Indonesia
NovelToon NovelToon

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Bab 1. Kebenaran yang terungkap

Di saat tengah malam aku harus terbangun dari tidurku karena rasa haus dan buang air kecil yang datang bersamaan, membuatku harus keluar kamar padahal kedua mataku masih terasa berat.

Setelah ku penuhi semua keinginan tersebut kedua netraku lantas tertuju kepada sebuah ruangan tertutup dengan lampu masih menyala didalamnya.

Aku tahu betul tempat itu..

Tempat itu adalah ruang kerja ayahku saat ia meracik ramuan herbal, sekaligus tempat penyimpanan obat-obat langka dan juga mahal.

Aku sudah terbiasa keluar masuk ruangan itu, akan tetapi yang membuatku penasaran adalah kenapa didalam ruangan tersebut samar-samar terdengar suara perbincangan seseorang di tengah malam seperti ini.

Dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa kantukku, aku perlahan mendekat. Dan ku coba menguping walau aku tahu menguping pembicaraan itu dilarang keras.

Apakah ada seseorang yang sedang sakit parah sampai-sampai ayahku harus duduk serius dimeja kerjanya?

"Apa kau yakin ingin memberitahunya?" tutur tanya lembut suara seorang perempuan yang sangat ku kenali.

Dia adalah ibuku..

Tapi kenapa ayah dan ibuku berada di dalam ruangan ini padahal ini sudah waktunya untuk mereka beristirahat. Dan apa yang baru saja aku dengar? Ingin memberitahu siapa?

Aku meletakkan telingaku lebih lekat pada daun pintu agar bisa mendengar lebih jelas percakapan mereka didalam dan entah mengapa hatiku berdebar kencang saat keduanya mulai menyebut namaku.

"Kita tidak bisa terus menerus menyembunyikan kebenaran ini dari Qiuye, kita harus memberitahunya tentang kebenaran ini."

"Kau memang benar, kita memang harus memberitahu kebenaran ini. Tapi apa tidak bisa di tunda? Dia masih sangat muda dan aku belum siap berpisah dengannya jika suatu saat dia tahu akan semua ini," isak ibuku.

Nafasku seakan terhenti mendengar hal tersebut, pikiranku mulai menerka-nerka sesuatu. "Apa maksud mereka berkata seperti itu? Apa yang terjadi padaku? Apa aku akan mati muda?" pikirku dengan segala asumsiku sendiri.

Akan tetapi kelanjutan dari pembicaraan itu membuatku semakin lemas tidak berdaya.

Qiuye bukan putri kita!

"Apa! Aku bukan putri mereka? Lalu aku putri siapa?"

Aku mengepal erat kedua tanganku, dan terus menerus menguping pembicaraan tersebut walau aku tahu hatiku akan terasa sakit bila terus mendengarnya.

Aku sangat ingin tahu siapa sebenarnya diriku ini dan bagaimana aku bisa dibuang begitu saja oleh orang tuaku yang sebenarnya.

Istana adalah kata terakhir dari percakapan tersebut dan jenderal utama sebagai penutupnya.

Segera aku menjauh dari ruang kerja ayahku, bukan! Lebih tepatnya ayah angkatku. Dan bersembunyi disudut lain ketika keduanya berjalan keluar ruangan.

"Berjanjinya padaku, jangan katakan ini pada Qiuye sebelum waktunya. Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya," ucap ibuku setelah ayahku menutup pintu.

"Baik, aku akan menurutimu. Tapi jika suatu hari dia tahu yang sebenarnya, maka yang bisa kita lakukan hanyalah melindunginya dan membawanya pergi sejauh mungkin dari kota ini," balas ayahku.

"Sudahlah jangan menangis, bagaimana kalau Qiuye sampai terbangun dan melihat kau menangis seperti ini. Dia pasti akan mencecar kita dengan beribu pertanyaan," sambung ayah menenangkan ibuku.

Ibuku mengangguk setuju dan pergi menuju kamar mereka, sebelum melihat keberadaanku. Sedangkan aku sendiri masih termangu disisi gelap sudut ruangan. Mencoba menelaah perkataan yang baru saja ku dengar.

Istana, jenderal utama, bahaya apa yang sebenarnya terjadi? Tapi yang lebih penting adalah kenapa orang tua kandungku sampai tega membuangku dan ingin membunuhku?

...----------------...

Keesokan paginya aku masih terpaku menatap cermin, pikiranku masih sibuk menelaah percakapan yang aku dengar kemarin malam.

Siapa sebenarnya diriku ini?

Pelan-pelan aku menyisir rambutku yang berwarna coklat agak kuning keemasan, warna yang aneh untuk semua orang karena hanya aku yang memilikinya seorang.

Apa aku ini adalah orang asing yang sering dibilang oleh orang lain? Penjajah barat?

Akan tetapi wajahku menepis semuanya, aku memang kelahiran Tiongkok asli dan ayahku sudah membuktikannya di depan semua orang.

Ibuku juga sudah memberitahuku karena ia salah meminum ramuan sewaktu hamil, dan makanya aku terlahir dengan rambut seperti ini.

Aku menghela nafas panjang, perbincangan semalam membuatku ragu dengan semua perkataannya.

"Aku jelas bukan putrinya, lalu kenapa mereka menyembunyikan semua ini dariku?"

Akhirnya aku tidak dapat membendung emosiku dan aku tidak kuasa menahan tangis, kembali aku teringat dengan kata-kata istana dan juga jenderal utama.

Apa mungkin aku ada kaitannya dengan mereka? Atau paling tidak mereka pasti mengetahui dimana keberadaan keluarga asliku.

Segera aku menghapus air mataku, ketika aku mendengar suara ibuku memanggil.

"Ye, kenapa belum bersiap?" tanya ibuku.

"Ya ibu, sebentar lagi."

"Hm, mana sini ibu bantu merapihkan rambutmu. Kau harus cepat karena kau tahu sendiri bagaimana sifat ayahmu kan? Dia tidak suka menunggu," ucap ibu membantuku bersiap.

"Ya ibu benar," balas aku dengan suaraku sedikit serak.

"Kenapa denganmu, Nak? Kenapa suaramu parau seperti ini dan matamu terlihat bengkak?" selidik ibu cemas.

"Tidak apa-apa ibu, aku sehat. Semalam hanya bermimpi sedang berkelahi dan aku menangis karena kalah," jawabku sekenanya dan mencoba menenangkan ibuku agar tidak cemas.

"Benarkah?" tanya ibuku memastikan.

"Ya benar," jawabku menggangguk pasti.

"Hei Qiuye cepatlah!" pekik suara ayah dari luar.

"Ya ayah baik!" sahutku.

"Sudah ya ibu, aku berangkat."

"Ya, pakai penutup rambutmu dan jangan sampai kau melepasnya," ucap Ibu sebelum aku pergi.

"Baik Bu," patuhku.

Aku meraih tasku dan segera berlari menuju ayahku yang sudah menunggu.

"Jangan lupa minum obatmu!" sahut ibuku dari jauh.

"Baik Bu," balasku sambil melambaikan tangan. Lalu aku dan ayah pergi menuju toko.

...----------------...

Toko Obat Cina.

Hari-hari ku jalani seperti biasa, membantu ayah berjualan obat herbal. Toko obat keluarga ini sudah berdiri ratusan tahun dan sudah terkenal dengan kemanjurannya dalam mengobati berbagai penyakit.

Dari tangan ajaibnya mampu mengobati ratusan pasien, bahkan para menteri dan juga bangsawan lainnya selalu memanggil ayahku ke kediaman mereka.

Ayahku dulunya seorang tabib kerajaan dan entah mengapa ia malah memilih untuk berhenti dengan alasan ingin meneruskan usaha ini menggantikan sang kakek yang sudah tiada.

"Ye, apa kamu sudah minum obat?" tanya Ayahku disela pekerjaannya.

"Sudah Ayah," balasku tanpa debat.

"Bagus," balas Ayahku lalu kembali bekerja.

Aku pernah bertanya tentang obat apa itu, namun ayah selalu menjawab untuk tidak menanyakannya dan obat itu harus ku minum setiap hari agar penyakitku tidak kambuh.

Aku sudah bosan sekali meminumnya dan kali ini aku ingin tahu obat apa yang selalu ayah berikan untukku.

Akan tetapi, sebelum aku sempat mencari tahu, anak buah ayahku berlari tergesa dan mencari ayahku.

"Nona, dimana tuan Jiang?" tanya anak buah ayahku cemas.

"Ayah ada di ruang obat," balasku. "Ada apa paman Li?" tanyaku ingin tahu.

"Putri perdana menteri tiba-tiba jatuh sakit, dan tuan perdana menteri ingin tuan Jiang datang ke kediamannya segera," balas paman Li.

Sejenak aku berpikir, sepertinya aku harus ikut ayahku kesana.

...Bersambung....

Bab 2. Ikut ke kediaman perdana menteri

Kediaman Perdana Menteri Pertahanan.

Setelah mendapat ijin dari ayah, akhirnya aku diperbolehkan pergi menemaninya dan berhasil masuk kedalam kediaman utama perdana menteri pertahanan.

Aku tidak henti-hentinya berdecak kagum menatapi isi dari kediaman tersebut dan selama itu pula ayah selalu menasehatiku dan mengingatkanku akan posisi keluarga kita agar tidak melewati batas sebagai seorang rakyat biasa.

"Kau harus memberi hormat kepada nyonya dan juga tuan besar saat bertemu dengan mereka, jangan berani angkat wajahmu bila tidak disuruh apalagi menatap kedua mata mereka saat berbicara," bisik Ayahku mengingatkan .

"Ya Ayah, aku mengerti. Ini sudah kesekian kalinya Ayah berkata seperti ini padaku," balasku.

"Silahkan tunggu disini, saya akan mengabari tuan kalau anda sudah tiba," ucap seorang pelayan di kediaman tersebut.

"Baik," angguk Ayahku setuju.

Tak butuh waktu lama, pelayan itu kembali dan menyuruh kami masuk ke dalam.

"Salam hormat kepada perdana menteri Huang dan juga Nyonya besar," salam Ayahku tunduk memberi hormat dan diikuti olehku dibelakangnya.

"Berdirilah tabib Jiang, kita adalah temen lama jadi jangan bersikap formal seperti ini."

"Baik Tuan Huang," balas Ayahku.

Setelah pertemuan itu, kami menuju kamar sang putri.

"Tabib Jiang, sudah dua hari ini putriku muntah dan tidak mau makan. Bahkan tubuhnya lemas dan wajahnya juga pucat," ucap cemas Nyonya Huang memberitahu kondisi putrinya.

"Baiklah Nyonya, biarkan hamba memeriksanya terlebih dahulu agar tahu penyakit apa yang sedang diderita oleh putri. Mohon agar Nyonya dan Tuan memberikan hamba ijin untuk memeriksa tuan putri," ucap Ayah sopan.

"Silahkan Tabib Jiang," balas Tuan dan Nyonya perdana menteri mengijinkan.

Lalu ayah mulai melakukan pemeriksaan, mulai dari memeriksa denyut nadi, keringat, hingga nafas dan juga lain sebagainya sebelum melakukan praktik pengobatan.

Sedangkan aku hanya bisa duduk jauh dibelakang ayahku, melihatnya melakukan tugas selayaknya tabib kebanyakan.

"Ye, berikan padaku jarum akupunturnya."

"B-baik," balasku agak gugup. Karena ini pertama kalinya aku ikut ayahku mengobati anggota keluarga bangsawan dan itu pun dikediaman mewahnya.

Lalu aku kembali duduk dan kali ini aku memberanikan diri untuk duduk didekat ayah agar bisa lebih mudah membantunya.

Aku terus memperhatikan gaya pengobatan akupuntur ayahku tahap demi tahap, membakar ujung jarumnya agar steril dan menusukannya pada titik-titik tertentu, lalu melihat ujung jarum dan memberikannya kembali kepadaku.

Hingga pada akhirnya ayahku menusukkan satu jarum pada titik perut, sang putri tiba-tiba saja muntah darah.

Kami tersentak bersamaan, terkejut melihat putri mengeluarkan darah kental berwarna pekat agak hijau kehitaman. Dan aku tahu itu adalah racun yang sudah berhasil ayahku keluarkan dari tubuh putri perdana menteri.

"Tabib Jiang, apa yang terjadi kepada putriku?" tanya Nyonya Huang sedikit histeris.

"Sabar Nyonya Huang, putri sudah melewati masa kritisnya. Darah yang tadi kita lihat semua itu adalah racun," ucap Ayah menjelaskan.

"Racun? Tapi bagaimana bisa putriku keracunan?" ucap Tuan Huang heran. Walau tidak menutup kemungkinan segala sesuatu bisa terjadi, akan tetapi bagaimana? Pikirnya.

"Ya, ini adalah salah satu jenis racun makanan. Tidak berbahaya, akan tetapi bisa berakibat fatal jika tidak ditangani tepat waktu," ucap Ayah membersihkan sisa darah yang menempel pada jari-jarinya.

"Racun makanan, putriku telah diracuni. Tapi siapa yang begitu berani meracuni putriku dikediamanku sendiri!" gusar Tuan Huang melempar benda disekitarnya.

"Harap menurunkan tekanan darah anda Tuan Huang, racun jenis ini memang bekerja lambat dalam menunjukkan gejalanya. Seolah-olah penderitanya terkena penyakit biasa," jelas Ayah.

"Jadi menurutmu racun ini sudah berada didalam tubuh putriku selama beberapa waktu?" tanya Tuan Huang ingin tahu.

"Begitulah sekiranya Tuan," jawab Ayah.

Tuan Huang mengepal erat kedua tangannya dan memukul meja hingga bergetar, lalu perlahan ia kembali memikirkan kejadian beberapa hari kebelakang.

Karena seingat pria itu putrinya pernah datang ke istana untuk menghadiri undangan putri raja.

"Istana ... Ya di istana! Putriku pernah menghadiri jamuan kerajaan, tapi siapa yang begitu berani meracuni putriku! Ini sama saja menghina wajah perdana menteri!" geram Tuan Huang.

Seketika aku kembali tersadar saat mendengar kata istana, kejadian semalam membuatku mengaitkannya dengan sesuatu.

Sebegitu berbahayakah didalam istana itu?

Nyonya Huang menangis tersedu, ia merangkapkan kedua tangannya dihadapan ayahku. "Dengan segala kerendahan hati. Aku mohon sembuhkan lah putriku Tabib Jiang, aku akan memberikan apapun yang kami punya untukmu asal kau bisa menyembuhkan putriku," isaknya.

"Nyonya Huang, tolong jangan berbicara seperti ini. Sebagai seorang tabib, sudah menjadi kewajiban hamba untuk mengobati yang sakit sebagaimana janji hamba terdahulu. Jadi untuk itu anda tidak perlu khawatir, hamba akan berusaha semaksimal mungkin mengobati tuan putri," balas Ayah meyakinkan.

"Terima kasih tabib Jiang, terima kasih banyak."

"Ya, Nyonya Huang. Sekarang biarkan putri anda beristirahat, sementara itu hamba akan membuatkan obat untuk tuan putri."

"Baiklah tabib Jiang," balas Nyonya Huang.

"Ye, ikut Ayah!" ajak Ayah padaku.

"Ya Ayah," jawabku menurut.

...----------------...

Setibanya di dapur, aku membantu Ayah memilih berbagai macam tanaman herbal, lalu menggodoknya menjadi satu hingga menjadi obat siap minum.

Dan dalam disetiap pekerjaan, sesekali aku menyempatkan diri melihat wajah serius ayahku dan teringat kembali akan kata-katanya kemarin malam.

"Ayah --" ucapku tidak tuntas.

"Jangan berbicara saat bekerja, apalagi saat meramu obat. Selain agar kita bisa berkonsentrasi penuh, percikan air liur bisa saja terjatuh dalam obat dan menyebabkan obat terkontaminasi dengan zat asing. Apa kau mengerti!" sergah Ayahku.

"B-baik," jawabku terbata.

Ketegasannya membuatku bungkam, banyak sekali hal yang ingin ku tanyakan kepadanya. Tapi apa boleh buat, sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.

Setelah selesai meramu obat untuk putri perdana menteri, Ayah bergegas membawa ramuan itu kepadanya. Sedangkan aku berjalan-jalan kecil di taman, sesekali menendang kerikil yang menghalangi jalanku.

Selain menghilangkan bosan, siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi mengenai istana dan juga jenderal utama.

Hingga suatu ketika langkahku terhenti dan pandanganku tertuju pada suatu paviliun, tidak terlalu besar tapi aku rasa aku perlu kesana.

Sementara itu, Tuan Huang memanggil Tabib Jiang agar masuk ke dalam ruang bacanya. Disana kedua pria itu, mendiskusikan sesuatu.

"Apa kau tahu jenis racun apa yang masuk ke dalam tubuh putriku?"

"Hamba rasa ini adalah racun asing dari barat," jawab tabib Jiang.

"Racun asing dari barat?"

"Benar, tidak salah lagi ini adalah racun asing dari barat. Hamba yakin dan tidak mungkin salah," ucap tabib Jiang yakin.

Karena ia tahu betul racun apa yang sedang ia hadapi saat ini, yaitu racun yang sama yang berada pada tubuh putrinya sejak ia menemukannya dulu.

"Itu berarti racun ini berasal dari dalam istana?" tanya Tuan Huang kembali.

"Sepertinya begitu," balas Tabib Jiang. "Hanya saja racun ini tidak sebahaya racun yang aku temukan pada tubuh Qiuye," sambungnya dalam hati.

Tuan Huang menghela nafasnya panjang, lalu menatap tabib Jiang lekat.

"Lima belas tahun telah berlalu, banyak sekali kejadian dalam istana semenjak kau berhenti menjadi tabib istana. Salah satunya adalah penyakit raja yang kadang-kadang muncul tanpa sebab," ucap Tuan Huang. "Aku curiga ada dalang dibalik semua kejadian ini, tapi siapa dalangnya itu?"

...Bersambung....

Bab 3. Sebuah buku

Ruang baca istana kaisar Song.

"Yang Mulia, yang mulia permaisuri meminta ijin ingin bertemu dengan anda."

"Hm biarkan dia masuk," balas Kaisar Song memberi ijin.

"Baik Yang Mulia," balas Kasim undur diri. "Silahkan masuk Yang Mulia Permaisuri," lalu ucapnya pada sang permaisuri Liu.

"Terima kasih," balas Permaisuri Liu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. "Salam hormat Yang Mulia," salamnya.

"Hm.. Ada perlu apa menemuiku malam-malam seperti ini Permaisuriku?" tanya Kaisar Song.

"Yang Mulia, dua hari lagi adalah ulang tahun putri Xu. Hamba berniat ingin mengadakan pesta di istana dan mengundang seluruh kerabat kerajaan dan juga para bangsawan ibukota," jawab Permaisuri Liu.

Kaisar Song berdecih dalam hati. "Cih putriku? Setahuku putriku si pembawa sial itu sudah ku buang jauh dan sudah menjadi kerangka didalam kuburnya."

Jadi, putrinya saat ini hanyalah pengganti untuk mengelabui semua orang di istana, termasuk istrinya sendiri.

"Hmm, itu ide bagus. Semua urusan yang berkaitan dengan istana wanita memang sudah berada dibawah kekuasaanmu. Jadi terserah kau ingin melakukan apa dan aku akan selalu mendukungnya," ucap Kaisar Song kemudian.

Permaisuri Liu lantas melebarkan senyumnya karena keinginannya terpenuhi dan segera memberi hormat, "Terima kasih Yang Mulia Kaisar atas ijinnya, kalau begitu hamba mohon pamit dan tidak akan mengganggu waktu Yang Mulia lagi," ucapnya seraya pamit.

"Ya, Permaisuriku."

Kaisar Song menghela nafasnya panjang, lalu memanggil seorang kasim agar memanggil seseorang.

"Ya Yang Mulia Kaisar, ada perlu apa Yang Mulia sampai memanggil hamba?" salam hormat seorang pria paruh baya setibanya didalam ruangan.

Pria itu adalah tabib Nan, seorang tabib pribadi sekaligus penasihat raja Song. Tapi bagi sebagian orang yang mengenal tabib Nan, ia bukanlah seorang tabib melainkan seorang penyihir.

Karena bagaimana tidak, raja Song selalu menuruti setiap perkataan tabib Nan. Walau semua orang tahu jika tindakan yang diarahkan tersebut adalah salah.

"Aku mendengar kabar kalau didaerah perbatasan utara sedang terjadi pemberontakan, orang-orang yang selama ini tidak puas dengan kinerja pemerintah istana kini telah bergabung dengan anggota musuh dan mencoba menerobos pertahanan wilayah ini untuk menggulingkan kekuasaanku," ucap Kaisar Song.

"Anda tidak perlu khawatir Yang Mulia, bukankah anda telah memberi perintah kepada jenderal utama Guan agar menghabisi siapa saja para pengkhianat di negeri ini," ucap Tabib Nan.

"Kau benar, Tabib Nan. Akan tetapi kenapa aku selalu saja merasa tidak tenang, maksudku kenapa aku selalu saja merasa gelisah. Terkadang aku juga bermimpi buruk dan di dalam mimpiku itu, aku melihat seseorang datang dihadapanku dan tanpa banyak bicara menghabisiku begitu saja," ucap Kaisar Song mengungkapkan rasa gelisahnya.

"Yang Mulia Kaisar, itu semua hanyalah mimpi. Jadi jangan terlalu dipikirkan, itu dapat menganggu kesehatan anda," ucap Tabib Nan menenangkan.

"Kau benar, semua itu cuma mimpi. Segala penghalang dalam hidup sudah ku lenyapkan semuanya, termasuk putriku sendiri. Lalu untuk apa aku harus merasa ketakutan," ucap Kaisar sedikit gemetar.

"Iya Yang Mulia, kecuali ..." ucap Tabib Nan sengaja memutus ucapannya.

"Kecuali apa?" tanya Kaisar Song penasaran.

"Kecuali jenderal Guan tidak melaksanakan perintah anda," ucap Tabib Nan mencoba menyisipkan kecurigaan.

"T-tidak mungkin, jenderal Guan begitu setia kepada kerajaan ini begitu juga kepadaku. Dia tidak mungkin mengkhianatiku, lagipula aku sudah melihat sendiri makam putriku dengan mata kepalaku ini!"

"Yang Mulia ... Hamba tadi hanya berasumsi saja, mohon Yang Mulia jangan terlalu memikirkannya. Hamba yakin jenderal Guan telah melaksanakan perintah anda karena beliau adalah pengikut setia anda," ucap Tabib Nan meyakinkan.

Kaisar mengangguk-angguk setuju dan berusaha menenangkan dirinya. "Kau benar, kau benar Tabib Nan."

Tabib Nan tersenyum tipis. "Yang Mulia, ini sudah waktunya anda minum obat."

"Benar, obatku. Mana obatku?"

Tabib Nan menyuguhkan obat berupa pil untuk Kaisar Song lalu perlahan kecemasan Kaisar Song mulai hilang begitu saja. Hingga kedua matanya terpejam cukup lama, dan tidak lupa memuji akan khasiat obat itu. "Obat darimu ini memang mujarab sekali, aku selalu saja merasa tenang setelah meminumnya."

"Terima kasih atas pujian anda Yang Mulia, ini adalah pil dewa yang bisa membuat anda tenang dan nyenyak saat tidur. Maka dari itu hamba sarankan agar Yang Mulia meminumnya setiap hari sebelum tidur," ucap Tabib Nan memberikan sebotol penuh pil kepada Kaisar Song.

Kaisar Song mengangguk patuh dan menerimanya. "Baiklah, terima kasih."

"Sama-sama Yang Mulia, jika tidak ada keperluan lain hamba mohon pamit," ucap Tabib Nan undur diri.

"Hm, silahkan."

Tabib Nan kemudian undur diri dan menutup rapat pintu ruangan tersebut, perlahan ia menunjukkan senyuman yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun.

...----------------...

Kediaman Perdana Menteri Pertahanan.

"Terima kasih Tabib Jiang, berkat anda putriku mulai membaik," ucap haru Nyonya Huang mengucapkan terima kasih.

"Sama-sama Nyonya besar, akan tetapi kondisi tuan putri belum membaik sepenuhnya. Jadi hamba sarankan agar tuan putri banyak beristirahat dan yang lebih penting ia tidak boleh sampai melewatkan jadwal minum obatnya," nasehat Tabib Jiang.

"Baik Tabib Jiang," balas Nyonya Huang menurut.

"Hari sudah larut, bagaimana kalau anda dan putri anda bermalam disini lebih dulu," saran Tuan Huang.

"Benar Tabib Jiang, perjalanan ke rumah anda cukup jauh dan aku juga melihat kalian belum makan apapun setelah sampai disini," timpal Nyonya Huang.

"Ya, turuti lah keinginan kami. Ku anggap ini sebagai perintah dari seorang perdana menteri dan jangan khawatir mengenai istrimu, aku sudah mengutus penjaga kediamanan ini untuk mengirimkan pesan dan sekaligus menjaganya disana," sambung Tuan Huang.

"Karena ini adalah perintah dari anda, jadi apa boleh buat. Hamba akan menurutinya," balas Tabib Jiang menurut.

"Syukurlah kalau begitu, oh iya Tabib Jiang, dimana putrimu?" tanya Nyonya Huang mengedarkan pandangannya.

Berbicara tentang putrinya, Tabib Jiang mulai panik. "Pergi kemana anak ini?" gerutunya dalam hati. "M-maaf Tuan Huang dan Nyonya, mungkin putri hamba sedang berjalan-jalan disekitar," ucapnya kemudian.

"Baiklah, aku akan memerintahkan pelayan untuk mencari putrimu. Kau cukup tunggu disini dan kita akan makan bersama," ucap Tuan Huang.

"Baik Tuan," balas Tabib Jiang patuh.

Sementara itu, aku sendiri sedang asik membaca buku didalam paviliun yang baru saja aku temui. "Rupanya disini adalah perpustakaan, aku tidak menyangka ternyata banyak sekali buku-buku, bahkan aku belum pernah baca buku ini sebelumnya," ucapku berdecak kagum.

Aku terus mencari dan mencari, membaca apapun dan berharap menemukan suatu informasi yang berguna mengenai istana atau apapun itu.

Hingga akhirnya aku menemukan sebuah buku usang dan sedikit berdebu.

"SENI BELA DIRI PEDANG KELUARGA HUANG"

"Ini adalah buku warisan keluarga Huang, tapi kenapa buku ini bisa ada disini?" ucapku sedikit aneh.

Tak mau ambil pusing aku segera menyimpan buku itu dalam tas milikku, berpikir mungkin buku ini bisa berguna suatu saat nanti, lalu segera keluar dari tempat ini sebelum ada orang lain yang melihat.

...Bersambung....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!