Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Pengganti Sang CEO Beranak Tiga

Bab 1 Pengantin Pengganti.

"Apa?! Kak Rania kabur?!"

Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.

Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.

Tubuh Gladis mendadak lemas.

Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.

Namun sang calon pengantin justru menghilang.

"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.

Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.

Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.

"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."

"Tapi Kak Rania sudah pergi!"

"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.

Gadis itu terdiam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan nyata di mata kedua orang tuanya.

Perusahaan keluarga mereka sedang berada di ambang kebangkrutan.

Satu-satunya harapan adalah investasi miliaran rupiah dari pria yang akan menjadi menantu keluarga mereka.

Pria bernama Arsen Wijaya.

Seorang CEO muda yang kaya raya.

Berkuasa.

Dingin.

Dan terkenal kejam dalam dunia bisnis.

Banyak orang menghormatinya.

Lebih banyak lagi yang takut padanya.

Konon, Arsen tidak pernah memberi kesempatan kedua kepada orang yang mengkhianatinya.

Jika pernikahan dibatalkan secara sepihak malam ini, bukan hanya investasi yang hilang.

Perusahaan keluarga mereka bisa hancur dalam hitungan minggu.

Ruangan kembali sunyi.

Sampai akhirnya sang ibu menggenggam tangan Gladis erat.

Terlalu erat.

Membuat jantung Gladis berdebar tidak nyaman.

"Gladis..."

"Ibu?"

"Kau harus menggantikan kakakmu."

Dunia Gladis seolah berhenti berputar.

"A-apa?"

"Kau yang akan menikah dengan Arsen."

Surat itu terlepas dari tangannya.

Matanya membulat penuh keterkejutan.

"Aku? Menikah dengan duda itu?"

"Dia memiliki tiga anak," lanjut ibunya lirih. "Dan besok pagi akad akan dilaksanakan."

"Tidak! Ini gila!"

Namun ayahnya yang selama ini selalu lembut hanya menundukkan kepala.

"Kami tidak punya pilihan."

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Gladis.

Ia bahkan belum pernah bertemu langsung dengan Arsen Wijaya.

Yang ia tahu hanyalah cerita-cerita mengerikan tentang pria itu.

CEO dingin yang tidak tersenyum.

Ayah dari tiga anak yang sangat protektif.

Pria yang dapat menghancurkan lawannya hanya dengan satu keputusan bisnis.

Dan kini...

Dalam waktu kurang dari dua belas jam...

Ia harus menjadi istrinya.

Tanpa cinta.

Tanpa persiapan.

Sebagai pengantin pengganti.

Namun Gladis tidak tahu.

Keputusan yang ia ambil malam itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Karena pria yang akan dinikahinya ternyata menyimpan rahasia besar.

Begitu pula ketiga anak yang kelak memanggilnya...

"Ibu."

**"

"Tolong, Gladis... Ayah mohon."

Suara ayahnya terdengar begitu lemah hingga membuat hati Gladis terasa diremas.

Di ruang keluarga yang biasanya hangat, malam itu hanya ada kesunyian dan ketegangan yang menyesakkan dada.

Gladis masih memegang surat yang ditinggalkan kakaknya.

Surat yang telah menghancurkan semuanya.

Rania kabur.

Kabur tepat sehari sebelum pernikahannya dengan Arsen Wijaya.

CEO ternama yang selama ini menjadi penyelamat perusahaan keluarga mereka.

Air mata ibunya tak berhenti mengalir.

"Kalau pernikahan ini batal, perusahaan kita tamat, Nak."

"Ibu, tapi aku bukan Kak Rania."

"Kami tahu."

"Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya."

Ayahnya mengusap wajah kasar yang tampak semakin tua malam itu.

Perusahaan keluarga mereka bergerak di bidang tekstil.

Dua tahun terakhir mengalami kerugian besar.

Utang menumpuk.

Investor pergi satu per satu.

Hingga akhirnya muncul Arsen Wijaya.

Pria yang bersedia menanamkan modal besar.

Dengan satu syarat.

Menikahi putri keluarga Pratama.

Awalnya semua setuju.

Karena yang akan menikah adalah Rania.

Putri sulung yang memang telah lulus kuliah dan siap menikah.

Namun siapa sangka wanita itu malah melarikan diri.

"Ayah tidak memaksamu..."

"Tapi Ayah memohon."

Kalimat itu membuat Gladis menunduk.

Ia baru berusia dua puluh tahun.

Mahasiswa semester lima.

Masih memiliki banyak mimpi.

Masih ingin menyelesaikan kuliah.

Masih ingin menikmati masa mudanya.

Bukan menjadi istri seorang duda.

Apalagi duda dengan tiga anak.

Tiga anak.

Setiap kali mengingatnya, jantung Gladis berdegup semakin cepat.

Ia bahkan belum pernah mengurus dirinya sendiri dengan benar.

Bagaimana mungkin menjadi ibu?

"Gladis..."

Ibunya menggenggam tangannya.

"Kami tidak punya siapa-siapa lagi."

Air mata wanita itu jatuh mengenai punggung tangan Gladis.

Untuk pertama kalinya, Gladis melihat kedua orang tuanya benar-benar berada di ujung harapan.

Mereka tidak sedang memikirkan gengsi.

Mereka sedang berusaha bertahan hidup.

Dan Gladis tahu itu.

Jika perusahaan bangkrut, ratusan karyawan kehilangan pekerjaan.

Rumah mereka disita.

Ayahnya yang memiliki penyakit jantung bisa semakin memburuk.

"Kalau aku setuju..."

Suaranya bergetar.

"Apa aku masih boleh melanjutkan kuliah?"

Kedua orang tuanya langsung mengangguk.

"Tentu."

"Kami janji."

Gladis memejamkan mata.

Dadanya terasa sesak.

Namun pada akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baik."

Tangis ibunya langsung pecah.

Ayahnya menunduk sambil mengusap mata.

Sementara Gladis hanya menatap kosong ke arah jendela.

Malam itu.

Mimpinya berubah.

Hidupnya berubah.

Dan masa depannya berubah.

Hanya dalam satu keputusan.

---

Sementara itu.

Di sebuah penthouse mewah di pusat kota.

Arsen Wijaya baru saja menerima telepon dari asistennya.

Pria itu berdiri di depan jendela besar dengan jas hitam yang masih melekat sempurna di tubuh tinggi tegapnya.

Wajah tampan itu nyaris tanpa ekspresi.

Tatapannya dingin.

Tajam.

Sulit ditebak.

"Ulangi."

Suaranya datar.

"Calon pengantin Anda kabur, Tuan."

Ruangan mendadak hening.

Asisten yang berada di ujung telepon bahkan menahan napas.

Siapa pun yang mengenal Arsen tahu satu hal.

Pria itu membenci pengkhianatan.

Sangat membenci.

Namun berbeda dari dugaan semua orang.

Arsen tidak marah.

Tidak membanting barang.

Tidak mengamuk.

Ia hanya tersenyum tipis.

Senyuman yang justru membuat orang lain semakin takut.

"Menarik."

"Tuan..."

"Keluarga Pratama bilang mereka memiliki pengganti."

Arsen menoleh.

"Pengganti?"

"Adik dari calon pengantin."

Beberapa detik berlalu.

Pria itu kembali menatap gemerlap lampu kota.

Baginya pernikahan bukan urusan cinta.

Sudah lama ia tidak percaya pada cinta.

Pernikahan hanyalah kebutuhan.

Kebutuhan bagi ketiga anaknya.

Mereka membutuhkan seorang ibu.

Seseorang yang bisa menemani mereka tumbuh.

Seseorang yang bisa mengisi kekosongan yang telah lama ada.

"Berapa umur gadis itu?"

"Dua puluh tahun, Tuan."

Arsen mengangkat sebelah alis.

Masih sangat muda.

Terlalu muda.

Namun ia tidak peduli.

Selama gadis itu mampu memperlakukan anak-anaknya dengan baik.

"Itu tidak masalah."

"Tuan?"

"Siapa pun pengantinnya."

Asisten itu menelan ludah.

Arsen melanjutkan dengan suara dingin.

"Asalkan dia bisa menjadi ibu bagi ketiga anakku."

---

Keesokan paginya.

Gladis berdiri di depan cermin besar.

Gaun pengantin putih membungkus tubuh rampingnya.

Hijab putih yang anggun menutupi rambutnya.

Semua orang memuji kecantikannya.

Namun ia tidak bisa merasakan apa pun.

Tangannya dingin.

Jantungnya berdebar tanpa henti.

Hari ini ia akan menikah.

Dengan pria yang belum pernah ia temui.

Dengan seorang CEO yang terkenal dingin.

Dengan duda berusia tiga puluh tiga tahun.

Dan yang paling membuatnya gugup.

Pria itu sudah memiliki tiga anak.

"Gladis."

Ibunya masuk ke kamar.

"Sudah waktunya."

Gadis itu mengangguk pelan.

Lalu melangkah keluar.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Hingga akhirnya ia tiba di ruang akad.

Dan di sanalah untuk pertama kalinya ia melihat pria yang akan menjadi suaminya.

Arsen Wijaya.

Jauh lebih tampan daripada yang pernah ia bayangkan.

Rahang tegas.

Tatapan tajam.

Tubuh tinggi dan berwibawa.

Aura dingin yang membuat siapa pun sulit mendekat.

Pria itu mengenakan jas hitam elegan.

Terlihat sempurna.

Namun juga sulit ditebak.

Saat mata mereka bertemu.

Gladis langsung menunduk.

Entah kenapa ia merasa gugup.

Sementara Arsen memperhatikan gadis itu beberapa detik.

Bukan Rania.

Jelas bukan.

Namun gadis di depannya tampak berbeda.

Polos.

Lugu.

Dan terlalu muda.

Untuk sesaat Arsen bertanya-tanya.

Apakah gadis ini benar-benar siap menjadi ibu bagi tiga anaknya?

Namun pertanyaan itu segera ia singkirkan.

Yang terpenting adalah hasilnya.

Bukan prosesnya.

Acara akad segera dimulai.

Dan beberapa menit kemudian.

Dengan satu kalimat ijab kabul.

Status Gladis berubah.

Dari seorang mahasiswi biasa.

Menjadi istri Arsen Wijaya.

CEO paling ditakuti di kota itu.

Tanpa Gladis sadari.

Pernikahan itu hanyalah awal.

Karena tantangan sebenarnya menunggunya di rumah besar Arsen.

Rumah yang dihuni tiga anak kecil yang sama sekali belum siap menerima kehadirannya.

Dan salah satu dari mereka...

Sudah berjanji akan mengusir wanita mana pun yang mencoba menggantikan ibunya.

Menikah tanpa cinta.

"Saya Terima nikah dan kawinnya Gladys Clara binti Bapak Kusuma dengan seperangkat alat shalat dan emas 100 gram tunai."

"Bagaimana saksi?"

"SAH!"

Suara para saksi terdengar hampir bersamaan.

"Alhamdulillah..."

Ucapan syukur memenuhi ruangan akad yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.

Namun bagi Gladis, suara-suara itu terdengar semakin jauh.

Seolah berasal dari tempat yang berbeda.

Seolah bukan dirinya yang sedang duduk di sana.

Bukan dirinya yang baru saja resmi menjadi istri seorang pria bernama Arsen Wijaya.

Tangannya terasa dingin.

Kepalanya sedikit pusing.

Dan ketika kalimat ijab kabul itu selesai diucapkan, sesuatu di dalam dirinya seolah ikut runtuh.

Ia menikah.

Di usia dua puluh tahun.

Saat teman-temannya masih sibuk mengerjakan tugas kuliah, mengikuti organisasi kampus, dan merencanakan masa depan.

Sedangkan dirinya...

Baru saja menjadi istri seorang duda berusia tiga puluh tiga tahun.

Ayah dari tiga anak.

Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.

Bukan karena bahagia.

Bukan pula karena terharu.

Melainkan karena kenyataan yang begitu cepat mengubah hidupnya.

"Gladis menangis bahagia."

Salah seorang kerabat berbisik.

Yang lain ikut tersenyum.

Tak seorang pun tahu bahwa gadis itu sedang berusaha menahan sesak di dadanya.

Ibunya yang duduk di samping segera mengusap air mata Gladis.

"Jangan menangis lagi, Nak."

Justru kalimat itu membuat air matanya semakin deras.

Karena ia tahu.

Mulai hari ini tidak ada jalan untuk kembali.

Pernikahan ini nyata.

Benar-benar nyata.

"Pengantin wanita dipersilakan berjabat tangan dengan suaminya."

Suara penghulu membuat tubuh Gladis menegang.

Jantungnya langsung berdebar semakin cepat.

Suaminya.

Kata itu terasa asing.

Sangat asing.

Ibunya tersenyum lembut.

"Ayo, Nak."

Gladis mengangkat kepala perlahan.

Dan untuk pertama kalinya melihat pria yang kini menjadi suaminya dari jarak yang begitu dekat.

Arsen Wijaya.

Tinggi.

Sangat tinggi.

Mungkin hampir seratus sembilan puluh sentimeter.

Tubuhnya tegap dan proporsional.

Jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal dan sempurna.

Rahang tegas.

Hidung mancung.

Tatapan tajam.

Dan aura dingin yang membuat siapa pun sulit bernapas dengan tenang di dekatnya.

Pria itu tampan.

Sangat tampan.

Namun bukan tipe pria yang membuat seseorang merasa nyaman.

Justru sebaliknya.

Ia terlihat seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah dan tidak pernah menerima penolakan.

Gladis menelan ludah.

Tangannya mulai berkeringat.

"Ayo."

Bisik ibunya sekali lagi.

Dengan langkah pelan, Gladis bangkit.

Setiap langkah terasa berat.

Semakin dekat kepada Arsen.

Semakin keras pula detak jantungnya.

Deg.

Deg.

Deg.

Entah karena gugup.

Atau takut.

Mungkin keduanya.

Saat akhirnya berdiri tepat di hadapan pria itu, Gladis harus sedikit mendongak.

Terlalu tinggi.

Pria ini benar-benar tinggi.

Sementara Arsen memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

Tatapan mata hitam pekat itu membuat Gladis semakin gugup.

Tangannya gemetar saat mengulurkan tangan.

"Assalamualaikum..."

Suaranya nyaris tak terdengar.

Arsen menatapnya beberapa detik.

Kemudian menjawab.

"Waalaikumsalam."

Suara baritonnya rendah dan dalam.

Membuat Gladis sedikit terkejut.

Suara itu terdengar lebih mengintimidasi daripada yang ia bayangkan.

Pria itu menerima uluran tangannya.

Hangat.

Kuat.

Dan jauh lebih besar dibanding tangannya.

Seketika Gladis menunduk.

Tidak berani menatap terlalu lama.

Sementara beberapa tamu tersenyum melihat momen tersebut.

Namun tidak dengan Arsen.

Wajahnya tetap datar.

Nyaris tanpa ekspresi.

"Aku Arsen."

Kalimat sederhana itu membuat Gladis mengangkat kepala.

Hah?

Pria ini memperkenalkan diri?

Ia sempat mengira Arsen tidak akan berbicara sama sekali.

"Aku... Gladis."

Arsen mengangguk.

"Aku tahu."

Pipinya langsung memanas.

Bodoh sekali.

Tentu saja pria itu tahu namanya.

Mereka baru saja menikah.

Beberapa detik keheningan terjadi.

Hingga tanpa sadar Gladis berkata,

"Kamu Gladis?"

Begitu kalimat itu keluar, matanya langsung membulat.

Ya ampun.

Apa yang barusan ia katakan?

Karena terlalu gugup, kata-kata dalam kepalanya justru keluar dengan berantakan.

Wajahnya langsung merah.

"Iya Pak."

Lalu buru-buru menggeleng.

"Eh..."

"Om."

Begitu kata "Om" keluar, beberapa orang yang berada di dekat mereka langsung tersedak menahan tawa.

Bahkan penghulu sampai berdeham pelan.

Gladis berharap lantai segera terbuka dan menelannya hidup-hidup.

Ya Allah.

Kenapa dia memanggil suaminya om?

Arsen sendiri terlihat terdiam.

Tatapan dinginnya menatap Gladis beberapa saat.

Membuat jantung gadis itu semakin tidak karuan.

Namun yang mengejutkan.

Sudut bibir pria itu bergerak sedikit.

Sangat sedikit.

Seolah menahan sesuatu.

Apakah...

Dia hampir tersenyum?

"Kau gugup."

Suara Arsen terdengar tenang.

Gladis langsung mengangguk cepat.

"Sangat."

Jawaban jujur itu membuat beberapa tamu kembali tersenyum.

Biasanya pengantin perempuan akan berusaha terlihat anggun.

Namun Gladis terlalu gugup untuk berpura-pura.

"Aku tidak menggigit."

ucap Arsen datar.

Gladis berkedip.

Lalu beberapa detik kemudian baru menyadari maksud kalimat itu.

Beberapa kerabat langsung tertawa kecil.

Sedangkan Gladis justru semakin malu.

Ternyata CEO dingin ini bisa bercanda?

Meski ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Arsen lalu melepaskan tangannya perlahan.

Tatapannya kembali serius.

"Setelah acara selesai, kita akan langsung pulang."

Gladis mengangguk.

"Baik."

"Kampusmu?"

Gadis itu terkejut.

Pria ini tahu dirinya kuliah?

"Aku akan tetap kuliah, kalau boleh."

Arsen menatapnya.

Beberapa detik.

Kemudian menjawab singkat.

"Tidak ada yang melarang."

Gladis sedikit terkejut.

Jawaban itu jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.

"Terima kasih."

Arsen kembali mengangguk.

Lalu pandangannya beralih ke para tamu.

Percakapan mereka selesai.

Namun di dalam hati Gladis, rasa gugup justru semakin besar.

Karena sebentar lagi ia akan pergi bersama pria ini.

Ke rumahnya.

Ke kehidupan barunya.

Dan yang paling membuatnya cemas...

Pertemuannya dengan ketiga anak Arsen.

Anak-anak yang bahkan belum tahu bahwa ayah mereka baru saja menikah lagi.

Anak-anak yang mungkin tidak menginginkan kehadirannya.

Anak-anak yang mungkin membencinya.

Sementara itu, tanpa diketahui Gladis.

Arsen memperhatikannya dari sudut mata.

Gadis ini jauh berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui.

Tidak dibuat-buat.

Tidak mencoba menarik perhatiannya.

Bahkan terlalu polos.

Sangat polos.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir...

Arsen merasa sedikit penasaran.

Apakah gadis dua puluh tahun ini mampu bertahan di rumahnya?

Mampukah ia menghadapi si kembar yang keras kepala?

Atau si bungsu yang sangat lengket kepadanya?

Karena satu hal yang pasti.

Menjadi istrinya mungkin tidak sulit.

Namun menjadi ibu bagi ketiga anaknya...

Adalah tantangan yang sama sekali berbeda.

Rumah yang tak menyambutmu

Acara akad dan makan siang sederhana itu akhirnya selesai menjelang sore.

Karena pergantian pengantin terjadi mendadak, pesta besar yang semula direncanakan akhirnya dibatalkan.

Hanya keluarga inti dan beberapa kerabat dekat yang hadir.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada pelaminan megah.

Tidak ada kemeriahan seperti yang biasa dinikmati keluarga konglomerat.

Semuanya berlangsung sederhana.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat Gladis semakin sadar.

Pernikahan ini benar-benar terjadi.

Ia benar-benar telah menikah.

Menjadi istri seorang pria yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.

Gladis berdiri di depan rumahnya sambil memeluk ibunya erat.

Tangisnya kembali pecah.

"Ibu..."

"Nak..."

Bu Ranti menangis sambil mengusap punggung putrinya.

"Jaga dirimu baik-baik."

Gladis mengangguk.

Dadanya terasa sesak.

Rumah sederhana yang selama dua puluh tahun menjadi tempat pulangnya kini harus ia tinggalkan.

Meski jaraknya tidak jauh.

Meski ia masih bisa berkunjung.

Tetap saja rasanya berbeda.

Karena kini statusnya telah berubah.

Ia bukan lagi putri keluarga Kusuma.

Melainkan istri Arsen Wijaya.

Ayahnya yang berdiri di samping ikut menahan air mata.

"Lanjutkan kuliahmu."

"Iya, Yah."

"Kalau ada masalah, cerita sama Ayah."

Gladis mengangguk lagi.

Tak mampu berkata apa-apa.

Tangisnya sudah lebih dulu mengambil alih.

Beberapa menit kemudian.

Ia akhirnya masuk ke mobil hitam mewah milik Arsen.

Pintu tertutup perlahan.

Dan saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.

Gladis menoleh ke belakang.

Melihat kedua orang tuanya yang terus melambaikan tangan.

Air matanya kembali jatuh.

Sampai rumah itu perlahan menghilang dari pandangannya.

Di dalam mobil.

Suasana terasa sangat canggung.

Gladis duduk tegak di kursi belakang.

Tepat di samping suaminya.

Masih terasa aneh memikirkan pria di sebelahnya adalah suaminya.

Di depan ada seorang sopir dan seorang pria berjas yang tadi hadir saat akad.

Mungkin asistennya.

Tak ada yang berbicara.

Hanya suara mesin mobil yang terdengar lembut.

Gladis memainkan jemarinya gugup.

Sesekali mencuri pandang ke arah Arsen.

Pria itu sedang membaca sesuatu di tablet.

Wajahnya tetap dingin.

Nyaris tanpa ekspresi.

Benar-benar seperti CEO dalam drama-drama yang sering ditonton teman-temannya.

Mendadak Arsen menutup tabletnya.

Lalu menoleh.

Membuat Gladis langsung salah tingkah.

"Ada yang ingin saya sampaikan."

"I-iya."

"Anak-anakku ada tiga."

Gladis langsung duduk semakin tegak.

Ia mendengarkan dengan serius.

"Yang pertama kembar."

"Kembar?"

Arsen mengangguk.

"Laki-laki dan perempuan."

"Umurnya?"

"Kelas tiga SD."

Gladis langsung menghitung cepat.

Sekitar delapan atau sembilan tahun.

Masih kecil.

Namun sudah cukup besar untuk memahami banyak hal.

"Yang bungsu empat tahun."

"Oh..."

Arsen kembali menatap ke depan.

"Ibu mereka meninggal dua tahun lalu."

Untuk pertama kalinya suara pria itu terdengar sedikit lebih pelan.

Meski hanya sesaat.

Namun Gladis menangkap sesuatu.

Kesedihan.

Atau mungkin kerinduan.

Entahlah.

Ia tidak berani bertanya.

"Tugasmu menjadi ibu bagi mereka."

Kalimat berikutnya membuat Gladis menelan ludah.

"Tugas?"

Arsen mengangguk.

"Aku tidak meminta hal lain."

Gladis terdiam.

Pria itu melanjutkan.

"Aku tidak menjanjikan apa pun."

Tatapannya lurus ke depan.

"Dukungan finansial akan kau dapatkan."

"Kuliahmu bisa tetap berjalan."

"Kebutuhanmu akan terpenuhi."

Gladis hanya mendengarkan.

Namun kalimat berikutnya membuat dadanya terasa aneh.

"Termasuk cinta."

Mobil mendadak terasa lebih sunyi.

"Aku tidak menjanjikan cinta."

Suara Arsen terdengar datar.

Tanpa emosi.

Seolah sedang membahas laporan perusahaan.

Bukan pernikahan.

Gladis menunduk.

Entah kenapa hatinya sedikit nyeri.

Padahal ia juga tidak mencintai pria itu.

Mereka baru saling mengenal.

Namun mendengar kalimat itu secara langsung tetap terasa menusuk.

Pernikahan mereka memang bukan tentang cinta.

Hanya kesepakatan.

Kesepakatan yang lahir karena keadaan.

"Iya."

Jawab Gladis pelan.

Arsen mengangguk.

Seolah puas karena istrinya memahami situasi.

Beberapa detik kemudian.

Gladis kembali gugup.

Ada satu hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

"Ehm..."

Arsen menoleh.

"Iya?"

"Saya harus panggil apa?"

"Hm?"

Gladis menggigit bibir.

"Maksud saya..."

"Pak?"

"Om?"

Wajahnya langsung memerah.

Pria di depan tiba-tiba tersedak menahan tawa.

Sedangkan sopir langsung fokus melihat jalan agar tidak terlihat sedang tersenyum.

Arsen menatap Gladis selama beberapa detik.

Seolah mencerna pertanyaan itu.

Sampai akhirnya suara lain terdengar.

"Mas."

Gladis menoleh.

Ternyata asisten yang menjawab.

"Panggil Mas saja, Bu."

"Hah?"

"Kalau Pak terlalu formal."

"Kalau Om..."

Pria itu berusaha menahan tawa.

"Agak berbahaya."

Gladis langsung malu.

Ya Allah.

Kenapa semua orang membahas kata om?

Asisten itu tersenyum ramah.

"Nama saya Dimas, Bu."

"Oh."

"Kalau Tuan Arsen tidak keberatan, panggil saja Mas."

Gladis menoleh ragu kepada Arsen.

Pria itu mengangguk singkat.

"Boleh."

"Baik..."

Gladis menarik napas.

"Mas."

Entah kenapa kata itu terasa sangat asing.

Arsen tidak memberikan reaksi apa pun.

Namun Dimas terlihat lega.

Setidaknya nyonya baru mereka tidak lagi memanggil CEO mereka dengan sebutan om.

Satu jam kemudian.

Mobil memasuki kawasan elit yang membuat Gladis terpana.

Rumah-rumah besar berdiri megah.

Jalanan bersih.

Pepohonan tertata rapi.

Semuanya terlihat seperti dunia yang berbeda.

Dan saat mobil berhenti.

Mulut Gladis langsung terbuka.

Rumah itu...

Tidak.

Mungkin lebih tepat disebut istana.

Bangunan tiga lantai berdiri megah dengan taman luas di depannya.

Air mancur besar menghiasi halaman.

Puluhan lampu taman menyala indah.

Gladis bahkan yakin rumah itu lebih besar daripada kampusnya.

"Turun."

Suara Arsen membuyarkan lamunannya.

"Iya."

Ia segera turun.

Masih belum bisa menutupi rasa kagumnya.

Beberapa pelayan langsung berbaris rapi.

"Selamat datang, Tuan."

"Selamat datang, Nyonya."

Gladis hampir tersandung mendengar panggilan itu.

Nyonya?

Mereka memanggilnya nyonya?

Rasanya aneh sekali.

Sangat aneh.

Arsen berjalan masuk terlebih dahulu.

Gladis buru-buru mengikuti.

Jantungnya kembali berdebar.

Karena ia tahu.

Sebentar lagi.

Ia akan bertemu ketiga anak itu.

Di ruang keluarga utama.

Tiga anak sedang duduk di sofa.

Yang pertama seorang anak laki-laki tampan dengan wajah dingin.

Yang kedua anak perempuan cantik dengan rambut panjang.

Dan yang ketiga bocah kecil berusia sekitar empat tahun yang sedang memeluk boneka dinosaurus.

Mereka bertiga menoleh bersamaan saat mendengar langkah kaki.

Tatapan mereka langsung tertuju kepada Gladis.

Ruangan mendadak sunyi.

Sangat sunyi.

"Papa pulang."

Ucap anak perempuan itu.

Namun kalimat berikutnya membuat suasana berubah.

"Siapa dia?"

Anak laki-laki ikut berdiri.

Tatapannya penuh curiga.

Arsen berjalan mendekat.

Lalu berkata tegas.

"Perkenalkan."

Ketiga anak itu memperhatikan.

"Ini Gladis."

Tak ada respons.

Arsen melanjutkan.

"Mulai hari ini dia tinggal bersama kita."

Wajah anak laki-laki langsung berubah.

Anak perempuan pun membelalak.

Sedangkan si bungsu hanya terlihat bingung.

Kemudian.

Anak perempuan itu bertanya pelan.

"Dia pengasuh baru?"

"Tidak."

Jawab Arsen.

"Dia istriku."

DEG!

Kalimat itu membuat ketiga anak membeku.

Beberapa detik kemudian.

Wajah anak laki-laki langsung memerah karena marah.

"Apa?!"

Anak perempuan ikut berdiri.

"Papa menikah lagi?"

Sedangkan si kecil mulai memeluk bonekanya lebih erat.

Gladis langsung gugup.

Ia mencoba tersenyum.

"Halo..."

Namun tak ada yang membalas.

Tatapan mereka justru semakin dingin.

Anak laki-laki itu maju selangkah.

"Aku tidak suka dia."

"Raka."

Tegur Arsen.

Namun bocah itu tidak peduli.

"Aku tidak suka!"

Anak perempuan ikut mengangguk.

"Kami tidak butuh ibu baru."

Gladis langsung terdiam.

Dadanya terasa sesak.

Kalimat itu memang sudah ia duga.

Tetapi mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.

Lalu sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.

Anak bungsu tiba-tiba turun dari sofa.

Berjalan mendekati Gladis.

Membuat semua orang berharap situasi membaik.

Namun bocah itu justru bersembunyi di belakang kaki kakaknya.

Lalu berkata dengan polos.

"Aku mau Mama."

Ruangan mendadak sunyi.

Mata Gladis membulat.

Sedangkan wajah Arsen langsung menegang.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu.

Gladis benar-benar menyadari satu hal.

Perjuangannya baru saja dimulai.

Karena ketiga anak itu...

Sama sekali tidak menyambut kehadirannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!