Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Bisu Pilihan Ibu

Langkah Awal

Hamparan hijau kebun teh di lereng pegunungan itu masih diselimuti kabut tipis. Udara menjelang siang yang masih dingin berbaur dengan aroma segar dari pucuk-pucuk teh yang tengah dipetik oleh para buruh. Di antara belasan pekerja yang bergerak lincah menaruh hasil petikan ke dalam keranjang bambu di punggung mereka, ada Azizah dan sang nenek, Laksmi.

“Azizah,” panggil Laksmi dengan suara parau.

Wanita yang dipanggil itu menoleh. Sepasang mata jernihnya menatap sang nenek, menyiratkan tanya tanpa perlu sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Sambil memegangi pinggangnya yang tampak kaku, Laksmi tersenyum tipis, “Nenek istirahat sebentar di gubuk, ya? Punggung Nenek rasanya semakin hari semakin pegal.”

Bahu Azizah seketika merosot pelan. Tatapannya berubah sendu dan dipenuhi rasa bersalah. Dadanya sesak setiap kali melihat wanita lansia yang merawatnya sejak kedua orang tuanya tiada itu harus tetap memeras keringat di usia senja. Laksmi adalah pahlawan yang berhasil menyekolahkannya hingga tamat SMA, walau untuk itu, Azizah sudah harus ikut membantu memetik teh sejak masih berseragam sekolah. Sayangnya, sekeras apa pun mereka bekerja, melambungnya harga kebutuhan pokok belakangan ini membuat upah dari kebun teh tidak pernah benar-benar cukup.

“AZIZAH! BIBI LAKSMI!”

Sebuah teriakan nyaring memecah keheningan lereng gunung. Dari gubuk yang berada di ujung perkebunan, tampak seorang wanita melambai-lambai heboh sambil menyandang tas ransel besar.

Azizah menepuk pelan lengan neneknya, lalu jemarinya bergerak lincah membentuk gerakan isyarat.

‘Bibi Dewi pulang?’

Nenek Laksmi ikut mengernyit bingung, “Nenek juga tidak tahu, Zah. Tumben sekali bibimu itu pulang tidak mengabari dulu. Ayo, kita ke sana.”

Azizah mengangguk patuh. Ia melepas topi capingnya, merapikan sedikit hijab sport hitam yang dikenakannya, lalu berjalan beriringan menyelaraskan langkah kakinya dengan langkah ringkih sang nenek.

“Ya ampun, aku sangat merindukan kalian!” seru Dewi riang. Wanita itu langsung menghambur, memeluk erat Laksmi dan Azizah bergantian begitu mereka menginjakkan kaki di gubuk. Dewi adalah anak dari adik Laksmi yang merantau ke kota besar.

“Kapan kau sampai, Dewi?” tanya Laksmi.

“Aku baru saja sampai, Bi. Begitu turun dari bus, aku langsung ke sini.”

“Lho, kenapa kau tidak menemui ayahmu dulu di rumah?” sahut Laksmi lagi.

“Astaga, Bibi, aku sengaja ke sini karena mau menjemput kalian. Biar kita bisa pulang bersama,” jawab Dewi dengan senyum lebar. Pandangannya kemudian beralih pada Azizah, menatapnya dengan binar kagum, “Kau tambah cantik ya, Zah. Berapa tahun kita tidak bertemu, tahu-tahu kau sudah tumbuh sedewasa ini.”

Azizah tersenyum tulus, pipinya merona tipis. Tangannya kembali bergerak lincah membentuk isyarat yang sama.

‘Bagaimana kabar Bibi di kota?’

Dewi sempat tertegun beberapa saat, bola matanya bergerak ke atas. Ia tampak kebingungan karena sudah terlalu lama tidak mempraktikkan bahasa isyarat sejak bekerja di kota.

Melihat keponakannya yang kebingungan, Laksmi terkekeh pelan, “Azizah bertanya bagaimana kabarmu di sana.”

“Ah...” Dewi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak sungkan, “Kabarku baik, Zah. Tapi aku cuma bisa pulang sebentar, mungkin semingguan saja. Setelah itu harus langsung kembali ke rumah majikanku.”

“Hanya seminggu?” Laksmi menghela napas, menatap Dewi dengan pandangan menyelidik khas orang tua, “Kau ini tidak ada niatan untuk berhenti bekerja di kota dan mulai mencari jodoh untuk menikah?”

Mendengar pertanyaan itu, bahu Dewi seketika layu, “Huh, urusan menikah lagi. Aku harus fokus kerja dulu, Bi. Urusan itu sama sekali belum lewat di pikiranku. Utang bank untuk menutup kebangkrutan usaha Ayah saja sampai sekarang belum lunas. Bagaimana bisa aku memikirkan pernikahan dalam kondisi seperti ini?”

Laksmi mengusap lembut punggung Dewi, memahami betul beban berat yang harus dipikul oleh keponakannya itu, “Kau anak yang berbakti, Dewi. Ya sudah, ayo kita pulang ke rumah. Tapi tunggu sebentar, ya, Nenek dan Azizah harus menimbang hasil panen teh hari ini dulu ke tempat pengepul di bawah.”

Dewi mengangguk paham. Mereka bertiga kemudian berjalan beriringan, menuruni jalan setapak perkebunan menuju area penimbangan.

Setelah menerima upah harian dari pengepul, mereka bertiga berjalan beriringan menuju desa. Letak pemukiman mereka memang berada tepat di lereng gunung. Meski begitu, akses jalannya cukup lebar untuk dilewati mobil karena sebagian area perkebunan teh ini dikembangkan menjadi tempat wisata, walaupun permukaannya masih berupa tanah merah yang dipenuhi kerikil.

Begitu melangkah masuk ke gerbang desa, kepulangan Dewi langsung menarik perhatian. Ia disapa ramah oleh para penduduk yang sedang beraktivitas di depan rumah. Alhasil, Azizah dan Laksmi harus beberapa kali menghentikan langkah, menunggu sabar karena Dewi sibuk meladeni obrolan dan sapaan para tetangga yang antusias.

Setelah berhasil lepas dari rentetan sapaan itu, mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah pelataran yang dikelilingi pagar bambu. Di dalam pagar itu, berdiri dua bangunan dengan halaman berukuran sedang yang tampak bersih dan terawat.

Satu bangunan di sebelah kiri terlihat lebih luas dengan lantai berbalut keramik hijau berkilap. Itu adalah rumah Dewi, bangunan yang berhasil didirikan saat ayahnya, Arif, masih berjaya dalam usahanya dahulu. Sementara di sisi kanannya, berdiri bangunan yang lebih sederhana. Rumah itu berbentuk memanjang, berbalut cat putih seadanya dengan lantai semen yang diperhalus tanpa keramik. Di sanalah tempat tinggal Azizah dan Laksmi menghabiskan hari-hari mereka.

Laksmi dan Arif adalah saudara kandung, dan sepetak tanah warisan dari orang tua merekalah yang menyatukan kedua rumah itu dalam satu pekarangan yang sama.

“Astaga, Dewi?!”

Arif yang sedang memegang selang untuk menyiram tanaman di halaman seketika mematikan aliran airnya. Pria paruh baya itu tampak terkejut, matanya membelalak menatap anak semata wayangnya yang tiba-tiba berdiri di depannya tanpa ada kabar sama sekali.

“Kau pulang, Nak?” tanya Arif, langsung melempar selang itu ke tanah dan melangkah cepat menghampiri Dewi.

Dewi tertawa lebar melihat ekspresi syok ayahnya. Ia langsung menyalangkan ranselnya ke samping dan menghambur ke pelukan sang ayah.

“Kejutan, Ayah! Aku sengaja tidak bilang-bilang supaya bisa melihat ekspresi kaget Ayah seperti ini.”

Arif memeluk erat putrinya, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam setelah bertahun-tahun terpisah jarak kota dan desa. Setelah pelukan terlepas, pandangan Arif beralih pada kakak kandungnya dan Azizah yang berjalan di belakang Dewi.

“Mbak Laksmi, Azizah, kalian barengan ketemunya?” tanya Arief beralih menyapa mereka.

Laksmi tersenyum sambil mengibas-ngibaskan capingnya untuk mengusir gerah, “Iya, Rif. Anakmu ini tiba-tiba muncul di kebun teh tadi. Membuat kami berdua sama kagetnya denganmu.”

Azizah melangkah mendekat, lalu dengan santun meraih tangan pria yang ia anggap kakek itu untuk mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat. Arif langsung mengusap lembut kepala Azizah, merasa iba atas ketegaran wanita itu.

“Ya sudah, ayo masuk dulu. Di luar panas,” ajak Arif, “Dewi, bawa barang-barangmu masuk. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh dari kota.”

Sementara itu, Laksmi berpamitan untuk langsung kembali ke rumah mereka sendiri, “Rif, aku dan Azizah ke rumahku dulu, ya. Mau bersih-bersih badan, gerah sekali setelah bekerja di kebun.”

Sebelum langkah kaki nenek dan cucu itu menjauh, Dewi tiba-tiba menahan mereka, “Bibi, Azizah, tunggu sebentar!”

Laksmi dan Azizah serentak menoleh.

“Nanti malam jangan masak, ya. Datang ke rumahku,” ujar Dewi dengan senyum sumringah, “Aku mau mengadakan acara makan malam kecil-kecilan. Aku bawa banyak oleh-oleh dan makanan enak dari kota untuk kita makan sama-sama.”

Laksmi tersenyum dan mengangguk setuju, sementara Azizah mengacungkan jempolnya sambil tersenyum manis, mengisyaratkan bahwa ia tentu akan datang.

Setelah kesepakatan kecil itu, mereka pun berpisah. Masing-masing melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu untuk membersihkan diri dan melepas lelah setelah beraktivitas di bawah terik matahari.

Begitu masuk ke dalam rumah, Azizah dan Laksmi segera meletakkan barang-barang keperluan panen ke gudang kecil yang terletak di samping dapur.

Azizah menatap neneknya, jemarinya bergerak lincah menyuarakan isi kepalanya.

‘Nek, jika Bibi Dewi tidak melunasi utang ayahnya, pasti uangnya sekarang sudah terkumpul banyak, ya?’

Laksmi melepas hijab jadulnya, lalu menyampirkannya di sandaran kursi kayu, “Tentu saja. Tapi bekerja sebagai pembantu di kota besar itu juga tidak mudah, Zah.”

‘Bukannya seorang pembantu sama saja seperti kita di rumah? Memasak, membersihkan rumah, dan tinggal patuh pada majikan?’ tanya Azizah lagi, menatap sang nenek dengan polos.

“Tidak semudah itu. Semua tergantung bagaimana tabiat majikannya,” sahut Laksmi sambil menghela napas pendek.

Azizah terdiam sejenak, lalu tangannya kembali bergerak.

‘Tapi sepertinya majikan Bibi Dewi orang baik. Buktinya Bibi betah bekerja di sana bertahun-tahun, bahkan sekarang hanya mengambil cuti seminggu.’

Laksmi menatap lekat wajah cucunya, mencoba menerka-nerka arah pembicaraan ini, “Jangan-jangan... kau sedang berpikir untuk mengikuti jejak bibimu bekerja di kota?”

Azizah yang merasa isi pikirannya ketahuan seketika tersentak. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, lalu dengan gugup kembali menggerakkan tangannya.

‘Tidak, Nek. Aku hanya bertanya saja. Aku mandi dulu, ya.’

Tanpa menunggu balasan sang nenek, Azizah segera berbalik dan melangkah cepat menuju kamar untuk mengambil handuk.

Sementara itu, Laksmi hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung sang cucu yang menghilang di balik pintu kamar dengan perasaan campur aduk. Dada wanita tua itu mendadak terasa sesak oleh rasa kekhawatiran yang besar.

Malang sekali nasibmu, Nak. Jika suatu saat nenek sudah tidak ada di dunia ini, bagaimana kelak kau akan menjalani hidup sendirian dengan keterbatasanmu? Batin Laksmi pilu, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Tekad Azizah

Malam harinya, udara pegunungan turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Daun-daun teh di luar sana bergemerisik pelan disapu angin malam. Setelah merapikan pakaian mereka, Azizah dan Laksmi melangkah keluar rumah, menyeberangi pelataran tanah yang memisahkan tempat tinggal mereka dengan rumah berlantai keramik hijau milik Arif.

Pintu depan rumah itu sudah terbuka lebar, memancarkan cahaya lampu yang terang benderang. Bau harum tumisan bumbu khas kota dan aroma ayam goreng langsung menyergap indra penciuman begitu mereka mendekati ambang pintu.

“Assalamualaikum,” ucap Laksmi setengah berseru sambil mengetuk kusen pintu.

Azizah mengekor di belakang sang nenek, kedua tangannya merapatkan jaket rajut cokelat tua yang sudah agak pudar warnanya demi menghalau dingin.

“Waalaikumsalam! Eh, Mbak Laksmi, Azizah. Masuk, masuk!” sahut Arif ramah dari arah ruang tengah. Pria paruh baya itu tampak sedang menggelar karpet lipat di lantai, menyiapkan tempat duduk lesehan yang nyaman untuk mereka semua.

“Wah, aromanya wangi sekali. Kau masak apa saja, Dewi?” tanya Laksmi sembari melepas alas kakinya dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Dewi muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya. Kedua tangannya membawa sebuah mangkuk besar berisi sup ayam yang mengepul hangat, “Aku masak sup ayam pakai bumbu instan yang kubeli di supermarket kota. Ada juga ayam goreng krispi dan sambal korek. Ayo duduk, kita langsung makan selagi hangat!”

Azizah tersenyum lebar, matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji di atas meja lipat pendek. Jemarinya bergerak lincah menyapa bibinya.

‘Wah, kelihatannya enak sekali, Bi.’

Dewi tertawa kecil walau masih agak terbata-bata mengingat gerakan isyarat wanita itu, “Pasti enak, Zah! Kau harus makan yang banyak malam ini.”

Mereka berempat kemudian duduk melingkar di atas karpet. Arif memimpin doa sebelum makan dengan khidmat. Begitu doa selesai, Dewi dengan cekatan menyendokkan nasi dan lauk ke piring Laksmi dan ayahnya, sementara Azizah mengambil bagiannya sendiri dengan sopan.

Di sela-sela denting sendok dan garpu, obrolan hangat mulai mengalir.

“Bagaimana pekerjaanmu di kota, Dewi? Majikanmu masih memperlakukanmu dengan baik?” tanya Arif di tengah kunyahannya, membuka percakapan yang sejak sore tadi mengganjal di hatinya.

Dewi menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab, “Alhamdulillah, Yah. Nyonya besar baik sekali padaku. Beliau itu orang kaya yang sangat dihormati di perumahan elite, tapi sifatnya sama sekali tidak sombong.”

Mendengar kata kota dan majikan, gerakan tangan Azizah yang sedang memegang sendok sempat tertahan sejenak. Ia mendengarkan cerita itu dengan saksama, sementara sepasang matanya menatap lurus ke arah Dewi, menunggu kelanjutan cerita tentang kehidupan di luar desa yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.

Laksmi mengangguk-angguk takjub mendengar cerita keponakannya. Ia menyuap sesendok nasi hangat, lalu menatap Dewi dengan pandangan teduh penuh rasa syukur.

“Alhamdulillah kalau begitu. Zaman sekarang susah cari majikan yang punya hati baik dan tidak semena-mena pada orang kecil seperti kita,” sahut Laksmi tulus, “Semoga pekerjaanmu di sana selalu berjalan lancar dan dilindungi oleh Allah.”

Dewi tersenyum haru, matanya agak berkaca-kaca mendengar doa dari wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri setelah ibunya tiada, “Amin, amin ya Allah. Terima kasih, Bi. Doa Bibi itu yang paling membuatku kuat untuk bertahan di kota orang.”

Arif yang duduk di sebelah Dewi hanya bisa menghela napas panjang, tersenyum kecut sambil menepuk pelan bahu anaknya. Ada gurat rasa bersalah di wajah tuanya karena harus membiarkan anak perempuannya memikul beban kesalahan usahanya yang bangkrut.

Di sudut lain karpet, Azizah kembali terdiam. Sambil mengunyah pelan ayam goreng krispi di piringnya, tatapan wanita itu bergerak lurus menatap ubin keramik hijau di bawahnya.

Mendengar doa Laksmi untuk Dewi justru membuat dada Azizah kembali berdenyut perih. Di dalam hatinya, sebuah gejolak kecil mulai tumbuh dan menuntut jawaban.

Lalu bagaimana dengan nasibku dan Nenek? Sampai kapan kami harus bergantung pada hasil petikan teh yang harganya semakin murah? Batinnya.

Azizah mengangkat wajahnya, menatap lekat ke arah Dewi yang kembali sibuk mengobrol dengan Arif. Keberanian yang sejak sore tadi ia pendam, perlahan-lahan mulai naik ke permukaan.

Setelah acara makan malam yang hangat itu selesai, Azizah dengan cekatan membantu Dewi mengangkut piring dan peralatan makan kotor ke dapur. Sementara itu, Arif dan Laksmi masih asyik melanjutkan obrolan mereka di ruang tengah, ditemani sisa teh hangat yang mulai mendingin.

Di depan bak cuci piring, suasana mendadak senyap. Hanya ada bunyi gemercik air kran dan denting sendok yang beradu. Azizah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sejak sore tadi menggunung di dadanya. Ia menyenggol pelan lengan Dewi untuk menarik perhatian wanita itu.

Begitu Dewi menoleh, jemari Azizah bergerak dengan lincah namun hati-hati.

‘Bi, apakah pekerjaan Bibi di kota sangat sulit? Maksudku... apakah sulit bagi orang sepertiku, yang tidak bisa bicara, untuk bekerja di sana?’

Gerakan tangan Dewi yang sedang memegang spons sabun seketika terhenti. Ia tampak bingung sekaligus terkejut. Pandangan Dewi langsung melirik cemas ke arah ruang tengah, memastikan bibinya tidak mendengar.

“Zah...” Dewi berbisik pelan, “Nenekmu tahu kau menanyakan hal ini?”

Azizah menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya kembali bergerak menerangkan.

‘Nenek tidak tahu. Aku hanya ingin bertanya saja. Kalau memang tidak terlalu sulit, aku ingin mencoba peruntunganku di kota. Hasil dari buruh petik teh sekarang benar-benar tidak cukup untuk kebutuhan kami. Aku melihat Bibi bisa bekerja dengan lancar di sana, jadi aku juga ingin mencoba.’

Mendengar kejujuran keponakannya, Dewi menghela napas panjang. Gurat kesedihan membayang di wajahnya. Ia mematikan kran air, mengelap tangannya yang basah, lalu menyentuh lembut bahu Azizah.

“Maafkan Bibi ya, Zah,” ucap Dewi dengan suara bergetar menahan haru, “Jika saja bukan karena beban utang Ayah yang sangat besar, Bibi pasti sudah menyisihkan sebagian gaji untuk membantu kau dan Bibi Laksmi di sini.”

Azizah menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya menyiratkan rasa tidak enak. Jemarinya bergerak lincah menenangkan sang bibi.

‘Jangan bicara seperti itu, Bi. Tentu saja tidak apa-apa. Kita kan sudah memiliki urusan rumah tangga masing-masing. Aku tidak ingin membebani Bibi.’

Dewi menatap lekat sepasang mata jernih keponakannya itu. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, ia akhirnya bersuara, “Zah, sebenarnya... baru-baru ini ada salah satu pembantu di rumah majikanku yang terpaksa keluar karena harus pulang kampung mengurus orang tuanya yang sakit. Sampai sekarang posisinya masih kosong.”

Mata Azizah seketika membelalak, ada binar harapan yang mendadak tumpah di sana.

“Nanti, Bibi akan coba tanyakan kepada Nyonya besar, apakah beliau mau menerima pekerja dengan kondisimu yang tidak bisa bicara. Tapi kau jangan berharap terlalu tinggi dulu, ya?” lanjut Dewi pelan.

Senyum Azizah merekah begitu lebar. Baginya, ini adalah sebuah kesempatan emas yang dikirimkan Allah. Ia mengangguk antusias lalu menggerakkan tangannya cepat.

‘Iya, Bi, tidak apa-apa. Terima kasih banyak ya, Bi!’

Dewi tersenyum haru melihat binar bahagia itu. Ia mengangguk, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut kepala Azizah yang tertutup jilbab kainnya yang rapi.

“Kau ini anak yang sangat salehah, Zah. Berbakti sekali pada orang tua,” puji Dewi tulus, lalu sedetik kemudian ia menunduk menatap pakaiannya sendiri sambil tersenyum kecut, “Beda sekali dengan Bibi... sampai sekarang pun Bibi belum bisa memantapkan hati untuk menutup aurat dengan baik seperti kamu.”

Azizah tersenyum teduh, tatapannya begitu menyejukkan. Jemarinya bergerak perlahan, menyampaikan pesan yang menyentuh hati.

‘Semua ini bersumber dari niat dalam hati, Bi, bukan karena paksaan orang lain. Pelan-pelan saja, suatu saat Bibi pasti juga akan siap.’

Dewi menurunkan tangannya, senyumnya kini terasa lebih ringan. Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya itu. Rasa kagumnya pada kedewasaan Azizah semakin bertambah.

“Iya, Zah. Doakan Bibi, ya,” ucap Dewi sambil menepuk pelan punggung Azizah, “Ya sudah, yuk kita selesaikan cuci piringnya sekarang, sebelum nenekmu curiga karena kita terlalu lama di dapur.”

Azizah mengangguk ceria, lalu mereka berdua kembali kompak membersihkan sisa alat makan malam itu dengan hati yang jauh lebih lega.

......................

Waktu berputar dengan cepat. Setelah menyelesaikan salat subuhnya yang khidmat, Azizah melipat sajadah dan mukenanya dengan rapi, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Langkah kakinya yang ringan kemudian membawanya keluar kamar menuju dapur untuk membantu sang nenek.

Di dekat bak cuci piring, Azizah bisa melihat punggung ringkih Laksmi yang tampak sedikit membungkuk, sedang fokus membersihkan beras di dalam wadah baskom aluminium. Ia melangkah mendekat, menyentuh pelan pundak wanita tua itu, lalu memberi isyarat meminta agar ia saja yang melanjutkan pekerjaan itu.

Laksmi tersenyum teduh, lalu memberikan baskom berisi beras itu kepada Azizah. Sementara cucunya melanjutkan mencuci beras, Laksmi mulai mengenakan jaket rajut hangat dan hijab jadulnya, bersiap pergi ke pasar yang terletak tidak jauh dari desa mereka untuk membeli sayuran.

“Zah, kau mau dibelikan lauk atau jajan pasar apa?” tanya Laksmi setengah berseru sebelum melangkah ke pintu.

Azizah menoleh cepat. Ia buru-buru mengibas-ngibaskan tangannya yang basah, lalu jemarinya bergerak lincah menanggapi.

‘Nek, biar aku saja yang pergi ke pasar. Lagipula, kupikir Nenek tidak akan ke pasar hari ini karena kita masih punya nangka muda yang belum dibelah di belakang. Kukira kita akan mengolah itu saja.’

Laksmi menggeleng pelan sambil merapikan letak hijabnya, “Nangka mudanya buat besok-besok saja, Zah. Nenek hari ini ingin membeli kangkung, kacang panjang, sama tauge untuk membuat lalapan segar.”

Bahu Azizah seketika meluruh pelan. Ada rasa sesak yang kembali menggelitik dadanya. Keterbatasan ekonomi yang membuat mereka tidak memiliki lemari pendingin, memaksa mereka harus bolak-balik ke pasar setiap hari karena tidak bisa menyetok banyak sayuran. Semuanya harus dibeli secukupnya agar tidak telanjur membusuk dan terbuang sia-sia.

Laksmi mengencangkan ikatan jaketnya, “Ya sudah, Nenek berangkat sekarang, ya. Sekalian Nenek ingin mampir menemui tetangga depan yang beberapa hari lalu menawari Nenek jadi buruh tanam cabai di ladangnya. Nenek ingin memastikan hari apa mulai kerjanya.”

Mendengar ucapan itu, dada Azizah bagai dihantam palu besar. Rasa bersalah yang teramat dalam langsung melingkupi seluruh hatinya. Bagaimana bisa ia membiarkan neneknya yang sudah setua itu masih harus membungkuk di ladang cabai demi upah yang tidak seberapa?

Saat Laksmi berbalik dan berniat keluar melewati pintu dapur, dengan gerakan cepat Azizah mengusap tangannya yang basah ke kain lap, lalu mengejar langkah sang nenek. Ia menyentuh punggung ringkih itu dengan sedikit desakan, membuat wanita tua itu terkejut dan menoleh ke belakang dengan raut heran.

Azizah menatap lekat sepasang mata keriput neneknya. Napasnya naik turun, menahan gejolak emosi sebelum akhirnya jemarinya bergerak dengan sangat mantap, menyuarakan keputusan terbesar dalam hidupnya.

‘Nek, aku mau bekerja di kota,’ isyarat Azizah, matanya berkaca-kaca namun menyiratkan tekad yang bulat, ‘Semalam aku sudah bertanya pada Bibi Dewi soal pekerjaannya. Kata Bibi, baru saja ada pembantu di rumah majikannya yang keluar, dan mungkin ada kesempatan besar bagiku untuk menggantikan posisi itu di sana.’

Laksmi sontak membulatkan matanya terkejut. Gurat penolakan langsung tergambar jelas di wajah tuanya yang mulai keriput.

“Tidak, Zah! Nenek tidak setuju! Kota itu keras, apalagi dengan keterbatasan yang kau miliki. Bagaimana kau bisa bertahan di sana?”

Namun Azizah tidak berhenti begitu saja dalam membujuk sang nenek. Alih-alih mundur, wanita itu melangkah maju. Ia meraih kedua tangan Laksmi yang terasa kasar karena puluhan tahun bekerja keras, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.

Setetes air mata lolos ke pipinya saat jemarinya mulai bergerak kembali, menyampaikan isi hati yang paling dalam.

‘Nek, di sana ada Bibi Dewi yang bisa menjagaku. Aku tidak akan sendirian,’ isyarat Azizah dengan tatapan memohon yang begitu kuat, ‘Aku hanya ingin Nenek bisa menikmati hari tua di rumah tanpa harus kelelahan lagi. Dari aku kecil, Nenek sudah bekerja keras membiayai hidupku. Sekarang giliran aku yang membuat Nenek hidup makmur.’

Azizah menghela napas pendek yang terasa sesak. Jemarinya kembali bergerak dengan gemetar.

‘Aku tidak tega, Nek... Aku tidak tega setiap malam melihat Nenek memijat punggung sendiri diam-diam di kamar, sementara di depanku Nenek selalu berlagak seolah semuanya baik-baik saja.’

Laksmi tertegun, tenggorokannya mendadak tercekat mendengar kalimat cucunya. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk menyahut, namun Azizah langsung maju dan memeluk tubuh ringkih itu dengan erat. Wanita itu menenggelamkan wajahnya, menangis sesenggukan di ceruk leher sang nenek. Bahunya berguncang hebat, meluapkan seluruh rasa sayang dan kekhawatiran yang selama ini ia pendam sendiri.

Melihat ketulusan yang begitu besar dari sang cucu, pertahanan Laksmi runtuh. Air matanya ikut meleleh. Ia melingkarkan tangannya, mengusap punggung Azizah dengan penuh kasih sayang.

“Zah... Nenek tidak peduli bagaimana hidup Nenek berjalan,” bisik Laksmi dengan suara parau dan bergetar, “Nenek tidak butuh hidup makmur. Nenek hanya ingin kau hidup layak seperti anak-anak biasa lainnya. Nenek hanya ingin kau bahagia, Nak.”

Azizah perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata di pipinya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata sang nenek dengan binar yang sarat akan kesungguhan.

‘Aku baru bisa bahagia kalau melihat Nenek baik-baik saja dan tidak perlu bekerja keras lagi,’ jawabnya tegas lewat isyarat tangan.

Laksmi seketika terdiam. Hatinya terasa begitu mengganjal, diselimuti kebimbangan yang teramat dalam antara melepaskan cucu semata wayangnya ke kota besar atau menahannya di desa yang serba terbatas ini.

Kabar Baik dari Kota

“Azizah!”

Azizah yang sedang fokus menyapu debu di teras rumahnya seketika tersentak. Ia menghentikan gerakan sapu di tangannya dan menoleh cepat ke arah pekarangan. Dari arah rumah sebelah, tampak Dewi sedang berlari tergesa-gesa menghampirinya.

Dewi tiba di depan teras dengan napas yang terengah-engah, memegangi lututnya untuk menstabilkan diri. Wajahnya tampak memerah, namun ada binar kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.

“Zah... Bibi... Bibi punya kabar baik,” ucap Dewi terbata-bata di antara deru napasnya yang memburu.

Azizah meletakkan sapunya ke dinding, menatap sang bibi dengan jantung yang mendadak berdebar kencang. Ia menunggu dengan cemas.

Setelah berhasil mengatur napasnya, Dewi langsung menggenggam kedua bahu Azizah, “Bibi sudah menghubungi Nyonya besarku di kota tadi. Dan kau tahu apa katanya? Beliau setuju, Zah! Beliau sama sekali tidak mempermasalahkan keterbatasanmu yang tidak bisa bicara, asalkan kau rajin dan jujur dalam bekerja!”

Mendengar kalimat itu, Azizah merasa seolah dunia di sekitarnya mendadak dipenuhi bunga yang bermekaran. Rasa senang yang membuncah membuat pertahanannya runtuh. Tanpa aba-aba, ia langsung menghambur dan memeluk erat tubuh Dewi.

“Eh—Zah!” Dewi berseru kaget. Tubuhnya sampai terhuyung ke belakang beberapa langkah karena belum siap menerima tubrukan pelukan keponakannya yang begitu tiba-tiba.

Namun sedetik kemudian Dewi terkekeh geli. Ia melingkarkan lengannya, mengelus lembut punggung Azizah yang masih mendekapnya erat, menyalurkan rasa bahagia yang sama. Bagi Azizah, ini bukan sekadar pekerjaan biasa, melainkan pintu gerbang pertama untuk mengubah nasibnya dan Laksmi.

Setelah beberapa saat, Dewi perlahan merenggangkan pelukan mereka. Ia menatap wajah Azizah dengan ekspresi yang berubah sedikit serius.

“Oh ya, Zah. Mana Nenekmu? Apa kau sudah memberitahunya soal rencana ini?” tanya Dewi sambil melirik ke arah pintu rumah yang terbuka.

Azizah perlahan menurunkan pelukannya, lalu jemarinya bergerak lincah menerangkan situasi yang sebenarnya.

‘Aku sudah memberitahu Nenek tadi subuh. Tapi Nenek belum memberikan jawaban pasti. Dari reaksinya, Nenek terlihat sangat berat hati dan tidak setuju kalau aku pergi ke kota.’

Mendengar hal itu, raut wajah Dewi yang semula riang seketika berubah sedih. Kebahagiaan yang baru saja membubung kini sedikit meredup.

“Nenekmu tidak setuju, ya?” gumam Dewi dengan nada penuh sesal. Ia menatap lekat keponakannya itu, lalu menawarkan bantuan, “Bagaimana kalau Bibi saja yang bicara dan membantu membujuk Nenekmu nanti? Biar Bibi jelaskan kalau di sana kau akan aman karena ada Bibi.”

Azizah menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya kembali bergerak menolak dengan halus.

‘Tidak usah, Bi. Biar aku sendiri saja yang bicara lagi dengannya. Nanti setelah Nenek pulang dari ladang tetangga, aku akan membujuknya pelan-pelan.’

Dewi menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pundak Azizah, mencoba menyalurkan kekuatan. Sebagai sesama keluarga, Dewi tentu sangat paham apa yang berkecamuk di dalam dada Laksmi. Mengirim cucu perempuan satu-satunya, yang memiliki keterbatasan pula, untuk merantau ke kerasnya kota besar pasti menjadi keputusan yang paling berat dan menakutkan bagi wanita tua itu.

“Ya sudah kalau begitu, Zah. Nanti kalau kau butuh bantuan Bibi untuk meyakinkan Nenek, bilang saja, ya,” ucap Dewi lembut, mencoba membesarkan hati keponakannya.

Azizah tersenyum tulus dan mengangguk patuh, meski di dalam hatinya, ia mulai menyusun strategi dan kata-kata terbaik untuk kembali meluluhkan hati sang nenek.

Dewi menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya menatap sekeliling pelataran sebelum akhirnya mendongak menatap langit cerah berawan di atas mereka.

“Suasana desa memang tidak pernah berubah, ya. Selalu membuat tenang,” gumam Dewi dengan senyum kerinduan, “Bibi sudah lama sekali tidak berkeliling desa. Rasanya kangen ingin pergi ke sungai bawah atau ke tempat-tempat yang dulu sering Bibi pakai bermain waktu kecil. Mau mengenang masa lalu rasanya.”

Melihat gurat kerinduan di wajah bibinya, Azizah langsung menggerakkan tangannya, menawarkan diri.

‘Kalau begitu, biar aku temani Bibi berkeliling hari ini.’

Dewi sempat mengernyit bingung menatap keponakannya itu, “Eh, kau tidak pergi ke kebun teh hari ini, Zah? Nanti malah dicari pengepul kalau membolos.”

Azizah menggelengkan kepalanya cepat seraya tersenyum.

‘Tidak, Bi. Hari ini jadwal buruh petik teh libur total karena ada pemeliharaan lahan dari pengelola.’

“Wah, pas sekali kalau begitu!” sahut Dewi dengan mata berbinar. Namun sedetik kemudian ia berubah pikiran setelah menatap hamparan hijau di kejauhan, “Tapi... sepertinya kalau kita pergi berfoto-foto di area perkebunan teh yang dekat tebing itu bagus juga, ya? Bibi mau ambil foto yang banyak, lalu menunjukkannya pada Nyonya besar di kota nanti. Biar beliau lihat kalau hidup di desa itu sangat asri dan menyenangkan.”

Azizah tersenyum lebar menyetujui ide seru bibinya. Ia segera menyimpan sapu lidinya ke tempat semula, lalu melangkah ke ambang pintu untuk mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Setelah memastikan semuanya aman, ia berbalik menghampiri Dewi dengan langkah ringan.

Wanita itu sudah siap menemani sang bibi berjalan-jalan, bernostalgia sekaligus mengabadikan momen-momen indah di tanah kelahiran mereka sebelum nantinya mereka berdua harus berjuang di riuhnya kota besar.

Sesampainya di area kebun teh yang paling indah. Angin pegunungan berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan pucuk teh yang menenangkan. Tidak terhitung berapa kali Azizah menekan tombol potret pada ponsel Dewi. Ia sibuk mengabadikan wanita itu yang tampak begitu antusias berpose di antara hamparan tanaman teh yang menghijau. Dewi tertawa riang, berputar-putar layaknya model profesional di depan kamera.

Setelah puas, Dewi turun ke jalan setapak dan mengambil ponselnya dari tangan Azizah untuk memeriksa hasil jepretan wanita itu.

“Wah, Zah! Kamu pintar sekali mengambil sudut pandang foto. Hasilnya bagus sekali, tidak ada yang miring atau buram,” puji Dewi dengan nada kagum.

Azizah tersenyum tipis. Ia menggerakkan tangannya.

‘Dulu saat masih sekolah, aku sering dipercaya teman-teman sebagai tim dokumentasi untuk acara-acara sekolah.’

Dewi mengangguk mengerti, merasa bangga pada keponakannya yang multitalenta, “Pantas saja. Bakatmu terbuang kalau cuma untuk memotret pemandangan, Zah. Sekarang giliranmu, sini ponselnya biar kupotret.”

Azizah refleks menggeleng, wajahnya memerah karena canggung.

‘Tidak usah, Bi. Aku tidak terbiasa berpose di depan kamera. Lagipula, aku tidak membawa ponselku sendiri.’

“Justru karena kau tidak punya ponsel yang kameranya bagus, harus pakai ponselku ini. Hasilnya jauh lebih tajam daripada ponselmu yang sudah buram itu. Ayo, jangan menolak!” Dewi memaksa dengan gemas.

Azizah akhirnya menurut. Ia berdiri kaku di tengah hamparan teh, tangannya menggantung di samping tubuh dengan posisi lurus dan wajah datar seperti patung.

Dewi yang melihat itu sontak berdecak kesal, “Astaga, Azizah! Jangan kaku begitu! Senyum sedikit, miringkan kepalamu, atau gerakkan sedikit bahumu!”

Azizah kembali menurut, kali ini ia mengikuti setiap petunjuk pose yang diberikan Dewi dengan kaku namun telaten. Dewi kembali mengecek layar ponselnya, dan seketika ia terpaku takjub. Di balik kamera, Azizah tampak begitu anggun dan memukau.

“Ya ampun, Zah...” Dewi menatap layar ponselnya lalu beralih ke Azizah, “Kau tidak hanya jago memotret, tapi kamu juga sangat cocok menjadi model. Lihat ini, tinggi semampaimu dan postur tubuhmu ini sangat fotogenik. Kalau kamu di kota nanti, majikanku pasti senang melihatmu!”

Azizah tersenyum malu hingga menundukkan kepala. Jemarinya bergerak malu-malu.

‘Bibi ada-ada saja, aku kan hanya wanita desa biasa.’

Dewi hanya terkekeh, membayangkan masa depan cerah yang mungkin akan menghampiri wanita itu di kota nanti.

Mereka berdua larut dalam kebersamaan, sibuk berkeliling menyusuri sudut-sudut desa yang penuh kenangan sampai akhirnya gema azan zuhur berkumandang dari pengeras suara masjid. Suara panggilan salat yang sahut-menyahut itu membuat mereka tersadar bahwa hari sudah siang. Mendengar waktu azan telah tiba, mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Lagipula, Azizah yakin Laksmi pasti sudah berada di rumah, karena biasanya waktu bekerja sebagai buruh di ladang tetangga hanya berlangsung setengah hari, dari pagi hingga menjelang zuhur.

Sesampainya mereka di pelataran pekarangan yang menyatukan kedua rumah itu, Dewi menghentikan langkahnya di dekat gerbang bambu.

“Zah, Bibi langsung masuk ke rumah ya, mau bersiap salat zuhur juga,” pamit Dewi. Ia menatap Azizah dengan pandangan hangat dan penuh rasa syukur, “Terima kasih banyak ya untuk hari ini. Kau sudah dengan sukarela dan sabar sekali menemani Bibi bernostalgia keliling desa.”

Azizah tersenyum manis, raut wajahnya tampak begitu ceria setelah seharian melepas penat. Jemarinya bergerak lincah membentuk gerakan isyarat.

‘Sama-sama, Bi. Aku yang justru harus berterima kasih banyak pada Bibi atas info tawaran pekerjaan di kota itu. Lagipula, aku juga sangat senang bisa berkeliling desa hari ini. Kalau biasanya aku hanya jalan sendirian, hari ini rasanya seru sekali karena ada Bibi yang bisa kuajak bicara.’

Dewi mengangguk paham, hatinya tersentuh mendengar penuturan polos keponakannya yang selama ini mungkin sering merasa kesepian di desa karena keterbatasannya.

“Iya, Zah. Ya sudah, Bibi masuk dulu ya. Dah, Azizah!” Dewi melambaikan tangannya dengan ceria, lalu membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Begitu pula dengan Azizah. Sambil membawa kunci yang sejak pagi melingkar di pergelangan tangannya, ia berjalan menuju pintu rumah sederhananya.

Saat sedang memutar anak kunci di lubang pintu, suara langkah kaki di atas kerikil membuat Azizah menoleh. Di ujung pelataran, Laksmi baru saja berjalan masuk melewati pagar bambu dengan topi caping yang sudah dilepas dan digenggam di tangannya. Wajah tua itu tampak agak kelelahan setelah setengah hari berada di bawah terik matahari.

“Zah, kau juga baru pulang? Dari mana?” panggil Laksmi sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung jilbab.

Azizah tersenyum menyambut kedatangan sang nenek. Jemarinya bergerak cepat.

‘Aku baru saja menemani Bibi Dewi berjalan-jalan keliling desa.’

Setelah itu, Azizah membuka daun pintu rumah mereka lebar-lebar, lalu dengan penuh kasih sayang merangkul bahu ringkih Laksmi untuk mengajaknya masuk ke dalam agar bisa segera melepas lelah.

Begitu berada di dalam kesejukan rumah, Azizah menatap neneknya kembali dan menggerakkan tangan.

‘Aku akan membuatkan teh untuk Nenek.’

Namun Laksmi menggeleng pelan sambil mengibaskan capingnya, “Tidak usah teh, Zah. Nenek sedang haus sekali, ambilkan air putih saja di dapur.”

Azizah mengangguk patuh. Sebelum melangkah, ia meminta sang nenek untuk duduk beristirahat terlebih dahulu di kursi kayu ruang tamu. Setelah memastikan neneknya duduk dengan nyaman, Azizah langsung berbalik menuju dapur untuk mengambilkan air minum yang diminta.

Setelah menuangkan air putih dingin ke dalam gelas kaca, Azizah tidak langsung melangkah kembali ke ruang tamu. Ia berdiri mematung di ambang batas antara dapur dan ruang tengah sambil meremas gelas di genggamannya. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa ragu dan takut seketika menyergap. Ia bingung harus menyusun kata dan bujukan seperti apa lagi agar tidak kembali melukai hati sang nenek.

Namun bayangan punggung ringkih Laksmi yang membungkuk di ladang tetangga mendadak melintas di benaknya. Tekadnya kembali menebal.

Azizah menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum terbaiknya, lalu melangkah ke ruang tamu. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kayu, tepat di hadapan Laksmi yang sedang memijat kaki kirinya yang tampak kaku.

Begitu Laksmi selesai meneguk air putihnya hingga tandas, Azizah langsung mengambil posisi berlutut di lantai, tepat di depan lutut sang nenek. Ia mendongak, menatap lekat sepasang mata tua yang sarat akan gurat keletihan itu. Jemarinya mulai bergerak, perlahan namun sarat akan ketulusan yang mendalam.

‘Nek, restui Azizah pergi,’ isyarat Azizah, matanya mulai berkaca-kaca, ‘Azizah janji akan menjaga diri dengan baik di sana. Majikan Bibi Dewi orang baik, mereka tidak mempermasalahkan kondisi Azizah. Ini kesempatan buat Azizah untuk bisa mengubah kondisi hidup kita dan memastikan Nenek tidak perlu bekerja lagi di usia senja. Izinkan Azizah berbakti, Nek. Tolong percaya pada Azizah.’

Laksmi terpaku. Ia menatap gerakan tangan cucunya yang bergetar hebat, lalu beralih menatap sepasang mata jernih yang memancarkan kesungguhan luar biasa. Ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan detak jam dinding tua yang usang.

Melihat keteguhan hati sang cucu yang tidak tergoyahkan sejak subuh tadi, pertahanan terakhir di hati Laksmi akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia menyadari, ia tidak bisa terus-menerus mengurung Azizah di desa ini hanya karena ketakutannya sendiri.

Laksmi menghela napas panjang yang terasa sangat berat, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengusap pipi Azizah yang mulai basah oleh air mata.

“Baiklah, Nak... Nenek izinkan kau pergi ke kota,” ucap Laksmi dengan suara yang parau.

Mata Azizah seketika membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Tapi ada satu syarat yang tidak boleh kau langgar,” lanjut Nenek Laksmi, menatap cucunya dengan tatapan yang sangat tegas namun penuh kasih, “Kau harus rutin mengabari Nenek tentang keadaanmu di sana. Jangan pernah menyembunyikan apa pun. Setiap minggu, kau atau bibimu harus menelepon ke sini agar Nenek tahu kau baik-baik saja. Kalau kau melanggarnya, Nenek akan menjemputmu pulang saat itu juga.”

Azizah mengangguk dengan sangat antusias. Air mata bahagianya tumpah tidak terbendung. Ia merasa begitu terharu dan bersyukur karena impian mulianya akhirnya mendapatkan restu paling berharga dalam hidupnya.

Tanpa membuang waktu, Azizah langsung menghambur ke dalam dekapan sang nenek. Ia memeluk erat tubuh tua yang selalu menjadi pelindungnya itu. Laksmi pun balas mendekap cucu semata wayangnya tidak kalah erat. Di ruang tamu yang sederhana itu, keduanya larut dalam keheningan yang pecah oleh suara isak tangis, saling menukar air mata perpisahan sekaligus harapan baru demi masa depan yang lebih baik.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!