Indonesia
NovelToon NovelToon

Hakim Dari Kegelapan

Kobaran yang Merenggut Segalanya

Menteng, Jakarta Pusat

11 September 2000

Langit siang itu seharusnya biru cerah, namun kini tertutup selimut asap hitam pekat yang membumbung tinggi hingga menembus awan. Di Jalan R.M. Panji Soeroso, keheningan lingkungan yang biasanya tenang mendadak pecah oleh teriakan panik dan deru napas yang memburu. Lidah api yang ganas melahap dinding, jendela, dan atap sebuah rumah besar bergaya klasik yang sejak lama menjadi kebanggaan warga sekitar. Bau asap menyengat bercampur dengan aroma kayu terbakar dan sesuatu yang lain—bau yang menyakitkan hati dan sulit dilupakan—terbawa angin ke seluruh penjuru jalan.

"Air! Kita butuh lebih banyak air, cepat!" teriak seorang warga sambil memegangi ujung selang yang airnya mulai menyusut.

"Ambil selang dari rumah Pak RT! Yang besar!" sahut orang lain sambil berlari tergopoh-gopoh.

"Pak Arya! Bu Citra! Kalian di dalam sana?!" panggil tetangga sebelah rumah dengan suara parau, matanya menatap tak percaya pada kobaran api yang semakin meluas.

Beberapa pria berbadan tegap nekat melangkah maju, bahu mereka bergotong-royong mendobrak pintu depan yang sudah hangus di bagian pinggir. Namun hawa panas yang menyengat seketika menghantam wajah mereka, memaksa mereka mundur terhuyung-huyung sambil menutup hidung dan mulut. Api telah menguasai hampir seluruh bangunan, menjadikannya sebuah neraka yang menyala di tengah pemukiman elit.

Rumah itu milik pasangan yang sangat dihormati dan dikenal hampir semua orang di lingkungan tersebut: Ir. Arya Arsyad Sikumbang dan istrinya, dr. Citra Denta Kanaya, dokter yang murah hati dan tak pernah menolak membantu siapa pun yang datang meminta pertolongan. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang paling ramah, paling dermawan, dan paling bahagia di antara tetangga lainnya. Tak seorang pun menyangka bahwa rumah yang penuh kasih sayang itu kini berubah menjadi lautan api yang mencekam.

Tak lama kemudian, deru mesin mobil Toyota Land Cruiser 100 terdengar mendekat, lalu berhenti mendadak di tepi jalan tepat di belakang kerumunan warga. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar turun dengan wajah yang tegang luar biasa. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya meski ia belum bergerak jauh dari mobil. Itu adalah AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang.

Belum sempat ia menutup pintu mobil belakang, dua anak laki-laki kembar berusia lima tahun meloncat keluar dengan pakaian tidur yang belum sempat diganti. Mata mereka membelalak tak percaya melihat rumah yang kini tak lagi berbentuk seperti tempat mereka pulang setiap hari.

"Ayah! Bunda!" seru yang satu, Bhumi, suaranya melengking penuh harap sekaligus takut.

"Adik Nadya!" sahut Bayu, kakak beradik yang lain, matanya mencari-cari di antara kepulan asap seolah bisa melihat sosok adik kecil mereka di sana.

Keduanya berlari sekuat tenaga menuju gerbang rumah yang sudah terbakar, tak peduli pada panas yang semakin terasa di kulit mereka.

"Bhumi! Bayu! Jangan ke sana!"

Andi segera melangkah lebar, menangkap kedua bocah itu di tengah lari mereka, lalu memeluk keduanya erat-erat seolah takut kehilangan mereka juga. Tubuh mungil kedua keponakannya itu gemetar hebat di dalam pelukannya.

"Jangan... jangan ke sana, Nak. Berbahaya sekali."

"Tapi Ayah sama Bunda masih ada di dalam! Harus kita selamatkan!" teriak Bhumi sambil meronta kuat, air mata mulai mengalir deras di pipinya.

"Adik Nadya juga belum keluar! Dia takut gelap, Om! Dia takut api!" Bayu menangis semakin keras, tangannya mencengkeram seragam pamannya.

Andi memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya terasa sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menindih paru-parunya. Ia tahu betul peluang untuk menyelamatkan mereka sudah hilang sejak api pertama kali muncul.

"Maafkan Om... maafkan Om, Nak. Om hanya sempat menyelamatkan kalian berdua dari tempat penitipan anak tadi. Sisanya... sisanya terlambat."

Tangis kedua bocah itu akhirnya pecah sepenuhnya. Mereka berhenti meronta, hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil terus memanggil nama kedua orang tua dan adik perempuan mereka yang masih terperangkap di dalam bangunan yang semakin runtuh. Hati Andi hancur melihat kepolosan yang direnggut secara paksa dari jiwa kedua anak itu.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Andi merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor yang sudah sangat hafal di kepalanya.

"Tirta..."

"Ya, Yah? Ada apa?" suara di seberang sana terdengar bingung mendengar nada bicara ayahnya yang berantakan.

"Kamu lihat berita di televisi? Atau dengar kabar apa pun soal kebakaran di Menteng?"

"Iya... barusan ada di berita. Itu... itu rumah Om Arya, kan?"

"Iya. Itu rumah mereka."

Suara di seberang telepon mendadak hening total selama beberapa detik, seolah waktu berhenti berputar.

"Bawa motor ke sini sekarang. Ayah butuh bantuanmu untuk membawa Bhumi dan Bayu pergi dari sini."

"Lima menit lagi, Yah. Aku segera meluncur," jawab Tirta singkat dan tegas, lalu sambungan terputus.

 

Tak lama berselang, deru mesin sepeda motor yang kencang terdengar mendekat, lalu berhenti mendadak di pinggir jalan. Seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun dengan wajah yang masih memancarkan ketegasan namun penuh kecemasan melepas helmnya, lalu berlari menerobos kerumunan warga menuju ayahnya. Itu adalah Tirta Aji Pamungkas .

"Ayah! Bagaimana keadaan di dalam?" tanyanya napas terengah-engah.

Andi tak menjawab, hanya menyerahkan kunci mobil yang sudah siap di tangannya.

"Bawa Adik kecil kembar kamu,Bhumi dan Bayu pulang ke rumah . Jangan biarkan mereka melihat apa yang terjadi di sini lebih lama lagi."

Tirta mengangguk paham meski hatinya ikut bergetar. Ia berbalik menghampiri kedua keponakan sepupunya yang masih duduk di tepi trotoar dengan mata bengkak.

Ia membuka pintu mobil, lalu berjongkok di depan mereka dan tersenyum lembut—senyum yang berusaha menyembunyikan kesedihan yang sama besarnya.

"Hei... kok dua jagoan Abang ini menangis? Katanya anak laki-laki harus kuat," ucapnya pelan sambil mengusap kepala mereka.

"Rumah kita terbakar, Bang... semuanya hilang," jawab Bhumi lirih.

"Ayah sama Bunda... mereka belum keluar," tambah Bayu dengan suara yang terputus-putus.

Tirta menelan ludah dengan susah payah agar isak tangisnya sendiri tak keluar. Ia merangkul bahu mereka berdua.

"Ayo ikut Abang dulu, ya. Nanti kita bicara banyak-banyak di rumah."

"Nggak mau! Aku nunggu Ayah sama Bunda!" tolak Bayu.

"Adik Nadya masih di sana! Aku nunggu dia!" seru Bhumi.

Tirta menutup matanya sejenak, menarik napas panjang untuk mengumpulkan kekuatan, lalu kembali tersenyum tipis.

"Kalau kalian tetap di sini, Ayah Abang malah makin susah bekerja menolong orang lain. Nanti Ayah Abang jadi sedih kalau melihat kalian sakit karena asap."

Perlahan namun pasti, ia menggendong Bayu lebih dulu dan memasukkannya ke kursi belakang, lalu kembali menggendong Bhumi. Kedua bocah itu akhirnya menurut, meski tangis mereka tak kunjung berhenti dan mata mereka terus menatap ke arah rumah yang kini tinggal puing-puing menyala.

 

Beberapa menit kemudian, sirine mobil polisi dan ambulans terdengar beriringan. Kendaraan pemadam kebakaran pun tiba dengan pasukan lengkap, segera menyusun strategi untuk memadamkan sisa api yang masih menyala di sela-sela reruntuhan.

Seorang anggota polisi berpangkat Brigadir Polisi Dua menghampiri Andi dan memberi hormat dengan sikap tegap namun wajahnya penuh kesungguhan.

"Siap, Komandan. Pasukan sudah lengkap di lokasi."

AKBP Andi membalas hormat itu dengan gerakan yang mantap, meski hatinya sedang berkeping-keping.

"Segera amankan seluruh area lokasi. Pasang garis polisi di sekeliling rumah. Jangan ada seorang pun—termasuk warga—yang masuk sebelum api benar-benar padam dan dinyatakan aman oleh petugas pemadam."

"Siap, Komandan!"

"Setelah itu, segera bentuk tim olah tempat kejadian perkara. Periksa setiap jengkal tanah dan puing dengan teliti. Jangan sampai ada jejak yang terlewat."

"Siap dilaksanakan, Komandan!"

Andi mengangguk pelan, lalu kembali memandang rumah yang kini tinggal rangka yang hangus. Di balik kobaran api itu terdapat adik kandungnya sendiri, Arya—sahabat seperjuangannya, orang yang selalu ia andalkan—beserta istri dan anak bungsunya. Namun sebagai seorang pemimpin dan penegak hukum, ia terpaksa menyembunyikan duka pribadinya di balik sikap profesional yang teguh.

 

Menjelang malam, suasana di lingkungan rumah sudah mulai sepi. Warga perlahan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang masih gelisah, sementara petugas kebersihan dan tim penyelamat masih bekerja di lokasi. Sementara itu, di kamar jenazah rumah sakit pusat kota, suasana jauh lebih hening, dingin, dan menyayat hati.

Lampu ruangan yang berwarna putih terang memantulkan kesunyian yang menyesakkan. Seorang dokter forensik melepaskan sarung tangan karetnya yang sudah lembap, lalu meletakkannya di atas meja dengan gerakan lambat. Di hadapannya berdiri Bripda Arif, tangan kanannya memegang buku catatan kecil sementara tangan kirinya mencatat setiap penjelasan dengan teliti.

"Hasil identifikasi DNA dan pemeriksaan awal sudah keluar," ujar dokter itu dengan nada datar namun berat.

"Bagaimana hasilnya, Dok? Apakah benar korban bertiga?" tanya Arif hati-hati.

Dokter itu mengangguk pelan, lalu menunjuk lembaran kertas di meja.

"Korban pertama dipastikan adalah Ir. Arya Arsyad Sikumbang. Kesesuaian data keluarga seratus persen."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Korban kedua adalah dr. Citra Arka Denta Kanaya. Identitas terkonfirmasi melalui ciri khas medis dan sampel biologis."

Ia berhenti sejenak, seolah memberanikan diri untuk menyebutkan nama yang paling menyakitkan.

"Korban ketiga adalah Nadya Arka Denta Prameswari, anak bungsu berusia Satu Setengah tahun."

Bripda Arif menunduk dalam, matanya terasa panas.

"Jadi... ketiganya meninggal di tempat, Dok?"

Dokter kembali mengangguk, namun ekspresinya kini berubah serius.

"Bukan hanya itu, Bripda. Kami menemukan hal yang sangat mencurigakan pada tubuh korban sebelum api menyentuhnya."

Ia membuka beberapa lembar laporan pemeriksaan awal.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di bagian belakang kepala. Peluru masuk dari jarak dekat, dan keduanya sudah meninggal sebelum api mulai menjilat tubuh mereka."

Mata Arif langsung terbelalak kaget.

"Berarti... ini bukan kecelakaan murni? Bukan kebakaran yang tak sengaja terjadi?"

"Benar sekali. Ini bukan kecelakaan biasa," tegas dokter itu.

Ruangan mendadak terasa semakin dingin, seolah suhu udara turun drastis. Dokter itu kembali melanjutkan dengan suara yang makin pelan namun jelas.

"Pada korban perempuan dewasa, Bu Citra, juga ditemukan indikasi kuat adanya kekerasan seksual yang dilakukan beberapa jam sebelum kematiannya. Ada luka memar dan robekan yang tidak berhubungan dengan kebakaran."

Arif mengepalkan tangannya erat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

"Ya Tuhan... sungguh kejam," desisnya pelan.

"Selain itu," tambah dokter,

"kondisi jasad menunjukkan adanya tanda-tanda mutilasi atau pengrusakan tubuh yang dilakukan setelah korban meninggal dunia, kemungkinan besar untuk menyamarkan jejak kejahatan."

Kedua orang itu terdiam selama beberapa detik, hanya suara detak jam dinding yang terdengar memecah keheningan.

"Kesimpulan sementara dari tim forensik," ujar dokter itu akhirnya, "ini adalah kasus pembunuhan berencana yang kemudian disamarkan sebagai kebakaran rumah untuk menghapus bukti."

Bripda Arif mengangguk pelan, menyimpan buku catatannya dengan hati-hati seolah itu beban yang sangat berat.

"Baik, Dok. Saya akan segera melaporkan hasil lengkap ini kepada Komandan Andi."

 

Di luar rumah sakit, malam telah larut sepenuhnya. Langit Jakarta tampak kelabu tanpa bintang, seolah ikut berduka atas kejadian yang mengerikan itu. Bripda Arif segera menekan nomor ponsel atasannya.

"Komandan..."

"Iya, Rif. Sudah ada hasil?" suara Andi terdengar berat dan lelah di seberang sana.

"Laporan awal pemeriksaan jenazah sudah selesai, Pak."

"Bagaimana... bagaimana hasilnya?"

Arif menarik napas panjang, berusaha menahan getar di suaranya.

"Korban dipastikan bertiga, Pak. Pak Arya, Bu Citra, dan Nadya. Tidak ada yang selamat."

Terdengar hening sejenak.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di belakang kepala, Pak. Mereka sudah meninggal sebelum kebakaran terjadi."

Hening kembali menyelimuti sambungan telepon.

"Dan Bu Citra..." Arif menggigit bibir bawahnya, "ditemukan bukti kekerasan seksual sebelum dibunuh, serta tanda-tanda pengrusakan tubuh setelahnya."

Terdengar suara benda berat jatuh pelan di seberang sana—ponsel di tangan Andi hampir terlepas dan jatuh ke lantai.

Rahang Andi mengeras, matanya yang semula dipenuhi air mata dan kesedihan perlahan berubah tajam, dipenuhi amarah yang membara.

"Siapa pun pelakunya..." ucapnya pelan namun mengancam, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, "...aku akan menemukan mereka sampai ke ujung dunia. Aku pastikan mereka tidak akan lolos dari hukum dan pembalasan yang setimpal."

Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari hiruk-pikuk sirine dan tangis duka, di sebuah ruangan remang-remang yang tertutup rapat, seseorang perlahan menekan tombol mati pada televisi yang baru saja menayangkan berita kebakaran di Menteng. Senyum tipis namun dingin dan penuh kemunafikan muncul di sudut bibirnya.

"Api memang pandai menghapus jejak, membakar bukti hingga tak berbentuk lagi," gumamnya pelan pada bayangannya sendiri di dinding.

"Tapi sayang sekali... tidak semuanya bisa dihapus begitu saja."

 

Silek Minangkabau ,Silek Harimau Dalam Novel Hakim Dari Kegelapan

Sejarah Silek Tuo

Jauh sebelum kampung-kampung di kaki Gunung Singgalang berkembang menjadi pusat keramaian, para leluhur telah hidup berdampingan dengan alam yang keras. Dari pengalaman menghadapi binatang buas, perampok, dan peperangan antarkelompok, lahirlah sebuah ilmu beladiri tua yang kemudian dikenal sebagai Silek Tuo.

Ilmu ini tidak diciptakan untuk mencari kemasyhuran ataupun kekuasaan. Silek Tuo lahir sebagai jalan untuk melindungi keluarga, kaum, dan kampung halaman. Setiap gerakan disusun berdasarkan pengamatan terhadap alam, keseimbangan tubuh, serta pemahaman mendalam mengenai titik-titik vital manusia. Karena daya rusaknya sangat besar, para leluhur menetapkan bahwa ilmu ini hanya boleh diwariskan kepada mereka yang memiliki hati, akhlak, dan tanggung jawab.

Seiring berjalannya waktu, empat marga besar—Sikumbang, Chaniago, Payobadar, dan Piliang—dipercaya menjadi penjaga utama warisan tersebut. Masing-masing marga mengembangkan cabang ilmu sesuai falsafah leluhurnya, namun semuanya tetap bersumber dari akar yang sama, yaitu Silek Tuo.

Para pewaris wajib mengucapkan sumpah untuk tidak menggunakan ilmu itu demi kesombongan, balas dendam, atau keuntungan pribadi. Siapa pun yang melanggar sumpah dianggap telah mengkhianati amanat leluhur dan kehilangan kehormatan di mata seluruh penjaga Silek Tuo.

Hingga kini, keberadaan Silek Tuo lebih sering menjadi bisikan daripada cerita yang diketahui orang banyak. Sebagian menganggapnya hanya legenda, sebagian lagi percaya bahwa para pewarisnya masih hidup di tengah masyarakat sebagai orang-orang biasa, menunggu saat ketika warisan leluhur itu kembali dibutuhkan untuk melindungi mereka yang tidak mampu membela diri.

(Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka Kesamaan Tokoh Dalam Cerita Ini Hanya Rekaan Penulis Saja.)

Bhumi Dan Bayu

Jam masih menunjukkan pukul 19.30. AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang duduk di teras halaman rumahnya, tak lama setelah selesai menjalankan ibadah sholat Isya. Ia mengenakan kopiah, baju koko berwarna gelap, dan sarung tenun khas Minangkabau yang melilit rapi di pinggang. Di tangannya, secangkir kopi panas mengepulkan uap tipis, namun ia tak menyentuhnya sedikit pun. Ia hanya duduk diam di bangku kayu di depan rumah, pandangannya menerawang ke arah pekarangan yang mulai diselimuti senja.

Tak berselang lama, ponsel di saku bajunya berdering nyaring. Ia mengeluarkan alat komunikasi itu, menatap layarnya sejenak sebelum mengangkatnya.

"Komandan..."

"Iya, Rif. Sudah ada hasil?" suara Andi terdengar berat dan lelah di seberang sana.

"Laporan awal pemeriksaan jenazah sudah selesai, Pak."

"Bagaimana... bagaimana hasilnya?"

Arif menarik napas panjang, berusaha menahan getar di suaranya.

"Korban dipastikan bertiga, Pak. Pak Arya, Bu Citra, dan Nadya. Tidak ada yang selamat."

Terdengar hening sejenak.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di belakang kepala, Pak. Mereka sudah meninggal sebelum kebakaran terjadi."

Hening kembali menyelimuti sambungan telepon.

"Dan Bu Citra..." Arif menggigit bibir bawahnya, "ditemukan bukti kekerasan seksual sebelum dibunuh, serta tanda-tanda pengrusakan tubuh setelahnya."

Terdengar suara benda berat jatuh pelan di seberang sana—ponsel di tangan Andi hampir terlepas dan jatuh ke lantai.

Rahang Andi mengeras, matanya yang semula dipenuhi air mata dan kesedihan perlahan berubah tajam, dipenuhi amarah yang membara.

"Siapa pun pelakunya..." ucapnya pelan namun mengancam, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih,

"Aku akan menemukan mereka sampai ke ujung dunia. Aku pastikan mereka tidak akan lolos dari hukum dan pembalasan yang setimpal."

Lalu AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang Menutup telepon dan berjalan menuju rumah.Lalu Dia meminta Tirta putranya segera menggendong kedua Anak balita berusia sekitar Lima tahun agak jauh.Agar Dia bisa bilang ke Istrinya...tak berselang lama Sang istri pun menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Sang AKBP Memeluk istrinya sambil mengelus rambut dan punggungnya seolah menenangkannya.

Tak berselang lama Suara dering telepon genggam AKBP Andi berdengung lagi.

"Selamat malam, Andi?"Terdengar suara diujung sana.

"Ya-Roy.Ini Kamu."

"Ya Andi-Ini Aku,Aku mau pastikan besok ada pertemuan keluarga di Auditorium Gedung Rumah Sakit Denta Corp.Dan hal yang menyangkut tentang kejadian tadi siang,Andi."

"Aku tahu,Roy...Kita Sama-sama Berbelasungkawa."

"Ya...Aku paham Sobat,Kamu kehilangan Adik bungsu,Aku juga Sama..."

"Jadi masalah apa,Roy?"

"Adik keduamu mendapat dari perintah Ayah kamu, Sobat. Dia menginginkan agar kedua keponakan kembar kita harus diasuh di Tanah Minangkabau Asal Kamu."

"Aku nggak tahu, keputusan ini bisa melukai hati Istri dan putraku,Roy."

"Ya ,aku paham Sobat.Aku tahu Tirta juga keponakanku Dia ingin punya Adik ,Dan Istrimu menginginkan Anak Adopsi,Kan?"

"Ya...Tapi Kita sebagai Orang Minangkabau tidak berani menentang kebijakan Adat Nagari, Perintah Para Datuak Juga Amanah Apak dan Mandeh Aku.Bhumi dan Bayu memang masih kecil,tapi untuk dididik sesuai adat istiadat Nagari,Aku masih tidak tega...,Roy"

"Ya-Aku Paham,Andi.Tapi Ini sudah diwasiatkan oleh Adik Bungsumu.Surat Wasiat terakhir dari Adik Kandung Bungsumu, Sobat!"

"Ya-Aku tahu.Adikku Arlan Rasyad akan menjadi Orang tua asuhnya.."

"Ya-Sobat, Seminggu kedepannya Aku akan mengantarkan keponakan kembar kita sampai ke Minangkabau."

"Aku harus berunding dengan Putra dan Istriku dulu,Roy."

"Berat memang punya keponakan kembar berusia Lima Tahun,belum mengenal apa-apa."

"Ya-Makasih Sobat."

"Ya-Andi, Assalamualaikum, Selamat Malam."

"Waalaikumsalam,Roy"

AKBP Andi Menutup Telpon genggam nya,Dia kembali keruang tengah Keluarga.

 

 

Pagi Itu Udara sangat cerah AKBP Andi Bersiap Berangkat Ke Kantor.Tanpa Dia Sadar Ada Anak Kecil Cantik anak tetangga sebelah rumah yang Selalu ramah Sama AKBP Andi Dan Istrinya.

"Om Andi!" Sapa Anak Kecil Cantik itu.

"Nindya...Kamu mau main sama Kakak Bhumi juga Kakak Bayu?"

"Ehmm... Nggak, Aku kan Seorang Putri Kerajaan Om."Katanya Sambil memainkan ujung Roknya.

"Oh Iya Om lupa, Anindya Sosok Putri Kerajaan.Kalau begitu Nindya main sama Siapa?"Kata AKBP Andi Sambil Tersenyum Ramah Lalu mencium kening bocah cantik.sambil mengelus rambut Indah sang Bocah.

"Tunggu Om, Andi Mamaku bikin kue cookies enak banget,buat Tante Amelia,Abang Tirta, Kakak Bhumi juga Kakak Bayu."

"Iya Sayang?"

"Iya..."

Tak berapa lama ada Suara panggilan di sebelah.

"Anindya Sandra Setyarini...Sini! "Tiba-tiba Muncul sosok Ibu muda sambil Bawa stoples Kue .

"Maaf Pak Andi...Sama Bu Amel."Kata wanita Muda itu tersenyum Raih tanga Anindya.

"Iya Bu Guntur..."Sapa AKBP Andi Dan Istrinya hampir bersamaan.

"Ini ada sedikit kue buat Pak Andi Sekeluarga."

"Ohh Terimakasih Bu."Kata Istri Dari AKBP Andi.

"Maaf Sama Om Andi,Nindya -Om Andi Mau Berangkat Kerja Tuh Sayang."Kata Sang Wanita Kearah putri kecilnya.

"Iya,Mama."

Lalu Si Putri Kecilnya Segera mencium Telapak tangan AKBP Andi Dan Istrinya.

"Om Andi?"

"Ya Sayang?"

"Boleh nggak Aku bisikin rahasia Om?"

"Ya, Apa Sayang?"

Lalu AKBP Andi menyiapkan telinganya sambil membungkuk kearah gadis kecil cantik itu.

"Aku (Sayang sama Kakak Bhumi)."Suaranya berbisik di telinga AKBP Andi.

"Hah...Apa, Sayang?"

"(Aku sayang banget sama Kakak Bhumi)."

"Ya... Ha-ha-ha."AKBP Andi Menjawab Lalu Tertawa terbahak-bahak.

Sampai Istri Dan Ibunya Anindya Tersenyum Ketika Berbincang Melihat ulah AKBP Andi.

"Nindya,Om Andi Mau Berangkat Kerja Tuh, Sayang."kata Mamanya.

"Iya Mama..Om Jaga Rahasia Aku Ya?"

"Iya , Sayang...Om Berangkat Kerja Dulu ya."

AKBP Andi kembali mengusap Rambut Indah Anindya lalu masuk kedalam mobil sambil terus tertawa terbahak-bahak.Anindya melambaikan tangan lalu berlari kearah Mamanya yang bercengkrama dengan istri AKBP Andi.

______________________________________________

Siang itu di Kantor Kabag Reskrim Polda Metro jaya.AKBP Andi sedang duduk dibalik meja kerjanya sambil memeriksa file di komputer .Tak berapa lama terdengar ketukan Pintu .

"DOK-DOK!"

"Ya-Masuk!"

Seorang Lelaki yang berpakaian sama tapi berpangkat Bripda memberikan hormat militer.AKBP Andi segera berdiri dan membalas hormat militer kepadanya.Sang Lelaki yang ternyata Bripda Arif Sambil menenteng Tas Laptop.

"Ya-Kesini dan silahkan duduk Bripda Arif."Kata AKBP Andi kearah Sang bawahan.

"SIAP, KOMANDAN."

Bripda Arif memberikan penghormatan kedua kali dan menunggu dipersilakan duduk oleh Sang Atasan.

"Apa yang Kamu temukan di Laporan TKP kemarin,Rif?"

"Ini File-file yang Saya kumpulkan kemarin Komandan."

Sambil menyerahkan Flashdisk kearah Sang Atasan, Bripda Arif juga membawa laporan lain.

"Dan ini Saya dapatkan dari Saudara Ipar Komandan, Bapak Roy Arka Denta S.h, Katanya Dia mengatakan bahwa Mungkin di File-nya ada tertera Nama-nama Rival Bisnis Adik Kandung Komandan."

"Coba Kamu ambil Laptop di meja kerja Kamu,Rif.Aku tunggu Apa pendapat Kamu."Jawab AKBP Andi kearah Sang Bawahan.

"Siap Komandan,Saya Bawa."

Lalu Bripda Arif menyalakan laptop didepan Sang Atasan.Lalu memasukkan Flashdisk itu di Konektor laptop miliknya.Dan Dia memberikan penghormatan ketiga kali sebelum memutar Laporan yang Ada di Laptop miliknya.

AKBP Andi memeriksa file di laporan Forensik di Laptop milik Anak buahnya.Tanpa sengaja Dia menitikkan airmata,Tapi Dia berusaha tetap terlihat kuat di hadapan Anak buahnya.

"Mayat Adikku, Istrinya dan keponakan kesayangan Aku-"

"Iya , Komandan.Setelah kebakaran Rumah itu bisa diatasi hanya tersisa puing-puingnya yang berada didalam.Dan dari olah TKP kita hanya menemukan Tiga Kerangka Manusia dalam kondisi gosong dan Sulit dikenali,Maaf Komandan."

"Ya-Rif."Jawab AKBP Andi kearah Sang bawahan sambil menahan kesedihannya.Melihat File-file berisi bukti laporan Anak buahnya.

"Jadi Kerangka Manusia pertama yang Kami temukan ada didepan pintu masuk Rumah, Lalu Kerangka Manusia Kedua Berada diatas meja makan tapi tidak utuh.Kepala dan Bagian Tubuh lain, seperti Tulang Paha ,betis sampai kedua tangannya terpisah Kami temukan tidak jauh sedikit posisinya.Jadi agak berserakan,Dan Kerangka Ketiga, Kerangka Manusia yang masih mungkin berusia Balita Kami temukan di Kamar tidur bayinya, Komandan."

"Ya-Rif, Teruskan?!"

"Kerangka Manusia pertama berjenis kelamin laki-laki,Dan dipastikan sebagai Adik Kandung Bungsu, Komandan.Kerangka Kedua dan ketiga dipastikan berjenis kelamin perempuan,dan dipastikan juga bahwa Mungkin Sosok Adi ipar Komandan Dan Keponakan kecil Komandan.Menurut Dr Ramlan dari hasil pencocokan hasil DNA."

AKBP Andi Menghembuskan nafasnya panjang.

"Lalu,Rif.File-file kedua Kamu ini?"

"Ini hasil Forensik secara detail tentang Ketiga Korban. Yang Saya anggap mungkin terjadi Kasus bukan Kecelakaan biasa,Ndan.Menurut laporan Forensik Dr.Muhammad Ramlan.Di Tengkorak Bagian belakang antara Korban pertama dan Korban Ketiga tertembus Proyektil Peluru 9mm Senjata api Berjenis Pistol Sig Sauer P226.Sedangkan Korban Kedua dinyatakan mengalami kekerasan seksual sebelum Dibunuh, Karena di Rahim korban kedua masih tersisa Cairan mirip sperma, Komandan."

Sekali lagi AKBP Andi Menghembuskan nafasnya panjang-panjang.

"Lalu adakah jejak lain misalnya sidik jari Tersangka atau Apa?"

"Masalahnya hanya bukti cairan mirip sperma Saja Komandan yang bisa mengarahkan Kita sama Pelakunya.Semua Sidik Jari Atau apapun tidak bisa Kita lakukan penyisiran secara detail.Apakah ada indikasi adanya Perampokan atau Pembunuhan Berencana?,Tapi Kalau dilihat dari Posisi Letak Mayat pertama Kemungkinan Besar adalah Pembunuhan Berencana,Ndan."

"Itu Masalahnya, Terus laporan apa lagi yang Kamu mau laporkan?"

"Begini Komandan Ini ada berkas titipan dari Notaris dan Pengacara Bapak Roy Arka Denta.Menurut Pak Roy ,Dia menyimpan file tentang Siapa saja yang jadi Rival Bisnis Adik Kandung Komandan."

"Bisa Aku lihat berkas titipan dari Notaris dan Pengacara Roy Arka Denta,Rif"

"Permisi Komandan Ini."Jawab Bripda Arif Menyerahnya Flashdisk.

AKBP Andi mengambil Flashdisk ditangan Bawahannya,Lalu Menancapkan ke konektor.Sambil memeriksa File itu.

"Rif, Sepertinya tidak mungkin kalau sembilan Pengusaha Terkenal ini Pelakunya."

"Ya , Komandan. Sebab sembilan Pengusaha Terkenal ini dekat dengan Pihak Kepolisian juga."

"Tapi Coba Kamu Investigasi Mereka, Berikan laporan apapun gerak-gerik Mereka semua ke Aku."

"Siap Komandan."

Bripda Arif Segera berdiri lalu memberikan penghormatan kepada Sang Atasan.Sang Atasan pun membalas hormat militer Bawahannya, Lalu mempersilakan Bripda Arif meninggalkan ruangan kerja Atasannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!