"Renata jatuh!"
Teriakan itu membelah riuh ulang tahun Eyang Hardjo Notonegoro.
Satu detik sebelumnya, pendopo rumah besar di Menteng masih penuh tawa, wangi melati, dan denting gelas. Satu detik berikutnya, semua orang berlari ke kolam. Kursi terseret. Seorang tante menjerit. Kain kebaya Renata mengapung di permukaan air, sementara tangannya menggapai lemah.
Arunika berdiri membeku di tepi kolam.
Air menciprat ke ujung kainnya. Telapak tangannya masih terangkat, bukan karena baru mendorong siapa pun, melainkan karena barusan ia mencoba menahan Renata yang tiba-tiba limbung ke arahnya.
"Tolong... bayi saya..."
Suara Renata pecah, tipis, cukup keras untuk didengar orang yang ia tuju.
Damar berlari melewati Arunika tanpa menatapnya.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada jeda untuk meminta penjelasan. Laki-laki yang selama tiga tahun ia panggil suami itu langsung melompat ke kolam, meraih tubuh Renata, lalu mengangkatnya ke tepi dengan wajah panik yang belum pernah Arunika lihat bahkan ketika ia sendiri pernah demam tiga hari.
"Renata!" Damar menepuk pipi perempuan itu. "Buka matamu."
Renata batuk. Air keluar dari bibirnya. Tangannya mencengkeram lengan jas Damar.
"Damar... aku takut..." Ia menangis. "Aku cuma mau bicara baik-baik dengan Nika. Aku tidak tahu kenapa dia marah."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Semua kepala menoleh kepada Arunika.
Istri muda Damar. Perempuan yang tiga tahun terakhir dianggap terlalu biasa untuk masuk keluarga Notonegoro. Menantu yang selalu dituntut menjaga nama baik, tetapi tidak pernah benar-benar diberi tempat.
"Saya tidak mendorongnya," ucap Arunika.
Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk ruangan yang tiba-tiba penuh tuduhan.
Seorang kerabat menutup mulut. "Ya Allah, Renata sedang hamil."
"Saya bilang, saya tidak mendorongnya."
Damar akhirnya menatapnya.
Tatapan itu dingin. Bukan tatapan suami yang mengenal istrinya, melainkan hakim yang sejak awal sudah menjatuhkan vonis.
"Nika," katanya rendah, "sekarang bukan waktunya membela diri."
Sesuatu di dada Arunika retak pelan.
Ia sudah terbiasa makan malam sendirian, terbiasa tidur dengan jarak yang lebih lebar daripada ranjang mereka, terbiasa melihat nama Renata muncul di ponsel Damar pada jam-jam yang seharusnya menjadi milik suami istri.
Tetapi terbiasa tidak berarti kebal.
"Kalau bukan sekarang, kapan?" Arunika bertanya. "Setelah semua orang percaya saya pembunuh?"
Rahang Damar mengeras. "Jangan dramatis."
Renata terisak di pelukan pelayan. Rambutnya basah, wajahnya pucat, satu tangan melindungi perutnya yang mulai membesar. Pemandangan itu sempurna. Terlalu sempurna.
"Aku tidak mau memperpanjang masalah," bisik Renata, suaranya tetap cukup terdengar. "Asal Nika mau minta maaf, aku ikhlas. Aku cuma takut pada bayiku."
Ikhlas.
Beberapa kerabat langsung menghela napas iba. Mereka memandang Renata seperti korban paling mulia, lalu memandang Arunika seperti noda di lantai marmer.
Tok.
Tongkat Eyang Hardjo menghantam lantai.
Seketika pendopo merendah.
Laki-laki tua itu duduk di kursi utama, batiknya rapi, peci hitamnya tidak bergeser sedikit pun. Ia tidak perlu berdiri untuk membuat satu ruangan menunduk. Nama Notonegoro melekat padanya seperti bayangan panjang, dan malam ini bayangan itu jatuh tepat di atas kepala Arunika.
"Bawa Renata masuk," perintahnya.
Dua pelayan membantu Renata berdiri. Damar ikut menopang bahunya. Sebelum dibawa pergi, Renata menoleh sekilas kepada Arunika.
Hanya sekilas.
Namun cukup.
Di balik mata basah itu, Arunika melihat kilatan puas yang cepat sekali hilang.
Jari-jari Arunika mengepal.
"Kamu." Suara Eyang Hardjo menancap. "Ke sini."
Damar tetap di sisi Renata. Ia tidak berkata agar keluarganya menunggu penjelasan. Ia hanya berdiri di sana, seolah tempatnya memang bukan di samping istrinya.
Arunika berjalan ke tengah pendopo.
Kainnya basah di bagian bawah. Ujung sepatunya meninggalkan bekas air di lantai. Bisik-bisik mengikuti setiap langkah. Kurang ajar. Tidak tahu diri. Sejak awal tidak pantas menjadi menantu Notonegoro.
Ia mendengar semuanya.
Tiga tahun lalu, ia mungkin akan menunduk demi mempertahankan pernikahan yang ia pilih dengan keras kepala. Malam ini, lututnya masih tegak.
Eyang Hardjo menatapnya dari atas kursi.
"Renata membawa darah Notonegoro di rahimnya. Kamu tahu itu?"
"Saya tahu."
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu berani menyakitinya?"
"Saya tidak menyakitinya."
Bisik-bisik naik lagi.
Eyang Hardjo menyipitkan mata. "Jangan membantah orang tua."
"Saya tidak sedang membantah. Saya sedang mengatakan yang benar."
Udara di pendopo menegang.
Damar menoleh tajam. "Nika."
Panggilan itu dulu membuatnya ingin mendekat.
Sekarang hanya membuatnya lelah.
"Bersimpuh," kata Eyang Hardjo.
Arunika menatapnya. "Apa?"
"Bersimpuh di depan Renata, minta maaf, lalu katakan pada semua orang bahwa kamu khilaf."
Di luar pendopo, guruh bergulung. Angin membawa bau tanah basah dari halaman.
"Saya tidak akan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak saya lakukan," kata Arunika.
Damar melepaskan bahu Renata kepada pelayan, lalu berjalan mendekat. Jasnya basah, rambutnya meneteskan air, wajahnya keras.
"Cukup," ucapnya. "Renata hampir kehilangan bayinya."
"Dan kamu langsung percaya saya penyebabnya."
"Fakta yang saya lihat, kamu berdiri di belakangnya."
"Fakta yang kamu lihat hanya bagian yang ingin kamu percaya."
Mata Damar menggelap.
Selama tiga tahun, Arunika mengenal ekspresi itu. Ekspresi yang muncul setiap kali ia menanyakan kepulangannya, setiap kali ia menyebut nama Renata, setiap kali ia mencoba meminta sedikit tempat dalam hidupnya.
Ekspresi yang berkata bahwa ia merepotkan.
"Jangan membuat semuanya makin buruk," ujar Damar.
Arunika menahan tawa kecil yang pahit. "Untuk siapa? Untuk saya, atau untuk nama baik Notonegoro?"
Sebelum Damar menjawab, Eyang Hardjo bangkit.
Gerakannya lambat, tetapi seluruh pendopo ikut menahan napas.
"Perempuan yang masuk keluarga ini harus tahu tempatnya," katanya. "Kamu bukan siapa-siapa sebelum memakai nama Notonegoro."
Bukan siapa-siapa.
Kalimat itu tidak baru. Ia mendengarnya dalam bentuk lain selama tiga tahun: dari tatapan keluarga Damar, dari senyum tipis para ipar jauh, dari cara rumah ini selalu mengingatkannya bahwa cinta tidak cukup untuk membuatnya diterima.
Ia pernah menerima semuanya karena cinta.
Betapa murahnya ia menukar harga diri.
"Kalau begitu," ucap Arunika pelan, "nama itu boleh kalian ambil kembali."
Damar membeku.
Eyang Hardjo menegang. "Apa maksudmu?"
Arunika belum sempat menjawab.
Prang!
Vas porselen di meja samping melayang ke lantai dekat kakinya. Pecahannya menyebar seperti gigi tajam. Arunika mundur setengah langkah, tetapi satu serpihan kecil memantul dan menggores punggung tangan kanannya.
Perih menyambar.
Garis merah muncul di kulitnya. Darah merembes, bercampur air kolam yang masih menetes dari kainnya.
Damar melihat luka itu.
Matanya berhenti sekejap di punggung tangan Arunika, lalu kembali dingin.
Ia tidak bertanya apakah Arunika sakit.
Tidak ada seorang pun bertanya.
Renata justru terisak dari arah pintu dalam. "Eyang, jangan marah. Nika mungkin cuma emosi."
Mungkin cuma emosi.
Arunika menggenggam tangan kanannya. Darah terasa lengket di telapak kiri.
Eyang Hardjo menunjuk halaman. "Kalau kamu masih merasa benar, buktikan dengan kesabaranmu. Bersimpuh di halaman sampai kamu sadar kesalahanmu."
Hujan mulai turun.
Mula-mula titik kecil di pinggir pendopo. Lalu deras, menampar daun, genteng, kolam, dan batu halaman.
Damar berhenti tepat di depan Arunika.
Untuk sesaat, sisa kebodohan di hatinya masih berharap ia akan menghentikan kakeknya.
"Minta maaf, Nika," katanya rendah. "Masalah ini selesai malam ini."
Arunika menatap wajah yang dulu membuatnya berani meninggalkan rumah Prawira. Wajah yang ia bela di depan Bapak dan Mama. Wajah yang selama tiga tahun ia tunggu di meja makan, di hari ulang tahun, di malam-malam saat ponselnya berdering dengan nama Renata.
Ia pernah begitu mencintai laki-laki ini sampai lupa bahwa dirinya juga pantas dicintai.
"Kalau aku tidak mau?" tanyanya.
Damar menghela napas, seolah ia yang paling lelah.
"Kalau begitu, berlututlah sampai subuh, sampai kamu sadar salahmu."
Kalimat itu membuat dunia di sekitar Arunika hening.
Tidak ada lagi suara kerabat. Tidak ada lagi tangis Renata. Bahkan hujan terdengar jauh.
Arunika mencari sesuatu di mata Damar. Rasa percaya. Rasa kasihan. Sedikit saja ingatan bahwa perempuan di hadapannya adalah istrinya.
Ia tidak menemukan apa pun.
Damar berpaling lebih dulu.
"Jangan ada yang membantunya," katanya kepada para pelayan. "Biarkan dia memikirkan kesalahannya."
Lalu ia berjalan kembali ke arah Renata.
Arunika menatap punggungnya.
"Damar."
Langkah laki-laki itu berhenti.
Panggilan itu keluar seperti sisa terakhir dari tiga tahun yang bodoh.
Damar tidak menoleh. "Apa?"
"Kalau malam ini aku mati kedinginan, apa kamu akan percaya aku tidak mendorongnya?"
Bahunya tampak kaku.
Hanya sebentar.
"Jangan berlebihan," katanya.
Ia melanjutkan langkah.
Renata menunduk di balik selimut, tetapi dari tempatnya berdiri, Arunika melihat sudut bibir perempuan itu naik sedikit. Kecil. Cepat. Cukup.
Hujan semakin deras ketika Arunika melangkah turun dari pendopo.
Batu halaman terasa dingin menembus lututnya begitu ia bersimpuh. Air langsung membasahi rambut, wajah, dan bajunya. Luka di punggung tangan kanannya terbuka lagi, darahnya larut bersama hujan.
Dari pintu dalam, cahaya hangat rumah Notonegoro masih menyala. Bayangan orang-orang bergerak di balik kaca. Mereka kembali pada teh panas, selimut untuk Renata, dan percakapan tentang nama baik keluarga.
Tidak ada tempat untuk Arunika di sana.
Ia menunduk, bukan untuk mengakui salah.
Ia menunduk karena lututnya mulai gemetar.
Di bawah deras hujan Menteng, dengan punggung tangan berdarah dan hati yang akhirnya berhenti memanggil, Arunika bersimpuh sendirian sampai malam terasa tidak punya ujung.
# Bab 2
## Malam Terpanjang
Hujan tidak berhenti.
Batu halaman Notonegoro berubah licin dan dingin. Air mengalir di sela lutut Arunika, menyusup ke balik kainnya, membuat tubuhnya menggigil tanpa bisa dikendalikan.
Di bawah deras hujan Menteng, dengan punggung tangan berdarah dan hati yang akhirnya berhenti memanggil, Arunika bersimpuh sendirian sampai malam terasa tidak punya ujung.
Pada awalnya, ia masih bisa merasakan marah.
Marah membuat dadanya panas. Marah membuat punggungnya tetap tegak meski lututnya mulai berdenyut. Marah membuat ia menatap pintu rumah besar itu, berharap Damar keluar, bukan untuk memaafkannya, tetapi setidaknya untuk bertanya satu kali saja.
Kamu benar-benar tidak mendorong Renata?
Satu pertanyaan itu cukup.
Tidak ada.
Pintu tetap tertutup. Cahaya dari dalam rumah makin redup satu per satu. Suara pesta mati pelan-pelan, berganti bunyi piring yang dibereskan, langkah pelayan, lalu sunyi yang panjang.
Arunika menelan napas. Tenggorokannya terasa pahit.
Hampir tengah malam, seorang pelayan perempuan keluar dari pintu samping membawa payung hitam. Langkahnya ragu-ragu, seperti setiap jengkal halaman bisa membuatnya dihukum.
"Non Arunika," bisiknya.
Arunika mengangkat wajah. Air hujan mengalir dari bulu matanya.
Perempuan itu berhenti dua langkah di depannya. Payung di tangannya tidak dibuka. Matanya merah, mungkin karena iba, mungkin karena takut.
"Maaf, Non. Saya tidak bisa bantu banyak." Ia menyelipkan sapu tangan kecil di atas pot batu dekat Arunika. "Kalau Eyang tahu..."
"Tidak apa-apa," jawab Arunika.
Suaranya serak.
Pelayan itu menatap punggung tangan Arunika yang berdarah. "Lukanya harus dibersihkan."
"Nanti."
"Non..."
"Masuklah, Bu. Nanti Anda ikut dimarahi."
Pelayan itu menggigit bibir. Ia ingin berkata sesuatu lagi, tetapi dari arah koridor terdengar suara pintu dibuka. Tubuhnya langsung menegang.
Arunika menurunkan pandangannya.
"Masuk," ulangnya pelan.
Perempuan itu buru-buru pergi. Sapu tangan tetap tertinggal di atas pot, basah sebelum sempat disentuh.
Arunika tidak mengambilnya.
Ia menatap kain putih kecil itu sampai bentuknya kabur oleh air hujan. Di rumah ini, bahkan belas kasihan pun harus disembunyikan seperti dosa.
Lucu, pikirnya. Tiga tahun lalu, ia pernah percaya rumah ini akan menjadi tempatnya pulang.
Tiga tahun lalu, ia berdiri di ruang kerja Bapak di Surabaya dengan tangan gemetar dan kepala keras. Bramantyo Prawira duduk di belakang meja jati, wajahnya tidak marah, hanya sangat lelah.
"Nika, Bapak tidak melarang kamu menikah karena Bapak tidak suka Damar," kata Bapak waktu itu. "Bapak melarang karena keluarga itu tidak melihatmu sebagai manusia. Mereka melihatmu sebagai jalan untuk mempermanis nama mereka."
Arunika masih ingat bau kopi di ruang itu. Masih ingat mata Mama yang sembap di sofa. Masih ingat koper kecil di samping pintu karena ia sudah bersiap pergi bahkan sebelum meminta izin.
"Damar berbeda, Pak," jawabnya.
Betapa yakinnya ia waktu itu.
Begitu yakin sampai ia tidak mendengar suara Mama yang pecah saat memanggilnya.
"Nika, nduk. Cinta tidak seharusnya membuat kamu kehilangan rumah."
Arunika menggigit bibir di tengah hujan.
Kalimat Mama datang terlambat, tetapi tepat. Cinta memang tidak seharusnya membuatnya kehilangan rumah. Cinta juga tidak seharusnya membuatnya bersimpuh di halaman, sementara suaminya menghangatkan perempuan lain di dalam.
Kilat menyambar di balik atap.
Seketika halaman terang. Pada saat yang sama, luka di punggung tangan kanannya terasa seperti dibakar. Ia membuka genggaman. Darah yang tadi merah pekat kini bercampur air, membuat kulitnya pucat dan keriput. Luka itu kecil, tetapi garisnya jelas, miring dari pangkal jari ke arah pergelangan.
Ia mengingat tangan yang sama pernah menggenggam tangan Damar di hari akad.
Saat itu Damar berdiri di sampingnya dengan wajah tenang. Terlalu tenang untuk seorang pengantin laki-laki. Tidak ada senyum. Tidak ada getar bahagia. Tetapi Arunika, bodoh seperti orang yang sedang jatuh cinta, menafsirkan dinginnya sebagai gugup.
Setelah akad, ia menunggu Damar menoleh.
Laki-laki itu hanya berkata, "Jangan berharap terlalu banyak dari pernikahan ini."
Arunika tetap bertahan.
Ia memasak sarapan yang tidak pernah dimakan. Ia belajar selera keluarga Notonegoro, belajar kapan harus diam di meja makan, belajar tersenyum saat para tante memuji Renata sebagai menantu yang lembut dan menyebut Arunika terlalu kaku. Ia menyiapkan jas Damar ketika laki-laki itu pulang lewat tengah malam. Ia duduk di samping ranjang saat Damar demam, hanya untuk mendengar laki-laki itu mengigau memanggil nama lain.
Renata.
Hujan menampar wajahnya lebih keras.
Arunika memejamkan mata.
Ia pernah bertanya pada Damar, satu kali, hanya satu kali, "Apa Damar masih mencintai Mbak Renata?"
Damar saat itu sedang mengancingkan jam tangannya. Ia tidak menatap Arunika.
"Renata adalah keluarga."
"Aku juga keluargamu."
Baru saat itu Damar menoleh. Tatapannya datar, hampir kasihan.
"Kamu istriku. Jangan membuat posisimu sendiri menjadi rendah dengan cemburu pada orang yang sedang berduka."
Sejak hari itu, Arunika berhenti bertanya.
Malam ini ia akhirnya mengerti. Bukan karena ia terlalu cemburu. Bukan karena ia kurang sabar. Bukan karena ia belum cukup baik.
Damar memang tidak pernah memberi ruang untuknya.
Ia hanya berdiri di ambang pintu hidup laki-laki itu selama tiga tahun, mengetuk dengan tangan sendiri, lalu menyalahkan dirinya ketika pintu tidak dibuka.
Menjelang dini hari, rasa marah mulai padam.
Yang tersisa adalah sakit.
Sakit itu tidak meledak. Tidak membuatnya menangis keras atau memukul apa pun. Sakit itu diam-diam merayap dari lutut ke tulang belakang, dari luka tangan ke dada, dari ingatan ke tempat paling dalam yang selama ini ia pakai untuk menyimpan harapan.
Arunika menatap langit gelap.
"Ya Allah," bisiknya, nyaris kalah oleh suara hujan, "kalau ini cara-Mu menyadarkanku, aku mengerti."
Bibirnya bergetar. Ia tidak tahu apakah karena dingin atau karena kalimat itu akhirnya keluar.
Ia mengerti.
Mengerti bahwa perempuan tidak harus mati perlahan demi membuktikan cinta. Mengerti bahwa sabar bukan berarti membiarkan diri diinjak. Mengerti bahwa meninggalkan orang yang tidak pernah memilihnya bukan kekalahan.
Di dalam rumah, langkah kaki terdengar mendekat. Arunika membuka mata.
Damar muncul di ambang pintu.
Untuk sesaat, jantungnya berkhianat. Ia berdetak lebih cepat, seperti masih menyimpan kebiasaan lama. Damar berdiri di bawah atap, sudah berganti pakaian kering. Rambutnya rapi kembali. Di tangannya ada ponsel, layarnya menyala sebentar sebelum ia memasukkannya ke saku.
Arunika menunggu.
Damar tidak membawa selimut. Tidak membawa obat luka. Tidak membawa payung.
Ia hanya menatapnya dari tempat kering.
"Renata sudah tidur," katanya.
Arunika hampir tertawa.
Renata sudah tidur.
Jadi untuk itukah dia keluar? Untuk memberi tahu bahwa perempuan yang menuduhnya sudah nyaman di dalam?
"Syukurlah," jawab Arunika.
Damar mengerutkan kening, mungkin mendengar sesuatu yang asing dalam suaranya.
"Kamu masih keras kepala?"
Arunika mengangkat wajah. Air hujan menetes dari dagunya. Ia menatap laki-laki itu, benar-benar menatapnya, dan untuk pertama kalinya Damar terlihat jauh. Bukan karena jarak halaman, melainkan karena sesuatu di antara mereka sudah selesai.
"Damar," ucapnya.
Panggilan itu terasa aneh di lidahnya.
Damar diam.
"Selama tiga tahun, pernah tidak sekali saja kamu percaya aku lebih dulu daripada orang lain?"
Wajah Damar berubah sedikit. "Ini bukan soal percaya atau tidak."
"Lalu soal apa?"
"Soal sikapmu malam ini. Renata hamil. Eyang marah. Kamu seharusnya meredakan keadaan, bukan mempermalukan keluarga."
Arunika menatapnya lama.
Ternyata bahkan setelah semua ini, jawabannya tetap sama. Nama baik. Keluarga. Renata. Eyang. Semua orang punya tempat dalam kalimat Damar.
Kecuali dirinya.
"Baik," katanya.
Damar tampak tidak puas. "Apa maksudmu baik?"
"Aku mengerti sekarang."
"Kalau kamu mengerti, minta maaf besok pagi."
Arunika tidak menjawab.
Damar menarik napas kasar. "Jangan paksa aku menjadi lebih keras, Nika."
Dulu, ancaman seperti itu akan membuatnya takut. Dulu, ia akan cepat-cepat melunak, meminta maaf meski tidak salah, asal Damar tidak semakin jauh.
Malam ini, kalimat itu jatuh ke tempat yang sudah kosong.
Damar menunggu sebentar. Ketika Arunika tetap diam, ia berbalik dan masuk lagi ke dalam rumah.
Pintu tertutup.
Tidak ada lagi yang retak di dada Arunika.
Yang retak sudah hancur semuanya.
Menjelang subuh, hujan mereda menjadi gerimis tipis. Langit di atas Menteng berubah abu-abu. Azan dari masjid kejauhan terdengar samar, melewati pagar tinggi rumah Notonegoro, menyentuh halaman yang dingin.
Arunika mencoba menggerakkan kaki.
Rasa nyeri langsung menusuk sampai pinggang. Lututnya kaku. Punggung tangan kanannya pucat, luka merahnya membengkak sedikit. Tubuhnya lemah, tetapi kepalanya justru paling jernih sejak tiga tahun terakhir.
Ia menatap pintu rumah itu.
Di balik pintu itu ada semua yang pernah ia pertahankan. Nama Notonegoro. Pernikahan yang kosong. Cinta yang hanya hidup karena ia sendiri yang meniupkan napas ke dalamnya.
Arunika menunduk dan perlahan menarik cincin nikah dari jari manisnya.
Cincin itu sulit lepas karena jarinya membengkak oleh dingin. Ia menarik sekali lagi. Kulitnya perih, tetapi cincin akhirnya terlepas dan jatuh di telapak tangannya.
Kecil. Dingin. Tidak seberat tiga tahun hidupnya.
Arunika menggenggam cincin itu bersama sisa tenaga yang ia punya.
Ketika cahaya pertama menyentuh halaman, ia tidak lagi menunggu Damar datang menyelamatkannya.
Ia hanya menunggu pagi, karena pagi ini ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
# Bab 3
## Aku Mau Cerai
Pagi datang tanpa belas kasihan.
Langit Menteng berubah pucat, tetapi dingin di halaman rumah besar Notonegoro masih menggigit sampai tulang. Arunika tidak tahu sudah berapa kali tubuhnya hampir roboh. Ia hanya tahu cincin nikah di telapak tangannya semakin dingin, dan rasa sakit di lututnya sudah berubah dari nyeri tajam menjadi kebas yang menakutkan.
Ia menggenggam cincin itu bersama sisa tenaga yang ia punya.
Ketika cahaya pertama menyentuh halaman, ia tidak lagi menunggu Damar datang menyelamatkannya.
Ia hanya menunggu pagi, karena pagi ini ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Pintu utama akhirnya terbuka.
Damar keluar dengan kemeja bersih dan wajah yang tampak kurang tidur. Namun ia tetap kering, tetap rapi, tetap seperti seseorang yang hanya terganggu oleh urusan keluarga, bukan seperti seorang suami yang baru membiarkan istrinya berlutut semalaman di bawah hujan.
Di belakangnya, seorang pelayan membawa nampan berisi kopi. Aroma kopi hitam menyentuh udara dingin. Arunika mencium wanginya samar-samar, lalu hampir tertawa. Bahkan pagi Damar masih punya kopi.
Ia hanya punya luka.
Damar berhenti tiga langkah darinya.
Matanya turun ke lutut Arunika, lalu ke punggung tangan kanannya. Luka itu tampak buruk di bawah cahaya pagi. Kulit di sekitarnya memutih, garis merahnya membengkak, dan darah kering melekat di sela jari.
Untuk satu detik, sesuatu bergerak di wajah Damar.
Tetapi suara yang keluar tetap dingin.
"Sudah sadar salahmu?"
Arunika menatapnya.
Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan. Mungkin jika diucapkan tadi malam, ia masih akan merasakan dadanya hancur sekali lagi. Namun setelah satu malam penuh, kalimat itu hanya terdengar kosong.
Ia mencoba menggerakkan kaki.
Tubuhnya langsung limbung.
Damar refleks maju setengah langkah, tetapi Arunika lebih dulu menahan diri dengan telapak tangan kiri di batu halaman. Kerikil kecil menekan kulitnya. Ia menggigit bibir, menunggu gelombang nyeri lewat.
"Jangan keras kepala," kata Damar.
Arunika mengangkat wajah. "Aku tidak keras kepala."
"Kalau begitu minta maaf."
"Tidak."
Rahang Damar mengeras. "Nika."
"Damar."
Nama itu keluar tanpa Mas.
Hening.
Pelayan yang berdiri di belakang Damar menunduk lebih dalam. Bahkan udara pagi seperti ikut berhenti. Damar menatap Arunika seolah baru menyadari ada sesuatu yang hilang, tetapi ia belum tahu apa.
"Apa kamu bilang?" suaranya rendah.
Arunika membuka genggaman.
Cincin nikah itu terbaring di telapak tangannya, kecil dan basah. Damar memandangnya. Warna di wajahnya berubah tipis.
"Aku mau cerai," kata Arunika.
Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata. Tidak ada suara pecah. Kalimat itu keluar datar, setenang air setelah badai.
Justru karena itu Damar terlihat terpukul.
"Kamu bicara apa?"
"Aku mau cerai."
"Jangan main-main."
"Aku tidak pernah seserius ini."
Damar tertawa pendek, tetapi tidak ada lucu di wajahnya. "Kamu pikir dengan mengatakan cerai pagi-pagi begini, semua orang akan takut? Kamu ingin aku merasa bersalah karena kejadian semalam?"
Arunika memandangnya tanpa berkedip.
Itu Damar. Selalu begitu. Bahkan ketika ia berkata ingin pergi, laki-laki itu masih mengira dunia berputar di sekitar harga dirinya. Ia pikir Arunika sedang menghukum. Sedang mencari perhatian. Sedang menguji seberapa jauh ia bisa menarik hati seorang suami yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
"Aku tidak butuh kamu merasa bersalah," ucap Arunika. "Aku hanya butuh kamu menandatangani apa yang harus ditandatangani."
"Apa maksudmu?"
"Gugatan cerai."
Damar menegang.
"Surat gugatan cerai akan sampai padamu," lanjut Arunika. "Aku sudah menyiapkannya."
Pelayan di belakangnya hampir menjatuhkan cangkir. Suara porselen beradu dengan nampan terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat Damar melirik tajam. Pelayan itu buru-buru mundur dan masuk ke dalam.
Kini halaman hanya menyisakan mereka berdua.
Damar melangkah mendekat. "Kamu tahu apa konsekuensi ucapanmu?"
"Tahu."
"Kamu akan keluar dari rumah ini tanpa apa-apa."
"Baik."
"Harta gono-gini, nafkah, fasilitas, semua yang kamu pakai selama menjadi istriku..."
"Aku tidak mau."
Damar berhenti.
Kali ini kebingungan di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan.
Arunika perlahan meletakkan cincin nikah di atas batu datar di depannya. Gerakan itu sederhana, tetapi membuat sesuatu di mata Damar berubah. Mungkin karena selama tiga tahun, ia terlalu terbiasa melihat Arunika menggenggam apa pun yang berhubungan dengannya dengan hati-hati, seolah semua benda pemberiannya adalah nyawa kedua.
Pagi ini, ia meletakkannya seperti benda asing.
"Aku tidak akan mengambil satu rupiah pun dari Notonegoro," kata Arunika. "Tidak rumah, tidak mobil, tidak saham, tidak perhiasan. Tidak juga nama kalian."
"Kamu tidak punya tempat untuk pergi."
Kalimat itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
Arunika hampir tersenyum.
Jadi ini yang selalu Damar yakini. Bahwa ia bertahan karena tidak punya pilihan. Bahwa Arunika yang selama ini menunduk di rumah Notonegoro hanyalah perempuan biasa yang terlalu takut kehilangan status sebagai istri Damar Aditya Notonegoro.
Betapa sedikit ia mengenalnya.
"Itu bukan urusanmu lagi," jawab Arunika.
Damar menatapnya tajam. "Kamu masih istriku."
"Mulai hari ini, hanya di atas kertas."
Wajah Damar menggelap. "Nika, cukup. Kalau kamu marah karena semalam, kita bisa bicara setelah keadaan tenang."
"Aku sudah tenang."
"Tidak. Kamu sakit, kedinginan, emosimu kacau."
"Aku paling jernih pagi ini."
Arunika mencoba berdiri.
Lututnya menolak. Rasa sakit menusuk begitu keras sampai pandangannya menghitam sesaat. Ia hampir jatuh, tetapi kali ini Damar benar-benar menangkap lengannya.
Sentuhan itu dulu akan membuatnya luluh.
Sekarang hanya membuat kulitnya terasa asing.
Arunika menarik lengannya.
Damar tidak langsung melepaskan. Jari-jarinya mengunci lebih kuat, seolah baru sekarang ia menyadari bahwa jika ia melepas, perempuan itu mungkin benar-benar pergi.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil," katanya, tetapi suaranya tidak setegas tadi.
Arunika menatap tangan Damar di lengannya.
"Lepaskan."
"Kamu mau pergi ke mana dengan kondisi seperti ini?"
"Ke mana pun yang tidak membuatku harus berlutut untuk kesalahan orang lain."
Kata-kata itu menghantam.
Untuk pertama kalinya, Damar tidak segera menjawab.
Arunika menarik lengannya lagi. Kali ini Damar melepas, mungkin karena kaget, mungkin karena genggamannya sendiri tiba-tiba terasa bersalah.
Ia berdiri dengan susah payah. Tubuhnya bergoyang. Rambutnya masih basah, bajunya berat oleh air, wajahnya pucat. Namun punggungnya tegak. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan, tetapi rasa sakit itu membuatnya sadar bahwa ia masih hidup.
Dan karena ia masih hidup, ia bisa memilih pergi.
Damar menatapnya dari dekat. "Kamu akan menyesal."
Arunika mengambil cincin dari batu, bukan untuk memakainya kembali, melainkan untuk meletakkannya di telapak tangan Damar.
Jari mereka bersentuhan sebentar.
Damar kaku.
"Tidak," kata Arunika. "Yang aku sesali hanya bertahan selama ini."
Mata Damar berkedip.
Kalimat itu lebih tajam daripada tamparan.
Dari pintu dalam, suara langkah terdengar. Mungkin pelayan. Mungkin kerabat yang mulai bangun. Arunika tidak menoleh. Ia tidak ingin memberi rumah ini kesempatan melihatnya roboh sekali lagi.
Ia melangkah menuju sisi halaman.
Langkah pertama hampir membuatnya jatuh. Langkah kedua lebih sakit. Langkah ketiga membuat napasnya terputus. Namun ia terus berjalan, melewati pot batu tempat sapu tangan basah tadi masih tergeletak, melewati kolam tempat Renata jatuh semalam, melewati pendopo yang menyimpan semua tatapan hina.
"Nika."
Damar memanggilnya.
Ia berhenti, tetapi tidak berbalik.
"Kamu pikir hidup di luar Notonegoro akan mudah?"
Arunika menatap gerbang depan yang perlahan dibuka oleh penjaga. Di luar sana, jalan Menteng masih basah oleh hujan semalam. Dunia tidak tiba-tiba menjadi ramah. Tubuhnya sakit, uang tunai di tasnya tidak banyak, dan ia belum menghubungi siapa pun.
Tetapi udara di luar gerbang tampak lebih lega daripada rumah itu.
"Mudah atau tidak," jawabnya, "setidaknya aku tidak perlu memohon untuk dipercaya."
Ia melanjutkan langkah.
Damar tidak mengejarnya.
Mungkin karena gengsi. Mungkin karena yakin Arunika akan kembali setelah tenang. Mungkin karena ia masih percaya perempuan yang selama tiga tahun mencintainya tidak mungkin benar-benar pergi.
Arunika tidak peduli lagi.
Di depan gerbang, penjaga menatapnya bingung. "Non Arunika, perlu saya panggilkan sopir?"
"Tidak."
"Tapi Non..."
"Tolong buka saja."
Penjaga itu ragu, lalu menunduk dan membuka gerbang lebih lebar.
Arunika melangkah keluar dari rumah besar Notonegoro dengan lutut yang nyaris tidak sanggup menahan tubuhnya, punggung tangan yang masih berdenyut, dan hati yang anehnya terasa kosong sekaligus ringan.
Di belakangnya, Damar masih berdiri di halaman, menggenggam cincin nikah mereka.
Di depan, pagi Jakarta menunggu.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Arunika tidak membawa nama Notonegoro bersamanya.
Dan justru karena itu, langkahnya terasa seperti miliknya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!