Cerita ini hanyalah karangan author, jika terdapat kesalahan seperti pangkat, gelar, tempat atau regulasi/peraturan, author meminta maaf🙏
...###...
Aroma antiseptik yang khas selalu berhasil membuat kepala perempuan bernama Hazel berdenyut samar. Di usianya yang menginjak 31 tahun, jas putih yang melekat di tubuhnya bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan simbol dari rantai tak kasat mata yang mengikat seluruh hidupnya.
Hazel adalah seorang Dokter di salah satu rumah sakit swasta elit di ibu kota, sebuah posisi yang diimpikan ribuan orang. Namun, menjadi penjara bawah tanah bagi jiwanya yang merindukan kanvas dan aroma cat.
"Dokter Hazel, ini laporan pasien di bangsal mawar untuk sore ini," ujar seorang perawat dan meletakkan map di meja kerja Hazel yang tertata rapi.
"Terima kasih, Suster," jawab Hazel dengan senyum formal yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.
Setelah perawat itu keluar, Hazel menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dan matanya menatap nanar ke arah jendela besar yang menampilkan langit kota yang mulai meredup. Hidupnya begitu sempurna di mata orang lain, Ayahnya, Papa Darius, adalah seorang direktur bank terkemuka dan Ibunya, Mama Vivian, adalah pewaris tunggal bisnis keluarga konglomerat.
Apa pun yang Hazel inginkan dari segi materi, selalu tersaji di depan mata. Namun, di balik semua kemewahan itu, Hazel tidak pernah memiliki hak atas dirinya sendiri. Ayahnya bahkan tidak berkutik, karena terlalu lemah untuk melawan dominasi Mama Vivian yang begitu kuat.
Ditengah lamunannya, ponselnya di atas meja bergetar dan menampilkan nama yang paling ingin ia hindari yaitu Mama Vivian, Hazel pun menghela napas panjang sebelum menggeser layar.
^^^Ya, Ma?^^^
Hazel, kamu nggak lupa kan? Jam delapan di restoran Amarta meja nomor 6, Mama sudah mengatur makan malam kamu sama Tommy. Dia muda, mapan, jaksa dan dari keluarga baik-baik.
^^^Tapi Ma, Hazel baru selesai shift...^^^
Tidak ada alasan. Jaga sikap kamu, Hazel. Mama tutup dulu, awas kalau kamu nggak datang.
Sambungan pun terputus secara sepihak, Hazel menatap layar ponselnya dengan rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya. Mama Vivian sendiri sudah berulang kali mengatur makan malam Hazel dengan pria pilihannya, dan pria ini adalah yang kelima bulan ini yang dipilihkan Mama Vivian demi menjaga status sosial keluarga.
Hazel melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan dan ia harus bergegas jika tidak ingin mendengar amukan Mama Vivian.
Hazel berdiri, melepas jas Dokternya dan menyampirkannya di kursi lalu ia meraih tasnya, bersiap untuk melangkah keluar dari ruangnya. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, pintu tersebut mendadak terbuka dengan kasar.
Suster Dila masuk dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi, "Dokter Hazel! Tolong, Dok! Ada korban kecelakaan beruntun baru saja masuk ke IGD, pasien trauma kepala dan fraktur terbuka, kondisinya kritis!" ucap Suster Dila.
Hazel tertegun sejenak, melirik jam dinding. "Suster, jadwal shift saya sudah selesai dan saya ada urusan yang sangat penting. Tolong hubungi Dokter Fandi ya, karena dia yang berjaga malam ini," ucap Hazel.
"Dokter Fandi sedang melakukan operasi, Dok! Ada pasien apendiksitis perforasi yang harus segera ditangani. Dokter IGD lainnya sedang menangani korban kecelakaan yang lain. Tolong, Dok... pasien ini kehilangan banyak d*r*h," mohon Suster Dila dengan mata berkaca-kaca.
(apendiksitis perforasi: kondisi komplikasi serius dari radang usus buntu, di mana usus buntu mengalami peradangan parah, membusuk, hingga robek atau pecah)
Sebagai Dokter, Hazel tidak bisa membiarkan seseorang mati di hadapannya hanya demi sebuah makan malam.
"Siapkan ruang tindakan, saya ke sana sekarang," ucap Hazel, langsung menyambar kembali jas putihnya dan berlari menuju IGD.
Waktu seakan berjalan melambat di dalam ruang tindakan, Hazel mengerahkan seluruh fokus dan kemampuannya. Menjahit luka torehan yang dalam, menghentikan pendarahan hebat dan memastikan tanda-tanda vital pasien kembali stabil sebelum dipindahkan ke ruang perawatan intensif, peluh membasahi keningnya dan beberapa cipratan d*r*h mengenai ujung lengan bajunya.
Beberapa saat kemudian, ketika Hazel akhirnya keluar dari ruang IGD dan mencuci tangannya, jam dinding di koridor rumah sakit sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Astaga," gumam Hazel, ia bergegas kembali ke ruangannya dan meraih ponselnya yang sengaja ia tinggal.
Sesuai dugaannya, ada 15 panggilan tak terjawab dari Mama Vivian dan puluhan pesan singkat yang penuh dengan untaian kata kemarahan. Hazel segera berganti pakaian dengan terburu-buru, bahkan tidak sempat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Hazel membelah jalanan kota yang untungnya tidak terlalu macet. Sesampainya di parkiran restoran, Hazel pun segera melangkah masuk ke restoran mewah itu dengan perasaan was-was, matanya mencari meja nomor 6. Di sana, duduk seorang pria dengan setelan jas rapi, tampak sibuk dengan ponselnya dan berulang kali melihat jam tangan dengan wajah gusar.
"Maaf, apa anda Tommy?" tanya Hazel dengan suara serak.
Pria itu menoleh, ia menatap Hazel dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendah. "Hazel? Anda telat 45 menit dan penampilan anda sangat tidak menghargai pertemuan ini," ucap Tommy yang penuh kecewa melihat penampilan Hazel.
Hazel menarik kursi dan duduk dengan kaku, "Saya meminta maaf karena telat, tadi ada keadaan darurat di rumah sakit, saya tidak bisa meninggalkan pasien begitu saja," ucap Hazel.
"Saya juga orang sibuk, Hazel. Saya ini seorang Jaksa, waktu saya mahal. Tapi saya tetap datang tepat waktu, sepertinya Tante Vivian terlalu melebih-lebihkan tentang betapa sempurnanya putrinya ini," ucap Tommy dengan nada meremehkan.
Hazel mengepalkan tangannya di bawah meja, rasa lelah yang menumpuk sejak pagi dan hinaan dari pria asing ini membuat pertahanannya runtuh.
"Kalau anda merasa waktu anda terlalu berharga untuk menunggu seorang Dokter menyelamatkan nyawa pasien, maka sepertinya pertemuan ini memang tidak perlu dilanjutkan," ucap Hazel tegas.
Hazel sendiri tidak percaya jika ia mengatakan hal tersebut, Hazel termasuk orang yang lemah lembut dan tidak pernah marah-marah atau tegas pada orang lain, tapi kali ini entah darimana keberanian itu muncul.
"Saya datang karena Tante Vivian yang memaksa ya," ucap Tommy yang mulai meninggikan suaranya.
"Lain kali kalau Mama saya memaksa anda untuk menemui saya, jangan mau. Saya sebenarnya tidak mau datang kesini, saya bahkan tidak sudi bertemu dengan anda, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pergi, saya capek tau," ucap Hazel lalu pergi meninggalkan Tommy.
Hazel melangkah keluar dari restoran dengan napas memburu, ia tidak mempedulikan teriakan Tommy yang merasa terhina di belakangnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hazel merasa menang, meskipun ia tahu badai besar sedang menantinya di rumah.
.
.
.
Bersambung.....
Baru saja Hazel menghidupkan mesin mobil, ponselnya kembali bergetar dan nama Mama berkedip di layar. Hazel tidak mengangkatnya, ia tahu jika mengangkat telepon itu hanya akan membuat konsentrasinya buyar saat menyetir.
Begitu Hazel menginjakkan kaki di ruang tamu rumahnya, sebuah vas bunga kristal melayang dan hancur berkeping-keping tepat di dekat kakinya hingga membuat Hazel mematung karena terkejut.
"Berani kamu pulang!" teriak Mama Vivian dengan wajah merah padam.
Di sampingnya, Papa Darius hanya diam membisu, tidak berani membela putrinya jika sang istri sudah mengamuk. Itulah yang selalu dilakukan Papa Darius, ia tidak punya kuasa atas Mama Vivian, karena Papa Darius tidak pernah membela Hazel ketika Mama Vivian marah.
"Ma, Hazel capek...," belum sempat Hazel menyelesaikan ucapannya, Mama Vivian sudah bersuara.
"Capek? Kamu pikir Mama tidak capek mengatur semuanya demi masa depan kamu!" teriak Mama Vivian mendekat dan langkahnya terdengar mengerikan di atas lantai marmer.
"Tommy menelepon Mama, dia bilang kamu telat, tidak sopan, penampilan kamu berantakan dan kamu menghinanya! Kamu tahu siapa dia? Dia itu jaksa agung, kamu sudah menghancurkan koneksi keluarga kita!" bentak Mama Vivian.
"Ma, tadi Hazel harus menyelamatkan pasien! Apa jabatan Tommy lebih penting daripada nyawa seseorang?" tanya Hazel.
Plak...
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Hazel, hingga sudut bibir Hazel berdar*h.
"Jangan gunakan profesi doktermu sebagai alasan untuk membangkang! Mama menyekolahkan kamu jadi Dokter supaya kamu punya kelas dan status, supaya kamu dipandang tinggi, bukan supaya kamu jadi pahlawan kesiangan yang melupakan tata krama!" bentak Mama Vivian.
Mama Vivian merampas tas Hazel dan mengambil kunci mobil serta ponselnya, "Mulai besok, kamu tidak boleh ke rumah sakit selama seminggu," ucap Mama Vivian.
"Ma! Mama gak bisa kayak gitu dong, aku punya jadwal operasi dan pasien!" teriak Hazel.
"Mama gak peduli, sekarang kamu ke kamar dan Mama akan kunci kamar kamu selama satu minggu," ucap Mama Vivian.
"Ma...," belum sempat Hazel protes, Mama Vivian sudah kembali bersuara.
"Percuma kamu protes, Mama akan mengurus cuti kamu di rumah sakit. Kamu harus ingat, rumah sakit itu milik Pamanmu dan Mama akan mengatur semuanya," ucap Mama Vivian.
Hazel tidak bisa melakukan apa-apa, ia akhirnya pasrah dan naik ke kamarnya yang ada di lantai 2. Mau kabur pun percuma bagi Hazel, karena Mama Vivian akan menyuruh orang untuk membawa Hazel pulang.
Seperti yang dilakukan Hazel beberapa bulan lalu, di mana Hazel pergi dari rumah dan menginap di hotel pinggir kota, tapi belum sampai 1 jam, anak buah Mama Vivian sudah menemukan Hazel dan membawa Hazel pulang.
Di ruang tamu, Mama Vivian masih emosi karena Hazel. Papa Darius hanya bisa menghela napas panjang sembari menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin.
"Ma, menurutku kamu terlalu keras sama Hazel. Dia seorang Dokter dan tiba-tiba ada keadaan darurat, itu hal yang wajar," ucap Papa Darius dan mencoba meredam amarah istrinya.
Mama Vivian menoleh cepat, tatapannya yang tajam bak belati kini menghujam langsung ke arah suaminya, ia menggebrak meja di hadapannya hingga cangkir porselen di atasnya berdenting nyaring.
"Terlalu keras, kamu bilang? Pa, kalau bukan karena caraku yang keras ini, Hazel tidak akan pernah menjadi Dokter! Dia itu keras kepala, jadi dia harus diatur. Dia mau jadi pelukis? Mau hidup luntang-lantung mengandalkan kuas dan kanvas? Mau jadi apa keluarga kita kalau anak tunggalnya cuma penjual gambar?" tanya Mama Vivian.
Papa Darius terdiam, ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ketidakberdayaannya menghadapi sang istri menjadi makanan sehari-harinya, ia hanyalah pion yang bergerak sesuai papan catur yang dirancang oleh sang istri.
Sementara itu, di lantai dua, Hazel merosot di balik pintu dan memeluk lututnya erat-erat seiring dengan air mata yang luruh tanpa suara. Sudut bibirnya yang terluka terasa perih, namun rasa perih itu tidak sebanding dengan kekosongan yang menganga di dalam dadanya.
Selama ini, hidup Hazel tak ubahnya seperti robot. Pagi ke rumah sakit, malam menghadiri jamuan kelas atas lalu pulang ke rumah yang terasa seperti sangkar emas yang mencekik. Ia tidak memiliki teman dekat, tidak memiliki hobi dan dilarang menyentuh kuas lukisnya lagi.
Hazel menatap tangannya yang gemetar, tangan yang tadi sore menjahit luka dan menyelamatkan nyawa seseorang, malam ini justru dianggap tidak berharga hanya karena gagal menyenangkan hati seorang pria pilihan Ibunya.
"Aku cuma mau bebas, Tuhan... Aku cuma mau menikmati hidupku," gumam Hazel parau di tengah kegelapan kamarnya.
Di tengah kesedihannya, pandangan Hazel terpaku pada sebuah lampu tidur berbentuk bola kaca dengan siluet pohon pinus di dalamnya. Lampu tidur itu adalah hadiah ulang tahunnya dari seorang pria, di mana pria itu pernah membuat hidup Hazel yang abu-abu menjadi penuh warna. Pria itu mengajarkannya bahwa langit sore tidak hanya berwarna biru, melainkan perpaduan jingga, ungu dan merah muda yang indah, warna-warna yang selalu Hazel goreskan di atas kanvasnya dulu.
Hazel menyentuh lampu tidur yang dingin itu dengan jemarinya yang gemetar, "Gimana kabar kamu? Sudah empat belas tahun ternyata hiks hiks...," gumam Hazel.
.
Pagi harinya, di kediaman keluarga Ganendra tidak pernah diawali dengan kicau burung yang menenangkan, melainkan ketukan sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer, seolah menjadi lonceng penanda bahwa sang penguasa telah datang.
Di dalam kamarnya yang luas, Hazel terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra, menerangi kamar bernuansa putih yang terasa begitu dingin. Saat Hazel mencoba memutar knop pintu kamar untuk sekadar mengambil segelas air, namun pintu itu tetap terkunci rapat dari luar.
Hazel menghela napas panjang, kepalanya bersandar pada daun pintu yang tebal. Sudut bibirnya yang robek akibat tamparan semalam kini telah mengering dan terasa kaku saat ia mencoba berbicara pada diri sendiri.
"Sudah tiga puluh dua tahun dan Mama masih menggunakan cara yang sama," gumam Hazel parau.
Tak berselang lama, terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Pintu terbuka sedikit, menampilkan sosok Bi Hani, kepala pelayan yang sudah bekerja di rumah itu bahkan sebelum Hazel lahir. Wanita paruh baya itu membawa nampan berisi sarapan, sup asparagus hangat, roti panggang dan segelas susu, terlihat jelas matanya memancarkan rasa iba yang mendalam yang berusaha ia sembunyikan. Di belakang Bi Hani, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam.
"Non Hazel... ini sarapannya. Dimakan ya, Non," ucap Bi Hani dan meletakkan nampan di atas meja rias Hazel.
"Bi, tolong bilang Papa. Hazel mau bicara," pinta Hazel dan matanya menatap Bi Hani penuh harap.
Bi Hani hanya menunduk dan meremas celemeknya sendiri, "Tuan besar sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi, Non. Nyonya yang menyuruh Bapak berangkat lebih awal, dan... Nyonya juga berpesan, semua fasilitas Non Hazel disita untuk sementara waktu," ucap Bi Hani.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hazel melirik ke arah meja, tempat di mana biasanya ponsel dan tablet kerjanya berada. Kini kosong melompong bahkan kabel pengisi daya pun telah lenyap, Mama Vivian benar-benar memutus aksesnya dari dunia luar.
"Tapi, gimana sama pasienku di rumah sakit, Bi? Hari ini aku ada jadwal kontrol untuk pasien pasca operasi," tanya Hazel.
"Nyonya sudah menelepon pihak rumah sakit, Non. Kalau Non Hazel sedang sakit dan butuh istirahat total selama satu minggu, pihak rumah sakit... tidak ada yang berani membantah Nyonya," jawab Bi Hani lirih sebelum melangkah mundur dan keluar dari kamar, lalu pintu kembali ditutup dan dikunci.
Hazel tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan. Rumah sakit tempatnya bekerja memang merupakan salah satu lini bisnis di bawah naungan yayasan milik keluarga besar Ibunya.
Di rumah sakit itu, posisi Hazel sebagai Dokter hanyalah status formalitas pelengkap pajangan keluarganya yang terpandang. Sumpah Dokter yang ia ucapkan dengan air mata, semuanya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nama besar keluarganya.
.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi siklus siksaan mental yang membosankan dan mencekik bagi Hazel. Tanpa ponsel, tanpa buku medis dan tanpa kanvas, karena semua alat lukisnya telah dibakar habis oleh Ibunya bertahun-tahun lalu saat Hazel masih berada di luar negeri. Hazel terjebak dalam ruang hampa, kamar yang luas dan dipenuhi perabotan mahal itu menjelma menjadi sel isolasi.
Setiap pagi, siang dan malam, makanan akan diantarkan dengan pengawalan ketat. Hazel hanya menghabiskan waktunya dengan duduk di tepi ranjang, menatap dinding kamar yang kosong atau berdiri di dekat jendela dan memandangi gerbang tinggi rumahnya yang dijaga ketat. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, diberi makan dengan baik, dirawat dengan mewah. Tapi, sayapnya dipatahkan secara berkala agar tidak pernah bisa terbang.
Di hari kedua, Hazel mencoba memprotes saat Mama Vivian sengaja membuka pintu kamar hanya untuk memeriksa keadaannya. Namun, protesnya juga percuma, karena suaranya tidak akan di dengar.
"Sampai kapan Mama mau mengurungku seperti ini? Aku udah 31 tahun, Ma! Aku bukan anak kecil yang bisa Mama hukum setiap kali tidak menuruti kemauan Mama!" cecar Hazel dan berdiri menantang Mama Vivian dengan tubuh yang tampak lebih kurus.
Mama Vivian yang tampil anggun dengan gaun rajut mahal dan perhiasan berlian di lehernya hanya menatap Hazel dengan pandangan dingin tanpa riak.
"Sampai kamu sadar posisi kamu, Hazel," jawab Mama Vivian tenang, namun setiap katanya terdengar seperti maklumat yang tak terbantahkan.
"Ma," rengek Hazel.
"Semua yang Mama lakukan ini untuk kebaikan kamu, jika Mama membiarkan kamu memilih sendiri, kamu hanya akan mempermalukan nama keluarga ini. Seperti kemarin, kamu menolak seorang jaksa demi pasien, benar-benar membuang waktu," ucap Mama Vivian.
"Pasien juga manusia, Ma! Nyawanya berharga!" teriak Hazel, air matanya mulai mengalir karena frustrasi.
"Bagi Mama, yang berharga adalah masa depan dan martabat keluarga kita. Ingat itu, Hazel. Kamu itu anak Mama, jadi kamu harus tunduk pada aturan Mama," ucap Mama Vivian ketus sebelum berbalik dan memerintahkan penjaga untuk mengunci pintu.
Ketika malam tiba, kegelapan menjadi satu-satunya teman Hazel. Di saat-saat paling sunyi itulah, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Rasa bosan yang teramat sangat menyiksa batinnya dan memicu rasa hampa yang perlahan menggerogoti kewarasannya, keinginan untuk bebas, untuk sekadar berjalan di bawah rintik hujan tanpa dilarang atau menggenggam kuas dan menumpahkan warna di atas kain putih, terasa begitu jauh dan mustahil.
Hazel berjalan mendekati meja, satu-satunya benda yang tidak disentuh oleh tangan dingin Mama Vivian adalah lampu tidur berbentuk bola kaca dengan siluet pohon pinus di dalamnya. Ia menyalakan lampu tersebut, cahaya remang-remang berwarna kuning hangat langsung berpendar dan memantulkan bayangan pohon pinus ke langit-langit kamar.
Hazel memeluk bola kaca itu di dadanya, membiarkan kehangatannya menyalur ke tubuhnya yang dingin. Di dalam sangkar emas ini, hanya benda inilah yang menjadi saksi bisu bahwa Hazel pernah memiliki hidup yang begitu berwarna.
Sementara Hazel mengarungi hari-hari penuh kehampaan di dalam kamarnya, di belahan kota yang lain, Mama Vivian sedang berada di puncak kejayaannya. Sebagai wanita bersosialita tinggi yang memegang kendali bisnis besar, menghadiri perjamuan makan malam dan pesta eksklusif adalah bagian dari rutinitas wajibnya untuk memperluas jaringan kekuasaan.
Malam ini, sebuah hotel bintang lima di pusat kota menjadi saksi bisu kemegahan pesta perayaan hari jadi salah satu yayasan veteran dan petinggi militer. Ruangan ballroom dipenuhi oleh kilauan lampu kristal, wewangian parfum mahal, serta para tamu undangan yang terdiri dari pejabat tinggi, pengusaha sukses dan perwira militer berpangkat tinggi dengan seragam upacara mereka yang gagah.
Mama Vivian berjalan dengan anggun, memegang segelas minuman sembari melempar senyum formal kepada setiap kolega yang menyapanya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sekelompok pria paruh baya berseragam militer dengan deretan tanda jasa di dada mereka sedang berkumpul di sudut ruangan, salah satu di antaranya adalah jenderal jenderal senior yang sangat berpengaruh dalam tatanan militer saat ini.
Melihat kesempatan emas, Mama Vivian segera melangkah mendekat dengan senyuman terbaiknya. "Selamat malam, Jenderal Bayu," sapa Mama Vivian dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar karismatik namun tetap menghormati.
Jenderal Bayu pun menoleh lalu tersenyum lebar mengenali sosok wanita berpengaruh di dunia bisnis tersebut, "Nyonya Vivian, selamat malam. Suatu kehormatan anda bisa hadir di acara kami malam ini," balas Jenderal Bayu.
"Saya yang merasa terhormat karena berada di acara yang luar biasa seperti ini, Jenderal, " jawab Mama Vivian.
Mama Vivian memperhatikan sang Jenderal dan para perwira muda di sekelilingnya, ada aura ketegasan, disiplin dan kekuasaan yang terpancar dari seragam-seragam tersebut, sesuatu yang sangat disukai oleh Mama Vivian.
Seketika, sebuah ide kilat terlintas di benak Mama Vivian. Mengingat kegagalannya menjodohkan Hazel dengan Tommy, ia butuh opsi lain yang jauh lebih kuat untuk mengendalikan Hazel sekaligus menaikkan citra keluarganya.
Di dalam silsilah keluarga besarnya, belum ada satu pun yang berkecimpung di dunia militer atau memiliki menantu seorang tentara. Jika Hazel bisa mendapatkan suami seorang tentara dengan karier cemerlang, maka posisi keluarganya di kalangan elite akan semakin tidak tergoyahkan.
"Jenderal, omong-omong tentang para perwira di sini... saya selalu kagum dengan kedisiplinan mereka. Kebetulan, putri saya seorang Dokter...," pancing Mama Vivian yang memulai taktiknya.
"Oh, ya? Putri anda seorang Dokter? Hebat sekali, di rumah sakit mana putri anda bekerja?" tanya Jenderal Bayu.
"Di rumah sakit Ganendra," jawab Mama Vivian.
"Keren, saya yakin anak Nyonya Vivian pasti akan jadi penerus yang hebat," puji Jenderal Bayu.
"Tapi, saya merasa dia terlalu lama berada di zona nyaman rumah sakit. Saya ingin dia mendapatkan pengalaman yang lebih menantang, sesuatu yang bisa membentuk mentalnya menjadi lebih tangguh dan berdedikasi tinggi. Kira-kira, apa Jenderal bisa membantu anak saya...," ucap Mama Vivian dan menyembunyikan niat busuknya di balik topeng perhatian seorang Ibu.
.
.
.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!