Indonesia
NovelToon NovelToon

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Bahagia sendirian

​Dinding-dinding balai riung hotel bintang lima itu dilapisi kain satin putih dan untaian bunga melati yang aromanya menguar pekat, memenuhi rongga dada siapapun yang melangkah masuk.

Alunan musik klasik bernada megah mengalun lembut, mengiringi tawa renyah dari ratusan tamu undangan kelas atas. Malam ini adalah malam perayaan. Malam di mana dua dinasti bisnis besar bersatu melalui ikatan suci pernikahan.

​Bagi Salsa, ini adalah puncak dari segala impiannya. ​Ia berdiri di depan cermin besar di ruang rias pribadi, mematut dirinya yang dibalut gaun pengantin modern potongan ball gown bertabur kristal swarovski.

Gaun itu sangat berat, mencerminkan harganya yang fantastis, namun Salsa sama sekali tidak peduli. Dengan dagu terangkat tinggi dan senyum kemenangan yang tak luntur dari bibir bergincu merah merona, ia menyentuh mahkota kecil di atas kepalanya.

​"Kau cantik sekali Nona Salsa" Puji salah satu perias dengan nada penuh sanjungan, atau mungkin ketakutan. Semua orang tahu bagaimana tabiat Salsa.

Wanita muda itu manja, keras kepala, dan tidak segan-segan membuat orang lain kehilangan pekerjaan jika keinginannya tidak dituruti.

​"Tentu saja aku cantik!" Sahut Salsa angkuh, matanya berkilat sombong saat menatap pantulan dirinya sendiri.

"Dan malam ini, aku menjadi wanita paling bahagia di dunia. Akhirnya, Arkan menjadi milikku sepenuhnya. Tidak akan ada yang bisa merebutnya dariku lagi!"

​Salsa tidak peduli jika pernikahan ini terjadi karena perusahaan milik ayah Arkan sedang berada di ambang kebangkrutan.

Ia tidak peduli jika semua sepupu dan teman-temannya berbisik di belakang punggungnya, menyebutnya sebagai wanita serakah yang menggunakan kekayaan dan suntikan dana luar biasa dari keluarganya untuk membeli seorang suami yang sedang terdesak.

Bagi Salsa, dalam kamus hidupnya, apa yang Salsa inginkan, harus Salsa dapatkan. Dan sejak pandangan pertama di bangku kuliah dulu, fokusnya hanya satu...

Arkan!!

​Pintu ruang rias terbuka, menampilkan sosok Arkan yang sudah mengenakan setelan tuksedo hitam yang pas di tubuh tegapnya.

Wajah pria itu sangat tampan, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang biasanya tajam. Namun malam ini, mata itu tampak mati. Kosong. Tidak ada binar, tidak ada kebahagiaan. Hanya ada sekat sedingin es yang begitu tebal.

​"Waktunya keluar. Para tamu sudah menunggu!" Kata Arkan. Suaranya datar, tanpa intonasi, mirip seperti robot yang diprogram untuk berbicara. Ia bahkan tidak memandang wajah Salsa. Tatapannya tertuju pada dinding kosong di belakang istrinya.

​Salsa mencoba menggelayutkan tangannya di lengan Arkan, namun belum sempat jemarinya yang lentik menyentuh kain tuksedo itu, Arkan sudah melangkah mundur. Gerakan menghindar itu begitu kentara, membuat senyum di wajah Salsa membeku sesaat.

​Salsa merasakan sedikit denyutan di dadanya, namun sifat sombong dan keras kepalanya segera mengambil alih. Ia mendengus pelan, memposisikan dirinya kembali sebagai wanita anggun yang tak tersentuh.

"Kenapa buru-buru? Biarkan mereka menunggu sedikit lagi. Ini pesta kita, Arkan. Kita adalah raja dan ratunya malam ini. Mereka yang harus mengikuti waktu kita"

​Arkan tidak membalas. Pria itu hanya membalikkan badan, bersiap untuk keluar terlebih dahulu.

​"Arkan tunggu!" Salsa mengejar, dengan paksa menyelipkan jemarinya ke sela-sela lengan Arkan yang menegang. Salsa bisa merasakan otot lengan itu mengeras, tanda penolakan yang nyata.

"Setidaknya di depan media dan kolega Papa, tersenyumlah. Aku tidak mau besok ada berita yang mengatakan pernikahan kita tidak bahagia"

​Arkan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia menoleh perlahan, menatap Salsa dari balik bulu matanya yang lebat.

Tatapan itu begitu dingin hingga mampu membuat bulu kuduk meremang, namun Salsa tetap bertahan dengan keangkuhannya.

​"Kau mendapatkan pernikahan ini, Salsa. Kau mendapatkan status sebagai istriku, persis seperti yang kau rencanakan bersama keluargamu ketika tahu perusahaan ayahku sedang hancur" Bisik Arkan, suaranya begitu rendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua di antara riuh rendah suara dari luar.

"Ayahku mungkin terpaksa menjual harga diriku demi menyelamatkan bisnisnya dari kebangkrutan, tapi jangan pernah meminta hal yang tidak akan pernah bisa kuberikan. Kau tahu persis di mana hatiku berada"

​Nama wanita lain seolah menggantung di udara di antara mereka, Nabila. Kekasih Arkan yang sudah dipacarinya selama beberapa tahun terakhir. Wanita yang malam ini pasti sedang menangis di suatu tempat karena pria yang dicintainya terpaksa mengorbankan diri menjadi tumbal finansial demi menyelamatkan keluarganya dari jerat hutang dan kebangkrutan.

​Rahang Salsa mengeras. Rasa cemburu dan ego yang terluka membakar dadanya.

"Nabila lagi? Dia hanya masa lalumu sekarang, Arkan! Mulai hari ini, detik ini, akulah satu-satunya wanita yang memegang margamu. Lupakan wanita miskin itu! Uang keluargaku yang menyelamatkan masa depanmu, jadi hargai itu!"

​Mendengar makian Salsa terhadap Nabila, ditambah kesombongan Salsa yang mengungkit bantuan finansial keluarganya, kilat amarah menyala di mata Arkan.

Pria itu menyentak lengannya dengan kasar, membuat pegangan tangan Salsa terlepas seketika. Salsa hampir saja tersandung gaunnya sendiri jika tidak segera berpegangan pada pinggiran meja rias.

​"Jaga mulutmu Salsa!" Desis Arkan, napasnya memburu menahan murka.

"Kamu mungkin bisa membeli raga ini dengan uang sialan keluargamu untuk menyelamatkan perusahaan ayahku. Tapi kamu tidak akan pernah bisa membeli seujung kuku pun rasa hormat atau cintaku. Nikmati saja pesta ini sendirian"

​Tanpa memedulikan Salsa yang termangu, Arkan melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan, membiarkan pintu tertutup dengan dentuman pelan namun terasa begitu menghantam ulu hati Salsa.

​Salsa berdiri mematung di tengah ruangan yang sunyi. Dadanya naik turun karena emosi yang meluap-luap.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin lagi. Riasannya masih sempurna, gaunnya masih berkilau, namun tiba-tiba ia merasa sangat kesepian di tengah kemegahan ini.

Sifat manjanya berontak, ingin rasanya ia menangis dan mengadu pada papanya agar memberi pelajaran pada Arkan. Namun, rasa cintanya yang terobsesi pada Arkan jauh lebih besar dari rasa sakit hatinya.

​"Tidak" Gumam Salsa pada diri sendiri, jemarinya mengepal kuat hingga kukunya yang dihias cantik memutih.

"Kamu sudah menjadi suamiku, Arkan. Satu atap denganku. Lambat laun, aku akan membuatmu melupakan Nabila. Kamu hanya milikku. Hanya Salsa yang boleh ada di hidupmu!"

​Dengan sisa-sisa keangkuhan yang ia miliki, Salsa memperbaiki posisi mahkotanya. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksakan sebuah senyuman paling menawan dan sombong yang ia miliki, lalu melangkah keluar menyusul suaminya menuju altar pesta.

​Ketika pintu aula besar dibuka, cahaya lampu sorot langsung mengarah pada mereka. Ratusan pasang mata memandang takjub, tepuk tangan bergemuruh memecah keheningan.

Di atas panggung pelaminan yang didekorasi layaknya taman musim dingin di Eropa, Salsa berjalan dengan anggun, kembali menyisipkan tangannya di lengan Arkan.

​Arkan tidak menolak lagi, demi menjaga nama baik dan formalitas di depan para investor serta kolega bisnis yang malam ini hadir karena tahu adanya suntikan dana besar dari keluarga Salsa.

Namun, sepanjang malam itu, sepanjang mereka menyalami ratusan tamu yang memberikan ucapan selamat, tangan Arkan terasa sedingin es.

Pria itu tersenyum tipis pada para kolega bisnis, namun senyuman itu tidak pernah sampai ke matanya. Setiap kali Salsa mencoba bersandar atau berbisik mesra di telinganya, Arkan hanya bergeming, memperlakukannya tak lebih dari sebuah jaminan kontrak bisnis yang mendampinginya.

​Salsa tetap tersenyum lebar, menyapa teman-teman sosialitanya dengan nada pamer yang kental, menunjukkan cincin berlian besar di jari manisnya.

Ia membusungkan dada, memamerkan kemenangan semunya kepada dunia. Ia merasa telah memenangkan pertempuran besar. Ia percaya bahwa waktu akan mengubah segalanya, bahwa pesonanya dan kekayaannya akan mampu menaklukkan hati Arkan yang beku, lambat laun.

​Ia tidak pernah tahu, bahwa malam ini bukanlah awal dari kebahagiaan yang ia dambakan. Malam ini adalah ketukan pertama dari lonceng kematian bagi kewarasan dan masa depannya.

Pesta yang begitu megah ini, sesungguhnya adalah fondasi pertama dari dinding penderitaan yang akan mengurungnya di kemudian hari. Di atas panggung yang dipenuhi bunga-bunga segar itu, Salsa tersenyum di atas takdirnya yang perlahan mulai bergulir menuju kegelapan.

Tak punya hati!

Di bawah siraman cahaya yang begitu benderang, Salsa berdiri tegak bagaikan seorang putri dari negeri dongeng yang baru saja memenangkan takhtanya.

Wajahnya yang luar biasa cantik dipoles dengan riasan sempurna tanpa cela, perona pipi berwarna merah muda lembut berpadu serasi dengan binar penuh kemenangan di matanya.

Setiap kali matanya menyapu barisan tamu undangan yang hadir, para pengusaha papan atas, pejabat, hingga kalangan sosialita, senyumnya mengembang lebar, memancarkan aura kepuasan yang begitu pekat.

Salsa tahu semua orang sedang menatapnya dengan berbagai macam emosi. Ada kekaguman yang tertahan, kecemburuan yang membakar, bahkan desas-desus miring tentang bagaimana ia menggunakan kekuasaan finansial keluarganya untuk mendapatkan pernikahan ini.

Namun, bagi Salsa yang sombong dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, semua tatapan itu adalah pembuktian atas kekuasaannya. Dia tidak peduli dengan bisik-bisik miring itu.

Yang terpenting baginya adalah kenyataan bahwa malam ini, dia telah menang. Dia telah memiliki Arkan sepenuhnya, pria yang selama bertahun-tahun ini menjadi pusat semestanya.

Namun, tepat di sisi kirinya, berdiri sebuah kontras yang teramat nyata dan menyakitkan.

Arkan berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitamnya yang elegan, namun tubuh tegap itu terasa seumpama patung es yang sengaja diletakkan di tengah kehangatan pesta.

Auranya begitu dingin, menguar pekat hingga mampu membekukan siapa saja yang mencoba mendekat. Wajahnya yang tampan tampak datar tanpa ekspresi, seolah-olah ia sedang menghadiri sebuah upacara pemakaman alih-alih pernikahannya sendiri.

Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di pipinya menegang kaku. Setiap kali ada kolega bisnis atau investor yang mendekat untuk menjabat tangan mereka dan memberikan ucapan selamat, Arkan hanya memberikan anggukan formal dan senyum tipis yang sangat terpaksa, senyum palsu yang langsung hilang seperseratus detik setelah sang tamu membalikkan badan.

Salsa, dengan segala kemanjaan dan egonya yang setinggi langit, perlahan mulai merasa tidak tahan dengan keheningan suaminya yang terus berlanjut.

Di tengah riuh rendah suara obrolan tamu dan denting gelas kaca, keheningan di antara mereka berdua justru terasa membekam. Saat jeda pergantian musik instrumen dan perhatian para tamu sedikit teralih ke panggung dansa, Salsa merapatkan tubuhnya pada Arkan.

Lengan mereka bersentuhan, dan Salsa bisa merasakan betapa dingin dan kakunya tubuh pria itu.

"Arkan" Bisik Salsa, suaranya terdengar lembut namun sarat akan penekanan di antara gemuruh suara aula. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap rahang tegas suaminya dari samping dengan tatapan menuntut.

"Aku mohon, hanya untuk hari ini saja. Tersenyum sedikit, lihatlah ke arah kamera, atau setidaknya berpura-puralah kau bahagia berada di sisiku. Ini hari pernikahan kita, hari sekali seumur hidup kita yang seharusnya paling membahagiakan"

Arkan tidak langsung menjawab. Ia bahkan tidak repot-repot menolehkan kepalanya untuk menatap wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu.

Matanya tetap lurus memandang kosong ke arah kerumunan manusia yang sedang tertawa di hadapan mereka.

Satu detik, dua detik. Keheningan itu terasa begitu mencekik bagi Salsa, membuat dadanya mulai berdenyut nyeri sebelum akhirnya bibir tipis Arkan bergerak.

Pria itu mengeluarkan suara yang begitu pelan, namun sanggup menyayat hati Salsa hingga ke bagian terdalam.

"Tersenyum untukmu?" Tanya Arkan dingin, nada suaranya nyaris menyerupai bisikan angin malam yang beku.

"Itu hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud di dunia nyata, Salsa. Jangan pernah menuntut sesuatu yang tidak tertulis di dalam kontrak pernikahan kita"

Kata-kata itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang mendarat tepat di wajah cantik Salsa. Senyum kemenangan di bibirnya sempat goyah selama beberapa detik, dan kilat terluka sempat melintasi matanya.

Namun, dengan cepat ia menarik kembali topeng keangkuhannya. Salsa kembali menegakkan kepalanya dengan anggun, memandang para tamu dengan senyum manis yang dipaksakan sekuat tenaga.

Ia menolak memperlihatkan kerapuhannya di depan umum, meskipun di dalam dadanya, ada badai amarah dan rasa sakit yang perlahan-lahan mulai bergolak hebat.

Pikiran Arkan memang sama sekali tidak pernah berada di aula mewah yang bertabur bunga melati ini. Sejak kakinya melangkah mendekati altar tadi siang, benaknya telah terbang jauh, meninggalkan kebisingan pesta pernikahan yang terasa sangat memuakkan ini.

Pikiran Arkan melayang pada sebuah rumah kontrakan kecil yang sunyi di sudut kota yang jauh dari kemewahan. Di sana, di dalam kamar yang dingin, seorang wanita berambut panjang dengan mata teduh yang selalu menenangkannya pasti sedang menangis sendirian dalam keputusasaan.

Nabila....

Arkan bisa membayangkan betapa hancurnya hati Nabila malam ini. Wanita yang teramat dicintainya dengan tulus itu harus menanggung penderitaan dan rasa malu akibat keputusan sepihak yang terpaksa Arkan ambil.

Arkan terpaksa mengkhianati janji-janji suci mereka untuk hidup bersama, hanya karena keserakahan dan kelicikan keluarga Salsa yang sengaja memanfaatkan keterpurukan bisnis ayahnya.

Mereka menawarkan suntikan dana segar dengan syarat Arkan harus menikahi putri tunggal mereka yang egois ini. Bayangan Nabila yang menangis dalam diam, memeluk lututnya di sudut kamar yang sepi, terus berputar di kepala Arkan bak kaset rusak yang menyiksa batinnya.

Rasa bersalah yang teramat sangat berkolaborasi dengan kebencian yang mendalam terhadap wanita di sampingnya saat ini. Salsa, sang dalang egois yang telah merenggut kebahagiaannya.

Pesta pernikahan yang terasa bagai siksaan tanpa akhir itu akhirnya usai juga. Jarum jam di dinding suite kepresidenan hotel mewah itu telah menunjukkan pukul dua dini hari ketika pintu kayu jati yang besar itu akhirnya tertutup rapat, mengunci dunia luar yang bising dan menyisakan kesunyian yang mencekam di antara sepasang pengantin baru itu.

Bagi sebagian besar pasangan, malam pertama seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan, sebuah transisi indah yang penuh dengan kehangatan, bisikan cinta, dan penyatuan janji suci di balik pintu tertutup.

Salsa pun, jauh di dalam lubuk hatinya yang tertutup oleh ego kesombongan dan sifat manjanya, sangat mengharapkan hal yang sama. Dia ingin diakui sebagai seorang wanita.

Dia ingin disentuh dengan penuh kasih sayang oleh pria yang selama bertahun-tahun ini telah memenuhi seluruh isi kepalanya. Dia berharap, setelah semua formalitas pesta selesai, Arkan akan melihatnya sebagai istrinya yang sah.

Salsa melangkah menuju kamar mandi yang luas dengan langkah yang terasa sangat lelah. Gaun pengantinnya yang sangat berat, besar, dan bertabur ribuan kristal itu kini terasa seperti baju besi tebal yang menyiksa fisiknya.

Dengan bantuan pelayan hotel sebelum mereka pergi tadi, ia akhirnya berhasil melepaskan gaun itu dari tubuhnya. Rasanya seolah-olah beban seberat puluhan kilogram baru saja terangkat dari pundaknya, meninggalkan kulit bahu dan dadanya yang sedikit memerah akibat gesekan kain brokat yang terlalu ketat.

Setelah membersihkan riasannya yang tebal di depan wastafel marmer, Salsa memilih sebuah gaun tidur terbaik yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.

Gaun malam itu terbuat dari bahan sutra murni berwarna krem lembut. Bahannya sangat tipis, jatuh dengan sangat indah membalut lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi, mengekspos leher jenjang serta bahunya yang putih mulus tanpa cela.

Salsa menatap dirinya di cermin besar. Rambut hitamnya yang panjang kini dibiarkan terurai bebas, jatuh bergelombang dengan indah di punggungnya yang terbuka.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengulas senyum tipis di depan cermin untuk menyemangati dirinya sendiri, lalu dengan langkah anggun dan hati yang berdebar kencang, ia melangkah keluar menemui suaminya di area tempat tidur utama.

Arkan sedang berdiri membelakanginya di dekat jendela kaca besar yang langsung menghadap ke pemandangan lampu-lampu kota Jakarta di malam hari. Pria itu sudah melepas jas tuksedonya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan kasual namun tetap memancarkan pesona maskulin yang luar biasa.

Mendengar langkah kaki lembut Salsa yang mendekat di atas karpet tebal, Arkan membalikkan badannya secara perlahan.

Salsa berjalan mendekat, mencoba mengikis jarak fisik di antara mereka. Matanya menatap Arkan dengan binar penuh harap yang tidak lagi ia sembunyikan.

Ia berharap keindahan tubuhnya dan kelembutan sutra yang membalut kulitnya malam ini setidaknya bisa meruntuhkan sedikit saja dinding es yang membekukan hati suaminya, memicu ketertarikan fisik yang biasa dirasakan oleh pria normal.

Namun, alih-alih tatapan kagum, gairah, atau bahkan sekadar kehangatan yang ia dapatkan, mata Arkan justru meredup dingin.

Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah seringai sinis yang dipenuhi dengan rasa muak yang teramat sangat nyata. Ia menatap Salsa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat menyakitkan.

"Kau mengganti gaun megahmu dengan pakaian seperti ini?" Tanya Arkan, suaranya terdengar sangat sarkas dan tajam.

Ia melangkah satu kali ke depan, membuat Salsa menghentikan langkahnya secara refleks karena intimidasi yang ia rasakan.

"Salsa, kau tampak begitu putus asa demi mendapatkan perhatianku. Dengan gaun sutra tipis yang memamerkan tubuhmu ini, kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang istri dari keluarga terpandang"

Arkan menjeda kalimatnya sejenak. Ia melangkah lebih dekat lagi, menatap tajam langsung ke dalam manik mata Salsa yang mulai bergetar karena rasa terkejut.

"Kau justru terlihat seperti wanita murahan yang biasa menjual diri di pinggir jalan demi mendapatkan perhatian dan belaian pria. Sangat memuakkan untuk dilihat"

Kata-kata itu meluncur dari bibir Arkan bagaikan belati tajam yang menembus tepat di tengah dada Salsa. Seluruh tubuh Salsa menegang seketika. Rongga dadanya terasa begitu sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam kamar mewah itu mendadak menguap habis dalam sekejap. Kata murahan dan menjual diri berdengung keras di telinganya, meremukkan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat yang selalu dipuja dan diagung-agungkan oleh semua orang sejak ia kecil.

Rasa sakit dari penghinaan itu begitu hebat hingga fisiknya nyaris goyah, namun Salsa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Ia merasakan matanya mulai memanas, dan setitik air mata yang panas mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya.

Namun, Salsa segera menahan napasnya, menelan bulat-bulat rasa perih yang luar biasa itu kembali ke dalam dadanya yang bergemuruh.

Tidak. Dia tidak akan menangis. Bagi Salsa, menangis di hadapan Arkan adalah hal yang haram hukumnya.

Menangis berarti menunjukkan kelemahan dan kekalahan, dan ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria yang sangat ia cintai sekaligus ia benci karena penolakan kasarnya ini. Dia adalah Salsa, wanita angkuh yang tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh sebagai tanda bahwa suaminya telah berhasil menghancurkan mentalnya.

Salsa membasahi bibirnya yang mendadak terasa sangat kering, lalu dengan keberanian yang tersisa, ia membalas tatapan tajam Arkan dengan sorot mata yang tak kalah dingin dan menantang.

"Aku adalah istrimu yang sah secara hukum dan agama, Arkan! Apapun yang ku kenakan di dalam kamar ini, di depan suamiku sendiri, itu adalah hakku sepenuhnya. Dan kau tidak memiliki hak sedikit pun untuk menghinaku serendah itu!"

Arkan hanya mendengus meremehkan, sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan diri Salsa. Tanpa membalas perkataan istrinya, ia berbalik arah dengan acuh menuju meja rias, mengambil kunci mobil dan dompet kulitnya yang tergeletak di sana.

Pria itu kemudian menyambar jaket hitamnya yang tersampir di sandaran kursi kulit.

Melihat tindakan suaminya yang bersiap untuk pergi, kepanikan yang luar biasa mulai merayapi hati Salsa, meruntuhkan sebagian

keangkuhannya.

"Mau ke mana kamu, Arkan?"

"Keluar" Jawab Arkan singkat tanpa sudi menolehkan kepalanya.

"Berada di satu ruangan yang sama bersamamu membuatku muak setengah mati. Aku lebih baik tidur di dalam mobil di jalanan atau pergi ke tempat lain yang jauh, daripada harus bernapas di udara yang sama dengan wanita licik seperti dirimu!"

Arkan melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar kamar suite kepresidenan itu. Namun, sebelum jemari pria itu sempat menyentuh gagang pintu kuningan yang dingin, suara Salsa yang melengking tajam dan penuh ancaman menghentikan gerakannya seketika.

Keangkuhan, sifat manja, dan keserakahan Salsa kembali mengambil alih kendali penuh atas dirinya karena rasa takut akan ditinggalkan di malam pertama mereka.

"Melangkahlah satu kali saja keluar dari pintu itu, Arkan" Ancam Salsa dengan nada suara yang bergetar menahan tangis namun sarat akan racun yang mematikan.

"Dan aku bersumpah, besok pagi-pagi sekali, aku akan memastikan Papa menarik seluruh investasi, saham, dan suntikan dana dari perusahaan ayahmu tanpa sisa. Aku akan memastikan bisnis keluargamu hancur berkeping-keping dalam sekejap hingga tidak ada satu pun bank di negara ini yang mau memberikan pinjaman pada kalian!"

Langkah kaki Arkan terhenti seketika di depan pintu. Tubuhnya menegang kaku, tangannya yang menggantung di udara perlahan mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perlahan-lahan, ia membalikkan badannya untuk menghadap Salsa kembali.

Di bawah temaram lampu kamar tidur yang redup, wajah tampan Arkan tampak begitu mengerikan. Matanya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak di dalam kepalanya.

Urat-urat di lehernya menonjol sangat jelas, mencerminkan betapa besarnya usaha fisik yang ia lakukan agar tidak melayangkan kekerasan pada wanita di hadapannya saat ini.

Salsa tetap berdiri tegak di tengah ruangan dengan gaun sutra kremnya, menatap suaminya dengan dagu yang terangkat tinggi, memamerkan kekuasaan mutlak yang ia miliki lewat kekayaan keluarganya. Ia tahu ancaman ini sangat kotor dan rendah, namun ia sudah tidak peduli lagi.

Dia manja, dia egois, dan dia hanya ingin Arkan tetap berada di sini, bersamanya malam ini, apa pun cara menjijikkan yang harus ia tempuh.

Arkan berjalan mendekat ke arah Salsa dengan langkah yang terasa sangat lambat, berat, dan mengancam bagaikan predator yang siap menerkam mangsanya.

Jarak di antara mereka kini terkikis habis, hingga Salsa bisa merasakan hembusan napas Arkan yang terasa sangat panas di kulit wajahnya akibat amarah yang membakar dada pria itu.

"Kau mengancamku lagi dengan uang sialanmu itu Salsa?" Desis Arkan, suaranya bergetar hebat karena menahan murka yang teramat sangat.

Tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian yang begitu mendalam, kebencian yang kini telah mencapai puncaknya hingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk rasa kasihan atau toleransi di masa depan.

Salsa tidak mundur selangkah pun. Ia tetap membalas tatapan mengerikan itu dengan berani, meskipun jauh di dalam dadanya, hatinya menjerit terluka luar biasa melihat seberapa besar kebencian yang terpancar dari mata pria yang dipujanya setengah mati itu.

Arkan menatap wajah cantik di hadapannya dengan rasa jijik yang tidak lagi disembunyikan. Baginya, kecantikan fisik Salsa yang luar biasa itu tidak lebih dari sekadar topeng yang menyembunyikan jiwa yang busuk, egois, dan haus akan pengakuan.

Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, melayangkan kalimat penutup yang begitu tajam dan dingin, meruntuhkan seluruh sisa pertahanan di dalam dada Salsa untuk selamanya.

"Kau memang bukan manusia Salsa! Sama sekali ak punya hati!"

Bukan suami sebenarnya

Salsa tidak pernah menjadi wanita yang naif. Ia tahu persis apa yang ia hadapi ketika memutuskan untuk mengikat Arkan dalam rantai pernikahan ini.

Kalimat-kalimat tajam yang dilontarkan Arkan beberapa jam lalu, tentang dirinya yang menyerupai wanita murahan, tentang kebencian yang mendalam, memang sempat membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas.

Namun, setelah keheningan malam mulai mengambil alih kamar hotel yang megah itu, rasa sesak itu perlahan menguap, digantikan oleh dinding pertahanan ego yang kokoh.

Bagi Salsa, semua makian Arkan hanyalah kerikil kecil.

Itu adalah risiko yang sudah ia perhitungkan sejak awal. Ia sangat yakin, sekeras apa pun batu karang, jika terus-menerus dihantam oleh ombak, maka lambat laun akan terkikis juga. Begitu pula dengan hati Arkan.

Pria itu hanya butuh waktu untuk menyadari keberadaannya. Arkan harus tahu, dan suatu hari nanti pasti akan mengakui, bahwa tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang bisa mencintainya sebesar cinta yang Salsa miliki.

Arkan sering kali mencemooh perasaannya. Pria itu selalu mengatakan bahwa apa yang Salsa rasakan bukanlah cinta, melainkan sebuah obsesi gila yang egois dan merusak. Namun, Salsa menutup telinga rapat-rapat dari penilaian itu.

Di matanya, batas antara cinta yang agung dan obsesi yang membakar sangatlah tipis. Cinta yang sejati tidak selamanya harus berjalan di atas jalan yang lurus dan suci.

Jika ia harus menempuh jalan yang kotor, licik, dan penuh paksaan untuk mempertahankan pria yang dipujanya, maka ia akan melakukannya tanpa ragu.

Orang-orang bodoh di luar sana sering kali mengatakan bahwa cinta adalah pengorbanan. Mereka bilang, cinta yang tulus adalah ketika kita rela melepaskan dan melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain, meskipun hati kita sendiri harus hancur berkeping-keping.

Salsa selalu menganggap filosofi itu sebagai bualan terbesar kaum pecundang. Baginya, pemikiran seperti itu sangat menjijikkan. Cinta sejati tidak pernah mengajarkan kerelaan untuk kalah.

Untuk apa Arkan bahagia jika bahagianya bukan bersamanya?

Logika hidup Salsa sangat sederhana namun mutlak, jika ia mencintai Arkan, maka ia harus bahagia bersama dengan cintanya itu.

Tidak boleh ada skenario lain. Nabila tidak berhak mendapatkan setitik pun kebahagiaan dari pria yang sudah sah menjadi suaminya.

Keheningan kamar hotel malam itu tiba-tiba terusik oleh gerakan kasar dari sisi ranjang. Salsa yang sedang melamun dengan posisi duduk bersandar pada kepala ranjang, langsung menoleh. Ia melihat Arkan dengan sentakan kasar merenggut dua buah bantal besar dan selimut tebal dari atas tempat tidur berukuran king size itu.

"Kamu mau tidur di mana Arkan?" Tanya Salsa dengan kening berkerut. Nada suaranya terdengar heran, sekaligus terselip rasa tidak suka yang tertahan.

Arkan menghentikan gerakannya sesaat. Ia menatap Salsa dengan sepasang mata yang menyalang tajam, memancarkan kebencian yang begitu pekat hingga ruangan yang ber-AC dingin itu terasa semakin membeku.

"Jangan kira aku sudi untuk tidur satu ranjang denganmu!" Jawabnya dengan suara rendah yang penuh penekanan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah racun yang harus disemburkan.

Salsa tidak langsung membalas. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap suaminya dengan pandangan menantang yang tidak mau kalah. Rasa manja dan keras kepalanya mulai terusik.

"Mau sampai kapan kamu seperti ini Mas? Kita sudah menikah. Kita sudah sah secara hukum dan agama. Tidak ada kesempatan lagi untukmu kembali sama Nabila!"

Mendengar nama Nabila disebut dari bibir Salsa, rahang Arkan mengetat dengan keras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia melangkah satu tindakan lebih dekat ke arah ranjang, menunjuk wajah Salsa dengan bantal yang dipegangnya.

"Segala cara akan aku lakukan untuk bisa berpisah denganmu Salsa! Ingat itu!" Desis Arkan dengan nada mengancam yang sangat serius.

"Tunggu saja waktunya. Aku pasti bisa membalikkan keadaan dan menyeretmu keluar dari hidupku. Dan satu lagi, jangan pernah panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu! Aku tidak akan pernah sudi menjadi suamimu yang sebenarnya"

Setelah menumpahkan kemarahannya, Arkan berbalik dengan kasar, melangkah menuju sofa panjang yang terletak di sudut ruangan dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta.

Ia menghempaskan bantal dan selimutnya di sana, lalu merebahkan tubuh tegapnya dengan posisi memunggungi ranjang.

Salsa hanya bisa terdiam, menatap punggung tegap itu dengan kepalan tangan yang tersembunyi di balik selimut sutranya. Di dalam hati, Salsa ingin sekali mengutuk sofa kulit mewah itu.

"Mengapa benda mati itu harus ada di sana? Mengapa Arkan lebih memilih meringkuk di atas permukaan sofa yang sempit dan keras daripada tidur di atas kasur empuk yang nyaman di sampingku?"

Keangkuhan Salsa merasa tercoreng, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap tenang.

Malam itu, tidak ada drama teriakan dari Salsa. Ia tidak bangkit dari ranjang, tidak menghampiri sofa itu, dan tidak menyeret Arkan dengan paksa agar kembali ke tempat tidur bersamanya. Kebanggaan dirinya sebagai seorang wanita sombong menahannya untuk mengemis secara fisik malam ini.

Salsa hanya diam. Ia duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada, dan matanya menatap lurus, tertuju pada punggung pria yang sudah memejamkan mata sejak satu jam yang lalu itu.

Entah apa yang berkecamuk di dalam kepala Salsa selama berjam-jam keheningan itu berlalu. Matanya sama sekali tidak berkedip memperhatikan setiap tarikan napas Arkan yang teratur

Apakah ia sedang merencanakan kelicikan baru? Atau apakah ia sedang menghitung sisa kesabarannya? Yang pasti, tatapan mata Salsa malam itu begitu intens, penuh gairah kepemilikan yang gelap, mengunci sosok Arkan dalam dunianya sendiri hingga fajar perlahan menyingsing di ufuk timur.

Keesokan paginya, sinar matahari yang cerah menembus celah-celah gorden hotel yang mewah. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tidak menyentuh atmosfer di dalam kamar.

Tidak ada ucapan selamat pagi yang hangat. Tidak ada sapaan manis atau pelukan erat dari seorang suami untuk istrinya, seperti skenario indah yang sejak bertahun-tahun lalu selalu Salsa dambakan dalam mimpinya.

Ketika kelopak mata Salsa perlahan terbuka karena silau matahari, pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah wajah tampan Arkan yang tertidur pulas, melainkan sosok suaminya yang ternyata sudah berpakaian sangat rapi.

Arkan sudah mengenakan kemeja bersih dan jasnya, berdiri di dekat meja kaca sambil merapikan jam tangan. Pria itu sudah sepenuhnya siap untuk melangkah keluar dan meninggalkan kamar hotel tempat mereka menghabiskan malam pertama.

Salsa langsung menegakkan tubuhnya, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh detak jantung yang memburu karena rasa tidak terima.

"Mau ke mana kamu pagi-pagi seperti ini?" Tanya Salsa, suaranya agak serak khas orang baru bangun tidur, namun nadanya menuntut penjelasan.

Arkan membalikkan tubuhnya perlahan. Tidak ada sedikit pun binar ramah di wajahnya, hanya ada tatapan dingin yang sama seperti malam sebelumnya. Ia menatap Salsa seolah wanita di atas ranjang itu hanyalah tumpukan barang yang mengganggu pemandangannya.

"Sudah cukup kau menahanku semalaman di kamar ini dengan segala ancaman sialanmu itu, Salsa" Ucap Arkan, suaranya terdengar sangat sinis dan penuh kemenangan karena akhirnya bisa lepas dari kurungan. Ia melangkah menuju pintu utama tanpa berniat mendekati ranjang.

"Sekarang aku harus pergi. Terserah kau mau pulang atau tidak dari hotel ini. Kalau kau mau bertahan di sini lebih lama lagi, aku justru akan jauh lebih senang!"

Salsa terpaku, matanya melebar menatap ketidakpedulian yang begitu nyata dari suaminya.

"Arkan, kita baru saja menikah kemarin! Apa kata orang tua kita kalau kamu pergi begitu saja?!" Seru Salsa, mencoba menggunakan nama keluarga untuk menahannya.

Namun, Arkan bahkan tidak menghentikan langkahnya. Ia membuka pintu kamar dengan sekali sentakan, lalu menoleh sedikit tanpa memandang mata Salsa.

"Katakan pada mereka apa pun yang kau mau. Aku tidak peduli lagi"

Blam....

Pintu hotel tertutup dengan keras, meninggalkan bunyi klik pengunci otomatis yang menggema ngilu di dinding kamar.

Arkan benar-benar pergi, meninggalkan Salsa sendirian di tengah kemewahan kamar pengantin yang kini terasa seperti sebuah penjara yang sunyi dan dingin.

Salsa menatap pintu yang tertutup itu selama beberapa detik dengan napas yang memburu. Rasa manja dan egoisnya bergejolak hebat, membuatnya ingin melempar vas bunga di samping ranjang untuk meluapkan amarah. Namun, kesadaran lain yang lebih tajam segera menghantam kepalanya.

Sebuah kesimpulan langsung terbentuk di benaknya. Pagi-pagi sekali seperti ini, dengan ketergesaan yang begitu kentara. Arkan tidak mungkin hanya pergi ke kantor.

"Dia pasti menemui wanita sialan itu!" Gumam Salsa, suaranya bergetar menahan luapan cemburu yang membakar seluruh dadanya. Pikirannya langsung tertuju pada wajah Nabila.

Arkan pasti berlari kembali ke pelukan kekasihnya untuk mengadu, untuk mencari penghiburan setelah terpaksa menikahinya.

Salsa menyibak selimut sutranya dengan kasar, lalu berdiri di samping ranjang. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya yang dihias cantik menancap sakit ke telapak tangannya sendiri. Matanya berkilat penuh amarah yang berbahaya, memancarkan aura kegelapan dari seorang wanita yang terobsesi.

"Nabila, kamu pikir kamu bisa merebut suamiku setelah semua ini?" Desis Salsa pada ruangan yang kosong. Rahangnya mengatup rapat, dan giginya gemertak karena rasa geram yang tak tertahankan.

"Aku sudah mengorbankan harga diriku untuk berada di posisi ini. Aku tidak akan membiarkan wanita miskin sepertimu merusak apa yang sudah menjadi milikku. Aku harus mencari cara untuk membuatmu pergi sejauh mungkin dari kehidupan Arkan. Selamanya!"

Dengan tekad yang bulat dan hati yang semakin mengeras, Salsa melangkah menuju kamar mandi. Ia tidak akan tinggal diam dan menangis meratapi kepergian suaminya. Jika Arkan bisa bertindak kasar, maka Salsa bisa bertindak jauh lebih kejam untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!