--
Dunia ini tidak pernah adil bagi Elena Vance. Di saat kembarannya, Alana, selalu mendapatkan kilau lampu gila dari panggung peragaan busana Paris, Elena hanyalah bayangan yang bersembunyi di balik kanvas-kanvas lukisannya di lantai bawah tanah.
Namun malam ini, takdir memainkan lelucon paling berdarah.
Arthur Vance, pria yang terpaksa ia panggil ayah, berlutut di hadapannya dengan air mata palsu yang mengalir di kerutan wajahnya yang menua. Di luar rumah besar mereka, tiga mobil hitam melingkar seperti sekumpulan pelatuk kematian. Nicholas Barrett pria yang menguasai jalur logistik ilegal seluruh pantai timur datang untuk menagih janji. Janji sebuah pernikahan untuk melunasi utang darah keluarga Vance.
Masalahnya hanya satu, Alana, sang pengantin yang seharusnya mengenakan gaun sutra putih itu, telah kabur ke London dua jam yang lalu bersama kekasih rahasianya.
"Hanya kau yang bisa menyelamatkan kami, Elena," bisik Arthur, suaranya bergetar karena ketakutan yang nyata. "Nicholas tidak tahu wajah Alana secara detail. Dia hanya tahu ada seorang putri Vance yang harus dibawanya malam ini. Jika dia tahu Alana kabur, dia akan meratakan tempat ini."
Elena menatap gaun pengantin yang terhampar di atas ranjang. Itu bukan miliknya. Hidup ini bukan miliknya. Namun, saat melihat tangan Arthur yang gemetar, Elena tahu ia tidak punya pilihan.
---
Detak jarum jam dinding terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Elena berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri yang asing. Kain tule putih yang membungkus tubuhnya terasa seperti kain kafan yang mahal. Riasan tebal menyamarkan matanya yang sayu, mencoba meniru keanggunan Alana yang selalu tampak sempurna.
"Kau siap?"
Suara Arthur memecah keheningan dari ambang pintu. Pria itu tampak sepuluh tahun lebih tua. Tidak ada pelukan hangat seorang ayah yang melepas putrinya ke pelaminan. Yang ada hanya keputusasaan seorang pengecut.
"Jangan biarkan dia menyentuh leher bagian belakangmu," Elena berbisik, suaranya parau. "Alana punya tanda lahir di sana. Aku tidak."
"Aku sudah menyuruh penata rias menutupinya dengan foundation tebal. Nicholas tidak akan sedetail itu. Dia pria yang sibuk dengan bisnis darahnya," sahut Arthur cepat, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Ketika Elena melangkah turun ke ruang tamu, hawa dingin langsung menusuk kulitnya yang terbuka. Di sana, berdiri tiga pria dengan setelan jas hitam konvensional namun berpotongan rapi. Di tengah-tengah mereka, bersandar pada pilar marmer, adalah sang monster itu sendiri.
Nicholas Barrett.
Pria itu bertubuh jangkung, dengan bahu lebar yang mengintimidasi ruangan. Rambut hitamnya dipotong rapi, membingkai wajah dengan rahang tegas yang tampak seperti dipahat dari batu es. Sepasang matanya berwarna abu-abu gelap sepekat badai langsung tertuju pada Elena saat gadis itu menginjak anak tangga terakhir.
Tidak ada senyuman. Tidak ada binar kekaguman. Tatapan Nicholas dingin, tajam, dan kalkulatif. Seolah-olah dia sedang memeriksa barang dagangan yang baru saja tiba di pelabuhannya.
"Kau terlambat sepuluh menit, Vance," suara Nicholas berat, bergaung rendah di dada Elena. Pria itu bahkan tidak memandang Arthur saat berbicara. Matanya tetap mengunci Elena.
"Maafkan kami, Mr. Barrett. Gaunnya... ada sedikit masalah pada ritsletingnya," dusta Arthur, suaranya bergetar kentara.
Nicholas menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat. Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai marmer membuat jantung Elena berdegup dua kali lebih cepat. Ketika Nicholas berhenti tepat di hadapan Elena, aroma parfum maskulin yang bercampur dengan samar bau tembakau mahal langsung menguasai indra penciuman Elena.
Nicholas mengulurkan tangan kanannya yang dibalut sarung tangan kulit hitam. "Mari pergi. Aku tidak suka membuang waktu untuk formalitas yang tidak berguna."
Elena menelan ludah. Tangannya yang dingin dan gemetar perlahan naik, menyentuh telapak tangan Nicholas. Bahkan di balik sarung tangan kulit itu, Elena bisa merasakan kekuatan yang sanggup mematahkan pergelangan tangannya dalam sekali sentak.
"Jaga dirimu... Alana," panggil Arthur dari belakang.
Elena tidak menoleh. Dia tahu, mulai detik ini, nama Elena Vance telah mati. Di mata dunia, dan di mata pria berbahaya di sebelahnya ini, dia adalah Alana.
---
Perjalanan menuju kediaman Barrett di pinggiran kota New York dilalui dalam keheningan yang mencekik. Nicholas duduk di kursi belakang bersamanya, dipisahkan oleh jarak yang cukup luas di dalam mobil limosin yang mewah. Pria itu sibuk dengan iPad-nya, memeriksa grafik dan laporan yang tidak bisa Elena pahami, seolah-olah dia baru saja menjemput sekretaris baru, bukan seorang istri.
Elena menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang perlahan menjauh, digantikan oleh jajaran pohon pinus yang gelap dan lebat.
"Kau tidak banyak bicara," suara Nicholas tiba-tiba memecah kesunyian, tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Di majalah-majalah gosip, Alana Vance dikenal sebagai wanita yang tidak bisa diam selama lima menit."
Jantung Elena mencelos. Ia meremas kain gaunnya erat-erat hingga kukunya memutih.
"Aku hanya... lelah, Mr. Barrett," jawab Elena, mencoba meniru nada suara Alana yang biasanya manja, meski gagal total karena suaranya justru terdengar bergetar menahan takut. "Ini hari yang panjang."
Nicholas perlahan mematikan layarnya. Dia memutar tubuhnya menghadap Elena, menopang dagunya dengan satu tangan di sandaran lengan. Mata abu-abunya menyipit, meneliti setiap inci wajah Elena dari balik kegelapan mobil.
"Panggil aku Nicholas. Kita sudah menikah secara hukum satu jam yang lalu saat pengacaraku menandatangani berkasnya," katanya datar. "Dan satu hal lagi, Alana..." Nicholas mendekatkan wajahnya, membuat Elena secara refleks bersandar pada pintu mobil. "Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini. Begitu juga aku. Jadi, jalankan peranmu dengan baik, jangan membuat masalah, dan kau akan mendapatkan semua kemewahan yang kau inginkan."
Nicholas mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang bergerak ke arah leher Elena. Elena menahan napas, teringat peringatan tentang tanda lahir Alana. Namun, tangan Nicholas hanya melewati bahunya, mengambil sehelai rambut Elena yang terlepas dari sanggul dan menyelipkannya ke belakang telinga.
Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi.
"Tapi jika kau mencoba mengkhianatiku, atau melarikan diri..." Nicholas berbisik tepat di telinga Elena, hembusan napasnya yang hangat berbanding terbalik dengan kata-katanya yang sedingin es. "...aku akan memastikan seluruh keluarga Vance membayar harganya dengan nyawa mereka. Paham?"
Elena hanya bisa mengangguk kaku. Di balik gaun pengantin yang indah ini, dia menyadari satu hal, dia baru saja menyerahkan dirinya pada iblis.
---
Gerbang besi setinggi empat meter dengan ukiran lambang keluarga Barrett terbuka perlahan, menyambut limosin hitam yang membawa Elena menuju takdir barunya. Mansion di hadapannya lebih mirip benteng abad pertengahan daripada sebuah rumah. Dinding batu abu-abu yang kokoh dikelilingi oleh halaman luas tanpa satu pun pohon besar tempat seseorang bisa bersembunyi. Penjagaan di tempat ini luar biasa ketat; Elena bisa melihat beberapa pria bersetelan gelap berdiri di titik-titik strategis dengan senjata api otomatis tersampir di balik jas mereka.
Mobil berhenti tepat di depan tangga pualam utama. Seorang pelayan pria paruh baya dengan pakaian formal membuka pintu mobil dan membungkuk hormat.
"Selamat datang di rumah, Tuan, nyonya," sapanya sopan.
Nicholas turun terlebih dahulu tanpa menawarkan bantuan pada Elena. Elena terpaksa mengurus ekor gaun pengantinnya yang berat sendiri, melangkah keluar dengan kaki yang terasa lemas. Dinginnya angin malam langsung menusuk kulit bahunya yang terbuka, membuatnya menggigil kecil.
"Bawa barang-barangnya ke kamar utama, Thomas," perintah Nicholas datar pada pelayan tua itu, lalu menoleh pada Elena. "Ikuti aku."
Langkah kaki Nicholas panjang dan cepat, memaksa Elena setengah berlari di atas sepatu hak tingginya untuk menyamai ritme pria itu. Mereka melewati aula utama yang megah dengan langit-langit tinggi, dihiasi lampu kristal raksasa yang memancarkan cahaya temaram. Suasana di dalam rumah ini begitu sunyi, hampir terasa mati, jika bukan karena detak jam dinding kuno dan langkah kaki mereka sendiri.
Nicholas membawanya naik ke lantai dua, menyusuri koridor panjang hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu ek ganda yang besar. Ketika pintu dibuka, Elena disuguhi pemandangan sebuah kamar tidur yang sangat luas dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan aksen kayu gelap. Sebuah ranjang berukuran *king-size* dengan sprei sutra hitam berada di tengah ruangan, menghadap langsung ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan hutan pinus di luar.
"Ini kamarmu sekarang. Kamarku juga," ucap Nicholas dingin seraya melepaskan jas hitamnya dan melemparnya asal ke atas sofa kulit. Pria itu melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemeja putihnya, menampilkan kulit kecokelatan dan sedikit tato hitam yang mengintip di pangkal lehernya.
Elena berdiri kaku di dekat pintu, meremas kedua tangannya sendiri. "Kita... berbagi kamar?" Suaranya mencicit, terdengar lebih rapuh dari yang ia inginkan.
Nicholas membalikkan tubuh, menatap Elena dengan sebelah alis terangkat. Senyum sinis terukir di sudut bibirnya. "Tentu saja. Kau adalah istriku sekarang, Alana. Apa kau berekspektasi kita akan tidur di sayap rumah yang berbeda seperti di novel-novel romansa picisan?"
Nicholas melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Elena bisa mencium kembali aroma tembakau dan kayu cendana yang tajam dari tubuh pria itu. Nicholas menunduk, menatap wajah Elena yang tertutup riasan tebal.
"Atau kau mendadak menjadi gadis suci yang pemalu? Setahu saya dari laporan interogasi informanku, Alana Vance bukan wanita yang takut pada ranjang pria," bisik Nicholas, nadanya penuh sindiran yang menyengat.
Jantung Elena berdegup kencang menahan syok. Alana yang asli memang liar dan sering bergonta-ganti teman kencan di kelab malam.
Namun dia, Elena, bahkan belum pernah membiarkan seorang pria memegang tangannya lebih dari lima detik. Kebohongan ini menjadi semakin berbahaya setiap menitnya.
"Aku... aku hanya lelah, Nicholas. Bisakah aku membersihkan diri?" Elena mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum matanya mengkhianati ketakutannya.
Nicholas menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah sedang mencari celah kebohongan di mata abu-abu kecokelatan Elena. Namun akhirnya, pria itu mundur satu langkah.
"Kamar mandi ada di sebelah kiri. Pakaianmu sudah dipindahkan ke walk-in closet oleh pelayan sebelum kita tiba. Mandilah. Aku punya beberapa urusan di ruang kerja yang harus kuselesaikan malam ini," kata Nicholas datar. Dia berbalik, mengambil ponselnya di atas meja, dan berjalan menuju pintu.
Sebelum benar-benar keluar, Nicholas berhenti tanpa menoleh. "Jangan mencoba mengunci pintunya dari dalam. Di rumah ini, tidak ada pintu yang boleh tertutup untukku."
*Klik.*
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Elena sendirian dalam keheningan kamar yang mencekik.
Elena mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Kakinya lemas, membuatnya terduduk di atas lantai berkarpet bulu yang tebal. Dia menatap gaun pengantin putih yang dikenakannya dengan rasa muak yang mendalam. Dengan tangan yang gemetar, dia menjangkau ritsleting di punggungnya, namun tangannya tidak bisa mencapainya dengan benar.
Frustrasi, takut, dan lelah bercampur menjadi satu. Elena bangkit dan melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang luar biasa luas. Di sana, berderet pakaian-pakaian mahal bermerek terkenal, gaun-gaun malam berpotongan rendah, dan tas-tas desainer papan atas. Semuanya adalah selera Alana, yang telah dipesan oleh Arthur Vance didepan menggunakan uang muka dari Nicholas sebelum pernikahan ini terjadi. Tidak ada satu pun barang di tempat ini yang mencerminkan dirinya yang menyukai kaos longgar dan celana jins belel yang terkena noda cat minyak.
Elena menemukan sebuah jubah mandi sutra satin berwarna merah marun di sudut ruangan. Setelah berjuang selama sepuluh menit yang menyiksa, dia akhirnya berhasil menurunkan ritsleting gaun pengantinnya. Kain putih itu merosot ke lantai, menanggalkan identitas palsunya untuk sementara.
Di kamar mandi yang berlapis marmer hitam, Elena menyalakan pancuran air hangat. Dia berdiri di bawah kucuran air, membiarkan air menghapus riasan tebal di wajahnya dan tatanan rambutnya yang rumit. Saat air melarutkan foundation tebal di leher belakangnya, Elena menatap cermin yang berembun. Kulit leher belakangnya mulus, bersih, tanpa ada tanda lahir berbentuk bulan sabit seperti yang dimiliki Alana.
"Kau harus bertahan, Elena. Hanya sampai kau menemukan cara untuk pergi dari sini tanpa membunuh keluargamu," bisiknya pada diri sendiri di depan cermin.
Satu jam kemudian, Elena keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi satin merah marun yang diikat erat di pinggangnya. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan terurai menutupi bahunya. Keadaan kamar masih sepi, Nicholas belum kembali.
Elena melirik jam dinding. Sudah jam satu dini hari. Dia berjalan perlahan menuju ranjang raksasa itu, merasa sangat asing dan terancam. Dia memutuskan untuk tidur di sisi paling pinggir, membelakangi bagian tengah kasur, dan menarik selimut tebal hingga menutupi dadanya. Kelelahan fisik dan mental akhirnya mengambil alih, membuat matanya perlahan terpejam meskipun kewaspadaannya tetap terjaga.
---
Tengah malam, suara pintu yang terbuka dengan sangat pelan membuat Elena langsung terbangun. Dia tidak bergerak, tetap memejamkan mata dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang tertidur pulas.
Langkah kaki yang berat namun teredam karpet mendekat ke sisi ranjang. Elena bisa merasakan kasur di belakangnya sedikit amblas saat sebuah bobot tubuh yang besar duduk di sana.
Aroma tembakau yang tadi ia cium kini bercampur dengan sesuatu yang lain sesuatu yang tajam, anyir, dan membuat bulu kuduk Elena meremang.
*Bau darah.*
Elena menahan napasnya sekuat tenaga di balik selimut. Dia bisa mendengar suara Nicholas yang mengembuskan napas berat, terdengar sangat lelah. Terdengar suara gesekan kain saat Nicholas melepaskan kemejanya.
Tiba-tiba, Elena merasakan embusan napas hangat di dekat tengkuknya. Nicholas telah berbaring di sampingnya, terlalu dekat. Sebuah tangan yang besar dan kasar perlahan meraba rambut basah Elena yang tersebar di atas bantal, memindahkannya dengan lembut ke samping untuk mengekspos leher bagian belakang gadis itu.
Jantung Elena rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Nicholas sedang memeriksa tanda lahir itu.
Sentuhan ujung jari Nicholas yang dingin di kulit leher belakang Elena terasa seperti mata pisau yang siap menggorok urat nadinya. Nicholas mengusap bagian kulit yang mulus itu beberapa kali, diam dalam keheningan yang meneror selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian.
Elena bersiap untuk skenario terburuk jika Nicholas menyadari penyamarannya sekarang juga. Dia mengepalkan tangannya di balik selimut, bersiap untuk melawan meskipun tahu itu sia-sia.
Namun, Nicholas tidak berteriak atau mencekiknya. Pria itu justru menarik kembali tangannya, lalu berbalik memunggungi Elena.
"Tidurlah, Elena," bisik Nicholas dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman halus, sebelum keheningan kembali menguasai kamar malam itu.
Mata Elena langsung terbuka lebar di dalam kegelapan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.
Dia... Nicholas baru saja memanggilnya Elena? Bukan Alana?
---
Elena tidak bisa tidur lagi setelah malam itu. Kata "Elena" yang keluar dari bibir Nicholas terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, meneror setiap sudut pikirannya. Apakah dia salah dengar? Apakah itu hanya igauan seorang monster yang kelelahan setelah membunuh orang? Ataukah Nicholas memang sudah tahu sejak awal?
Ketika semburat cahaya fajar pertama menembus gorden tipis kamar, Elena perlahan membuka matanya. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan dingin. Nicholas sudah bangun lebih dulu.
Elena mengembuskan napas lega, namun itu tidak bertahan lama. Dia harus segera bersiap sebelum pria itu kembali menyudutkannya. Setelah membersihkan diri dengan cepat, Elena berjalan ke kamar. Dari sekian banyak pakaian Alana yang serba ketat dan terbuka, dia berhasil menemukan sebuah gaun kasual rajut lengan panjang berwarna merah muda lembut yang potongannya sedikit lebih longgar. Warna pink itu setidaknya memberikan sedikit rasa aman yang familier bagi dirinya sendiri, bukan untuk Alana.
Dengan langkah ragu, Elena turun ke lantai bawah. Mansion itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara denting piring yang samar dari arah ruang makan.
Begitu melangkah masuk ke ruang makan yang luas, Elena langsung membeku. Nicholas sudah duduk di ujung meja panjang, mengenakan kemeja hitam formal dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan guratan otot dan tato tribal yang rumit di lengannya. Di depannya terdapat cangkir kopi hitam yang masih mengepul dan beberapa lembar koran bisnis.
"Duduk," perintah Nicholas tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap penuh otoritas.
Elena menelan ludah, lalu berjalan memutari meja dan duduk di kursi yang paling jauh dari Nicholas.
Nicholas perlahan menurunkan korannya. Mata abu-abunya yang tajam menatap Elena dari ujung kepala sampai ujung kaki, berhenti beberapa detik pada gaun rajut pink yang dikenakannya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman sinis yang dingin.
"Merah muda?" Nicholas meletakkan korannya ke meja. "Setahuku, Alana Vance pernah memaki seorang desainer hingga menangis hanya karena sang desainer menyarankan warna pink untuk gaun musim panasnya. Dia bilang pink adalah warna untuk gadis-gadis lemah yang menyedihkan."
Jantung Elena berdegup kencang. Kebohongan ini runtuh bahkan sebelum sarapan dimulai. Dia meremas jemarinya di bawah meja, mencoba mengontrol suaranya agar tidak bergetar.
"Orang bisa berubah, Nicholas. Terutama setelah mereka dipaksa menikah dengan bos mafia," sahut Elena, mencoba membalas dengan nada ketus khas Alana untuk menutupi kepanikannya.
Nicholas tidak membalas. Dia hanya mengetuk-ngetukkan jemarinya yang panjang di atas meja kayu ek yang mahal itu. Detak ketukan jarinya terasa seperti hitungan mundur kematian bagi Elena. Pria itu kemudian memberi isyarat pada pelayan untuk menyajikan makanan.
Seorang pelayan wanita datang membawa nampan berisi sarapan, bacon panggang yang renyah, dan roti panggang mentega. Aroma makanan itu sebenarnya menggugah selera, tapi perut Elena terlalu mual karena ketakutan.
"Makan," kata Nicholas datar. "Aku tidak suka melihat barang pajanganku terlihat kurus kering dan pucat seperti mayat."
Elena mengambil garpunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia memotong telur di piringnya dengan mekanis, menyuapkannya ke dalam mulut tanpa bisa merasakan rasanya sama sekali. Suasana di antara mereka begitu tegang hingga suara denting garpu Elena yang membentur piring pualam terdengar sangat nyaring.
Setelah beberapa menit keheningan yang menyiksa, Nicholas tiba-tiba bersandar pada kursi kulitnya, melipat tangan di depan dada.
"Bagaimana tidurmu semalam... *Elena*?"
*Prang!*
Garpu di tangan Elena terlepas begitu saja, menghantam tepi piring dan jatuh ke atas lantai marmer. Wajah Elena seketika memucat, kehilangan seluruh pasokan darahnya. Matanya membelalak menatap Nicholas yang kini sedang menatapnya dengan tatapan seekor serigala yang berhasil memojokkan mangsa kecilnya.
"Kenapa terkejut?" Nicholas bertanya dengan nada suara yang sangat tenang, terlalu tenang, yang justru terdengar seratus kali lebih mengerikan daripada bentakan. "Kau mengira penyamaran bodoh yang direncanakan oleh ayah pengecutmu itu akan berhasil mengelabuiku?"
Elena bangkit dari kursinya secara refleks, melangkah mundur hingga kursinya berderit nyaring di atas lantai. "Kau... sejak kapan kau tahu?" bisiknya dengan suara yang bergetar hebat.
Nicholas ikut bangkit. Sosoknya yang tinggi besar tampak begitu mengintimidasi di bawah cahaya lampu kristal. Dia melangkah perlahan memutari meja panjang itu, mendekati Elena yang terus melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin ruang makan.
"Sejak awal," jawab Nicholas dingin. Dia berhenti tepat di depan Elena, mengurung tubuh gadis itu dengan meletakkan kedua tangannya di dinding di sisi kanan dan kiri kepala Elena. Aroma maskulin dan tembakau dari tubuh Nicholas kembali mengepung indra penciuman Elena.
"Kau pikir aku bodoh, Elena?" Nicholas menundukkan kepalanya, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Elena.
"Aku tahu Alana kabur ke London dua jam sebelum aku datang ke rumahmu. Aku tahu Arthur Vance tidak punya pilihan selain menumbalkan putri keduanya yang tidak pernah dianggap ada. Aku tahu segalanya."
Air mata ketakutan yang sejak semalam ditahan Elena akhirnya menetes membasahi pipinya. "Jika kau sudah tahu... kenapa kau tetap membawaku? Kenapa tidak membunuh kami semua malam itu?"
Nicholas mengulurkan satu tangannya yang besar, jemarinya yang kasar mengusap air mata di pipi Elena dengan kelembutan yang aneh, namun sentuhan itu justru membuat Elena merinding. Ibu jari Nicholas bergerak turun, mencengkeram dagu Elena dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik mata abu-abunya yang kelam.
"Karena Alana Vance terlalu tidak berguna untuk menjadi bidak di rumahku. Dia berisik, egois, dan bodoh," bisik Nicholas, suaranya rendah dan serak di dekat bibir Elena.
"Sedangkan kau... kau tenang, patuh, dan matamu... matamu menyimpan dendam yang sama denganku pada keluarga Vance."
Nicholas melepaskan cengkeramannya di dagu Elena, lalu mundur satu langkah, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kau ingin kebebasanmu, kan? Dan aku ingin Arthur Vance membayar seluruh utangnya hingga sepeser terakhir," kata Nicholas dengan senyum dingin yang misterius.
"Mulai hari ini, mainkan peranmu sebagai Alana di depan publik dan musuh-musuhku. Patuhi semua perintahku, dan jangan pernah berpikir untuk lari. Jika kau setia, aku akan memberikan apa yang kau inginkan setelah semua ini selesai."
Elena mengatur napasnya yang memburu, menatap pria iblis di hadapannya. Dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah masuk terlalu dalam ke sarang serigala.
"Dan jika aku menolak?" tantang Elena, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya.
Nicholas menatapnya datar, seolah pertanyaan Elena hanyalah lelucon kecil. "Maka malam ini juga, kepala Arthur Vance akan dikirimkan ke meja belajarmu dalam kotak hadiah berwarna merah muda. Kau ingin mencobanya?"
---
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!