yang absolut.

​Siska tertegun, matanya membelalak tidak percaya. "Apa kamu bilang? Kamu menolak?!"

​"Aku tidak akan pergi ke Singapura. Aku tidak akan membunuh anakku sendiri," tegas Alena, air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena meratapi nasibnya, melainkan karena rasa bersalah yang mendalam kepada kehidupan kecil di dalam dirinya.

​"Kamu sudah kehilangan akal sehatmu, Alena!" Siska bangkit berdiri dengan kasar, wajahnya kembali mengeras dipenuhi kemurkaan. "Anak? Kamu menyebut gumpalan darah pembawa sial itu sebagai anakmu?! Dia adalah penghancur kariermu! Jika kamu memelihara janin itu, kamu akan kehilangan pekerjaanmu, kamu akan menghadapi tuntutan hukum lima puluh miliar, dan publik akan meludahimu setiap kali kamu berjalan di tempat umum! Kamu mau hidup luntang-lantung di jalanan setelah semua kemewahan yang kamu nikmati selama ini?!"

​"Aku tahu risiko finansialnya, Mbak Siska. Tapi membunuh darah dagingku sendiri demi uang dan popularitas... aku tidak akan pernah bisa melakukan hal sekeji itu," jawab Alena dengan suara yang mengeras. Ia mencengkeram perutnya lebih erat, seolah mencoba melindungi bayinya dari tatapan penuh kebencian Siska.

​Siska mendengus kasar, lalu berjalan mundur menuju pintu van. Ia memegang tuas pintu, bersiap untuk keluar, namun sebelum ia membuka pintu, ia membalikkan badannya dan memberikan tatapan paling dingin yang pernah Alena lihat selama sepuluh tahun mereka bekerja bersama.

​"Pikirkan baik-baik ucapanmu dalam waktu dua puluh empat jam ini, Alena," ancam Siska dengan suara yang sangat pelan namun tajam bak sembilu. "Jangan biarkan moralitas bodohmu itu menghancurkan hidup kita semua. Aku yang membangun kariermu dari nol, dari saat kamu bukan siapa-siapa hingga menjadi ratu di panggung megah ini. Dan jika kamu memilih untuk mempertahankan 'masalah' itu, ingatlah bahwa aku juga memiliki kekuatan untuk menjatuhkanmu ke dasar jurang yang paling dalam sebelum agensi atau investor menuntutmu. Pilihan ada di tanganmu: Singapura dan tetap menjadi ratu, atau pertahankan janin itu dan hancur berkeping-keping."

​Brak!

​Siska keluar dari mobil van dan membanting pintunya dengan sangat keras, meninggalkan Alena sendirian dalam kegelapan dan kesunyian van mewah itu.

​Alena menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang dingin. Di luar sana, lampu-lampu basemen parkir studio menyala temaram, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu kecil dan kesepian. Panggung megah yang selama ini ia puja, sorak-sorai jutaan penggemar yang setiap hari memanggil namanya, kini terasa seperti sebuah penjara emas yang siap mengeksekusinya hidup-hidup. Dua garis merah di atas kertas laboratorium itu kini benar-benar telah berubah menjadi labirin tanpa jalan keluar, di mana setiap sudutnya menuntut pengorbanan yang teramat besar dari hidupnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!