Mantra terpenting dalam hidup Arash hanya ada satu: Jangan menengok, jangan merespons, dan pura-pura bodoh.
Prinsip itu sudah dia pegang teguh sejak saat ia kecil, dimana ia dan ibunya hampir menjadi bagian dari dunia ghoib.
Sejak saat itu, Arash tahu cara kerja dunia gaib. Mereka itu seperti anjing galak; makin kita takut atau makin kita sok tahu menunjukkan kalau kita bisa melihat mereka, mereka akan semakin melunjak dan bertingkah.
Maka dari itu, Arash memilih menjadi aktor terbaik di dunia spiritual. Dia melatih matanya untuk menatap lurus menembus makhluk-makhluk mengerikan seolah mereka hanyalah udara kosong.
Seperti malam ini.
Arash baru saja pulang dari pengajian bulanan di masjid raya.
Cowok berusia 17 tahun itu mengendarai motor matic-nya dengan kecepatan sedang membelah jalanan pinggiran kota yang mulai sepi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sinar lampu jalanan yang remang-remang membuat atmosfer sekitar terasa kian mencekam.
Di sebuah pertigaan dekat pohon kapuk tua, lampu merah menyala. Arash menghentikan motornya.
Dia mendesah pelan, merapatkan jaket denimnya untuk menghalau angin malam yang mendadak terasa dingin menusuk tulang.
“Astagfirullah…” desis Arash dalam hati begitu pandangannya tidak sengaja menangkap sesuatu di atas dahan pohon kapuk.
Ada sesosok kuntilanak dengan gaun putih yang sudah koyak-koyak dan berlumuran tanah, sedang duduk berayun-ayun sambil tertawa melengking yang memilukan. Rambutnya yang panjang meranggas menjuntai ke bawah.
Arash tidak berkedip. Wajahnya tetap lempeng, sedatar tripleks toko bangunan. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jaket, pura-pura mengecek pesan masuk dengan santai, sementara tangan kirinya yang berada di bawah stang motor sudah meremas tas tasbihnya kuat-kuat sambil merapalkan Ayat Kursi di dalam dada.
Sang kuntilanak menyadari keberadaan Arash. Makhluk itu meluncur turun dari dahan, melayang mendekat, lalu mencondongkan wajahnya yang hancur tepat di samping kaca spion motor Arash. Bau busuk bangkai langsung menyeruak.
“Lihaaat akuuu… kamu bisa lihat akuuu, kan? Pura-pura yaaa…” bisik suara parau itu, tepat di telinga kanan Arash.
Jantung Arash bergedup kencang, namun otot-otot wajahnya menolak untuk berkompromi. Dia tetap menatap layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke saku.
Detik-detik lampu merah terasa seperti satu abad. Begitu lampu berubah hijau, Arash langsung menarik gasnya dalam-dalam, meninggalkan kepulan asap tipis dan sesosok hantu yang mendengus kecewa karena gagal mendapat panggung.
Satu poin untuk Arash, batinnya lega. Aktingnya sukses lagi.
Namun, ketenangan Arash tidak bertahan lama.
Sekitar dua kilometer dari pertigaan itu, tepat di area jalanan sepi yang kanan-kirinya masih berupa kebun kosong, motor Arash mendatangkan sensasi aneh.
Setirnya mendadak terasa berat, dan bagian belakang motornya ambles ke bawah seolah-olah dia baru saja membonceng seseorang yang beratnya seratus kilogram.
Hawa sedingin es langsung merayap dari jok belakang, menembus jaket tebalnya.
Arash menghela napas lelah.
Apalagi ini? Pocong lagi? Atau genderuwo numpang mudik?
Sesuai SOP pribadi, Arash menolak untuk melihat ke kaca spion. Dia fokus menatap aspal di depannya. Tapi kali ini, penumpangnya benar-benar tidak tahu sopan santun.
Sepasang lengan yang putih santun, aneh, bukan putih pucat seperti hantu pada umumnya tiba-tiba melingkar erat di pinggang Aras.
Arash tersentak kecil, hampir saja kehilangan keseimbangan motornya.
"Ih, Masnya wangi banget! Wangi minyak kasturi ya? Adem banget deh kayak ubin masjid!" sebuah suara perempuan terdengar.
Tapi suara ini sama sekali tidak parau, tidak melengking, juga tidak menyeramkan. Suaranya renyah, ceria, dan kelewat berisik untuk ukuran makhluk halus.
Arash tetap membisu. Dia komat-kamit membaca doa, berharap makhluk di belakangnya kepanasan dan segera melompat turun.
"Mas? Mas ganteng? Kamu denger aku gak sih?" Roh cewek itu mulai bertingkah. Dia menggeser posisi duduknya menjadi menyamping, lalu melayangkan tubuhnya ke depan.
Kini, wajah cewek itu berada tepat di samping wajah Arash, ikut menatap ke depan sambil bertumpu pada pundak Arash. Arash bisa melihatnya dari sudut mata, cewek itu sangat cantik, rambutnya hitam panjang terurai indah, mengenakan pakaian hitam tanpa lengan, dan matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
Masalahnya, tubuh bagian bawah cewek ini agak transparan dan tidak menapak pada pijakan kaki motor.
"Kok dicuekin sih? Padahal aku udah dandan secantik ini loh buat nyari bantuan," keluh roh cewek itu sambil memajukan bibirnya, merajuk.
"Masa cowok seganteng dan sesholeh kamu tega ngebiarin cewek cantik terlantar di jalanan gaib? Mana banyak om-om genderuwo matanya genit lagi tadi di belakang!"
Arash mati-matian menahan kedutan di bibirnya agar tidak tersenyum ataupun berteriak. Ini hantu jenis apa? Kenapa agresif dan kurang kerjaan begini?
Merasa tidak mendapat respons, jiwa setan gatel dari roh tersebut tampaknya mulai meronta. Dia tidak suka diabaikan. Roh cewek itu sengaja melayangkan tangan kanannya ke depan mata Arash, melambai-lambai dengan rusuh.
"Permisiii! Hellooo! Ada orang di dalam sana? Atau Masnya emang lagi cosplay jadi patung manekin?"
Arash memejamkan mata sekejap, lalu membukanya lagi. Fokus pada jalanan. Fokus.
"Oh, mau main tahan-tahanan ya? Oke, siapa takut!" Roh cewek itu tersenyum licik. Dia tiba-tiba memajukan wajahnya hingga jarak hidungnya dan pipi Arash hanya tersisa beberapa senti.
Dia mulai meniup-niup telinga Arash. "Fuuh... Fuuuh... Dingin gak? Dingin dong, kan aku spek kulkas dua pintu..."
“Astagfirullahaladzim…” Arash meracik zikir dalam hatinya secepat kilat.
Telinganya terasa beku, tapi yang lebih berbahaya adalah jantungnya yang mulai berdegup tidak karuan karena jarak mereka yang kelewat dekat.
"Wah, dadanya deg-degan! Berarti Mas bisa ngerasain aku, kan?! Iya, kan?!"
Roh cewek itu memekik kegirangan, matanya berbinar menang judi. Dia langsung mencengkeram kerah jaket denim Arash dengan kedua tangannya, menariknya sedikit hingga tubuh Arash agak condong ke arahnya.
"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka sama aku loh!"
Arash menggertakkan giginya. Tangannya mencengkeram stang motor begitu kuat hingga urat-uratnya menonjol. Ini adalah ujian iman, mental, dan akting terberat dalam sejarah hidupnya sebagai seorang indigo.
Bagaimana mungkin dia bisa mempertahankan akting "buta gaib" nya.
...____...
...Hallo guys! welcome di kamar baru Mommy ☺...
...Genre terbaru, semoga bisa tamat deh ya 🤣...
...Update suka suka, ...
...Kalau rame, lanjut, kalau sepi, dahlah biang ke kuburan aja 🤣🤣🤣...
"Alhamdulillah," Arash bernapas lega saat sudah tiba di depan rumah.
Motor matic-nya buru-buru ia standar di garasi. Dengan gerakan cepat yang sedikit tidak sabaran, dia menoleh ke belakang, memastikan jok motornya benar-benar kosong.
Untunglah, kuntilanak centil yang tadi gelantungan di bahunya sambil menarik-narik kerah jaket denimnya sudah tidak mengikutinya lagi.
Entah makhluk astral itu bosan karena terus-terusan dicuekin, atau dia memang kalah kuat dengan hawa pagar gaib rumah Arash.
Arash buru-buru masuk ke dalam rumah, mengunci pintu kayu rapat-rapat seolah sedang memblokir seluruh gangguan dunia luar.
"Assalamualaikum, Bunda. Arash pulang!" seru Arash dengan volume suara yang dijaga agar tidak membangunkan seisi rumah.
"Waalaikumsalam, kok baru pulang sayang?" tanya Fatimah yang tiba-tiba muncul dari arah dapur, menyalami anak sulungnya itu.
Fatimah tampak sedang membawa segelas air putih, wajahnya guratan keibuan yang selalu menenangkan hati Arash.
"Iya Bun, tadi Arash kan nganterin Doni dulu Bun, jadi agak telat sampainya," jawab Arash beralasan.
Dia sengaja menyembunyikan fakta kalau keterlambatannya malam ini adalah akibat drama "tarik-ulur" dengan hantu cegil di jalanan sepi tadi.
Bisa-bisa Bundanya cemas setengah mati kalau tahu bakat indigo Arash sedang diuji oleh hantu spek kulkas dua pintu.
"Ya sudah, buruan istirahat gih, besok ulangan loh kamu," nasihat Fatimah lembut sambil mengusap pundak anak laki-lakinya.
"Iya iya Bun," Arash tersenyum tipis, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim sebelum melangkah pergi.
Arash segera menaiki tangga kayu yang menuju ke lantai dua dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Kamar berukuran 4 \times 5 meter itu didominasi oleh cat dinding berwarna abu-abu minimalis.
Ada sebuah kasur queen size, meja belajar yang rapi dengan tumpukan buku pelajaran SMA, dan sebuah sajadah yang selalu terhampar rapi di sudut dekat jendela.
Bagi remaja berusia 17 tahun seperti Arash, kamar ini adalah zona nyaman mutlak sebuah safe house.
Di ruangan ini, Arash sudah memastikan secara spiritual, apalagi dengan rutinitas ibadah dan doa-doa yang selalu digaungkannya, tidak akan pernah ada yang namanya setan berani menapakkan kaki.
Di sini, dia bisa menjadi Arash yang biasa, tanpa perlu memakai topeng "pura-pura buta huruf soal hal gaib."
Sambil menghela napas panjang, Arash melepas jaket denimnya, melemparkannya ke atas kursi belajar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk.
Matanya menatap langit-langit kamar yang polos.
"Gila... hantu zaman sekarang makin agresif aja," gumam Arash sendirian, memijat pelipisnya yang mendadak pening.
"Kuntilanak kok pakai baju tanpa lengan warna hitam? Mana wangi kasturi dibilang wangi ubin masjid lagi. Kurang sajen apa gimana itu setan..."
"Siapa yang kamu sebut setan, Mas Sholeh?"
DEG!
Suara renyah, ceria, dan kelewat akrab itu terdengar tepat di atas kepalanya. Suara yang seharusnya tidak mungkin ada di dalam kamar yang sudah disterilkan dengan doa ini.
Jantung Arash rasanya mau copot.
Otot-otot tubuhnya mendadak kaku. Dengan gerakan super lambat, dia melirik ke arah kanan kasurnya.
Di sana, tepat di atas bantalnya, roh cewek berambut hitam panjang yang tadi memeluknya di motor sedang berbaring menyamping.
Dia menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi memainkan ujung rambutnya sendiri dengan gaya centil.
Gaun hitamnya yang tanpa lengan tampak kontras dengan sprei kasur Arash yang berwarna biru dongker.
"Kok mukanya kaget gitu sih? Katanya tadi buru-buru pulang karena kangen aku?" goda roh cewek itu tanpa berdosa.
Arash langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Jiwa aktor indigonya langsung aktif kembali secara refleks.
Ini halusinasi. Ini cuma sisa-sisa energi negatif di jalan tadi. Di kamar ini gak ada setan. Gak ada hantu cegil!
"Mas... jangan merem dong. Aku tahu ya kamu cuma pura-pura merem!" Roh cewek itu bergeser naik, kini posisinya berlutut di atas kasur tepat di samping tubuh Arash yang telentang kaku.
Dia mencondongkan tubuhnya ke bawah, wajah cantiknya hanya berjarak beberapa sentimeter di atas wajah Arash.
"Tadi di motor aku maklumin deh kamu jaim karena di jalan gede. Sekarang kan kita udah di kamar berduaan. Ayo dong, buka matanya~"
Hawa dingin yang menusuk tulang mulai terasa lagi di permukaan kulit Arash. Bau harum yang aneh perpaduan antara bunga melati dan wangi vanilla, tercium sangat dekat.
Arash merapatkan bibirnya, menolak untuk merespons. Dalam hati, dia sibuk merapalkan zikir dengan kecepatan maksimum.
'Ya Allah, kuatkan iman hamba-Mu dari cobaan setan berwujud ukhti gaib ini...'
"Ih, malah komat-kamit! Kamu lagi baca doa buat ngusir aku ya?" Roh cewek itu merengut kesal.
Jiwa cegilnya tampaknya mulai gemas karena diabaikan terus-menerus.
Dia tiba-tiba menjulurkan kedua tangannya, meraih kerah kaos putih yang dikenakan Arash, lalu menariknya sedikit ke atas hingga punggung Arash agak terangkat dari kasur.
"Buka mata gak?! Kalau gak buka, aku tiup nih kupingnya sampai beku!"
Arash mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh.
Tarikan di kerah kaosnya terasa nyata. Meskipun makhluk ini adalah roh, entah bagaimana dia punya energi spiritual yang cukup kuat untuk menyentuh fisik Arash.
Pertahanan Arash runtuh sedikit; dia tidak bisa menahan kedutan di kelopak matanya.
"Ah! Matanya gerak-gerak! Tuh kan, ketahuan!" Roh cewek itu memekik kegirangan, senyumnya melebar penuh kemenangan.
Dia melepaskan cengkeraman di kerah Arash lalu bertepuk tangan riang di atas wajah Arash, membuat beberapa helai rambut gaibnya jatuh mengenai pipi cowok itu.
"Mas Arash yang ganteng, yang sholeh, yang rajin mengaji... mengaku sajalah. Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Arash sudah berada di batas kesabarannya. Akting menembus udara kosong yang dia latih selama sepuluh tahun hancur lebur malam ini, di kamarnya sendiri, oleh sesosok hantu yang bahkan tidak tahu adab perhantuan.
Dengan satu hentakan napas gusar, Arash membuka matanya lebar-lebar. Dia menatap lurus ke dalam manik mata roh cewek di atasnya dengan pandangan tajam dan penuh emosi.
"Allahuakbar! Bundaaaaaaaa!"
Arash membuka mata dan terkejut melihat kuntilanak itu tepat di depan wajahnya.
Jarak mereka benar-benar tidak sampai lima sentimeter!
Wajah yang tadinya terlihat cantik jelita di bawah lampu remang jalanan, kini berubah total menjadi sedekat ini.
Mata roh cewek itu melotot jenaka, tapi hawa dingin yang pekat langsung menyergap seluruh permukaan kulit Arash.
Ini bukan lagi sekadar godaan tipis-tipis, wajah roh cegil itu benar-benar mengunci pandangannya dengan senyum lebar yang kelewat mengerikan untuk ukuran kamar tidur yang tenang.
Pertahanan akting "pura-pura buta gaib" yang dibangun Arash selama sepuluh tahun runtuh sehancur-hancurnya dalam satu detik. Rasa syok, merinding, dan panik bercampur menjadi satu, meledak tepat di ujung tenggorokannya.
"Allahuakbar! bundaaaaaa!"
Arash berteriak sekencang mungkin, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian malam rumah mereka.
Saking paniknya, Arash melompat dari kasur dengan gerakan kayang yang tidak estetis sama sekali. Kakinya sempat tersangkut ujung sprei hingga dia berguling di lantai abu-abu kamarnya.
Tanpa memedulikan rasa sakit di pinggang atau penampilannya yang acak-acakan, dia bangkit berdiri secepat kilat.
Arash langsung memutar knop pintu, membantingnya terbuka, dan berlari keluar kamar sekencang yang dia bisa, seolah-olah sedang dikejar malaikat maut.
Langkah kakinya yang berat bergedebuk di atas tangga kayu saat dia setengah melompat menuruni anak tangga menuju kamar orang tuanya di lantai bawah.
"Ayah! Bunda buka pintunya!"
*Tok tok tok! Tok tok tok!*
Arash menggedor pintu kayu jati kamar orang tuanya dengan brutal, menggunakan kedua telapak tangannya. Napasnya memburu, keringat dingin sebesar biji jagung sudah membanjiri pelipisnya.
"Bundaa! Buka bundaaa!" teriaknya lagi, hampir menangis saking histerisnya.
Bayangan wajah roh cewek tanpa lengan yang menatapnya lekat-lekat tadi masih berputar-putar di kepalanya seperti film horor berkualitas 4K.
Tak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu kamar orang tuanya terbuka, menampilkan sosok sang ibu dengan gurat wajah yang sangat cemas.
"Astaghfirullah Arash, kamu kenapa nak?" tanya Fatimah panik.
Dia langsung memegang kedua pundak anak sulungnya yang gemetaran hebat.
Belum sempat Fatimah mendapat jawaban, sosok sang ayah, Arfin, muncul dari belakang istrinya dengan wajah mengantuk yang langsung berubah tegang.
"Ayah! Di kamar arash, itu kamar arash!" Arash menunjuk-nunjuk ke arah lantai dua dengan jari yang bergetar. Suaranya panik, serak, dan putus-putus.
Arfin membenarkan letak sarung samarnya yang agak melorot akibat terbangun mendadak.
(Ini beneran melorot gak sengaja ya! jangan suudzon 🙈)
Sebagai kepala keluarga, dia mencoba bersikap tenang meskipun jantungnya ikut berdegup melihat ketakutan luar biasa di mata anak laki-lakinya.
Dengan langkah tegas, Arfin berjalan menaiki tangga menuju kamar anak sulungnya, diikuti oleh Arash yang berjalan menyelinap di belakang punggung lebar ayahnya, menjadikan Arfin sebagai tameng hidup.
Begitu pintu kamar abu-abu itu dibuka lebar...
Kosong! Tidak ada apapun di sana. Kamar berukuran 4 \times 5 meter itu tampak rapi seperti semula.
Kasurnya sedikit berantakan bekas Arash melompat tadi, tapi tidak ada sosok kuntilanak berbaju hitam, tidak ada hantu, tidak ada makhluk halus jenis apa pun.
Hanya ada gorden jendela yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Tidak ada apa-apa, tapi anaknya ketakutan setengah mati.
"Ada apa Arash? Gak ada apa-apa," ucap Arfin sambil melangkah masuk, mengedarkan pandangannya ke kolong tempat tidur dan ke balik lemari pakaian.
"Ada, ayah, itu tadi ada anu!" Arash masih ketakutan, matanya bergerak liar menyisir setiap sudut langit-langit kamar, khawatir si roh cegil mendadak muncul sambil merayap terbalik seperti cicak.
"Apa sih? Coba kamu lihat sini!" titah Arfin sambil menyalakan lampu utama kamar hingga ruangan itu terang benderang.
Arash akhirnya ikut ayahnya masuk dengan langkah ragu-ragu, menapakkan kakinya di atas lantai kamar yang terasa lebih hangat dari sebelumnya.
Dan benar saja. Kamar itu kosong melongpong. Roh cewek yang tadi menarik-narik kaosnya seolah lenyap ditelan bumi.
Seketika, akal sehat Arash kembali berputar. *Waduh,* batinnya berteriak.
Kalau dia jujur bilang melihat kuntilanak atau roh gentayangan, penyamarannya sebagai anak normal selama bertahun-tahun akan terbongkar malam ini juga.
Ayah dan Bundanya pasti akan kembali cemas dan teringat trauma masa kecil mereka yang hampir dibawa oleh sosok gaib hitam besar itu.
Arash tidak mau merusak ketenangan keluarganya. Dia harus mencari alasan rasional secepat mungkin, apa pun itu, asal bukan hantu.
"Ada apaan emang?" tanya Arfin sekali lagi, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Arash penuh selidik.
Arash menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari kambing hitam.
"Oh itu... tadi ada tikus Yah, iya ada tikus!" jawab Arash asal, sambil memaksakan senyum kaku yang terlihat sangat tidak meyakinkan.
Arfin menghela napas berat, menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban super antiklimaks dari anaknya yang bertubuh bongsor itu.
"Kamu ini, masa anak cowok takut tikus. Sampai gedor-gedor pintu kamar Ayah malam-malam kayak ada gempa bumi."
"Ih, ayah gak lihat sih..." Arash membela diri, matanya mendadak menangkap siluet transparan berambut panjang yang tiba-tiba muncul di atas lemari baju, sedang duduk bersila sambil melambai-lambaikan tangan padanya dengan wajah tanpa dosa.
Sambil menahan kedutan di matanya agar tidak ketahuan Ayahnya, Arash melanjutkan kalimatnya dengan spontan, "Tikusnya beda, dia berdasi!"
Arfin melotot, dahinya berkerut dalam. "Tikus bberdasi! ngawur kamu!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!