Indonesia
NovelToon NovelToon

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan

Di antara ribuan dewa dan dewi yang menghuni Alam Dewa, ada satu nama yang tidak pernah diucapkan sembarangan. Tapi sayangnya itu bukanlah karena tabu, melainkan karena rasa hormat yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan nada biasa. Nama itu adalah Zhao Fei, Yang Mulia Petir Abadi.

Selama sepuluh ribu tahun, langit Alam Dewa menjadi miliknya. Petir biru yang memancar dari telapak tangannya mampu membelah awan sejauh mata memandang, menghancurkan benteng dalam satu denyutan. Ketika dia berjalan melewati aula besar perguruan, para murid yang berjumlah ratusan itu kompak menunduk, dan ketika namanya disebut dalam pertemuan para dewa, tidak ada yang berani merespons dengan nada datar. Bahkan dewa-dewi yang usianya hampir setara pun memilih memperhalus suara mereka.

Perguruan yang dia pimpin adalah yang terbesar. Ratusan murid tingkat atas menganggapnya langit kedua mereka. Ratusan selir yang tinggal di pavilion timur tak pernah berhenti bersyukur atas nasib mereka. Hidupnya, dari sudut pandang siapa pun, adalah kesempurnaan yang tidak perlu ditambah apa-apa lagi.

Kendati demikian, dari semua yang ada di sekelilingnya, hanya satu yang benar-benar dia percaya, dan namanya adalah Li Tianming.

Murid itu datang ketika masih kecil, hampir tak punya apa-apa. Zhao Fei yang membesarkannya, membimbingnya, mengajarkan setiap teknik kultivasi yang dimilikinya. Selama ribuan tahun, Li Tianming tumbuh menjadi murid paling berbakat dan paling setia yang pernah ada. Jika Zhao Fei adalah langit, maka Li Tianming adalah bintang yang paling dekat dengannya, yang selalu ada setiap kali matanya memandang ke atas.

Hari itu tidak ada yang istimewa.

Zhao Fei sedang duduk bersila di ruang pribadinya, tenggelam dalam kultivasi sore yang sudah menjadi rutinitas sejak berabad-abad lalu. Tidak ada pertempuran, ancaman, atau firasat apa pun yang mengganggu ketenangan pikirannya. Angin di luar jendela bertiup seperti biasa. Suara gemerisik daun bambu di taman terdengar seperti bisikan yang menenangkan.

Li Tianming masuk tanpa mengetuk pintu, seperti yang selalu dia lakukan karena memang sudah diberi izin bertahun-tahun lalu. Zhao Fei tidak membuka matanya saat berkata dengan tenang, "Duduk saja dulu. Aku hampir selesai."

Meski tidak ada jawaban, Zhao Fei tetap menganggap itu hal biasa. Li Tianming memang bukan orang yang banyak bicara.

Sampai sesuatu yang dingin menembus punggungnya.

Rasa sakitnya bukan seperti ditusuk benda biasa. Rasanya seperti ribuan serpihan es yang menerobos masuk ke dalam rongga dadanya sekaligus, menghancurkan apa pun yang mereka sentuh. Zhao Fei membuka matanya untuk menatap ke depan, ke arah dinding ruangan yang tiba-tiba tampak asing, seolah baru pertama kali dia melihatnya.

Perlahan, dia menoleh ke belakang.

Li Tianming berdiri di sana dengan ekspresi hampa. Sementara belati di tangannya masih menancap kuat.

"Ke-kenapa?" Suara Zhao Fei keluar lebih pelan dari yang dia inginkan.

Lalu Li Tianming menarik belatinya. Darah mengalir. Matanya menatap gurunya dengan sesuatu yang menyerupai permohonan, tapi tanpa air mata.

"Maafkan aku, Guru."

Hanya itu. Dua kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Seperti seseorang yang menutup buku setelah selesai membacanya, dingin dan tuntas.

Akhirnya Zhao Fei tumbang. Sepuluh ribu tahun berkultivasi, sepuluh ribu tahun berdiri di puncak, berakhir di sini. Di ruang pribadinya sendiri. Di tangan murid yang paling dia sayangi.

Kegelapan pun menyambutnya tanpa ada langit, bumi, tanpa adanya arah, selain genangan air tipis di bawah kakinya yang terasa nyata, memantulkan tidak ada apa pun. Zhao Fei berdiri di sana dengan napas yang entah masih ada entah tidak.

Lalu sebuah suara hadir dari mana-mana sekaligus, seperti udara yang tiba-tiba memutuskan untuk berbicara.

"Zhao Fei. Yang Mulia Petir Abadi."

Zhao Fei tidak menjawab segera. Dia menatap kegelapan di hadapannya dengan ekspresi yang selalu menjadi cirinya, tenang seperti danau sebelum badai yang tidak pernah benar-benar datang. "Apa yang terjadi padaku?"

"Hukum karma tidak buta," kata suara itu. "Pengkhianatan telah terjadi. Hutang darah telah tercatat. Kau mati dalam kondisi yang tidak sewajarnya."

"Lalu… apa maksudnya semua itu?"

"Maka kau diberi pilihan. Bukan karena kau layak dikasihani, melainkan karena keseimbangan menghendakinya." Suara itu berhenti beberapa hitungan jari. "Ada tubuh di dunia bawah. Seorang pemuda bernama Zhao Fei juga. Dia akan mati malam ini, dan rohmu bisa mengisinya."

Zhao Fei memejamkan matanya sebentar. "Bagaimana jika aku menolak?"

"Kau lenyap selamanya. Bahkan namamu tidak akan tersisa."

Tidak ada nada ancaman dalam kalimat itu selain pernyataan polos. Tapi justru karena itulah Zhao Fei tahu bahwa suara ini tidak sedang berbohong.

"Aku tidak punya pilihan lain," katanya setelah menimbang-nimbang. "Tidak."

Zhao Fei menghela napas. Sepuluh ribu tahun hidup telah mengajarinya satu hal, bahwa ada saatnya bertahan bukan berarti menang, melainkan hanya memastikan kau masih ada untuk bertarung di hari berikutnya.

"Baiklah kalau begitu."

Kesadarannya mulai pudar. Tapi sebelum sepenuhnya lenyap, suara itu menyampaikan satu kalimat terakhir yang terdengar seperti gema dari kedalaman yang tak terhingga.

"Jangan sia-siakan kesempatan ini."

Di pinggiran wilayah Klan Zhao, hidup seorang pemuda yang namanya hanya disebut orang-orang ketika ingin mencibir.

Zhao Fei berusia dua puluh tahun, tidak punya bakat kultivasi, tidak punya uang, tidak punya wajah yang membuat orang berpaling dua kali. Dia tumbuh besar di antara saudara-saudaranya yang menikah lebih dulu, sementara dia hanya bisa duduk di sudut pesta pernikahan mereka sambil mencoba sekeras mungkin agar tidak terlihat. Bahkan janda termiskin di kampung pun pernah menolaknya dengan alasan yang cukup untuk membuatnya tidak tidur seminggu.

Satu-satunya yang tidak memperlakukannya seperti sampah adalah ibunya yang bernama Ming Lianhua. Wanita empat puluh tujuh tahun yang sudah lama sakit-sakitan itu selalu menyiapkan nasi untuknya meski tubuhnya sendiri sering tidak kuat berdiri lama.

Ketika Ming Lianhua jatuh sakit lebih parah dari biasanya, Zhao Kun dan Zhao Jie datang menemui adik bungsu mereka dengan senyuman yang tidak pernah terlihat ramah.

"Sudah saatnya kau berguna untuk keluarga ini," kata Zhao Kun, menyerahkan selembar peta dengan tampilan seperti orang yang sedang beramal. "Di Hutan Terlarang ada bunga yang bisa menyembuhkan ibu. Lokasinya sudah kami tandai di kertas itu."

Zhao Jie menambahkan dengan nada yang terdengar tulus tapi terasa seperti menampar, "Masa iya kau mau biarkan ibu terus menderita?"

Zhao Fei yang bodoh dan polos itu mengambil peta tersebut tanpa curiga. Ditatapnya nama-nama tempat yang tertulis di sana. Lalu dia berangkat, karena baginya, tidak ada alasan lain yang lebih besar dari kesembuhan ibunya.

Tanpa sekalipun berpikiran jika peta itu palsu.

Di dalam Hutan Terlarang, tidak ada bunga. Yang ada hanya pohon-pohon gelap yang rapatnya seperti tembok penjara, dan aroma tanah basah yang menempel di setiap Langkah itu membuat dirinya tersesat dalam hitungan jam. Langkah kakinya makin berat, makin tidak yakin.

Hingga kemudian datanglah seekor makhluk rendahan yang bahkan tidak punya nama khusus di dalam naskah kultivasi mana pun. Tapi cukup untuk mengakhiri hidup seorang pemuda yang tidak punya pertahanan apa pun. Cakar beruang berkulit batu itu menembus dada Zhao Fei dengan mudah, seperti menembus kertas.

Zhao Fei jatuh ke tanah, diikuti darah yang mengalir hangat di bawah punggungnya. Sementara langit di atas Hutan Terlarang terlihat jauh sekali, saat napasnya makin pendek.

"Ibu… maafkan aku," bisiknya kepada langit yang tidak menjawab. "Anakmu telah gagal."

Matanya terpejam.

Tepat pada saat jantungnya berhenti, sesuatu menyambar dari langit.

Cahaya petir emas yang tidak seharusnya ada di tempat ini, tidak ada awan, apalagi hujan, turun lurus menghantam tubuh yang sudah tak bernyawa itu.

Kemudian mata Zhao Fei terbelalak.

Tapi bukan mata pemuda bodoh yang dulu. Yang ada di dalam mata itu sekarang adalah kedalaman sepuluh ribu tahun, ketenangan seorang dewa yang sudah melihat terlalu banyak untuk merasa takut pada hal-hal kecil.

Dadanya berlubang. Tubuh ini sakit luar biasa, seperti mengenakan baju yang tiga ukuran terlalu kecil. Tapi dia masih hidup.

Zhao Fei memandang tangannya sendiri dengan perasaan asing yang aneh. Kurus. Kotor. Penuh luka. Tangan seorang pemuda miskin yang tidak pernah menyentuh teknik kultivasi apa pun, alih-alih tangan dewa.

Jadi ini dunia bawah. Pikirannya bekerja untuk menyesuaikan diri. Dan tubuh ini rupanya baru saja mati.

Monster di depannya masih berdiri, bingung melihat mangsanya bangkit.

Zhao Fei menatap makhluk itu dengan tatapan datar. Lalu dia mengepalkan tangan kanannya. Kekuatannya tidak ada seperempat dari yang dulu. Bahkan seperseribu pun belum tentu. Tapi di ujung jarinya, petir biru menyala, berkedip seperti nyala lilin di tengah angin dan meledakkan binatang buas itu dalam satu kali serangan.

"Aku tidak tahu di mana aku berada," katanya kepada dirinya sendiri, suaranya serak karena tubuh ini belum terbiasa dengan penghuninya yang baru. "Aku tidak tahu apa yang menanti. Tapi satu hal yang sudah pasti..."

Petir di ujung jarinya makin terang.

"...aku tidak akan mati untuk kedua kali."

Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa

Li Tianming masih kecil. Mungkin baru dua ratus tahun, usia yang masih sangat belia untuk ukuran seorang murid Alam Dewa. Mereka berdua duduk di bawah pohon besar di halaman perguruan, dengan cangkir teh herbal di antara mereka yang sudah lama dingin karena tidak ada yang ingat untuk meminumnya. Li Tianming sedang berlatih membentuk qi di telapak tangannya, lidahnya sedikit terjulur keluar karena konsentrasi, dan Zhao Fei yang duduk di seberangnya harus menahan senyum agar tidak tertawa keras.

"Guru, kenapa Guru tersenyum?" tanya Li Tianming setelah konsentrasinya buyar.

"Tidak ada," kata Zhao Fei. "Lanjutkan."

Li Tianming cemberut, tapi lanjut berlatih. Kali ini wajahnya bahkan lebih serius dari tadi, sampai keningnya berkerut seperti orang tua yang memikirkan hutang. Zhao Fei benar-benar tidak bisa menahan tertawanya kali ini.

Tapi hari ini, langit di Alam Bawah terlihat sangat biru kala Zhao Fei membuka matanya. Merasakan dada tubuh ini yang masih terasa seperti sakit, meski lukanya sudah mulai menutup perlahan berkat sisa qi yang mengalir dari rohnya.

Dia hendak berdiri ketika sesuatu menghantamnya dari dalam lebih buruk dari serangan fisik. Segala memori tentang pemilik asli tubuh ini datang sekaligus, seperti bendungan yang jebol dan melepaskan seluruh isinya tanpa peringatan. Ribuan momen dalam satu waktu, berdesakan masuk ke dalam pikirannya yang sudah terbiasa tenang selama sepuluh ribu tahun.

Anak kecil yang duduk di sudut ruangan saat kakak-kakaknya dipuji. Pemuda yang berdiri di pesta pernikahan saudaranya sambil menunduk karena tidak tahu harus menaruh tangan ke mana. Malam-malam panjang di kamar sempit mendengar ibunya terbatuk-batuk dari balik dinding. Setiap hinaan dan siksaan yang diingat satu per satu, tidak ada yang terlupakan, seperti koleksi luka yang disimpan rapi karena tidak ada tempat lain untuk meletakkannya.

Seketika itu juga, air mata keluar dari sudut matanya.

Zhao Fei tidak menangis. Dia tidak pernah menangis sejak tiga ribu tahun terakhir. Tapi tubuh ini menangis untuk pemiliknya, dan dia tidak bisa menghentikannya. Air mata mengalir bukan dari dadanya, melainkan dari ingatan yang bukan miliknya, dari kehidupan yang bukan kehidupannya, dari rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sendiri tapi entah mengapa terasa sangat nyata.

Dia hanya duduk di sana, membiarkan tubuh ini melakukan apa yang perlu dilakukannya.

Kau hidup dalam kegelapan yang cukup panjang, pikirnya untuk arwah yang sudah pergi. Dan tidak ada satu pun yang mengulurkan tangan untukmu.

Ketika air mata berhenti, pikirannya kembali jernih seperti biasa.

Zhao Fei mulai menyortir memori-memori itu dengan metodis. Dari sekian ribu kenangan yang masuk, dia mencari apa yang paling penting. Kemudian di antara semua kesakitan yang tersimpan di sana, ada tiga hal yang berulang kali muncul seperti bintang dalam kegelapan.

Menyembuhkan Ibunya. Membuat Ibunya bangga. Menemukan seseorang wanita yang mau menerimanya.

Tiga keinginan yang sederhana sekali, terlalu sederhana untuk seorang dewa yang terbiasa menginginkan hal-hal sebesar langit. Tapi justru karena kesederhanaannya itulah sesuatu di dalam dada Zhao Fei bergerak dengan cara yang tidak biasa.

Baiklah, putusnya. Aku akan menyelesaikan semua itu untukmu.

Alih-alih berdiam terlalu lama dengan perasaan itu, dia langsung beralih ke hal yang lebih mendesak seperti kondisi Ming Lianhua atau ibunya. Lalu dari memori pemilik tubuh yang asli, dia mengumpulkan semua informasi tentang penyakit wanita itu. Gejalanya dia bandingkan dengan pengetahuan medis yang dikumpulkannya selama ribuan tahun di Alam Dewa.

Hasilnya cukup untuk membuat dirinya menghela napas santai.

Penyakit itu bisa disembuhkan. Di Alam Dewa, cukup dengan beberapa lembar daun Darah Naga Abadi yang direndam dalam air embun pagi selama tujuh hari. Mudah sekali, bahkan untuk murid tingkat pemula. Sayangnya, tanaman itu tidak tumbuh di dunia ini. Dia perlu mencari alternatif, entah itu resep lain atau tabib yang benar-benar paham dengan kondisi seperti ini. Bagaimanapun, ada jalan. Selalu ada jalan.

Yang menjadi pertanyaan lain adalah kekuatannya sendiri.

Dia mencoba memanggil petir birunya lagi. Mengalirkan kesadaran ke dalam titik-titik meridian di tubuh ini, mencari jalur qi yang seharusnya ada, namun malah tidak seperti yang dia pikirkan.

Lebih tepatnya, ada, tapi sangat sedikit. Seperti mencoba mengisi lautan dengan setetes embun, hasilnya tidak ada yang bisa dilihat dengan mata biasa. Tubuh ini belum pernah dikultivasi sama sekali. Meridiannya seperti jalan setapak yang sudah lama tidak dilalui, tertutup semak belukar dari segala sisi.

Rupanya Sang Pencipta merasa aku terlalu sombong, pikirnya dengan datar yang bahkan dalam kepalanya sendiri terdengar seperti sindiran. Maka diberikan lah kehidupan kedua yang dimulai dari nol.

Lantas dia berdiri. Tubuh ini masih sakit, tapi cukup untuk bergerak.

Seekor rusa besar di depannya tidak akan pergi ke mana-mana setelah dia lempar dengan bambu yang telah dia runcingkan dengan pisau yang sejak awal memang dia bawa ke sini.

Zhao Fei menaksir beratnya sebentar, lalu mengangkatnya ke pundak dengan gerakan yang lebih mudah dari yang dia perkirakan, karena ternyata tubuh ini, meski kurus, cukup terbiasa dengan kerja keras. Dari memori pemilik aslinya, dia mengikuti jalur sungai kecil di balik pohon-pohon besar itu. Beberapa menit kemudian, sekarung ikan sudah menemaninya. Dia juga memetik beberapa tanaman herbal di sepanjang jalan yang dia kenali dari pengetahuannya sendiri, bukan dari memori pemilik asli.

Perjalanan kembali ke Klan Zhao tidak jauh. Tapi cukup panjang untuk dia habiskan dalam keheningan pikirannya sendiri, membuat daftar hal-hal yang perlu dilakukan, menyusun prioritas satu per satu. Kultivasi. Obat untuk ibunya. Masuk sekte. Menjadi kuat.

Dan suatu hari nanti, kembali ke Alam Dewa.

Teras rumah keluarga Zhao ramai dengan suara orang tertawa.

Zhao Kun dan Zhao Jie duduk berhadapan dengan kartu di tangan, wajah mereka memerah karena mabuk. Istri Zhao Kun duduk di samping suaminya sambil mengipasi dengan malas. Sementara istri Zhao Jie menuangkan minuman ke cangkir yang sudah hampir kosong.

Ketika Zhao Fei muncul dari kegelapan dengan rusa besar di pundaknya, semua suara berhenti.

Zhao Kun memandangnya dengan ekspresi yang berubah dari terkejut menjadi tidak senang dalam waktu yang sangat singkat. Zhao Jie menelan ludah. Istri Zhao Kun, yang paling cepat menguasai diri, langsung memasang senyum paling manisnya.

"Adik ipar pulang," katanya dengan kehangatan yang terlalu sempurna. "Wah, membawa banyak sekali. Pasti capek sekali ya, sudah susah payah ke hutan."

Matanya menatap rusa itu seperti seseorang yang sudah menghitung berapa porsi yang bisa dibagi.

Sementara Zhao Fei berhenti di depan teras. Matanya menatap dua saudara yang menyuruhnya pergi ke tempat kematiannya dengan senyuman yang sama seperti tadi, hanya dengan wajah yang berbeda.

"Tentu saja untuk semua orang," kata istri Zhao Kun lagi. "Cukup untuk satu keluarga kan?"

Zhao Fei hampir mengatakan apa yang benar-benar ada di pikirannya. Tapi dia ingat bahwa tubuh ini masih level nol. Dia masih butuh atap ini untuk beberapa waktu. Perang tidak dimenangkan oleh orang yang menyerang terlalu cepat sebelum siap.

"Aku yang akan memasak," katanya, meski suaranya datar. "Kalian tentu saja juga akan kebagian."

Zhao Kun mendengus. Dia melempar kartu di tangannya ke meja dengan lebih keras dari yang diperlukan. "Bisa berbicara lebih sopan sedikit? Ayo cepat masak! Jangan sampai gosong seperti biasanya."

Zhao Jie ikut tertawa, wajahnya masih kemerahan karena mabuk.

Adapun Zhao Fei masuk ke dalam tanpa menambahkan apa pun.

Kemudian saat di dapur, tangannya bergerak dengan presisi yang tidak pernah dimiliki pemilik asli tubuh ini.

Pengetahuan tentang rempah dan teknik memasak ternyata tidak berbeda jauh antara Alam Dewa dengan dunia ini. Api yang tepat. Waktu yang tepat. Bumbu yang tidak berlebihan tapi tidak juga kurang. Hasilnya adalah aroma yang bahkan membuat istri Zhao Kun menengok dua kali dari luar pintu.

Setelah semua piring tersaji untuk seluruh rumah, Zhao Fei mengambil satu porsi terbaik dan membawanya ke kamar di ujung koridor.

Ming Lianhua duduk di ranjangnya dengan punggung bersandar pada dinding. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, tapi matanya menyala begitu melihat anak bungsunya masuk membawa makanan.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya segera. "Tidak ada yang melukaimu di hutan?"

"Semuanya baik-baik saja, Ibu," kata Zhao Fei. Dia duduk di sisi ranjang dan mulai menyendok makanan.

"Tapi kau terlihat berbeda."

Zhao Fei berhenti saat matanya bertemu dengan mata wanita yang sudah menjadi satu-satunya cahaya dalam kehidupan pemuda itu selama dua puluh tahun. Ada sesuatu yang dia rasakan ketika bertatapan dengan wanita ini, sesuatu yang bukan miliknya tapi tetap terasa seperti miliknya.

"Ibu, tentu saja tidak ada yang berubah dari anakmu ini," katanya pelan. "Hanya saja... sekarang aku terasa lebih yakin dalam mengambil keputusan."

Dia menyuapi ibunya dengan sabar. Ming Lianhua makan dengan perlahan tapi matanya terus memandang anaknya dengan pertanyaan yang tidak diucapkan.

Ketika piring sudah setengah kosong, Zhao Fei meletakkan sendok dan berkata dengan tenang, "Ibu pasti akan sembuh seperti dulu bahkan lebih baik. Aku berjanji."

Ming Lianhua sampai dibuat bisu olehnya. Dua puluh tahun, tidak pernah satu kali pun dia mendengar anaknya berbicara dengan nada seperti itu. Sebuah pernyataan yang terdengar seperti keputusan yang sudah dibuat dan tidak bisa dibatalkan.

"Aku juga akan masuk Sekte Garuda Putih," lanjutnya. "Dan aku akan berhasil masuk."

"Nak..." Ming Lianhua mengangkat tangannya yang kurus dan menyentuh pipi anaknya dengan lembut. "Sekte itu sangat sulit. Banyak orang berbakat yang gagal di seleksinya."

"Aku tahu." Zhao Fei tidak mengelak dari sentuhan itu. "Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak akan gagal."

Ada jeda panjang di antara mereka, sebelum Ming Lianhua merangkul anaknya. Pelukannya itu ringan karena tubuhnya memang tidak punya banyak tenaga, tapi Zhao Fei diam saja di sana, membiarkan tubuh ini merasakan apa yang sudah lama tidak dirasakannya.

Dalam hati, dalam bagian terdalam kesadarannya yang tenang itu, dia mengulang janjinya sekali lagi, kali ini bukan untuk Ming Lianhua, melainkan untuk arwah pemuda yang memberikan tubuh ini padanya.

Semua yang kau impikan akan terwujud. Itu janji seorang dewa.

Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih

Pagi itu, selembar kertas lusuh terbentang di atas lantai kamar saat Zhao Fei duduk bersila di depannya, kuas di tangan, menulis dengan cara yang persis seperti dia dulu mencatat formula kultivasi di Alam Dewa. Sistematis. Terurut. Tidak ada yang terlewat. Bedanya kali ini yang dia catat adalah daftar tanaman herbal untuk mengurangi batuk, jenis makanan yang paling mudah dicerna oleh tubuh yang sudah lama lemah, dan ramuan sederhana dari bahan-bahan yang bahkan bisa ditemukan di pasar desa.

Dari memori pemilik tubuh yang asli, muncul nama yang selalu dia hindari karena terasa terlalu jauh: Tabib Wen, seorang pengobat yang tinggal di kota terdekat dan disebut-sebut bisa menyembuhkan penyakit yang sudah menahun. Pemilik asli tubuh ini tidak pernah serius memikirkan kemungkinan itu karena biayanya pasti mahal. Tabibnya pasti sibuk, atau halangan lainnya.

Zhao Fei menatap nama itu di dalam kepalanya, lalu tersenyum.

Bagi dirinya yang pernah menundukkan ribuan murid tingkat tinggi dan memimpin perguruan terbesar di Alam Dewa, seorang tabib di kota kecil hanyalah satu langkah dari sekian banyak langkah yang perlu dia ambil. Bukan penghalang, malah menjadi tanda penunjuk arah.

"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?"

Suara dari pintu kamar itu terdengar seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang. Zhao Kun bersandar di kusen pintu dengan tangan bersilang, matanya menyipit dengan ekspresi yang berpura-pura santai tapi jelas tidak santai sama sekali.

"Tidak apa-apa," kata Zhao Fei tanpa menoleh.

Zhao Kun masuk tanpa dipersilakan. "Masakanmu tadi malam... enak." Nadanya seperti menuduh, bukan memuji. "Terlalu enak untuk orang yang tidak pernah bisa masak. Kau belajar dari siapa?"

"Mencoba-coba."

"Di hutan?" Zhao Kun membesarkan matanya, lalu tertawa pendek yang tidak terdengar lucu sama sekali. "Aku hampir menjemputmu ke sana, tahu. Khawatir kalau-kalau ada yang tidak beres."

Zhao Fei akhirnya menoleh. Matanya menatap saudaranya dengan ekspresi yang persis sama seperti saat dia dulu memandang murid-murid yang mencoba menyembunyikan kesalahan. Datar, tahu sepenuhnya, tapi tidak tertarik untuk membuat drama.

Setidaknya kau tidak berpura-pura menyayangiku, pikirnya dalam hati. Li Tianming melakukannya selama ribuan tahun sebelum akhirnya menusuk punggungku. Dibanding itu, kejahatan yang jelas-jelas terlihat jauh lebih mudah dihadapi.

"Terima kasih atas perhatiannya," kata Zhao Fei, lalu kembali menatap kertas di depannya.

Zhao Kun tidak pergi. Dia berdiri di sana beberapa detik, seperti menunggu reaksi yang tidak datang sebelum memanggil ke arah ruang tengah, "Jie! Kemarilah!"

Suara langkah berat terdengar saat Zhao Jie muncul di pintu dengan muka mengantuk dan rambut berantakan.

"Ada apa?" tanya Zhao Jie.

"Katakan pada adik kita ini," kata Zhao Kun, kembali tersenyum sarkastik, "apa yang akan terjadi pada orang bodoh yang tidak punya bakat kultivasi kalau nekat mendaftar ke Sekte Garuda Putih."

Zhao Jie langsung tertawa. Entah karena memang lucu di matanya, atau karena terbiasa tertawa setiap kali kakaknya memberi isyarat untuk tertawa. "Apa? Kau mau masuk sekte? Yang mana? Sekte Garuda Putih?" Matanya melirik adik bungsunya dari ujung kepala ke ujung kaki. "Dengan badan seperti itu?"

"Bahkan kera pun lebih berbadan tegap," sambung Zhao Kun, tertawa keras.

Zhao Fei melipat kertas catatannya, menyimpannya, lalu berdiri. Kedua saudaranya masih tertawa ketika dia mengangkat tas kecilnya yang sudah disiapkan sejak pagi.

"Aku berangkat dulu," katanya. "Tolong jaga ibu."

Tawa mereka mengikutinya sampai ke luar pintu.

Jalanan menuju kota yang di sana terdapat gerbang Sekte Garuda Putih tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Lumpur di pinggir jalan menempel di sol sepatunya. Atap-atap rumah dari kayu di kanan kiri jalan terlihat seperti berlomba-lomba siapa yang paling miring. Udara di sini terasa lebih berat dari yang biasanya dia hirup selama sepuluh ribu tahun.

Zhao Fei menikmati perjalanan itu dengan tenang. Matanya menyapu setiap wajah yang lalu-lalang. Ada beberapa gadis muda yang melewatinya, tertawa di antara mereka sendiri. Zhao Fei menatap sebentar, lalu mengalihkan pandangannya dengan cepat.

Ah. Ini masalah yang lain.

Pemilik asli tubuh ini punya mimpi tentang pasangan hidup. Itu sudah Zhao Fei catat sebagai bagian dari janji yang harus dipenuhi. Tapi masalahnya adalah, selama sepuluh ribu tahun, Alam Dewa dipenuhi oleh dewi-dewi yang kecantikannya bisa membuat bintang-bintang di langit merasa malu. Seorang peri bulan pernah menangis karena merasa tidak cukup cantik untuk berdiri di depan para selir Zhao Fei.

Gadis-gadis desa di depannya ini berbeda bukan karena mereka jelek. Tapi karena standar yang sudah tertanam selama sepuluh ribu tahun tidak bisa dihapus hanya karena tubuhnya berganti.

Urusan itu nanti saja, putusnya. Ibu dulu. Kekuatan dulu. Selebihnya akan mengikuti.

Dia melihat mereka dari jarak yang cukup jauh. Sekelompok orang berseragam putih dengan bordir burung garuda di lengan kanan, berjalan dalam barisan rapi ke arah yang sama dengannya. Langkah mereka terlatih, punggung mereka tegak, dan ada aura kepercayaan diri yang keluar dari cara mereka membawa diri.

Zhao Fei mempercepat langkahnya dan menyejajarkan diri dengan barisan paling belakang.

"Permisi," katanya.

Salah seorang dari mereka menoleh. Pandangannya langsung jatuh ke pakaian Zhao Fei, lalu naik lagi ke wajahnya. Ada jeda sebentar sebelum dia menjawab dengan sopan, "Ada yang bisa kami bantu?"

"Kalian dari Sekte Garuda Putih?" tanya Zhao Fei.

"Benar."

"Aku sedang menuju seleksi. Boleh aku bertanya beberapa hal tentang ujiannya?"

Mereka menjawab dengan cukup terbuka. Tentang sistem bakat, tentang berapa lama masa percobaan murid baru, tentang fasilitas yang ada. Zhao Fei mendengarkan dan mencatat semua itu dalam kepalanya. Sampai kemudian salah satu dari mereka, seorang gadis dengan rambut dikepang dua, menatapnya dengan ekspresi sedikit penasaran.

"Kalau boleh tahu, apa yang mendorongmu mendaftar?"

"Ibuku sakit," jawab Zhao Fei. "Aku dengar di sekte ini ada orang yang bisa menyembuhkannya."

Wanita itu terdiam. Yang lain juga. Mereka saling pandang dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.

Mungkin mereka terbiasa mendengar alasan yang lebih megah. Aku ingin menjadi kuat. Aku ingin menguasai dunia. Aku ingin membuktikan diri.

Tapi jawaban sesederhana itu rupanya tidak ada dalam daftar yang pernah mereka dengar.

Lapangan di depan gerbang Sekte Garuda Putih sudah penuh ketika Zhao Fei tiba.

Puluhan calon murid berdiri dalam barisan tidak rapi, pakaian mereka beragam dari yang sangat rapi sampai yang hanya sedikit lebih baik dari milik Zhao Fei. Beberapa tampak gugup dan terus menggerak-gerakkan jari. Beberapa yang lain berpura-pura tidak gugup dengan cara yang sangat terlihat.

Gerbang sekte itu sendiri berdiri megah di belakang, dengan dua burung garuda putih diukir di sisi kanan dan kirinya. Satu-satunya ornamen di tempat itu yang benar-benar membuat Zhao Fei mengangkat alisnya sedikit.

Cukup bagus untuk ukuran dunia ini, pikirnya.

Di depan kerumunan, berdiri seorang tetua dengan jubah putih yang lebih megah dari yang lain. Rambutnya abu-abu, tubuhnya tegak, dan ketika dia berdehem, suaranya menggema di seluruh lapangan seperti batu yang dijatuhkan ke kolam besar.

"Diam!"

Semua percakapan berhenti seketika itu juga.

Tetua itu memandang kerumunan dengan tatapan yang sudah terlatih untuk membuat orang tidak nyaman. "Seleksi hari ini terdiri dari tiga ujian. Yang lulus ketiga ujian ini akan diterima sebagai murid resmi. Yang gagal di ujian pertama, akan pulang hari ini."

Tangannya terangkat. Di atasnya, sebuah bola berukuran sebesar kepalan tangan bersinar dengan cahaya keemasan, seperti ada bara api yang terjebak di dalamnya tapi tidak membakar.

"Bola ini akan mengukur aliran qi di dalam tubuhmu," kata tetua itu. "Pegang dengan kedua tangan. Jika cahayanya menyala terang, kau lolos. Jika meredup atau tidak berubah, kau pulang." Dia menurunkan tangannya. "Siapa yang maju lebih dulu?"

Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Semua calon murid tiba-tiba menemukan tanah di depan kaki mereka sangat menarik untuk ditatap. Masing-masing menunggu orang lain yang lebih berani.

Kemudian, dari barisan paling belakang, satu tangan terangkat.

Langsung saja semua kepala menoleh. Puluhan pasang mata memandang ke arah yang sama, ke arah seorang pemuda dengan pakaian paling sederhana di antara semua yang hadir, berdiri dengan punggung tegak dan tangan terangkat seperti dia sedang menjawab pertanyaan yang sudah dia tahu jawabannya.

Zhao Fei berjalan ke depan.

Kerumunan membuka jalan tanpa dia perlu meminta. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tidak ragu pula, seperti seseorang yang berjalan menuju tempat yang sudah lama dikenalnya. Sampai dirinya berhenti tepat di depan tetua itu, dengan bola emas berkilauan di antara mereka berdua.

Tetua itu menatapnya dari atas ke bawah. "Namamu?"

"Zhao Fei."

"Klanmu?"

"Klan Zhao. Cabang pinggiran."

Tetua itu tidak berkomentar, tapi ada sesuatu di matanya yang seperti mempersiapkan diri untuk kecewa. Dia mengulurkan bola emas itu ke depan.

"Cepat pegang ini."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!