“Mas, jangan pulang terlalu malam hari ini, ya?”
Ningsih berdiri di samping meja makan sambil meletakkan secangkir kopi hitam hangat yang aromanya mengepul lembut di depan suaminya.
Pagi itu, seperti biasa, ia bangun jauh lebih awal sebelum matahari terbit untuk menyiapkan sarapan dan memastikan segala kebutuhan keluarga kecil mereka terpenuhi dengan sempurna.
Di atas meja sudah tersaji nasi goreng mentega kesukaan Hendra, lengkap dengan telur mata sapi setengah matang, kerupuk, dan segelas jus jeruk segar. Namun, pria yang duduk di hadapannya itu bahkan tidak melirik sedikit pun masakan yang dibuat istrinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Hendra justru sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya, dahinya berkerut dalam seolah dunia luar jauh lebih penting daripada apa yang ada di dalam rumahnya.
“Mas dengar, kan?” tanya Ningsih lagi. Senyum tipis dipaksakan terukir di wajah cantiknya yang mulai menyiratkan gurat lelah.
Hendra menghela napas panjang, terdengar sangat kentara kalau ia merasa terganggu. “Iya, Ningsih. Aku dengar.”
“Jangan sampai lupa ya, Mas. Hari ini ulang tahun Luna yang keenam. Dia sudah bercerita ke semua teman-teman sekolahnya kalau Papanya bakal datang dan menemani dia tiup lilin di pesta nanti sore.”
“Kalau sempat,” sahut Hendra dingin tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
Senyum di wajah Ningsih seketika memudar. “Kalau sempat? Mas, ini hari ulang tahun putri tunggalmu.”
Prank!
Hendra meletakkan sendoknya dengan bunyi keras di atas piring.
“Ningsih, kamu pikir aku di luar sana itu nganggur? Aku ini bekerja! Banyak proyek dan urusan perusahaan yang harus aku urus. Tolong jangan kekanak-kanakan!”
“Aku cuma mengingatkan, Mas. Nggak ada maksud lain,” cicit Ningsih.
“Ya sudah, aku bilang aku dengar, kan? Nggak usah diulang-ulang!” nada bicara Hendra mulai meninggi.
“Luna sangat menunggu Mas. Sejak seminggu lalu dia sudah mencoret kalender.”
“Terus aku harus bagaimana sekarang? Membatalkan semua pertemuan penting dengan klienku hanya untuk pesta balon? Begitu maumu?” Hendra menatap Ningsih dengan kesal.
Ningsih menunduk dalam, meremas ujung celemeknya. Ia sudah sangat hafal dengan perubahan sikap suaminya dalam dua tahun terakhir ini. Dulu Hendra bukan seperti ini. Dulu, pria itu akan menggendong Luna sejak pagi buta sambil menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara sumbangnya yang jenaka. Dulu Hendra selalu menempatkan keluarga di atas segalanya.
Namun sekarang, kesuksesan finansial dan jabatan tinggi yang diraihnya ternyata telah mengubah banyak hal. Uang telah membutakan nuraninya.
“Aku cuma ingin Mas pulang tepat waktu. Sekali ini saja,” lirih Ningsih.
“Aku bilang kalau sempat, ya kalau sempat! Jangan hobi mendesakku!” bentak Hendra.
Ningsih menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. “Baik, Mas.”
Tepat setelah ketegangan itu memuncak, pintu kamar terbuka. Luna, gadis kecil berkuncir dua yang baru saja terbangun, berlari kecil dengan riang menuju ruang makan.
“Papa!” Wajah mungil itu langsung berseri-seri begitu melihat sosok sang ayah. Ia langsung memeluk erat kaki Hendra. “Papa ingat hari ini hari ulang tahun Luna yang keenam, kan?”
Hendra mengembuskan napas, mengubah ekspresi wajahnya secepat kilat. Ia tersenyum tipis, lalu mengusap kepala putrinya. “Iya, Papa ingat.”
“Papa pulang cepat kan sore ini? Nanti teman-teman Luna mau datang jam empat.”
“Iya.”
“Janji?” Luna mendongak, matanya yang bulat berbinar penuh harap.
“Hmm.”
Luna mengulurkan jari kelingking mungilnya tepat di depan wajah Hendra. “Janji kelingking dulu sama Luna!”
Hendra terlihat enggan sejenak, melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan. Namun, melihat mata sang anak, ia akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya.
“Iya, Papa janji.”
“Yeay! Hore!” Luna melompat-lompat kegirangan di lantai dapur. “Papa harus pulang tepat waktu ya! Luna mau tiup lilin besar sama Papa dan Mama!”
“Ya. Papa berangkat dulu.” Hendra segera menyambar jas dan tas kerjanya tanpa berpamitan pada Ningsih.
Tak lama kemudian, suara raungan mesin mobil sedannya yang mahal terdengar membelah halaman rumah sebelum akhirnya menghilang di kejauhan. Luna masih berdiri di ambang pintu depan, melambaikan tangan kecilnya dengan penuh semangat ke arah jalan kosong.
“Papa nggak akan ingkar janji kan, Ma?” tanya Luna, menoleh ke arah ibunya.
Ningsih berjalan mendekat, berlutut untuk menyamakan tinggi mereka lalu memaksakan senyum terbaiknya meski hatinya terasa ngilu. “Iya, Sayang. Papa pasti tepati janji.”
Meski kalimat penenang itu terucap lancar, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Ningsih merasakan firasat aneh.
*
*
Sejak siang hari, rumah mereka mulai ramai. Balon-balon berwarna-warni sudah menghiasi halaman depan. Sebuah kue ulang tahun bertingkat dengan hiasan istana cokelat pesanan Luna juga sudah tiba dan tertata rapi di tengah ruangan.
Beberapa teman sekolah Luna berdatangan satu per satu didampingi orang tua mereka. Luna mengenakan gaun putih cantik berbahan brokat yang membuatnya tampak persis seperti putri kecil di dalam dongeng.
Wajahnya amat menggemaskan, namun sejak sore hari, pandangan mata bocah itu sama sekali tidak fokus pada permainan. Luna terus melirik ke arah gerbang rumah yang tertutup rapat.
“Mama...” Luna menarik ujung baju Ningsih.
“Iya, Sayang? Ada apa?” Ningsih berjongkok di samping putrinya.
“Papa di mana? Ini teman-teman sudah mau pulang.”
“Masih di kantor, mungkin jalanan sore sedang macet banget, Sayang.”
“Oh...” Luna mencoba kembali tersenyum, meski binar di matanya perlahan meredup.
“Papa pasti datang kok. Kamu jangan khawatir, ya? Ayo main tebak-tebakan dulu sama teman-teman,” ucap Ningsih sambil mengusap lembut kepala Luna.
“Iya, Mama.”
Jam terus berputar. Pukul lima sore terlewati. Lalu pukul enam sore datang berganti malam. Hingga akhirnya jam dinding berdentang menunjukkan pukul tujuh malam.
Pesta ulang tahun sebenarnya sudah berjalan meriah. Anak-anak kecil bernyanyi, memakan camilan, dan berlarian ke sana kemari. Tetapi, satu kursi kayu yang dihias balon biru, yang sengaja disiapkan Luna khusus untuk tempat duduk ayahnya, masih tetap kosong melompong.
“Mama...”
“Iya, Sayang?”
“Papa benar-benar belum datang?”
Ningsih tidak menjawab. Tangan kanannya diam-diam meraba saku, memeriksa ponselnya untuk kesekian puluh kali.
Nihil.
Tidak ada satu pun pesan singkat. Tidak ada panggilan keluar yang terjawab, dan sama sekali tidak ada kabar dari Hendra.
“Sebentar lagi mungkin, Nak. Jalannya macet sekali kalau jam pulang kantor,” kilah Ningsih, padahal ia tahu ini sudah lewat jam lembur sekalipun.
“Papa lupa ya sama janji kelingking tadi pagi, Ma?”
“Nggak, Sayang. Papa nggak mungkin lupa.”
“Tapi ini sudah malam, langitnya sudah gelap sekali Mama.”
Ningsih terpaksa mengulas senyum yang terasa hambar di bibirnya. “Papa mungkin sedang ada rapat dadakan yang sangat penting di kantornya. Papa mencari uang untuk kita.”
Luna kembali menunduk, menatap ujung sepatu mininya. Anak sekecil itu mungkin belum memahami apa arti sebuah pengkhianatan dan kebohongan orang dewasa.
Tapi di detik itu, ia mengerti betul bagaimana rasanya menunggu dalam ketidakpastian. Dan seolah mulai mengerti betapa sakitnya rasa kecewa.
Tepat pukul delapan malam, satu per satu para tamu undangan mulai berpamitan pulang karena hari semakin larut. Kini, hanya tersisa Ningsih, Luna, dan tumpukan kado di ruang tamu. Lilin berangka 6 di atas kue istana cokelat itu masih berdiri tegak, belum sempat disulut api. Luna terus-menerus menolak untuk memulai prosesi tiup lilin.
“Ayo, Sayang,” bujuk Ningsih dengan suara yang teramat lembut, mencoba menyembunyikan rasa sesak di dadanya. “Kita tiup lilinnya sekarang, yuk? Keburu malam, nanti anak Mama ngantuk.”
Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Luna mau nunggu papa!”
“Nanti kalau papa datang, kita bisa pasang lilinnya lagi dan tiup lagi sama papa, oke?”
“Enggak mau! Pokoknya Luna mau tiup lilinnya bareng papa sekarang!” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah itu, membuat matanya yang bulat tampak berkilau menyedihkan. “Papa udah janji kelingking sama Luna tadi pagi, Ma... Papa janji...”
Kalimat sederhana yang keluar dari bibir mungil putrinya seketika membuat dada Ningsih serasa dihantam godam besar.
Sakit sekali.
“Papa pasti datang...” Ningsih mencoba menghibur.
“Papa bohong ya, Ma?”
“Sayang, jangan bilang begitu. Papa sedang bekerja.”
“Tapi papa belum datang! Papa bohong!” bibir mungil Luna bergetar hebat. Rasa kecewa yang dipendamnya sejak sore akhirnya pecah. “Papa nggak sayang lagi sama Luna!”
Deg!
Jantung Ningsih bagai diremas dengan kejam hingga ia kesulitan bernapas. “Sayang, jangan pernah ngomong begitu. Papa sayang banget sama Luna.”
“Kalau papa sayang, kenapa papa nggak datang ke pesta Luna? Kenapa papa biarkan Luna nunggu sendirian?” tangis Luna akhirnya pecah dengan histeris. Ia melempar boneka di tangannya dan memeluk erat leher Ningsih. “Mama... Luna mau papa... hiks... Luna mau papa pulang sekarang...”
Ningsih langsung mendekap erat tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Air matanya sendiri sudah mengambang di pelupuk mata, namun ia mati-matian menahannya agar tidak tumpah di depan sang anak.
Ia harus kuat. Untuk Luna. Selalu untuk Luna.
“Papa sayang Luna. Papa pasti pulang...”
“Bohong! Papa bohong!”
“Tidak, Nak...”
“Papa ingkar janji...”
Suara tangisan memilukan dari gadis kecil itu menggema memenuhi ruang tamu yang sunyi, menciptakan atmosfer perih yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Termasuk Ningsih, yang kini pertahanannya mulai goyah.
Dengan tangan yang gemetar, Ningsih akhirnya meraih ponselnya di atas meja. Rasa sabar dan pengertian yang selama ini ia agungkan runtuh seketika digantikan kemarahan yang membuncah. Ia bertekad harus meminta penjelasan dari Hendra malam ini juga.
Ningsih menekan tombol panggilan.
Panggilan pertama, nada sambung berdering panjang, namun tidak diangkat.
Panggilan kedua, langsung ditolak secara sepihak.
Panggilan ketiga, masih tetap dialihkan dan tidak dijawab.
Ningsih mulai didera rasa gelisah yang teramat sangat. Sementara di pangkuannya, Luna masih terus sesenggukan, menyembunyikan wajahnya yang basah di dada ibunya.
“Mama... telepon papa lagi... Luna mau dengar suara papa...” ratap Luna di sela isak tangisnya.
“Iya, Sayang. Mama telepon lagi ya,” ucap Ningsih menenangkan.
Ningsih menekan nomor suaminya untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, panggilan itu akhirnya terhubung. Ningsih seketika mengembuskan napas lega.
”Mas Hendra—”
Sialnya, kalimat yang sudah Ningsih susun mendadak terhenti di udara. Lidahnya mendadak kelu, karena suara yang terdengar dari seberang telepon sama sekali bukan suara Hendra. Melainkan suara seorang wanita.
“Halo? Siapa ya?” tanya wanita di seberang telepon.
Ningsih seketika membeku di tempat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas. Selama beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.
“Maaf... ini benar ponselnya Mas Hendra, kan?” tanya Ningsih, mencoba menstabilkan suaranya.
Wanita di seberang telepon terdengar terkekeh kecil, suara tawa yang teramat renyah dan santai. “Iya, benar. Ini hape nya mas Hendra kok. Kenapa?”
“Bisa saya bicara dengan pemilik ponselnya?” tuntut Ningsih, cengkeraman tangannya pada bodi ponsel mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aduh, maaf ya, nggak bisa sekarang. Mas Hendra nya lagi mandi,” jawab wanita itu tanpa beban sedikit pun.
Deg!
Dunia di sekitar Ningsih seakan berhenti berputar seketika. Kepalanya berdenyut pusing, hantaman kenyataan itu terasa begitu menyakitkan.
Mandi? Malam-malam begini, di jam delapan lewat, suaminya berada di suatu tempat dan sedang mandi, sementara ada wanita lain yang memegang dan berhak mengangkat ponsel pribadinya?
“Halo? Ini siapa sih? Kok diam saja?” tanya wanita itu lagi dengan nada santai. Terlalu santai, seolah keberadaan si penelepon sama sekali tidak berharga dan tidak penting baginya.
Ningsih menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa anyir darah mulai tercecap, mencoba menahan air mata yang mendadak mendesak keluar dari pelupuk matanya.
“Saya istrinya.”
Hening merayap selama beberapa detik di seberang sana.
Bukannya merasa takut atau bersalah, wanita itu justru kembali mengeluarkan tawa kecil yang terdengar mengejek. Tawa yang seketika membuat seluruh darah di dalam tubuh Ningsih mendidih karena murka.
“Oh, istrinya toh. Soalnya nggak ada namanya,” ucap wanita itu. “Mau aku panggilkan mas Hendra nya sekarang? Bentar ya, aku ketuk pintu kamar mandinya dulu.”
Suara gesekan kain dan langkah kaki terdengar dari seberang telepon. Dan tepat di detik berikutnya, suara sayup-sayup seorang laki-laki yang sangat amat dikenalnya selama tujuh tahun terakhir ini terdengar jelas memanggil dari kejauhan.
“Siapa yang telepon, Sayang?” tanya Hendra dari seberang sana, suaranya terdengar begitu mesra, suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi Ningsih dengar di dalam rumah mereka.
Tubuh Ningsih kaku bak patung. Napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya terasa begitu sesak seperti dihantam ribuan jarum tak kasat mata. Sementara di pangkuannya, Luna masih terus menangis sesenggukan memeluk boneka beruang hadiah ulang tahunnya yang malang.
Anak itu menangis, mengharapkan kehadiran seorang ayah yang bahkan tidak ingat sedikit pun pada janji kelingking yang ia ucapkan tadi pagi. Seorang ayah yang tega menukar malam bahagia putrinya demi bersenang-senang di atas ranjang wanita lain.
Air mata akhirnya runtuh membasahi pipi Ningsih, jatuh menetes mengenai kening Luna.
Ningsih menangis bukan karena ia lemah atau kalah. Tapi karena malam ini, tepat di hari ulang tahun anaknya yang keenam, ia baru menyadari satu kenyataan pahit. Suaminya tidak sedang sibuk bekerja demi masa depan keluarga. Suaminya sedang membagikan tubuh dan cintanya pada wanita lain di luar sana, sementara putri kandungnya menangis kelaparan akan kasih sayang di rumah.
“Jahat kamu, Mas! Tega kamu mengkhianatiku,” batin Ningsih nelangsa.
“H—halo, Ningsih? Maaf, tadi Arumi sekretarisku yang angkat. Ada apa?” tanya Hendra terdengar gelagapan karena keceplosan memanggil Arumi sayang.
“Sekretaris?” Ningsih tersenyum getir.
Sejak kapan panggilan atasan ke bawahan semesra itu?
Setelah panggilan telepon yang menghancurkan hatinya itu terputus sepihak, Ningsih masih duduk membeku di atas sofa ruang tamu. Kedua tangannya menggenggam ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara air mata terus mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya.
Di pangkuannya, Luna akhirnya tertidur lelap karena kelelahan menangis. Gaun ulang tahun yang sejak pagi dipakainya dengan penuh kebanggaan kini tampak kusut.
Ningsih menatap wajah polos putrinya yang masih menyisakan bekas air mata di sudut pipi. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap.
“Apa salah anak kecil ini, Mas? Apa begitu sulit bagimu untuk meluangkan satu malam saja demi putrimu sendiri?” batin Ningsih nelangsa, meratapi kemalangan nasib mereka.
Jarum jam dinding di ruangan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki halaman rumah. Ningsih langsung menegakkan punggungnya. Ia memindahkan tubuh Luna yang tertidur ke sofa dengan sangat hati-hati, lalu berdiri.
Sepasang matanya yang sembap menatap lurus ke arah pintu utama dengan tatapan yang tak lagi sama. Tatapan penuh luka yang kini mulai dilapisi oleh dinding es yang dingin.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Hendra melangkah masuk dengan santai. Pria itu bahkan tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel pintarnya, berjalan melewati ruang tamu tanpa menoleh sedikit pun pada dekorasi balon atau kue ulang tahun yang mencolok di tengah ruangan.
Tidak ada guratan rasa bersalah di wajah tampannya. Tidak ada penjelasan. Tidak ada juga untaian kata maaf yang keluar dari bibirnya. Ia bersikap seolah-olah malam ini hanyalah malam biasa yang berjalan tanpa cela.
“Mas,” panggil Ningsih.
Hendra menghentikan langkahnya di dekat gantungan jas, menoleh malas dengan sebelah alis terangkat. “Hm? Kamu belum tidur?”
“Kemana saja kamu baru pulang, Mas?”
Hendra mendengus pelan, lalu melepas jas kerjanya dengan gerakan tak acuh.
“Aku kerja, Ningsih. Kan tadi pagi sudah kubilang kalau hari ini jadwalku padat.”
Jawaban itu keluar begitu saja dari mulutnya. Datar, lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Ningsih menatap suaminya lekat-lekat selama beberapa detik, mencoba mencari sisa-sins kejujuran yang mungkin tersembunyi, namun ia tidak menemukan apa pun selain keangkuhan.
“Kerja?” ulang Ningsih dengan menyindir.
“Iya, kerja. Kenapa? Kamu mau menginterogasiku sekarang?” sahut Hendra, mulai tersulut emosi.
“Luna menunggumu sejak jam empat sore, Mas. Dia menolak meniup lilinnya sampai matanya bengkak dan tertidur karena kelelahan menangis,” ucap Ningsih, menunjuk ke arah sofa tempat Luna meringkuk.
Hendra melirik sekilas ke arah putrinya, lalu membuang muka dengan cepat. “Ya mau bagaimana lagi? Aku sibuk. Urusan di kantor tidak bisa ditinggal begitu saja hanya untuk urusan sepele seperti ini.”
“Urusan sepele?” Suara Ningsih mulai bergetar, menahan gejolak amarah yang siap meledak di dadanya. “Mas sudah janji kelingking padanya tadi pagi! Mas berjanji akan datang tepat waktu!”
“Ningsih, tolong ya! Aku sudah bilang kalau ada pekerjaan mendadak. Jangan seperti anak kecil yang tidak tahu skala prioritas!” bentak Hendra, nadanya mulai meninggi.
Ningsih menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam jiwanya. Biasanya, ia akan memilih diam. Biasanya, ia akan mengalah, meminta maaf, dan menelan semua rasa sakit itu sendiri demi menjaga kedamaian rumah tangga mereka.
Namun, tidak malam ini berbeda. Terlalu banyak kebohongan yang terjadi. Terlalu banyak luka yang sudah ia tahan selama dua tahun terakhir ini.
“Kalau memang Mas sibuk kerja di kantor, kenapa teleponku tadi diangkat oleh wanita lain?” tanya Ningsih langsung, menusuk tepat pada sasaran.
Gerakan tangan Hendra yang hendak melonggarkan dasinya langsung terhenti seketika. Hanya sesaat, sebelum ia dengan cepat menguasai kembali ekspresi wajahnya dan berjalan santai menuju sofa panjang, lalu duduk di sana sambil menyandarkan punggungnya dengan angkuh.
“Wanita lain? Wanita lain siapa maksudmu?” tanya Hendra balik, pura-pura bingung.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Mas. Kamu tahu persis siapa yang memegang ponselmu malam ini.”
Hendra mendecak pelan, melemparkan pandangan jengah ke arah langit-langit rumah. “Ningsih, mulailah bicara yang jelas. Jangan membuatku pusing setelah seharian lelah mencari uang.”
“Aku mendengar suara perempuan di teleponmu, Mas! Aku mendengar semuanya dengan sangat jelas!” seru Ningsih, air matanya kembali menetes.
“Lalu? Apa yang kamu dengar dari telepon itu?” tanya Hendra menantang sembari melipat kedua tangannya di dada dengan tenang.
Ningsih melangkah mendekati sofa, mencengkeram ujung bajunya hingga kuku-kukunya memutih.
“Wanita itu bilang Mas sedang mandi.”
“Hahaha!” Hendra tiba-tiba tertawa pendek. Tawa sinis yang justru terasa bagai sembilu yang mengiris-iris hati Ningsih hingga hancur berkeping-keping. “Terus? Cuma karena itu kamu langsung menuduhku yang tidak-tidak?”
“Terus dia memanggil namamu dengan suara yang teramat manja dan akrab,” suara Ningsih semakin bergetar hebat, menahan tangis yang mendesak di tenggorokan.
“Memangnya kenapa kalau dia memanggil namaku? Hak dia, kan?”
Ningsih menatap suaminya dengan pandangan tak percaya.“Mas serius berkata begitu padaku? Mas menganggap itu hal yang wajar?!”
“Ya, wajar saja.”
“Dia itu wanita lain, Mas Hendra! Wanita lain yang mengangkat ponsel pribadimu di malam hari!” teriak Ningsih, tak mampu lagi membendung emosinya.
Hendra mengembuskan napas kasar dari hidungnya, memasang wajah super jengkel. “Ya Tuhan, Ningsih... kamu ini benar-benar picik.”
“Aku juga mendengar suaramu di balik telepon itu, Mas. Aku tidak tuli!”
“Dengar apa lagi kamu, hah?!” bentak Hendra balik, matanya berkilat marah karena privasinya mulai diusik.
“Aku mendengar dengan telingaku sendiri Mas memanggil perempuan itu dengan kata sayang. Mas mau mengelak apa lagi?!”
Suasana ruang tamu mendadak hening mencekam selama beberapa detik setelah kalimat itu meluncur dari bibir Ningsih. Bukannya panik atau ketakutan karena kedoknya terbongkar, Hendra justru kembali menyunggingkan senyum sinis yang teramat meremehkan.
Pria itu berdiri dari duduknya, menatap Ningsih dari atas ke bawah dengan malas.
“Astaga, Ningsih...” Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa? Kenapa Mas menatapku seperti itu?”
“Kamu benar-benar sudah keterlaluan dan tidak punya harga diri.”
Ningsih mengerutkan keningnya dalam-dalam, dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar. “Aku yang keterlaluan? Aku?!”
“Iya, kamu!” Hendra maju satu langkah, mengintimidasi Ningsih dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. “Ningsih, sejak kapan kamu berubah menjadi perempuan paranoid yang suka menuduh suaminya berselingkuh tanpa ada bukti yang jelas, hah? Kamu ini hanya berspekulasi!”
“Aku tidak menuduh tanpa bukti, Mas! Aku mendengar suaramu sendiri di telepon itu!”
“Telingamu yang salah dengar!” Kalimat tegas dan dingin itu meluncur begitu saja dari mulut Hendra, membuat Ningsih seketika terdiam terpaku.
“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin salah mendengar suaramu sendiri, Mas,” lirih Ningsih dengan gelengan kepala tanda menyangkal.
“Sangat mungkin! Kamu itu dari dulu memang dasarnya gampang panik dan terlalu curigaan!” cecar Hendra tanpa belas kasihan. “Kamu terlalu banyak berimajinasi di rumah ini.”
“Aku tidak salah dengar, Mas! Suaramu jelas sekali!”
”Aku bilang kamu salah dengar, ya kamu salah dengar! Jangan membantahku!” bentak Hendra.
Ningsih merasa dadanya semakin panas membara, amarahnya sudah mencapai titik didih. “Mas Hendra, aku ini istrimu! Aku mendampingimu selama tujuh tahun, aku tahu betul bagaimana suaramu! Dan aku tidak bodoh!”
“Tapi sikap dan otakmu malam ini benar-benar seperti orang yang tidak pernah menggunakan akal sehat untuk berpikir!”
Deg!
Ucapan kasar itu menusuk tepat di jantung Ningsih. Selama tujuh tahun mengarungi bahtera rumah tangga, sekaya atau sesukses apa pun Hendra belakangan ini, pria itu tidak pernah sekali pun melontarkan kalimat yang penuh dengan penghinaan sekejam ini kepadanya.
Kini, setiap kata yang keluar dari mulut Hendra terasa seperti injakan kaki yang sengaja merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!