Mungkin hati Elowen terbuat dari batu.
Di hari kematian ayahnya, Tuan Whitmore. Elowen sendiri yang tidak menangis seperti ke empat saudaranya.
Semua ini bukan karena Elowen tidak menyayangi ayahnya, tapi apa yang dilakukan sang ayah semasa hidup kepadanya, membuat Elowen tidak begitu sedih atas kematian kepala keluarga Whitmore itu.
Aula utama Whitmore House pagi itu penuh dengan aroma lilin dan bunga lili putih, Tirai-tirai hitam ditarik turun menutupi jendela.
Sunyi menyelimuti ruang tengah kediaman Whitmore. Para pelayat sudah pergi sejam yang lalu.
Hanya ada anggota keluarga yang masih tersisa, lima anak Whitmore yang hari itu resmi tidak lagi memiliki orang tua.
Tidak ada percakapan, hening. Hanya sesekali suara isak tangis Cleona, putri sulung keluarga Whitmore yang terdengar.
Pendar lilin, bergerak pelan, cahaya menuntun ke siluet pria yang sedang berdiri di dekat jendela tinggi. Adrian Whitmore. Si putra sulung keluarga itu, masih dengan pakaian berkabung hitamnya. Bahunya tegak, tapi jelas matanya kelam. Terlihat lelah.
“Sekarang bagaimana?” suara Bastian, anak kedua keluarga Whitmore.
“Apanya yang bagaimana?” Dylan si anak nomor empat menyahut.
“Bagaimana dengan hutang keluarga ini?” Bastian kembali membahas masalah pelik yang muncul tepat sehari sebelum sang ayah meninggal.
“Apa kau perlu mengatakannya sekarang, Bastian?” dengan suara paraunya Cleona membalas pertanyaan Bastian.
“Ya, kita harus membahasnya sekarang. Masalah ini tak bisa dibiarkan begitu saja ‘kan? Kupikir, kecuali Elowen kalian harus mengatakan pendapat kalian.” Bastian melirik Elowen sesaat, tatapan yang selalu Elowen benci.
Kakak keduanya itu selalu menganggapnya tak berguna karena tidak bisa bicara. Tapi, Bastian lupa kalau dirinya masih memiliki telinga yang bisa mendengar dan mata yang melihat jelas.
“Sudah cukup!” Adrian menghentikan Bastian. “Aku akan mencari solusinya nanti.”
“Nanti?” Dylan kembali bersuara, “kita tidak tahu kapan Mr. Halford datang kemari. Kurasa Bastian ada benarnya, kita harus mempersiapkan semuanya dari sekarang, Adrian.”
Bastian mengangguk, dia senang mendapat dukungan.
“Kalian gila! Di hari kematian ayah kita kalian sibuk memikirkan hal lain,” ucap Cleona kecewa dengan sikap saudara laki-lakinya.
Elowen tahu kenapa sikap Cleona seperti itu. Sebagai putri kesayangan pasti dia sangat kehilangan. Andai saja Elowen mendapatkan kasih sayang itu dari ayahnya, apa dia akan menangis seperti Cleona?
Adrian melihat kedua saudara laki-lakinya. Bastian dan Dylan, berdiri berdampingan menatap ke arahnya. “Aku tahu kalian khawatir,” katanya. “Aku juga tahu kalian pasti sedih dengan kepergian ayah,” tatapannya beralih pada Cleona. Kemudian menatap singkat ke arah Elowen tanpa berkata apa-apa.
“Tapi tergesa-gesa memutuskan bukanlah hal bagus. Aku akan mencari solusi untuk kita bisa melewati semua ini.”
Sebagai anak pertama, tentu Adrian menggantikan posisi kepala keluarga Whitmore, setelah ayah mereka meninggal.
Dan, pertama kali yang harus ia atasi adalah menenangkan adik-adiknya. Sebelum mengatasi masalah besar yang dialami keluarga itu. Hutang Whitmore yang sangat besar.
***
Tiga hari setelah kepergiaan Tuan Whitmore.
Pagi yang sibuk bagi Adrian untuk mengurusi semua administrasi rumah tangga. Meski tidak memiliki kasih sayang yang besar untuk anaknya, Tuan Whitmore adalah seorang ayah yang bertanggung jawab.
Semasa hidupnya semua urusan keuangan selalu ditangani sendiri. Adrian baru sadar kalau dia tak lebih dari seorang anak manja selama ini.
Adrian tidak memiliki banyak pengalaman tentang mengurus kebutuhan rumah tangga. Rasanya kepalanya ingin pecah melihat angka-angka dan tagihan yang begitu rumit untuk dimengerti.
Saat kepalanya hampir meledak, seorang pelayan mengetuk pintu ruang kerja. “My Lord,” katanya pelan.
“Ada apa?” teriak Adrian dari dalam.
“Ada seorang tamu yang ingin menemui Anda.”
Adrian mengalihkan pandangannya dari lembar kertas yang tersebar di atas meja. Ia berdiri ke arah pintu, membukanya dan mendapati pelayan berdiri di sana menunduk.
“Siapa?”
Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab.
“Mr. Halford, My Lord.”
Kerutan tipis muncul di dahi Adrian.
Pengacara keluarga itu datang lebih cepat dari dugaan Adrian.
“Bawa dia ke ruang baca.”
Pelayan itu mengangguk. “Sesuai perintah, My Lord.”
Adrian menghela napas panjang, dia tak mengira Mr. Halford akan datang lebih cepat dari dugaannya. Pastinya kedatangan pria bertubuh gempal itu adalah untuk membahas hutang keluarga Whitmore.
***
“Lord Adrian Whitmore.”
Mr. Halford berdiri saat Adrian masuk, menundukkan kepala dengan sopan.
“Mr. Halford,” balas Adrian sambil menutup pintu di belakangnya.
“Saya ikut berduka atas kehilangan ini, Tuan Whitmore adalah pria yang baik dan terhormat,” ucap Mr. Halford menyatakan belasungkawa.
Adrian mengangguk. “Terima kasih.” Pria itu mempersilahkan tamunya duduk.
Suasana menjadi hening sesaat.
“Jadi, ini tentang apa? Tidak mungkin hanya ucapan bela sungkawa saja ‘kan Mr. Halford?”
Mr. Halford tersenyum tipis. Kemudian dia membuka tas kulitnya dan mengeluarkan beberapa berkas lalu meletakkannya ke atas meja.
“Anda pasti sudah mendengar sebelumnya, Lord Whitmore.”
Mr. Halford sengaja memanggil Adrian dengan sebutan itu. Adrian tahu maksudnya, dia melirik berkas itu sesaat.
“Semua ini catatan pinjaman dan kewajiban keuangan milik mendiang ayah Anda, Tuan.”
Adrian menelan ludah, semuanya sudah dimulai. Perlahan dia mendekat ke arah meja. Tangannya mengulur mengambil selembar berkas yang ada di sana.
Mr. Halford menegakkan tubuhnya, mengambil napas sebelum akhirnya bersuara.
“Beberapa tahun terakhir, Lord Whitmore melakukan beberapa investasi yang…” Mr. Halford menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan dengan nada menyesal. “Maaf, kalau saya harus mengatakan bahwa investasi itu kurang berhasil.”
Adrian terpaku, ia membaca halaman pertama, kedua, lalu ketiga dari dokumen yang diberikan Mr. Halford.
Setiap kali membaca tiap baris angka, membuat dada Adrian terasa berat, seolah dihantam oleh batu besar.
“Sebanyak ini?”
Adrian tidak pernah membayangkan kalau nominal hutang dengan jumlah yang tidak kecil.
Mr. Halford mengangguk. “Ya, Tuan. Ayah anda meminjam dana dari beberapa pihak. Mulai dari bangsawan, bank, bahkan kepada investor pribadi yang ia datangi semasa hidup.”
Adrian menjatuhkan berkas itu ke meja, tangannya memijat pelipisnya yang sudah mulai berdenyut.
Sunyi memenuhi ruang baca keluarga Whitmore.
“Berapa total semuanya?”
Mr. Halford menyebutkan angka.
Adrian memejamkan matanya untuk sesaat. Jumlah yang cukup besar untuk membuat keluarga bangsawan akan goyah.
“Para pemberi pinjaman,” suara Adrian terhenti, “apa mereka menagih sekarang?”
“Sebagian besar, ya.”
“Kematian Lord Whitmore membuat mereka khawatir mengenai jaminan pembayaran,” lanjut Mr. Halford dengan nada simpatik.
Adrian tertawa getir. Tentu saja mereka khawatir, nominal itu sangat besar. Bahkan tanah Whitmore yang luas tidak akan cukup untuk membayar bahkan setengahnya.
“Apa yang terjadi jika kami tidak bisa membayar?” ucap Adrian pelan.
Mr. Halford tidak langsung menjawab. Tapi, ekspresinya cukup membuat Adrian mengerti. Tentu saja semuanya akan hancur, nama Whitmore sebagai bangsawan terhormat akan runtuh dalam beberapa waktu.
“Jika anda tidak segera menemukan cara melunasi hutang ini. House Whitmore mungkin akan mengalami kesulitan besar.”
“Lalu, saya harus bagaimana Mr. Halford?”
“Mungkin ini tidak membantu banyak. Tapi kenapa anda tidak mencoba untuk memasukkan adik anda ke pasar pernikahan?”
Adrian mengerutkan kening. “Maksud Anda pernikahan untuk sebuah aliansi?”
Mr. Halford mengangguk singkat.
“Anda bisa memilih antara Lady Cleona atau Lady… Elowen.”
Adrian terdiam.
***
“Tidak! Aku tidak mau!” tolak Cleona tegas ketika Adrian mengatakan bahwa dirinya akan masuk ke pasar pernikahan untuk dijodohkan.
“Hanya kau harapan keluarga ini, Cleona.”
“Aku tidak mau menikah melalui pasar perjodohan!” Cleona kembali berteriak.
“Cleona, rendahkan suaramu! Tidak pantas wanita bangsawan berbicara dengan nada tinggi,” Bastian menegur adik perempuannya.
Seperti biasa, lima bersaudara Whitmore berkumpul di ruang tengah. Adrian perlu membahas semua ini kepada semua saudaranya.
“Kau bisa bicara seperti itu, karena kau laki-laki, Bastian!” tegas Cleona hampir mengumpat kakaknya.
Mereka seolah memojokkan dirinya agar mau dijodohkan. “Kenapa harus aku? Masih ada Elowen,” tunjuk Cleona pada Elowen yang duduk di kursi berlapis beludru.
Elowen menoleh mendengar dirinya disebut. Para saudara laki-lakinya ikut melihat ke arahnya. Tapi, dengan cepat mereka berpaling.
“Elowen memiliki kekurangan, tidak mungkin bangsawan kuat mau menerima perempuan bisu—”
“Adrian!” potong Dylan.
Adrian menghentikan ucapannya, sadar kalau kata-katanya telah menyinggung Elowen. “Maafkan aku Elowen, aku tidak bermaksud,” kata Adrian menyesal.
Elowen mengangguk pelan. Tapi hatinya sudah sangat pedih, bahkan untuk masuk pasar perjodohan dia tidak pernah dipertimbangkan.
“Pokoknya aku tidak mau!” Cleona tetap kekeh dengan pendiriannya.
“Tidak ada penolakan Cleona,” ucap Adrian tegas. “Aku tetap akan membawamu ke kerajaan besok untuk mendaftar ke pasar pernikahan.”
Cleona terdiam.
Rahangnya mengeras, jarinya mengepal di sisi gaun hingga lipatan kain kusut karena genggamannya. Ada banyak kata yang ingin ia lontarkan, namun semuanya tertahan di ujung lidah.
***
Di kamar, Cleona masih saja menangis. Beberapa pelayan sampai kebingungan bagaimana cara untuk menghentikan air mata nona muda mereka.
“Kumohon Miss, jangan menangis lagi. Mata anda akan menjadi bengkak dan merah esok hari.”
Cleona tidak mendengarkan pelayannya dan masih saja sesenggukan. Dia tidak mau menikah karena perjodohan. Karena Cleona sudah memiliki orang yang ia cintai.
Elowen di depan pintu, melihat sekilas keadaan kakaknya. Kemudian dengan keberaniannya ia mengetuk pintu kamar sang kakak.
Cleona menoleh, matanya yang basah bertambah banjir ketika melihat Elowen. “Aku tidak mau menikah,” lirihnya.
Elowen berjalan mendekat. Kemudian memeluk Cleona, berusaha menenangkannya.
“Aku tidak bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak kukenal, Elowen.”
Elowen menepuk punggung Cleona lembut. Mengangguk pelan, seolah memberitahu kakaknya bahwa dia mengerti yang dirasakan wanita itu.
Cleona melepaskan pelukan mereka lebih dulu. Matanya sendu menatap Elowen. “Kenapa tidak kamu saja yang dijodohkan?”
Mata Elowen bergetar. “Apa kamu serius mengatakan hal ini, Cleona?” ucap Elowen dalam diam.
“Kamu tidak punya seseorang yang kamu cintai. Kamu bahkan tidak pernah pergi keluar, perjodohan sangat tepat untukmu.”
Bahkan, kau pun berkata seperti itu… Elowen menghela napasnya dalam. Entah kenapa kata-kata Cleona terdengar menyakitkan.
Sayangnya, Elowen tidak bisa membalas perkataan Cleona langsung. Dia hanya bisa diam, memaksakan senyuman kecil untuk Cleona. Ya, perjodohan sangat tepat untuknya. Tapi, itupun tidak pernah dipertimbangkan oleh kakak mereka.
Sepertinya Elowen tidak akan secepatnya menikah.
Memang siapa keluarga yang mau menerima perempuan bisu?
***
Hati Elowen getir ketika melihat lukisan ibunya di dinding ruang keluarga. Cantik, dan sangat mirip dengannya.
Rambut pirang dengan kilau perak berpadu dengan mata abu-abu yang memancarkan kilau lembut. Keindangan Lady Agatha Whitmore memberikan dua hal itu sebelum meninggal dunia setelah melahirkan sang putri bungsu, Elowen Whitmore.
Itulah alasan Lord Whitmore, tak pernah menatap dalam Elowen selama ia hidup.
Putri bungsunya itu selalu mengingatkan pada mendiang sang istri yang sangat dicintainya.
Elowen adalah gambaran kebahagiaan dan kesedihan dalam waktu bersamaan bagi Lord Whitmore.
“Ibu, apa aku tidak pantas untuk menikah?” ucap Elowen dalam diamnya. Matanya berkaca-kaca, setetes air mata jatuh membasahi pipi.
Kata-kata Adrian masih membekas di hati Elowen. “Tidak mungkin keluarga bangsawan kuat menerima perempuan bisu…” Elowen bahkan bisa menebak kalimat selanjutnya.
Wanita itu berjalan menuju kamarnya.
***
Para pelayan sudah begitu sibuk di pagi hari. Lima pelayan khusus keluarga Whitmore bertugas untuk mempersiapkan Cleona.
Gaun sudah disiapkan, beserta semua printilan yang diperlukan. Putri sulung keluarga Whitmore itu harus tampil sempurna hari ini.
Seorang pelayan berjalan menuju ruang persiapan. Pelayan kedua dan ketiga menyiapkan permandian, sementara yang lain pergi menjemput nona muda mereka di kamarnya.
“Miss Cleona?” panggil seorang pelayan dari depan kamar Cleona.
Tidak ada jawaban.
“Miss Cleona?” panggilnya lagi. Kali ini sambil mengetuk pintu kamar nona muda mereka.
Hening.
Pelayan itu menoleh ke arah temannya. Menggeleng.
“Kita harus memberitahu Tuan Adrian,” ucap pelayan lain.
Mereka pun menemui Adrian di ruang tengah. Menceritakan semua yang terjadi sebelumnya.
Adrian mengetatkan rahangnya, dia tidak mau berasumsi lebih dulu. Tapi, jelas sekali wajahnya mengkhawatirkan sesuatu.
Adrian berjalan cepat menuju kamar Cleona diikuti para pelayan. Mengetuk keras pintu kamar Cleona.
“Cleona? Buka pintunya, Cleona!” teriaknya.
Seperti sebelumnya, tidak ada tanggapan sama sekali dari dalam. Adrian mulai menegang, matanya berkilat.
“Dobrak pintunya!” katanya penuh penekanan ke arah pelayan pria di dekatnya.
“Apa Tuan?”
“Dobrak pintunya!” Adrian mengulangi kata-katanya dengan nada tinggi.
Benar saja, pintu kamar Cleona didobrak, suaranya yang kencang membangunkan Elowen. Kamarnya memang tak jauh dari sana.
Dylan juga ikut terbangun. Sedangkan, Bastian masih terlelap dalam tidurnya karena ia baru saja kembali beberapa jam lalu dari pub tempatnya minum-minum semalaman.
Setelah percobaan berkali-kali, akhirnya pintu kamar Cleona terbuka.
Adrian langsung melangkah ke dalam diikuti para pelayan. Beberapa saat kemudian, Elowen dan Dylan datang.
Tidak ada yang menemukan Cleona. Kamarnya kosong. Rapi, bahkan seperti tidak tersentuh sama sekali.
Di atas ranjang ada empat surat tergeletak rapi.
Untuk Adrian dari Cleona:
Perempuan bukan sebuah barang yang bisa ditransaksikan. Maafkan aku Adrian. Aku memilih cinta daripada sebuah nama kehormatan.
Untuk Bastian dari Cleona:
Sebaiknya kau mencari pekerjaan daripada selalu mengunjungi pub dan bersenang-senang dengan pelacur. Beruntung kau tidak terlahir menjadi perempuan. Karena kalau itu terjadi, kau pasti tidak akan sanggup menahan rasa sakitnya, Bastian. Dari saudarimu yang harus memilih pergi.
Untuk Dylan dari Cleona:
Dari sekian laki-laki di rumah Whitmore. Kau selalu menjadi favoritku. Belajarlah yang baik di Oxford, dan belajarlah untuk menghargai seorang perempuan kemudian hari. Karena dua kakak laki-laki kita sudah mengecewakan salah satunya.
Untuk Elowen dari Cleona:
Maafkan aku Elowen.
Cleona kabur di hari perjodohannya.
Adrian meremas surat yang ditinggalkan Cleona untuknya. “Brengsek!” umpat pria itu.
Semua orang terdiam, Adrian terlihat sangat marah.
Dylan mendekat ke kakak sulungnya. Tapi, secepat kilat Adrian menoleh ke arah Elowen yang masih memakai piyama tidurnya. “Kau! Persiapkan dirimu,” katanya menunjuk Elowen lalu pergi keluar.
Elowen menyusul kakaknya, dengan mata bulat seolah bertanya. Persiapan untuk apa?
“Kau yang akan pergi ke pasar perjodohan,” ucap Adrian.
Elowen mematung. Apa? Pasar perjodohan?
***
Tidak ada dalam rencana Elowen akan duduk di dalam kereta kuda bersama kakak laki-lakinya, Adrian.
Lebih tidak percaya lagi kalau sekarang Elowen sedang berjalan menuju istana kerajaan Arvendale untuk mendaftarkan dirinya di pasar perjodohan.
Sudah seperti keharusan bagi wanita bangsawan di wilayah Arvendale ke istana sebelum menikah.
Entah itu memberitahukan tentang pernikahan mereka, atau yang akan mencari kandidat pasangan untuk anak-anak mereka. Perjodohan yang diatur oleh raja dan ratu adalah sebuah kesempatan emas untuk mendapatkan kandidat terbaik.
Tidak perlu ditanya lagi keperluan Elowen dan Adrian ke istana. Tentu saja bukan untuk meminta izin menikah, melainkan mencari kandidat bangsawan kuat yang bisa dijodohkan dengan Elowen.
Adrian sudah masam sejak tadi, Elowen tahu alasannya.
Rencananya tidak berjalan sesuai keinginan Adrian, pria itu menginginkan putri kebanggaan Whitmore, bukan putri bisu yang seharusnya disembunyikan.
Bagi Adrian, Elowen tak lebih dari aib yang harus disembunyikan rapat-rapat.
“Aku tidak mau kau membuka mulut, atau memberi tanda-tanda ingin bicara,” kata pertama yang terlontar dari Adrian setelah keheningan panjang.
Elowen hanya bisa menunduk menatap lantai, meski tangannya sudah menggenggam erat lipatan gaunnya.
“Kau hanya boleh diam seperti patung.”
Bahkan, kalimat selanjutnya rasanya begitu pedih untuk didengar Elowen. Wanita itu mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih.
Kalau saja dia bisa bicara, ingin sekali Elowen bilang kalau dia tidak mau dijodohkan atau mungkin memilih kabur saja seperti Cleona.
Sayangnya, Elowen tidak memiliki keberanian seperti Cleona. Atau, dia masih ingin menyelamatkan nama keluarganya.
Kereta kuda berhenti tepat di depan istana, sentakan halus dari kuda membuat Elowen menahan napas sesaat.
Detik kemudian seorang pelayan membuka pintu. Adrian turun lebih dulu. Kemudian mengulurkan tangannya ke dalam kereta membantu sang adik turun.
Elowen menarik napas dalam, kemudian menyambut tangan Adrian.
Saat kakinya menyentuh tanah, matanya langsung melihat betapa megahnya istana Arvendale. Sayangnya, kemegahan itu tak menghibur Elowen sedikitpun.
“Ingat kata-kataku, jangan pernah membuka mulut,” bisik Adrian mengingatkan lagi adiknya.
Bisakah kamu tidak mengatakannya lagi? ucap Elowen dalam hati, sambil melihat tajam Adrian. Namun, matanya kembali turun ketika seorang pelayan istana menyambut mereka.
“Yang Mulia sudah menunggu anda di aula utama, Lord Adrian Whitmore.”
Adrian tidak berkata apa-apa dan langsung berjalan. Elowen mengikutinya dari belakang, langkahnya terasa berat.
Jantung Elowen berdegup kencang ketika pelayan membuka pintu besar aula utama istana. Cahaya emas langsung menyambut Elowen dengan megahnya.
Di ujung aula, singgasana ratu terlihat megah. Dan, wanita dengan gaun yang begitu memukau duduk di sana. Ratu sudah menunggu mereka.
Elowen menelan ludah, sebentar lagi nasibnya akan ditentukan.
***
Langkah Adrian terhenti tepat di depan singgasana, pria itu menunduk secukupnya.
“Yang Mulia,” ucap Adrian.
Ratu melihatnya dari atas singgasana, dagunya terangkat anggun. Sorot matanya tajam seolah mampu membaca tujuan Adrian dan Elowen.
“Mr. Whitmore, atau saya harus memanggil anda Lord Whitmore sekarang?”
“Apapun yang membuat Yang Mulia nyaman memanggil saya.”
Ratu tersenyum tipis. “Apa yang membuatmu ingin menemuiku, Lord Adrian Whitmore?”
“Saya ingin memperkenalkan adik saya kepada anda, Yang Mulia. Elowen Whitmore,” ujar Adrian melirik ke arah Elowen.
Elowen maju selangkah kemudian menundukkan kepalanya. Tidak ada suara, hanya sikap yang anggun diperlihatkan untuk menarik perhatian sang ratu.
Ratu berdiri, kemudian mendekati Elowen.
Tepat di depan Elowen, Ratu berhenti. Tatapan ratu seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Wajah yang menarik,” ujar sang ratu. “Tapi aku tidak memilih hanya sebatas itu… Apa kelebihannya?”
Elowen merasakan tubuhnya menegang seketika.
Adrian mengambil alih. “Dia gadis yang patuh, Yang Mulia.”
Ratu tersenyum misterius. “Patuh? Cukup menarik untuk menggambarkan kelebihan seseorang.”
Adrian terlihat gelisah dengan tanggapan ratu. Matanya bergetar melihat ke arah sang ratu yang masih mengamati Elowen.
“Yang Mulia, adik saya Elowen sangat bisa diandalkan dalam berumah tangga. Selain patuh, dia juga tidak punya kekuatan apapun untuk mengancam posisi dalam keluarga. Siapapun yang jadi suaminya akan tenang.”
Ratu tersenyum kecil. “Jadi maksudmu, dia bisa jadi istri boneka untuk keluarganya?”
Adrian mengangguk kecil. Siapa yang tidak ingin memiliki istri penurut?
“Lalu, apa yang akan kau dapatkan dengan perjodohan ini, Lord Adrian Whitmore?” ujar Ratu.
“Saya ingin keluarga Whitmore mendapat dukungan nama dari bangsawan yang akan menjadi pasangan Elowen nanti.”
Ratu mengangguk.
“Kudengar ayahmu meninggalkan banyak tanggungan? Apa ini karena hal itu?” sindir Ratu.
Adrian menegang. “Tentu saja tidak seperti itu, Yang Mulia.”
Bohong.
Elowen tahu Adrian bohong, jelas ini karena hal itu. Rahang Elowen menegang, Adrian sungguh kejam.
Ratu kembali duduk di singgasananya. “Baiklah, aku akan mencarikan pasangan yang tepat untuk adikmu. Cedric, berikan aku daftar para pelamar tahun ini!” perintah Ratu kepada pelayannya.
“Baik, Yang Mulia.”
Namun, sebelum Cedric meninggalkan aula utama. Suara langkah berat terdengar memasuki aula utama.
Semua orang menoleh, termasuk ratu.
Seorang pria memasuki ruangan itu dengan langkah tegas, mantel panjangnya menggantung megah di bahu pria itu. Kehadirannya cukup membuat pelayan menunduk lebih dalam.
“Maaf jika saya datang di waktu yang kurang tepat, Yang Mulia,” ujar pria itu dengan suara baritonnya, tenang, dalam, dan penuh kepercayaan diri yang tidak dibuat-buat.
Ratu tersenyum tipis. “Tentu saja tidak, Cassian Duke of Clyvedon. Tidak pernah ada waktu yang tidak tepat untukmu.”
Duke of Clyvedon?
Elowen melirik sekilas ke arah pria itu. Wajahnya tidak terlihat jelas dari tempat Elowen berdiri. Tapi, dilihat dari belakang, postur tubuh pria itu sungguh mengagumkan.
Sedetik kemudian, Cassian beralih dari ratu ke belakang. Tepat pada Elowen.
Elowen tersentak, pria itu memiliki wajah yang tampan. Lebih dari itu, garis tegas di wajahnya begitu berkharisma. Baru kali ini Elowen melihat pria seperti itu.
“Sepertinya saya datang tepat waktu,” ujarnya ringan.
“Duke Cassian,” Adrian menyapa sopan.
Cassian membalasnya dengan senyum tipis. Namun, langsung beralih menghadap ratu. “Yang Mulia, bagaimana kalau memilih saya sebagai pelamar wanita cantik ini?”
Ratu mengerutkan keningnya. “Kau yakin?”
“Tentu saja. Dia sesuai dengan kriteria saya.”
“Memangnya apa kriteriamu?”
Cassian menarik sudut bibirnya. “Wanita cantik dan menarik,” jawabnya.
Tentu saja bukan cuma itu, Cassian tadi sudah mendengar kalau Elowen adalah wanita yang patuh. Itu adalah kriteria Cassian untuk siapapun yang menjadi istrinya.
“Baiklah. Cedric! Aku tak perlu daftar pelamar lagi. Karena Miss. Whitmore akan menikah dengan Duke of Clyvedon.” Ratu beralih menatap Adrian. “Bagaimana Lord Whitmore? Apa kau keberatan?”
“Tentu saja tidak, Yang Mulia. Saya amat sangat senang mendengar kabar gembira seperti ini.”
Siapa sangka, Elowen akan menikah dengan Duke of Clyvedon. Adrian sungguh senang bukan main.
Sementara Elowen melihat ke arah Cassian dalam. “Apa dia yang akan jadi suamiku?” batinnya.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!