Indonesia
NovelToon NovelToon

Tak Lagi Mencintaimu

Chapter 1

‎Meja makan besar di rumah orang tua Raga tertata rapi dengan berbagai hidangan lezat, aroma masakan khas yang selalu mengingatkan Risa pada kehangatan keluarga. Memang sudah menjadi jadwal rutin setiap bulan, mereka selalu diundang untuk makan malam bersama.

‎‎"Risa," suara Mama Rima terdengar lembut namun penuh sarkas, sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya, "Kamu sudah berumur tiga puluh tahun, Nak. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Tetangga, teman-teman Raga, semuanya sudah punya dua atau tiga anak, bahkan ada yang sudah masuk sekolah. Kok kamu masih saja belum ada tanda-tanda hamil juga sih,"

‎‎Tangan Risa yang sedang memegang sendok seketika terasa kaku. Dia menundukkan wajah, berusaha menahan rasa perih yang langsung menyeruak di dada. Sudah biasa memang, tapi rasa sakit itu tidak pernah hilang, meskipun ia tahu sepenuh hati bahwa ini semua bukan kesalahannya.

‎‎"Maaf, Ma… Kami memang sedang berusaha," jawab Risa pelan, berusaha menjaga nada bicaranya tetap sopan.

‎‎"Berusaha apa lagi?" potong Mama Rima cepat, matanya menatap tajam ke arah Risa. "Dulu kan kamu sendiri yang bilang, dokter bilang katanya kamu yang ada masalah, kamu yang mandul, tidak bisa mengandung. Itu fakta, kan? Kamu memang tidak bisa memberi cucu untuk Mama, tidak bisa memberi penerus untuk keluarga kami. Kasihan sekali anakku ini, sudah susah payah membangun karir, sukses, tapi malah dapat istri yang tidak sempurna seperti kamu."

‎‎Kata-kata itu keluar begitu saja, keras dan jelas, membuat suasana meja makan seketika menjadi hening. Papa Reza hanya diam menunduk, tidak berani menengahi, sementara Risa bisa merasakan mata semua orang tertuju padanya, penuh rasa iba atau bahkan penghakiman. Rasa panas menjalar di sudut matanya, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh disana.

‎‎Namun, belum sempat Risa menjawab, tangan hangat segera menggenggam tangannya yang dingin dan gemetar. Sebuah suara tegas, berat, dan penuh kekuasaan segera terdengar, memotong semua ucapan ibunya.

‎‎"Ma, tolong bicara dengan sopan. Risa itu istriku, dan aku tidak suka Mama menghinanya seperti itu."

‎‎Itu suara Raga. Suami yang selama ini ia lindungi dengan sepenuh jiwa.

‎‎Raga menatap tajam ke arah ibunya, wajahnya terlihat serius dan tidak senang. Ia menarik tangan Risa agar lebih dekat kepadanya, seolah sedang melindungi harta paling berharga yang ia miliki.

‎‎"Risa istri yang sangat baik, Ma. Dia wanita yang sempurna bagiku. Dia yang mendukungku dari nol, dia yang menemaniku susah senang, dia yang mengurus rumah dan hidupku dengan sangat baik. Masalah anak itu urusan Tuhan, Ma. Bukan berarti karena belum punya anak, maka Risa jadi wanita yang buruk atau kurang sempurna. Bagiku, Risa sudah segalanya. Aku tidak butuh apa-apa lagi selama aku punya dia."

‎"Tapi keluarga kita butuh penerus, Raga. Kalau dia tidak berguna, buat apa dipertahankan?!" seru Mama Rima dengan nada meninggi, wajahnya memerah menahan emosi. "Kamu itu anak tunggal! Siapa nanti yang akan meneruskan nama besar keluarga kita? Siapa yang akan mewarisi semua yang sudah Papa dan Mama bangun? Dia? Wanita yang tidak bisa melahirkan ini? Mustahil! Kamu seharusnya cari wanita lain, wanita yang sehat, wanita yang bisa memberimu banyak anak, bukan hanya diam saja seperti dia!"

‎‎Kata-kata itu semakin tajam, menusuk tepat ke ulu hati Risa. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan isak tangis yang hampir keluar.

‎‎Wajah Raga semakin mengeras, tatapannya tajam menusuk ibunya, napasnya terdengar memburu karena menahan amarah.

‎‎"Cukup, Ma! Aku tidak mau dengar kata-kata itu lagi!" bentak Raga, suaranya bergema keras di ruang makan itu. "Risa bukan barang yang bisa dibuang atau diganti sesuka hati! Dia istriku, wanita yang aku nikahi dan aku janjikan akan kujaga seumur hidupku. Aku tidak akan pernah menggantikannya dengan siapa pun, hanya karena alasan konyol seperti itu! Penerus keluarga bukan hanya soal darah dan keturunan, Ma! Yang paling penting adalah kesetiaan dan kasih sayang, dan itu semua sudah aku dapatkan penuh dari Risa!"

‎‎Ia menjeda ucapannya, lalu menatap ibunya dengan tatapan dingin.

‎‎"Kalau Mama masih terus menghina dan menyakiti Risa, maaf… mulai sekarang kami akan jarang sekali datang kesini. Aku tidak akan membiarkan istriku dipermalukan di rumah orang tuaku sendiri."

‎‎Mama Rima terbelalak kaget, tidak menyangka anak kesayangannya itu berani menentangnya sekeras itu. Ia hendak membantah lagi, tapi melihat wajah Raga yang sungguh-sungguh marah, mulutnya terkatup rapat, hanya bisa mendengus kesal sambil memutar bola matanya dengan sinis.

‎Raga kembali menoleh, menatap Risa dengan tatapan lembut yang hangat.

‎‎"Maaf ya, Sayang… Kamu baik-baik saja kan?" bisik Raga pelan, hanya terdengar oleh Risa.

‎‎Risa mengangguk cepat, sambil menyeka air matanya dengan senyum bahagia.

‎‎"Aku baik-baik saja, Mas. Terimakasih… terimakasih sudah selalu membelaku,” jawab Risa dengan suara bergetar karena haru.

"‎‎Selama aku ada, tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti kamu, bahkan ibuku sendiri sekalipun,” balas Raga lembut, lalu mengecup kening istrinya itu di hadapan orang tuanya.

‎‎Pemandangan itu membuat Mama Rima terdiam seribu bahasa, wajahnya memerah karena malu dan kalah, lalu ia mendengus kesal dan kembali makan dengan diam.

‎‎-

-

‎‎Dalam perjalanan pulang di dalam mobil, Raga kembali menggenggam tangan Risa, sesekali mengusapnya dengan lembut.

‎‎"Maafkan Mama ya, Sayang. Dia memang begitu, kadang mulutnya tajam tanpa berpikir panjang. Tapi kamu jangan ambil hati, ya. Bagiku, kamu tetap istri terbaik di dunia," ucap Raga lembut, sambil menatap jalanan di depannya.

‎‎Risa tersenyum bahagia, menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya.

‎‎"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah terbiasa. Yang penting kamu ada disini, percaya padaku, dan juga mencintaiku. Itu sudah cukup bagiku. Selama kita saling mencintai, masalah apapun pasti bisa kita lewati bersama," jawab Risa dengan suara penuh ketulusan.

‎‎Sesampainya di halaman rumah, Raga mematikan mesin mobil. Suasana hening sejenak, sampai suara notifikasi pesan masuk terdengar jelas dari arah saku jaketnya.

‎‎Raga mengeluarkan ponselnya, wajahnya seketika berubah kaku saat melihat siapa yang mengirimkan pesan. Dia memalingkan wajah dan tubuhnya sedikit ke samping, seolah sengaja menghalangi pandangan Risa. Jarinya bergerak cepat di layar, rahangnya mengeras, dan sorot matanya berubah gelisah.

‎‎Risa yang melihat itu hanya diam, merasa ada yang tidak beres namun tidak berani bertanya. Belum sempat ia membuka mulut, Raga sudah kembali menoleh.

‎‎"Sayang… maaf banget ya," ucap Raga sambil mengusap pelan punggung tangan Risa, "Tadi ada pesan dari kantor. Ada laporan penting yang ada kesalahan data, harus segera diperbaiki dan dikirim malam ini juga. Kalau tidak, besok proyek besar kita bisa gagal. Aku harus kembali ke kantor sekarang."

‎‎Hati Risa seketika memberat. "Sekarang, Mas? Kan sudah larut malam, kita baru saja sampai…"

‎‎"Aku juga tidak mau, Sayang. Tapi ini darurat, berat sekali konsekuensinya kalau diabaikan," potong Raga cepat, "Kamu masuk duluan ya, istirahatlah. Aku usahakan cepat selesai dan segera pulang buat nemenin kamu."

‎‎Risa menatap wajah suaminya, ia tidak mau menjadi istri yang egois, yang menghalangi pekerjaan suami demi kepentingan pribadi. Dengan berat hati Risa akhirnya mengangguk pelan, menelan rasa kecewa yang mengganjal di dada.

‎‎"Baiklah, Mas. Hati-hati di jalan ya. Jangan memaksakan diri," ucap Risa lembut, lalu perlahan membuka pintu mobil dan turun ke halaman.

‎‎Ia berdiri disana, menatap mobil itu berputar balik, lalu melaju cepat keluar dari pagar rumahnya hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan yang gelap. Baru saja ia hendak berbalik menuju pintu rumah, suara notifikasi pesan masuk kembali terdengar, kali ini dari ponsel yang ada di tangannya.

‎‎Risa mengerutkan kening, lalu membuka pesan itu. Tidak ada nama pengirim, nomornya pun tidak dikenal. Isi pesan itu membuat darah di tubuhnya seketika berhenti mengalir, bulu kuduknya meremang, dan jantungnya berdegup kencang tidak karuan.

‎‎[ Ikuti mobil suamimu sekarang, dan kamu akan tahu rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat di belakangmu.]

-

-

-

Bersambung...

Chapter 2

‎Risa terpaku di tempat, jantungnya berdegup kencang. Kata-kata singkat di layar ponsel itu menusuk hatinya. Rahasia besar? Apa yang disembunyikan suaminya? Raga adalah suami yang baik baginya, dan selalu terbuka dalam hal apapun, tidak mungkin ada rahasia besar yang disembunyikan oleh suaminya itu.

‎‎Tanpa berpikir dua kali, Risa langsung berlari keluar gerbang rumahnya, kakinya melangkah cepat bahkan hampir terjatuh karena terburu-buru. Napasnya tersengal-sengal, matanya tetap terpaku pada jalanan yang gelap dimana mobil suaminya baru saja menghilang.

‎‎"Tunggu… Tunggu sebentar…" gumam Risa parau, matanya mencari-cari kendaraan yang lewat di jalanan yang sepi itu.

‎‎Beberapa detik kemudian, sebuah taksi melaju pelan melewati depannya. Tanpa ragu, Risa langsung melambaikan tangan, berteriak memanggilnya.

‎‎"Pak! Tolong berhenti! Pak, tolong!"

‎‎Sopir taksi itu kaget, segera mengerem mobilnya hingga berhenti tepat di depan Risa. Begitu jendela terbuka, Risa langsung bicara dengan suara terburu-buru dan gemetar.

‎‎"Pak, tolong ikuti mobil hitam yang baru saja lewat tadi! Cepat pak! Berapapun ongkosnya saya bayar, yang penting cepat ikuti!"

‎‎Wajah Risa terlihat sangat panik dan cemas, membuat sopir itu tidak bertanya banyak lagi. Ia langsung mengangguk, menginjak gas dengan cepat begitu Risa masuk dan duduk di kursi belakang.

‎‎"Baik Bu. Saya akan ikuti secepat mungkin," ucap sopir itu, lalu kendaraan itu langsung melaju kencang membelah jalanan kota yang mulai sepi di malam hari.

‎‎Di dalam taksi, Risa duduk dengan tubuh yang kaku, tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, keringat dingin membanjiri telapak tangannya. Matanya terus menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh antara harapan dan ketakutan.

‎‎Sementara itu, mobil yang dikendarai Raga melaju jauh dari perumahan mereka, menuju daerah pinggiran kota yang cukup sepi, jarang dilalui orang dan minim lampu penerangan. Ia melambatkan laju kendaraannya, lalu memarkirkan mobilnya di sisi jalan, di antara pepohonan rindang.

‎‎Pintu mobil sisi pengemudi terbuka, Raga baru saja melangkah turun saat sosok wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang, berpakaian sangat seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, langsung berlari mendekat dan langsung memeluk tubuh Raga dengan erat.

‎‎"Sayang… Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggu lama sekali disini," bisik wanita itu dengan suara manja, lalu ia mengangkat wajahnya dan langsung mencium bibir Raga dengan mesra.

‎‎Raga sama sekali tidak menolak, bahkan kedua tangannya langsung melingkarkan erat di pinggang ramping wanita itu, membalas ciuman itu dengan penuh gairah, seolah tidak ada rasa bersalah sedikitpun di hatinya. Mereka berciuman dengan begitu lepas, tidak peduli tempat yang gelap itu, seolah dunia hanya milik mereka berdua saja.

‎‎“Maaf ya, Sayang. Aku harus mengantar Risa pulang dulu. Tadi kami habis makan malam dirumah mama seperti biasa," bisik Raga sambil melepaskan ciuman itu sebentar, lalu mengusap pipi wanita itu dengan tatapan penuh cinta.

‎‎"Mas... bagaimana kalau Mba Risa sampai tahu tentang hubungan kita? Aku tidak mau disebut telah merebut kamu darinya," Amelia menempelkan wajahnya ke dada bidang Raga, bahunya berguncang pelan.

‎‎"Mas… aku benar-benar takut," isak Amelia pelan, jari-jarinya meremas jaket Raga dengan lemah, "Aku tahu aku salah… aku orang ketiga di antara kalian berdua. Kalau sampai Mba Risa tahu, dia pasti akan membenciku, semua orang akan menyalahkanku, menyebutku wanita jahat yang merebut suami orang. Aku tidak kuat dihina seperti itu, Mas… aku tidak sanggup."

‎‎Ia mengangkat wajahnya, mata indahnya berkaca-kaca. "Bagaimanapun juga, dia itu istri sahmu, wanita yang sudah bersamamu lima tahun lamanya. Aku cuma orang asing yang datang belakangan… aku cuma bisa mencintaimu diam-diam, tanpa berhak apa-apa. Kadang aku berpikir, sebaiknya aku mundur saja, biar kamu hidup tenang bersamanya… tapi aku tidak kuat, Mas… aku terlalu mencintaimu sampai tidak sanggup melepaskanmu,"

‎‎Raga langsung memeluk Amelia lebih erat, mengusap punggung wanita itu dengan lembut.

‎‎"Jangan bicara begitu, Sayang. Jangan pernah berpikir untuk mundur," ucap Raga tegas, suaranya lembut namun penuh keyakinan. "Kamu tidak bersalah sedikitpun, mengerti? Semua ini salahku, akulah yang mengejarmu lebih dulu, akulah yang tidak bisa menahan perasaanku padamu. Kamu wanita yang baik, yang menerima cintaku dengan tulus, kamu sama sekali tidak bersalah."

‎‎Raga menundukkan wajahnya, mencium kening Amelia dengan penuh kasih, lalu menatap mata wanita itu lekat-lekat.

‎‎"Aku yang mendekati dan memintamu menjadi milikku, bukan kamu yang merebutku dari Risa. Jadi kamu tidak perlu takut, tidak perlu merasa bersalah pada siapapun, apalagi pada dia. Semua tanggungjawab ada padaku, aku yang akan menanggung semuanya."

‎‎Amelia tersenyum samar di balik pelukannya. Ia kembali merapatkan tubuhnya erat ke dada Raga, bibirnya menyentuh leher pria itu dengan sentuhan lembut yang membuat napas Raga langsung memburu.

‎‎"Kalau begitu aku percaya padamu, Mas. Aku akan tetap disini, tetap bersamamu, selama kamu masih menginginkanku," bisik Amelia dengan suara merdu yang menggoda, lalu tanpa menunggu lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan menyambar bibir Raga dengan ciuman yang lebih dalam, lebih liar dan penuh gairah.

‎‎Raga sama sekali tidak menolak, bahkan kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang ramping wanita itu, menarik tubuhnya semakin menempel rapat ke tubuhnya sendiri. Ciuman itu berlangsung lama, penuh nafsu dan kebebasan, seolah semua rasa bersalah, semua ingatan akan janji pernikahan, dan semua rasa hormat pada Risa yang sudah bersamanya lima tahun itu, lenyap begitu saja dari hati dan pikirannya. Di saat itu, baginya hanya ada Amelia, wanita yang dianggapnya mampu memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya.

‎‎Tanpa membuang waktu lagi, Raga mengangkat tubuh Amelia dengan mudah, membawanya masuk ke dalam mobil, lalu menutup dan mengunci semua pintu dengan rapat. Di dalam ruang mobil yang sempit, gelap dan sunyi itu, tidak ada lagi batasan sedikitpun antara mereka berdua. Cahaya lampu jalan yang redup hanya masuk sedikit melalui kaca jendela, cukup untuk menerangi bayangan tubuh mereka yang saling memeluk erat.

‎‎Pakaian mereka perlahan terlepas satu persatu, tergeletak sembarangan di kursi mobil. Pelukan yang erat, ciuman yang panas, sentuhan yang liar dan penuh hasrat, semuanya terjadi begitu saja tanpa rasa ragu, tanpa rasa malu, dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Suara desahan lembut, bisikan manja, dan tawa genit Amelia terdengar jelas bergema di dalam ruang tertutup itu, bercampur dengan napas berat Raga yang semakin tergila-gila pada wanita itu.

‎‎Disaat Raga tengah larut dalam kenikmatan itu, dibalik pepohonan yang gelap Risa berdiri diam. Semuanya terdengar dan terlihat jelas oleh matanya sendiri. Air matanya jatuh bergulir, dadanya terasa sesak hingga ia sulit menarik napas. Kakinya lemas, tubuhnya gemetar hebat, seolah seluruh tenaga dan nyawanya disedot habis oleh kenyataan pahit yang sedang ia saksikan itu.

-

-

-

‎Jam dinding di ruang tamu sudah menunjuk pukul tiga pagi saat suara mobil Raga terdengar masuk ke halaman. Pintu depan terbuka perlahan, Raga melangkah masuk dengan gerakan hati-hati, berusaha tidak bersuara. Badannya terasa lemas, pakaiannya sedikit kusut, dan aroma parfum wanita asing samar-samar tercium dari tubuhnya.

‎‎Namun, baru saja kakinya melangkah melewati ambang pintu, tiba-tiba seluruh lampu di ruang tamu menyala terang bersamaan. Cahaya yang menyilaukan itu membuat Raga tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang karena kaget. Ia segera memicingkan mata, dan saat pandangannya sudah jelas, darahnya seketika berdesir dingin.

‎‎"R-Risa? Kamu belum tidur?"

-

-

-

Bersambung...

Chapter 3

‎Risa melangkah maju selangkah, menatap suaminya itu lekat-lekat, menatap wajah yang selama ini ia puja, menatap bibir yang baru saja berciuman mesra dengan wanita lain, menatap tangan yang tadi saling memeluk tubuh orang asing dengan penuh nafsu. Rasa mual kembali muncul di tenggorokannya, namun ia berhasil menahannya dengan kuat.

‎‎"Aku menunggumu, Mas," jawab Risa dengan nada suara yang lembut dan tenang. Ia menatap lurus ke manik mata Raga yang kini mulai menghindari tatapannya.

‎‎"Kenapa pulang sampai sepagi ini? Memangnya pekerjaan apa yang sedang Mas tangani sampai harus meninggalkan istri di rumah, dan menghabiskan waktu sampai jam tiga pagi?"

‎‎Pertanyaan itu keluar begitu saja, ringan dan wajar, namun bagi Raga, pertanyaan itu terdengar seperti jeratan tali yang perlahan mengencang di lehernya. Ia menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya.

‎‎"I-itu… tadi kan sudah aku bilang, Sayang. Ada kesalahan data yang fatal di laporan proyek besar itu. Aku harus memperbaikinya satu persatu, harus mengecek semuanya sampai benar-benar tepat. Makanya selesainya lama, sampai tidak terasa sudah jam tiga pagi," jawab Raga dengan nada yang dibuat-buat terdengar lelah dan terbebani, sambil mengusap lehernya seolah benar-benar kelelahan bekerja.

‎‎Ia berharap alasan itu cukup untuk menenangkan Risa, berharap istrinya yang polos itu akan segera percaya dan kembali bersikap manis seperti biasa.

‎‎Namun, Risa hanya diam sejenak, matanya masih terus menatap Raga, menatap setiap perubahan ekspresi wajah suaminya itu. Di dalam hatinya, ia tertawa getir. Pekerjaan? Kesalahan data? Padahal bajunya masih berbau parfum mahal yang tidak pernah Risa miliki, di lehernya juga terlihat bekas merah samar akibat ciuman wanita itu.

‎‎Rasa sakit itu kembali menghantam dadanya, tapi Risa tetap mempertahankan senyum tipisnya.

‎‎"Begitu rupanya," ucap Risa pelan, nadanya tetap lembut, namun ada getaran dingin yang tersembunyi di dalamnya. "Kalau begitu, terimakasih sudah bekerja keras demi kita, Mas. Sekarang cepatlah mandi dan istirahat. Malam sudah sangat larut,"

‎‎"Baiklah, Sayang. Aku langsung mandi dan istirahat, kamu juga langsung tidur ya, tidak perlu menungguku sampai selesai mandi," jawab Raga lega, merasa istrinya benar-benar percaya dengan alasan bohongnya itu. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan cepat menuju kamarnya.

‎Risa hanya mengangguk pelan, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik dinding yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Senyum tipis di wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh tatapan dingin. Dia tidak percaya sedikitpun, ia hanya ingin melihat seberapa jauh kebohongan ini akan berlanjut, ia ingin mengumpulkan semua bukti, sebelum ia benar-benar mengakhiri segalanya.

‎‎Risa kembali duduk di sofa, menggulir layar ponselnya dan membuka kembali pesan misterius yang dia dapatkan sebelumnya. Dia mencoba menghubungi nomor si pengirim untuk mengetahui siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan itu padanya, namun nomor yang dia hubungi itu sudah tidak aktif.

-

-

-

‎‎Sinar matahari pagi masuk menerangi ruang makan. Aroma nasi goreng hangat, telur dadar, dan kopi yang baru diseduh memenuhi seluruh ruangan. Risa sudah menyiapkan semuanya dengan rapi, seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi.

‎‎Raga keluar dari kamar dengan wajah segar, tidak ada lagi rasa gugup atau ketakutan semalam. Ia kembali bersikap lembut, bersikap sebagai suami yang sempurna, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di malam sebelumnya. Ia duduk di sebelah Risa, lalu tersenyum manis sambil mengambil sendok.

‎‎"Wah, enak sekali masakanmu, Sayang. Kamu memang yang paling pandai mengurus rumah dan mengurusku," puji Raga, lalu segera menyantap sarapannya dengan lahap.

‎‎Risa tersenyum lembut, tetap bersikap seperti biasanya.

‎‎"Makanlah sampai kenyang, Mas. Biar kuat kerjanya," ucap Risa santai, sambil sesekali memandangi wajah suaminya.

‎‎Beberapa saat kemudian, Raga meletakkan sendoknya, lalu menatap Risa.

‎‎"Ngomong-ngomong Sayang, besok aku harus pergi keluar kota selama satu minggu. Ada rapat besar sekaligus peninjauan proyek cabang di kota sebelah. Jadi nanti tolong siapkan koper dan semua pakaianku ya,"

‎‎Hati Risa sedikit berdenyut kencang, namun raut wajahnya tetap tenang tanpa ada perubahan sedikitpun. Ia tahu benar, perjalanan keluar kota itu pasti bukan urusan pekerjaan semata. Pasti ada hubungannya dengan wanita semalam.

‎"Baiklah Mas, nanti aku siapkan semuanya," jawab Risa lembut, tanpa menampakkan rasa curiga sedikitpun.

‎‎"Terimakasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik," ucap Raga puas, lalu kembali melanjutkan sarapannya.

‎‎Setelah selesai makan, Raga berdiri, merapikan sedikit jasnya, lalu menoleh ke arah Risa yang sedang membereskan piring.

‎‎"Aku berangkat kerja dulu ya, Sayang. Hati-hati di rumah, nanti malam aku pulang seperti biasa," pamit Raga, lalu membungkuk sedikit mencium kening Risa.

‎‎Risa tidak menolak, ia hanya diam membiarkan ciuman itu mendarat di keningnya dengan dingin.

‎‎"Hati-hati di jalan ya, Mas," jawab Risa dengan nada yang tetap sama.

‎Raga tersenyum, lalu segera berjalan keluar rumah dengan diantar oleh Risa sampai ke teras. Raga masuk kedalam mobil dan melajukannya pergi meninggalkan halaman rumah.

‎‎Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, senyum di wajah Risa seketika lenyap. Ia harus tahu kebenaran, memastikan apakah wanita semalam itu benar-benar bekerja di kantor suaminya, atau hanya sekedar wanita penggoda yang datang diam-diam. Dan siang ini, ia akan mencari tahu semuanya sendiri.

‎‎-

‎-

-

‎‎Jam menunjukkan pukul dua belas siang, waktu istirahat makan siang.

‎‎Risa sudah berpakaian rapi, mengenakan dress pendek selutut, rambutnya dibiarkan tergerai. Di tangannya ia membawa kotak makan siang yang besar, berisi masakan rumahan yang dia masak sendiri. Ia berjalan masuk menuju gedung perkantoran tempat Raga bekerja, tempat yang sudah sering ia kunjungi sebelumnya.

‎‎Begitu sampai di lantai teratas, para karyawan yang mengenalnya segera menyapa dengan ramah.

‎‎"Selamat siang, Bu Risa! Wah, cantik sekali hari ini," sapa sekretaris Raga dengan ramah.

‎‎"Selamat siang, Andin. Terimakasih," jawab Risa sambil tersenyum ramah. "Saya membawa bekal makan siang untuk Mas Raga. Dia ada di ruangannya kan?"

‎‎"Ada Bu, baru saja selesai rapat. Silakan masuk saja," jawab Andin.

‎‎Risa mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya. Sepanjang jalan matanya mengamati setiap wajah karyawan yang ada di sana, mencari-cari wajah yang sangat ia ingat semalam.

‎‎Ia melihat wajah satu persatu, namun tidak ada yang sama.

‎‎Risa mengetuk pintu ruangan Raga pelan, sebelum membukanya dan masuk kedalam.

‎‎"Sayang? Kamu kok datang kesini? Ada apa?" tanya Raga cepat, segera berdiri menyambutnya.

‎‎"Aku membawa makan siang untukmu, Mas. Kasihan kalau kamu makan makanan luar terus, kurang sehat," jawab Risa lembut, meletakkan kotak makan itu di atas meja yang ada disudut ruangan. "Aku juga sekedar ingin melihat suasana kantormu, sudah lama tidak kesini."

‎"Ah, terimakasih banyak Sayang. Kamu benar-benar perhatian sekali," ucap Raga, segera duduk di sofa dan membuka kotak makan itu dengan senyum bahagia.

‎‎Sementara Raga sibuk dengan makanannya, Risa menatap sekeliling ruangan sebentar sebelum menatap suaminya kembali.

‎‎"Makanlah pelan-pelan, Mas," ucap Risa lembut. "Aku mau berkeliling sebentar, mau lihat-lihat sekalian menyapa karyawan kamu. Nanti aku langsung pulang, tidak lama kok."

‎‎Raga mengangguk cepat, "Baiklah Sayang, silakan saja. Kalau sudah selesai langsung pulang ya,"

‎‎"Iya, Mas," jawab Risa sambil tersenyum tipis, lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan kerja Raga, menutup pintunya pelan.

‎‎Di lorong kantor yang luas itu, Risa berjalan perlahan, matanya mengamati setiap sudut, setiap wajah orang yang lewat, sambil sesekali menyapa dan mengobrol sebentar dengan staf yang ia kenal. Ia sengaja berlama-lama, berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, menyusuri setiap lorong, seolah benar-benar hanya ingin melihat-lihat suasana kantor. Padahal hatinya berdebar kencang, setiap langkahnya penuh perhatian, berharap sekaligus takut akan bertemu orang yang ada di dalam ingatannya semalam.

‎‎Ia terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lorong dekat kamar mandi umum kantor. Saat itu juga, pintu kamar mandi wanita terbuka perlahan.

‎‎Jantung Risa seketika berhenti berdetak, darahnya mendidih hebat, seluruh tubuhnya terasa kaku dan dingin.

‎"Selamat siang, Bu Risa,"

-

-

-

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!