Indonesia
NovelToon NovelToon

Antara Janji Suci Dengan Kode Etik

BAB 1 PERKENALAN TOKOH

Di sebuah rumah yang sangat besar, terdapat sebuah keluarga yang sangat harmonis. Ya keluarga itu salah satu keluarga ternama di Ibukota, keluarga Adhitama.

Keluarga yang terdiri dari Daddy yang bernama Kavindra Adhitama dengan Mommy yang bernama Freya Pratiwi Adhitama.

Mempunyai tiga anak:

Yang pertama: Luna Haifa Adhitama seorang dokter anak. Dia menjadi dokter favorit bagi pasiennya.

Yang kedua: Aryan Zaidan Adhitama, seorang ceo di Perusahaan Adhitama. Sebagai penerus Daddy, dia terkenal dengan ceo yang sangat dingin tapi hangat kepada keluarganya.

 Dan yang terakhir: Aryana Zaidah Adhitama, seorang desainer kondang di Ibukota namanya sudah terkenal di penjuru seluruh Indonesia.

"Assalamualaikum."

"KAKAK!" teriak Yana yang melihat Kakak cantiknya, sudah pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja.

"Apaan sih Dek?! Bukannya dijawab salamnya, kok teriak-teriak kayak di hutan saja!" Luna berkata sambil menatap adik dengan kesal.

"Hehehe walaikumsalam, kan kangen Kakakku yang paling canti," Jawab Yana dengan cengengesan tanpa dosa.

Luna langsung berjalan ke arah tangga, nggak menggubris jawaban dari adik bungsunya itu. Naik ke lantai tiga dimana kamarnya berada. Dia ingin langsung mandi, karena dia baru pulang dari rumah sakit. Takut membawa virus untuk keluarga yang sangat dia sayangi.

"Kamu itu kenapa kebiasaan teriak-teriak sih Sayang?!" tegur Freya, yang baru keluar dari kamarnya, setelah mendengar teriakan putri bungsunya. Freya sangat heran sekali, putri bungsunya itu sangat heboh sekali seperti siapa ya.

Yana menoleh ke belakang, dimana mommynya tadi menegurnya. "Tadi melihat Kakak, baru pulang dari rumah sakit, Mom. Kalau nggak teriak nggak seru Mommy," Jawab Yana dengan tersenyum.

"Kamu itu anak gadis lho Nak. Nggak pantas bicaranya kayak gitu. Kenapa kamu nggak bisa lembut kayak Kakak kamu!?" kesal Freya kepada putri bungsu itu.

"Lho, tentu nggak bisa dong, Mom?! Karena aku suka yang ramai dan heboh, hahahaha," jawabnya lagi sambil memakan keripik singkong yang dibuat oleh Freya untuk anak-anaknya.

Freya mendengus kesal dengan putrinya itu. Yana juga sudah berhijab, kalau ke luar rumah. Tapi jiwa bar-baran itu belum bisa diubahnya.

"Sudah, biarkan saja, Mom. Nanti Mommy sakit kepalanya kambuh lagi. Kalau menasehati adik yang sangat keras kepala itu," ucap Arya putra satu-satunya, yang selalu bisa menenangkan hati mommynya.

Arya ikut duduk di sofa ruang keluarga, dia juga mengambil keripik singkong yang dibuat oleh mommynya yang sangat pintar memasak. Padahal mommy sekolahnya saja ambil jurusan managemen tapi soal olah mengolah makanan. Mommynya paling juara nggak ada duanya.

Adzan magrib sudah berkumandang, Yana sama Arya menyudahi ngemilnya, lalu berjalan ke arah mushola yang berada di samping rumahnya. Daddy Vindra sengaja membuat mushola di luar, supaya semua orang yang bekerja di rumahnya bisa ikut sholat berjamaah.

        ********

"Bagaimana dengan tugas kamu di perbatasan Nak?" Tanya Ayahnya yang bernama Andrian Putra Abraham.

Andrian Putra Abraham mempunyai istri bernama Nafisah Aulia Rahma.

Dan mempunyai dua putra:

Yang bernama Jonathan William Abraham.

Jonathan sendiri mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang Abdi negara yang berpangkat kapten.

Yang kedua bernama Ares Nicholas Abraham. Seorang ceo dari ABRAHAM CORPORATION. Perusahaan besar milik Opanya yang bernama Radit Abraham.

"Alhamdulillah lancar, Yah. Pengamanan konflik di sana sudah agak mendingan, nggak kayak dulu lagi. Jadi aku sama teman-teman di suruh kembali ke Batalyon." Jawab Nathan sambil menikmati kiriman keripik singkong dari Tantenya.

" Ya, Alhamdulillah kalau sudah tenang di perbatasan sana. Dulu waktu Ayah masih aktif kerja, di sana sudah nggak tenang. Selalu saja mereka membuat onar di perbatasan.

" Ares, kemana Yah?" Tanya Nathan kepada Ayahnya. Jangan ada yang tanya Bundanya kemana ya, sudah bisa dipastikan, Beliau masih aktif memegang Cafe Tiga Saudara yang sekarang sudah diperluas jadi tiga tempat.

"Paling juga nongkrong di kafe, Nak. Kemana lagi kalau sudah pulang dari Perusahaan, kalau nggak kesana." Jawab ayahnya, yang sedang nonton sepak bola di TV.

Nathan menganggukan kepalanya, matanya juga fokus ke TV yang menampilkan siaran langsung sepak bola.

"Assalamualaikum." ucap salam Ares, yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Panjang umur anak itu, baru juga ditanyakan ke ayahnya, dia sudah muncul saja.

"Wa'alaikumsalam, kamu dari mana saja, Dek? Baru pulang kerja, kok sudah menghilang?" tanya Nathan kepada adiknya.

"Biasa, Bang, refreshing ke kafenya Bunda. Tuh, Bunda juga baru saja pulang." jawab Ares. Ikut di samping Ayahnya.

"Assalamualaikum."

"Walaikumsalam," ucap mereka bertiga dengan serempak.

Nathan berjalan ke arah bunda Nafisah dan memeluknya dengan erat. Dia sangat sayang banget dengan bundanya. Katanya cinta pertama anak cowok adalah ibunya itu memang benar.

"Kapan pulangnya Sayang?" tanya bundanya sambil membalas pelukan dari putra sulungnya.

"Tadi jam tigaan, mungkin Bun. Sampai di rumah sepi yang ada hanya Ayah saja," jawab Nathan kepada bundanya.

Bunda Nafisah sama Ares pergi ke kamar mereka untuk mandi, karena sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Nathan juga ikut bersiap untuk ikut sholat jamaah.

  *******

Kembali ke keluarganya Luna ya.

Setelah makan malam, Mommy Freya selalu membiasakan mengajak anak-anak bercerita tentang kegiatannya selama sehari. Itu dilakukan sudah dari mulai anak-anak masuk sekolah.

"Bagaimana pekerjaan kamu di Rumah sakit, Sayang?" tanya mommy kepada Luna.

"Ya begitulah Mom! Sangat seru waktu memeriksa pasien anak kecil. Itu hiburan tersendiri buat menghilangkan rasa penat yang seharian berada di Rumah Sakit," jawab Luna dengan tersenyum bahagia.

"Tadi ada mantan pasienku, Mom. Tiba-tiba dia memanggil, Kakak dokter dengan memelukku. Duh senangnya hati ini, Mom. Waktu melihat pasien yang dulu nggak bisa apa-apa disebabkan telat pengobatan dan sekarang sudah bisa tersenyum dan berlari memelukku, Mom," cerita Luna bangga kepada Mommy dan keluarga.

"Terus-terus si Brengsek itu, bagaimana kabarnya, Kak?" tanya Arya sangat kesal dengan pacar Kakak sulung itu.

Luna yang duduk disamping Arya itu menoleh dan tersenyum. "Sudah Kakak hempaskan ke tong sampah, Dek. Terima kasih ya, Dek. Kamu sudah menyelamat masa depan, Kakak," ucap tulus Luna kepada adik laki-laki itu.

Flash back On.

Luna mengajak kekasihnya, untuk dikenalkan kepada kedua adiknya. katanya ingin mengenal siapa kekasih Kakaknya itu.

Akhirnya mereka bertemu di Restoran yang dipesan Yana. Sampainya di sana Arya mengernyitkan dahinya melihat laki-laki yang di samping Kakaknya.

"Maaf! Kami telat ya Dek!" sapa Luna dan kedua adiknya langsung mencium tangan Luna.

"Nggak apa-apa, Kak. Kita juga baru sampai jadi santai saja, Kak ," jawab Yana, sedangkan Arya menatap laki-laki di samping Kak Luna dengan dingin.

"Kenalkan dia namanya Frans, Dek!" seru Luna mengenalkan kekasihnya dan apa reaksinya Arya, ketika mendengarkan Kakaknya menyebutkan nama Frans.

BAB 2 MISI PENYELIDIKAN

SELAMAT MEMBACA !!!

"Kenalkan dia namanya Frans, Dek!" seru Luna mengenalkan kekasihnya dan apa reaksinya Arya, ketika mendengarkan Kakaknya menyebutkan nama Frans.

Arya menatap Frans dengan dingin, sambil tersenyum sinis, kenapa menjadi Frans bukannya nama aslinya Rico.

"Perkenalkan nama saya Yana dan dia Abang saya namanya Arya!" seru Yana memperkenalkan dirinya dan abangnya kepada kekasih Kakaknya itu.

Arya diam saja, tanpa mengucapkan satu kata pun. Dia akan menyelidiki siapa sebenarnya laki-laki yang berada tepat di depannya.

"Maaf ya Frans, adikku yang cowok ini, memang begitu irit berbicara tapi sebenarnya dia baik kok!" seru Luna merasa nggak enak, karena Arya bersikap sangat dingin kepada kekasihnya.

Yana memanggil karyawan Restoran untuk memesankan makanan untuk makan malam mereka.

"Bukankah nama anda Rico Nugraha?" tanya Arya menatap wajah Frans.

Deg jantung Frans berdebar dengan kencang. Dalam hatinya berkata, siapa orang didepannya ini. Kok kenal dirinya.

"Bu... Bukan nama saya Frans hehehe mungkin anda salah orang," jawab Frans dengan terkekeh buat menutupi kegugupannya.

Namun, Arya tetap Arya, ia tidak akan mudah percaya, sebelum menyelidiki sendiri kebenarannya. Ia nggak ingin sampai kakaknya terbuai rayuan gombal gombal seorang buaya kelas kakap.

Mereka berempat menikmati makan malam dalam suasana yang canggung. Luna hanya bisa diam.Ia akan memilih lebih mendengarkan apapun yang hendak disampaikan adiknya. Sebab, ia sangat paham betapa kuatnya pertahanan adiknya dalam melindungi keluarganya.

"Lun! Aku langsung pamit pulang ya. Mama sudah telpon terus dari tadi," ucap Frans kepada Luna, dia juga pamit kepada Arya dan Yana.

"Ya hati-hati, salam buat, Tante ya!" seru Luna ketika kekasihnya itu sudah berjalan meninggalkan mereka bertiga di depan Restoran.

"Aku tidak akan pernah setuju, Kakak pacaran sama buaya darat seperti dia. Aku akan cari tau siapa sebenernya dia, Kak. Bukan, aku tidak memperbolehkan kakak untuk dekat sama laki-laki lain tapi dia harus lolos dari penyelidikanku dulu. Kakak tau kan maksud ucapanku?" tanya Arya kepada kakaknya, dia juga takut kalau ada kesalah pahaman antara dirinya dan kakaknya.

Mendengar pertanyaan itu, Luna tersenyum lalu menganggukan kepalanya tanda mengerti. Dia tidak akan menyalahkan adiknya. lagi pula dia juga belum terlalu cinta dengan Frans. Karena Frans saja yang selalu mendekat dan kasih perhatian- perhatian kecil kepadanya, mungkin karena terharu dengan kegigihannya, ia menerima Frans bukan karena, ia juga jatuh cinta sama cowoknya itu.

"Ayo, kita pulang! Takut Mommy mencari, kita. Jangan ada yang bicara dulu sama Mommy, kalian berdua mengerti!" ujar tegas Arya, karena takut Mommynya kepikiran dan akhirnya jatuh sakit.

Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Arya dan langsung pulang ke rumah. Tiga puluh menit kemudian mobil mereka sampai halaman rumah keluarga.

"Assalamualaikum."

"Walaikumsalam,"

"Kalian, tumben bisa bareng pulangnya?" tanya mommynya. Setelah mereka mencium tangan Mommynya.

"Ya, Mom. Kami sengaja janjian untuk makan malam bersama. Kakak juga ada waktu jadi kita bisa makan malam bareng," jawab Yana dengan tersenyum ke mommy.

Mereka izin untuk langsung ke dalam kamarnya, untuk mandi dan istirahat. Tapi bukan Arya namanya kalau menunda pekerjaannya. Ia ingin langsung menyelidiki siapa Frans sebenarnya.

Arya mewarisi kecerdasan Mommynya di bidang teknologi informasi (IT). Sehingga dengan sangat mudah baginya menelurusi siapa sebenarnya Frans mau pun Rico itu. Ia menyalakan laptopnya dan jari-jari tangannya bergerak lincah menari diatas keyboard laptop itu.

Tanpa menunggu lama tulisan DONE muncul di layar laptopnya. Arya tersenyum sinis, lalu bergumam. "Jadi kamu mau bermain-main dengan keturunan Adhitama, ya?"

Arya lalu menyimpan bukti-bukti kejahatan Frans, yang sering gonta ganti perempuan. Kemudian mematikan laptopnya ingin mandi dan istirahat.

Keesokan paginya keluarga Kavindra sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi sebelum berangkat bekerja. "Mom! Nanti siang, aku minta dikirim makan siang ke Perusahaan ya Mom. Hari ini aku dan Rendy sangat sibuk mengerjakan laporan akhir bulan. Kemungkinan nggak akan sempat pergi untuk makan siang, Mom!" seru Arya menjelaskan kegiatannya kepada mommynya.

"Ya sudah, nanti biar diantar pak sopir kesana, kalian berdua juga mau dikirim makanan atau tidak?" tanya Freya menatap kedua putrinya.

"Aku mau, Mom. Tapi agak dibanyakin lauknya ya, Mom. Mommy kan tau kalau Sindy sering keruanganku," jawab Luna dengan semangat karena masakan mommynya juara nggak ada tandingannya.

Mereka bertiga berpamitan keluar dari rumah setelah pamit dan mencium tangan kedua orang tuanya.

"Kak! Ini bukti yang sudah aku dapatkan dari si Frans brengsek itu. Rupanya dia ingin mempermainkan Kakak karena selalu menolaknya. Dan niatnya kalau Kakak sudah cinta akan langsung diputuskan dan dipermalukannya," ucap Arya dengan tatapan yang sangat dinginnya.

"Oke, terima kasih ya, Dek. Atas kekhawatiran dan perhatian kamu kepada Kakak. Kamu yang terbaik untuk Kakak. Yuk kita berangkat!" ajak Luna kepada kedua adiknya.

Sampainya di rumah sakit Luna langsung menuju ruangannya yang berada dilantai enam rumah sakit milik keluarga besarnya.

"Selamat pagi, dok!" sapa suster yang selalu membantu mengatur pasiennya.

"Selamat pagi, Sus. Ada berapa pasien kunjungan hari ini, Sus?"

"Ada lima pasien, dok. Daftar sudah saya siapkan di meja kerja, lengkap dengan catatan kondisi terakhir mereka," jawab suster itu sambil tersenyum ramah.

"Baik, terima kasih, Sus. Kita mulai dengan pasien yang pertama, Sus. Takutnya tidak keburu dengan jadwal pasien rawat jalan.

Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam lift menuju ke lantai tujuh, ruang rawat pasiennya.

Tok tok tok

Pintu dibuka oleh Suster bernama Lisa.

"Selamat pagi semuanya, bagaimana keadaannya hari ini, Sayang? Masih ada yang sakit tidak?" tanya Luna dengan tersenyum dan lembut.

Pasien bernama Alwi itu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sudah baik-baik saja.

"Alhamdulillah kalau sudah sembuh, kepalanya masih sakit tidak atau perutnya masih ingin muntah?" tanya Luna sambil memeriksa tubuhnya Alwi.

"Sudah nggak pusing lagi, Kakak dokter," jawab Alwi dengan tersenyum.

"Alhamdulillah, Dok. Dari kemarin sore, Alwi sudah mau makan dan katanya perutnya sudah enakan dan tidak mual lagi," jawab ibunya Alwi.

"Alhamdulillah, kalau sudah sembuh. Nunggu nanti sore ya, kalau sudah tidak muntah lagi besok Alwi, boleh pulang tapi ingat jangan makan yang pedas dan jangan jajan sembarangan dulu, ya Sayang. Kalau begitu kami pamit ya, Bu. Selamat pagi ."

"Terima kasih,dok. Terima kasih," jawab Alwi dan ibunya.

Kunjungan lima pasien sudah selesai, kini mereka kembali keruangannya.

Luna mengambil map dari Arya dan membacanya dengan mata melotot dan tidak percaya dengan hasil penyelidikan adiknya. " Kurang ajar, kamu ya. Akan aku kasih pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu ," ucap lirih kesal dengan Frans alias Rico.

BAB 3 TERBONGKARNYA PERSELINGKUHAN

SELAMAT MEMBACA !!!

Setelah membaca semua bukti yang dikasih oleh adiknya, Luna memandang lurus ke luar jendela ruang kerjanya. "Apa ini yang selalu Mommy tekankan untuk nggak berpacaran, kalau ingin punya teman mengobrol dengan mesra lebih baik langsung nikah. Dan pacaran setelah menikah. Maafkan Luna ya, Mom. Aku sudah melanggar pesannya dari Mommy dan ini bentuk teguran dari Allah untuk nggak melanggar apa yang diucapkan, Mommy lagi," gumam lirih Luna.

Dia berjanji pulang kerja nanti, akan ke Apartemannya yang sudah di sertakan adiknya untuk menyelidikinya langsung. Dia juga akan mengajak adik perempuannya ke sana.

"Dok, sudah nggak ada pasiennya," ucap suster Ririn.

"Baik, terima kasih Rin. Kamu juga sudah selesai, nanti ke sini makan siang bareng ya, Rin. Rencananya Mommy mau kirim makan siang, mungkin sebentar lagi da..."

Belum selesai berbicara ada ketukan pintu dari luar, Ririn langsung membuka pintu dan ternyata pak Satpam.

"Dokter Luna, ini ada kiriman makanan yang diantar Pak Sopir," ucap satpam itu sambil menaruh rantang makanan ke atas meja.

"Terima kasih, Pak," ucap Luna dengan tulus. Pak satpam langsung pamit undur diri kembali ke pos satpam.

Masuklah Sindy dan dibelakangnya ada Abang sepupunya. Luna mengernyitkan dahinya tumben mereka bisa bareng kesini.

Sindy yang ditatap begitu tajam oleh sahabatnya, menjadi semakin canggung.

"Nggak segitunya kali, Dek. Menatap Sindynya!" seru Axel ingin membantu Sindy, supaya nggak canggung dengan Luna.

"Kalian, harus cerita ke aku ya. Awas kalau tidak cerita, tapi nanti sajalah. Aku mau ke apartemannya si Frans itu, Bang. Ternyata dia itu hanya penasaran dan dendam denganku. Karena aku sering menolaknya, Bang. Dan Dek Arya sudah menyelidikinya ternyata dia sering gonta-ganti cewek," Luna bercerita kepada abang sepupu dan sahabat dan Ririn juga sudah dianggap sahabatnya.

"Kapan mau ke sana, Lun? Aku mau ikut ?" tanya Sindy kepada sahabatnya..

"Setelah makan siang ini, Sin. Aku sudah janjian sama Dek Yana. Kalau ke sananya sore, pasti dia sudah tau jam pulang kerjaku. Pasti dia akan ke sini dan kasih perhatian. Nggak taunya dia itu brengsek orangnya!" seru Luna dengan nada kesalnya.

"Ya sudah, kalian berdua aku izinin pulang cepat. Ririn apa juga mau ikut sekalian? Kalau iya untuk praktek sore ini, biar diambil alih dokter Anton?" tanya Axel kepada suster sahabat sepupunya.

"Kalau begitu saya harus ikut, Tuan. Enak saja itu orang, kalau ke sini saja sikapnya manis dan perhatian. Ternyata hanya modus saja untuk mendekati Luna, aku mau merekam kejadian hari ini dan tentu saja aku mau siaran langsung. Biar seluruh dunia tau siapa si Frans atau siapa tadi namanya, Lun..?"

"Rico Nugraha."

Akhirnya mereka bertiga jalan menuju ke Butik Kembar menjemput Yana dulu. Lalu akan menuju ke Apartemen yang agak jauh dari Ibu kota.

Mereka naik lift untuk turun dan menuju ke area parkir khusus karyawan rumah sakit. "Kalian sudah siap?" tanya kepada dua sahabatnya.

Ternyata sampainya di depan Butik, Yana sudah menungu di sana.

Tin tin

Yana berjalan menuju ke mobil milik Kakak perempuannya dan kaget waktu mau masuk ke dalam mobilnya.

"Lho Mba Sindy dan Mbak Ririn juga mau ikut ke Apartemannya si brengsek Frans itu?" tanya Yana.

"Iya dong, aku juga ikut kesal, Dek Yana. Kalau lihat setiap hari datang dan nggak pernah lupa kasih hadiah. Eh ternyata dia ingin menutupi kebusukannya di balik kata perhatian. Cih...cih mokondo kayak gitu, harus kita kasih pelajaran, Dek," jawab Ririn dengan menggebu ingin kasih pelajaran sama kekasih sahabatnya.

Sampainya di bawah Apartemannya, mereka berempat izin berkunjung kepada satpam. Mereka masuk ke dalam lift dan Yana memencet angka dua belas. Nomer kamarnya dua belas sebelas.

"Kalian sudah siap, aku ingin memasukan sandi, yang sudah didapatkan Arya untuk masuk ke dalam Apartemannya?" tanya Luna.

"Siap!" seru mereka bertiga sudah siap dengan kamera hapenya. Yana untuk merekam, Sindy memfoto dan Ririn membuka siaran langsungnya di sosial media.

Luna memasukan enam angka dan " klik" bunyi pintu terbuka kuncinya. Luna mendorongnya pelan-pelan. Frans nggak ada di luar tapi mereka berempat bisa mendengar, kalau di salah satu kamar yang terbuka sedikit ada suara orang yang lagi mengobrol.

"Pelan-pelan dulu, Lun," bisik Ririn ke telinganya Luna.

"Bagaimana misimu, mendekati si bodoh Luna itu Sayang?" tanya wanita itu.

Deg jantung Luna dan Sindy berdebar dan saling pandang, dia mengenali suara wanita itu.

"Dia sudah mulai kena rayuan gombalku, Ah terus sayang ..."

Brak...

Pintu kamar terbuka dengan kasar membuat dua orang yang telanjang tanpa menggunakan satu helai baju pun kaget, mereka berdua sedang melakukan hubungan layaknya suami istri mencari selimut.

"Oh begini ya, ternyata Rico Nugraha. Dasar manusia nggak ada otaknya, lihat pemirsa kita baru saja menonton live dua orang yang sedang berolahraga tanpa pakaian satu helai pun. Lihat dengan jelas ya, wajah mokondonya itu, siapa tau dia kekasih dari salah satu para penonton yang melihat live ini."

"HEI!! JANGAN KURANG AJAR YA KAMU, RIN. KAMU BISA AKU TUNTUT YA !!" teriak Frans alias Rico.

Ada dua orang yang masuk ke dalam kamar itu dan membuat Frans melototkan matanya melihat siapa yang datang. Dia adalah Tante Febi yang membiayai semua pengelurannya Frans.

Plak plak dua tamparan dengan keras di kedua pipi milik Frans.

Frans langsung memegang pipinya yang kebas karena tamparan dari Tante Febi. Dan Tante Febi langsung menjambak rambut si perempuannya.

"Sakit, Sakit, tolong lepaskan. Sakit, sakit !" jerit wanita itu kesakitan.

Sedangkan Luna hanya melipat kedua tangannya di depan dadanya. Menatap Frans dengan pandangan yang sulit untuk di tebak.

"Oh kelakuanmu selama ini ya Frans. Kamu hanya menjadikan aku mesin atm berjalan, kamu ya. Mulai sekarang aku haramkan kamu tinggal di sini dan bawalah perempuan itu sekalian. Aparteman ini milik aku dan akan aku ambil alih lagi. Mending aku jual daripada dibuat mesum dengan orang lain."

"Dari gembel ya kembali ke gembel, Sana... sana pergi dari Apartemanku!! Enak benar sudah aku kuliahkan, aku biayain hidupnya ternyata hanya mau memanfaatkanku. Jangan sampai aku laporkan ke polisi kalian," perintah Tante itu mengusir Frans sama ceweknya.

Mereka dibiarkan hanya memakai selimut untuk berdua. Mereka keluar dari dalam Aparteman dengan perasaan marah dan kesal sama mereka.

"Apa nggak terima, HAH!?" tanya Luna yang dari diam.

" Dasar sampah ya sampah pantasnya harus dibuang ke tong sampah, bukan di tempat untuk menaruh berlian!" seru Luna dengan nada rendah tapi menusuk ke dalam telinganya Frans.

Flash back Off.

Luna mengakhiri ceritanya kepada keluarganya.

"Maafkan Luna ya, Mom. Telah melanggar apa yang Mommy selalu ingatkan selalu Mommy tegaskan. Mulai sekarang aku nggak mau pacaran lagi," ucap Luna menoleh ke arah Mommy dengan matanya yang sudah memerah menahan tangisannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!