Indonesia
NovelToon NovelToon

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Chapter 1

"Di mana aku...?"

Ananda melenguh lirih. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri akibat hantaman keras di tengkuknya beberapa saat lalu. Pandangannya kabur. Dengan tangan gemetar, ia membetulkan letak kacamata tebalnya yang hampir merosot.

Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, hawa dingin mendadak menjalar di tengkuknya. Dari arah belakang, sesosok pria berbadan tegap melangkah mendekat. Jantung Ananda mencelos. Pria itu adalah Tristan Bratadikara. Sosok yang selama dua minggu ini tiada hentinya mengejarnya, menjadikannya badut mainan, dan menjadikannya barang taruhan di kampus.

"Malam ini, kau adalah milikku!" bisik Tristan tepat di daun telinganya Ananda. Suara berat dan napasnya yang panas seketika membuat bulu kuduk Ananda meremang.

"Lepas...!" Ananda meronta sekuat tenaga. Air matanya mulai meleleh. Ia berusaha memutar tubuhnya untuk kabur, namun kekuatannya jelas kalah jauh dibandingkan tubuh kekar Tristan yang menguncinya rapat.

"Aku bilang, malam ini kau harus menjadi milikku!" racau Tristan. Tatapannya sayu, bicaranya melantur akibat pengaruh alkohol yang membakar kesadarannya.

Ananda menangis histeris. Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dadanya. Ia tidak pernah menyangka, kehidupan kuliah yang diimpikannya akan berubah menjadi neraka sekelam ini.

Dengan kasar, Tristan membalikkan tubuh Ananda. Ia mencengkeram kedua bahu gadis itu dan menatap tajam langsung ke manik matanya. Detik itu, Tristan sempat tertegun. Jujur, ia terpesona melihat bola mata Ananda yang begitu indah dan jernih. Namun, begitu pandangannya turun ke bagian wajah yang lain, rasa pesona itu menguap seketika. Sisa-sisa kesadarannya menolak apa yang ia lihat.

Wajah yang dipenuhi jerawat kemerahan. Penampilan yang teramat kuno. Tristan mendengus sinis. Dialah orang yang pertama kali menyematkan julukan 'si itik buruk rupa' pada gadis di hadapannya ini. Julukan kejam yang kini digemakan oleh teman-teman satu gengnya dan seluruh mahasiswa di kampus untuk mengolok-olok Ananda.

Sementara itu, di koridor hotel yang sepi, Andre dan Indra melangkah tergesa-gesa sambil mengobrol dengan nada berbisik.

"Dre, elo sudah gila, ya? Berani sekali lo masukin obat itu ke minumannya Tristan! Lo tahu sendiri kan Tristan kayak gimana kalau mengamuk?" Indra menoleh ke belakang dengan cemas.

"Udah, diem aja lu, Dra!" sahut Andre kesal, melambaikan tangannya meremehkan.

"Biar si Tristan tahu betapa indahnya surga dunia. Lagian, dia yang menang taruhan, kan? Si wanita itik itu sekarang resmi jadi miliknya malam ini!"

"Ya, tapi gak gini juga caranya, Dre! Gila lo, ya? Itu anak orang loh yang ada di dalam sana!" Indra menggeleng-gelengkan kepala, merasa bersalah.

"Yang bilang anak kambing siapa? Udah, ah! Sebaiknya kita cepat pergi sebelum si Bella curiga sama kita. Kalau nanti dia nyariin Tristan, bilang aja dia sudah kita antar pulang!" potong Andre cepat.

"Wah, kacau lu, Dre. Kalau sampai Tristan tahu kita jebak dan dia ngamuk besok pagi, habis kita berdua!"

"Alah, sudah, jangan banyak bacot lu! Dia gak bakalan sadar. Obat surga yang gue kasih itu dosisnya kuat banget," ucap Andre penuh percaya diri.

Pintu lift berdenting terbuka. Andre dan Indra segera melangkah masuk, meninggalkan lorong sepi itu. Di balik pintu kamar hotel yang tertutup rapat, nasib Ananda dan Tristan baru saja dimulai.

*

*

Di dalam kamar hotel yang remang-remang, atmosfer terasa begitu mencekam. Tristan yang telah kehilangan seluruh akal sehatnya mulai bertindak liar. Tanpa mempedulikan ketakutan gadis di hadapannya, ia merenggut paksa tubuh Ananda dan melemparkannya ke atas tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan.

Tubuh Ananda memantul di atas kasur, menyisakan rasa pening yang kian mendera. Belum sempat ia menguasai diri, tubuh kekar Tristan sudah berada di atasnya, mengunci pergerakannya hingga ia tak mampu berkutik. Tangan Tristan bergerak dengan kasar, merobek dan melepaskan pakaiannya sendiri satu demi satu hingga menyisakan dada bidangnya yang perfect dan bagian otot perut nya bak roti sobek.

"Lepas, brengsek... Lepaskan aku!" teriak Ananda histeris. Suaranya bergetar hebat, dipenuhi rasa takut yang teramat sangat.

Namun, Tristan yang sudah sepenuhnya dikuasai oleh zat afrodisiak sama sekali tidak menghiraukan jeritan memohon itu. Netranya yang memerah menatap liar. Detik berikutnya, ia membekap mulut Ananda, menyatukan bibir mereka dengan paksa untuk membungkam segala penolakan.

Ananda hanya bisa menangis sejadinya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang terserap oleh seprai hotel. Ia terus meronta, memukul, dan berusaha mendorong dada Tristan, namun lambat laun tenaganya terkuras habis. Tubuhnya seolah lumpuh, lemas tak berdaya menghadapi dominasi pria di atasnya.

Melihat mangsanya tak lagi mampu melawan, Tristan dengan begitu leluasa menguasai tubuh Ananda. Dengan membabi buta, ia melucuti satu per satu pakaian yang melekat di tubuh gadis itu hingga tak ada lagi selembar benang pun yang tersisa. Tristan mulai menjelajahi bagian atas tubuh Ananda. Sentuhan dan kecupan kasar mendarat di dada Ananda, meninggalkan jejak kemerahan sebagai tanda kepemilikan yang dipaksakan. Di tengah rasa takut yang luar biasa, sensasi asing yang belum pernah dirasakan Ananda sebelumnya sempat menyergap kesadarannya, membuatnya kian merasa hancur dan terhina.

Puas bermain di area atas, gair4h Tristan telah mencapai puncaknya. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menuntaskan hasratnya yang sudah memuncak. Tanpa aba-aba, dengan satu hentakan yang kasar dan penuh paksaan, Tristan merenggut paksa kesucian gadis di bawahnya.

Ananda menjerit histeris menahan rasa sakit yang luar biasa, seolah tubuhnya tengah dibelah menjadi dua. Rasa perih yang teramat sangat seketika menjalar, beriringan dengan mengalirnya darah segar yang menodai seprei putih di bawah mereka menjadi bukti runtuhnya kehormatan yang selama ini ia jaga.

"Kau jahat, Tristan... Kau telah merenggut kesucianku!" ratap Ananda di sela tangisnya yang pecah, menyuarakan kepedihan yang teramat dalam.

Namun malam itu seolah enggan berakhir bagi Ananda. Di bawah pengaruh obat yang mengaburkan nuraninya, Tristan terus melancarkan aksinya tanpa ampun. Entah sudah berapa kali pria itu menumpahkan benihnya ke dalam rahim Ananda malam itu, membiarkan gadis malang tersebut tenggelam dalam rasa perih, sakit, dan trauma mendalam yang akan mengubah garis hidupnya selamanya.

Bersambung...

Chapter 2

Sinar matahari pagi telah menerobos masuk melalui jendela kamar hotel, menyinari kamar yang menjadi saksi bisu kehancuran hidup seorag gadis. Ananda perlahan terbangun. Tubuhnya terasa luar biasa remuk, menyisakan rasa kaku dan nyeri yang teramat sangat akibat gempuran bertubi-tubi yang diterimanya semalam. Di sampingnya, Tristan masih terlelap dengan tenang, mendengkur halus seolah tidak terjadi apa pun, masih berada di bawah kendali sisa-sisa obat dan alkohol.

Ananda menoleh, menatap wajah pria yang tertidur itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa benci yang mendalam. Dada Ananda sesak. Air matanya kembali berlinang saat menyadari betapa kejamnya takdir mempermainkannya.

Pria di sampingnya ini... adalah pria yang sama yang sempat ia kagumi secara diam-diam sejak ia masih duduk di bangku SMU.

Memori masa lalunya mulai berputar kembali di benaknya. Pertemuan pertama mereka terjadi begitu singkat di sebuah minimarket, tak jauh dari tempat Ananda bekerja sebagai guru les privat anak SD. Kala itu, Ananda adalah siswi berprestasi yang ceria dan pantang menyerah. Meski hidup dalam himpitan ekonomi yang serba pas-pasan, ia rela menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bekerja demi membantu ibunya.

Siang itu, saat sedang mengantri untuk membeli sebotol air mineral, perhatian Ananda teralihkan oleh sosok remaja laki-laki yang gagah dan tampan di sampingnya. Pria itu memakai jas almamater Universitas Airlangga, salah satu universitas elit dan paling bergengsi di negeri ini. Sejak detik itu, Ananda menanam mimpi besar. Ia bertekad akan belajar mati-matian demi menembus kampus tersebut lewat jalur beasiswa, dengan harapan bisa kembali melihat "pangeran" yang dikaguminya.

Namun, kenyataan justru menamparnya dengan begitu kejam. Ketika mimpi itu berhasil ia raih dengan cucuran keringat dan air mata, kampus impiannya justru berubah menjadi neraka. Pria yang selama ini ia bayangkan seperti pangeran dalam dongeng, rupanya tak lebih dari seekor monster berwujud manusia.

"Aku menyesal... aku sangat menyesal," bisik Ananda lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Enggan berlama-lama di dalam ruangan yang mencekam itu, Ananda memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dengan perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia turun dari tempat tidur. Setiap pergerakan membuat area intinya terasa sangat perih dan sakit, namun ia menguatkan hatinya.

Ia memunguti selembar demi selembar pakaiannya yang robek dan berceceran di atas lantai dingin. Sambil menahan tangis yang siap pecah kembali, Ananda memakai pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat. Setelah memastikan penampilannya cukup tertutup, tanpa menoleh lagi ke belakang, ia melangkah cepat keluar dari kamar, meninggalkan Tristan yang masih tertidur, dan bersumpah dalam hati untuk mengubur malam jahanam ini dalam-dalam.

Sinar matahari yang semakin meninggi akhirnya memaksa Tristan membuka kedua matanya. Kepalanya terasa pusing luar biasa, berdenyut-denyut seperti dihantam benda keras. Sambil meringis, ia menepuk-nepuk dahinya dengan kasar, mencoba mengusir rasa pening yang mendera. Namun, seiring meredanya rasa pusing, kepingan ingatan malam tadi mendadak berputar kembali di kepalanya bagaikan sebuah kaset yang rusak.

Tristan terhenyak. Kesadarannya pulih seketika.

"Aaarrkkhhh... Dasar brengsek! Kenapa aku malah melakukan itu terhadapnya?!" umpat Tristan pada dirinya sendiri. Suaranya frustrasi. "Itik... Maafkan aku... Aku benar-benar di luar kendali!"

Tristan menoleh cepat ke samping tempat tidur. Namun, sosok gadis yang kerap ia juluki 'si itik buruk rupa' itu sudah menghilang, hanya menyisakan ruang kosong yang dingin. Dengan tangan gemetar, Tristan menyibakkan selimut tebalnya. Detik itu juga, dadanya seperti dihantam godam melihat noda darah merah yang mengering di atas seprei putih.

Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghujam jantungnya. Tristan mengepalkan tangannya dan memukul kasur berulang kali untuk meluapkan kekesalannya.

"Bedebah! Ini pasti ulah Andre dan Indra. Mereka benar-benar tidak takut mati di tanganku!" geramnya dengan rahang mengeras.

Tristan segera beranjak dari tempat tidur. Dengan amarah yang membakar dada, ia bergegas membersihkan diri dan keluar dari hotel. Fokusnya hanya satu, yakni menyeret dua teman laknatnya itu dan membuat mereka membayar apa yang telah terjadi malam ini.

*

*

Sementara itu, di sebuah kontrakan kecil yang sunyi, Ananda melangkah masuk dengan tubuh gemetar dan jiwa yang hampa. Di sudut ruangan, ibunya, Bu Sharmila, sedang sibuk menjahit baju pesanan Ibu RT. Mendengar pintu terbuka, Bu Mila langsung menoleh. Wajah cemasnya yang terjaga semalaman seketika berubah panik.

"Ya ampun, Nduk! Kamu ke mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bu Mila sambil tergesa-gesa beranjak dari tempat duduknya.

Pertanyaan itu menjadi pemantik runtuhnya pertahanan Ananda. Tanpa aba-aba, tangisnya pecah. Ia langsung berhamburan memeluk erat tubuh ibunya, menumpahkan segala ketakutan yang sejak tadi ia tahan.

"Bu... Ananda ingin pergi dari sini. Nanda tidak mau kuliah di sana lagi, Bu!" rintih Ananda di sela tangis histerisnya.

Bu Mila terkejut bukan main. Ia mematung, seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut putri semata wayangnya yang terkenal berprestasi dan tangguh itu.

"Kamu yakin, Nduk, dengan keputusanmu itu?" tanya Bu Mila dengan suara bergetar.

Ananda mengangguk kuat dalam dekapannya. "Yakin, Bu. Apakah... apakah program transmigrasi dari pemerintah itu masih bisa kita ikuti?"

Mendengar permintaan yang begitu ekstrem, Bu Mila perlahan melepaskan pelukannya dan merangkul kedua bahu putrinya. Ia menatap lekat-lekat wajah Ananda yang pucat pasi. "Nduk, coba jelaskan sama Ibu. Apa sebenarnya yang terjadi padamu?"

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Ananda akhirnya menceritakan seluruh neraka yang dialaminya. Tentang perundungan, taruhan, hingga malam jebakan saat ia bekerja paruh waktu di salah satu kafe dekat kampus. Mendengar penuturan putrinya, Bu Mila seketika syok. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Ya ampun, Nduk... Kenapa selama ini kamu diam saja? Jadi selama satu bulan ini kamu selalu dirundung oleh teman-temanmu?" Bu Mila menangis, hatinya tersayat. "Nduk, apa Ibu bilang tempo hari? Kamu tidak cocok kuliah di sana. Mending kamu kuliah di tempatnya Febi, Ibu masih punya tabungan untuk biaya masuk mu!"

"Tidak, Bu! Aku sudah tidak mau tinggal di kota ini lagi. Mereka semua jahat, dan semalam... semalam aku telah diperkosa, Bu!" jerit Ananda lirih, sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya yang basah ke dada ibunya.

Tangis Bu Mila semakin pecah menjerit kan kepedihan. Kakinya lemas, ia hampir saja pingsan mendengar kenyataan pahit bahwa kesucian putrinya telah direnggut paksa. Ingin rasanya ia melapor ke pihak berwajib, namun ia sadar akan tembok tebal kediktatoran yang menghadang. Tristan Bratadikara adalah putra dari pengusaha terkaya sekaligus pemilik yayasan kampus itu. Melaporkannya ke polisi sama saja dengan mengantar nyawa ke liang lahat. Mereka tidak akan pernah menang.

Dengan berat hati namun demi keselamatan mental putrinya, Bu Mila akhirnya menyetujui permintaan Ananda.

Hari itu juga, dengan sisa keberanian yang ada, Ananda resmi mengundurkan diri dari Universitas Airlangga, kampus megah yang ironisnya merupakan milik keluarga Tristan. Tanpa membuang waktu, Ananda dan ibunya segera mengemas barang-barang dan mengurus administrasi kepindahan mereka secepat mungkin. Mereka memilih lari sejauh mungkin, mengejar jadwal program transmigrasi ke pulau Sumatra, demi mengubur masa lalu dan memulai hidup yang baru.

Bersambung...

Chapter 3

Langkah kaki Tristan berdentam keras saat memasuki basecamp tempat gengnya biasa berkumpul. Tatapan matanya tajam memburu, dipenuhi kilat amarah yang siap meledak. Di dalam ruangan, tampak Andre dan Indra sedang asyik mengobrol santai bersama Bella.

Tanpa peringatan, Tristan melesat maju. Dengan gerakan cepat, kedua tangannya mencengkeram kuat kerah kemeja Andre dan Indra sekaligus, memaksa kedua pria itu berdiri dengan wajah tegang.

"Dasar bedebah lo berdua! Kalian sudah bosan hidup, hah?!" geram Tristan dengan rahang mengeras.

Bugh!

Bugh!

Dua pukulan mentah mendarat telak di wajah Andre dan Indra secara bergantian. Tubuh mereka terjerembap ke lantai, meringis kesakitan memegangi rahang mereka yang membiru.

Melihat aksi brutal itu secara tiba-tiba, Bella berteriak histeris, menutupi mulutnya yang ternganga. "Hentikan, Tristan! Kau bisa membunuh mereka berdua! Sebenarnya kalian ada masalah apa?"

"Diam lo, Bel!" bentak Tristan, menunjuk wajah Bella dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah. "Kau dan kedua cecunguk ini sama saja! Elo juga ikut terlibat kan di Hotel Permata tadi malam?!"

Bella mengernyitkan keningnya, tampak bingung dan ketakutan. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Semalam, saat pesta Halloween meriah di dekat kampus, Bella justru sibuk mencari keberadaan Tristan yang tiba-tiba menghilang. Bella tidak tahu bahwa malam itu, Ananda yang bekerja paruh waktu sampai larut di kafe tempat pesta berlangsung, telah dijebak. Semua ini adalah rencana busuk yang disusun rapi oleh Andre dan Indra.

"Ampun, Tristan! Bukankah si itik buruk rupa itu sudah resmi jadi milik lo? Gue ngaku kalah taruhan, makanya gue... gue...!" Andre terbata-bata sambil menyeka darah di sudut bibirnya.

"Gue apa, hah?! Dasar bangs4t elo berdua!" amuk Tristan.

Dengan frustrasi, Tristan meraih sebuah balok kayu di dekatnya dan melemparkannya ke sembarang arah hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu. Pikirannya kalut. Rasa bersalah yang teramat sangat mendorongnya untuk segera keluar dari tempat itu untuk mencari satu nama.

"Aku harus meminta maaf kepada si itik. Tidak seharusnya aku menghancurkan masa depannya seperti ini!" batin Tristan bergegas pergi.

Tristan berlari menyusuri koridor kampus. Langkahnya berhenti di depan ruang kelas Ananda. Dengan napas terengah-engah, ia langsung bertanya kepada dosen yang tengah mengajar di dalam kelas tersebut. Namun, jawaban yang ia terima laksana petir di siang bolong.

"Ananda Ayunindia? Dia sudah resmi mengundurkan diri dan keluar dari kampus ini hari ini juga, Tristan," ujar sang dosen.

Mendengar hal itu, tubuh Tristan mendadak lemas. Frustrasi dan kepanikan menjalar di sekujur tubuhnya. Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju area parkir dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah kontrakan Ananda. Ia harus menemukan gadis itu, apa pun jalannya.

Namun, takdir berkata lain. Tepat saat mobil Tristan sampai di depan pintu gerbang luar kawasan kontrakan tersebut, sebuah mobil mewah berlogo keluarga Bratadikara melintas dan mendadak menghadang jalannya. Kaca mobil tengah diturunkan, menampilkan wajah sang ibu yang tampak pucat dan sembap.

"Tristan, putraku! Ayahmu kecelakaan!" seru ibunya dengan suara bergetar menahan tangis. "Kita harus segera pergi ke Kanada sekarang juga. Ayahmu sedang kritis dan dirawat di sana!"

Tristan tertegun di balik kemudinya. Ia melirik ke arah jalan menuju kontrakan Ananda, lalu beralih menatap ibunya yang terus memohon agar ia cepat bergerak. Tristan ingin menolak, ia ingin menyelesaikan dosanya pada Ananda terlebih dahulu. Namun, kewajibannya sebagai seorang anak di saat genting seperti ini membelenggu langkahnya. Ia terpaksa mengalah dan ikut pergi bersama ibunya menuju bandara.

Sambil menatap nanar ke luar jendela mobil yang mulai melaju kencang, Tristan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

'Itik... aku janji. Setelah kepulanganku dari Kanada, aku pasti akan mencari mu. Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan jahanam ku ini!' janjinya dalam hati, meratapi kepergiannya yang menyisakan luka misterius bagi gadis yang ditinggalkannya.

*

*

Waktu bergulir tanpa ampun. Enam tahun telah berlalu sejak malam jahanam yang menghancurkan seluruh dunia Ananda. Di sebuah rumah sederhana di sudut Kota Bandung, seorang wanita muda sedang merapikan blazer kerjanya di depan cermin.

Ia menatap pantulan dirinya. Tidak ada lagi kacamata tebal yang melorot, tidak ada lagi rambut kepang dua yang kusam, dan tidak ada lagi wajah penuh jerawat kemerahan yang dulu membuatnya dicap sebagai 'si itik buruk rupa'. Wanita di dalam cermin itu kini memiliki kulit yang bersih terawat, tatapan mata yang tajam berbinar, serta aura anggun, energik, dan pemberani.

Ananda Ayunindia telah sepenuhnya bermetamorfosis.

"Bunda... El sudah siap!"

Suara cempreng seorang bocah laki-laki berusia lima tahun memecah lamunan Ananda. Ananda berbalik, tersenyum manis melihat putra kecilnya, Elvano, yang sudah rapi mengenakan tas ransel kecilnya. El adalah kekuatan Ananda, alasan utamanya untuk tetap bertahan hidup setelah badai besar enam tahun yang lalu.

Bu Mila, yang rambutnya kini telah memutih dan jalannya mulai sedikit renta, melangkah mendekat sambil menuntun sang cucu.

"Nduk, kamu benar-benar yakin kita harus kembali ke Jakarta?" tanya Bu Mila dengan nada khawatir yang masih sama seperti enam tahun yang lalu. Setelah sempat mengikuti program transmigrasi ke Sumatra selama beberapa tahun, mereka memang memutuskan kembali ke Jawa demi pendidikan El, dan Ananda memilih kuliah kelas karyawan di Bandung hingga lulus setahun yang lalu.

Ananda menggenggam lembut tangan ibunya. "Yakin, Bu. Ananda sudah diterima sebagai sekretaris di salah satu perusahaan properti terbesar di Jakarta. Gajinya sangat besar, cukup untuk biaya sekolah El dan pengobatan Ibu. Kita tidak bisa terus-menerus lari dari kota itu, Bu. Ananda yang sekarang bukan Ananda yang dulu."

Bu Mila menghela napas panjang, lalu tersenyum tegar. "Baiklah, kalau itu sudah jadi keputusanmu. Ibu dan El akan selalu bersamamu."

Perusahaan Bratadikara

Gedung pencakar langit Bratadikara Group berdiri kokoh di pusat bisnis Jakarta. Ananda melangkah mantap melewati pintu kaca otomatis. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris pribadi Chief Executive Officer (CEO) yang baru.

Seorang staf HRD mengantarnya menuju lantai teratas, tempat kubikel sekretaris dan ruangan sang CEO berada.

"Fasilitas dan berkas yang harus ditandatangani hari ini sudah saya siapkan di mejamu, Ananda," ujar staf HRD tersebut dengan ramah. "Pak CEO baru saja selesai rapat di luar dan sedang menuju kesini. Sifatnya agak tegas dan dingin, jadi kuharap kamu bisa langsung menyesuaikan diri."

"Baik, terima kasih banyak. Saya akan melakukan yang terbaik," jawab Ananda dengan senyuman profesional.

Setelah staf HRD pergi, Ananda mulai merapikan meja kerjanya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kopi dan ruangan ber AC yang mewah. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Dari seorang gadis korban perundungan yang kehilangan beasiswa, kini ia berdiri di puncak kariernya.

Ceklek.

Suara pintu lift khusus bernada sensor berbunyi. Langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat. Ananda segera berdiri dari kursi kerjanya, memasang senyum ramah, dan menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat tanpa melihat wajah sang atasan terlebih dahulu.

"Selamat pagi, Pak. Saya Ananda Ayunindia, sekretaris baru Anda..."

"Tolong siapkan laporan keuangan kuartal kedua dan bawa ke ruangan saya sekarang," potong suara berat itu dengan nada dingin dan mutlak.

Deg!

Jantung Ananda mendadak berhenti berdetak. Suara itu... nada bicara itu... bariton yang dalam itu tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya, bahkan jika ratusan tahun berlalu.

Ananda perlahan menegakkan tubuhnya dan memberanikan diri untuk mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan setelan jas mahal berpotongan sempurna. Wajahnya semakin matang, rahangnya tegas, dan tatapan matanya sedingin es.

Pria itu adalah Tristan Bratadikara.

Dunia seolah telah berhenti berputar. Ananda mengepalkan kedua tangannya di balik rok kerjanya, mencoba sekuat tenaga menahan gemetar yang tiba-tiba menyerang tubuhnya. Kilasan malam kelam itu mendadak berputar di kepalanya. Namun, Ananda dengan cepat memejamkan mata sejenak, mengusir rasa takut itu, lalu menatap Tristan dengan berani.

Di sisi lain, Tristan yang hendak melangkah masuk ke ruangannya mendadak menghentikan gerakannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Suara sekretaris barunya tadi... terdengar familiar, namun ia tak tahu di mana.

Tristan membalikkan badannya secara penuh. Netranya langsung bertubrukan dengan manik mata indah milik Ananda.

Tristan tertegun. Pria itu terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Bola mata itu... jernih, indah, namun menyimpan luka sekaligus keberanian yang mendalam. Tristan merasa pernah melihat sepasang mata itu di suatu masa dalam hidupnya, masa di mana ia melakukan kesalahan terbesar yang membuatnya menyesal selama enam tahun berturut-turut.

Namun, penampilan wanita di hadapannya ini begitu sempurna, cantik, modis, dan memancarkan aura wanita karier yang tangguh. Sangat kontras dengan memori masa lalunya tentang seorang gadis lusuh.

Tristan menyipitkan matanya, mencoba mengingat-ingat. "Siapa namamu tadi?" tanyanya dengan suara yang mendadak melunak, mengabaikan sikap dinginnya yang biasa.

Ananda tersenyum profesional, senyuman yang penuh dengan ketegasan. "Nama saya Ananda Ayunindia, Pak Tristan. Mohon bimbingannya."

Akankah Tristan menyadari bahwa wanita cantik dan pemberani di hadapannya saat ini adalah 'si itik buruk rupa' yang rahimnya pernah ia tanami benih enam tahun yang lalu?

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!