Indonesia
NovelToon NovelToon

Ketiga Kakak Angkatku Adalah Tokoh Utama

BAB 01

...Selamat datang di cerita transmigrasi masuk ke dalam novel!...

...\=\=\=\=\=...

“Karina, bantu Ibu membeli beras di toko depan! Berasnya kurang!” Seruan itu membuat Katarina, atau yang sekarang sudah menjadi Karina Putri itu menoleh.

“Baik Ibu,” jawab Karina sambil menerima selembar uang berwarna merah yang diberikan oleh Ibu Dara, sang pemilik panti asuhan tempatnya tinggal.

Sudah satu minggu Katarina terjebak di dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan. Awalnya ia sangat terkejut dan tidak percaya kalau dirinya masih hidup, sebab Katarina mengalami sebuah insiden kecelakaan yang sangat hebat.

Namun Katarina diberi kesempatan untuk tetap hidup, tetapi di raga orang lain dan wajahnya tidak berubah, entahlah… Katarina juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua untuk menikmati hidup yang lebih baik.

Meskipun dirinya harus tinggal di sebuah panti asuhan dan membantu Ibu Dara untuk mengurus adik-adik panti, karena Katarina yang paling tua.

“Mulai sekarang lupakan nama Katarina, karena saat ini hanya ada Karina Putri!” Gumamnya pelan.

Senyuman cerah terlihat di bibir tipisnya, gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu menyapa beberapa orang yang sudah dikenal olehnya. Karina memang dikenal sebagai gadis ceria yang juga sangat ramah, bahkan sering membantu orang yang lebih tua di sekitarnya.

“Karina mau beli apa?” Tanya Ibu pemilik toko langganan panti asuhan Pelita.

“Beli beras enam kilo!” Jawab Karina sambil menyerahkan uang yang dibawanya.

Sang pemilik toko tersenyum dan mulai menimbang beras yang dibeli oleh Karina, sedangkan Karina melihat-lihat jalanan yang ramai dengan kendaraan roda empat.

“Pria itu terlihat sangat mencurigakan!” Karina memicingkan matanya, saat melihat seorang pria yang memakai topi berlagak sedikit aneh sambil mendekati seorang wanita cantik yang sedang menerima telepon.

Mata cokelatnya sedikit melebar, saat melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ternyata pria tersebut adalah seorang pencopet dan wanita yang dicopet ponselnya langsung mengejar.

Karina tidak bisa diam saja, gadis itu segera mengejar si pencopet dan ia tidak melihat jalanan yang ramai. Sehingga dirinya terserempet mobil, tetapi Karina masih bisa berdiri sendiri dan kembali mengejar si pencopet bersama beberapa orang yang mendengar teriakan si wanita yang ponselnya dibawa kabur.

Grep!

“Kena kau!” Seru Karina yang berhasil menarik tangan si pencopet yang sudah tidak bisa kabur lagi, karena banyak yang mengepungnya.

Karina segera merebut kembali ponsel yang sudah dicuri itu, lalu berjalan menuju ke arah wanita yang tengah mengatur napasnya.

“Tante ini ponselnya!” Gadis itu menyerahkan ponsel tersebut.

“Terima kasih Sayang,” ucap sang wanita sambil membuka tasnya untuk mengambil uang.

“Sama-sama Tante, kalau begitu saya permisi dulu!” Pamit Karina yang lupa kalau sedang membeli beras.

Namun tangannya ditahan, membuat gadis itu meringis pelan… ternyata lengannya terluka, akibat keserempet tadi.

“Kamu terluka karena membantu Tante, biar Tante yang bertanggung jawab membawamu ke rumah sakit,” ujar sang wanita dengan tatapan khawatirnya.

“Tidak usah Tante, soalnya saya ditunggu Ibu Dara—”

“Biarkan Tante bertemu dengan Ibumu,” potong sang wanita yang membuat Karina menganggukkan kepalanya.

...***...

Karina membawa wanita yang bernama Lesa itu ke panti asuhan Pelita.

“Tante duduk dulu, saya mau panggil Ibu Dara!” Kata Karina sambil mempersilahkan Lesa untuk duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu panti asuhan.

Lesa tersenyum tipis sambil mengamati sekitarnya, panti asuhan ini tidaklah besar… tetapi kata Karina ada sekitar lima puluh anak yang tinggal di sini.

“Karina sangat hebat, bahkan senyumannya begitu cerah… meskipun hidupnya seperti ini,” gumam Lesa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi suaminya untuk datang ke panti asuhan Pelita. Sebenarnya Lesa bisa membeli ponsel baru, tetapi di dalam ponselnya terdapat banyak sekali nomor dari orang-orang penting.

Ibu Dara muncul dari balik tirai yang menjadi pintu antara ruang tamu dan ruang berkumpul para anak panti.

“Maaf, kami hanya bisa menyajikan teh dan camilan seadanya,” ucap Ibu Dara dengan tidak enak, karena melihat penampilan Lesa yang bukanlah orang biasa.

“Justru saya yang harus meminta maaf, karena sudah merepotkan Anda,” balas Lesa dengan begitu ramah.

Karina yang membawa teh dan camilan ikut tersenyum, karena ia merasa kalau Lesa adalah orang yang sangat baik.

“Karina bisa duduk di sini? Tante juga ingin meminta pendapat darimu!” Kata Lesa, saat Karina hendak kembali ke dapur.

Karina melirik ke arah Ibu Dara yang ternyata menganggukkan kepalanya, gadis itu juga ikut mengangguk dan duduk di sebelah Ibu Dara.

“Tadi Karina sudah menolong saya dan dia sempat keserempet mobil, jadi saya mau bertanggung jawab… ini ada sedikit uang,” Lesa mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang berisi uang sekitar dua puluh jutaan.

“Tante, aku baik-baik saja. Tante tidak perlu…”

“Tidak Sayang, Tante harus bertanggung jawab atas apa yang kamu alami,” Lesa memotong kalimat gadis itu.

“Dan Tante ingin mengadopsimu menjadi putri angkat Tante, soalnya dari lama Tante menginginkan anak perempuan. Apa kamu mau menjadi anak angkat Tante?” Tanya Lesa yang sudah tertarik dengan Karina, saat pertama kali mereka bertemu.

Selain baik dan suka menolong, Karina juga adalah gadis yang begitu cantik… apalagi senyuman manisnya yang membuat Lesa semakin ingin mengangkatnya sebagai putrinya sendiri.

“Bagus Karina! Kamu bisa melanjutkan sekolah!” Seru Ibu Dara yang terlihat begitu senang, bahkan sampai meneteskan air mata.

Karina memang tidak melanjutkan sekolahnya, karena biayanya tidak cukup dan beasiswanya juga sempat dicabut… karena Karina sempat tidak masuk selama tiga hari, karena membantu Ibu Dara mengurus anak-anak panti.

“Tapi Ibu…”

“Ibu baik-baik saja, jangan khawatirkan Ibu! Masa depanmu masih panjang!” Ibu Dara kembali memotong kalimat Karina.

“Kamu tenang saja, Karina. Tante akan mengirim beberapa orang yang bisa membantu Ibu Dara mengurus adik-adik panti. Kalau kamu mau menjadi putri angkat Tante, nanti panti asuhan ini akan direnovasi agar lebih luas dan lebih layak untuk ditinggali. Tante juga akan memberikan biaya sekolah sampai kuliah untuk adik-adik panti. Bagaimana?”

Penawaran itu sangat menarik, karena sebagian anak-anak panti tidak bersekolah.

Demi adik-adik panti dan Ibu Dara, Karina menerima tawaran tersebut dan tanpa menunggu lama… Lesa langsung membawanya menuju ke sebuah Mansion yang sangat luas.

“Ini adalah tempat tinggal barumu,” ucap Lesa saat Karina keluar dari dalam mobil mewah yang dibawa oleh Xander, suami Lesa dan juga papa angkat Karina.

“Dan kamu akan memiliki tiga kakak kembar dan Mama pastikan kamu akan bahagia tinggal di sini!”

...\=\=\=\=\=...

...Bersambung!...

BAB 02

“Ini adalah kamarmu! Apa kamu menyukainya? Atau kamu ingin tidur di kamar lain?” Tanya Lesa yang saat ini sedang menunjukkan sebuah kamar yang begitu luas dengan nuansa merah muda.

Karina tidak mungkin bisa menolak kamar seluas ini, “Suka, Karina suka banget sama kamarnya!”

Lesa tersenyum senang mendengarnya, begitupun dengan Xander yang juga sudah tertarik dengan Karina saat pertama kali mereka bertemu.

“Papa masih ada urusan di kantor, Mama bisa membawa putri kita berkeliling untuk melihat tempat tinggalnya yang baru!” Kata Xander sambil mengecup kening istrinya, lalu ia mengusap puncak kepal putri angkatnya.

“Karina mau dibawakan apa kalau nanti Papa pulang dari kantor?” Tanya Xander dengan suara yang mengalun lembut.

Karina merasa sangat senang, karena kedua orang tua angkatnya sangat baik dan begitu perhatian kepadanya. Namun gadis itu masih belum bertemu dengan ketiga kakak angkatnya, jadi ia masih belum mengetahui sifat ketiga kakak angkatnya itu.

“Tidak ada, cukup Papa pulang dengan selamat,” jawaban manis itu membuat Xander tersenyum senang.

“Baiklah, nanti Papa bawakan cokelat dan susu untuk pertumbuhanmu!” Xander mengecup kening putri angkatnya, sebelum berlalu pergi untuk kembali ke kantor.

“Bagaimana Karina? Apa Papa juga terlihat menyayangimu?” Tanya Lesa yang masih belum melunturkan senyumannya.

Karina menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, karena Mama dan Papa mau menerima sebagai putri kalian.”

Seketika mata Lesa berkaca-kaca, “Tidak Sayang, seharusnya kami yang berterima kasih kepadamu. Mulai sekarang, kamu adalah putri keluarga Adhitama dan kamu bisa meminta apapun kepada kami!”

Lesa memeluk putri angkatnya dengan erat dan Karina bisa merasakan kembali pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama dirindukan olehnya, karena sejak menjadi Katarina… ia sudah kehilangan sosok Ibu saat usianya masih terlalu kecil.

“Sekarang Mama akan membawamu melihat-lihat ada ruangan apa saja di sini!” Lesa mengurai pelukannya dan mengajak sang putri untuk menyusuri setiap ruangan di lantai tiga.

Karina tidak menyangka kalau di lantai tiga adalah empat kamar dan yang tiga kamar adalah milik ketiga kakak angkatnya.

“Ini kamar Kakak pertamamu, Jemian!” Lesa mengajak Karina memasuki kamar yang bernuansa hitam dan abu-abu.

Karina tidak bisa menahan matanya untuk melihat seisi kamar kakak angkat pertamanya, hidungnya juga mencium aroma parfum menyengat yang kata Lesa adalah parfum kesukaan Jemian.

“Ini foto Jemian!” Lesa menunjukkan sebuah foto pria tampan yang memakai jas berwarna hitam.

Mata Jemian begitu mirip dengan Xander, berwarna biru.

“Ketiga Kakak Angkatmu adalah kembar, warna mata mereka sama—hanya wajahnya saja yang sedikit beda, jadi kamu tidak akan kebingungan untuk mengenali mereka,” jelas Lesa.

“Kak Jemian kerja di kantor Papa?” Tanya Karina yang dibalas anggukan oleh sang mama.

“Kakak pertamamu akan meneruskan bisnis keluarga Adhitama, lalu Kakak keduamu, Joshua adalah seorang dokter spesialis yang sangat muda. Yang terakhir Kakak ketigamu, Jevano menjadi seorang aktor dan penyanyi. Mama akan menunjukkan kamar mereka, di sana juga ada foto-foto mereka!” Lesa menarik tangan putri angkatnya untuk melihat dua kamar lain yang ada di lantai tiga.

Kamar Joshua bernuansa putih, sedangkan Jevano bernuansa hitam dan cukup menyeramkan. Karina juga sudah melihat foto mereka yang terasa tidak asing, bahkan saat mendengar nama ketiga kakaknya.

Entah pernah dengar di mana, Karina masih belum bisa mengingatnya dengan baik.

“Sekarang kamu beristirahat dulu! Kamu baru diobati, lihat-lihatnya dilanjut nanti sore saja!” Lesa mengantar Karina kembali ke kamar yang berada tepat di depan lift.

“Besok kita belanja baju baru untukmu, sekarang kamu bisa pakai beberapa baju Mama yang sudah lama tidak Mama pakai… karena sudah kekecilan. Mama keluar dulu, biar kamu bisa beristirahat dengan nyaman.”

Setelah itu, Lesa berlalu keluar dan meninggalkan Karina yang masih kagum dengan kamar barunya.

“Tapi siapa sebenarnya ketiga kakak angkatku? Kenapa aku tidak bisa mengingat di mana pernah mendengar nama mereka yang terasa tidak asing, bahkan profesi mereka juga?”

Karina merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, karena ia berkeliling cukup lama dan Mansion ini sangatlah luas. Namun satu yang terus mengganggu pikirannya, yaitu tentang ketiga kakak angkatnya.

...***...

Karina dibangunkan oleh Lesa, karena hari sudah sore dan nanti dirinya akan ikut makan malam bersama untuk berkenalan dengan ketiga kakak angkatnya yang memang disuruh pulang oleh Xander.

Bahkan Lesa juga sudah menyiapkan beberapa dress cantik untuk dipakai Karina, sebelum besok mereka belanja.

“Meskipun rasanya sedikit aneh, karena baru pertama kali bertemu… tapi Mama sudah sesayang ini sama aku. Jadi, nanti aku harus menyiapkan diri… kalau seandainya rasa sayang ini hanya sementara,” gumam Karina yang tidak bisa menenangkan pikirannya, sejak bangun tidur tadi.

Setelah semuanya dirasa selesai, Karina bergegas keluar dari kamar yang sudah menjadi miliknya itu.

Tidak seperti tadi saat pertama kali datang ke Mansion ini, Karina memilih untuk menuruni tangga daripada memakai lift untuk turun ke lantai satu. Sekalian juga berolahraga, karena Karina harus hidup dengan sehat.

“Kenapa lewat tangga?” Tanya Lesa yang sempat melihat putri angkatnya dari tangga, buka keluar dari lift.

“Sekalian olahraga,” jawab Karina yang langsung membantu mamanya untuk memasak makan malam.

“Kakak-kakakmu masih belum datang, mungkin mereka datang saat jam makan malam. Mama akan memberitahu makanan kesukaan mereka!” Kata Lesa yang tampak begitu bahagia, karena ada teman untuk memasak… meskipun sudah ada koki di Mansion, tetap saja memasak sendiri lebih menyenangkan.

Tidak terasa Karina menghabiskan waktu di dapur hampir dua jam dan semua masakan sudah selesai, para pelayan menyajikan masakan tersebut ke meja makan.

“Padahal kamu tadi sudah sangat cantik, tapi karena membantu Mama… kamu jadi bau masakan. Kamu mandi dulu, karena masih ada waktu sebelum makan malam!” Kata Lesa yang diangguki oleh Karina.

Gadis itu bergegas keluar dari dapur, kali ini Karina memakai lift agar tubuhnya tidak berkeringat dan bisa langsung mandi. Namun sebelum pintu lift tertutup sempurna, seseorang mengulurkan tangannya dan membuat pintunya kembali terbuka dan Karina bisa melihat tiga pria tampan dengan pakaian yang berbeda berdiri di depan lift.

Gadis itu mengerjapkan matanya, ia mencoba mengenali satu persatu wajah mereka yang merupakan kakak angkatnya. Namun semakin dilihat, sebuah ingatan tidak terduga muncul dan Karina sampai mundur dua langkah saat mengetahui siapa sebenarnya ketiga pria yang masih menatapnya dengan berbagai tatapan berbeda itu.

“Siapa?” Tanya Jemian dengan tatapan dinginnya.

Membuat Karina sedikit merinding, karena tatapan menyeramkan dari kakak pertamanya itu.

“Jemian, jangan menakuti gadis kecil ini!” Tegur Joshua yang masih memakai jas putihnya.

Sedangkan Jevano tidak peduli dan masuk ke dalam lift untuk segera pergi ke kamarnya.

Karina masih membeku di tempat, bibirnya bergumam pelan.

“Mereka adalah tokoh utama dari novel Love or Die? Dan mereka akan mati di tangan tokoh utama wanita?”

Bersambung!

BAB 03

Suasana di ruang makan terasa canggung dan membuat Karina sedikit tidak nyaman, karena pertemuan pertamanya dengan ketiga kakak angkatnya.

Karina akui kalau dirinya memang tidak bisa mengontrol ekspresinya, sebab ia terlalu terkejut saat menyadari di mana dirinya berada dan siapa ketiga kakak angkatnya itu.

“Karina mau nambah daging atau sayurnya?” Tanya Lesa yang menyadari kecanggungan sang putri angkat.

“Aku sudah kenyang, Ma,” jawab Karina dengan senyuman tipisnya.

Gadis itu bisa merasakan sepasang mata tajam terus memperhatikannya, dan itu berasal dari kakak pertamanya… Jemian yang masih menaruh curiga kepada Karina.

Jemian memang tipe orang yang tidak bisa mempercayai orang baru, pria itu juga sangat berhati-hati untuk menilai orang yang akan berada di dekatnya… termasuk adik angkatnya itu.

“Baiklah, kamu bisa menunggu di ruang keluarga! Nanti Mama dan yang lain akan menyusulmu!” Perintah Lesa.

Karina menganggukkan kepalanya, ia juga membutuhkan ruang untuk bisa bernapas dari tatapan tajam kakak pertamanya yang begitu menyeramkan.

Seperginya Karina, tatapan lembut Lesa kini berubah menjadi tajam dan membuat ketiga putranya langsung berdiri.

“Duduk! Ada yang perlu Mama bicarakan dengan kalian bertiga!” Lesa menunjuk satu persatu putranya yang hendak melarikan diri.

Meskipun umur mereka sudah dua puluh lima tahun, tetap saja mereka masih takut dengan Lesa kalau sedang mode marah.

“Mama paham kalau kalian bertiga masih belum bisa menerima kehadiran Karina di keluarga Adhitama, tapi Mama memiliki alasan untuk mengadopsi Karina,” Lesa menjeda kalimat, matanya menatap atau persatu reaksi yang ditunjukkan oleh ketiga putranya.

“Karina sudah menolong Mama yang kecopetan, dia bahkan sempet keserempet mobil… karena mengejar si pencopet. Karina juga menolak untuk dibawa ke rumah sakit, bahkan uang yang Mama berikan kepadanya. Dia adalah gadis yang baik dan Mama sangat menyukainya. Karina hidup di panti asuhan sejak kecil dan dia juga sampai putus sekolah, karena membantu ibu panti mengurus adik-adiknya,” Lesa tersenyum saat menceritakan bagaimana kehidupan Karina.

“Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata, bahkan mendapatkan beasiswa juga. Mama ingin mewujudkan cita-cita Karina, sekalian ingin mengadopsi sebagai putri yang selalu Mama tunggu sejak lama. Apa kalian bisa menerima Karina dengan pelan? Mama tidak akan memaksa kalian, tapi tidak ada salahnya kalau kalian berkenalan sendiri dengan Karina…”

“… dia adalah gadis yang memiliki senyuman begitu cerah, kalian pasti akan luluh kepadanya!” Lesa melirik suaminya yang juga tersenyum tipis.

“Mau bagaimana pun, sekarang Karina adalah adik kalian dan tugas kalian adalah melindunginya!” Tegas Xander yang tidak bisa dibantah oleh ketiga putranya.

Joshua memang terlihat begitu tenang dengan kehadiran Karina, jadi tidak masalah kalau sang mama menyuruhnya untuk dekat dengan adik angkatnya itu.

Sedangkan Jevano, lelaki itu sebenarnya tidak peduli kalau mamanya mengangkat seorang anak atau semacamnya. Sebab Jevan terlalu sibuk dengan pekerjaannya, belum lagi dengan tumpukan kontrak film yang masih menunggu keputusannya.

Lalu Jemian, pria itu sebenarnya tidak mau menerima kehadiran Karina yang bisa saja mengancam keluarganya. Sebab gadis itu terlihat begitu lemah dan mudah diculik untuk dijadikan sandera oleh musuh keluarganya, sehingga akan menyusahkannya nanti.

“Sekarang kalian temui Karina dan Mama memberi kalian waktu setengah jam untuk berkenalan dengan adik perempuan kalian!” Titah Lesa yang tidak bisa dibantah.

Mereka bertiga beranjak pergi dari ruang makan, menuju ruang keluarga… tempat di mana Karina sedang duduk sendirian sambil memeluk sebuah boneka yang tadi dibelikan oleh Xander saat pria paruh baya itu pulang kerja.

Karina sedikit terkejut melihat kehadiran ketiga kakak angkatnya, sebisa mungkin gadis itu memberikan senyuman terbaiknya.

“Tidak perlu takut, kami tidak akan memakanmu!” Kekeh Joshua yang langsung duduk di sebelah adik angkatnya.

Jevan memilih duduk di hadapan Karina, begitupun dengan Jemian yang memilih duduk di sebelah Jevan.

“Kenalin, nama kakak Joshua! Kamu bisa memanggil Kak Jo!” Joshua mengulurkan tanganya.

Dengan cepat Karina menerima uluran tangan kakak ketiganya. “Karina Putri!” Balas gadis itu dengan senyuman cerahnya.

Seperti yang dikatakan oleh Lesa, Karina memiliki senyuman yang begitu cantik dan membuat Joshua tidak bisa menahan senyumannya.

Sedangkan Karina, ia merasa nyaman dengan sosok Joshua yang memang memiliki karakter yang hangat dan penyayang. Tidak seperti kedua saudaranya.

“Mulai sekarang nama belakangmu ada Adhitama,” Joshua mengusap puncak kepala sang adik.

Joshua benar-benar menerima kehadiran Karina sebagai adik bungsunya, apalagi ia juga menginginkan seorang adik perempuan sejak kecil.

“Jevano!” Jevan mulai membuka suaranya.

Karina yang baru saja mendengar suara kakak ketiganya, kembali tersenyum.

“Dan saat berada di luar, jangan pernah terlihat akrab denganku! Jangan sampai orang lain tahu kalau kamu adalah adik angkatku!” Lanjutnya yang membuat senyum Karina memudar.

“Kenapa?” Tanya gadis itu yang tidak bisa menahan mulutnya.

“Apa Mama belum memberitahumu tentang pekerjaanku? Katanya kamu memiliki otak yang cerdas, jadi kamu pasti sudah tahu jawabannya!” Dengus Jevan.

Jevan memang hanya ramah dengan para penggemarnya, karena mereka adalah sumber uang baginya. Bahkan dengan kedua kembarannya sendiri, Jevan juga tidak pernah bersikap baik dan terkesan kasar.

“Jangan pedulikan Jevan, masih ada Kak Jo yang akan menjadi kakak terbaikmu!” Bisik Joshua yang masih bisa didengar oleh yang lain.

Jevan mendengus pelan, sebelum menyibukkan diri dengan ponselnya. Memang Jevan selalu sibuk dengan ponselnya, karena pekerjaannya tidak luput dari ponsel.

Kali ini Karina melirik ke arah Jemian yang masih enggan membuka suaranya, meskipun tatapan pria itu sudah tidak setajam tadi… namun tetap saja, Karina masih sungkan dengan kakak pertamanya itu.

“Jemian, kakak pertamamu,” hanya itu yang keluar dari mulut pedas Jemian.

Joshua menggelengkan kepalanya, kedua saudaranya itu memang sangat kaku saat berkenalan dengan orang baru. Padahal Karina adalah adik mereka, tetapi sikap mereka tetap saja acuh.

“Kak Jo boleh tahu apa cita-citamu?” Tanya Joshua yang mencoba mengalihkan perhatian Karina dari sikap kedua kembarannya itu.

“Mau jadi dokter,” jawab Karina yang kembali tersenyum.

“Kenapa mau jadi dokter? Apa ada alasan tertentu?” Tanya Joshua yang selalu tertarik kalau ada yang ingin menjadi seorang dokter seperti dirinya.

“Soalnya kalau adik-adik panti sakit, uang Ibu Dara tidak cukup untuk membawa mereka ke dokter. Jadi aku mau menjadi dokter biar bisa mengobati adik-adik panti.”

Jawaban itu terdengar begitu tulus, bahkan mata cokelat Karina juga tidak berbohong kalau gadis itu benar-benar sedih.

Jemian tersentak kaget, ia cukup terkejut dengan jawaban adik angkatnya itu. Namun Jemian tidak bisa langsung mempercayainya, karena dirinya belum terlalu mengenal Karina yang merupakan orang baru di keluarga Adhitama.

Bersambung!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!