Indonesia
NovelToon NovelToon

Hentikan! Jangan Lagi, Sayang!

Episode 1.

"Ha ha ha haa.... !!!"

Suara tawa yang terdengar begitu senang, dari dua pria dan dua wanita memenuhi sebuah bangunan kumuh dengan kencang.

Mereka tertawa sembari memandang pada wanita, yang tampak tengah meregang kesakitan dilantai bangunan kumuh itu.

Wanita yang tengah kesakitan, menangis dengan keadaan tubuhnya yang tampak bersimbah darah, memandang mereka berempat tidak percaya.

"Aku tidak menyangka, kalian menipuku! aku sangat mempercayai kalian! kenapa kalian begitu tega padaku?!!" jerit Carla Magnolia Haines, sembari terus menangis menahan rasa sakit pada perutnya, yang terus mengeluarkan darah.

Baru saja Lilian, kakak tirinya menusuknya dengan sebuah belati, sembari tersenyum menyeringai memandangnya.

Setelah ia selesai menandatangani, dan menyerahkan berkas pengalihan warisan kepada salah satu pria, yang sedang menertawakannya saat ini.

Ia menyukai pria itu, dan melakukan berbagai cara melarikan diri dari suaminya sendiri, demi dapat bersama pria tersebut.

"Edgar! kau laki-laki pembohong! aku benar-benar bodoh terlalu percaya padamu!!" tangis Carla semakin deras memandang pria itu, Edgar Hugo, lelaki yang ia pikir tulus mencintainya.

Edgar merangkul pinggang Lilian dengan mesra, sembari memperlihatkan senyuman menyeringainya memandang Carla yang semakin kepayahan.

"Salah sendiri kau bodoh! mudah ditipu! aku sama sekali tidak pernah mencintaimu!!" jawab Edgar, lalu mencium pipi Lilian.

Mereka kembali tertawa dengan kencang, karena perasaan bahagia telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.

"Ini semua karena Mamamu yang kuno itu! salahkan dia! ku pikir dengan membunuhnya aku bisa mendapatkan harta warisannya! ternyata dia sudah lama mengalihkan semua hartanya atas namamu!!" dengan nada penuh rasa benci Lukman Haines, mengungkapkan tentang kematian Ibu kandung Carla.

Mata Carla terbelalak mendengar apa yang dikatakan Ayah kandungnya itu, ternyata Ibunya mati bukan karena kecelakaan.

"Lukman Haines! keterlaluan kau! ternyata kau membunuh Mamaku! aku akan membalasmu!!" teriak Carla sebisa mungkin, karena tubuhnya yang sudah semakin lemas.

Plak!!

Ibu tiri Carla, Melda Haines, menampar wajah Carla dengan kencang, hingga terhempas menghantam lantai bangunan.

"Sudah mau mati, masih banyak omong kosong kamu!!!" bentak Melda dengan raut wajah benci.

"Huek!!" Carla muntah darah begitu wajahnya terhempas menghantam lantai bangunan.

"Huh! lihatlah dirimu yang sudah tidak berdaya itu! cih! bagaimana caranya kamu ingin balas dendam, Hah?!!" cibir Lilian, lalu kembali tertawa senang.

Air mata Carla hanya bisa mengalir tiada henti meratapi kebodohannya.

Ia sangat menyesal telah tertipu dengan sikap manis dan perhatian Edgar padanya.

"Sekarang kamu sudah tidak dibutuhkan lagi! jadi, sudah seharusnya kamu disingkirkan!!" Lukman melambaikan dokumen, yang telah Carla tandatangani tepat ke depan wajah Carla.

Carla mengedipkan matanya, ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali, hanya air matanya yang terus mengalir tiada henti.

"Orang bodoh sepertimu sangat mudah sekali ditipu! ha ha ha haa... !!"

Edgar mengambil jeriken minyak, lalu menumpahkannya ke sekeliling Carla, dan bagian lain yang mudah terbakar dalam bangunan tersebut.

"Ayo kita pergi!!" kata Edgar setelah selesai menumpahkan semua minyak, lalu mengambil pemantik api.

Edgar melemparkan pemantik api yang menyala ke minyak yang ada di lantai, dan api pun seketika menyala dengan besar.

BRAK!!!

Tiba-tiba pintu bangunan di hantam seseorang dari luar, membuat mereka sangat terkejut.

Mata Carla yang hampir tertutup, melihat suami kejamnya menerjang masuk ke dalam bangunan itu, bersama dengan beberapa anak buah suaminya.

"Mau apa dia? apakah dia masih tidak ingin melepaskan ku, dan akan membawa tubuh lemah ku ini untuk dikurungnya, seperti biasanya?" gumam Carla melihat wajah menggelap suaminya itu.

Sudut bibir Carla dengan lemah menyunggingkan senyuman pasrah, mengingat suami yang sangat ia takuti itu, tidak akan pernah membiarkannya hidup tenang.

Bersambung......

Episode 2.

Carla melihat keempat orang yang menganiayanya tampak ketakutan melihat suami kejamnya, Alexander Alford.

"Apa yang telah kalian lakukan?!!!" teriaknya dengan suara yang begitu lantang, sampai api terasa bertiup karena suara yang keluar dari mulutnya.

"Aaaa... !!!" Lilian dan Melda menjerit ketakutan, dan seketika mereka berlindung ke balik punggung Edgar dan Lukman.

Tubuh mereka gemetar ketakutan melihat raut wajah menggelap Alexander, yang sangat mereka kenal Mafia paling kejam di ibukota.

Mata Carla yang nyaris tertutup melihat Alexander memandang ke arahnya, dan suara lantang Alexander kembali ia dengar memberi perintah pada anak buahnya.

"Bunuh mereka!!!"

Selesai ia berteriak dengan lantang, Alexander berlari ke arahnya dengan raut wajah yang berubah menjadi panik.

Dor! dor! dor!!!

Carla mendengar suara tembakan, dan tubuh keempat orang yang menganiayanya jatuh terjerembab ke lantai tidak bergerak.

Air mata Carla mengalir semakin deras, ia tidak menyangka, suami kejam yang sangat ia takuti itu membalaskan dendamnya.

"Carla! Carla! maafkan aku terlambat datang, sayang!!!"

Alexander merengkuh tubuh lemah Carla, yang sudah semakin tidak dapat ia gerakkan sama sekali.

"Alexander" suara lemah Carla terdengar sangat lemah.

Carla tidak percaya menyadari kenyataan, yang saat ini ia rasakan.

Suami yang sangat ia takuti, dan ia pikir sangat membencinya, karena selalu mengendalikan kebebasannya, menangis dengan begitu sedihnya memeluknya.

"Kenapa? kenapa kamu tidak ingin bersamaku? apa kurangnya diriku padamu, sayang!!" Alexander semakin menangis melihat keadaan Carla yang sangat memprihatinkan.

Air mata Carla semakin deras mendengar apa yang dikatakan Alexander.

"Maaf, aku.. aku.. "

Perlahan Alexander menundukkan wajahnya, dan mencium lembut bibir Carla, "Aku selalu menunggumu untuk menerimaku, seharusnya kamu katakan apa kekuranganku, agar aku tahu merubahnya, sayang!"

Carla baru menyadari, kalau suami kejam yang ia pikir begitu membencinya itu, ternyata sangat mencintainya.

"Maafkan aku, aku terlalu bodoh mau mendengarkan mereka" Carla mengeluarkan suaranya dengan susah payah, dan nyaris tidak terdengar.

Tangis Alexander semakin kencang, mendengar suara lemah Carla yang meminta maaf.

"Seandainya.. kalau waktu bisa diulang, aku.. aku pasti mendengarkanmu, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi"

"Aku akan membawamu, kamu pasti akan sembuh, dan hidup sehat bersamaku!"

Alexander meraih tubuh lemah Carla, untuk ia bawa ke dalam gendongannya, tapi Carla menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku sudah tidak bisa bertahan lagi, tinggalkan aku! pergilah cepat! api sudah semakin besar" Carla mencoba mendorong Alexander menjauh darinya.

"Tidak! aku tidak akan meninggalkanmu, apa artinya hidupku tanpa ada kamu disampingku?!" air mata Alexander semakin deras, karena Carla menyuruhnya pergi.

Dengan susah Carla mencoba mengangkat tangannya, yang sangat sulit sekali ia angkat.

Tangannya akhirnya dapat menyentuh pipi Alexander.

Tangan Alexander memegang tangan Carla yang menyentuh pipinya, "Aku tidak akan pergi meninggalkan mu, aku akan membawamu!"

Alexander mengangkat tubuh lemah Carla, lalu bangkit berdiri membawa Carla dalam gendongannya, dan bersiap melewati api yang sudah semakin besar membakar bangunan kumuh itu.

Carla yang semakin lemah tidak dapat mencegah Alexander, untuk membawanya keluar dari api yang sudah terasa panas di kulitnya.

Aku ingin kembali! bisik hati Carla penuh harap, saat merasakan tubuhnya sudah tidak dapat bertahan lagi.

Alexander yang tidak perduli dengan api yang menyala besar itu, dengan penuh keyakinan melangkah ke tengah api membawa Carla dalam gendongannya.

Tapi, baru saja ia melangkah beberapa langkah, tiba-tiba bangunan itu pun meledak.

Bum!!!

Bangunan dilahap api dengan cepat, dan membakar apa pun yang ada di dalam bangunan tersebut.

Bersambung......

Episode 3.

"Terima! terima! terima!!!"

Terdengar suara ramai memberi semangat pada Carla, membuatnya seketika seperti orang yang kebingungan melihat sekelilingnya.

"Apa yang terjadi? kenapa aku disini??" gumamnya kebingungan.

Baru saja ia merasakan perutnya begitu sakit ditusuk Lilian dengan sebuah pisau belati, dan Edgar membakarnya dengan menyiramkan minyak ke sekelilingnya.

"Apakah aku bermimpi? tidak mungkin! aku baru saja mati bersama dengan Alexander!!" gumamnya lagi melihat sekelilingnya.

Ia ingat suaminya yang ia pikir sangat membencinya, menangisi dirinya yang sekarat, dan akhirnya mereka berdua terjebak di dalam kobaran api yang menyala.

"Terima! terima! terima!!!"

Suara ribut memberi semangat padanya terus saja terdengar begitu riuh, dan Edgar tengah mengulurkan sebuah buket bunga mawar padanya.

Mata Carla berkedip.

Ini momen pertama Edgar menyatakan rasa suka padanya, dan ia ingat, bunga itu ia terima dengan perasaan yang begitu bahagia.

Carla pun tersadar, ternyata ia telah kembali lagi sebelum keluarga Ayahnya mulai mengendalikannya, setelah ia mulai menyukai Edgar.

"Carla, aku sudah lama menyukai kamu! maukah kamu menerima ku?"

Pertanyaan yang sama, yang pernah diucapkan Edgar padanya, sama seperti di kehidupannya yang lalu.

"Terima! terima! terima!!!"

Suara ribut orang-orang yang melihat Edgar menyatakan suka padanya, tiada henti memberi semangat padanya, agar ia menerima cinta Edgar.

Perlahan sudut bibir Carla menyunggingkan senyuman dingin, ia sekarang bukan lagi Carla yang bodoh dan buta.

Tangannya menerima buket bunga yang disodorkan Edgar, dan raut wajah Edgar seketika terlihat begitu senang melihat Carla menerima buket bunga mawarnya.

Prok! prok! prok!!!

Tepuk tangan yang begitu riuh pun terdengar dari orang-orang, begitu melihat ia menerima buket bunga Edgar.

"Siapa memangnya kamu harus kuterima cintamu, dasar laki-laki jelek!!"

Tangan Carla dengan kuat, tiba-tiba mengayunkan buket bunga itu menghantam tubuh Edgar.

Buk!!

Edgar sontak terkejut bukan main, "Carla! apa yang kamu lakukan?!!" matanya membulat melihat Carla yang tiba-tiba berubah.

Buk!!

Carla kembali menghantamkan bunga itu ke tubuh Edgar, "Apa yang kulakukan? tentu saja memberi pelajaran pada laki-laki pecundang, yang tidak tahu diri!!!"

Buk! buk! buk!!!

Carla bertubi-tubi menghantamkan buket bunga itu ke tubuh Edgar, dan Edgar dengan susah payah, berupaya menghindari hantaman bunga itu ke tubuhnya.

Buket bunga sampai hancur dan tidak berbentuk lagi, lalu dilemparkan Carla ke tanah, dan kemudian Carla menginjaknya sampai benar-benar hancur.

"Huh!!" dengus Carla dengan dingin memandang Edgar yang kebingungan.

"Ada apa denganmu? bukankah kamu sangat ingin mendapatkan buket bunga dariku??"

"Apa?! cih! aku tidak sudi menerima barangmu! berikan saja sama si Lilian itu!!" jawab Carla dengan ketus.

"A.. apa maksudmu?! kenapa kamu tiba-tiba marah?!!" Edgar menjadi panik melihat Carla yang seketika menjadi dingin.

Orang-orang yang tadi bersemangat melihat momen Edgar menyatakan cinta pada Carla, kebingungan melihat sikap Carla yang tiba-tiba berubah.

"Aku baru sadar, kalau kamu itu tidak sepadan dengan suamiku!!" jawab Carla, lalu berbalik pergi dari sana.

Setelah melangkah beberapa langkah, mendadak Carla menghentikan langkahnya.

Ia melihat tiga mobil mewah hitam, berhenti tidak jauh dari tempat Edgar menyatakan suka padanya.

"Alexander" gumamnya dengan raut wajah yang perlahan terlihat begitu senang.

Mengingat waktunya, setelah ia menerima buket bunga dari Edgar, dan sah menjadi kekasih Edgar, tidak lama kemudian Alexander datang untuk membawanya pulang dengan paksa.

Bersambung.......

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!