Hari ini Luna gembira sebab suaminya akan pulang. Suaminya telah bertugas selama dua bulan tanpa kabar berita. Dan kini tiba-tiba mengirim kabar kalau dia kan pulang hari ini. Anjas meminta Luna tidak ke mana-mana menunggunya pulang.
Wanita mana tak bahagia bakal jumpa suami yang dia cintai. Luna mencintai Anjas tanpa syarat. Tak sekalipun Luna menuntut ini itu dari Anjas termasuk memaksa Anjas berada di sisinya selalu.
Luna tahu diri tak berani meminta lebih asalkan Anjas bertanggungjawab terhadap dirinya dan buah hati mereka.
Luna sengaja memasak lebih banyak menunggu kehadiran suaminya. Sebelumnya Luna tinggal sendirian tetapi setelah Luna hamil Anjas meminta Luna mencari kawan. Kebetulan dekat rumah ada seorang janda tua hidup sebatang kara. Luna rekrut janda tua itu menemaninya selama Anjas mencari rezeki.
Luna memasak ditemani mbok Yem yang sudah dia anggap seperti ibu sendiri. Mbok selalu ada untuk Luna walau tidak menemani Luna bila malam tiba. Mbok Yem pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Luna.
Wajah Luna berseri-seri menunggu kehadiran suami yang sudah dua bulan tak ada kabar. Kepulangan Anjas menjadi kabar terbaik pernah diterima Luna.
Mbok Yem memperhatikan kebahagiaan Luna sambil membayangkan masa muda yang tak jauh beda dengan Luna. Setiap hari menunggu kepulangan suami tapi pada akhirnya dia mendapatkan kekecewaan. Suaminya kembali membawa keluarga baru meminta mbok Yem terima kehadiran madunya.
Mbok Yem tak terima berakhir perceraian. Mbok Yem menjalani hari-hari kelabu tanpa ada teman hidup. Anak juga tak punya sehingga hatinya semakin kelam.
Mbok Yem berharap Luna tak mengalami nasib seperti dirinya. Suami jarang pulang berakhir kepahitan. Mbok Yem kenal Luna sebagai anak baik. Tak banyak menuntut walau sering ditinggal kerja.
Akhirnya Luna berhasil menyelesaikan masakan menyambut suami. Tinggal tunggu Anjas pulang membawa kegembiraan bagi Luna. Tidak ada yang lebih membahagiakan Luna selain kehadiran suaminya. Tidak perlu hadiah apapun asalkan Anjas sering pulang.
Luna akhiri kegiatan di dapur lalu mandi menunggu orang penting dalam hidupnya. Lelaki yang menjadi tiang sandaran bagi Luna. Luna telah mempercayakan seluruh hidupnya kepada Anjas.
Luna baru saja menikmati waktu santai setelah menghabiskan sebagian waktu di dapur. Deringan telepon di meja ruang tamu mengusik ketenangan jiwa Luna.
Secepat kilat Luna menyambar benda pipih di atas meja mengira itu adalah panggilan masuk dari orang yang dia tunggu. Hati Luna berbunga-bunga menerima panggilan yang dia tunggu-tunggu dari tadi.
Kegembiraan Luna sedikit mencair tatkala melihat nama yang tertera di layar ponsel. Bukan dari orang yang dia harapkan namun Luna menerima panggilan itu. Luna menempelkan benda itu di telinga setelah klik bulatan hijau.
"Halo assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Bu Luna... Maaf mengganggu waktu istirahat ibu! Ini ada pasien ibu dari jauh. Dia sangat berharap bisa berjumpa dengan ibu."
"Bukankah sudah kukatakan hari ini aku tidak praktek?"
"Sudah kukatakan Bu tetapi orangnya bersikeras ingin bertemu dengan ibu karena dulu Ibu yang mengoperasi dia."
"Memangnya Dia berasal dari mana?"
"Katanya berasal dari ibukota... Sebelumnya dia adalah pasien ibu yang sudah sembuh. Dia ingin kontrol ulang penyakitnya."
Luna menghela nafas tidak bisa mengabaikan nasib pasiennya. Apalagi orangnya datang dari jauh hanya untuk bertemu dengannya. Luna harus bertanggung jawab sebagai seorang dokter. Luna sudah terpilih menjadi seorang dokter maka dia wajib memikirkan kesehatan setiap pasien.
"Baiklah... Aku akan ke sana." Luna mengalah mengingat orang datang dari jauh hanya untuk check up. Itu tandanya dia menghargai Luna sebagai dokternya. Sebagai balasannya Luna juga harus menjaga perasaan orang itu.
Luna memberi pesan kepada mbok Yem untuk jaga rumah sampai dia kembali. Mengurus seorang pasien tidak akan memakan waktu yang lama. Paling juga setengah jam sudah selesai. Maka itu Luna bergegas berangkat ke tempat prakteknya yang tidak jauh dari rumah. Paling hanya memakan waktu 10 menit.
Luna mengeluarkan motor matic kesayangan yang akan mengantarnya ke tempat kerja. Pagi Luna bertugas di rumah sakit sedangkan di sore hari Luna buka praktek barengan sama dengan dokter lain di salah satu klinik tak jauh dari rumah.
Luna mengurangi kegiatan sejak perutnya semakin menggunung. Usia kehamilan Luna sudah 7 bulan lebih jadi dia harus banyak istirahat agar tubuh tetap fit jelang hari kelahiran. Paling aktivitas kecilan di sekitar Klinik. Luna sudah ajukan cuti bertugas di rumah sakit. Sekarang Luna fokus menjaga kehamilan agar tak ada kendala melahirkan nanti.
Tak butuh waktu lama akhirnya motor matic Luna berhenti di Klinik tempat dia bekerja. Suasana lumayan ramai dipenuhi pasien-pasien yang datang mencari kesembuhan.
Luna ayunkan langkah masuk ke klinik mengharap tak ada pasien lain selain pasien datang dari luar kota. Luna ingin cepat pulang menyambut kehadiran suaminya. Luna tak sangkal kalau dia rindu pada suaminya yang tidak pulang selama dia bulan. Terakhir dia pulang tanpa nginap. Begitu jumpa Luna dia langsung balik ke kota tempat dia bekerja.
Anjas selalu gunakan sibuk di kantor sebagai alasan tidak pulang jenguk Luna. Selama mereka menikah Anjas cuma berkunjung tiga empat kali. Itu hanya satu hari tanpa peduli bagaimana perasaan Luna selalu ditinggal pergi.
Luna berusaha pikir positif tanpa pikir yang aneh-aneh. Luna hanya tahu Anjas sedang berjuang untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka. Acuan Luna hanyalah satu panggilan telepon dari Anjas. Hampir setiap hari Anjas mencari kabar tentang kesehatannya. Itu sudah cukup memuaskannya ego Luna sebagai istri terabaikan.
"Bu dokter..." seseorang menyadarkan Luna dari lamunannya.
"Eh Siti...mana pasiennya?" Luna bertanya dengan ramah buang jauh image dokter sombong. Menjadi dokter tidak perlu arogan merasa sudah menjadi manusia paling hebat. Skill itu amanah dari Allah jadi wajib dibagikan kepada orang yang memerlukan bantuan dokter.
"Sudah di ruang praktek Bu dokter..."
"Ada berapa pasien?"
"Cuma satu Bu... Bukankah hari ini ibu tidak terima pasien?" Perawat yang menjadi asisten Luna terkekeh melihat Luna agak linglung. Dia sendiri lupa kalau hari ini tidak terima pasien. Luna sudah duluan kasih tahu jangan terima pasien sebab ada orang paling penting dalam hidupnya akan datang berkunjung.
"Lupa... Maklumlah nutrisi sudah terbagi dua. Sedikit korslet tak apa bukan?" Luna mengelus perutnya yang menggunung. Di situ terdapat dua janin kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka merupakan aset berharga bagi Luna.
"Aku tak sabar mau lihat tampang keponakanku! Ibu akan jalani operasi Caesar bukan? "
"Mungkin begitu... Ayok kita temui pasien kita!" Luna membuka pintu ruang prakteknya. Bau segar minta menyeruak membelai cuping hidung.
Luna selalu jaga kebersihan ruang prakteknya agar pasien tidak terbebani oleh penyakit yang bercokol di tubuh. Bau obat-obatan akan menambah stress pasien. Mereka sudah sakit akan bertambah beban bila disuguhi bau obat-obatan. Luna sengaja ciptakan suasana adem dan fresh agar pasien tenang.
Mata Luna menangkap satu sosok wanita berpenampilan high class duduk di kursi pasien menunggu kehadiran sang penyembuh. Luna lupa-lupa ingat pasien itu karena pasien yang datang berobat sudah capai ratusan orang. Mana mungkin di ingat satu persatu.
"Hai dokter cantik... masih ingat aku?" wanita itu duluan menyapa Luna. Sikapnya luwes dan bersahabat. wanita itu demikian bersemangat seolah-olah dunia ini hanya diwarnai oleh keindahan. Tidak ada kata duka di dalam hidupnya.
Luna berusaha bersikap profesional walaupun sudah melupakan siapa sosok wanita yang pernah jadi pasiennya.
"Mungkin aku butuh sedikit clue untuk ingat setiap pasienku." Luna memutar langkah menuju ke kursinya.
Wanita itu tertawa renyah membuat ruangan jadi semarak. Sungguh seorang wanita periang. Matanya bersinar terang bikin orang terbawa arus kegembiraan.
"Wah kita seperti sedang main teka-teki...aku ini penderita kanker rahim stadium tiga. Dokter yang menangani aku hingga terbebas dari penyakit mematikan itu. Tiga tahun sudah berlalu. Aku ke sini ingin melakukan check up apakah kesehatanku tidak berubah."
Luna terdiam sejenak memutar otak ingat-ingat pasien yang satu ini. Tiga tahun merupakan waktu lumayan panjang untuk mengikis satu memori seseorang. Apalagi pasien Luna silih berganti. Butuh sedikit proses untuk mengingat kembali pasien yang satu ini.
"Aku ingat....kau merelakan rahimmu untuk membersihkan sel-sel kanker di tubuhmu. Apa kabarmu?"
"Seperti yang Bu dokter saksikan...aku sehat dan prima. Aku datang check up untuk memastikan kalau sel kanker tidak pernah kembali."
"Oh gitu ya... silahkan naik ke bed biar kuperiksa." Luna mengambil stetoskop di atas meja untuk mulai laksanakan tugas sebagai dokter.
Wanita itu memandangi perut Luna yang menggunung dengan hati dipenuhi rasa iri. Sampai kapanpun Dia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Dia sudah kehilangan kesempatan memiliki anak karena rahimnya sudah diangkat gara-gara penyakit kanker.
"Sudah mau melahirkan ya Bu dokter?"
"Masih tujuh bulan..."
"Wah perutnya gede amat...kembar ya?"
"Matamu awas sekali...ini rezeki dari Allah. Kebetulan aku dipercayakan mengandung anak dari suamiku. Bagiku itu Rahmat dari Allah. Tapi kamu jangan kecil hati. Di zaman ini untuk menjadi seorang ibu tidak perlu melahirkan. Di luar sana masih banyak anak-anak membutuhkan pelukan hangat dari orang tua angkat. Kita bisa menjadi orang tua asalkan dibarengi dengan niat yang tulus."
Wanita supel bernama Clara mendengus tanpa sebab. Perkataan Luna ibarat pisau bermata runcing mengorek hatinya. Terluka tak meninggalkan jejak.
Luna tidak kepo melanjutkan nasehat ala kadar. Luna memahami kesedihan wanita bernama Clara itu. Wanita akan terlihat lebih mulia bila bisa memberi keturunan kepada suami dan keluarganya. Di awal perang Clara sudah kalah. apalagi yang bisa dia banggakan karena tugas terpenting sebagai seorang istri tidak sanggup dia laksanakan.
Luna memeriksa Clara dengan teliti. Secara keseluruhan tidak ada tanda-tanda terdapat penyakit kronis. Clara tampak sehat secara kasat mata. Untuk mendeteksi perkembangan kanker di tubuh Clara masih dibutuhkan pemeriksaan di laboratorium. Luna akan mengambil sampel darah Clara untuk diteruskan ke laboratorium sebagai jaminan kalau sel-sel kanker tidak pernah berkembang di tubuh Clara.
"Well... tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pemeriksaan keluar tidak menampakkan gelagat mencurigakan tetapi untuk memastikan lebih lanjut Kita harus melakukan pemeriksaan di laboratorium. Apakah nona bersedia kami ambil sampel darah?" Luna menjauhi Clara kembali ke kursi kerjanya.
Clara menyusul setelah merapikan pakaian. Wajah Clara tidak secerah waktu dia masuk ke ruang praktek Luna. Ada sesuatu mengganjal di hatinya. Clara sedang mempertimbangkan curhat kepada dokter yang merawatnya ini. Siapa tahu dokter muda ini bisa memberinya solusi.
"Aku bukannya tidak mau mengadopsi anak dari panti asuhan tetapi keluarga suamiku sedikit ortodok. Mereka berpegang teguh pada tradisi turun temurun kalau pewaris keluarga adalah orang yang memiliki hubungan darah langsung. suamiku merupakan anak tunggal yang harus memberi keluarga keturunan. Secara otomatis aku yang harus memberi mereka anak sedangkan bu dokter tahu kondisi aku." Sehabis berkata dengan demikian Clara terlihat lesu. Ternyata di pundaknya menyandang tugas mulia yang sangat berat. Mau tak mau dia harus memberi keturunan kepada suaminya. Justru itu yang tidak bisa dia lakukan karena dia tidak memiliki rahim.
Luna turut bersimpati tetapi Luna tak bisa berbuat apa-apa karena dia bukan tukang sihir ataupun Tuhan yang mampu mustahil kan hal yang tidak mungkin.
"Aku turut berduka nona..." Luna melirik daftar nama yang tertera di lembaran kertas. Luna sama sekali tidak ingat nama pasiennya namun bukan berarti Luna mengabaikan kesehatan pasien."Nona Clara... "
"Tapi kekuranganku tidak akan menjatuhkan posisiku sebagai nyonya muda di keluarga suamiku. Aku dan suamiku sudah menemukan solusi jitu." Clara mulai ceria lagi seolah kekurangannya bukan penghalang dia menemukan kebahagiaan.
"Oya? Alhamdulillah kalian menemukan solusinya. Semoga semuanya berjalan lancar." Luna hanya memberi doa tanpa berniat mengorek keterangan dari mulut Clara. Asalkan Clara menemukan kebahagiaannya berarti bertambah satu orang bahagia di bumi ini.
"Aku juga berharap semua berjalan lancar sesuai dengan harapan kami. Kedengarannya kami ini memang jahat tetapi ini merupakan jalan satu-satunya memantapkan posisiku di keluarga."
Perkataan Clara memancing sedikit rasa ingin tahu Luna. Rencana apa yang sedang mereka rancang sehingga harus menjadi orang jahat. Rasa penasaran mengalir begitu saja di hati Luna. Dari cuek jadi kepo.
"Oya? Menjadi orang tua kenapa harus jadi penjahat?"
"Begini ceritanya! Suamiku terpaksa menikahi seorang wanita untuk melahirkan keturunan keluarga. Setelah melahirkan suamiku akan ceraikan wanita itu sesuai kesepakatan kami. Rencana kami begitu anaknya lahir kami akan katakan anaknya sudah meninggal. Aku yang akan menjadi mama dari anak itu. Selama ini aku pura-pura hamil. Hanya aku dan suamiku yang tahu kalau aku ini pura-pura hamil. Sejauh ini semua percaya aku sedang hamil. Istri siri suamiku lahiran aku juga akan lahiran. Jadi kami memiliki anak berdarah keluarga suamiku."
Luna merasa perutnya mual mendengar rencana jahat dari Clara dan suaminya. Wanita mana demikian sial bertemu dengan orang jahat Clara dan suaminya. Rasa simpati perlahan luntur dari hati Luna. Luna tidak menyangka kalau Clara mengambil keuntungan dari kesedihan wanita lain. Ini sama saja dengan menyakiti hati sesama wanita.
"Apakah istri siri suamimu tidak curiga dengan rencana kalian?"
"Kurasa tidak... suamiku tidak pernah mengaku kalau dia merupakan pengusaha kaya raya. Dia hanya mengaku sebagai seorang karyawan di salah satu perusahaan. Dia takut istrinya akan menuntut ini itu begitu tahu kawin sama orang kaya. Bahkan wanita itu tidak tahu kalau buku nikah mereka itu palsu. Aku membayar petugas buat akte nikah palsu agar wanita itu tidak memiliki kekuatan hukum melawan kami. Wanita itu hanya tahu dia memiliki suami berpangkat karyawan perusahaan."
"Astaghfirullahaladzim... apakah kamu tidak merasa bersalah telah merugikan orang lain? Kita sebagai sesama wanita pasti punya rasa iba terhadap sesama kaum kita. Mengapa kalian tega menyakiti hati orang lain?" Ntah kenapa Luna terpancing emosi begitu tahu betapa jahatnya Clara dan suaminya.
"Kalau bisa aku juga tak mau gitu...tapi semua ini tuntutan keadaan. Aku dan suamiku tidak akan merugikan wanita itu. Kami akan memberikan kompensasi besar kepadanya agar seumur hidupnya tidak kekurangan."
"Apakah kau mengenal wanita itu?" Luna merasa dadanya sesak begitu tahu rencana jahat Clara terhadap wanita yang mengandung anak suaminya. Perasaan itu mengalir begitu saja seakan-akan dialah wanita yang dizalimi itu. Luna tidak tahu apa yang akan terjadi bila dia berada di posisi wanita itu. Mungkin hatinya akan hancur berkeping-keping dibodohi oleh manusia-manusia tidak memiliki hati nurani.
Clara menggeleng dengan tegas. "Suamiku tidak mengizinkan aku mengenal wanita itu karena setelah melahirkan kami tidak perlu bertemu lagi."
"Apakah kau tidak cemburu suamimu berbagi hati pada wanita itu?"
"Semula aku memang cemburu dan marah tetapi semua ini untukku juga. Suamiku tidak pernah menyentuh wanita itu lagi sejak tahu dia hamil. Bahkan jarang mengunjungi wanita itu. Hanya sesekali meneleponi wanita itu untuk tahu kondisi kandungan wanita itu. Uang belanja aku yang transfer kepada wanita itu. Segala sesuatu aku yang atur. Bahkan setiap hadiah untuk wanita itu aku yang atur."
Leher Luna serasa tercekik oleh tangan tak kasat mata. Nafasnya sulit keluar dari rongga dada. Mengapa hatinya sangat sakit mendengar cerita Clara. Luna tidak tahu dari mana munculnya rasa sakit itu. Pengakuan Clara seakan-akan ditujukan kepada dirinya.
"Apakah wanita itu tak pernah protes dengan situasi yang berat sebelah ini?"
"Aku kurang tahu karena selama setahun ini tidak pernah terjadi konflik antara kami. Setiap bulan aku mengirimi 1.500.000 kepada wanita itu, hadiah-hadiah untuk dia juga kubeli dari pasar loak. Wanita seperti dia belum pantas memiliki barang mewah."
Luna dan perawatnya terkesima mendengar perkataan Clara. Satu juta setengah untuk biaya hidup selama sebulan. Apakah itu cukup untuk seorang ibu hamil. Kedengarannya sangat keterlaluan kalau suami Clara benar-benar kaya. Teganya mereka menyiksa seorang wanita hamil yang akan kehilangan segala-galanya bila melahirkan nanti.
"Suamimu kaya raya mengapa hanya satu juta setengah untuk wanita itu? Kalian benar-benar sudah keterlaluan. Ini merupakan penyiksaan secara tidak langsung."
Clara tertawa kecil belum menyadari setiap kalimatnya mendatangkan kebencian di hati Luna dan perawat Luna. Mereka bersedih untuk wanita malang itu.
"Suamiku menyuruhku mengirim lima belas juta tapi aku kurangi satu nol. Ya sebagai peringatan tak usah bermimpi muluk. Begitu juga hadiah untuk wanita itu. Suamiku menyuruhku membeli tas ratusan juta sebagai kompensasi atas derita wanita itu. Sebagai gantinya aku beli di kaki lima seharga puluhan ribu." Clara kembali tertawa seakan-akan menikmati kesengsaraan wanita itu.
Luna terdiam sedang kaji setiap omongan Clara. Cerita Clara nyaris sama dengan apa yang dia jalani. Uang belanja dari suaminya memang satu juta setengah setiap bulan. Suaminya pernah memberinya beberapa buah tas sederhana. Luna tidak pernah protes karena menganggap itulah batas kemampuan suaminya. Luna berusaha memahami kesulitan ekonomi suaminya sebagai seorang pegawai rendahan dari perusahaan.
"Apakah suamimu tahu semua perbuatanmu?"
"Tentu saja tidak bahkan dia menganggapku sebagai seorang wanita berhati mulia. Mampu berbagi dengan wanita lain. Pokoknya aku ini the best di hati suamiku."
Luna semakin terpojok oleh perasaan sendiri. Cerita Clara persis apa yang terjadi dalam kehidupannya. Namun Luna berusaha tetap tenang agar bisa mengorek keterangan lebih jauh. Luna tak boleh gegabah menyikapi cerita Clara. Dia harus mendengar lebih lanjut baru bisa memastikan siapa sosok wanita malang itu.
"Apakah wanita itu tak punya pekerjaan? Hidup mengandalkan uang suamimu yang secuil?"
"Kalau tak salah wanita itu seorang perawat. Suamiku bertemu dengannya sewaktu dinas di kota ini. Tiba-tiba suamiku kurang sehat dan berobat di rumah sakit. Wanita itu yang merawat suamiku hingga sehat. Di situlah awal perkenalan mereka."
Perut Luna mendadak kram karena cerita Clara persis kisah pertemuan dia dengan suaminya. Terbersit di pikiran Luna kalau dialah wanita malang itu. Target korban dari dua manusia licik. Masih ada sedikit perbedaan status. Istri siri suami Clara seorang perawat sedangkan dia seorang dokter. Masih ada kemungkinan cerita ini hanya mirip tapi bukan kisah rumah tangganya.
"Lalu sudah berapa bulan kehamilan wanita itu?" Luna berusaha menguasai diri agar tidak tampak mulai gelisah.
"Sekitar tujuh bulan...Suamiku sudah menyiapkan rumah sakit di tempat lain agar rencana kami berjalan mulus. Begitu lahir anak itu harus jadi milikku. Pura-pura aku yang melahirkan. Dengan kekuasaan dan power semua akan lancar."
Cerita Clara makin menguras emosi Luna. Ada kemungkinan besar dia lah korban dari rencana jahat Clara dan suaminya. Suami Luna memang tidak pernah bertanya apakah pekerjaan dia selama ini karena suami Luna jarang pulang ke rumah. Sama persis dengan cerita Clara. Sekarang tinggal memastikan apakah suami Clara juga suami Luna.
"Suamimu adalah pengusaha kaya tentu saja dikenal semua orang. Apakah aku mengenal nama besar suamimu?"
Clara tertawa bangga dengan nama besar suaminya. Siapa tak kenal pengusaha muda yang sukses di bidang farmasi.
"Mungkin kamu pernah dengar pengusaha sukses bernama Anjas Kutilan."
Nafas Luna seketika berhenti. Oksigen seolah-olah menghilang dari ruang ber AC tempat praktek Luna. Seluruh tubuh Luna bergetar menahan marah yang langsung naik ke ubun-ubun kepala. Tanpa sadar Luna menepuk dada agar bisa bernafas lagi. Luna sendiri sudah tak tahu bagaimana warna rona wajahnya. Bisa jadi merah ataupun putih saking marah menahan emosi.
Luna tidak menyangka hari ini dia kedatangan pasien luar biasa yang telah menghancurkan seluruh hidup Luna. Pengakuan demi pengakuan Clara telah membuka mata Luna siapa suaminya sesungguhnya. Lelaki yang dia hormati sebagai kepala keluarga sekaligus imam di dalam hidupnya tak lebih dari seorang penipu juga pendusta. Bahkan boleh disebut sebagai manusia berhati setan.
Clara dan asisten Luna terdiam melihat reaksi aneh dari Luna. Wajah keibuan Luna berganti dengan seringai serigala yang bikin bulu merinding. Clara tak tahu mengapa secara tiba-tiba Luna berubah menjadi garang. Clara tidak tahu kalau orang di depannya adalah orang yang sedang dia sakiti.
Orang yang bakal dijadikan tumbal kebahagiaannya.
"Bu dokter... Ada apa ini? Apa Bu dokter marah atas semua rencanaku?" Clara bertanya dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Luna. Pengakuannya memang menyakiti sesama perempuan tetapi dia juga tidak berdaya karena situasi mengharuskan dia berbuat jahat.
Luna menarik nafas panjang memenuhi rongga dada dengan oksigen. Perlahan-lahan Luna menguasai dirinya agar tidak tampak bodoh di depan Clara. Dia memang sudah terlanjur bodoh menjadi mesin pencetak anak bagi dua manusia tak punya hati. Untuk sementara Luna tidak akan membeberkan siapa dia sesungguhnya.
Luna berusaha tenang untuk memberi pelajaran berharga kepada kedua manusia bejat itu. Luna berjanji akan memberi sesuatu yang tidak pernah mereka pikir kan. Luna bersumpah akan menghapus bayang-bayang kebahagiaan Clara dan Anjas.
Untuk sementara Luna harus bersandiwara seolah-olah dia tidak tahu apa-apa. Luna tak henti mengucapkan puji syukur kepada yang maha kuasa telah memberinya petunjuk bagaimana kelakuan suami yang dianggap malaikat pelindung. Ternyata Allah tidak pernah meninggalkan mereka yang taat kepadanya. Ada saja caranya memperlihatkan wajah asli manusia-manusia munafik. Untunglah Luna tidak menolak kehadiran Clara di ruang prakteknya. Dengan demikian dia mengetahui jurang kehancuran yang telah dipersiapkan oleh Clara dan Anjas. Secara tak langsung Luna terhindar dari kehancuran.
"Oh tidak apa... Aku hanya bersedih untuk wanita yang kalian bodohi! Semoga dia tabah menghadapi cobaan yang kalian ciptakan. Aku hanya ingin mengingatkan pada kalian bahwa karma itu menyertai orang-orang yang berbuat zalim."
Clara meringis mengetahui ke mana arah pembicaraan Luna. Secara tak langsung Luna mengingatkan dia bahwa apa yang dia lakukan akan menuai karma. Clara tidak sempat berpikir soal karma karena dia harus menempatkan diri di posisi kuat sebagai nyonya muda keluarga Kutilan.
"Kalau bisa aku juga tidak ingin berbuat seperti itu. Aku bukannya tidak sadar kalau apa yang aku lakukan akan menyakiti seseorang tetapi aku juga tidak berdaya. Tuntutan keluarga sangat ketat membuatku tidak bisa berkutik."
Luna kembali menarik nafas lalu menghembusnya kencang melalui mulut. Luna berusaha mengurangi tekanan yang menghimpit dadanya. Luna tidak boleh down karena di dalam perutnya masih ada dua nyawa yang harus dia lindungi. Luna akan melindungi kedua anaknya dari niat jahat Anjas dan Clara. Jangan harap mereka bisa merampas bayinya hanya untuk mencari kemegahan di keluarga.
"Semoga kalian sadar dengan apa yang kalian lakukan. Kami akan mengambil sampel darah Nona Clara untuk menindak lanjuti kecurigaan kita terhadap sel-sel kanker di dalam tubuh nona. Ayok Tina! Ambil sedikit darah nona Clara!" Luna sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan ruang praktek. Luna bener-bener muak melihat tampang manusia-manusia berhati picik itu. Tega-teganya mereka mengorbankan kebahagiaan orang lain demi ke egoisan sendiri.
Kadang Luna berpikir hati Clara dan Anjas terbuat dari apa sampai tega merampas milik orang lain hanya untuk mencari keuntungan pribadi. Untunglah semua terbuka sebelum hal terburuk terjadi pada Luna. Dengan demikian dia bisa mempersiapkan diri menghadapi badai yang sedang menghampiri dirinya.
Asisten Luna segera mengambil darah Clara tanpa banyak tanya lagi. Asisten Luna yang bernama Tina juga muak lihat tampang manusia tak punya hati. Dalam hati Tina bertanya-tanya mengapa di dunia bisa muncul orang model Clara dan suaminya. Apakah dunia makin tua sehingga muncul orang-orang berhati busuk.
Clara bukan tak merasa perubahan sikap Luna dan Tina. Semula Luna tampak ramah dan penuh kelembutan menanggapi setiap keluhan pasien tapi sejak dia buka cerita keadaan berubah total. Aura kebencian menyeruak menciptakan kecanggungan yang datang mendadak.
"Maaf Bu dokter... Kisah hidupku memang agak berantakan. Aku juga tak mau begitu namun itulah yang harus kujalani. Aku harus mempertahankan suamiku dari godaan istri mudanya. Aku tidak mau suamiku jatuh cinta kepada istri sirinya itu maka itu aku harus mengambil sikap memisahkan mereka." Clara kembali memperlihatkan sifat buruk yang bikin Luna dan Tina semakin kesal kepadanya. Apalagi Luna yang menjadi korban dari keserakahan Clara.
Luna mengepal tinju di bawah meja melampiaskan kemarahannya. Saat ini Luna tak boleh memperkenalkan siapa dirinya agar bisa mengatur balasan menyakitkan bagi Clara dan Anjas. Mereka berdua harus membayar setiap luka yang ada di hati Luna.
"Aku tidak bisa berkomentar nona Clara. Cuma ingat balasan dari Allah itu nyata dan pasti."
Clara mengangguk paham namun sudah tak bisa mundur. Rencana awal tetap akan berlaku sampai wanita itu melahirkan pewaris keluarga Kutilan. Clara akan meminta pada suaminya untuk beri kompensasi memadai agar hidup wanita itu terjamin seumur hidup. Hanya itu yang bisa Clara lakukan bayar rasa bersalah.
"Empat hari lagi aku akan mengadakan acara syukuran tujuh bulanan kandunganku. Kalau ada langkah datanglah ke acaraku! Aku mengundang Bu dokter secara resmi." Clara merogoh tas mahalnya mengelus undangan mewah berwarna merah maron berhias pinggiran emas. Sekilas mata dapat dipastikan undangan itu lumayan mahal.
Luna dan Tina melongo. Dari mana muncul ide selenggarakan acara tujuh bulan sementara yang bersangkutan tidak hamil. Clara tak mungkin hamil sampai dunia kiamat karena dia tak memiliki rahim. Sungguh pemain sandiwara jitu. Orang lain yang hamil dia yang menikmati keuntungan.
"Kau yakin mau membuat acara yang bukan milikmu?" Luna ingin sekali menampar wajah tak tahu malu Clara. Dia yang capek mengandung selama tujuh bulan sementara Clara dielu-elukan sebagai wanita bermartabat memberi keturunan kepada keluarga.
Luna menelan air ludah berkali-kali mengingatkan diri agar lebih bersabar. Sekarang bukan waktu tepat melakukan balas dendam. Dia masih punya banyak kesempatan melampiaskan amarahnya.
"Sebenarnya aku juga tak mau tapi ini desakan mertuaku. Mereka itu keluarga kolot junjung tinggi bibit bebet bobot. Ini merupakan cucu pertama juga cucu satu-satunya di keluarga jadi harus dirayakan secara besar-besaran. Aku cuma bisa manut cari aman."
Luna menggeleng kepala tak habis pikir sejauh itu sandiwara kekonyolan Clara dan suaminya. Orang tua mereka juga ikut tertipu oleh kebohongan dua insan bejat itu. Apa yang akan terjadi bila keluarga Anjas mengetahui kebohongan Clara dan Anjas. Ceritanya pasti akan semakin seru.
Luna menerima undangan itu dengan senang hati untuk melengkapi keseruan kebohongan Anjas dan Clara. Luna berjanji akan membantu Anjas dan Clara menambah kemeriahan acara 7 bulanan kandungan palsu Clara.
Luna menerima undangan itu dengan hati berdarah. Amarah dan kebencian bercampur satu di dalam rongga dada Luna. Kalau menuruti emosi saat itu juga dia akan menghabisi Clara tapi Luna menahan diri untuk mempermalukan Clara dan Anjas. Pas pula ada kesempatan menghadiri acara yang seharusnya milik Luna tapi disabotase oleh Clara. Luna akan menggunakan kesempatan ini membuat Anjas tidak berkutik.
"Aku akan hadir nona Clara. Aku akan memberimu kado istimewa."
"Tak usah repot Bu dokter... Anda bersedia datang sudah merupakan kehormatan bagiku. Bagaimanapun bu dokter adalah Dewi penyelamat hidupku. Tanpa bantuan Bu dokter aku tak mungkin hidup sampai sekarang. Kalau begitu aku pamitan dulu. Aku tunggu hasil pemeriksaan dari Bu dokter. Semoga hasilnya sesuai harapan kita semua."
"Menyembuhkan orang sakit merupakan tugasku sebagai dokter. Tak peduli siapa orangnya. Mau setan maupun manusia tetap kami bantu." Luna tak bisa menahan diri untuk sindir Clara. Di mata Luna kelakuan Clara tak ubah seperti setan. Sekali pun Clara rak ubah seperti setan tetap mendapatkan perawatan Luna.
"Bu dokter bisa saja... setan mana mungkin sakit."
"Ada... Zaman ini kan banyak manusia mirip setan. Ach... Tak usah pikir itu! Aku pasti datang."
"Ok... Terima kasih... Kutunggu lho! Aku ijin dulu... Suamiku akan datang menjemputku. Dia selalu kuatir kalau aku pergi jauh. Jarak tempuh ke sini kan hampir dua jam. Dia takkan biarkan aku ketakutan berada di tempat asing."
Luna tertawa sumbang. Luna tak tahu seberapa besar cinta Anjas terhadap Clara sampai tega mengorbankan orang tak bersalah. Luna akan memberi satu pelajaran berharga yang takkan dilupakan Anjas atas kecurangan dia lakukan.
"Silahkan!" Luna tidak menahan langkah Clara. Luna mau tahu apa yang akan dilakukan Anjas pada hari ini. Dia sudah janji mau datang berkunjung hari ini. Apakah dia mampu menunaikan janjinya atau memberi janji palsu meneruskan kebohongan satu demi satu.
Tina menemani Clara ke bagian administrasi untuk melakukan pembayaran jerih payah dokter. Tinggallah Luna merenungi keajaiban dalam hidupnya. Luna tak tahu sampai kapan dia akan berada di posisi terjepit. Besar di panti asuhan tanpa tahu siapa orang tuanya. Untunglah Allah masih berpihak padanya memberi otak cerdas sebagai penuntun masa depan Luna.
Dalam usia relatif muda Luna berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai dokter dengan bantuan beasiswa dari pemerintah. Luna melanjutkan jenjang dokter spesialis berkat kegigihan dia menuntut ilmu. Luna tak henti di situ sebagai dokter spesialis onkologi. Dia juga mengamankan pendidikan di Kimia Medisinal untuk menemukan obat bagi orang sakit. Berkat otaknya yang cemerlang dia sukses menjadi pakar kesehatan juga ahli di bidang obat-obatan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!