Indonesia
NovelToon NovelToon

Bidadari Pak Letnan Minta Bercerai

Draft

POV Arin

"Kapan pulang?"

Sebuah pesan dari mas Aga, suamiku. Aku tersenyum menatap pesan itu, rasanya seperti sedang membaca surat cinta darinya. Ini untuk ke dua kalinya mas Aga mengirimkan pesan lebih dulu padaku. Meski hanya pesan singkat, tapi ini merupakan kemajuan dalam hubungan kami. Hati ini begitu berbunga-bunga, apa ini tanda kalau mas Aga mulai menerima ku? Aku jadi tak sabar ingin cepat-cepat sampai rumah. Aku baru saja dari pasar belanja bahan-bahan untuk membuat kue. Sejak remaja aku memang membantu Bu Tina mertuaku berjualan kue. Dulu sebelum menikah dengan Mas Aga, aku tinggal di toko milik Bu Tina yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumahnya. Aku adalah anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Sejak kecil hidup ku begitu susah, apalagi bapak hanya seorang nelayan biasa, dia harus menghidupi delapan anaknya dan itu bukanlah hal yang mudah,Kami selalu berbagi makanan meski perut kami belum kenyang. Kadang ibu hanya memasak satu telur yang dia beri banyak tepung,telur itu cukup untuk kami makan,kadang kami hanya makan ikan asin, karena tangkapan ikan bapak di jual untuk beli beras dan yang lain. Kadang ibu meminta kami berpuasa saat beras di rumah habis. Hidup kami begitu sederhana dan jauh dari kata cukup,meski begitu kami bahagia karena kami hidup bersama. Awal aku bertemu Bu Tina, saat aku melihat seorang anak kecil tenggelam di pantai, dulu lelaki itu masih seusia ku,dia nampak kesulitan bernafas di air, aku langsung berlari menolong dia. Ku kerahkan semua tenagaku untuk membantu dia menepi, aku terus berusaha hingga kami sampai juga di tepi pantai, Aku berteriak minta tolong, semua orang mengerubungi kami, hingga aku jatuh pingsan karena kelelahan, lelaki itu cukup tinggi badannya lebih besar dari ku, tentu saja aku kehabisan tenaga dan tak ingat apa-apa. Begitu bangun, aku sudah ada di sebuah rumah sakit, seorang ibu langsung memeluk ku begitu erat sambil menangis dan terus menerus mengucapkan terima kasih. Dia adalah Bu Tina, ibu dari anak yang aku tolong tadi. Begitu sadar,aku langsung di perbolehkan pulang . Bu Tina mengantarku, tentu saja dengan Aga, lelaki yang kini menjadi suami ku, dia baik-baik saja. Ku lirik dia yang tampan tinggi,dengan kulit putih bersih. Aku yakin jika dia memakai baju perempuan dia akan nampak sangat cantik, batin ku dalam hati.

Bu Tina ingin mengucapkan terima kasih pada keluarga ku, Dia membawa buah dan sebuah tas yang tidak aku tahu isinya.

Saat sampai di rumah kecil kami, Bu Tina begitu terkejut melihat keadaan rumah kami, kami memang sering tidur di lantai, ada banyak bantal usang di sana. Ibuku langsung mendatangi ku, dia resah sekali karena aku tak kunjung pulang.

"Terima kasih Bu, sudah mengantarkan putri saya pulang" ucap Ibu. ibu meminta Bu Tina duduk di teras saja. Aku mengikuti Bu Tina karena penasaran dengan Angga. Lelaki itu pendiam dan tak banyak bicara, namun dari wajahnya terlihat sekali dia tengah tidak nyaman berada di rumah kami.

"Kursinya keras Bu!" Rengeknya, aku sama sekali tidak mengira anak lelaki itu amat manja sekali. Perkara kursi saja dia resah.Tidak tahukah dia jika tiap hari aku tidur di sana?

Ibu memberikan teh pada Bu Tina, Bu Tina mengucapkan terima kasih pada ibu. Entah mereka berbicara apa, namun melihat Bu Tina menangis aku jadi kasihan padanya. Aku pergi ke dalam mengambil permen yang ku dapat dari seseorang. Aku cepat-cepat keluar dan memberikan permen itu pada Bu Tina.

"Jangan sedih Bu" Ucap ku pada Bu Tina. Bu Tina langsung memeluk ku.

"Arin mau sekolah?" pertanyaan itu membuatku kaget, tentu saja aku ingin, tapi aku tidak mau menyusahkan bapak, jadi aku menggeleng pelan.

Ibu yang faham dengan jawaban ku, langsung memberiku penjelasan.

"Ibu ini mau bawa Arin ke kota, Arin bisa sekolah di sana,Gratis.

Kalau Arin rindu sama ibu, Arin bisa pulang ke sini kapan saja"

Mendengar kata gratis aku langsung mengagguk setuju, aku paling suka belajar, tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku ingin sekolah yang tinggi, menjadi orang sukses agar bisa membahagiakan bapak dan ibu.

"Anak pintar"

Sejak saat itulah aku di kota ini, dulu Aga tak begitu membenci ku, dia masih mau bicara meski sedikit pada ku. Hingga saat kecelakaan itu terjadi,Ayah Aga meninggal, Aga yang juga tengah ikut naik mobil bersama ayahnya juga ikut kecelakaan, dia terluka parah, hingga butuh donor darah,stok darah di rumah sakit kosong,kebetulan golongan darah kami sama, jadi aku mendonorkan darahku padanya.

Niat menolong yang tulus ini ternyata menjadi bumerang, Bu Tina merasa aku begitu berjasa dalam hidup Aga, hingga dia menjodohkan kami meski kami baru masuk di kelas satu SMA. Sejak perjodohan itu, Aga membenci ku, dia tak mau lagi bicara padaku. Dia bahkan sengaja menghindar dariku.

Tanpa alasan dia meminta pindah sekolah, dia ingin tinggal bersama neneknya, padahal dia tahu kalau di rumah hanya tinggal Bu Tina dan dia saja. Aku tahu dia ingin menjauhi ku. Jadi dia begitu ngotot ingin ke Surabaya dengan alasan sekolah militer. Dia ingin menjadi seorang Jendral agar bisa menjaga ibunya.

Sejak Ayah Aga meninggal, aku tidak pernah lagi meminta uang dari Bu Tina, diam-diam aku kerja paruh waktu sambil sekolah. Aku ingin tetap mengirimkan uang untuk ibuku di kampung, biasanya aku menyisihkan uang jajanku, tapi aku tidak ingin membebani Bu Tina jadi aku memilih bekerja sambil sekolah. lama kelamaan Bu Tina mengetahuinya, dia memintaku ikut kerja di toko kue saja, di toko sangat ramai. Jadi aku pun mengiyakan. Hingga pernikahan kamipun terjadi, Aga masih dingin, acuh dan tak tersentuh.

Hingga hari ini dia mengirim ku pesan lebih dulu padaku, aku benar-benar begitu bahagia.  Aku tak sabar ingin segera sampai rumah.

Sampai di toko aku langsung bergegas turun, aku tidak langsung ke rumah, aku harus menaruh barang-barang belanjaan ke toko dulu, aku mencoba menenangkan jantung ini yang terus berdebar, aku mengambil botol air minum, meneguknya hingga tandas, maklum saja isinya tinggal setengahnya jadi aku bisa menghabiskannya dalam sekali teguk.

"Mbak Arin tadi di cari mas Aga"

"Apa? Mass...Aga? Dia ke sini?"

"Iya mbak, mbak di tunggu di rumah"

"Iya"

Aku langsung tersipu malu saat mendengar mas Aga sampai mencari ku di toko, hati ini makin berbunga-bunga,wajah ku mungkin sudah semerah tomat. Aku jadi tak sabar ingin segera sampai rumah,begitu semua belanjaan sudah turun, aku segera berjalan ke rumah yang hanya berjarak sepuluh meter. Aku ambil cermin dari tas kecilku, aku menatap wajahku, memastikannya tetap cantik dan segar, aku ambil lipstik dan menggunakannya agar bibir ini makin terlihat cantik, ku ingin nampak cantik di depan suamiku nanti.

Jantung ku jedag-jedug saat aku sudah di depan pintu, namun suasana cerah di dalam hati ini mendadak menjadi mendung. Hati yang tadinya berbunga-bunga langsung terasa kosong saat melihat wanita cantik,berhijab dan penghafal Al-Quran pula. Wanita yang selalu jadi idaman mas Aga. Ya aku melihat wanita itu di ruang tamu. Senyum di bibir ku langsung menghilang, andai saja tidak ada Bu Tina juga di sana, sudah aku pastikan air mata ini akan jatuh saat ini juga.

Aku terpaku melihat wanita yang selama ini menjadi penghalang ku untuk menyatu dengan mas Aga. Ya meski sudah satu tahun menikah, nyatanya aku masih suci, Mas Aga belum mau menyentuhku, atau mungkin tidak akan pernah mau.

2

"Rin tolong buatkan minuman untuk Rahma ya? Kamu tahu tidak, ternyata Rahma ini penghafal Al-Quran lho"

Hati ini bak di sayat-sayat kala ibu mertuaku memuji wanita itu, apalagi di depan mas Aga,tahukah Ibu dia adalah wanita pujaan Mas Aga. Mereka selalu bertukar pesan bahkan menelfon saat tengah malam, membuat malam ku terasa amat sunyi dan menyakitkan. Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping.

"Kog diam saja Rin? Cepat gih ,kasihan nak Rahma belum minum dari tadi"

"Iya Bu"

Aku berusaha menjawab dengan suara yang normal,meski tubuh ini rasanya sudah bergetar hebat,ingin rasanya aku menjerit sekeras-kerasnya, aku ingin menangis dan menghilang dari tempat ini. Ternyata Mas Aga memintaku pulang hanya untuk menjamu tamu istimewanya, aku menengok ke belakang sebelum masuk, hati ini kembali tersayat sembilu melihat ketiga orang di ruang tamu saling tertawa bersama, mereka seperti sedang menertawakan aku, aku merasa jadi orang asing di rumah ini hanya dalam hitungan detik saja,

Setiap tawa mereka bak panah yang terus menancap di hati,makin keras terasa makin dalam, tubuhku terhuyung aku mencoba berpegangan pada gagang pintu kamar, rasanya kaki ini tak kuat menopang tubuh ku, aku masuk ke kamar ku, bukan ini kamar mas Aga,aku hanya menumpang di kamar ini.Aku bahkan tidak di izinkan tidur di ranjang nya.

Ku tutup pintu itu,ku ambil bantal untuk menutupi wajahku dan menangis sekencang-kencangnya di sana. Aku yang sudah aku lakukan? Meski aku sudah melakukan yang terbaik untuk Mas Aga, yang aku dapat hanyalah luka dan luka lagi, aku lelah, aku menyerah, sebesar apapun cintaku pada Mas Aga itu tidak akan ada artinya jika

Dia tidak pernah mau menerima cinta itu, cinta sepihak ini sudah menghancurkan diriku, aku selalu berharap dia bisa luluh, tapi aku baru sadar jika tidak bisa di paksakan. Cinta sepihak ini tidak akan bisa membuat kami bahagia, karena dia punya cinta yang lain, aku tidak pernah mau di madu, jika aku bersedia pun,aku yang akan tersakiti di sini, mereka saling mencintai, aku hanya akan jadi benalu bagi mereka. Mas Aga pasti lebih mencintai Rahma, aku hanya akan menjadi obat nyamuk yang selalu mendambakan cinta tanpa bisa mendapatkan cinta itu. Mungkin sudah waktunya aku berhenti.

Aku juga ingin bahagia,aku ingin terbebas dari rasa sesak ini, aku tak mau luka ku makin dalam. Ku hapus air mataku, aku segera mengambil koper ku, aku merasa sudah tidak ada gunanya lagi aku di sini, kebaikan mas Aga akhir-akhir ini mungkin hanya sebagai tameng agar aku mau menerima wanita pujaan hatinya. Aku sudah lelah, dari pada ada orang lain dalam pernikahan kami, lebih baik aku saja yang mengalah, aku memilih mundur, aku tahu dia akan lebih mencintai wanita itu dari pada aku, sudah waktunya aku sadar diri, sudah waktunya aku mengakhiri sandiwara ini, aku sudah lelah menutupi luka hatiku, aku juga manusia, aku juga ingin seperti wanita lain yang di cintai.

Ku ambil baju ku yang hanya beberapa di sini, Mas Aga bahkan tidak mau baju kami bercampur jadi satu, apalagi mengizinkan tubuh ini menyatu dengannya, itu mungkin hanya akan terjadi dalam mimpi ku saja.

Semua bajuku ada di toko, aku akan mengambilnya nanti. Ku tinggalkan semua barang-barang berharga dari Ibu mertua, sebenarnya aku berat meninggalkan dia, tapi dia akan lebih dekat dengan Rahma dari pada dengan ku. Aku tidak mau terikat dengan keluarga ini lagi. Begitu semua yang aku perlukan sudah masuk, aku segera menutup koperku, aku lempar koper ku dari jendela, aku tidak mau ibu hawatir. Ku tatap kembali kamar ini,dari semua sudut kamar ini,tidak ada sama sekali kenangan bahagia, di bawah jendela itu aku sering menangis tanpa suara, di atas sofa panjang itu aku menghabiskan malam-malam ku yang sunyi, ranjang besar ini, bak luar lebar yang terus membuat mata ini perih, aku hanya bisa menatap suamiku dan tak pernah bisa menyentuhnya, itu adalah siksaan terdalam yang tidak bisa aku lupakan. Aku buru-buru menghapus air mata ini, aku bercermin, ku tutupi wajah yang penuh air mata dengan bedak dan lipstik tipis. Keputusan ku sudah bulat, antara aku dan mas Aga sudah berakhir, aku segera keluar dari kamar mas Aga hanya dengan membawa tas kecil.

"Maaf kan aku Ibu, Arin sudah tidak sanggup di sini" Gumamku pelan.

Aku segera bergegas ke dapur membuatkan minuman untuk Rahma, sebisa mungkin aku mencoba untuk kuat, meski tangan ini gemetar hebat, Aku membawa jus itu ke luar, aku buatkan tiga gelas jus untuk mereka. Aku berpura-pura tersenyum di depan mereka.

"Lo Kog cuma tiga gelas Rin? Buat kamu mana?" Tanya Bu Tina padaku, aku menaruh jus itu di depan mereka satu persatu. Ku duduk di sebelah ibu Tina, aku memeluk lengannya, mungkin ini akan jadi pelukan terakhir kami, aku bersandar di bahunya.

"Bu Arin mau izin keluar, Arin mau pergi, boleh?"

"Mau kemana sayang? Bukankah kamu baru saja pulang?"

"Arin sudah merencanakan ini sejak lama Bu, cuma baru bilang ibu sekarang,mas Aga tahu kog"

"Memangnya mau kemana? Mau pulang kampung?"

Aku mengagguk pelan.

"Boleh Arin memeluk ibu?" Tanyaku pada mertuaku, dia seperti orang tuaku sendiri,dia yang membesar kan aku, dia juga yang membuatku bisa merasakan bagaimana sekolah. Sungguh hati ini berat, tapi aku juga ingin bahagia. Aga menatap ku penuh tanya, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang aku, tapi sudah cukup. Aku tak sanggup.

"Titip salam buat keluarga kamu ya Rin? kalau saja kamu tidak mendadak begini bilangnya, Ibu pasti buatkan kue khusus untuk mereka"

"Tidak perlu Bu, Arin akan buatkan mereka di sana"

"Ya sudah hati-hati"

Aku cium tangan ibu agak lama, aku juga kembali memeluknya erat, ku cium kedua pipinya membuat Ibu tersenyum padaku.

"Sudah-sudah, kamu hanya akan pergi beberapa hari saja kan Rin? kenapa pamit seperti mau pergi selamanya?" Kekeh Bu Tina. Aku hanya bisa tersenyum simpul, karena aku memang akan pergi selamanya dari rumah ini.

"Kalau begitu Arin Pulang dulu Bu"

Akh menyalami Rahma yang masih nampak bingung, Aku juga bersalaman dengan mas Aga meski hanya sebentar. Aku segera pergi lagi, ku ambil koper yang ada di bawah jendela kamar mas Aga.

Mobil yang aku pesan sudah datang, jadi aku harus cepat.

"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Mas Aga padaku, aku tak menyangka dia akan menyusul ku, dia bahkan melihat ku membawa koper,

Aku diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.

"Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar"

"Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu"

"Tamu Istimewa" Imbuh ku dalam hati.

Aku menyerah.

"Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Mas Aga, Aku sempat terkejut namun Aku sudah mati rasa, Aku langsung meminta supir melajukan mobilnya.Aku tak memperdulikan teriakan mas Aga yang terus mengejarku.

3

Tiga bulan sebelumnya

Aku Arin, aku dan Ibu mertuaku baru saja pulang dari pasar, pesanan kue akhir-akhir ini lumayan banyak,jadi hari ini ibu sengaja imut membantuku membeli bahan ke pasar. Sesampai di toko kue kami, Aku langsung beberes, sudah ada dua karyawan kami yang mulai membuat adonan. Biasanya aku hanya bertugas membeli bahan dan juga mencatat keuangan di toko kami, selain itu dua karyawan yang mengeksekusi, tentu saja masih dengan arahan dari Ibu. Namun hari ini mau tak mau, aku harus ikut terjun, takutnya mereka kewalahan karena hari ini memang banyak pesanan.

Aku segera memakai apron masak ku, namun ibu mendekat dan memberikan sesuatu padaku.

"Rin ini"

Aku terkejut karena ibu memberiku sebuah tespek, entah kapan ibu membelinya,setahuku ibu selalu bersamaku,kecuali saat beliau pamit ke kamar mandi. Pantas saja ibu tadi lama sekali ke kamar mandinya, mungkin dia sekalian ke apotik membeli tespek ini. Aku tertegun menatap alat tes kehamilan itu, sebisa mungkin aku mencoba tersenyum saat menerimanya. Andai saja ibu tahu yang terjadi pada hubungan ku dan Mas Aga,andai saja ibu tahu yang sebenarnya, Andai saja Ibu tahu kalau aku masih suci dan belum terjamah, pasti rasa sesak di hati ini tidak akan sesakit ini. Aku tidak bisa mengatakan hal ini pada ibu, aku tidak tega membuat ibu kecewa dan menangis.

Jadi aku tidak akan bisa mengatakan ini pada ibu,aku tidak akan pernah menceritakannya, ini tidak boleh aku lakukan, aku tidak akan menceritakan perlakuan putranya padaku, dia yang tak mau menyentuh ku, meski pernikahan kamu sudah berjalan sembilan bulan.

Kami selalu nampak romantis di depan ibu, dia menyuapiku, mengambilkan aku minum saat di meja makan, menggandeng tangan ini, Namun setelah sampai di kamar, dia langsung mendorong tubuh ku menjauh.

Dari luar memang nampak normal, tapi di balik layar hubungan kami begitu sunyi.

"Kamu memang sudah dua kali menolong ku, tapi itu bukan alasan terjalinnya sebuah ikatan pernikahan. Aku tidak pernah mencintai mu, aku menikah hanya demi ibu,aku tak mau sakit ibu kembali kambuh, kamu tahu hanya dia yang aku miliki saat ini, jadi jangan berharap lebih pada pernikahan ini"

"Sejak kau donorkan darahmu dan kita di jodohkan karena hal itu, sejak itu pula aku membencimu. Kamu bukanlah wanita idamanku, sejak dulu aku suka wanita shalihah, memakai hijab, juga penghafal Al-Quran, dia lulusan pesantren. Beda jauh sekali dengan kamu, kamu bukanlah wanita yang aku inginkan. Aku sudah menemukannya, jadi jangan pernah sekalipun membicarakan pernikahan kita di depan orang lain, apalagi teman-teman ku. Mereka hanya tahu kamu itu adik angkat ku"

Aku meremas ujung bajuku, mencoba menguatkan hati ini, aku yang masih memakai Hena di tanganku, tapi suamiku dengan lantangnya mengatakan jika dia sudah memiliki wanita lain di malam pertama kami. Malam pertama yang seharusnya begitu indah berubah menjadi neraka, ucapannya sungguh mencabik-cabik hatiku, kata-katanya bahkan lebih tajam dari pedang,sangat pahit dan menusuk hati.Aku hanya bisa menunduk, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.

"Aku bicara seperti ini agar kamu tidak berharap lebih dengan pernikahan ini, aku tahu kamu sudah menunggu lama untuk pernikahan ini, tapi kamu harus tahu,kamu bukan wanita yang kucintai jadi sadar posisi mu"

Aku tidak lagi bisa menahannya lagi, ini begitu menyakitkan. Aku menangis tertahan mendengar kan semua kata-katanya. Lihatlah nasib ku, aku bahkan sudah menantikan pernikahan ini sejak di bangku SMA. Aku hidup bersama ibunya, membantu ibunya membiayai sekolah militer nya. Bahkan aku menolak kuliah demi dia. Memberikan semua tabungan ku pada ibu saat dia butuh biaya. Aku tahu aku hanya gadis biasa yang lahir di desa kecil, bapak ku hanya seorang nelayan dengan banyak anak, aku hanya anak miskin yang di bawa Bu Tina agar bisa bersekolah. Aku bukan siapa-siapa untuk dia yang bergelar seorang letnan. Aku memang tak pantas untuknya, aku hanya Upik abu yang mendamba bersanding dengan Pangeran. Aku wanita biasa yang langsung di tolak suami di malam pertama kami.

"Ibu sangat menyukai kamu, aku tidak bisa menolak pernikahan ini meski aku sangat ingin"

Dia terus mengeluh tanpa memberiku kesempatan untuk menenangkan hati,tatapannya padaku begitu tajam, seolah aku ini musuhnya di medan perang, dia seolah ingin menembakkan peluru ke jantung ku dan membuatku pergi dari kamar ini.

Rasanya aku menyesal karena sudah di bawa ke sini, Bu Tina sangat kasihan melihat keluarga ku, dia ingin aku sukses dan tidak kelaparan di desa. Kenapa dulu aku setuju? Aga bahkan sengaja menjauh dari ku, dia lebih memilih sekolah militer di luar kota dari pada satu SMA dengan ku.

Dia bahkan tidak pernah menampakkan diri saat berlibur, harusnya aku sadar ini akan terjadi, tapi ibu membuat ku lemah dan menerima semua ini.

"Aku minta maaf jika kata-kata ku menyakiti mu,tapi jangan pernah berharap aku akan menyentuh mu, entah itu sekarang ataupun nanti. Tidurlah di sofa itu, ini kamarku, jangan berani-berani tidur di ranjang ini. Mulai malam ini dan seterusnya kamu tidur di sana"

Aku makin sedih meratapi diri, sejak kecil aku sudah terbiasa tidur di kursi keras, jadi sofa empuk itu bukanlah masalah besar, tapi kata-katanya yang tidak mengizinkan ku tidur di ranjang nya, benar-benar membuat hati ini kembali hancur.

Aku Ingin kembali tinggal di toko kue, tapi itu tidak mungkin, ibu pasti sedih jika mengetahui nya, dia pasti curiga.

Aku kembali menangis tertahan saat dia melemparkan bantal ke arahku, Rasanya bantal ini lebih berat dari satu karung tepung yang sering aku angkat.

Namun aku tidak bisa mengatakan hal lain selain.

"Ya mas. Saya bisa mengerti"

Ya meski aku bilang begitu, tapi air mata ini tak mau berhenti, air mata ini sebagai bentuk protes jika aku tidak senang dengan apa yang dia lakukan padaku, sebagai perempuan wajar saja bukan jika aku menangis? hatiku bukanlah batu yang tahan dengan semua kata-kata tajamnya.

Aku meyakinkan diri agar tidak terlalu berlarut-larut dengan masalah ini. Sedihku biarlah ku simpan sendiri. Aku yakin ini pasti berlalu, aku tahu aku kuat, aku hebat, aku pasti bisa melewati ombak besar ini.

Aku ini anak bapak yang bisa menerjang ombak meski aku seorang wanita. Akan aku lawan ombak besar dalam rumah tanggaku ini demi ibu. Ibu Tina yang sudah membesarkan ku, memberiku hidup baru yang lebih nyaman. Aku aku lawan semua ini demi bisa melihatnya tersenyum. Dia bukanlah mertua, dia sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!