Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

01

Suasana meja makan pagi itu terasa mencekam. Theo menunduk sambil mengaduk telur dadarnya. Elang pura-pura fokus pada ponselnya. Sedangkan, Alya sibuk minum jus jeruk seolah tidak terjadi apa-apa.

Nathan duduk di ujung meja. Tatapannya bergantian mengarah kepada ketiga anaknya.

"Tidak ada yang mau menjelaskan sesuatu?"

Theo berdehem pelan dan Elang memilih melihat ke luar jendela. Alya malah tersenyum manis. Nathan meletakkan tiga lembar kertas di atas meja.

Ketiganya refleks menoleh.

"Surat pelanggaran sekolah Theo." Theo langsung menelan ludah.

Nathan menggeser kertas kedua. "Laporan revisi skripsi Elang."

Elang memijat pelipis, Nathan menggeser kertas terakhir.

"Dan laporan absensi Alya."

Senyum Alya perlahan menghilang. Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Menarik sekali..."

Tidak ada yang berani menjawab.

"Satu anak balapan liar."

Theo langsung menunduk.

"Satu anak tidak kunjung lulus kuliah."

Elang ikut menghela napas.

"Dan satu anak lagi suka bolos sekolah."

Alya ikut menunduk, Nathan mengangguk pelan.

"Luar biasa sekali kalian."

Ketiganya langsung merinding, mereka tahu semakin tenang Nathan berbicara, semakin berbahaya situasinya.

"Ayah..." Theo mencoba membuka suara.

"Diam!"

Theo langsung menutup mulut. Nathan menatap ketiga anaknya satu per satu.

"Ayah bekerja siang malam membangun semuanya untuk kalian."

Tidak ada jawaban. "Tapi sepertinya kalian terlalu nyaman hidup menggunakan nama belakang Anderson."

Tatapan Nathan menjadi dingin. "Sampai lupa bagaimana cara bertanggung jawab.

Ketiga bersaudara itu hanya bisa menunduk saat Nathan menatap mereka dengan wajah datar. Wajah yang justru jauh lebih menakutkan daripada saat pria itu berteriak.

"Ayah sudah terlalu memanjakan kalian..." Nathan berdiri dari kursinya. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas meja makan.

"Ayah memberi kalian kebebasan." Tatapannya beralih kepada Elang.

"Kamu, kuliah di universitas terbaik."

Lalu kepada Theo. "Kamu, fasilitas lengkap."

Kemudian kepada Alya. "Dan kamu ... apa pun yang kamu minta hampir selalu Ayah penuhi."

Ketiganya terdiam.

"Tapi hasilnya?" Nathan tertawa miris.

"Kalian tumbuh menjadi anak-anak yang tidak tahu tanggung jawab."

"Ayah—"

"Diam, Theo!"

Lagi-lagi Theo langsung menutup mulutnya. Nathan menarik napas panjang. Keputusan itu sebenarnya sudah lama ada di kepalanya. Namun, pagi ini menjadi titik terakhir kesabarannya.

"Mulai hari ini kartu-kartu kalian akan dibatasi."

Ketiganya langsung menoleh bersamaan.

"Apa?!"

Nathan tidak peduli. "Mobil Theo disita sementara."

Theo hampir tersedak. "Ayah!"

"Mobil Elang juga."

Elang yang biasanya tenang langsung mengangkat kepala. "Tunggu dulu..."

"Dan Alya tidak akan mendapat uang jajan tambahan selama satu bulan."

Alya membelalakkan mata. "Itu kejam!"

Nathan menatap putrinya datar.

"Bolos sekolah lebih kejam."

Alya langsung terdiam, Nathan kembali duduk. Wajahnya terlihat lelah. Selama bertahun-tahun sejak istrinya meninggal, ia berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi ketiga anaknya. Namun, ternyata itu tidak cukup Nathan memijat pelipisnya.

"Ayah rasa kalian membutuhkan seseorang."

Ketiga anak itu saling pandang. Entah kenapa mereka tidak menyukai arah pembicaraan ini.

"Seseorang?" tanya Elang.

Nathan mengangguk. "Seseorang yang bisa mengurus rumah ini."

Theo mengernyit. "Kita sudah punya puluhan asisten rumah tangga."

"Bukan itu!" Nathan menatap mereka satu per satu.

"Kalian membutuhkan seorang ibu."

"Apa?!" Suara ketiganya menggema bersamaan.

Nathan bahkan tidak berkedip, Theo berdiri paling dulu.

"Tidak!"

Alya ikut bangkit. "Aku menolak!"

Bahkan, Elang yang biasanya paling tenang terlihat syok.

"Ayah serius?"

Nathan menatap putranya. "Sangat serius."

Theo memegang dadanya.eolah baru saja mendengar kabar kiamat.

"Ayah mau menikah lagi?"

"Ya." Jawabnya tegas.

"Tidak boleh!"

Nathan menaikkan sebelah alis. "Kenapa?"

"Karena ibu tiri itu jahat!"

Alya langsung mengangguk kuat-kuat.

"Benar!"

Nathan menghela napas.

"Lalu?"

"Mereka suka menyiksa anak-anak."

Nathan memandang putrinya. "Kamu tahu dari mana?"

"Dari drama."

Nathan memejamkan mata.

"Dari novel juga!" tambah Theo.

"Film juga!" sahut Alya.

Nathan mulai merasa pusing, Elang akhirnya ikut bicara.

"Ayah..."

Nathan menoleh.

"Kami tidak butuh ibu tiri."

"Kalian butuh."

"Tidak!"

"Kalian butuh!"

"Tidak, Ayah!"

Nathan menatap putra sulungnya tanpa ekspresi. Elang balas menatap tanpa berkedip. Pertarungan dingin antara ayah dan anak itu berlangsung beberapa detik.

Sampai akhirnya Nathan berkata, "Keputusan Ayah sudah bulat."

Theo langsung panik. "Tidak, tidak, tidak!"

Alya bahkan hampir menangis.

"Kalau Ayah menikah, nanti wanita itu akan mengambil kamar Mama!"

Nathan terdiam sesaat, mendengar nama mendiang istrinya memang selalu membuat suasana berubah. Namun, keputusan ini tetap harus dilakukan.

"Ayah tidak akan menggantikan Mama." Suara Nathan lebih lembut.

"Tidak akan pernah."

Ketiga anak itu terdiam.

"Tapi rumah ini membutuhkan sosok yang bisa mengurus kalian."

Theo langsung menggeleng keras.

"Kami bisa mengurus diri sendiri."

Nathan tertawa pendek. "Benarkah?"

Lalu ia mengeluarkan surat pelanggaran Theo.

Theo langsung diam, kemudian laporan skripsi Elang, dan Elang ikut diam.

Lalu laporan absensi Alya tetapi Alya menunduk, Nathan menyilangkan tangan.

"Kalau itu namanya mengurus diri sendiri, Ayah khawatir kalian tidak akan bertahan seminggu tanpa bantuan orang lain."

Theo langsung protes. "Itu tidak adil!"

Nathan berdiri. "Mulai hari ini Ayah akan mencari calon istri."

"Ayah!" teriak Theo frustrasi.

"Dan calon ibu tiri untuk kalian."

"Ayah!" ketiganya berteriak keras saat melihat Nathan tak peduli pada protes mereka.

Nathan berjalan meninggalkan ruang makan. Sementara di belakangnya terdengar suara panik ketiga anaknya. Begitu Nathan menghilang dari pandangan, Theo langsung memukul meja.

"Kita dalam bahaya."

Alya mengangguk cepat. "Bahaya besar."

Elang menghela napas panjang. Ketiga bersaudara itu memiliki musuh yang sama, calon ibu tiri mereka. Dan siapa pun wanita malang yang akan dipilih Nathan nanti. Mereka bertiga sepakat akan melakukan segala cara untuk membuat wanita itu kabur dari rumah Anderson.

Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Di kursi belakang, Nathan Pradipta Anderson duduk dengan mata terpejam. Sementara Mohan, asisten sekaligus sopir kepercayaannya selama bertahun-tahun, sesekali melirik ke kaca spion tengah.

Biasanya setelah memarahi ketiga anaknya, Nathan akan kembali fokus pada pekerjaan. Tapi pagi ini pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan itu membuat Mohan penasaran.

"Pak Nathan?"

Nathan membuka mata perlahan. "Hm?"

"Ada yang bisa saya bantu?"

Beberapa detik berlalu, Nathan menatap keluar jendela. Lalu menjawab dengan tenang.

"Ada."

Mohan langsung siaga. Sebagai asisten profesional, dia siap mencatat apa pun. Namun, jawaban berikutnya membuat otaknya berhenti bekerja.

"Saya butuh seorang ibu untuk anak-anak saya."

Mohan hampir menginjak rem, intung jalanan sedang lengang. Pria itu melotot ke arah kaca spion. Nathan masih terlihat tenang, seolah baru saja membicarakan cuaca. Sedangkan, Mohan merasa dunianya terguncang.

'Aku tadi dengar apa?'

"Saya ... mohon maaf, Pak."

Nathan mengangkat sebelah alis.

"Kenapa?"

"Saya rasa pendengaran saya bermasalah."

Nathan kembali menatap jendela.

"Saya bilang saya butuh seorang ibu untuk anak-anak saya."

Mohan benar-benar terdiam, dalam hati ia mulai bertanya-tanya.

'Tadi pagi matahari terbit dari timur, kan? Bukan dari barat? Hari ini tanggal normal, kan? Bukan hari kiamat?'

Selama bertahun-tahun mengenal Nathan, pria itu selalu menolak setiap kali ada yang menyinggung soal pernikahan. Bahkan, neneknya sendiri pernah mencoba menjodohkannya. Gagal, teman-temannya mencoba mengenalkan beberapa wanita.

Para relasi bisnis bahkan pernah diam-diam mengatur pertemuan, dan menjodohkan anak mereka dengan salah satu putri mereka, tetapi Nathan masih mempertimbangkan nya.

Pria itu tiba-tiba bilang ingin mencari istri. Mohan merasa perlu memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.

"Pak."

"Hm?"

"Pak Nathan yang asli, kan?"

Nathan menoleh perlahan. Tatapan dinginnya langsung membuat Mohan ingin menampar dirinya sendiri.

"Maaf, Pak."

"Kamu aneh."

"Saya hanya terkejut."

Nathan kembali melihat ke luar jendela.

"Saya serius."

Mohan menghela napas panjang. Nathan Pradipta Anderson benar-benar ingin menikah lagi. Berita ini saja sudah cukup membuat seluruh kota gempar.

"Kalau boleh tahu alasannya, Pak?"

Nathan terdiam cukup lama, kemudian menjawab, "Saya lelah."

Mohan mengangguk pelan. Itu jawaban yang tidak pernah ia duga. Nathan memijat pelipisnya.

"Setiap minggu ada aja masalah baru."

Mohan langsung teringat ketiga anak bosnya.

"Mereka membuat masalah lagi?"

Nathan tertawa pendek. "Tanya saja siapa yang tidak membuat masalah."

Mohan menahan senyum.

"Itu juga benar..."

Nathan menghela napas. "Elang belum lulus."

"Ya."

"Theo hampir dikeluarkan dari sekolah."

"Ya."

"Alya bolos sekolah lagi."

"Ya."

Nathan menoleh ke arah Mohan melalui kaca spion.

"Saya butuh bantuan."

Untuk pertama kalinya selama bekerja dengannya, Mohan melihat kelelahan yang nyata di mata Nathan. Bukan kelelahan karena pekerjaan. Melainkan kelelahan sebagai seorang ayah. Dan tiba-tiba Mohan merasa sedikit kasihan. Namun, rasa kasihan itu hanya bertahan beberapa detik.

Stelahnya muncul pertanyaan lain yang jauh lebih penting.

"Kalau begitu..."

Nathan menunggu.

"Bapak mau saya carikan kandidat?"

Nathan mengangguk singkat. Mohan hampir tersedak ludahnya sendiri, ini benar-benar terjadi. Bosnya benar-benar serius.

"Bapak punya kriteria?"

Nathan berpikir sejenak.

"Lajang."

Mohan mengangguk. "Tentu, Pak. Tidak mungkin istri orang," dia tertawa kecil, Nathan menatapnya tajam.

"Sabar."

"Ya."

"Tidak materialistis."

"Baik."

"Menyukai anak-anak."

Mohan mencatat dalam pikirannya. Masih normal, sampai Nathan menambahkan,

"Dan mampu menghadapi Elang, Theo, serta Alya."

Mohan langsung menoleh. "Pak..."

"Hm?"

"Itu bukan kriteria."

Nathan mengangkat alis. "Lalu?"

"Itu misi bunuh diri."

Sudut bibir Nathan terangkat tipis. Sementara Mohan hanya bisa menggeleng dalam hati. Entah wanita seperti apa yang nantinya akan masuk ke rumah Anderson. Tapi satu hal yang pasti. Wanita itu harus memiliki kesabaran setinggi langit. Menghadapi Nathan saja sudah sulit. Apa lagi menghadapi ketiga anaknya. Itu level yang jauh lebih mengerikan.

'Sepertinya harus mencari perempuan dari gunung sakti, karena keluarga ini sangat susah ditebak apa maunya. Dan sulit di atasi,' Mohan menghela napas beratnya.

02

Pagi itu warung Arabelle sedang ramai pelanggan. Aroma nasi kuning dan bubur ayam memenuhi udara.

Arabelle bahkan baru saja melayani seorang pelanggan ketika tiba-tiba dua pria bertubuh besar muncul dari belakangnya.

Keduanya mengenakan jas hitam rapi serta kacamata hitam. Wajah datar dan aura mengintimidasi yang membuat pelanggan langsung menyingkir.

"Eh?" Sebelum Arabelle sempat bereaksi,

"Permisi, Nona."

Kedua pria itu langsung mengangkat tubuhnya.

"Aaa!" Kaki Arabelle menggantung di udara.

"Nona, mohon jangan memberontak."

"Turunkan aku!" Teriak Ara kesal.

"Tidak bisa."

"Aku bisa jalan sendiri!"

Tetapi kedua pengawal itu tetap berjalan. Para pelanggan hanya bisa melongo. Sementara Arabelle meronta-ronta seperti anak kucing yang sedang dibawa ke dokter hewan.

"Hei! Hei! Kalian menculik orang di siang bolong!"

"Tidak, Nona."

"Ini penculikan!"

"Ini penjemputan."

"Itu sama saja!"

Kedua pengawal tetap tidak peduli. Mereka membawa Arabelle menuju sebuah mobil mewah hitam yang terparkir tidak jauh dari warung. Melihat mobil itu, Arabelle langsung tahu siapa dalangnya.

"Tidak..."

Saat tubuhnya diturunkan tepat di depan pintu belakang mobil, kaca jendela perlahan turun. Dua wajah yang sangat dikenalnya muncul. Dua pria tampan dengan wajah nyaris identik. Dingin dan datar, ekspresi yang membuat Arabelle langsung ingin kabur.

"Kakak!"

Kenzo menatap datar. "Masuk."

Arabelle langsung menggeleng keras. "Tidak!"

"Pulang."

"Tidak mau!"

"Kita tidak sedang bernegosiasi."

"Aku juga tidak sedang mau pulang!"

Kenzo mulai memijat pelipis. Sudah diduga, sementara Kenzi menatap adiknya dengan wajah sedikit lebih lembut.

"Ara..."

"Tidak!"

"Kami cuma khawatir."

"Aku baik-baik saja!"

Kenzo menyilangkan tangan. "Sudah sebulan."

"Baru sebulan!"

"Bagi kami itu lama."

Arabelle hampir melompat kesal. "Ini belum setahun!"

Kenzo tetap diam.

"Daddy kasih waktu Ara satu tahun!"

Kenzo masih diam.

"Satu tahun!" Ulang Ara kesal.

Kenzo mulai kehilangan kesabaran.

"Ara."

"Tidak!"

"Masuk mobil."

"Tidak mau!"

"Masuk."

"Tidak."

"Ara."

"Tidak!"

Kenzo menatap adiknya tajam, lalu berkata pelan, "masuk mobil atau aku seret."

Arabelle langsung membelalakkan mata. "Kakak jahat!"

"Aku serius."

"Kakak sangat jahat!"

"Aku tetap serius, ikut pulang!"

Arabelle mendengus kesal, lalu menunjuk Kenzo.

"Sesuai kesepakatan sama Daddy dan Mommy, Ara boleh tinggal di luar selama setahun."

Kenzo tidak menjawab.

"Ara baru satu bulan di luar rumah. Ara pasti bisa membuktikan kalau Ara mampu mandiri." Tatapan Arabelle mulai melembut.

"Ara nggak mau dianggap anak kecil terus."

Untuk sesaat suasana menjadi hening. Kenzo memang terlihat keras. Namun, sebenarnya ia hanya terlalu khawatir, begitu pula Kenzi.

Arabelle lalu mengalihkan targetnya, "Kak Kenzi..." Nada suaranya berubah manja.

Kenzi langsung merasa firasat buruk.

"Kak..." Tatapan puppy eye andalan Arabelle keluar. Senjata paling mematikan milik Arabelle, dan selalu berhasil.

"Kakak nggak percaya sama Ara?"

Kenzi langsung goyah. "Tentu Kakak percaya."

"Kakak yakin Ara bisa mandiri kan?"

"Iya..." Jawab Kenzi.

"Kakak baik banget."

Kenzi mulai luluh.

"Kalau begitu—"

"Tidak." Suara dingin Kenzo langsung memotong.

Kenzi refleks menoleh dan menatap wajah Kenzo kesal.

"Kau jangan luluh."

"Aku tidak luluh." Bantah Kenzi.

"Kau jelas luluh."

"Aku hanya mendengarkan."

"Kau selalu kalah kalau dia pakai wajah itu."

"Itu tidak benar." Protes Kenzi.

"Sebulan lalu dia minta mobil baru."

"Itu beda."

"Sebelumnya dia minta liburan."

"Itu juga beda."

"Dia selalu menghabiskan uangmu."

"Itu..." Kenzi langsung terdiam.

Kenzo mendengus. "Lihat?"

Sementara Arabelle diam-diam menahan tawa. Kedua kakaknya mulai berdebat. Dan seperti biasa, mereka lupa kalau penyebabnya sedang berdiri tepat di depan mereka.

"Aku hanya ingin dia bahagia."

"Dan aku ingin dia aman." Ketus Kenzo.

"Kau terlalu protektif."

"Setidaknya aku masih berpikir."

"Kau menyebut aku tidak berpikir?"

"Kadang."

"Kau cari masalah?"

"Kau yang cari masalah."

Arabelle menggeleng pelan. Tidak ada yang berubah. Bahkan, setelah dewasa, kedua kakaknya masih bisa berdebat seperti anak SD.

Beberapa menit kemudian. Keduanya akhirnya menghela napas bersamaan. Kenzo menatap Arabelle.

"Ara..."

Arabelle langsung tersenyum. "Itu berarti boleh?"

"Kami mengalah."

"Yes!"

"Tapi ada syarat."

Senyum Arabelle langsung menghilang. "Syarat?"

"Kau harus sering memberi kabar."

Arabelle mengangguk cepat. "Siap!"

"Video call setiap malam."

"Siap!"

"Lokasi harus aktif."

"Siap!"

"Kalau ada masalah, langsung hubungi kami."

"Siap!"

Kenzo menyipitkan mata. "Kau terlalu cepat setuju."

"Karena Ara memang anak baik."

Kenzo dan Kenzi langsung menatapnya tanpa ekspresi. Arabelle tertawa canggung.

"Oke, mungkin tidak terlalu baik."

Kenzi akhirnya mengusap puncak kepala adiknya.

"Jaga dirimu..."

Arabelle tersenyum hangat. "Iya."

"Kami serius."

"Ara juga serius."

Kenzo menutup pintu mobil. "Kami akan datang lagi."

"Jangan sering-sering."

"Kami tidak janji."

Arabelle langsung mengeluh. Saat mobil itu akhirnya pergi meninggalkan lokasi, Arabelle menghela napas panjang.

Arabelle melambaikan tangan saat mobil yang membawa Kenzo dan Kenzi menghilang di tikungan jalan.

"Fiuh..." Gadis itu menghela napas lega. Misinya mempertahankan kebebasan berhasil. Setidaknya untuk hari ini. Arabelle segera berjalan kembali menuju warungnya sambil bersenandung pelan.

Namun, semakin dekat, langkahnya semakin melambat. Senyumnya perlahan menghilang.

"Apa-apaan itu?"

Di depan warungnya terlihat dua pria yang sangat dikenalnya. Ujang dan salah satu anak buahnya. Kedua preman pasar itu sedang mengobrak-abrik warung miliknya. Bahkan, salah satu dari mereka sengaja menjatuhkan termos berisi teh hangat.

Sebuah toples kerupuk dilempar hingga pecah. Kesabaran Arabelle langsung habis.

"Hei!" Suara nyaringnya membuat kedua preman itu menoleh.

Ujang menyeringai. "Oh, pemilik warungnya datang."

Arabelle berjalan mendekat, tatapannya tajam.

"Kalian sedang apa?"

"Apa nggak kelihatan?"

"Kelihatan..." Arabelle tersenyum tipis. "Lagi cari masalah rupanya."

Anak buah Ujang tertawa mengejek. "Gadis kecil mau ngapain?"

Ujang melangkah maju. "Kami cuma memberi pelajaran."

Arabelle meletakkan tasnya di atas kursi yang masih utuh. Kemudian menggulung lengan bajunya.

"Bagus..."

Ujang mengernyit. "Bagus?"

"Iya." Arabelle meregangkan lehernya ke kanan dan kiri.

"Kebetulan aku juga sedang butuh latihan."

Kedua preman itu saling pandang, lalu tertawa keras. Seolah baru mendengar lelucon paling lucu sedunia. Namun, tawa mereka tidak berlangsung lama. Arabelle melesat maju, tinju kanannya menghantam perut anak buah Ujang.

"Ugh!" Pria itu langsung tertekuk. Belum sempat bangkit, sebuah tendangan mendarat tepat di dadanya. Tubuh besar itu terlempar dan menabrak meja.

Ujang melotot. "Kau—"

Pria itu mencoba menyerang tetapi Arabelle lebih cepat. Sejak kecil ia dilatih oleh Alex Vasillo. Belum lagi kedua kakek buyutnya yang selalu mengajarinya berbagai teknik pertahanan diri. Meski sering dimanja keluarga, bukan berarti Arabelle lemah.

Ujang mengayunkan pukulan, Arabelle menghindar dengan mudah. Satu langkah ke samping, tangannya menangkap pergelangan pria itu.

"Aa!" Ujang menjerit, lengannya dipelintir ke belakang. Arabelle menekan sedikit lagi. Wajah Ujang langsung pucat.

"Sakit! Sakit!"

"Nggak kelihatan."

"Ampun!"

"Nggak dengar."

"Ampun, Nona!"

Barulah Arabelle melepaskannya. Ujang langsung jatuh terduduk. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia benar-benar tidak menyangka gadis cantik di depannya memiliki tenaga dan kemampuan seperti itu.

Arabelle menyilangkan tangan.

"Kalian pikir aku gampang ditindas?"

Kedua preman itu buru-buru menggeleng. "Tidak!"

"Kalian merusak warungku. Kalian mengganggu usahaku."

Mereka semakin menunduk.

"Kalian mau ganti rugi atau aku telepon polisi?"

Ujang mengangkat kepala. "Polisi?"

Arabelle tersenyum manis. Senyum yang entah kenapa membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"Iya."

Ujang langsung berdiri. "Kami ganti rugi!"

"Bagus..."

"Kami juga bereskan semuanya!"

"Lebih bagus."

"Kami minta maaf!"

Arabelle tersenyum puas. "Nah, begitu dong."

Selama satu jam berikutnya, kedua preman itu bekerja membersihkan warung di bawah pengawasan Arabelle.

Menjelang siang, suasana di depan warung Arabelle kembali ramai. Para siswa mulai keluar masuk membeli minuman dan camilan. Arabelle yang sedang menyusun botol minuman di etalase tampak tenang.

Sampai suara bising itu terdengar, Arabelle langsung menoleh. Sekelompok remaja dengan motor modifikasi melaju kencang di jalan depan sekolah. Mereka tertawa-tawa sambil saling menyalip.

"Astaga, lagi-lagi mereka."

Beberapa pedagang langsung menggeleng kesal. Kelompok anak motor itu memang sering membuat ulah. Salah satu ban motor menggilas kaleng bekas yang tergeletak di jalan. Kaleng itu melesat ke udara.

"Aduh!" Arabelle memegangi kepalanya.

Kaleng penyok itu tepat menghantam kepalanya. Para siswa yang melihat langsung meringis.

"Itu sakit."

"Tentu sakit!"

Arabelle menatap kesal ke arah anak-anak motor itu. Sayangnya mereka bahkan tidak menyadari apa yang terjadi. Mereka terus melaju sambil tertawa. Kesabaran Arabelle langsung habis.

"Hei!"

Tidak ada yang menoleh.

"Hei kalian!"

Masih tidak ada respons, Arabelle semakin kesal.

"Berhenti!" Tetap saja tidak ada yang peduli. Salah satu anak motor bahkan membunyikan klakson keras-keras.

Arabelle mendengus. "Oke." Ia membungkuk, mengambil sebuah batu kecil di pinggir jalan.

Beberapa pedagang yang melihat langsung punya firasat buruk.

"Ara..."

Namun, gadis itu sudah terlanjur mengayunkan tangan.

"Rasakan itu!"

Batu itu meluncur cepat. Sayangnya target yang bergerak membuat lemparannya meleset. Tepat saat itu sebuah mobil mewah hitam berhenti di pinggir jalan.

Prang!

Batu yang Ara lempar melesat mengenai kaca mobil mewah milik orang lain. Di dalam mobil, suasana semula tenang.

Nathan Pradipta Anderson sedang membaca beberapa dokumen kerja di tablet miliknya ketika suara kaca pecah tiba-tiba mengagetkan semua orang.

Mobil langsung berhenti, Sopir refleks menginjak rem. Sementara salah satu pengawal yang duduk di kursi depan segera menoleh.

"Tuan!"

Nathan mengangkat kepala perlahan. Tatapannya jatuh pada kaca samping yang kini berlubang besar. Beberapa serpihan kaca masih berjatuhan ke jok mobil. Suasana langsung berubah dingin. Pengawal itu menelan ludah.

Selama bertahun-tahun bekerja untuk Nathan, ia tahu betul tanda-tanda bosnya sedang tidak senang.

"Tuan," ujar pengawal itu hati-hati, "seseorang melempar kaca mobil kita."

Nathan menatap lubang di kaca mobilnya. Lalu melirik batu yang tergeletak di dalam mobil. Rahangnya mengeras, bukan karena harga kaca mobil itu. Melainkan karena keberanian seseorang yang melempar benda ke mobilnya di siang bolong.

Nathan meletakkan tabletnya perlahan. "Turun."

Pengawal itu langsung tegak. "Tuan?"

"Dan urus." Suara Nathan terdengar datar.

Namun, justru itulah yang membuat kedua pengawalnya merinding.

"Baik, Tuan." Kedua pengawal segera keluar dari mobil. Sementara, Nathan tetap duduk di tempatnya. Tatapan tajamnya menyapu kerumunan orang di luar.

Matanya berhenti pada seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari sana. Gadis itu terlihat cantik, mengenakan celemek warung. Saat ini sedang menatap mobilnya dengan wajah pucat.

Nathan menyipitkan mata, ada sesuatu yang mencurigakan. Sementara di luar Arabelle hampir pingsan saat melihat dua pengawal berjas hitam keluar dari mobil.

"Astaga..." Arabelle langsung menutup wajahnya.

"Habis sudah..."

Salah satu pengawal mengangkat batu dari dalam mobil. Lalu memperlihatkannya kepada orang-orang sekitar.

"Siapa yang melempar ini?"

Tidak ada yang menjawab.

"Siapa pelakunya?"

Arabelle mulai mempertimbangkan untuk kabur. Tapi itu hanya berlangsung tiga detik. Arabelle langsung mengurungkan niatnya. Dengan langkah pelan, ia mengangkat tangan.

"Itu..."

Semua mata langsung menoleh padanya.

Arabelle tersenyum kaku. "Sepertinya aku pelakunya..."

Kedua pengawal itu menatapnya. Di dalam mobil, Nathan juga melihat gadis yang mengaku bersalah itu. Untuk beberapa detik, pria itu hanya memperhatikannya. Biasanya orang-orang akan kabur atau mencari alasan. Namun, gadis ini malah maju dan mengaku.

Salah satu pengawal mendekati Arabelle. "Anda yang melempar batu ini?"

Arabelle mengangguk pelan. "Iya."

"Sengaja?"

"Tidak!" Jawabannya terlalu cepat.

Bahkan, beberapa siswa sampai menoleh. Arabelle menghela napas.

"Aku sedang mencoba melempar seseorang."

Kedua pengawal mengernyit. "Lalu mengenai mobil?"

"Iya."

"Jadi memang sengaja melempar?"

Arabelle terdiam.

"Oke, kalau dijelaskan seperti itu memang terdengar buruk."

Pengawal itu menatapnya datar.

Bibir Nathan tersungging, dan lalu menyimpan tablet yang ada di tangannya, pria itu turun dari mobil tersebut.

03

Arabelle berdiri canggung di depan mobil mewah itu.

"Aku benar-benar tidak sengaja."

Salah satu pengawal tidak menjawab.

Nathan berhenti tepat di depan Arabelle. Tatapan mereka bertemu, Arabelle menelan ludah.

'Oke! Pria ini jauh lebih menyeramkan dari yang terlihat dari jauh.' Ara menelan ludahnya sendiri.

Nathan melirik warung kecil di belakang gadis itu. Lalu kembali menatap Arabelle.

"Kamu pemilik warung itu?"

"Iya." Sahut Ara segera.

"Kamu tinggal sendiri?"

Pertanyaan itu membuat Arabelle mengernyit. "Kenapa?"

Nathan tidak menjawab. "Kamu kuliah?"

"Tidak!"

"Keluarga?"

"Ada, banyak!" Spontan Ara membuat Mohan mengerutkan kening.

Nathan mengangguk pelan. Jawabannya singkat dan tidak bertele-tele.

Sementara Arabelle mulai curiga.

"Maaf..."

Nathan menatapnya.

"Yang pecah kaca mobil Bapak atau biodata saya?"

Kedua pengawal langsung menunduk menahan tawa. Nathan sendiri hanya mengangkat sebelah alis. Wanita ini cukup berani pikirnya.

"Keduanya berkaitan."

"Nggak juga..." Sela Ara.

Nathan hampir tersenyum. Tatapannya kembali mengamati Arabelle. Cara gadis itu berdiri, cara dia mengaku bersalah tanpa kabur. Cara dia menghadapi dua pengawalnya tanpa takut. Ia juga sempat melihat gadis ini memarahi sekelompok anak motor. Tidak banyak wanita yang memiliki keberanian seperti itu.

Tiba-tiba Nathan teringat sesuatu. Tiga sumber migrain dalam hidupnya. Tiga anak yang membutuhkan seseorang yang cukup tegas untuk menghadapi mereka. Dan entah kenapa, saat melihat Arabelle. Satu pikiran aneh muncul di kepala Nathan.

Nathan langsung mengernyit.

'Kenapa aku berpikir begitu?'

Namun, semakin diperhatikan semakin masuk akal. Gadis ini berani, tidak mudah takut dan terlihat cukup keras kepala.

Arabelle yang tidak tahu isi pikiran Nathan mulai gelisah.

"Jadi..."

Nathan menatapnya.

"Berapa biaya ganti ruginya?"

"Apa?"

"Kacanya..." Ujar Ara sembari menunjuk ke arah mobil Nathan.

Arabelle mengeluarkan ponsel.

"Aku bisa mencicil."

Nathan terdiam.

"Aku punya tabungan."

Nathan tetap diam.

"Mungkin nggak cukup ... tapi aku bisa kerja keras."

Nathan akhirnya membuka suara.

"Saya tidak mau uangmu."

Arabelle berkedip. "Hah?"

"Saya tidak butuh uang."

Kening Arabelle berkerut, kalau tidak mau uang lalu maunya apa.

Nathan menyilangkan tangan.

"Saya ingin menawarkan sebuah pekerjaan."

Arabelle semakin bingung.

"Pekerjaan?"

"Ya."

"Pekerjaan apa?" Bingung Ara.

Nathan menatapnya beberapa detik. Kemudian berkata dengan tenang.

"Menjadi ibu."

Angin yang lewat seolah ikut berhenti, Arabelle berkedip. Lalu menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?!"

Nathan mengangguk.

"Iya."

Arabelle tertawa kecil.

"Oh."

Lalu tertawa lagi. "Hahaha."

Kemudian tertawa semakin keras. "Hahahahaha!"

Nathan tetap diam, Arabelle akhirnya berhenti tertawa. Melihat wajah Nathan yang terlalu serius. Senyumnya perlahan menghilang.

"Tunggu!"

Nathan tetap diam.

"Bapak serius?"

"Sangat serius." Jawab Nathan.

Arabelle menatap pria itu seperti sedang melihat alien turun dari langit.

"Bapak baru kenal aku lima menit."

"Kurang lebih."

"Bapak bahkan nggak tahu nama aku, kan?"

"Benar..."

"Lalu Bapak minta aku jadi ibu?"

"Ibu tiri."

Arabelle hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Ibu tiri?!" teriak Ara tidak percaya.

Nathan mengangguk tenang.

"Untuk tiga anak saya."

Mata Arabelle langsung membulat.

'Tiga anak? Yang benar saja. Aku bahkan belum menikah, belum punya pacar. Dan sekarang seorang pria asing tiba-tiba meminta ku menjadi ibu tiri tiga anaknya?

Ini jelas lebih gila daripada preman pasar.' Gerutu Ara dalam hatinya.

"Ibu tiri tiga anak?" Arabelle menunjuk dirinya sendiri.

Lalu menunjuk Nathan, kemudian kembali menunjuk dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian,

"Oh, jadi..." Arabelle menepuk tangannya.

"Wah, penawaran menarik."

Nathan menatap datar.

Arabelle lalu berkata dalam bahasa Inggris dengan wajah polos, "Buy one get three free."

Mohan langsung menundukkan kepala. Kedua pengawal memalingkan wajah.

Sementara Arabelle tertawa sendiri.

"Hahahaha!" Semakin lama semakin keras.

"Hahahahaha!"

Nathan berdehem pelan.

"Ehem!"

Arabelle langsung berhenti seketika, seolah tombol on dan off miliknya baru saja ditekan.

"Maaf..." Ujar Ara.

Nathan mengusap pelipisnya. Ini pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang yang menganggap proposal pernikahannya sebagai bahan bercanda.

Mohan segera mendekat. Sebuah tablet berada di tangannya.

"Tuan..."

Nathan menerima tablet itu. Layar menampilkan data yang baru saja dikumpulkan anak buahnya.

Nathan membaca sekilas. Lalu mengembalikan tablet tersebut. Tatapannya kembali tertuju kepada Arabelle.

"Kamu harus menjadi ibu dari ketiga anak saya."

Arabelle membuka mulut.

Namun Nathan belum selesai. "Tenang saja."

Nathan menyilangkan tangan. "Mereka bukan bayi."

"Syukurlah..." Lega Ara.

"Mereka sudah dewasa."

Arabelle mengangguk. "Itu lebih baik."

"Anak pertama semester akhir kuliah."

Arabelle mengangguk lagi. "Bagus..."

"Anak kedua kelas tiga SMA."

"Masih aman..."

"Anak ketiga kelas tiga SMP."

Arabelle mulai merasa tidak aman.

Nathan melanjutkan. "Kalau kamu menolak."

Arabelle langsung punya firasat buruk. Nathan menunjuk warung kecil di belakangnya.

"Warungmu akan digusur."

Senyum Arabelle menghilang. Nathan tetap berbicara dengan nada tenang.

"Tempat ini akan dibeli."

"Apa?!"

"Lalu dibangun swalayan keluarga kami."

Mata Arabelle membulat.

"Apa?!"

Nathan tetap tenang.

"Kamu tidak akan bisa berjualan di sini lagi."

Arabelle menatap warungnya. Kemudian menatap Nathan. Lalu menatap warungnya lagi. Dalam hati, ia langsung memikirkan berbagai kemungkinan. Kalau dia menelepon Kenzo, mungkin masalah akan selesai. Kalau dia menelepon Kenzi, masalah juga selesai. Kalau dia menelepon Daddy nya, Nathan mungkin yang akan mendapat masalah.

Namun, ada satu konsekuensi besar. Dia pasti akan diseret pulang, dan itu berarti kalah. Perjanjiannya satu tahun akan berakhir hanya dalam satu bulan.

'Tidak boleh!' Arabelle langsung menggeleng kuat-kuat.

Nathan mengangkat alis.

"Itu berarti setuju?"

"Tidak!"

"Lalu?" Tanya Nathan bingung.

"Aku punya syarat."

Nathan terdiam, Mohan juga ikut terdiam. Entah kenapa mereka merasa syarat ini tidak akan normal.

Nathan mengangguk. "Sebutkan..."

Arabelle mengangkat satu jari.

"Pertama,"

Nathan menunggu.

"Aku tetap jualan."

Kening Nathan berkerut. "Oke."

Arabelle mengangkat jari kedua.

"Kedua,"

Nathan menghela napas.

"Aku tetap jualan..."

Mohan berkedip, Nathan menatapnya.

"Itu sama."

"Belum selesai..."

Arabelle mengangkat jari ketiga.

"Ketiga,"

Nathan mulai kehilangan kesabaran.

"Aku harus tetap jualan!"

Mohan menatap Arabelle. Lalu menatap Nathan. Kemudian menatap langit. Ia merasa pekerjaannya semakin sulit setiap hari.

Nathan memijat pelipis.

"Tiga syarat mu sebenarnya satu syarat."

"Tidak."

"Itu satu."

"Itu tiga."

"Itu satu."

"Itu tiga."

Nathan menatapnya tanpa ekspresi. Arabelle balas menatap tanpa takut. Beberapa detik berlalu. Sampai akhirnya Nathan menghela napas panjang.

Wanita ini keras kepala dan sangat keras kepala. Dan anehnya, semakin lama ia berbicara dengan Arabelle, semakin yakin Nathan bahwa gadis ini memang cocok menghadapi Elang, Theo, dan Alya. Karena untuk menghadapi tiga anaknya, dibutuhkan seseorang yang sama keras kepalanya.

Nathan akhirnya membuka suara.

"Kamu benar-benar suka berjualan?"

"Aku suka menghasilkan uang sendiri."

Jawaban itu keluar tanpa ragu. Nathan memperhatikannya beberapa saat. Kemudian mengangguk pelan.

"Baik."

Mata Arabelle langsung berbinar.

"Serius?"

"Kamu boleh tetap berjualan."

"Yes!"

"Tapi setelah menikah."

Senyum Arabelle membeku. Nathan melanjutkan dengan tenang.

"Dan mulai besok kamu ikut saya pulang."

"Apa?!" Suara Arabelle menggema di seluruh jalan.

Sementara Nathan berbalik menuju mobilnya. Bagi Nathan, keputusan sudah dibuat. Sedangkan bagi Arabelle, kehidupannya baru saja berubah total hanya karena sebuah batu yang salah sasaran.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!