Indonesia
NovelToon NovelToon

Batal Jadi Antagonis: Malah Dapat Anak Tiri Lucu Dan Suami Hot

Awal Mula Transmigrasi

Mina mengerjabkan matanya berkali-kali. Sentuhan di bawah punggungnya terasa sangat asing. Alih-alih merasakan per atau paku-paku kecil yang menusuk-nusuk dari kasur buluk kehitamannya di kosan yang sempit, dia justru merasa seperti mengapung di atas awan.

​"Bentar... kok empuk banget?" gumam Mina, suaranya parau khas orang baru bangun tidur.

​Mina meraba permukaan di bawahnya. Kain satin halus, tebal, dan wangi semerbak lavender. Mina langsung terduduk tegak, matanya membelalak menatap sekeliling. Kamar ini luasnya mungkin setara dengan satu lantai rumah kosannya. Ada lampu gantung kristal yang berkilau mewah, gorden beludru menjuntai tinggi, dan furnitur kayu ukiran bergaya klasik Eropa abad pertengahan.

​"Gue di mana? Pingsan terus dibawa ke rumah sakit? Tapi mana ada rumah sakit sekaya ini? Apa gue diculik om-om?!" Mina panik, meraba leher dan tubuhnya sendiri.

​Mina mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Kemarin itu malam Minggu. Kafe tempatnya bekerja ramai luar biasa, membuat kakinya serasa mau copot karena harus bolak-balik mengantar pesanan pelanggan yang seperti tidak ada habisnya. Ya, dia sempat mengeluh dalam hati, dan berpikir jika pelanggan seolah mempermainkannya karena dia harus bolak-balik sejak tadi tanpa istirahat, Mina juga sempat ingin berhenti kerja, tapi sadar diri karena dia butuh uang. Begitu sampai kosan jam 12 lewat, Mina langsung ambruk. Namun, jiwa maniak komik-nya bergejolak saat ingat webtoon favoritnya baru saja memperbarui bab. Mina bela-bela membuka aplikasi hijau di ponselnya, membaca sambil rebahan, lalu... sepertinya dia ketiduran karena kelelahan ekstrem.

​"Masa iya gue..." Mina menggantung kalimatnya.

​Dia buru-buru turun dari ranjang. Kakinya menyentuh karpet bulu yang luar biasa lembut. Di sudut kamar, terdapat sebuah cermin besar setinggi manusia dengan bingkai emas yang megah. Mina melangkah mendekat, dan begitu pandangannya lurus ke arah cermin, jantungnya serasa berhenti berdetak.

​"Hah? Ini... siapa?" Mina menganga, tangannya gemetar menyentuh pipinya sendiri di cermin.

​Bayangan di cermin sama sekali bukan Mina yang asli. Mina yang asli adalah gadis kuliahan berambut kusam, bermata panda, dengan tubuh kurus kerempeng karena keseringan menahan lapar demi menghemat uang bulanan. Tapi wanita di cermin ini... luar biasa menakjubkan. Kulitnya seputih susu, rambutnya bergelombang sewarna karamel yang berkilau sehat, matanya bulat besar dengan bulu mata lentik, dan lekuk tubuhnya... sangat proporsional dan menggoda. Bahkan dengan gaun tidur tipis pun, wanita ini terlihat seperti dewi.

​"Gila, ini mah kalau lewat di depan cowok, bisa langsung pada sujud! Tapi masalahnya... INI BUKAN GUE!" Mina berteriak histeris, menjambak rambut karamelnya frustrasi.

"Tuhan! Gue beneran masuk komik?! Jangan bercanda dong! Gue belum hapus riwayat pencarian di Google Chrome gue!" paniknya

Bagaimana jika dia memang transmigrasi dan tubuhnya sudah mati di sana? Polisi akan olah TKP kan? Dan tentunya mengobrak abrik seluruh isi kosan, kemudian membuka ponselnya untuk mencari tau penyebab kematiannya, jika mereka melihat daftar pencarian di Google nya sudah pasti mayat Mina tidak punya muka, pasti tersebar berita mengenai dirinya yang diam-diam membuka web ilegal dan bacaan vulgar. Mina tidak sanggup memikirkannya, Mina pun berteriak histeris memikirkan itu.

​Tepat setelah teriakan Mina menggema, suhu di dalam kamar mendadak turun drastis. Angin dingin berembus entah dari mana, membuat bulu kuduk Mina berdiri. Di hadapannya, perlahan muncul sebuah cahaya berpendar keperakan, membentuk siluet seorang wanita. ​Mina melangkah mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak tiang ranjang.

"S-setan ya? Pergi lu! Gue gak punya duit buat bayar sewa rumah hantu!" usir nya tidak jelas.

Sejujurnya Mina lebih takut polisi membuka ponselnya daripada sosok hantu di depannya, Mina tidak takut hantu!.

​Siluet itu mengeras, membentuk wujud hologram yang sangat mirip dengan tubuh baru Mina, namun dengan gaun yang berbeda. Wanita hologram itu menatap Mina dengan tatapan yang sangat dingin dan sinis, seolah-olah Mina hanyalah seonggok kotoran yang tidak sengaja terinjak.

​"Berisik sekali," ucap wanita hologram itu, suaranya bergema aneh di kepala Mina.

​"L-lo siapa? Kenapa muka kita sama? Eh, maksudnya kenapa muka lo sama kayak tubuh yang gue pake?" tanya Mina terbata-bata, berusaha mengumpulkan keberaniannya.

​Wanita hologram itu bersedekap, mendengus meremehkan. "Aku adalah pemilik asli tubuh ini. Alicia. Jiwaku sudah lelah dan aku memilih pergi. Sekarang, tubuh ini milikmu."

​"Hah?! Main tinggalin aja! Gak bisa gitu dong, balikin gue ke kosan gue! Gue belum bayar WiFi bulan ini!" protes Mina dengan sifat sembrono nya yang mulai keluar.

​"Gunakan tubuh ini sebaik mungkin. Terserah kau mau berbuat apa untuk ke depannya. Entah kau ingin menghancurkan tempat ini, atau merangkak memohon ampun, aku tidak peduli lagi." ucap Alicia tidak memperdulikan protes Mina.

​"Woi, tunggu dulu! Minimal kasih tahu ini cerita apa, nama karakternya siapa aja! Jangan kasih tubuh kosongan begini, minimal kasih buku panduan dong!" teriak Mina frustrasi.

​Namun, wanita hologram itu perlahan memudar. Sebelum benar-benar menghilang, dia memberikan senyuman sinis yang membuat dada Mina mendadak terasa sesak dan berat. Kepala Mina berdenyut hebat seiring dengan hilangnya sisa-sisa cahaya keperakan itu. pandangannya mengabur, dan sedetik kemudian, Mina kembali pingsan dan ambruk ke lantai karpet.

​"Nyonya? Nyonya Alicia, Anda sudah bangun?"

​Sebuah suara lembut namun terdengar cemas membangunkan Mina untuk kedua kalinya. Mina mengerang, memegangi kepalanya yang masih terasa agak pening. Dia mendapati dirinya sudah kembali berbaring di atas ranjang mewah, dan di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan hitam-putih khas abad pertengahan.

​"Aduh, kepala gue..." Mina meringis, lalu teringat sesuatu. Dia menatap pelayan itu dengan mata membelalak.

"Eh? Nyonya? Tadi kamu panggil saya apa?" tanyanya mencoba menjelaskan pendengaran nya.

​Pelayan itu tampak agak terkejut, namun segera menunduk hormat. "Nyonya Alicia. Apakah Anda merasa kurang sehat? Perlu saya panggilkan tabib istana?"

​Mina terdiam. Pikirannya berputar cepat. Alicia? Berarti yang tadi malam itu bukan mimpi! Mina beneran transmigrasi jadi Alicia! Tapi bentar... Nyonya? Berarti Alicia udah nikah?!

​"Tunggu, tunggu," Mina mengangkat tangannya, mencoba bersikap agak formal walau jiwanya yang asyik tetap meronta.

"Saya... agak sedikit bingung setelah bangun tidur. Tolong ingatkan saya, siapa suami saya?" tanya Mina tenang

​Pelayan itu memandang Mina dengan tatapan aneh, seolah-olah Mina baru saja menanyakan pertanyaan paling bodoh sedunia.

"Suami Anda adalah Grand Duke Killian, Nyonya."

​Deg.

​Jantung Mina serasa copot. Nama itu... tidak asing. Killian? Grand Duke? Aplikasi hijau? Komik?

"Oh, tidak. Jangan bilang gue masuk ke dalam webtoon 'The Ice Duke's Regret' yang baru gue baca semalem?!" batinnya berteriak histeris.

​Mina mengingat alurnya dengan baik. Alicia adalah karakter ibu tiri yang kejam! Dia menikahi Grand Duke Killian yang berstatus duda beranak satu demi kekuasaan dan harta. Di dalam cerita asli, Alicia sangat membenci anak tirinya yang bernama Gino, selalu menyiksanya secara psikologis, hingga akhirnya Grand Duke Killian mengetahuinya, mengeksekusi Alicia dengan kejam, dan hidup bahagia dengan tokoh utama wanita yang asli.

​"Mampus gue..." gumam Mina spontan, wajahnya memucat.

​"Nyonya? Ada apa?" tanya pelayan itu cemas.

​"Nggak, nggak apa-apa," Mina mencoba tersenyum, meski senyumnya terlihat seperti orang yang sedang menahan buang air besar.

"Nama kamu siapa?" tanya Mina tenang.

​"Saya Sarah, pelayan pribadi Anda, Nyonya."

​"Oke, Sarah. Tolong tinggalkan saya sebentar, saya mau... merenungi nasib, eh, maksudnya menenangkan diri."

​Setelah Sarah keluar dengan membungkuk hormat, Mina langsung bangkit dan mondar-mandir di kamar. Rasa takut langsung berkecamuk di dalam dadanya. Jiwa aslinya adalah seorang gadis ceria, penyayang, dan tidak tegaan. Tapi statusnya sekarang adalah seorang ibu tiri yang menurut alur cerita asli seharusnya bertingkah jahat dan licik.

​"Gila aja gue harus nyiksa anak kecil! Gue denger tangisan bocah di kafe aja langsung pengen meluk dan kasih permen, masa sekarang gue harus jadi monster?" Mina berbicara pada dirinya sendiri, frustrasi.

"Tapi kalau gue gak ngikutin sifat asli Alicia yang dingin dan angkuh, orang-orang bakal curiga gak ya? Jangan-jangan gue dituduh kerasukan penyihir terus dibakar hidup-hidup?!" paniknya heboh.

​Mina memegangi kepalanya yang pusing. Di satu sisi, dia takut mati karena mengubah alur secara drastis. Di sisi lain, moralitasnya sebagai manusia modern menolak keras untuk berbuat jahat, terutama pada anak kecil yang tidak berdosa.

"​Terserah kau mau berbuat apa untuk ke depannya."

​Kata-kata Alicia semalam tiba-tiba terngiang kembali di telinganya. Mina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dia menatap kembali bayangan dirinya di cermin, melayangkan senyum manis yang tampak sangat ceria, sangat kontras dengan citra Alicia yang biasanya ketus.

​"Bodo amat deh! Jiwa gue yang punya kendali sekarang," tekad Mina bulat.

"Gue gak bakal jadi ibu tiri jahat. Gue bakal jadi ibu tiri paling asyik sedunia! Yang penting gue baik-baikin itu bocah sama bapaknya, biar kalau nanti cerai, gue dapet pesangon banyak terus bisa hidup santai kaya raya!"

​Mina tersenyum puas dengan rencana briliannya. Langkah pertamanya adalah menemui sang anak tiri, Gino. Dia harus segera memperbaiki hubungan sebelum terlambat.

​Mina membuka pintu kamar dengan penuh semangat, siap menghadapi kehidupan barunya sebagai ibu tiri di dunia barunya yang penuh kemewahan ini.

Mencoba Dekat

Mina melangkah keluar dari kamar tidurnya dengan dagu terangkat dan langkah yang sengaja dibuat anggun, meniru gaya berjalan para bangsawan di komik yang sering dibacanya. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana, membayangkan kastil megah, pesta dansa dengan gaun berlapis emas, atau mungkin kekuatan sihir tersembunyi yang akan bangkit di dalam tubuh barunya.

"Sarah," panggil Mina kepada pelayan paruh baya yang tadi menunggunya di koridor. Mina berusaha menjaga suaranya agar terdengar berwibawa.

"Tolong antarkan saya ke ruangan... Grand Duke. Saya rasa saya harus menyapanya pagi ini." ucapnya percaya diri.

Sarah, yang sedang merapikan beberapa pajangan di koridor, langsung menoleh dengan dahi berkerut dalam. Dia menatap Mina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan bingung yang sangat kentara.

"Nyonya... maaf?" Sarah tampak ragu-ragu.

"Grand Duke siapa yang Anda maksud?" tanyanya bingung.

Mina mendengus pelan, berpikir kalau pelayan ini mungkin sedang mengujinya atau ingatan pelayan ini agak bermasalah.

"Ya suami saya dong, Sarah. Grand Duke Killian. Siapa lagi?" ucapnya kesal.

Keheningan melanda koridor mewah itu selama beberapa detik. Sarah berkedip beberapa kali, lalu tiba-tiba wajahnya memerah menahan tawa, meskipun dia buru-buru menutup mulutnya dengan sopan.

"Maafkan saya, Nyonya, tapi... Anda ini bicara apa?" Sarah terkekeh pelan.

"Grand Duke Killian? Itu kan karakter utama dari drakor fiksi ilmiah-fantasi yang kita tonton di televisi dua hari lalu? Suami Anda adalah Tuan Arsenio, seorang pengusaha. Dan kita sekarang berada di penthouse pusat kota, bukan di kekaisaran mana pun." jelas Sarah sopan meskipun dia ingin tertawa karena tingkah lucu nyonya nya.

Mina membeku di tempatnya. Kalimat Sarah barusan terasa seperti sambaran petir di siang bolong yang langsung menghancurkan seluruh fantasi indahnya.

"Bentar, bentar..." Mina memegangi kepalanya yang mendadak kembali pening.

"Televisi? Drakor? Penthouse? Berarti... ini bukan dunia abad pertengahan?!" tanyanya syok.

"Tentu saja bukan, Nyonya," jawab Sarah, kini menatap Mina dengan tatapan khawatir.

"Apakah kepala Anda terbentur sesuatu saat tidur? Ini tahun 2026, Nyonya Alicia. Zaman modern." balas Sarah sopan.

Mina menelan ludah dengan susah payah. Rasa kecewa yang amat sangat langsung melingkupi dadanya. Dia ingin berteriak protes kepada tuhan karena telah menipunya mentah-mentah. Kenapa pelayan ini tadi memakai baju hitam-putih klasik? Kenapa dia menyebut kata 'tabib istana' tadi? Oh, ingatan Mina kembali berputar, sepertinya Sarah tadi hanya bercanda atau menyindirnya yang bangun kesiangan seperti putri tidur!

"Aduh, sialan..." gumam Mina lemas, bahunya langsung merosot.

"Gue udah pede banget bakal pakai sihir atau naik kereta kuda, taunya malah zaman modern lagi. Terus buat apa gue dapet bodi seksi begini kalau ujung-ujungnya masih harus mikirin bayar tagihan listrik?!" dumelnya cemberut.

"Nyonya? Anda baik-baik saja? Anda terus bergumam sendiri," tanya Sarah, melangkah mendekat.

"Saya gak apa-apa, Sarah. Cuma agak... syok sama diri sendiri," jawab Mina asal-asalan, tidak peduli lagi dengan tata bahasa formal yang tadi sempat dia usahakan.

"Jadi, intinya gue—eh, saya, adalah istri dari Tuan Arsenio, seorang pengusaha kaya raya? Dan kita tinggal di penthouse?" tanyanya kembali seolah memastikan.

"Benar, Nyonya."

Mina menghela napas panjang. Dia mencoba mengingat-ingat semua komik atau novel yang pernah dia baca. Namun, sebanyak apa pun dia memutar otak, dia tidak ingat pernah membaca cerita dengan latar belakang modern yang persis seperti ini. Dia benar-benar buta. Tidak ada sistem yang tiba-tiba muncul memberikan jendela status layar melayang, tidak ada panduan web, tidak ada apa-apa! Dia menempati tubuh seorang wanita bernama Alicia di dunia modern, itu saja fakta yang dia punya.

Namun, lamunan Mina terputus saat sebuah suara tangisan kecil terdengar dari arah ujung koridor. Tangisan itu terdengar sangat lirih, tertahan, dan penuh ketakutan.

"Hiks... hiks... ampun... janan pukul Ino... hiks..."

Mina menajamkan pendengarannya. Jantungnya mendadak berdegup kencang, kali ini bukan karena syok, melainkan karena rasa iba yang mendalam.

"Sarah, itu suara siapa?" tanya Mina ragu.

Wajah Sarah yang tadinya ramah langsung berubah menjadi tegang dan agak pucat. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak menatap mata Mina.

"Itu... Tuan Muda Gino, Nyonya. Dia mungkin baru bangun tidur." jawab Sarah takut.

Mina menyipitkan matanya, menyadari perubahan sikap Sarah yang drastis. Rasa penasaran di dalam dirinya mulai berkecamuk. Ingatan samar yang bukan miliknya tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Itu adalah kilasan memori dari Alicia yang asli, tangan yang terangkat untuk menampar, suara bentakan yang kasar, dan seorang anak kecil bertubuh mungil yang meringkuk ketakutan di sudut kamar.

"Gila... jadi Alicia yang asli ini ibu tiri jahat yang suka nyiksa anaknya?!" batin Mina berteriak ngeri. Anak kecil sekecil itu?!

"Di mana kamar Gino?" tanya Mina tegas.

"N-Nyonya..." Sarah tampak ketakutan, dia meremas celemeknya.

"Tolong jangan hukum Tuan Muda Gino lagi pagi ini. Dia masih berusia tiga tahun, Nyonya. Dia tidak sengaja menjatuhkan mainannya kemarin..." Sarah terlihat seperti ingin menangis.

Mina tertegun melihat reaksi Sarah. Seburuk itu kah kelakuan Alicia yang asli sampai para pelayan pun trauma? Rasa bersalah yang sebenarnya bukan miliknya membuat dada Mina terasa sesak. Sebagai Mina yang ceria dan penyayang, dia tidak habis pikir bagaimana ada orang yang tega menyiksa balita berusia tiga tahun.

"Sarah, saya tidak akan menghukumnya," kata Mina, mencoba melembutkan suaranya agar pelayan itu tenang.

"Tolong tunjukkan saja di mana kamarnya."

Dengan tangan gemetar, Sarah menunjuk ke sebuah pintu kayu putih di ujung koridor. Tanpa membuang waktu, Mina langsung melangkah lebar menuju kamar tersebut dan membuka pintunya perlahan.

Pemandangan di dalam kamar itu langsung membuat hati Mina mencelos. Di sudut ruangan, di samping sebuah tempat tidur kecil, seorang anak laki-laki berpipi tembam namun tampak pucat sedang meringkuk. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat. Begitu mendengar suara pintu dibuka, anak itu langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin.

"J-janan pukul Ino... Ino inta maaf... Ino idak nakal lagi... hiks..." suara cicitan anak itu terdengar sangat memilukan.

Mina merasakan matanya memanas. Sifat aslinya yang tidak tegaan langsung bergejolak. Persetan dengan image Alicia yang angkuh dan kejam, persetan dengan risiko orang lain curiga kalau dia kerasukan. Dia tidak akan membiarkan anak ini ketakutan lagi.

Mina berjalan mendekat dengan langkah sepelan mungkin, lalu berlutut di atas lantai di hadapan anak itu.

"Hei... Gino?" panggil Mina dengan nada suara paling lembut yang bisa dia keluarkan.

Mendengar suara yang tidak biasa dia dengar, anak itu, Gino perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang bulat besar digenangi air mata, menatap Mina dengan pandangan penuh horor dan trauma. Dia bergeser mundur sampai punggungnya menempel erat pada dinding.

"N-Nyonya..." bisik Gino terbata-bata, badannya masih gemetar.

Mina tersenyum manis, senyuman tulus yang belum pernah Alicia berikan seumur hidupnya.

"Gino, jangan takut. Mama... eh, Tante... maksudnya, aku gak bakal pukul kamu kok." Mina agak bingung harus menyebut dirinya apa, mengingat dia adalah ibu tiri.

Gino berkedip, air matanya menetes ke pipinya yang tembam. Dia tampak sangat bingung melihat perubahan drastis dari wanita yang biasanya selalu menatapnya dengan pandangan benci dan jijik.

"N-Nyonya idak malah?" tanya Gino cadel.

"Nggak, sayang. Mama gak marah sama sekali," ucap Mina, hatinya meleleh melihat betapa lucunya anak ini meskipun sedang ketakutan.

Mina perlahan mengulurkan tangannya, bergerak sangat lambat agar tidak mengejutkan Gino. Ketika tangannya menyentuh puncak kepala Gino, anak itu sempat memejamkan mata erat-erat, mengira dia akan dijambak. Namun, saat yang dia rasakan adalah usapan lembut yang menenangkan di rambutnya, Gino membuka matanya kembali dengan tatapan tidak percaya.

"Mulai hari ini, gak bakal ada yang pukul Gino lagi. Oke?" kata Mina, menatap lurus ke dalam mata bulat anak itu.

"Mama minta maaf ya atas semua kesalahan Mama yang dulu. Sekarang, kita temenan, yuk?"

Gino masih menatap Mina dengan sisa-sisa kewaspadaan, namun usapan lembut di kepalanya membuat tubuh mungilnya perlahan berhenti bergetar. Pikiran aneh di dalam diri Mina perlahan mengikis, digantikan oleh tekad yang kuat. Dia mungkin tidak masuk ke dunia komik fantasi romantis yang indah, dan dia mungkin terjebak di tubuh seorang ibu tiri yang dibenci. Tapi di sini, di dunia modern ini, Mina bersumpah akan menggunakan kesempatan kedua ini untuk melindungi anak tak berdosa ini dan mengubah takdir buruk yang membayangi mereka.

Gino yang Malang

Teori di kepala Mina tentang cara menghapus trauma seseorang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Buku psikologi atau tips internet yang mengatakan bahwa 'korban harus didekatkan dengan faktor pemicu traumanya secara perlahan' rasanya ingin Mina bakar sekarang juga. Mengubah cap 'ibu tiri dajjal' menjadi 'ibu tiri peri' tidak semudah membalikkan telapak tangan.

​Sudah seminggu Mina menempati tubuh Alicia, dan setiap kali dia mencoba mendekat, Gino selalu gemetar hebat. Bocah tiga tahun itu akan langsung meringkuk, memejamkan mata erat-erat, dan bergumam dengan suara super pelit yang sangat memilukan.

​"N-Nyonya... Ino inta maaf... Ino idak nakal... Janan cubit Ino... hiks..."

​Melihat itu, Mina tidak berani melangkah lebih dekat. Dia terpaksa mundur dan hanya menatap bocah menggemaskan itu dari ambang pintu. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali melihat respons Gino. Siapa yang tidak trauma? Dari sisa memori Alicia yang berkelebat di kepalanya, wanita ini sering melontarkan kata-kata makian yang sangat kasar, bahkan tega mencubit lengan dan perut buncit bocah tak berdosa itu sampai kebiruan. Ingatan anak usia tiga tahun itu pastinya merekam Alicia sebagai monster paling mengerikan di hidupnya.

​"Gila ya ini Alicia asli, beneran gak punya hati nurani," umpat Mina pelan sambil bersandar di koridor setelah gagal lagi mendekati Gino.

"Bocah selucu itu disiksa dengan teganya. Kalau di dunia asli gue punya anak kayak Gino, udah gue unyel-unyel tiap hari." ucapnya sambil menatap Gino dari jauh.

Jiwa dan moral di dalam diri Mina makin diperparah dengan fakta baru yang dia temukan di rumah megah ini. Ternyata, kelakuan biadab Alicia menular ke beberapa pelayan. Mina memergoki tiga orang pelayan di rumah ini yang ikut-ikutan menyiksa Gino secara pasif. Mereka sengaja mengabaikan Gino, tidak memberinya makan tepat waktu, atau yang paling parah, menyajikan makanan yang sudah hampir basi dan berbau asam! Padahal ini adalah rumah Gino, rumah ayahnya, tapi bocah itu diperlakukan lebih rendah daripada hewan peliharaan.

​"Lagian, ini bapaknya ke mana sih?! Mati suri apa gimana?!" omel Mina frustrasi di dalam kamarnya.

​Sudah lebih dari seminggu dia di sini, tapi batang hidung suaminya Tuan Arsenio belum juga kelihatan. Jangankan datang, menelepon ke rumah pun tidak pernah. Mina merasa seperti terjebak di dalam neraka rumah tangga orang lain tanpa tahu peta jalannya.

​Untuk mengalihkan rasa frustrasinya, Mina berguling di atas ranjang king size-nya dan meraih ponsel berlogo apel digigit milik Alicia. Kemarin dia baru tahu kalau pemilik tubuh ini ternyata adalah seorang selebgram papan atas dengan jutaan pengikut. Mina membuka aplikasi Instagram dan seketika terperangah melihat angka di profilnya.

​"Busret! Followers-nya lima juta?!" Mina menjerit heboh, sifat sembrononya keluar. Dia mengucek matanya tidak percaya.

"Buset, kontras banget sama hidup gue yang dulu. Di dunia asli, followers gue cuma seratus orang, itu pun setengahnya akun fake buatan gue sendiri buat nge-wibu sama nge-stalk mantan!" dumelnya cemberut.

​Mina asyik men-scroll feeds Alicia. Isinya foto-foto aesthetic, barang-barang branded, dan OOTD yang memamerkan lekuk tubuhnya yang memang sangat terjaga dan menggoda. Pantesan badannya bagus banget, makannya aja salad mulu, batin Mina.

​Namun, keasyikan Mina langsung buyar saat pintu kamarnya digedor dengan kasar dari luar.

​Braakk!

​Sarah masuk dengan raut wajah yang luar biasa panik, napasnya tersengal-sengal seperti habis dikejar setan.

"N-Nyonya! Gawat, Nyonya!"

​Mina langsung duduk tegak, ponselnya hampir saja terlempar. "Ada apa, Sarah? Jangan bikin gue senam jantung dong!"

​"Tuan Muda Gino, Nyonya! Tuan Muda tiba-tiba muntah-muntah dan hidungnya mengeluarkan banyak darah!" pekik Sarah.

​"APA?!"

​Mendengar hal itu, jantung Mina serasa berhenti berdetak. Tanpa alas kaki, dia langsung melompat dari ranjang dan berlari kencang keluar kamar, mengabaikan Sarah yang berteriak memanggilnya. Jiwa ceria dan santainya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa panik yang murni.

​Begitu sampai di depan kamar Gino, pemandangan di dalamnya membuat darah Mina mendidih seketika. Gino, bocah kecil itu, tergeletak tidak berdaya di atas lantai marmer yang dingin. Wajahnya seputih kertas, bajunya kotor karena muntahan, dan aliran darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya.

​Dan yang membuat Mina paling murka adalah keberadaan tiga pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana. Bukannya menolong, mereka hanya diam menonton, bersedekap, bahkan salah satunya tampak berbisik sambil tersenyum sinis, seolah-olah kondisi kritis Gino adalah sebuah pertunjukan sirkus yang bagus.

​"Kalian... APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!" teriak Mina membahana, suaranya menggelegar penuh amarah hingga ketiga pelayan itu terlonjak kaget.

​"Ny-Nyonya..." salah satu pelayan gagap.

​"Kalian punya mata dan otak gak?! Anak kecil kritis begini malah ditontonin! Kalian mau jadi pembunuh?!" amuk Mina dengan mata berkilat marah. Dia tidak sudi membuang waktu untuk mendengarkan alasan mereka. Mina langsung menerjang maju, berlutut di lantai dingin, dan dengan hati-hati namun cekatan mengangkat tubuh mungil Giino ke dalam dekapannya.

​Tubuh Gino Bu terasa sangat ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya, dan suhunya dingin sekali.

​"Gino, sayang, denger Mama... tahan ya, nak," bisik Mina dengan suara bergetar, air matanya mulai menetes saat merasakan napas Gino yang pendek-pendek.

​Mina bangkit berdiri sambil menggendong Gino erat-erat. "Sarah! Siapkan mobil sekarang! Bilang ke supir kita ke rumah sakit paling dekat!" teriak Mina sambil berlari keluar koridor.

​Di area parkir bawah tanah, Pak Heru, sang supir pribadi, sudah membukakan pintu mobil dengan tangan gemetar setelah mendapat perintah mendadak dari Sarah. Namun, begitu melihat Mina berlari sambil menggendong Tuan Muda Gino yang tidak sadarkan diri dengan wajah penuh darah, Pak Heru langsung membeku. Wajahnya berubah pucat pasi.

​Di dalam pikiran Pak Heru, skenario terburuk langsung terbentuk. "Ya Tuhan... Nyonya Alicia pasti habis menyiksa Tuan Muda lagi sampai pingsan begini!" batin Pak Heru ketakutan.

Padahal, selama seminggu terakhir ini suasana rumah terasa sepi, tidak ada suara teriakan murka dari sang nyonya atau tangisan histeris dari Tuan Muda Gino. Pak Joko mengira sang nyonya sudah mulai bertobat dan berubah baik, tapi ternyata ini adalah puncaknya! Sang nyonya mungkin sudah muak pura-pura baik dan langsung menghajar Tuan Muda sampai sekarat.

​Kondisi saat ini benar-benar tidak bagus. Tuan Arsenio sama sekali tidak bisa dihubungi sejak beberapa hari lalu karena urusan bisnis di luar negeri yang sangat mendesak. Pak Heru takut jika Tuan Muda Gino tidak akan selamat hari ini. Memikirkan bocah malang itu akan tutup usia di tangan ibu tirinya membuat bulu kuduk Pak Heru meremang dan wajahnya makin memucat.

​Mina langsung masuk ke kursi belakang, mendekap Gino erat-erat di dadanya yang bergemuruh. Melihat Pak Heru yang masih bengong di depan pintu kemudi, emosi Mina langsung meledak.

​"PAK SUPIR! NGAPAIN MASIH BENGONG DI SITU?! JALANIN MOBILNYA SEKARANG! CEPETAN!" teriak Mina histeris, air matanya sudah bercucuran membasahi pipinya yang cantik.

​Pak Heru tersentak, langsung masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil dengan terburu-buru. Mobil mewah itu melesat keluar dari gedung penthouse dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang cukup padat.

​"Cepat lagi, Pak! Terobos aja lampu merahnya aman itu! Anakku dingin banget, Pak!" teriak Mina lagi dari kursi belakang, suaranya parau penuh ketakutan.

​Sebenarnya, Mina sangat takut sekarang. Jiwanya yang asli hanyalah seorang gadis muda biasa yang paling mentok menghadapi situasi darurat saat pesanan kafe membludak. Dia belum pernah menghadapi situasi hidup dan mati seperti ini. Di dalam dekapannya, Gino terasa sangat pucat, dingin, dan tidak berdaya. Sentuhan darah Gino yang mengenai kulit lengan Mina membuat seluruh tubuhnya merinding.

​Mina menunduk, menatap wajah sayu Gino yang memejamkan mata erat. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh bocah ini, entah karena racun dari makanan basi para pelayan bajingan itu, atau penyakit lain yang selama ini diabaikan oleh Alicia yang asli. Yang pasti, anak menggemaskan ini sedang tidak baik-baik saja, dan Mina bersumpah di dalam hatinya, jika Gino sampai kenapa-napa, dia tidak akan melepaskan siapa pun yang terlibat dalam penderitaan anak ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!