"Jangan mati dulu, Pa! Calla janji nggak bakal borong tas mewah lagi! Calla janji bakal belajar masak! Pa, bangun, Paaa!"
Suara tangisan melengking itu memecah kesunyian ruang ICU yang didominasi bunyi digit konstan alat pacu jantung. Callanta Brielle Davis, dengan mata sembap dan hidung merah merona, menggenggam erat tangan ringkih ayahnya. Rambut panjangnya berantakan, jauh dari citra gadis sosialita yang biasanya selalu tampil sempurna.
"Ca... Calla..." Harjuno Davis membuka matanya perlahan, suaranya terputus-putus di balik masker oksigen.
"Iya, Pa! Calla di sini. Papa mau apa? Mau buah? Mau Calla panggilin dokter paling mahal se-Indonesia?" Calla mendekatkan telinganya, air matanya menetes ke seprai rumah sakit.
Harjuno menggeleng lemah. Matanya melirik ke arah sudut ruangan yang remang-remang. "Papa... nggak bisa temenin kamu lagi. Kamu... terlalu polos. Gampang ditipu cowok brengsek."
"Nggak, Pa! Calla udah pinter sekarang!" Calla sesenggukan.
"Bohong. Minggu lalu kamu hampir transfer sepuluh juta ke akun giveaway palsu," bisik Harjuno, membuat Calla mendadak tersedak ludahnya sendiri di tengah tangisan. Harjuno menghela napas berat, lalu memberi isyarat dengan jarinya ke arah sudut ruangan. "Al... ke sini."
Seorang pria yang sejak tadi berdiri dalam diam di kegelapan melangkah maju. Calla mendongak, mengerutkan keningnya di balik sisa-sisa air mata. Pria itu memakai topi pet yang ditarik agak rendah, jaket kain usang berwarna hijau tua yang kedodoran, dan celana jin longgar yang warnanya sudah memudar. Wajahnya tertutup masker kain hitam, hanya menyisakan sorot mata yang tajam dan dingin.
"Dia... Alaric," ucap Harjuno parau. "Anak sahabat lama Papa. Orang biasa... kerja swasta biasa. Tapi dia jujur, bisa jagain kamu."
Calla melongo, menatap pria kumal di depannya dari atas sampai bawah. "Hah? Tapi Pa—"
"Nikah sama dia... sekarang. Ini... permintaan terakhir Papa, Calla. Biar Papa tenang." Harjuno mencengkeram tangan Calla, napasnya mulai memburu, membuat layar monitor di sampingnya berbunyi semakin cepat.
"Pa! Papa jangan sesak napas gitu, Calla takut! Iya, iya, Calla mau! Calla nikah sama siapa aja asal Papa jangan pergi!" jerit Calla panik total.
Pria berjaket usang itu—Alaric—menatap Harjuno, lalu beralih ke Calla yang sudah menangis bombay. Ia menghela napas panjang di balik maskernya, lalu berbalik ke arah pintu. "Pak Penghulu, silakan masuk. Saksi dan wali hakim sudah siap."
Calla bahkan tidak sempat berpikir jernih. Otak manjanya mendadak macet. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seorang penghulu darurat dari pihak rumah sakit sudah berdiri di samping ranjang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Callanta Brielle Davis binti Harjuno Davis dengan mas kawin tersebut, tunai."
Suara Alaric terdengar sangat berat, dalam, dan bergema pelan di dalam ruangan. Ada penekanan yang begitu tegas, membuat bulu kuduk Calla meremang seketika. Pria ini... suaranya kok mirip om-om di film aksi?
"Sah?"
"Sah."
Tepat setelah kata "sah" diucapkan oleh para saksi, bunyi panjang yang memilukan terdengar dari layar monitor. Garis hijau di layar itu berubah menjadi lurus sempurna.
BEEEEEEEP.
"PAPAAAAAAA!" Jeritan Calla pecah, meruntuhkan seluruh pertahanannya saat ia ambruk di atas dada sang ayah yang sudah tidak berdenyut lagi.
Tiga jam setelah prosesi pemakaman yang melelahkan dan sepi, kembali kerumah sakit untuk mengurus berkas kematian sang Ayah. Calla berdiri di lobi rumah sakit dengan tas ransel kecil di punggungnya. Semua aset ayahnya sudah dibekukan untuk pengurusan warisan, dan Calla benar-benar tidak tahu harus melangkah ke mana. Ibunya sudah tiada sejak ia kecil.
Sebuah mobil SUV hitam besar berhenti tepat di depannya. Kaca mobil turun, menampilkan sosok Alaric yang masih memakai topi pet dan jaket usang yang sama.
"Masuk," ujar Alaric singkat. Kedengarannya bukan ajakan, melainkan perintah yang tidak bisa dibantah.
Calla mengerucutkan bibirnya, membuka pintu mobil dengan kasar lalu duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat-erat. Sepanjang jalan, keheningan menyelimuti mereka. Calla sibuk menghapus air matanya yang sesekali masih menetes, sementara Alaric fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan.
"Kita... mau ke mana? Rumah kontrakan kamu?" tanya Calla lirih, memecah kesunyian. "Nggak apa-apa deh kalau kecil, asal nggak ada kecoanya. Calla phobia kecoa."
Alaric tidak menjawab. Ia hanya memutar setir, membawa mobil keluar dari jalur kota besar.
"Kamu denger aku ngomong nggak, sih? Oh iya, aku harus panggil kamu apa? Mas? Abang? Kamu umur berapa?" Calla mulai cerewet karena merasa diabaikan.
"Alaric. Panggil nama saja," jawab pria itu dingin.
"Nggak sopan tahu! Keliatannya kamu jauh lebih tua dari aku. Kerutan di deket mata kamu itu udah keliatan walau pake masker," gerutu Calla.
Mobil tiba-tiba melambat. Calla melihat ke luar jendela dan matanya langsung membelalak. Di depan mereka bukan kompleks perumahan atau deretan kontrakan kumuh, melainkan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap, berseragam loreng lengkap, dan menyandang senapan panjang di dada mereka.
"Lho, lho! Ini di mana?! Kok banyak tentara?!" Calla langsung panik, menggeser duduknya menjauh dari pintu.
Begitu mobil Alaric mendekat, kedua tentara itu mendadak berdiri tegak, meletakkan tangan di pelipis mereka, dan memberikan hormat dengan gerakan patah-patah yang sangat kompak.
"Selamat siang, Komandan!" seru salah satu penjaga dengan suara lantang.
Gerbang besi terbuka otomatis. Mobil SUV hitam itu melaju masuk ke dalam area pangkalan yang sangat luas. Di lapangan dalam, Calla bisa melihat belasan pria berbadan kekar tanpa baju sedang merangkak di dalam lumpur, sementara seorang pria lain berteriak-teriak memakai pengeras suara.
Seketika, sebuah ingatan dari fyp TikTok melesat di otak Calla. Sebuah berita viral: 'Anak Manja dan Susah Diatur Akan Dikirim ke Barak Militer untuk Dididik Fisik dan Mental Hingga Tobat.'
Wajah Calla langsung pucat pasi. Air matanya yang tadi sudah surut, kini mendadak mengucur deras seperti keran rusak.
"Hwaaa! Ampun! Nggak mau!" Calla langsung merosot dari kursinya, berlutut di lantai mobil dan memeluk paha kiri Alaric yang sedang menginjak pedal gas.
"Calla, apa yang kamu lakukan? Lepas! Ini berbahaya saat menyetir!" Alaric tersentak, berusaha menjaga keseimbangan mobil hingga akhirnya mengerem mendadak di depan sebuah rumah dinas yang bercat hijau rumput.
"Nggak mau! Hikss... Papa tega banget! Jadi Papa nikahin aku sama kamu biar aku dibuang ke sini?!" Calla makin histeris, menatap Alaric dengan mata kucingnya yang basah kuyup. "Calla tahu Calla nakal! Calla manja! Suka habisin duit Papa! Tapi jangan taruh Calla di barak, Mas Kumal! Calla nggak mau disuruh merangkak di lumpur kayak mereka!" Calla menunjuk ke arah lapangan dengan jari gemetar.
Alaric menghela napas berat, suara embusan napasnya terdengar sangat frustrasi. Pria itu mematikan mesin mobil, lalu perlahan membuka topi pet-nya. Masker kain hitamnya diturunkan ke dagu.
Calla tertegun sebentar. Di balik pakaian usangnya, pria ini ternyata punya wajah yang luar biasa tampan—rahang tegas, hidung mancung sempurna, dan tatapan mata elang yang sangat tajam. Tapi tetap saja, garis-garis tegas di wajahnya menunjukkan kematangan pria usia akhir tiga puluhan. Dia seumuran dengan paman-paman Calla yang suka main golf!
Alaric kemudian membuka resleting jaket usangnya, lalu melepar jaket itu ke kursi belakang. Di balik jaket usang itu, melekat kemeja dinas militer berwarna hijau tua yang melekat ketat di tubuh kekarnya, lengkap dengan papan nama bordir bertuliskan ALARIC VANCE dan tanda bintang berkilau di kerahnya.
"Siapa yang mau membuang kamu ke barak? Ini pangkalan tempat saya bekerja," ujar Alaric, suaranya kini terdengar dua kali lipat lebih berat dan menggelegar dari biasanya. Suara khas komandan yang biasa memberi perintah di medan perang.
Calla menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya gemetar melihat seragam itu. "T-tapi... kata Papa kamu karyawan swasta biasa baju kumal..."
"Papa kamu yang menyuruh saya memakai jaket itu agar kamu tidak kabur saat di rumah sakit," jawab Alaric datar. Ia menatap Calla yang masih bersimpuh di lantai mobil sambil memeluk kakinya. "Sekarang berdiri. Kembali ke kursimu."
Melihat suaminya yang berwajah sangar dan kaku itu hanya menatapnya datar, otak cegil Calla langsung berputar mencari cara untuk bertahan hidup. Ia tidak boleh berakhir di lumpur pangkalan ini! Calla mendongak, menatap Alaric lekat-lekat dengan tatapan memohon yang sengaja dibuat se-seksi mungkin, meski hidungnya merah dan air matanya masih mengalir.
"Paksu..." Calla memanggil dengan nada manja yang bergetar.
Alaric mengernyitkan alis tebalnya. "Pak-apa?"
"Paksu! Pak Suami!" seru Calla tanpa malu, mengusap air matanya dengan lengan bajunya sendiri. "Paksu, Calla janji deh mulai hari ini Calla bakal tobat. Calla bakal jadi istri yang solehot buat Paksu!"
Alaric langsung tersedak ludahnya sendiri. "Apa? So-apa?"
"Solehot! Solehah tapi hot!" Calla menegaskan dengan wajah super serius. "Calla janji bakal nurut, bakal belajar salat yang bener, dan... dan Calla bakal pakai baju dinas malam yang seksi buat Paksu setiap hari! Asal... asal Paksu jangan kurung Calla di barak! Calla manja, Paksu, nggak bisa kena angin malam, nanti Calla masuk angin hwaaa!" Calla kembali menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di lutut Alaric.
Alaric Vance, Komandan Pasukan Khusus yang ditakuti ratusan prajurit dan pernah melumpuhkan puluhan pemberontak tanpa berkedip, seketika membeku di tempat.
Matanya melebar, menatap puncak kepala istri kecilnya yang ajaib ini. Perlahan, warna merah merambat naik dari leher hingga ke ujung telinga sang komandan galak, menahan rasa malu, syok, sekaligus pening yang luar biasa akibat imajinasi liar dari gadis berusia 21 tahun di bawahnya.
"Calla," panggil Alaric, suaranya mendadak serak karena menahan gejolak aneh di dadanya.
"Nggak mau denger! Pokoknya janji dulu jangan taruh Calla di lumpur!" sahut Calla dari bawah sana.
Alaric memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia tahu mendiang sahabat ayahnya menitipkan seorang putri, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa yang dititipkan kepadanya adalah sebuah bom waktu berwujud gadis cegil yang manja.
"Duduk di kursimu sekarang, atau saya benar-benar akan menyuruhmu push-up tiga puluh kali di lapangan," ancam Alaric dengan nada dingin militer yang dipaksakan.
Mendengar kata push-up, Calla langsung bergerak secepat kilat. Ia langsung melompat kembali ke kursi penumpang, duduk tegak dengan tangan bersedekap, dan bibir yang dikerucutkan sepanjang lima senti.
"Dasar om-om kaku galak," gumam Calla pelan sekali, hampir seperti bisikan.
Alaric mengabaikan gumaman itu, walau telinganya yang tajam bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Ia membuka pintu mobil, lalu menoleh sedikit ke arah Calla.
"Turun. Selamat datang di rumah dinas saya, Istri Solehot."
Calla langsung melotot menatap punggung tegap suaminya yang berjalan turun duluan. Habislah sudah masa-masa indahnya sebagai tuan putri sosialita. Kini, hidupnya berada di bawah komando penuh pria kaku berusia 38 tahun ini.
"Ini rumah apa museum, sih? Kok sepi banget kayak nggak ada kehidupan!"
Calla berdiri di tengah ruang tamu rumah dinas Alaric sambil berkacak pinggang. Matanya menyipit, meneliti setiap sudut ruangan. Lantai tegel berwarna putih itu begitu mengilap sampai Calla bisa melihat pantulan wajah cantiknya sendiri di sana. Sofa berbahan kulit hitam tertata simetris sempurna, sejajar lurus dengan meja kayu di depannya. Bahkan pajangan berupa miniatur tank dan kapal perang di bufet tersusun tegak lurus tanpa miring satu derajat pun.
Alaric yang baru saja meletakkan tas ransel Calla di dekat tangga hanya berdehem kaku. Ia melepas baret merahnya, lalu meletakkannya di atas meja kecil dekat pintu masuk—tentu saja dengan posisi yang sangat presisi.
"Ini rumah dinas, bukan museum. Dan di sini memang hanya saya yang tinggal," jawab Alaric datar, suaranya berat bergema.
"Wah, Paksu bohong ya? Pasti Paksu sewa agen pembersih nomor satu di kota ini sebelum jemput Calla, kan?" Calla berjalan mendekati meja, lalu mengusapkan jari telunjuknya ke permukaan kayu. Ia memeriksa jarinya dengan teliti. "Gila, nggak ada debu sama sekali! Bersih banget!"
"Tidak ada agen pembersih. Saya yang menyapu, mengepel, dan merapikan semuanya sendiri setiap pagi sebelum apel."
Calla langsung melotot. Ia menatap Alaric dari atas sampai bawah, seolah-olah suaminya itu baru saja mengaku bisa terbang. "Hah?! Paksu bisa pegang sapu?! Umur tiga puluh delapan tahun, jenderal tentara, tapi bisa mengepel?!"
"Saya Komandan, bukan Jenderal. Dan itu hal dasar. Memangnya kenapa?" Alaric mengernyit bingung melihat reaksi heboh istrinya.
Calla bertepuk tangan heboh, melompat-lompat kecil dengan wajah tanpa dosa. "Hebat banget! Seumur hidup, Calla nggak pernah tahu bentuk asli sapu kalau dipegang langsung! Waktu kuliah di Australia, Papa sewa apartemen mewah yang udah lengkap sama pelayan. Di rumah utama keluarga Davis, Papa bahkan tugasin khusus sepuluh pelayan cuma buat urusin kebutuhan Calla!"
Alaric mendadak merasa kepalanya berdenyut lebih nyeri dari biasanya. Pria itu memijat pangkal hidungnya, menatap gadis di depannya dengan tatapan pasrah. Sepuluh pelayan? Sementara di rumah ini, jangankan pelayan, mesin cuci pun tipe manual yang harus dikuras sendiri.
"Di sini tidak ada pelayan, Calla. Jadi kamu harus belajar mandiri," ujar Alaric tegas, mencoba menanamkan kedisiplinan sejak hari pertama.
"Enggak mau! Kan Calla udah janji tadi di mobil, tugas Calla di sini cuma satu: jadi istri solehot! Tugas istri solehot itu berdandan cantik dan melayani Paksu di kasur, bukan pegang sapu!" sahut Calla dengan nada enteng, sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Alaric tersedak ludahnya sendiri untuk yang kedua kali hari ini. Wajah garangnya mendadak kaku, dan semburat merah samar kembali muncul di telinganya. "Jaga bicaramu, Callanta. Ini masih siang."
"Ih, Paksu denger ya, daster mini Calla di koper ada banyak, lho! Nanti malam Paksu pasti langsung tobat jadi galak!" Calla mengedipkan sebelah matanya jahil, benar-benar menikmati ekspresi salah tingkah sang Komandan yang sangat langka itu.
"Cukup. Masuk ke kamar kamu di lantai atas, bersihkan badan, dan ganti pakaian yang sopan," perintah Alaric cepat, mengalihkan pembicaraan sebelum imajinasi istrinya semakin liar.
Malam harinya, pangkalan militer itu menjadi sangat sunyi. Angin malam berembus cukup kencang, menggoyang pohon-pohon mangga di sekitar rumah dinas.
Alaric sedang duduk di tepi ranjang kamarnya, fokus membaca beberapa dokumen dokumen taktis di bawah pendar lampu meja. Ia sudah berganti pakaian menggunakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot dada dan lengannya, dipadukan dengan celana panjang loreng.
KREKKK.
Pintu kamar Alaric terbuka perlahan. Alaric mendongak, dan seketika itu juga, napasnya tertahan di tenggorokan. Jakunnya naik turun dengan cepat.
Calla berdiri di ambang pintu. Gadis itu baru saja selesai mandi, rambutnya yang setengah basah dibiarkan terurai berantakan, wangi sabun stroberi langsung menguar memenuhi kamar Alaric. Tapi yang membuat Alaric mematung adalah pakaiannya. Calla memakai gaun tidur berbahan satin tipis berwarna merah menyala, dengan tali yang sangat kecil di pundaknya. Panjang gaun itu bahkan tidak sampai menyentuh lututnya, mengekspos kaki jenjangnya yang putih mulus.
"Paksu... Calla kedinginan di kamar sebelah. AC-nya nggak bisa dimatiin, Calla nggak tahu tombolnya yang mana," rengek Calla sambil berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja dibuat manja.
Alaric langsung berdiri tegak seperti sedang melakukan posisi siap di depan jenderal. Seluruh otot tubuhnya menegang. Sebagai pria matang normal, pemandangan di depannya ini benar-benar cobaan iman tingkat tinggi. Namun, akal sehatnya berteriak bahwa Calla masih terlalu muda, dan gadis ini baru saja kehilangan ayahnya tadi siang.
"Calla, balik ke kamarmu. Pakai baju yang benar. Angin malam di sini tidak bagus untuk kesehatan," ujar Alaric, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serak dan berat karena menahan hasrat.
"Nggak mau! Ini kan baju dinas malam Calla! Ini bukti kalau Calla menepati janji buat jadi istri solehot biar nggak dikurung di barak! Ayo dong, Paksu, masa kaku banget sih sama istri sendiri?" Calla makin mendekat, mengerucutkan bibirnya yang ranum, berniat memeluk lengan kekar Alaric.
Satu detik sebelum kulit mulus Calla menyentuh lengannya, panik melanda insting Alaric. Dengan gerakan refleks kilat khas Pasukan Khusus, Alaric menyambar mantel dinasnya yang tebal dan besar yang tergantung di kapstok dekat kasur.
WUSH!
"Eh! Kok gelap?!" Jerit Calla bingung.
Dalam sekejap, Alaric sudah membungkus tubuh mungil Calla dengan mantel dinas tersebut, lalu mengancingkannya dari atas sampai bawah hingga Calla tenggelam seperti buntalan kain besar yang kedodoran. Hanya menyisakan kepala dan kaki kecilnya yang menyembul.
"Ikut saya keluar sekarang!" perintah Alaric dengan muka merah padam, napasnya memburu.
"Hah?! Mau ngapain, Paksu? Malam pertama kok malah diajak keluar?! Kita mau tidur di barak luar ya? Hwaaa, nggak mau!" Calla mulai panik, tangannya berontak di dalam mantel yang kaku itu.
"Diam atau saya hukum benar-benar!" gertak Alaric dengan suara baritonnya yang menggelegar.
Gertakan itu sukses membuat Calla langsung bungkam, matanya berkaca-kaca siap menumpahkan tangisan bombay dalam hitungan detik. Melihat istrinya mulai sesenggukan, Alaric menghela napas, lalu menarik pergelangan tangan Calla lembut untuk mengikutinya keluar rumah.
Lima menit kemudian, mereka sudah berada di tepi lapangan pangkalan militer yang sangat luas. Lapangan itu diterangi oleh beberapa lampu sorot raksasa dari pos jaga.
"Duduk di sini. Jangan ke mana-mana," perintah Alaric, mendudukkan Calla di sebuah kursi tribun portabel di pinggir lapangan.
"Paksu mau ngapain? Calla takut..." Bisik Calla sambil mengeratkan mantel besar Alaric di tubuhnya. Hidungnya sudah memerah karena hawa dingin pangkalan.
Tanpa menjawab, Alaric berjalan ke tengah lapangan. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang bayangan lekuk tubuh Calla dari otaknya. Cara terbaik untuk menyalurkan energi dan hasrat tertahannya sebagai tentara hanya satu: menguras fisik.
TAP! TAP! TAP!
Alaric langsung mengambil langkah seribu, berlari maraton memutari lapangan dengan kecepatan penuh di tengah malam yang dingin.
Sementara itu, dua prajurit yang sedang piket jaga di pos luar melotot tak percaya menatap pemandangan di depan mereka. Mereka saling berbisik dengan wajah tegang.
"Sersan, itu Komandan Alaric, kan? Kenapa lari jam segini?"
"Nggak tahu, mungkin lagi latihan fisik dadakan. Tapi... lihat yang di tribun itu siapa?"
Kedua prajurit itu makin melotot saat melihat Calla. Gadis cantik itu awalnya cemberut, namun pandangannya mendadak teralih pada sebuah benda di bawah kursi tribun—sebuah raket nyamuk listrik berwarna hijau dengan lampu indikator merah yang menyala.
"Wah! Ada mainan gila!" Seru Calla girang, melupakan kesedihannya.
Calla langsung menyambar raket tersebut. Bukannya mengantuk, Calla justru mendadak super aktif karena melihat banyak nyamuk kebun pangkalan yang mulai berdatangan. Dengan mantel dinas Alaric yang kedodoran bergoyang-goyang mengikuti gerakannya, Calla melompat ke sana kemari di atas tribun.
CUPING! PLAK! CETARRR!
"Hahaha! Rasain lu nyamuk nakal! Mengganggu ketenangan istri solehot ya!" Teriak Calla riang gembira.
Alaric yang baru saja menyelesaikan putaran kesepuluh lewat di depan tribun dengan napas terengah-engah dan kaus yang sudah basah kuyup oleh keringat.
"Paksu! Lihat! Calla dapat lima belas nyamuk gila! Banyak banget!" Teriak Calla sambil mengacungkan raket nyamuknya tinggi-tinggi ke arah Alaric, memamerkan percikan listrik merahnya dengan wajah bangga luar biasa.
Alaric yang sedang berlari hampir saja tersandung kakinya sendiri mendengar teriakan itu. Ia melirik ke arah pos jaga, di mana dua anak buahnya sedang membusungkan dada dengan sangat kaku—berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak kena sanksi jemur besok pagi.
Alaric hanya bisa menggelengkan kepala pasrah, sambil terus berlari memutari lapangan demi mendinginkan kepalanya yang semakin panas akibat tingkah ajaib sang Ismut. Hidupnya sebagai Komandan Pasukan Khusus yang tenang, dipastikan sudah tamat sejak malam ini.
"Sersan! Itu... Ibu Komandan yang semalam nangkep nyamuk, kan?"
Kopral Dua Bagas menyenggol lengan seniornya, Sersan Dua joko, dengan gerakan patah-patah. Keduanya sedang berdiri tegap dalam posisi istirahat di tempat di koridor depan kantor markas komando, memegang sapu dan kain pel.
Mata mereka berdua melotot, menatap lurus ke arah halaman depan rumah dinas sang Komandan yang terletak tidak jauh dari lapangan apel.
Di sana, Calla baru saja keluar dari pintu rumah dengan langkah gontai. Gadis itu mengenakan daster longgar berwarna kuning menyala dengan motif bunga matahari besar-besar. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badai berwarna pink menyala. Di tangan kanannya, raket nyamuk listrik legendaris semalam masih setia digenggam erat, seperti seorang prajurit yang tidak boleh terpisah dari senjatanya.
"Siap, betul, Kopral. Jangan melotot begitu, jaga pandangan! Kalau Komandan Alaric lihat, kita bisa disuruh tiarap di selokan sampai magrib!" bisik Sersan Joko lewat sudut bibirnya tanpa menggerakkan kepala.
"Tapi, Ser... Ibu Komandan kok... bawa raket nyamuknya ke mana-mana ya? Apa pangkalan kita emang darurat malaria?"
"Diam, Bagas! Komandan datang!"
Langkah kaki tegap berirama militer terdengar dari arah dalam kantor. Alaric Vance keluar dengan seragam dinas harian (PDH) yang sangat rapi. Baret merahnya terpasang sempurna di kepala, memancarkan aura mengintimidasi yang membuat siapa pun langsung ciut. Wajahnya yang tampan terlihat sangat datar, rahangnya mengeras saat pandangannya langsung tertuju pada daster kuning menyala di seberang lapangan.
Alaric menghela napas panjang, lalu berjalan cepat menyeberangi lapangan semen, menghampiri istri kecilnya yang sedang menguap lebar di teras rumah.
"Calla," panggil Alaric, menekan suaranya sedalam mungkin agar tidak terdengar sampai ke pos jaga.
"Eh, Paksu!" Calla langsung berbinar, menurunkan raket nyamuknya lalu melambaikan tangan dengan heboh. "Paksu mau ke mana pagi-pagi gini? Kok rapi banget sih? Ganteng deh, kayak om-om pelindung negara di drakor!"
Alaric menegang, matanya melirik ke kiri dan ke kanan secara refleks. "Masuk ke dalam rumah, Calla. Jangan berdiri di luar dengan pakaian seperti itu."
"Kenapa sih? Daster ini nyaman tahu! Adem, semilir anginnya pas banget," sahut Calla santai, sambil mengibaskan bagian bawah dasternya hingga memperlihatkan betis putihnya yang mulus.
Wajah Alaric mendadak memanas. Ia langsung melangkah maju, memosisikan tubuh kekarnya yang lebar tepat di depan Calla untuk menghalangi pandangan para prajurit di sekeliling lapangan. "Ini pangkalan militer, Callanta. Banyak prajurit pria berlalu-lalang. Tidak sopan keluar rumah hanya memakai daster longgar."
Calla cemberut, bibirnya maju beberapa senti. Ia mendongak, menatap mata elang Alaric dengan tatapan cengeng andalannya. "Paksu kok galak banget sih dari kemarin? Calla kan baru bangun tidur! Calla lapar, tahu! Di dapur Paksu nggak ada makanan sama sekali, cuma ada beras mentah sama botol kecap asin. Paksu mau biarin Calla mati kelaparan di sini?!"
Suara Calla mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca dalam hitungan detik.
Alaric langsung panik. Setengah mati ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat berwibawa di depan anak buahnya, padahal di dalam hati ia sudah kelabakan. "Jangan menangis. Saya tidak membentakmu."
"Tapi suara Paksu nge-bass banget kayak mau ngajak berantem! Hikss... Papa... Calla mau pulang ke rumah Papa aja... Di sini suaminya kaku kayak tripleks..." Calla mulai sesenggukan, menutup wajahnya dengan sebelah tangan sementara tangan satunya masih memegang raket nyamuk.
"Calla, berhenti. Iya, maaf," potong Alaric cepat, nadanya melunak drastis. Pria 38 tahun itu menyerah kalah. "Saya tidak bermaksud galak. Sekarang masuk dulu, ya? Nanti saya pesankan makanan di kantin markas."
Tangisan Calla mendadak berhenti seketika. Ia menurunkan tangannya, menampilkan mata kucingnya yang bersih tanpa air mata. "Beneran? Calla mau nasi goreng yang pakai sosis, bakso, telur ceploknya setengah matang, terus kerupuknya harus banyak! Oh, sama es teh manisnya yang manis banget kayak Calla!"
Alaric mengerjapkan matanya, sedikit syok dengan perubahan suasana hati istrinya yang secepat kilat. "Iya, nanti saya pesankan. Sekarang, masuk dan ganti bajumu."
"Oke, Paksu! Tapi panggil dulu dong!" Calla menahan pintu rumah dinas, menatap Alaric penuh tuntutan.
"Panggil apa?" Alaric mengernyit.
"Panggil 'Ismut'! Kan udah sepakat kemarin, Calla itu Ismut, Istri Imut! Kalau Paksu panggil 'Calla' terus, rasanya kayak lagi diabsen guru sekolah tahu!"
Alaric membeku. Ia melirik ke arah koridor kantor, di mana Joko dan Bagas berpura-pura sangat sibuk mengelap kaca yang sebenarnya sudah sangat bersih. Tenggorokan Alaric mendadak kering. Membayangkan dirinya, seorang Komandan Pasukan Khusus, mengucapkan kata se-infantil itu di tengah pangkalan terbuka benar-benar merusak harga dirinya.
"Tidak di sini, Calla. Masuklah," bisik Alaric kaku.
"Nggak mau! Kalau Paksu nggak panggil Ismut, Calla bakal berdiri di sini seharian pakai daster kuning ini sambil goyang-goyang raket nyamuk! Biar temen-temen tentara Paksu lihat semua!" ancam Calla dengan mode cegil-nya yang mulai aktif. Ia bahkan bersiap mengambil posisi siap berjoget.
Alaric memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Sisa-sisa kesabarannya sebagai tentara benar-benar diuji oleh gadis 21 tahun ini. Sambil menahan malu yang luar biasa hingga seluruh permukaan telinganya berubah menjadi merah padam, Alaric mendekatkan wajahnya ke arah Calla, lalu berbisik dengan sangat kaku.
"Iya... masuklah... Ismut..."
Calla langsung tertawa cekikikan, merasa menang telak. "Aww, gemes banget sih Paksu kalau lagi tegang gitu wajahnya! Ya udah, Ismut masuk dulu ya, dadah Paksu ganteng!"
BRAK.
Pintu rumah ditutup rapat dari dalam. Alaric menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak berantakan. Ia membetulkan posisi baret merahnya dengan gerakan tegas, lalu berbalik badan dengan wajah yang kembali dingin dan sangar seperti semula.
Alaric berjalan tegap menuju koridor kantor markas komando, tempat Joko dan Bagas berdiri tegak seperti patung lilin.
"Sersan Joko, Kopral Bagas," panggil Alaric, suaranya menggelegar dingin.
"Siap, Komandan!" jawab keduanya serentak, membusungkan dada dengan pandangan lurus ke depan.
"Kaca itu sudah bersih. Sekarang jalankan hukuman disiplin. Push-up lima puluh kali di pangkalan sekarang juga," perintah Alaric tanpa ekspresi.
"Siap, laksanakan, Komandan!" tanpa banyak tanya, kedua prajurit malang itu langsung mengambil posisi tiarap di semen panas, merutuki nasib mereka yang tidak sengaja menyaksikan sisi lemah sang macan pangkalan.
Alaric melangkah melewati mereka menuju ruang kerjanya, sambil diam-diam memikirkan bagaimana caranya memberi tahu juru masak kantin markas untuk membuat nasi goreng pakai sosis dan telur ceplok setengah matang yang sesuai dengan standar "Istri Imut"-nya. Hidupnya benar-benar sudah bergeser haluan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!