Indonesia
NovelToon NovelToon

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Bab 01: Kabur Saat Meeting

Lampu-lampu restoran malam itu memantul di halaman. Angin lembut membawa hawa dingin yang menusuk kulit.

Veyra melangkah masuk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin malam Jakarta.

"Mas Al belum selesai kayaknya," ucapnya pelan.

Tangannya mendorong pintu restoran, suara piano langsung menyambutnya pelan. Matanya menyapu sekitar, mencari kursi kosong.

Laki-laki yang sedang ia cari sekarang masih berada di ruang VIP bersama beberapa klient asing dengan setumpuk dokumen dan laptop di atas meja.

Veyra menghela napas kecil. "Belum selesai rupanya."

Saat Veyra hendak mengirim pesan untuk suaminya, seseorang tiba-tiba menarik kursi di depannya.

"Kalau langsung manyun kayak gitu, nanti orang mikir kamu lagi galau."

Veyra langsung menoleh. Regan. Lelaki itu duduk di depannya dengan senyum khas yang selalu lebar.

"Kamu ngaggetin." Veyra tersenyum tipis.

"Bagus. Berarti aku punya bakat jadi hantu."

Veyra terkekeh. Regan memang seperti itu, selalu ceria dan mudah akrab. Bahkan hampir semua karyawan di perusahaannya dekat dengan dia.

Entah kenapa, rasa canggung itu seolah tidak pernah ada saat bersama Regan.

"Alvero masih belum selesai?" tanya Veyra sambil melirik ke ruang VIP.

Regan ikut melihat ke arah yang sama, lalu mengangguk. "Kayaknya masih lama."

"Ya udah deh... aku tunggu aja."

"Yakin?" Regan meyakinkan perempuan di depannya. "Masih lama lho, nggak mau pulang aja?"

Veyra menggeleng. "Nggak, terlanjur di sini juga."

"Kalau mau pulang, biar aku antar." Tawar Regan sambil menatapnya lama.

Veyra kembali menggeleng. Sementara Regan hanya mengangguk.

Cukup lama mereka hanya diam. Regan memperhatikan wajah bosan Veyra beberapa detik sebelum akhirnya menjentikkan jarinya pelan.

"Daripada bengong, keliling mau?"

"Hah?" Veyra mengernyit.

"Ada taman di belakang restoran. Lumayan buat bunuh bosan." Regan menaik-turunkan alisnya beberapa kali.

Veyra ragu sesaat.

Namun sebelum ia menjawab, Regan sudah bangun lebih dulu sambil merapikan kemejanya.

"Ayo. Daripada nanti pingsan nunggu Pak Direktur tercinta."

Veyra mendengus tapi juga tertawa kecil. Akhirnya, Veyra ikut bangun. Mengikuti langkah Regan yang sudah berjalan lebih dulu.

Lampu-lampu gantung kecil menghiasi jalan setapak di sekitar air mancur belakang restoran.

Sekarang Regan berjalan santai di sisi Veyra, sambil menceritakan hal random yang bahkan tidak penting.

"Vey, kamu tahu nggak, Alvero pernah ketiduran waktu meeting," celetuk Regan lagi.

"Terus?" tanya Veyra sambil menoleh.

"Gak aku bangunin. Tapi... aku juga ikut tidur..."

"Serius? Sumpah ya, gak guna banget," potong Veyra cepat, lalu ia ketawa sedikit kencang.

Tatapan Regan jatuh lama ke wajah Veyra yang kini penuh tawa, padahal tadi hanya ditekuk yang membuat bibirnya manyun.

Ada rasa hangat menyelinap ke dada Regan. Dia merasa berhasil menghilangkan rasa bosan pada Veyra. Tatapannya semakin dalam, semakin lembut.

Veyra membalas tatapan Regan sebentar. "Kenapa kamu ikutan tidur juga?"

"Yaa... biar suamimu gak ditegur sendirian. Gimana?"

"Gimana apanya?"

"Baik, kan aku?"

Veyra terkekeh. "Nggak," jawabnya cepat.

Regan tertawa kecil, lalu ia memasukan tangannya ke kolam kecil yang ada di sana. Dan dengan sengaja, airnya dicipratkan ke arah Veyra.

"Regan!" Veyra berteriak kecil.

Bukannya berhenti, Regan justru semakin menjadi. "Rasain!"

"Regan awas, ya. Aku balas." kini Veyra ikut memainkan air kolam dari air mancur.

Regan menghindar dengan cepat, tapi Veyra mengejarnya.

"Ampun!" Teriak Regan dramatis.

Veyra akhirnya berhenti, tawanya lepas saat melihat Regan berlari menjauh darinya.

Dari kejauhan, langkah Alvero seketika melambat, ada senyum kecil yang tiba-tiba muncul di wajahnya saat melihat tingkah istri dan rekannnya.

Alvero tidak merasa cemburu, karena ia tahu Regan bersikap seperti itu bukan pada Veyra saja. Jadi Alvero tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Vey," panggilnya.

Veyra langsung menoleh, senyumnya semakin lebar. Ia berlari kecil menghampiri Alvero.

"Mas, udahan meetingnya?" tanya Veyra dengan binar bahagia di matanya.

Alvero mengangguk, tangannya melingkar ke pinggang Veyra. Lalu, mencium lembut pucuk kepala istrinya.

"Dari tadi nunggu?" tanya Alvero.

"Iya, tadi sempat bosen. Untung ada Regan." Veyra menjawab dengan nada sedikit merengek.

"Mas kan udah bilang, kamu nggak perlu nyusul ke sini. Kasihan Renzio ditinggalin."

"Aku udah ajak, tapi dia mau main sama Omanya." Veyra sedikit mendongak, menatap wajah suaminya.

Alvero menggenggam tangan Veyra, mereka mendekati Regan yang masih berdiri di dekat air mancur.

Sisa tawa masih ada di wajahnya, rambut berantakan dan sedikit basah karena cipratan air.

"Udah beres kan?" tanya Regan santai, seolah kerjaan barusan tidak ada sangkutan dengan dirinya.

Alvero mendengus. "Ini harusnya tugas kamu, Regan."

Regan hanya tertawa kecil. Meeting malam ini sebenarnya tugas Regan. Dia meminta Alvero untuk menenmani, namun saat pertengahan meeting, Regan pergi dengan alasan mengambil barang di mobil.

Regan Han Sebastian. Anak tunggal dari Raymond Han Sebastian, pengusaha asal Singapura yang memiliki beberapa perusahaan di Indonesia. Dan paling mencolok adalah perusahaan Reimore Group.

Perusahaan itu berkembang pesat yang menaungi hotel berbintang, kawasan properti elite, serta investasi internasional yang tersebar di berbagai negara.

Karena itulah, Raymond mempercayakan posisi Direktur Operasional kepada Ardion Halim, orang yang dianggapnya lebih dari sekedar rekan bisnis.

Sementara Alvero Halim Winata, putra Ardion, memegang jabatan Direktur Keuangan.

"Aku kesini cuma untuk belajar dari kamu, kenapa harus ikut meeting." Ucapnya dengan ekspresi santai.

"Justru itu, kamu harus..."

Regan menaruh jari telunjuk di bibir Alvero. "Diem! Aku malas jika harus meeting, Alvero. Itu sangat membosankan."

Alvero menepis tangan Regan. Ia mendecak.

Regan tersenyum miring. "Emangnya... kamu mau jabatannya beralih ke aku?"

"Alihkan saja kalau Tuan Raymond setuju," jawab Alvero sambil pergi.

"Al, istrimu ketinggalan!" Teriak Regan. Lalu, ia meraih tangan Veyra dan menariknya pergi dari sana.

Alvero berbalik. "Regan, lepas!" teriaknya.

"Jangan banyak tingkah, aku harus cepet pulang. Kasihan anakku pasti nunggu." Omel Veyra, sambil membuka paksa tangannya dari genggaman Regan.

Regan akhirnya melepaskan tangan Veyra. Dia nyengir lebar, lalu dadah-dadah dengan ekspresi jahil.

Veyra mendelik geli, tapi juga tertawa. "Kalau bukan Regan, males aku ketemu lagi." Katanya.

"Hm," balas Alvero cepat.

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil. Mesin mobil meraung halus, meninggalkan halaman restoran yang perlahan mulai ramai.

Sementara Regan kembali masuk ke restoran, memesan beberapa makanan dan minuman.

"Rencananya kabur dari meeting tuh mau makan. Malah ketemu Veyra yang lagi bosen," gumamnya sambil mengunyah.

Regan menyendok makanan dengan pura-pura gemetar, lalu merekamnya hanya untuk dikirim kepada Raymond.

'Dadyyy, aku meeting sampai kelaperan.'

Regan tertawa sendiri, lalu kembali makan dengan santai. Tanpa memikirkan beban apapun, apalagi beban perusahaan yang ditanggung, Ardion.

Raymond sengaja mengirim Regan ke Indonesia, bukan tanpa alasan. Raymond rasa, kalau Regan belajar dari Alvero dia tidak akan sungkan. Karena Alvero seumuran dengannya.

Tapi semua ini malah membuat Alvero kewalahan, Regan kadang terlalu banyak bercanda untuk orang-orang perusahaan yang selalu serius.

Bab 02: Keluarga Ardion

Pagi di kediaman keluarga Ardion selalu dimulai suara kecil yang berlarian kesana kemari.

"Opaa pegi mana?" celetoh anak laki-laki berusia dua tahun.

"Opa mau pamit duluan, ya. Di kantor banyak kerjaan," jawab Ardion sambil menggendong cucunya.

"Keja, keja!"

Suara cempreng Renzino dari ruang makan.

Veyra baru saja turun dari tangga, lalu di susul Renzio yang memeluk kakinya.

"Mama!"

Veyra terkekeh kecil lalu mengangkat tubuh kecil putranya.

"Vey, Papa berangkat ya." Pamit Ardion sambil keluar dari ruang makan.

"Iya, Pah. Hati-hati." Jawab Veyra.

Tatapan Veyra langsung jatuh ke Renzio, ia menciumnya beberapa kali.

"Zio belum mandi ya?"

Anak kecil itu langsung menggeleng cepat sambil menyembunyikan wajah di leher ibunya.

"Gak mau ama, Mbak..."

"Terus maunya sama siapa?"

"Ama Papa."

Baru saja kalimat itu selesai... seseorang muncul dari arah ruang kerja sambil menggulung lengan kemeja putihnya.

"Siapa yang nyari Papa?"

Renzio langsung tertawa kecil. "Papaa!"

Alvero membawa anaknya dari pangkuan Veyra. Mengecup pipi anak itu berkali-kali sampai Renzio tertawa geli.

Veyra memperhatikan itu sambil tersenyum kecil. Pemandangan ini sudah menjadi favoritnya setiap pagi.

"Katanya gak mau mandi kalau sama, Mbak. Maunya sama Papa," ujar Veyra.

Alvero langsung mengangguk serius. "Oke, sebelum Papa berangkat. Papa siap bertugas memandikan Tuan muda."

Renzio tertawa sedikit lebih keras. "Papa ucuuu!"

"Papa emang lucu."

"Nggak," sahut Veyra cepat. "Papa kamu nyebelin."

"Loh..."

Belum sempat Alvero membela diri, suara Serena langsung terdengar dari arah dapur.

"Jangan ribut pagi-pagi. Mama pusing dengernya."

Serena tersenyum hangat sambil membawa sarapan ke meja makan. Tatapan wanita paruh baya itu jatuh pada Veyra beberapa detik. Ada lingkar hitam halus di kantung mata menantunya.

"Semalam kurang tidur lagi ya?"

Veyra mengangguk sambil tersenyum kecil. "Zio bangun jam dua pagi." Bibir Veyra seketika mengerucut.

"Zio kenapa bobonya gak nyenyak? Kasihan Mamanya jadi kurang tidur."

Renzio hanya menggeleng. Seolah memberi jawaban tidak tahu.

Setelah itu, Alvero pergi sambil membawa Renzio untuk dimandikan. Veyra dan Serena sarapan lebih dulu.

Suasana pagi hari di rumah itu selalu hangat, dipenuhi tawa dan ocehan dari Renzio. Bahkan semuanya terasa begitu tenang dan damai.

Serena yang tak banyak menghakimi atau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Justru, dia selalu memperhatikan kesehatan Veyra. Selalu memastikan Veyra tidur nyenyak, makan lahap, dan tidak kecapean dalam hal apapun.

Dan bagi Veyra, itu semua adalah keberuntungan yang berhasil ia dapatkan. Memiliki ibu mertua seperti Serena, dan suami yang penuh kasih sayang, tanggung jawab seperti Alvero.

Di luar, matahari mulai naik ke tengah langit. Membuat hawa panas yang bikin gerah. Kontras dengan suasana di dalam kantor yang terasa sejuk karena pendingin ruangan.

Dari lorong menuju ruangan Alvero, Regan menenteng dua kantong cukup penuh. Wajahnya selalu tersenyum. Selalu menyapa siapapun yang berpapasan dengannya.

Di depan pintu, Regan menaruh satu kantong. Lalu mengetuk pintu.

"Alvero, buka pintunya!"

Sementara di dalam ruangan, Alvero mendengar samar suara yang begitu ia kenal. Tapi ia tak langsung membuka pintu, membiarkannya cukup lama.

Suara ketukan terus berlanjut, bahkan sekarang ketukan itu tanpa jeda. Membuat Alvero menarik napas, lalu menahannya sebentar.

"Ada apa lagi?" gumamnya sambil menutup telinganya.

Semakin dibiarkan, semakin kencang juga ketukannya. Membuat Alvero akhirnya membuka pintu.

Ia mematung satu detik, satu tangan dimasukan ke saku. Matanya menatap Regan dengan pasrah.

"Apa tidak ada tempat makan yang nyaman selain di ruanganku?"

Regan nyengir lebar. Lalu menggeleng cepat. "Tidak ada. Ruangan ini bahkan lebih nyaman dari hotel berbintang delapan."

Ia meraih satu kantong, lalu menerobos masuk. Alvero memijat pelipisnya. Ia kembali menutup pintu, dan duduk di kursinya.

Regan tengah sibuk menata makanan di atas meja. Dua burger, satu kentang goreng berukuran besar. Dua kotak pastry, rice bowl Jepang dan donat campur seabrek.

Dua iced americano, satunya. Ia simpan di meja kerja Alvero.

"Kalau kamu mati gara-gara ngurus laporan keuangan. Dady bisa marah besar."

Alvero menatap kopi itu, tatapannya kini mengikuti langkah Regan yang duduk di sofa dengan santai.

Aroma makanan di atas meja langsung menusuk ke penciuman Alvero. Yang berhasil mengundang rasa lapar.

"Kenapa cuma bengong? Kamu nggak ngiler?" tanya Regan dengan mulut penuh burger.

Alvero akhirnya tersenyum kecil, ia ikut duduk di sebelah Regan. Dan ikut menikmati makanan yang Regan bawa.

Itu bukan pertama kalinya Regan membawa makanan seabrek. Sering juga, Regan traktir seluruh karyawan kantor.

Dan itu jadi salah satu alasan, kenapa para karyawan menyukainya.

"Regan, kamu lupa? Tuan Raymond mengirimmu kesini untuk belajar, bukan untuk liburan!"

"Aku selalu ingat, Pak Direktur. Nanti aku akan belajar, sekarang makan dulu."

Mendengar jawaban Regan, Alvero hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

Setelah menghabiskan satu burger dan satu kotak pastry. Alvero kembali duduk di kursi kerjanya.

Ia menatap Regan sejenak. "Kalau tidak ingin aku usir, jangan ganggu. Kerjaanku masih banyak."

"Apakah sebanyak uangku yang tidak akan habis, Al?"

Alvero terkekeh, tak menjawab ocehan Regan yang mulai ngawur. Jemarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard.

Beberapa menit, Regan nurut. Duduk diam dan hanya memainkan ponsel. Tapi semua itu tidak bertahan sampai satu jam.

Regan bangun dari duduknya, awalnya hanya berdiri di belakang Alvero. Memainkan rambutnya, niup lehernya, sampai akhirnya memutar kursi kerja yang diduduki Alvero. Membuat tubuh Alvero ikut berputar.

"Regan, diem!" bentak Alvero.

"Di ruangan ini terlalu kaku, Al. Apa kamu tidak bosan hanya berhadapan dengan laptop saja?"

Bukannya diam, Regan malah beralih ke samping meja. Menatap layar laptop dari jarak dekat.

"Al, kenapa kopinya belum kamu minum?" Regan mengangkat iced americano.

"Awas tumpah!" Kata Alvaro tanpa menoleh.

Regan mengangguk, kembali menyimpan minuman itu. Ia hendak kembali ke sofa, tapi entah bagaimana bisa tangannya menyenggol cup minuman itu.

Cairan kopi dingin meluber di atas meja, Alvero refleks angkat laptopnya. Regan mematung dengan mulut terbuka.

"Regan!" teriak Alvero. Matanya terbelalak saat melihat map merah sudah basah kuyup.

"Keluar!!" Alvero nunjuk ke arah pintu.

"Al, aku nggak sengaja." Regan nyengir kikuk.

"Aku udah bilang, Regan. Kalau mau di sini jangan ganggu. Berkas itu untuk meeting besok sore."

Alvero mengangkat berkas itu yang sekarang sudah bau kopi.

"Malam ini kamu lembur, tanggung jawab. Catat ulang semua isinya."

Regan membuang napas pasrah. "Kenapa gak di fotocopy aja?"

Alvero mendecak. "Hasilnya gak akan sebagus di print langsung, Regan."

Tatapan Alvero berubah kesal, ingin rasanya dia marah. Memaki-maki pria di dekatnya. Tapi kenyataan menyadarkan Alvero. Regan anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja sekarang.

Bab 03: Anak Spesial

Langit sudah mulai abu-abu tua, langkah orang-orang bersahutan dengan suara mesin mobil di area parkiran kantor.

"Aku minta Kamu buat tanggung jawab, Regan." Alvero berdiri dekat pintu mobil miliknya.

"Iya, akan aku catat ulang semua isi berkas itu." Jawab Regan santai, tubuhnya bersandar ke mobil.

Alvero tak langsung menjawab, ia menatap Regan dengan sorot yang sudah lelah. "Terus... kenapa kamu mengikutiku?"

Regan nyengir kecil, tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Aku gak mau lembur di kantor."

Alis Alvero bertaut, seolah menunggu kelanjutan ucapan rekan kerjanya itu. Lebih tepatnya, calon CEO yang lagi malas-malasan mengurus perusahaannya.

Regan menghela napas. "Kalau di rumahmu bagaimana, Al?"

Alvero terkekeh getir, pundaknya terasa berat. Aroma knalpot dan suara klakson membuat kepalanya semakin pening. Apalagi harus menghadapi Regan yang menyebalkan.

"Tidak mau gak papa," lanjut Regan. "Aku gak akan mengerjakannya sama sekali. Meeting besok urusanmu." Regan pergi dari hadapan Alvero. Tapi langkahnya dibuat lambat.

"Oke!"

Sesuai harapan Regan, suara Alvero kini menghentikannya. Regan langsung berbalik, alisnya mengernyit. "Kenapa gak dari tadi, Pak Direktur."

Regan langsung masuk ke kursi belakang. Sementara Alvero memijat pelan pelipisnya, sebelum duduk di kursi kemudi.

Jalanan menjelang malam kota Jakarta sedikit macet. Di dalam mobil, Regan duduk bersandar, tangan melingkar depan dada. Sementara Alvero meliriknya sesekali melalui kaca di depannya.

"Al, di supermarket depan berhenti dulu. Aku butuh banyak makanan." Ucapnya pelan.

Alvero hanya mendengus. Ia rasa hari ini Regan sangat menyebalkan. Ingin sesekali menghindarinya, tapi tak bisa. Semesta seolah sengaja mengirim Regan, untuk Alvero yang selalu serius bekerja.

Walaupun begitu, Alvero tetap menuruti apa yang Regan minta. Ia menepikan mobilnya di depan supermarket, mobil berhenti tapi mesin masih menyala.

"Regan, jangan lama-lama. Aku udah mau istirahat."

"Iya bawel," jawab Regan sambil keluar dari dalam mobil.

Setelah dipastikan Regan sudah jauh, Alvero menyalakan musik dari speaker mobil. Tubuhnya bersandar. Tangannya melingkar depan dada. Lalu, ia memejamkan matanya. Tidak ingin menyia-nyiakan kepergian Regan yang hanya sesaat itu, untuk merasa sedikit lebih tenang.

Sudah hampir dua puluh menit Regan pergi, sekarang dia kembali. Membuka pintu mobil, memasukan dua totebag yang isinya penuh makanan. Lalu, disusul dirinya.

"Udah, ayok jalan."

Tak ada reaksi. Tak ada jawaban. Kepala Regan nyembul dari belakang, menolah ke Alvero yang sudah tertidur lelap. Helaan napasnya terdengar stabil.

"Kasihan sekali kamu, Al," gumamnya. "Tapi gimana caranya aku mengambil alih stir, kalau kamu tidur di sana."

"Alvero," bisik Regan pelan.

Tangan Regan kini terulur ke atas stir mobil, lalu... Tiinn!!!

Suara klakson begitu nyaring, membuat Alvero terlonjak, ia reflek menginjak rem dan meraih stir. Napasnya terengah-engah.

Satu detik. Akhirnya Alvero ingat, dia langsung menoleh ke sampingnya. Regan sudah nyengir lebar, sekaligus menahan tawa agar tidak pecah. Alvero menghela napas panjang, campuran antara lega sekaligus kesal setengah mati.

"Kamu gak bisa bangunin dengan cara normal, Regan?" Suara Alvero sedikit meninggi. Matanya merah.

Melihat tatapan Alvero, senyum Regan langsung lenyap. Bibirnya mengatup rapat. "Maaf," katanya lirih. "Harusnya aku tidak bercanda saat kamu istirahat."

Melihat sorot mata Regan yang bersalah, Alvero hanya mengangguk. Lalu kembali melajukan mobilnya.

"Alvero, coba makan ini." Regan memberikan permen cokelat kecil. "Aku benar-benar minta maaf."

"Sudahlah. Aku juga salah tidur di mobil," jawab Alvero. Matanya melihat Regan dari kaca di depannya.

Alvero menggeleng, ia tahu Regan seusia dengannya. Tapi kenapa tingkah laku Regan seperti anak yang jauh lebih muda darinya. Alvero menatap Regan lagi, ada beberapa pertanyaan yang terbesit di kepalanya. 'Apakah anak remaja bertingkah seperti Regan? Atau jangan-jangan... Regan anak spesial?'

Ia cepat-cepat sadar. Tangannya pura-pura mengusap hidung, hanya untuk menutupi senyum tipis yang muncul.

Setelah beberapa menit, mobil Alvero masuk ke satu halaman rumah mewah. Lampu teras sudah menyala.

Alvero turun lebih dulu, lalu di susul Regan. Kedua tangannya heboh dengan tentengan yang ia bawa.

"Al, kamu gak punya inisiatif buat bantu aku?" Teriak kecil Regan.

Alvero berbalik sebentar. "Aku gak nyuruh kamu bawa makanan."

Regan mendecak, tatapannya berubah sinis. "Buat jagoan kecil aku lah."

Alvero membuka pintu pelan, aroma lavender yang khas di ruang tamu langsung menyambutnya. Regan mengekor di belakangnya.

"Zioo, Om Egan datang!" Suara Regan memenuhi ruangan. Jalannya cepat, mendahului langkah Alvero.

Begitu Regan muncul dari ruang tamu, semua mata langsung menoleh. Suara siaran anak-anak di televisi memenuhi ruang keluarga. Renzio langsung bangun, berlari kecil memeluk kaki Regan.

"Om Egan, bawa apa?" Celetoh anak laki-laki itu.

Regan langsung jongkok, tangannya mencubit gemas pipi gembul Renzio.

"Om bawain cemilan buat kamu," jawab Regan dengan senyum lebarnya, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Renzio. "Sama bawain mainan juga." Bisiknya, seolah menjaga rahasia.

"Mainan, mana? Aku mauu," Renzio melompat kecil.

Alvero masih berdiri di belakang Regan, seperti menunggu sebutan Renzio selanjutnya. Tapi tak ada, anak itu hanya fokus pada Regan sekarang.

"Zio, Papa dibiarin, nih?" tanya Alvero akhirnya.

Renzio mendongak. "Papa," katanya singkat.

"Regan, bawain mainan lagi?" Tanya Serena sambil mendekat.

"Iya Tante, cuma mobil-mobilan kecil kok." Regan kembali berdiri, setelah memberikan satu mobil kecil ke Renzino.

Setelah menerima mainan, Renzio kembali berlari menghampiri Veyra yang duduk di sofa.

"Ayok duduk," ajak Serena.

"Mau ngopi?" Tawar Ardion yang dari tadi hanya diam.

"Nanti aja, Om. Aku juga bawa banyak makanan buat temen nonton." Regan mengeluarkan semua makanan di dalam totebag.

Donat kecil karakter, dimsum mentai, chiken garage dan soft cafe caramel. Aromanya naik bercampur ke udara.

"Aku juga bawain dimsum mentai kesukaannya istri, Pak Direktur," kata Regan sambil mendongak menatap Alvero.

Alvero terkekeh. "Aku mandi dulu, udah lengket banget ini badan."

"Iya, Mas. Abis mandi makan ya." Veyra mengelus lengan suaminya.

Alvero tersenyum lembut, mengelus kepala Veyra sebelum akhirnya ia pergi ke kamarnya.

"Zio, makan donatnya sayang. Lucu kan, ada karakter princessmya tuh." Regan nunjuk ke salah satu donat.

Veyra menepis tangan Regan. "Enak aja, Zio itu cowok, mana ada suka princess."

Serena yang tengah mengunyah chiken garage langsung tertawa kecil, di susul tawa dari Ardion.

Ardion meraih satu cup soft cake caramel, begitu dibuka. Aroma itu seharusnya tercium menggiurkan. Tapi tidak untuk Veyra.

Aroma yang biasanya enak, kali ini seolah asing. Perutnya tiba-tiba melilit, rasa mual menjalar ke tenggorokannya.

Veyra berusaha menahan, wajahnya perlahan memucat. Regan yang duduk di sofa sebelahnya, langsung menyadari perubahan ekspresi pada Veyra.

"Vey, kamu baik-baik aja, kan?" Tanyanya, membuat Serena dan Ardion ikut menatap Veyra.

Veyra mengangguk, bibirnya dipaksa tersenyum. "Aku baik-baik aja..." Tapi begitu ia buka mulut, rasa mual itu justru semakin kuat. "Huweekk!!"

"Papa maaf," ucap Veyra sambil bangun dari duduknya, berlari cepat ke toilet.

Regan menatap lorong dapur, gerakan mengunyah seketika melambat, ada gurat khawatir halus di hatinya.

"Veyra kenapa?" gumamnya, tapi masih bisa di dengar.

"Kayaknya cuma masuk angin." Jawab Serena, walaupun sebenarnya ia juga merasa khawatir.

"Om, Mama, joyok. Mau muntah," celoteh Renzio sambil duduk di pangkuan Regan.

"Mama kamu lagi kurang enak badan." Regan terus mencium pucuk kepala anak itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!