Indonesia
NovelToon NovelToon

The Best Sniper

1. Ryuga

Dorr!

Dooor!

Doorrr!

Suara tembakan saling bersahutan. Di tengah tanah lapang itu, dua kubu sedang bertarung sengit.

Satu pihak, berusaha untuk mempertahankan keselamatan, sementara pihak lain berusaha untuk meringkus.

Dengan langkah tegap, pria yang memakai baju tertutup itu berjalan di tengah desingan peluru. Ia yang baru bergabung, langsung memberondong tembakan ke arah lawan tanpa henti.

Langkahnya tanpa ragu, terus maju di antara peluru yang beterbangan. Hanya dalam hitungan menit, ia berhasil meluluh lantakkan lawan di depannya.

Sosoknya sangat di segani di kalangannya. Namanya cukup terkenal di dunia bawah sebagai pria yang sepak terjangnya sangat mengerikan.

Tak hanya di Negaranya, namanya pun menggema dengan lantang di Negara lain. Baik itu di kalangan militer maupun di kalangan Mafia, semua pasti mengenal sosoknya.

Pria dingin itu memiliki julukan CK (Sikey) atau Coffin King yang berarti Raja Peti Mati. Dengan gagahnya, Ia berhasil menundukkan Mafia - Mafia besar yang bermain di dunia bawah. Semua 'pemain' itu, seolah barada di bawah kakinya.

Namun, pria berwajah tampan itu memiliki sisi lain yang tak banyak di ketahui. Dia adalah pria yang sangat lembut pada orang terdekatnya. Meski ketegasannya tak pernah luntur, namun, semua orang yang ada di dekatnya mengakui kelembutan hatinya.

"Kapt!" Salah seorang Juniornya menghampiri dengan tergopoh - gopoh.

"Tolong beresin semua, gue ada urusan." Titahnya sembari menepuk pelan pundak Juniornya.

"Siap, Kapt!" Jawab Juniornya dengan patuh.

Dengan mobil yang sudah disiapkan, ia segera menuju ke Markas. Pria tampan itu menghela nafas panjang. Sesekali netranya tertuju pada jam yang ada di layar di hadapannya.

"Tolong lebih cepat, Pak." Pintanya. Nadanya terdengar halus saat meminta tolong pada supir andalan Markas.

"Siap!" Jawab si Supir. Keduanya pun mulai mengobrol untuk mengusir penat selama di perjalanan.

Setelah sampai di Markas, ia segera berlari menuju ke ruangannya untuk berganti pakaian. Begitu ponselnya ia nyalakan, puluhan notifikasi masuk tanpa jeda, hingga membuat ruangannya sangat berisik dengan nada notifikasi itu.

Namun, sepertinya pria itu sudah terbiasa. Ia tetap santai mengganti pakaiannya dengan pakaian semi formal yang sudah ia siapkan.

Setelah selesai berganti, Ia segera keluar dan berjalan menuju ke tempatnya memarkirkan mobil.

"Yu!" Terdengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.

Orang itu berada tiga pangkat di atasnya dan dialah pria yang sudah ia anggap seperti Ayahnya saat sedang di 'lapangan'.

"Sir!" Sapa Ryu pada Elno. Sahabat Ibunya yang kini menjabat sebagai Pimpinan di Markas Agen Rahasia.

"Ah! Bundamu baru telfon." Kata Elno.

"Sir, gak datang?" Tanya Ryu.

"Sir titip hadiah untuk Bunda aja. Salam buat Yanda. Sir harus rapat bersama Jendral." Jawab Elno sembari memberikan sebuah totebag kecil yang berisi hadiah untuk Fey.

"Sir gak takut kena omel Bunda?" Tanya Ryu.

"Nanti biar Sir suruh Yanda peluk Bundamu erat - erat supaya marahnya reda." Kekeh Elno yang kemudian berlari menuju ke mobilnya.

Ryu tersenyum sekilas menatap punggung duda merana yang sebatang kara itu. Elno, di tinggal istrinya yang meninggal akibat sakit kanker yang di deritanya. Ia tak memiliki keturunan dan menganggap anak - anak Sahabatnya, seperti anaknya sendiri.

Dengan kecepatan tinggi, Ryuga mengendarai mobilnya menuju ke salah satu Restoran yang di sewa untuk merayakan ulang tahun Bundanya.

Begitu sampai di Resto, ia segera turun dari mobil dengan membawa dua hadiah. Satu dari Elno dan satu lagi adalah hadiah yang sudah ia siapkan.

"Loh! Abang baru sampe?" Tanya seorang pria yang tampak mirip dengannya. Meski memang tak setampan Ryuga.

"Kamu juga, kok baru sampe?" Tanya Ryuga pada Aslan, adiknya.

"Aku habis ada meeting." Jawab Aslan yang kini mengurus Mall bersama sang Ayah.

Dua pria itu berjalan cepat menuju ke ruangan yang nampak sudah ramai dengan kehadiran keluarga dekat mereka.

"Astaga, kalian berdua! Acara udah mau selesai tapi kalian baru dateng." Omel Gian.

"Lupa, kalo hari ini Bunda ulang tahun?" Omel Fey.

"Enggak lah, Bunda." Jawab Ryuga dan Aslan bersamaan.

"Maaf ya, Bunda. Selamat ulang tahun, Cantik." Ucap Ryu yang kemudian mengecup kedua pipi wanita terkasihnya. Wanita yang selama ini mengajarinya untuk menjadi sniper yang andal.

"Selamat bertambah tua, Cinta pertamaku. Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas plus - plus." Ucap Aslan sambil tersenyum. Ucapan itu tentu membuat Fey dan Gian tertawa saat mendengarnya.

"Ini, Bun, titipan dari Papa El." Kata Ryu sembari menyerahkan hadiah dari Elno.

"Kemana duda gila itu? Bener - bener, ya. Katanya mau dateng, berani - beraninya dia bohongin Bunda." Ujar Fey.

"Sayang..." Kekeh Gian sambil merangkul istrinya.

"Dia ada meeting, Bun." Jawab Ryu.

"Bunda kayak gak tau Papa El aja. Masih untung dia inget ulang tahun Bunda." Sahut Aslan.

"Ini hadiah dari Ryu. Sekali lagi, selamat ulang tahun ya, Bun." Ucap Ryu.

"Makasih, Sayang." Jawab Fey.

"Nah, ini dari Aslan. Jam tangan yang pasti Bunda suka." Ujar Aslan. Pekerjaannya yang berurusan dengan Mall, membuatnya mengerti dengan selera fashion Bundanya.

"Waah, makasih ya, Sayang." Ucap Fey sambil tersenyum senang.

Kehidupan Fey sungguh sangat membahagiakan. Ia di treat layaknya seorang Permaisuri oleh ketiga pria yang ia Cintai. Bahkan, tak jarang tiga pria itu saling bersaing untuk membuatnya bahagia.

"Aduh, anak - anak ganteng ini. Sibuk banget deh, ya. Acara Bundanya udah selesai, tapi baru pada nongol." Kata Gita.

"Eh, Mommy." Ryuga dan Aslan kemudian menyalami dan memeluk Gita.

"Biasa Mi, Yanda sengaja kasih aku kerjaan mendadak, biar cuma Yanda yang kelihatan bagus di depan Bunda." Celoteh Aslan.

"Bisa - bisanya kamu fitnah Yanda." Protes Gian sembari melempar kentang goreng ke kepala Putra keduanya.

"Ini, Freezer seribu liter, kenapa baru dateng juga?" Tanya Gita.

"Ryu harus dampingi sidang dulu, Mi." Dusta Ryu sambil melirik ke arah Aslan.

Tentu saja hanya Aslan yang tak tau pekerjaan Ryu sebenarnya. Kedua orang tuanya, jelas saja tau karena merekalah wali Ryu.

Sementara Gita, tentu mengerti seluk beluk Agen Rahasia karena masih tetap menjadi Dokter khusus di sana.

"Ck! Abang selalu aja alasannya dampingi sidang. Kayak gak ada kerjaan lain aja." Ledek Aslan.

"Memang itu pekerjaan Abang!" Sahut Ryu sambil menyentil dahi adiknya yang berbeda usia empat tahun dengannya.

"Nikah makanya, biar ada yang di urusin. Bukan cuma ngurusin orang lain terus." Sergah Aslan yang kembali meledek. Sepertinya, harinya tak sempurna kalau tidak membuat keributan dengan Abangnya.

2. Didikan Militer

"Ngapain, Bang?" Tanya Aslan saat Ryu masuk ke dalam kamarnya.

"Astaga, Aslan! berantakan banget sih, kamarmu? Ini kamar apa kandang?" Omel Ryuga saat melihat kamar Aslan yang berantakan.

"Kandang singa." Jawab Aslan dengan santai.

"Abang gak kerja?" Tanya Aslan saat Ryu merebahkan diri di atas ranjangnya.

"Libur." Jawab Ryu sembaru menggulir ponselnya.

"Kamu, kenapa gak kerja?" Ryu balik bertanya.

"Capek. Kerja terus, nanti tambah kaya, Yanda." Jawab Aslan yang membuat Ryu terkekeh.

"Abang kenapa gak nerusin usaha Yanda, sih? Kan jadi aku yang di suruh nerusin." Cicit Aslan.

"Bukan passion Abang." Jawab Ryuga.

"Sama, bukan passionku juga. Tapi tetep aja di paksa Yanda." Sahut Aslan.

"Tapi kamu menikmati banget tuh." Sergah Ryu.

"Ya itu, awalnya terpaksa, lama - lama suka." Kekeh Aslan yang membuat Ryu mencebik.

"Tapi keren sih kamu, Lan. Bisa bikin omset naik drastis. Banyak barang baru yang bisa kamu masukin, padahal Yanda sama Opa gak bisa." Puji Ryu.

"Ya itu, Bang. Emang kita gak bisa selalu main lurus. Dunia bisnis ini kejam." Jawab Aslan.

"Bang..."

"Hm?"

"Dari pada tiduran di sini, mending keluar cari istri. Aku udah pingin punya ponakan, tau." Celetuk Aslan yang tak di tanggapi oleh Ryu.

"Bang, kayaknya aku gak pernah lihat Abang pacaran, deh." Kata Aslan.

"Gak penting, Lan. Yang ada, pacaran itu bikin pusing karena harus ngadepin tingkah cewek yang sering absurd." Jawab Ryu.

"Ck! Padahal, hal - hal kayak gitu tuh yang bisa jadi hiburan pelepas penat, Bang. Tingkahnya yang manja, yang bawel, yang lembut, ngangenin tau, Bang." Ujar Aslan yang kembali tak di tanggapi oleh Ryu.

"Abang gak kelainan, kan?" Tanya Aslan yang mulai memancing perhatian Ryuga.

"Maksudnya?" Tanya Ryu.

"Itu, Abang bukan kaum rainbow, kan?" Tanya Aslan yang langsung membuat Ryuga melotot. Gerakan tubuh Ryu yang secepat kilat, tak memberi kesempatan Aslan untuk menghindari kuncian dari Abangnya.

"Emang kurang ajar banget anak satu ini, mulutnya. Sembarangan banget ngomongin orang kaum sesama jenis. Abang masih normal, tau!" Kata Ryu sambil mengunci tubuh adiknya, hingga Aslan tak bisa bergerak.

"Kalo normal, kenapa gk pernah deket sama cewek?" Cicit Aslan sambil meronta - ronta, berusaha melepaskan diri.

"Emang Abang harus laporan sama kamu, kalau mau deket sama cewek?" Ryu balik bertanya.

"Jadi, ada cewek yang Abang deketin?" Tanya Aslan sembari menghentikan gerakan memberontaknya.

"Enggak!" Jawab Ryu.

"Ah kan! Abang ini mencurigan banget, awas ya, kalo tiba - tiba bawa pulang temen cowok kaum tulang lunak." Cerocos Aslan yang membuat Ryu makin mengencangkan kunciannya.

Tak berhenti sampai di sana, Ryu juga membekap wajah adiknya hingga adiknya itu berteriak - teriak karena kesulitan bernafas.

"Bundaaaa! Yandaaaa! Tolooong!" Teriak Aslan berulang - ulang hingga membuat rumah itu menjadi berisik dengan teriakan Aslan.

"Bundaaaa! Aku di siksa sama Abang!" Seru Aslan sambil terus meronta - ronta, saat Ryu mengunci lehernya.

"Astaga! Kalian berdua ini kenapa, sih? Udah pada besar juga." omel Fey yang berdiri di ambang pintu kamar Aslan.

"Tolong, aku mau di bunuh Abang, Bun." Keluh Aslan.

"Abang! Lepasin adeknya." Titah Fey.

"Biarin aja, Bun. Kurang ajar banget ini mulutnya. Masak aku di bilang kaum rainbow." Jawab Ryuga yang enggan melepaskan mangsanya.

"Kamu juga, Lan, sembarangan banget mulutnya kalo ngomong!" Omel Gian yang menyusul istrinya melihat kehebohan dua putranya.

"Abisnya, umur udah hampir menginjak kepala orang, tapi belum punya pacar juga." Sahut Aslan.

"Kepala kamu yang Abang injek!" Sahut Ryu.

"Udah, bersihin aja itu adeknya, Bang. Biar saingan Yanda dapetin perhatian Bunda, tinggal kamu aja." Kekeh Gian yang kemudian beranjak meninggalkan kamar Aslan.

"Bundaaa! Tolong Bun, sakit semua badanku." Keluh Aslan yang merengek seperti anak kecil.

"Minta maaf sama Abang." Perintah Fey.

"Lepasin dulu, baru aku minta maaf." Kata Aslan.

"Minta maaf dulu, baru Abang lepasin." Sergah Ryu.

Keduanya terus saling mengeyel enggan melepaskan dan enggan meminta maaf. Melihat tingkah dua putranya, tentu saja membuat Fey naik darah. Dengan cepat, Fey berjalan menuju ke kamarnya dan mengambil senjata kesayangannya.

"Berhenti sekarang!" Teriak Fey dengan suara melengking. Ia kemudian memanjangkan tongkat kematian yang sudah ia pegang.

"Satu... Dua..." Fey mulai menghitung sembari memukul - mukulkan pelan tongkat kematian di tangannya.

"Yes, Ma'am!" Seru Ryu dan Aslan.

Kedua pria yang berusia dua puluh sembilan dan dua puluh lima tahun itu langsung berdiri tegap layaknya seorang Prajurit yang hendak di beri perintah.

"Push up, lima puluh kali. Kalo sampe berhenti, Bunda pukul bokongnya." Ujar Fey sambil memukul bokong Ryu dan Aslan.

"Yes, Ma'am." Jawab mereka berdua yang langsung melaksanakan perintah Fey, sementara Fey menghitung gerakan dua putranya.

Melihat dua saingannya yang sedang di tertibkan, Gian pun tertawa dengan puas. Sudah lama ia tak melihat Fey menertibkan dua putranya dengan gaya militer.

...****************...

"Dering ponsel Ryu, membangunkannya dini hari itu. Ia buru - buru mengangkat panggilan telfon itu, ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

"Yes, Sir!" Ujar Ryuga dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ryu mendengarkan arahan dari Elno, sebelum menyudahi panggilan telfon dari atasannya.

Ryu segera mencuci wajahnya, kemudian memakai jaket dan trening panjang. Tak lupa, ia mengirim pesan pada Fey yang pasti sudah terlelap sekarang.

Seperti sang Ibunda, dengan mudahnya Ryu menyelinap dari rumah besarnya. Ia kemudian berjalan cepat menghampiri mobil milik Markas yang sudah menjemputnya.

Di dalam mobil itu, sudah tersedia senapannya dan beberapa senapan lain milik rekannya yang di simpan di bawah jok. Jok tempat duduk itu, di sulap sedemikian rupa hingga membentuk seperti brankas yang hanya bisa di buka dengan chip yang tersembunyi di balik kulit tangan setiap Agen Rahasa.

Mobil itu melaju dengan cepat menuju ke sebuah rumah besar. Rumah besar yang tertutup itu adalah rumah milik Fey dan Gian yang sengaja di peruntukkan untuk tempat tinggal anggota Agen Rahasia atau tempat untuk mereka berkumpul.

Begitu mobil yang dikenali terkena sensor kamera di gerbang, secara otomatis, gerbang akan terbuka dengan sendirinya. Mobil milik Margas itu pun segera masuk untuk menjemput dua orang anggota yang tinggal di rumah besar itu.

"Kok kalian di Basecamp? Siapa yang jaga malam ini?" Tanya Ryu.

"Davi sama Brian, Yu." Jawab Adit, sahabat dekat Ryu yang juga satu angkatan dengannya.

"Jadi, kita berlima, Kak?" Tanya Wili yang di jawab anggukan oleh Ryu.

"Mereka berdua udah berangkat, Pak?" Tanya Adit pada supir mereka.

"Udah, Mas. Pake mobil satunya." Jawab Supir yang membawa mereka.

"Ada waktu satu jam, kalian berdua tidur dulu aja, biar gue yang jaga." Titah Ryu.

"Biar Wili aja yang tidur. Gue udah tidur lama." Kata Adit.

Sebagai anggota termuda di dalam mobil, tentu dengan senang hati Wili menuruti perintah dua Seniornya. Ia pun segera tidur, sementara Ryu dan Adit berjaga untuk menerima perintah lanjutan dari atasan mereka.

3. Penasaran

"Wil, bangun." Ryu membangunkan Wili, perlahan. Ia tentu tak ingin membuat Wili terkejut.

"Udah smpe, Kak?" Tanya Wili saat melihat Ryu dan Adit yang sudah siap dengan pakaian mereka.

"Sepuluh menit lagi." Jawab Adit yang kemudian melemparkan pakaian dan balaclava milik Wili.

Wili segera memakai pakaian tertutupnya dan juga Balaclava. Setelah itu, ia segera memeriksa kondisi senapannya.

Sesuai dengan instruksi kedua dari Elno, mereka segera menuju ke salah satu gudang besar yang ada di sana.

Dengan lincah, mereka bertiga memanjat dinding gudang yang memang terdapat tangga besi menuju ke atap di sana.

Di atas, kedatangan mereka pun di sambut dengan Davi dan Briyan yang sudah mengintai mangsa mereka sejak beberapa menit lalu.

"Gimana?" Tanya Ryu.

"Masih belum ada pergerakan, Kapt." Jawab Davi.

"Kalian bertiga, langsung ke tempat masing - masing. Terus awasi." Perintah Ryu.

"Siap, Kapt!" Jawab ketiga junior Ryu yang langsung menjalankan perintah. Sementara ia dan Adit tetap di tempat agar lebih mudah mengawasi gudang ke dua yang juga mungkin akan jadi tempat transaksi.

"Ada mobil yang mencurigakan." Ujar Davi melalui earpiece saat melihat sebuah mobil box memasuki area pantauan.

"Perketat pantauan." Sahut Ryuga saat ia menangkap beberapa mobil SUV yang juga turut masuk ke area.

Ryuga pun tersenyum saat melihat orang - orang yang turun dari mobil itu. Ya, mereka adalah komplotan mafia senjata ilegal yang cukup meresahkan akhir - akhir ini.

"Target, lock." Ujar Ryuga yang memberi aba - aba pada semua rekannya.

"Bersihkan semua, jangan sampai ada yang tersisa." Imbuhnya kemudian.

Mereka terus memantau pergerakan target. Kelima orang itu pun terkejut saat pintu box mobil terbuka.

Di dalamnya, ada banyak sekali senjata api. Mulai dari pistol, hingga senapan laras panjang. Tak hanya itu, mereka juga membawa beberapa macam narkoba yang di letakkan di sebuah koper jinjing.

"Waaw! Transaksi milyaran kali ini, otewe gagal." Kata Adit.

"Sniper get ready!" Titah Ryu. Ia dan semua rekannya pun mulai fokus dengan titik vital target utama mereka.

Mereka tentu mengincar titik vital untuk meringankan rasa sakit target. Karena mereka sudah pasti akan tewas di tempat dalam hitungan detik saat timah panas mengenai titik vital.

"Shoot!"

Suara tembakan terdengar bersamaan. Tak ada yang menyadari keberadaan sniper di sekitar mereka. Lima orang target utama pun langsung rubuh tanpa sempat menyadari apa - apa.

Sementara, beberapa orang yang bersama mereka pun ikut menyusul dengan suara tembakan ke dua.

Tepat sasaran dan tak ada yang meleset, target vital mereka pun sama, yaitu bagian dada sebelah kiri (jantung).

Setelah menyelesaikan tugas, mereka segera kembali ke mobil. Tugas selanjutnya akan di laksanakan oleh Cleaning Agent atau Agen Pembersih yang sudah siap bertugas.

Agen Pembersih, tentu saja bertugas untuk membersihkan target yang sudah tak bernyawa. Mereka jugalah yang akan mengamankan barang bukti dan memastikan lokasi eksekusi benar - benar bersih dan tak meninggalkan jejak.

"Balik ke rumah, Yu?" Tanya Adit.

"Gue langsung ke Markas aja." Jawab Ryu. Ia justru lebih betah berada di Markas di bandingkan dengan di Basecamp.

"Gue juga mau ke Markas, Kak." Sahut Wili.

"Berarti, cuma gue nih, yang ke Basecamp." Ujar Adit.

"Lagian, kayak gak punya rumah aja, lo, tidur di Basecamp." Kata Ryu.

"Ngaca, woy! Lo ngapain kerjaannya tidur di Markas?" Sahut Adit.

"Padahal rumah Kak Ryu gede banget, bisa buat tidur pasukan satu kompi." Kata Wili.

"Satu batalion juga muat, Wil, kalo itu." Sahut Adit yang membuat mereka tertawa.

"Bukan rumah gue, rumah bokap - nyokap. Gue cuma numpang aja di sana." Kata Ryu.

"Low profile sekali anda, Tuan Muda. Pencitraan kah?" Ledek Adit yang hanya di tanggapi senyuman oleh Ryuga.

Setelah mengantar Adit kembali ke Basecamp, Ryu dan Wili segera menuju ke Markas. Tentusaja mereka akan tidur di ruangan mereka masing - masing.

Ruangan berukuran tiga kali enam meter itu memang sangat nyaman. Ruangan pribadi itu, terbagi menjadi dua area, yaitu kamar pribadi dengan fasilitas lengkap termasuk kamar mandi dan ruang kerja yang berada di bagian depan.

Begitu sampai di ruangannya, Ryu langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya, setelah itu barulah ia naik ke ranjang berukuran seratus dua puluh kali dua ratus senti meter yang tentu hanya cukup untuk satu orang.

Tak langsung memejamkan mata, ia membuka beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Dahinya mengernyit saat melihat sebuah pesan dari nomor asing yang masuk ke ponselnya.

"Siapa yang kirim pesan ke nomor rahasia?" Ryuga bertanya - tanya.

Pasalnya, nomor sim card rahasia itu, hanya di ketahui oleh anggota Agen Rahasia. Semua pesan atau panggilan yang berhubungan dengan Agen Rahasia, akan masuk ke sim tersebut.

Ryuga kembali membaca pesan yang masuk itu. Pada pesan itu, ia diminta bertemu dengan pengirim pesan hari ini, pukul sepuluh di salah satu Cafe.

Untuk mencari aman dari orang asing, Ryuga pun meminta untuk bertemu di sebuah Cafe yang berada di dekat Basecamp. Cafe itu adalah milik mantan anggota Agen Rahasia yang tentu akan lebih aman jika Ryu bertemu di sana.

Tak berselang lama, pesan balasan pun masuk. Pengirim pesan menyetujui permintaan Ryuga dan akan berada di Cafe itu tepat pukul sepuluh.

Ryuga meletakkan ponselnya lalu menghela nafas panjang. Ia tentu merasa penasaran pada si pengirim pesan.

Bagaimana mungkin nomor pribadi rahasia itu bisa di lacak? Tak kehabisan akal, Ryuga pun mengirimkan nomor si pengirim pesan pada bagian investigasi.

Tak berselang lama, ponselnya pun berdering. Ryu segera menjawab panggilan telfon dari bagian investigasi itu.

"Gak terlacak, Yu. Nomor pengirim pesan itu gak bisa terlacak." Ujar salah satu anggota investigasi.

"Kok bisa?" Tanya Ryu yang kini makin penasaran.

"Kemungkinan, itu sim card yang sama dengan yang kita pakai." Jawabnya.

"Siapa aja yang di beri akses menghubungi Agen Rahasia?" Tanya Ryu.

"Semua Petinggi kemiliteran."

"Apa ada yang lagi, Kak?" Tanya Ryu.

"Satu lagi adalah BIN (Badan Intelejen Negara). Tapi mereka belum pernah menghubungi secara langsung. Pasti akan lewat Jendral Militer terlebih dulu."

"Baiklah. Terima kasih, bantuannya, Kak." Ucap Ryu sebelum menghentikan panggilannya.

Ryu pun kembali meletakkan ponselnya. Ia berbaring sembari menatap langit - langit kamarnya. Kantuknya pun tiba - tiba hilang tertelan oleh rasa penasaran.

Namun, ia tak boleh gegabah. Jika yang menghubunginya adalah orang dalam lingkup yang sama, maka semua akan baik - baik saja. Tetapi jika bukan? Maka ia harus membersihkannya saat itu juga demi keamanan Agen Rahasia.

"Ah! Sial!" Gerutu Ryu.

Ia kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke tempat latihan tembak.

Seperti biasa, ia akan menenangkan diri dengan cara latihan menembak, persis seperti apa yang di lakukan Fey. Ia akan selalu pergi ke tempat latihan tembak jika merasa tak tenang.

Darah Fey benar - benar banyak mengalir pada putra pertamanya. Meski wajah Ryu mewarisi ketampanan Gian, namun sifat dan kepribadiannya banyak di wariskan dari Fey.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!