Indonesia
NovelToon NovelToon

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Aroma Logam dan Penyesalan

*"Jangan pernah bermimpi tentang surga, Marie. Karena di tempat ini, neraka adalah satu-satunya tempat yang mau menerima keberadaanmu."*

Suara itu berat, serak, dan berbau sisa tembakau yang terbakar perlahan. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas, hanya bayangan pria yang berdiri di ambang pintu kayu tua yang berderit. Cahaya lampu neon berwarna hijau mint dari luar jendela menembus celah-celah kamar yang sempit, membiaskan cahaya di atas lantai yang basah oleh sisa hujan Oakhaven.

Aku terengah-engah, dadaku terasa sesak. Rasa sakit ini asing—bukan sakit karena peluru di dunia lamaku, melainkan rasa sakit dari tubuh yang terabaikan, tubuh yang terlalu sering dipaksa menelan air mata. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa terlalu cepat. Di ingatanku, aku masih ingat laboratorium bawah tanah, rasa cairan metalik dari racun eksperimental yang merenggut nyawaku, dan gelapnya pengkhianatan. Tapi sekarang? Tubuh ini terasa lebih kecil, lebih rapuh.

*"Siapa kau?"* suaraku parau, seperti gesekan kertas kasar.

Pria itu melangkah maju. Sepatu botnya yang mengilap menghantam lantai kayu dengan suara yang penuh otoritas. Dia adalah Julius Vance. Dia bukan sekadar pria dengan setelan jas hitam yang rapi; dia adalah predator yang menyatu dengan bayangan kota ini. Matanya—sepasang iris tajam yang tampak seperti obsidian—menatapku dengan nada merendahkan yang kental.

*"Pamanmu,"* jawabnya singkat, suaranya dingin, seolah kata itu hanyalah label kosong. *"Atau mungkin, seseorang yang baru saja membeli masa depanmu dari para mucikari di distrik bawah yang bangkrut itu. Kau terlihat jauh lebih menyedihkan daripada yang aku bayangkan, Marie."*

Aku tertawa sinis, meski tenggorokanku terasa terbakar. *"Jadi, aku berpindah dari satu neraka ke neraka yang lebih elit? Apa yang kau inginkan dari gadis yang bahkan tidak punya harga diri lagi ini, Julius?"*

Julius berhenti tepat di depanku. Aroma parfum kayu cendana bercampur bau *Nectar* yang pekat menguar dari tubuhnya. Dia tidak menyentuhku, tapi kehadirannya begitu menekan. Dia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

*"Aku tidak membutuhkan tubuhmu untuk kesenangan rendahan,"* bisiknya, tangannya yang terawat sempurna menyentuh daguku, memaksa wajahku mendongak. *"Aku membutuhkan garis keturunanmu. Ayahmu adalah alkimia yang gila, Marie. Dan kau... kau adalah satu-satunya wadah yang tersisa dari rahasia yang bisa memurnikan pasokan Nectar di klubku."*

Aku menatapnya tajam. Di dunia lamaku, aku adalah intel terbaik yang bisa melacak target di tengah badai salju. Meski tubuh ini lemah, instingku masih utuh. Dia ingin memanfaatkanku untuk kepentingan bisnisnya.

*"Dan jika aku menolak?"* tanyaku, memberanikan diri.

*"Maka kau akan kembali ke selokan,"* jawabnya tenang. *"Kau akan membusuk di sana, di bawah pengaruh Nectar palsu yang akan membuat jiwamu membusuk dalam hitungan hari. Atau... kau bisa menandatangani kontrak darah ini, menjadi istri di atas kertas—hanya untuk urusan bisnis keluarga—dan aku akan memberimu semua kekuatan yang kau butuhkan untuk membalas dendam pada siapa pun yang membuat hidupmu, Marie Vance berakhir seperti pecundang."*

Kata-kata 'balas dendam' itu bergetar di udara. Dia mengira dia tahu alasan Marie asli sangat membenci keluarganya, padahal itu adalah kebencian yang kini kupinjam sebagai bahan bakar.

*"Pernikahan?"* tanyaku, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. *"Kau menggunakan hukum kuno Vance untuk menjeratku? Ini bukan pernikahan, Julius. Ini adalah perbudakan yang dibungkus dengan gaun pengantin."*

*"Pilihan yang menarik,"* Julius terkekeh, suara tawanya tidak mencapai matanya. *"Tapi di Oakhaven, kebebasan adalah kemewahan. Aku menawarkanmu kendali atas musuh-musuhmu. Sebagai gantinya, kau memberikan kesetiaanmu padaku. Secara hukum, secara darah, dan secara mutlak."*

Aku menatap kontrak itu. Segel lilin hitam berbentuk cawan terbalik. Kontrak darah. Sesuatu yang akan mengikat nyawaku dengannya.

*"Jika aku menandatangani ini,"* aku menatapnya tepat di mata, *"aku tidak akan menjadi istri yang patuh di ranjangmu, Julius. Aku akan menjadi bayangan yang akan memastikan semua musuhmu habis tak bersisa. Apakah kau cukup berani untuk memelihara harimau di rumahmu sendiri?"*

Julius tersenyum tipis. Dia menarik tangan dari daguku, lalu menyodorkan pena dari tulang hewan.

*"Harimau adalah peliharaan yang sangat menarik,"* sahutnya pelan. *"Tapi ingat satu hal, Marie. Di The Black Cup, aku adalah tuannya. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti keponakan yang butuh kasih sayang."*

Aku meraih pena itu. Jarum di ujungnya terasa tajam. Aku menekan ujung pena ke ibu jariku. Darah merah segar keluar, menetes ke atas kontrak. Sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhku—sihir hitam yang terkandung di dalam kontrak itu seolah menyatu dengan aliran darahku.

*"Selamat datang di keluarga, istriku,"* bisik Julius tepat di telingaku saat aku hampir ambruk karena efek ikatan sihir tersebut.

Tiba-tiba, pintu kamar didobrak dengan keras. Suara ledakan magis menggetarkan ruangan, dan asap tebal berwarna ungu memenuhi udara. Beberapa pria bersenjata—dengan lencana keluarga rival—masuk dengan senjata api yang dimodifikasi sihir.

Julius bahkan tidak bergeming. Dia hanya melirik ke arah pintu tanpa sedikit pun rasa takut.

*"Sepertinya, bulan madu kita harus dimulai dengan pertumpahan darah, Marie,"* katanya, sementara tangan kanannya mengeluarkan aura gelap yang membentuk bilah pedang. *"Tunjukkan padaku, apakah kau memang seberani mulutmu, atau hanya gadis bangsawan yang beruntung selamat dari maut."*

Aku menyambar belati kecil di bawah bantal—sisa pertahanan Marie—dan berdiri tegak. Meski tubuh ini lemah, tekadku sudah membatu. Ini adalah permulaan. Dendam ini baru saja dimulai.

Namun, saat aku melangkah maju, kakiku terasa goyah. Bukan karena ketakutan, tapi karena sesuatu yang berasal dari dalam tubuh Marie yang tiba-tiba berteriak kesakitan akibat kontrak darah yang baru saja aktif.

Julius menatapku dengan seringai tajam, mengira aku hanya kelelahan karena gizi buruk. *"Oh, aku lupa memberitahumu. Darah Vance yang terikat kontrak ini memiliki efek samping kecil saat ikatan sihir pertama kali aktif... kau akan merasakan sedikit rasa sakit."*

Pria di depanku itu baru saja memulai permainan yang lebih kotor dari yang kubayangkan. Aku mengerang saat rasa dingin menjalar ke sarafku. Aku jatuh ke satu lutut, menatap musuh yang mendekat, sementara Julius hanya berdiri di sana, menunggu—menunggu untuk melihat apakah aku akan bangkit kembali.

*"Bangun, Marie,"* perintah Julius dengan nada dingin yang menusuk tulang. *"Atau kau akan mati sebelum kau sempat membalas dendam pada satu orang pun."*

Aku menatap darahku sendiri yang kini mulai berpendar kebiruan di lantai—reaksi Nectar dalam tubuhku yang dipicu oleh sihir Julius. Aku tidak akan mati di sini. Tidak lagi. Aku menggertakkan gigi, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di tulang belakangku, dan perlahan-lahan, aku memaksakan diri untuk berdiri.

Salah satu dari musuh mengarahkan senjata magisnya langsung ke arah dadaku. Cahaya hijau neon mulai terkumpul, siap meledak.

*Aku tidak akan membiarkan tubuh ini hancur sebelum aku membalaskan dendamnya,* pikirku saat cahaya itu semakin terang...

Tarian di Atas Beling

*"Jika kau ingin bertahan hidup di rumah ini, belajarlah untuk tidak menatap mataku dengan keberanian yang sia-sia, Marie. Karena di kota ini, keberanian hanyalah nama lain dari bunuh diri."*

Suara Julius membelah keheningan ruangan yang baru saja kacau oleh ledakan magis. Suaranya tidak berteriak, namun memiliki resonansi yang mampu membuat detak jantungku berpacu di luar kendali. Aku masih berlutut, menahan rasa sakit yang menghunjam tulang belakangku akibat ikatan kontrak darah yang dipaksakan. Di depanku, cahaya hijau neon dari senjata musuh masih berdenyut, mengancam akan menghancurkan tubuh rapuh yang baru saja kudiami ini.

Aku tidak menjawab. Aku tidak punya energi untuk berdebat. Otakku—yang terbiasa dengan taktik perang, *casing* intelijen, dan analisis medan—segera bekerja. Aku melihat sudut ruangan, posisi jendela yang pecah, genangan air hujan yang memantulkan lampu neon, dan posisi Julius yang berdiri dengan angkuh. Dia tidak menyerang mereka secara langsung; dia membiarkan mereka menyerangku untuk melihat apakah Marie yang "baru" ini memiliki nilai guna atau hanya sampah yang harus dibuang ke saluran air.

*Dia ingin melihatku berdarah,* pikirku dingin.

Salah satu penyerang, pria berbadan besar dengan bekas luka bakar magis di separuh wajahnya, tertawa parau. *"Putri bangsawan yang jatuh miskin akhirnya menemukan pelindungnya? Sayang sekali, Julius. Kami tidak datang untuk bernegosiasi. Kami datang untuk memastikan garis keturunan terakhir Vance lenyap malam ini."*

Pria itu menekan pelatuk senjata magisnya. *Wush!* Proyektil energi berwarna hijau mint melesat membelah udara, mengarah tepat ke arah dadaku.

Dalam sepersekian detik, aku tidak memilih untuk menghindar. Itu adalah reaksi yang akan dilakukan oleh Marie yang lama. Sebaliknya, aku memutar tubuhku ke samping dengan teknik *roll* militer, membiarkan energi itu menghantam lantai tepat di tempatku berada sebelumnya. *BOOM!* Lantai kayu hancur berkeping-keping, kayu tajam berhamburan menjadi beling yang mematikan.

Aku tidak membuang waktu. Aku memanfaatkan debu dan serpihan kayu yang beterbangan untuk menutup pandangan mereka. Dengan kelincahan yang mengejutkan, aku melompat, menyambar sepotong kayu yang runcing dari lantai, dan dalam gerakan yang begitu cepat hingga tak terlihat oleh mata orang awam, aku menancapkannya ke celah di antara pelindung leher pria yang menyerangku tadi.

Dia tidak sempat menjerit. Dia jatuh tersungkur, darah hitam keluar dari lehernya—efek samping dari *Nectar* yang sudah terkontaminasi dalam sistem tubuhnya.

Julius, yang sejak tadi berdiri diam dengan segelas *Nectar* di tangan kirinya, mengangkat alisnya sedikit. Itu adalah respons kecil, namun aku melihat kilatan ketertarikan yang ganjil di balik matanya yang gelap.

*"Gerakan yang menarik,"* gumam Julius, nadanya datar. *"Dari mana seorang putri bangsawan yang hanya menghabiskan waktu dengan merajut di ruang tamu belajar teknik membunuh seperti itu? Atau apakah kemiskinan benar-benar mengubah manusia menjadi binatang buas?"*

Aku berdiri, napasku memburu, namun tatapanku tetap setajam pisau bedah. *"Kemiskinan hanya membuang apa yang tidak perlu, Julius. Dan ketakutan adalah guru yang jauh lebih baik daripada buku etika bangsawan."*

Dua penyerang lainnya tampak ragu. Mereka melihat rekan mereka tewas dengan cara yang begitu efisien. Julius melangkah maju, bayangannya menutupi seluruh ruangan. Dia tidak menggunakan senjata. Dia hanya menggerakkan jemarinya, dan udara di sekitar ruangan tiba-tiba menjadi dingin membeku. Bayang-bayang di sudut ruangan seolah hidup, melilit kaki para penyerang itu dan menarik mereka hingga tersungkur ke lantai dengan kekuatan yang tak terlihat.

*"Cukup untuk malam ini,"* suara Julius menggema, dingin dan absolut. *"Kalian semua adalah tamu tak diundang di properti milik keluarga Vance. Dan di sini, tamu yang tidak tahu aturan akan berakhir menjadi pupuk untuk kebun bunga hitamku."*

Dengan satu gerakan tangan yang elegan namun mematikan, Julius membuat bayang-bayang itu meremas leher musuh-musuhku. Suara retakan tulang terdengar nyaring, memecah kebisingan hujan di luar. Hanya dalam hitungan detik, ruangan itu berubah menjadi kuburan yang hening, diselimuti aroma logam darah yang kental.

Julius berjalan ke arahku. Dia melewati mayat-mayat itu seolah mereka hanya sampah yang berserakan di jalan. Dia berhenti tepat di depanku, aroma cendana dan *Nectar* yang pekat kembali memenuhi ruang lingkupku. Dia menunduk, menatap wajahku yang kini berlumuran debu dan sedikit bercak darah.

*"Kau memiliki nyali, Marie,"* bisiknya, tangannya yang dingin menyapu anak rambut dari dahiku. *"Tapi jangan berpikir kau telah memenangkan apapun. Kau hanya bertahan hidup untuk satu malam. Besok, realitas akan menghantammu jauh lebih keras daripada peluru magis tadi."*

*"Apa yang kau inginkan dariku, Julius?"* aku bertanya, memaksakan suaraku untuk tetap stabil meski tubuhku mulai menyerah pada kelelahan yang luar biasa. *"Kau bisa membunuh mereka sendiri sejak awal. Kenapa harus aku?"*

Julius tersenyum—senyum yang tidak menyentuh matanya, senyum yang menunjukkan bahwa aku hanyalah pion dalam permainannya yang lebih besar. *"Karena aku perlu tahu apakah kau layak untuk menanggung nama Vance. Dan ternyata... kau lebih dari sekadar layak. Kau adalah investasi yang sangat menjanjikan."*

Dia membalikkan tubuh, hendak berjalan keluar dari kamar yang hancur itu. *"Bersihkan dirimu. Besok pagi, kita akan pergi ke Black Cup. Aku punya klien yang perlu ditemui, dan aku ingin kau berdiri di sampingku sebagai 'istriku' yang baru. Jika kau melakukan satu kesalahan saja yang mempermalukan namaku, aku tidak akan membiarkan musuh yang membunuhmu. Aku sendiri yang akan memastikannya."*

Aku terdiam, menatap punggungnya yang tegap. Dia pergi tanpa menoleh lagi. Aku ditinggalkan sendirian di tengah ruangan yang hancur, dikelilingi oleh mayat-mayat yang masih hangat. Ini adalah dunia yang berbeda. Dunia di mana sihir adalah hukum, dan nyawa manusia bisa diperjualbelikan seperti komoditas.

Aku terduduk di lantai yang berserakan beling. Rasa sakit di tubuh ini masih terasa, namun sesuatu di dalam diriku mulai beradaptasi. Jiwaku—jiwa seorang intel yang terbiasa dengan misi penyamaran—mulai memahami peran yang harus dimainkan. Jika Julius ingin aku menjadi istrinya untuk urusan bisnis, maka aku akan menjadi istri yang akan membongkar setiap rahasia busuk yang dia simpan di balik cawan hitamnya.

Namun, saat aku mencoba memejamkan mata untuk beristirahat, aku merasakan kehadiran seseorang di balik pintu yang terbuka perlahan. Seseorang yang tidak mengeluarkan suara, namun memiliki aura yang begitu dingin hingga membuat bulu kudukku meremang.

*"Jadi, kau yang baru saja menggantikan posisiku Marie?"* sebuah suara wanita yang halus namun tajam terdengar dari balik bayang-bayang pintu.

Aku segera meraih kembali belati yang tergeletak di lantai, memutar tubuhku dengan sigap. Di depan pintu, berdiri seorang wanita dengan gaun sutra berwarna merah darah, wajahnya tertutup cadar tipis, namun matanya—mata yang memancarkan kebencian yang mendalam—menatapku seolah dia ingin menguliti kulitku hidup-hidup.

*"Siapa kau?"* tanyaku, merasakan detak jantungku kembali berpacu.

*"Aku adalah seseorang yang tidak akan membiarkan wanita rendahan sepertimu memegang kekuasaan di samping Julius,"* jawab wanita itu, tangannya perlahan membentuk bola api hitam yang mulai membakar udara di sekitarnya. *"Marie kau hanyalah pecundang, yang tidak tau tempat dan dia posisinya. dan Kau? Kau hanyalah barang rusak yang akan segera kubakar hingga menjadi abu."*

Wanita itu melangkah masuk, dan kali ini, aku sadar bahwa kekuatannya jauh lebih besar daripada para penyerang tadi. Ini bukan sekadar preman mafia. Dia memiliki aurah yang terlatih, aura seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi.

Dia mengayunkan tangannya, dan kobaran api hitam melesat ke arahku dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Aku menghindar, namun api itu membakar pinggiran gaunku, dan panasnya membakar kulitku hingga terasa perih.

*"Kau tidak tahu siapa aku, bukan?"* wanita itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng kematian. *"Nama ini akan menjadi nama terakhir yang kau dengar sebelum kau dikirim ke neraka yang sebenarnya. Namaku Elara, dan aku adalah tunangan resmi yang telah disiapkan keluarga Vance untuk Julius, jauh sebelum kau muncul dengan kontrak darah murahanmu itu."*

Elara mengarahkan jarinya ke arahku, dan kali ini, api hitam itu membentuk cambuk yang memanjang, siap untuk menyabet tubuhku. Aku tersudut. Tidak ada jalan keluar dari ruangan ini, dan cadangan tenagaku hampir habis karena kontrak darah yang masih menyiksa tubuh ini.

*Aku tidak boleh mati di sini,* tekadku. *Aku baru saja mulai.*

Namun, saat cambuk api itu melesat ke arah leherku, sebuah tangan yang kuat tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang, menangkap cambuk itu dengan tangan kosong. Api hitam itu padam seketika, terhisap oleh energi gelap yang jauh lebih dominan.

Julius berdiri di sana, menatap Elara dengan tatapan yang bisa membekukan darah. *"Apa yang kau lakukan di sini, Elara? Aku tidak ingat memberikan izin kepadamu untuk menginjakkan kaki di propertiku."*

Elara mundur selangkah, wajahnya memucat di balik cadar. *"Julius... aku hanya ingin membereskan sampah ini sebelum dia mempermalukan namamu di ballroom besok malam!"*

Julius mendekati Elara, auranya begitu menekan hingga aku merasa sulit bernapas. Dia mencengkeram dagu Elara, memaksanya menatap matanya. *"Marie adalah milikku sekarang. Bukan karena aku mencintainya, tapi karena dia adalah aset yang aku beli dengan darah. Jika kau berani menyentuh satu helai rambutnya lagi..."*

Julius berhenti sejenak, lalu menatapku dengan seringai tipis yang mengerikan. *"Maka aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat cahaya matahari lagi, bahkan di dunia sihir sekalipun."*

Elara gemetar, lalu dengan satu gerakan, dia menghilang dalam kepulan asap hitam. Julius kemudian berbalik ke arahku, tatapannya kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

*"Sepertinya, Marie,"* katanya dengan suara rendah, *"hidupmu akan jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Tapi ingat, setiap musuh yang datang kepadamu hanya akan membuktikan satu hal: betapa berharganya kau sebagai pion di tanganku."*

Dia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan kasar, dia mengangkat daguku. *"Besok malam, kita akan pergi ke pesta dansa keluarga besar Vance. Jika kau ingin membalas dendam pada siapa pun yang membuatmu menderita di masa lalu, maka pesta itu adalah tempatnya. Semua musuhmu akan berada di sana. Apakah kau cukup berani untuk berdiri di sampingku, atau kau akan gemetar ketakutan seperti gadis kecil yang malang?"*

Aku menatapnya, menekan rasa takut dan rasa sakit yang masih merayap di tubuhku. *"Aku akan datang. Dan aku akan pastikan setiap orang yang bertanggung jawab atas kemalanganku lakan menyesal karena pernah terlahir di dunia ini."*

Julius tertawa kecil, lalu berbisik tepat di telingaku, *"Aku menantikan pertunjukanmu, istriku."*

Namun, saat dia hendak berbalik pergi, sebuah suara bisikan gaib tiba-tiba terdengar di kepalaku—bukan suara manusia, melainkan suara yang berasal dari dalam kontrak darah itu sendiri. Suara itu begitu berat, seolah berasal dari lubuk neraka, dan kata-katanya membuat seluruh tubuhku membeku.

*"...Darahnya... hanyalah... awal... jiwamu... bukanlah... milik... dunia... ini..."*

Aku terbelalak. Bagaimana mungkin kontrak darah itu bisa mengetahui tentang jiwaku? Apakah Julius mendengar suara itu juga? Aku melirik ke arahnya, namun dia tetap tenang, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Apakah kontrak ini memiliki kesadaran sendiri? Dan apa yang akan terjadi jika rahasia tentang jiwaku yang sebenarnya terbongkar?

*Jika ini adalah permainan,* pikirku dengan ketakutan yang mulai menyelimuti, *maka aku sudah melangkah terlalu jauh ke dalam jebakan yang tak terlihat.*

Tiba-tiba, lampu-lampu neon di ruangan itu mulai berkedip dengan liar, dan udara di sekitarku terasa semakin berat, seolah ada sesuatu yang mencoba merobek ruang dan waktu untuk mengambil jiwaku kembali.

Bau Amis dan Kebohongan

*"Jika kau ingin bertahan di puncak Oakhaven, Marie, kau harus belajar bahwa kebenaran hanyalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Sama seperti Nectar, kebenaran yang murni hanya akan membunuhmu. Jadi, belajarlah untuk berbohong dengan elegan."*

Julius melangkah menjauh, meninggalkan jejak sepatu botnya yang masih bersih meski baru saja melintasi genangan darah. Aku berdiri terpaku di tengah kehancuran kamar itu, napasku memburu. Kata-katanya bukan sekadar peringatan; itu adalah pengakuan bahwa di dunia ini, kejujuran adalah kelemahan yang fatal.

Aku menatap tanganku sendiri yang gemetar. Sensasi bisikan dari kontrak darah tadi masih terasa seperti sisa sengatan listrik di otakku. *Jiwamu bukan milik dunia ini.* Kalimat itu menghantui. Aku harus memastikan bahwa tidak ada satu pun orang di Oakhaven yang menyadari siapa aku sebenarnya. Aku bukan Marie Vance yang lemah. Aku adalah senjata yang sedang disamarkan.

Malam itu, aku tidak tidur. Sisa waktu kugunakan untuk memeriksa ingatan Marie yang tertinggal di otak ini. Aku harus mengenali wajah-wajah para bangsawan yang membuangnya, mempelajari peta distrik Oakhaven, dan memahami silsilah keluarga Vance yang rumit. Julius adalah sepupu ayah Marie, yang berarti dia adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas untuk memanggilku "keluarga". Namun, bagi Julius, aku hanyalah pion yang ia selamatkan dari rumah bordil untuk tujuan yang jauh lebih ambisius.

Pagi harinya, Oakhaven tidak menyambutku dengan sinar matahari, melainkan dengan kabut tebal yang berbau sulfur dan uap air. Julius muncul di depan pintuku tepat saat jam lonceng di alun-alun kota berdentang tujuh kali. Dia mengenakan jubah beludru hitam dengan bordir perak yang tampak mencekam. Di belakangnya, dua pelayan dengan mata yang tertutup kain hitam membawakan gaun sutra berwarna biru safir—warna yang melambangkan status bangsawan Vance yang sebenarnya.

*"Pakai ini,"* perintahnya tanpa menoleh. *"Pesta dansa malam ini adalah tempat di mana kita akan mengumumkan kembalinya Marie Vance ke lingkaran sosial. Jika kau tampak seperti wanita penghibur yang baru saja aku kutip dari selokan, aku akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari kamar itu lagi."*

Aku mengambil gaun itu. Bahannya terasa dingin di kulitku, kontras dengan bekas luka dan memar yang menutupi tubuh Marie. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar. Julius menatapku sejenak, alisnya terangkat—mungkin heran karena aku tidak gemetar atau memohon belas kasihan seperti yang diharapkan dari Marie yang asli.

*"Kenapa kau diam saja?"* tanyanya, suaranya sedikit meninggi dengan nada yang menuntut.

*"Aku sedang berpikir, Julius,"* jawabku tenang, sambil mulai membuka kancing bajuku yang lusuh dengan tangan yang stabil. *"Jika aku harus menjadi istrimu untuk urusan bisnis, maka aku perlu tahu apa yang kau harapkan dari pesta itu. Apakah aku harus menjadi pajangan cantik yang bisu, atau seseorang yang harus mengumpulkan informasi tentang siapa yang berkhianat pada Syndicate Black Cup?"*

Julius terdiam. Aku melihat keterkejutan sesaat di matanya. Dia mungkin mengharapkan gadis yang ketakutan, bukan seseorang yang bertanya tentang strategi intelijen. Dia menyeringai, sebuah seringai yang sangat tipis dan berbahaya.

*"Kau lebih cerdas dari yang terlihat, Marie. Itu menarik,"* sahutnya pelan. *"Di pesta itu, cari pria bernama Lord Valerius. Dia adalah pemasok Nectar yang selama ini bermain di belakang punggungku. Cari tahu di mana dia menyimpan dokumen pengiriman ilegalnya. Jika kau berhasil, aku akan memberimu satu akses ke perpustakaan rahasia Vance. Di sana, kau akan menemukan semua jawaban tentang mengapa ayahmu dibuang dan siapa yang sebenarnya membunuhnya."*

Jantungku berdegup kencang. *Ayah.* Itu adalah kunci untuk dendamku. Jika aku bisa mendapatkan akses ke perpustakaan itu, aku bisa mengungkap siapa yang menjebak ayah Marie.

*"Aku akan melakukannya,"* jawabku mantap.

Malam pun tiba. Oakhaven berubah menjadi kota cahaya neon yang memabukkan. *Grand Ballroom* milik keluarga Vance di puncak bukit Oakhaven adalah perpaduan antara kemewahan aristokrat dan kekejaman mafia. Lantai marmer yang berkilau, lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya ungu, dan aroma Nectar yang dicampur dengan wine mahal memenuhi udara.

Aku berjalan masuk dengan lengan yang tersampir di lengan Julius. Gaun biru safir itu membalut tubuhku dengan sempurna, namun aku merasa seperti sedang mengenakan seragam perang. Di sekitar kami, orang-orang berpakaian mewah dengan topeng-topeng perak yang menutupi wajah mereka—sebuah tradisi bagi mereka yang ingin melakukan transaksi rahasia tanpa harus teridentifikasi secara publik.

*"Ingat, Marie,"* bisik Julius tepat di telingaku, tangannya yang dingin meremas pinggangku dengan posesif. *"Di sini, setiap senyuman adalah tipu daya, dan setiap sapaan bisa menjadi ancaman kematian. Jangan pernah lepaskan sarung tanganmu; di dalamnya ada belati perak yang telah aku siapkan. Jika keadaan memburuk, gunakan itu."*

Aku mengangguk kecil. Aku mulai memindai ruangan. *Intel 101: Identifikasi pintu keluar, posisi pengawal, dan titik buta kamera pengawas magis.*

Tiba-tiba, mata kami tertuju pada seorang pria dengan topeng emas yang berdiri di balkon. Lord Valerius. Dia tampak sedang tertawa dengan seorang wanita yang sangat familiar—wanita yang beberapa jam lalu mencoba membakarku hidup-hidup. Elara.

*"Itu dia,"* gumam Julius.

*"Biarkan aku yang menanganinya,"* kataku, melepaskan lenganku dari Julius.

*"Kau yakin?"*

*"Aku adalah istrimu, bukan? Dan seorang istri harus tahu bagaimana caranya merayu musuh suaminya,"* jawabku sinis.

Aku berjalan menjauh dari Julius, melangkah masuk ke dalam kerumunan. Hatiku berdegup kencang, bukan karena gugup, tapi karena adrenalin. Ini adalah misi pertama. Aku mendekati bar minuman, memesan segelas Nectar murni yang diencerkan, dan mulai memutar gelas itu, memperhatikan gerak-gerik Lord Valerius dari pantulan kaca kristal.

Saat Valerius berpisah dari Elara, aku mengambil langkah. Aku sengaja menabrakkan bahuku ke bahunya dengan gaya yang anggun.

*"Maafkan saya, Lord Valerius. Saya tidak menyangka ada pria setampan Anda yang berdiri di tempat sesepi ini,"* kataku dengan nada menggoda yang paling natural.

Valerius berbalik, matanya yang rakus memindai tubuhku. Dia tidak mengenali siapa aku di balik topeng ini. *"Sepertinya aku belum pernah melihatmu di lingkaran Vance, Nona cantik. Siapa namamu?"*

*"Marie,"* jawabku, membuat suaraku terdengar lembut. *"Marie Vance. Keponakan sepupu Julius."*

Wajah Valerius berubah pucat seketika saat mendengar nama itu. Dia mencoba mundur, namun aku menahan lengannya dengan lembut.

*"Mengapa terburu-buru, Lord? Saya dengar Anda memiliki urusan yang sangat... memikat... dengan pasokan Nectar dari gudang utara,"* bisikku, memastikan tidak ada seorang pun di dekat kami.

Valerius menyipitkan mata. *"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, gadis kecil."*

*"Oh, tapi aku tahu,"* kataku, senyumku perlahan berubah menjadi seringai dingin yang tidak lagi terlihat seperti Marie yang lembut. *"Aku tahu kau tidak bekerja sendiri. Dan jika kau tidak memberitahuku di mana dokumen pengiriman itu, Julius akan tahu bahwa kau bukan hanya sekadar rekan bisnis yang nakal, tapi juga seorang pengkhianat yang telah menjual rahasia keluarga."*

Valerius tampak gemetar. Dia melirik ke arah Julius yang sedang mengawasi kami dari jauh. Dia tahu bahwa di dunia ini, berurusan dengan Julius Vance adalah tiket menuju kematian yang paling menyakitkan.

*"Dokumen itu..."* dia berbisik, suaranya parau. *"Itu ada di dalam peti terkunci di ruangan pribadi di bawah gedung ini. Kodenya adalah tanggal kematian ayahmu, 04-09."*

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu mati total. Kegelapan menyelimuti ballroom. Jeritan terdengar dari segala arah. *Sesuatu terjadi!*

Sebuah ledakan terjadi tepat di tengah lantai dansa. Bau mesiu dan asap magis membubung tinggi. Aku merasakan tangan seseorang menarik lenganku dengan kasar. Itu bukan tangan Julius. Tangan itu kasar, dingin, dan memiliki bau tembaga yang amis.

*"Lepaskan aku!"* teriakku, mencoba melepaskan diri.

Namun, orang itu malah membawaku semakin dalam ke arah gudang penyimpanan bawah tanah. Saat cahaya darurat berwarna merah menyala, aku melihat siapa yang menarikku. Itu bukan orang asing. Itu adalah salah satu pelayan yang melayani Julius tadi pagi—pelayan yang matanya ditutupi kain.

Dia menatapku dengan wajah yang kini terbuka, dan aku hampir menjerit. Matanya... dia tidak punya mata. Hanya lubang hitam yang berdarah.

*"Kau tidak seharusnya berada di sini, Marie,"* bisiknya dengan suara yang terdengar seperti ribuan jiwa yang menjerit bersamaan. *"Kontrak itu... dia tidak hanya mengikatmu pada Julius. Dia mengikatmu pada Cawan Hitam itu sendiri. Dan sekarang, cawan itu... dia lapar."*

Dia melepaskanku dan menghilang ke dalam kegelapan. Aku terengah-engah, sendirian di lorong bawah tanah yang dingin. Tiba-tiba, dinding-dinding di lorong itu mulai merembeskan cairan berwarna hitam—Nectar murni yang kental.

Cairan itu mulai membentuk sosok manusia, sosok yang menyerupai ayahku.

*"Marie..."* sosok itu berbisik, suaranya memenuhi seluruh lorong. *"Lari... Julius tidak menyelamatkanmu... dia memberimu makan pada monster yang menghancurkanku..."*

Aku mundur, namun langkahku terhenti karena lantai di bawahku tiba-tiba runtuh. Aku jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung, dan saat aku terjatuh, aku melihat Julius berdiri di atas sana, menatap ke bawah dengan senyum yang sangat puas. Dia tahu. Dia tahu semuanya.

*Apakah dia sengaja menjebakku?*

Saat aku jatuh semakin dalam, aku melihat bayangan hitam yang sangat besar bergerak di dasar lubang itu, menunggu untuk menelan tubuhku.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!