Bab 1
Suite pengantin baru itu dihias seolah bunga bisa memperbaiki segalanya.
Seprai warna gading. Mawar putih. Lilin yang wanginya seperti hotel mahal. Dua gelas sampanye masih utuh di atas meja. Dan aku, duduk di tengah ranjang raksasa itu, memakai piyama sesopan mungkin sampai rasanya seperti dipilihkan tante yang sangat religius.
Dari kamar mandi terdengar suara pancuran.
Di dalam sana ada suamiku.
Damar Mahendra.
Sampai kemarin, pria itu tunangan kakakku. Pria yang selama lima tahun kupanggil kakak ipar, murni karena kebiasaan keluarga.
Sekarang dia suamiku.
Astaga.
Semuanya bermula semalam, ketika seseorang mengirim video Laras bersama mantannya kepada Damar. Bukan video yang masih bisa disangkal. Bukan percakapan aneh. Video jenis yang tidak menyisakan banyak ruang untuk penjelasan.
Damar datang ke rumah keluarga Wijaya dengan ponsel di tangan. Papa berusaha menyelamatkan pertunangan. Mama menangis. Laras bersumpah, berteriak, pura-pura hampir pingsan, bergelayut kepadanya seolah drama bisa menghapus apa yang sudah terjadi.
Tidak ada gunanya.
Damar ingin membatalkan pernikahan.
Dan, jujur saja, siapa yang bisa menyalahkannya? Tidak ada orang yang mau berdiri di pelaminan dengan tanduk yang masih hangat dipasang.
Tapi keluarga Mahendra adalah puncak gunung yang sudah bertahun-tahun coba didaki Papa. Undangan sudah dikirim, kesepakatan keluarga sudah ditandatangani, gedung sudah dibayar, tamu sudah dikonfirmasi. Kalau pernikahan dibatalkan, keluarga Wijaya akan menjadi bahan gosip paling lezat di seluruh kawasan elite itu.
Jadi mereka tidak membatalkannya.
Mereka mendorongku maju.
Aku hanya ingin menonton kekacauan itu dari pojok ruangan, diam-diam, seperti orang yang menonton serial milik orang lain. Tapi tiba-tiba semua mata berbalik ke arahku.
"Kirana bisa menikah dengannya."
Kupikir Damar akan tertawa. Atau berdiri. Atau mengatakan ini bukan lelucon.
Karena aku adik Laras.
Karena dia kakak iparku.
Karena tidak ada pria normal yang mau menikahi adik tunangannya sehari setelah mengetahui dirinya dikhianati.
Tapi Damar menatapku.
Hanya sekali.
Lalu dia setuju.
Bukan seperti pria kebingungan. Dia melakukannya seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan untuk semua orang di ruangan itu.
Aku terpaku pada tangannya di atas map. Jari-jari panjang, kuku rapi, jam hitam mengintip dari bawah manset kemeja. Dia tidak bicara keras. Tidak perlu.
Begitulah aku berakhir memakai gaun putih, berjalan menuju pria yang seumur hidupnya nyaris tidak pernah menatapku lebih dari dua detik.
Suara pancuran berhenti.
Telapak tanganku berkeringat.
Apa yang seharusnya terjadi pada malam pertama ketika pengantin bahkan hampir tidak saling mengenal? Apa dia benar-benar berharap aku bersikap seperti istri dari novel murahan?
Pintu kamar mandi terbuka.
Napas terhenti di tenggorokanku.
Damar keluar berselimut uap, memakai jubah mandi abu-abu yang terbuka di bagian dada. Aku selalu melihatnya dalam setelan jas, serius, sempurna, dingin. Jenis pria dewasa yang tampak seperti menandatangani kontrak bahkan saat bernapas.
Tapi begini, dengan rambut basah, tulang selangka tegas, dan dada bidang mengintip di balik kain, dia tidak terlihat seperti kontrak.
Dia terlihat seperti masalah.
Masalah berusia tiga puluh tahun, bersuara berat, dengan tangan yang terlalu tenang.
Aromanya bersih seperti sabun dan sesuatu yang berkayu, seperti pinus dingin.
Jari-jariku mencengkeram seprai.
Dia berjalan ke arah ranjang.
Setiap langkah membuat dadaku makin sesak.
Ketika dia berdiri di depanku, begitu tinggi, begitu serius, begitu keterlaluan tampannya, hal terburuk justru keluar dari mulutku.
"Kakak ipar..."
Damar berhenti.
Alisnya hanya bergerak sedikit, tapi aku melihatnya.
"Apa yang kamu panggil aku tadi?"
Aku menelan ludah.
Tentu. Hebat sekali. Malam pertama sebagai istri dan aku memanggilnya kakak ipar.
"Maaf. Kebiasaan."
"Sekarang kita suami istri," katanya tenang. "Kamu harus mengubah itu."
Mengubahnya.
Menjadi apa?
Suami? Sayang? Damar?
Baru membayangkan memanggilnya sayang saja wajahku sudah panas.
"Kalau begitu... Pak Mahendra?"
Tatapannya terasa lebih berat.
"Kamu pernah melihat istri memanggil suaminya Pak?"
"Pak Damar?"
Dia diam.
Lebih buruk.
"Kedengarannya aku berumur lima puluh tahun," katanya.
Aku menggigit bibir.
"Damar?"
Kali ini dia mengangguk.
"Itu."
Ibu jarinya mengusap tepi handuk yang ia bawa. Aku langsung menurunkan pandangan.
Aku menarik napas, tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Kamu akan tetap di sini?" tanyaku.
Dia melihat ranjang.
"Ini suite kita."
Ya. Tentu. Pertanyaan yang sangat cerdas, Kirana.
Dia mendekat lagi. Aku mundur di atas ranjang, menyeret selimut bersamaku.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidur."
"Bagaimana?"
Rasanya aku ingin menggigit lidah sendiri.
Damar menatapku dengan ketenangan yang justru membuatku makin kacau.
"Kamu ingin tidur bagaimana?"
"Aku... di sisi kiri. Kamu di kanan."
"Malam ini malam pertama kita."
Wajahku menyala.
Dia mengamatiku sesaat.
"Kamu pernah bersama pria?"
Udara tersangkut di dadaku.
Wajahku panas. Aku paham betul maksudnya.
Aku menggeleng.
"Belum."
Sesuatu berubah di matanya.
Damar menunduk ke arahku, kedua tangannya bertumpu di sisi tubuhku. Aku terperangkap di antara lengannya dan ranjang. Napasnya menyapu napasku.
Kami begitu dekat sampai aku bisa melihat bulu matanya.
Lalu, dengan suara yang terlalu tenang untuk pertanyaan seperti itu, dia bertanya, "Kamu mau melakukannya?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dia terlalu dekat dan aku bisa mencium aroma kemejanya.
Mataku melebar seperti baru disiram air dingin.
Melakukannya?
Seperti ini? Secepat ini?
"Sekarang?" kata itu lolos begitu saja.
Damar tidak menjauh.
"Malam ini malam pertama kita."
Ya, terima kasih. Aku cukup sadar soal itu. Ranjang besar, bunga putih, dan jantungku yang menghantam tulang rusuk sudah mengulanginya setiap tiga detik.
Tapi mengetahui sesuatu berbeda dengan menerima bahwa pria ini, yang dua hari lalu masih menjadi tunangan kakakku, ingin menyempurnakan pernikahan denganku.
Aku belum siap.
Sedikit pun belum.
Pandangannya turun ke mulutku.
Aku melihatnya.
Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada kepalaku. Ketika dia menunduk, aku memalingkan wajah.
Bibirnya tidak sempat menyentuhku.
Damar diam. Lalu dia memegang daguku dengan dua jari dan mengembalikan wajahku pelan-pelan. Aku memejamkan mata karena gugup, menekan bibir rapat-rapat seolah itu bisa menyelamatkanku.
Tidak terjadi apa-apa.
Ketika aku membuka sebelah mata, dia masih menatapku.
"Maaf," gumamku. "Aku belum terbiasa dengan... ini. Menjadi istrimu."
Kata istri terasa sangat asing di lidahku.
"Beri aku sedikit waktu, ya?"
"Sedikit itu berapa lama?"
"Aku tidak tahu."
Diamnya membuatku merasa kecil.
Bukan karena takut. Karena jaraknya. Aroma bersih dari kemejanya, lengannya yang bertumpu di samping pinggangku, tatapan diam di mulutku. Aku menelan ludah dan membenci jari-jariku yang gemetar.
"Tapi tidak terlalu lama," tambahku cepat. "Kurasa."
Damar menatapku beberapa detik. Aku sudah membayangkan kemungkinan terburuk, tapi dia menegakkan tubuh, mengitari ranjang, lalu berbaring di sisi lain.
"Tidur."
Hanya satu kata.
Aku masuk ke bawah selimut sebelum sempat memikirkan apakah memang ingin melakukannya.
Aku mengembuskan napas.
Dia tidak memaksaku.
Dan meski tidak ingin mengakuinya, sesuatu di dalam diriku mengendur.
Aku ikut berbaring, menyisakan jarak sangat lebar di antara kami. Dua orang lagi bisa muat di sana. Tiga, kalau posisinya rapi.
"Selamat malam," kataku kaku.
"Selamat malam."
Kami mematikan lampu.
Kupikir aku tidak akan bisa memejamkan mata. Tapi tubuhku memutuskan berkhianat dan aku tertidur nyaris seketika.
Saat fajar, sebuah tangan menyentuh bahuku.
"Jangan..." gerutuku setengah tidur, menepisnya.
Detik berikutnya mataku terbuka.
Damar duduk di samping ranjang, sudah mengenakan setelan hitam dan kemeja abu-abu. Tanpa dasi. Dua kancing di leher terbuka. Dingin, rapi sempurna, dan terlalu menarik untuk jam sepagi itu.
Aku bangun sambil memeluk selimut.
"Selamat pagi."
"Bangun. Keluargaku ingin menyapamu sebelum sarapan. Kakek dan Nenek biasanya memberi restu dan hadiah setelah pernikahan."
Aku mengangguk seperti sedang wawancara kerja.
"Setelah itu kita sarapan dengan mereka, lalu pergi ke rumah yang kubeli sebelum pernikahan. Kita akan tinggal di sana."
"Baik."
Aku masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Air dingin membuatku benar-benar sadar.
Ini bukan mimpi.
Aku sudah menikah.
Dengan Damar Mahendra.
Aku keluar masih memakai piyama putih pinjaman dari salah satu sepupunya. Aku tidak mungkin turun seperti ini.
Damar masih berada di kamar.
"Aku tidak punya baju."
Dia menatapku, mengeluarkan ponsel, lalu menelepon. Beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu. Dia menerima sebuah tas dan menyerahkannya kepadaku.
"Ganti."
Di dalamnya ada gaun merah muda baru. Juga pakaian dalam. Ukuranku persis.
Aku menatap labelnya.
Bagaimana dia tahu ukuranku?
Aku tidak bertanya.
Gaun itu bertali tipis dengan hiasan mawar di satu bahu. Ketika aku keluar, Damar mengangkat wajah.
Tatapannya berhenti padaku.
"Kelihatan bagus?" tanyaku gugup.
"Bagus."
Bagus? Itu bagus sungguhan atau sekadar komentar sopan?
Dia berdiri dan mengulurkan tangan.
"Ayo."
Aku menatap tangannya. Besar, berjari panjang, dengan keanggunan yang aneh. Aku meletakkan tanganku di atasnya.
Telapak tangannya hangat. Tanganku dingin.
"Tanganmu berkeringat," katanya.
Wajahku memerah.
"Aku... gugup."
Dia tidak mengejek. Hanya menggenggam sedikit lebih erat.
Hangat telapak tangannya merambat ke pergelangan tanganku. Aku menunduk agar tidak terus memandangi jari-jarinya di atas jariku.
Ruang tamu mansion itu penuh. Kakek-nenek, orang tua, paman, bibi, sepupu. Keluarga Mahendra seperti tidak ada habisnya.
Damar memperkenalkanku satu per satu.
Aku menyapa kakek-neneknya, menerima pelukan terukur, doa restu, amplop-amplop elegan, dan hadiah. Ibunya menggenggam tanganku dengan senyum tenang.
"Bangunlah hidup yang baik bersama."
Ia memasangkan gelang zamrud di pergelangan tanganku. Berat. Sangat berat.
Aku melihat Damar, tidak tahu apakah boleh menerimanya.
Dia mengangguk.
Jadi aku menerimanya.
Saat sarapan, aku duduk di sampingnya, kaku. Aku tidak berani mengambil makanan dari piring saji di tengah meja.
Tiba-tiba Damar menaruh daging di piringku.
Aku menatapnya.
Dia terus makan seolah tidak terjadi apa-apa.
Lalu dia menaruh sayur. Setelah itu makanan lain. Dan satu lagi.
Dia tidak bertanya apakah boleh. Dia hanya memutuskan aku harus makan dengan baik.
Dan, entah karena alasan konyol apa, itu membuatku lebih malu daripada gaun tadi.
"Terima kasih," bisikku. "Jangan ambilkan lagi."
Mungkin dia tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar.
Aku menghabiskan semuanya.
Ketika kami pergi, kakek-nenek dan orang tuanya memintanya menjagaku. Dia hanya menjawab ya.
Di mobil, sambil memandangi gelang itu, aku bertanya, "Apa aku harus mengembalikan ini kepadamu?"
"Ibuku memberikannya kepadamu."
"Ini mahal sekali. Bagaimana kalau hilang?"
"Kalau begitu hilang."
Aku menatapnya, bingung.
"Kamu tidak marah?"
"Itu bukan milikku. Itu milikmu."
Aku juga bertanya soal amplop hadiah.
"Aku yang mengurusnya?"
"Atau kamu mau memberikannya kepadaku?"
Aku langsung menggeleng.
Damar hanya melirikku.
"Kalau begitu simpan."
Aku tidak bisa menahan senyum.
Rasanya ingin sekali membuka semua amplop itu dan menghitungnya.
"Pakai sabuk pengaman," katanya. "Kita pergi."
Aku patuh.
Dia menatapku lagi.
Tidak mengatakan apa-apa, tapi aku merasakan tatapan itu di kulitku.
Bab 2
Begitu Damar menyalakan mobil, seseorang tiba-tiba menghadang di depan kami.
Rem mendadak membuat tubuhku terlempar ke depan.
"Ya Tuhan!" seruku sambil menempelkan tangan ke dada.
Ketika aku mengangkat wajah, aku melihat Laras.
Kakakku berdiri di depan mobil, pucat, rambutnya berantakan, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia tampak hampir hancur.
Aku menoleh kepada Damar.
Ekspresinya membeku.
"Laras, apa-apaan kamu?" katanya sambil menurunkan kaca jendela. "Mau tertabrak?"
Laras mendekat seolah hanya Damar yang ada di dunia.
"Damar, kumohon. Turun sebentar. Aku perlu bicara berdua denganmu."
"Kamu bisa bicara di sini."
Laras menatapku.
"Kirana, turun sebentar. Aku mau bicara dengan kakak iparmu."
Aku sudah hendak melepas sabuk pengaman ketika Damar menahan tanganku.
Kuat.
Dia tidak menatapku. Dia menatap Laras.
"Sadar diri. Istriku Kirana. Adikmu. Apa pun yang mau kamu katakan, katakan di depannya."
Jantungku tersangkut.
Istriku.
Jari-jariku meremas sabuk pengaman. Kata itu jatuh ke dadaku, berat dan panas.
Mata Laras memerah.
"Kamu sudah mengakuinya sebagai istrimu? Lalu aku ini apa?"
"Mantan tunanganku."
"Tidak! Jangan bilang begitu. Kamu mencintaiku, kan? Kamu menikah dengannya untuk menghukumku. Tapi aku tidak ingin menyakitimu. Dia mengancamku. Dia memaksaku..."
Wajah Damar tidak berubah.
"Kalau kamu diancam, kenapa tidak melapor?"
"Karena itu akan menghancurkan pernikahan."
"Pernikahan atau reputasimu?"
Laras terdiam.
Aku juga.
Aku belum melihat video itu. Aku juga tidak ingin melihatnya. Tapi kata-kata Damar membuatku paham kakakku tidak sepolos korban seperti yang ia katakan.
"Bahkan kalau aku percaya padamu," lanjut Damar, "di video itu kamu tidak terlihat menderita."
Wajah Laras memucat.
Aku menunduk. Canggung sekali. Mengerikan sekali harus berada di sana.
"Damar," bisiknya. "Benar-benar tidak ada kemungkinan lagi?"
"Tidak ada."
Dia menjalankan mobil tanpa memberinya ruang lagi.
Keheningan di dalam mobil terasa sangat aneh.
Aku memainkan sabuk pengaman.
"Kamu tidak ingin bertanya sesuatu?" katanya.
"Tentang apa?"
"Tentang yang baru saja terjadi."
"Aku tidak tahu apakah itu urusanku."
"Kamu istriku. Kamu berhak tahu bahwa antara Laras dan aku sudah tidak ada apa-apa."
Aku menatapnya, terkejut.
Dia mengatakannya tanpa hiasan. Suaranya rendah, pandangannya lurus ke depan, satu tangan mantap di kemudi. Aku memandangi profilnya lebih lama daripada yang seharusnya.
Dia tidak perlu menjelaskan kepadaku. Aku tidak mencintainya. Kami bahkan baru belajar bernapas di ruangan yang sama. Tapi tetap saja dia melakukannya.
"Baik," kataku.
"Baik."
"Iya."
Hening lagi.
Setengah jam kemudian kami tiba di rumah tempat kami akan tinggal.
Itu bukan sekadar rumah. Itu kediaman tiga lantai di kawasan perumahan yang sangat mahal, dengan taman, air mancur kecil, dan keamanan pribadi. Jenis tempat yang tidak akan pernah bisa dibeli keluargaku, bahkan kalau mereka menjual separuh nama belakang mereka.
Damar membuka pintu.
"Kodenya 336699. Kalau lupa, pakai ini."
Dia memberiku sebuah kunci.
Aku menyimpan kunci itu dalam genggaman. Masih hangat dari jarinya.
Aku masuk di belakangnya. Semuanya baru, bersih, elegan. Juga dingin.
"Aku membeli rumah ini dua tahun lalu," jelasnya. "Aku hampir tidak pernah datang."
Dia menunjukkan ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar-kamar, pusat kebugaran, ruang kerja, dan teras dengan kolam renang.
"Kita akan tinggal berdua?"
"Untuk sekarang, ya. Aku tidak suka ada orang tinggal di dalam rumah. Bu Rosa datang untuk memasak dan bersih-bersih."
Di lantai dua, dia membuka kamar utama yang tenang, hampir semuanya abu-abu, putih, dan hitam.
"Ini kamarku."
"Kamarku?"
"Kita suami istri. Kita tidur bersama."
Aku menatap ranjang besar itu.
Tentu.
Mudah sekali dia mengatakannya.
Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah kartu hitam.
"Rumah ini penuh barangku. Aku tidak tahu apa yang kamu suka. Pakai ini untuk membeli apa pun yang kamu butuhkan. Isinya Rp50 juta untuk bulan ini."
Aku berkedip.
"Lima puluh juta? Untukku?"
"Ya."
"Kalau aku menghabiskan terlalu banyak?"
"Habiskan. Aku punya uang untuk kamu pakai."
Aku tidak bisa menahan senyum.
"Kalau begitu... terima kasih."
"PIN-nya delapan delapan."
Aku menerima kartu itu seolah benda itu panas.
Damar menyentuh kepalaku.
Tubuhku kaku.
Dia mengusap rambutku sekali, seperti sedang memastikan sesuatu, lalu menarik tangannya.
"Aku ke ruang kerja. Lihat-lihat rumahnya."
Setelah dia pergi, aku menutup pintu kamar dan mengeluarkan semua amplop dari tas.
Isinya bukan uang tunai.
Isinya cek.
Bernilai jutaan.
Beberapa bahkan puluhan juta.
Aku duduk di ranjang dengan mulut terbuka.
Dalam satu hari, nilaiku naik lebih tinggi daripada sepanjang hidupku.
Mungkin aku bukan pengantin yang seharusnya berada di sini.
Tapi aku juga korban yang dikorbankan.
Jadi aku menyimpan cek-cek itu dengan hati nurani yang cukup tenang.
Kerusakan emosional, begitu katanya.
Kusimpan cek-cek itu seperti bukti dari kejahatan yang indah.
Setelah itu aku mulai memeriksa kamar Damar.
Nyaris tidak ada jejak perempuan. Hanya sepasang sandal rumah merah muda yang masih berlabel, baru, tepat sesuai ukuran kakiku.
"Bagaimana dia tahu bahkan nomor sepatuku?" gumamku.
Lalu aku teringat pakaian dalam pagi tadi dan memilih tidak memikirkannya terlalu jauh.
Aku membuka walk-in closet. Pakaian Damar tersusun berdasarkan warna: hitam, putih, abu-abu. Pria yang sangat membosankan sekaligus sangat mahal.
Tapi di sisi lain ada gaun-gaun baru. Banyak. Juga piyama.
Piyama bertali tipis.
Berenda.
Terlalu tipis.
Aku memegang salah satunya dan wajahku terasa panas.
Apa semua ini dia yang menyiapkan?
Dengan wajah patung serius itu dan selera yang begitu... berbahaya.
Di laci, aku menemukan pakaian dalam untukku. Terlalu lengkap. Lalu, karena tidak sengaja, aku membuka laci lain dan melihat pakaian dalam pria.
Aku langsung menutupnya.
Tidak banyak yang kulihat.
Tapi cukup untuk membuat pikiranku mulai berulah.
"Tidak, Kirana. Cukup."
Aku pergi ke kamar mandi. Di sana semuanya berpasangan: handuk, sikat gigi, gelas, sampo, sabun. Aku menyentuh sikat gigi kedua dan langsung melepasnya, seolah benda itu membakar.
Aku menelepon Sofia.
"Kosong untuk belanja?"
"Untukmu selalu, Nyonya Miliarder. Oh ya, selamat atas pernikahanmu."
Aku bersiap untuk keluar. Di lorong aku bertemu Damar.
"Mau ke mana?"
"Mau membeli beberapa barang dengan Sofia. Dan... terima kasih untuk semua yang disiapkan di kamar."
"Bukan aku yang menyiapkan. Ibuku."
Wajahku langsung jatuh.
Tentu. Jelas. Kenapa Damar harus membelikanku renda dan bra?
"Oh. Baik. Tetap terima kasih. Tolong bilang kepada ibumu kalau..."
"Dia juga ibumu," koreksinya.
"Iya. Itu. Ibu kita."
Aku ingin menghilang.
"Butuh sopir?"
"Aku bisa menyetir. Boleh pinjam mobilmu?"
"Yang mana?"
"Bentley."
Dia memberiku kunci tanpa berdebat.
"Hati-hati."
Aku hampir turun ketika dia memanggilku.
"Tunggu. Kamu belum punya nomorku."
Benar. Kami suami istri, tapi bahkan belum saling WhatsApp.
Dia mendiktekan nomor pribadinya. Saat hendak menyimpannya, aku ragu pada nama kontak.
Damar.
Pak Mahendra.
Jari pengkhianatku mengetik: Suami.
Dia melihatnya.
Aku menyimpan kontak itu sebelum sempat menyesal.
"Kamu sudah punya nomorku, kan?"
"Ya. Kalau butuh sesuatu, telepon langsung."
Aku mengangguk dan hampir berlari keluar.
Sofia nyaris berteriak ketika melihat Bentley.
"Astaga! Sejak kapan kamu bawa mobil ibu-ibu kaya kompleks mahal?"
"Ini milik... suamiku."
Masih sulit mengucapkannya.
Di jalan, aku menceritakan soal cek, kartu, hadiah, dan Laras yang menghadang di depan mobil.
"Teman, kamu dapat lotre lengkap dengan dramanya," kata Sofia.
"Aku tidak tahu apakah Damar menikahiku untuk menghukumnya."
"Kalau iya, itu kejam."
"Tapi aku sudah menikah. Mau bagaimana lagi. Setidaknya dia tidak memperlakukanku buruk."
"Kalau begitu belanja. Kalau mereka menyeretmu ke masalah, minimal masalah itu bayar mahal."
"Lagi pula," tambah Sofia, menurunkan suara seolah sedang membicarakan dosa, "pria itu punya wajah seperti bisa menyuruhmu melepas baju dengan satu perintah, lalu membelikanmu setengah toko tanpa rambutnya berantakan."
Aku menuruti sarannya.
Kami membeli pakaian, makeup, produk perawatan kulit, dan benda-benda yang dulu tidak akan pernah kubeli tanpa menatap harganya tiga kali.
Sementara itu, Laras pulang dalam keadaan berantakan.
Bu Ratih memeluknya di sofa, berusaha menenangkannya.
"Mama, bagaimana kalian bisa membiarkan Kirana menikah dengan Damar? Dia milikku."
"Papamu yang memutuskan..."
"Aku tidak peduli! Kirana tidak mencintainya. Dia juga tidak mencintai Kirana. Minta dia membantuku mendapatkan Damar kembali."
Bu Ratih ragu, tapi Laras menangis lebih keras.
"Kalau Mama tidak membantuku, aku tidak mau hidup."
"Baik," akhirnya ia menyerah. "Mama akan bicara dengannya saat dia datang makan ke rumah setelah pernikahan."
Sore itu, Sofia dan aku makan di sebuah restoran.
Tiba-tiba dia menatapku dengan mata penuh gosip.
"Coba sini, Nyonya Mahendra. Semalam malam pertamamu. Sudah?"
Aku nyaris tersedak air.
"Jangan bahas itu di sini."
"Kalau begitu jawab pelan-pelan. Sudah terjadi?"
"Belum. Kami tidur di ranjang yang sama. Itu saja."
"Itu saja? Dengan pria seperti itu dan tubuhmu... dia masih hidup?"
Wajahku memerah.
Aku teringat Damar yang menunduk di atasku, bertanya apakah aku mau melakukannya.
Suara rendah itu. Ketenangan itu. Cara dia tidak menyentuhku berlebihan, tapi tetap membuatku merasa terkurung.
"Kurasa dia masih hidup."
"Bagaimana kamu tahu kalau belum memastikan?"
"Sofia."
"Apa? Aku bertanya demi ilmu pengetahuan."
Aku melemparkan serbet kepadanya.
Bab 3
"Ganti topik saja," pintaku.
Sofia tertawa.
"Hari ini aku menyelamatkanmu. Besok aku tanya lagi."
Setelah makan, kami terus belanja sampai tali-tali tas belanja mengiris jari. Lalu aku menerima pesan dari Mama.
Besok datang makan ke rumah. Bawa Damar.
Semangatku langsung turun.
"Kenapa?" tanya Sofia.
"Mama ingin aku dan Damar makan di rumah besok."
"Makan keluarga atau perangkap keluarga?"
"Dengan keluargaku, biasanya dua-duanya sama."
Aku memutuskan pulang.
Aku tiba di kediaman sambil membawa banyak tas belanja. Kutaruh semuanya di ruang tamu, naik ke atas, membereskan belanjaan, lalu mandi.
Aku tidak tahu kapan Damar pulang.
Damar sempat pergi ke kantor. Teman-temannya memaksa dia keluar, tetapi ia memikirkan istri yang baru datang ke rumahnya dan menolak ajakan itu. Ia tidak ingin meninggalkanku sendirian tepat setelah pernikahan.
Damar masuk ke kamar dan berhenti.
Dari kamar mandi terdengar suara Kirana, pelan, tidak sadar, bercampur dengan hantaman air.
Pintunya dari kaca buram. Uap yang menempel di kaca hanya menyisakan siluet samar: bahu, pinggang, gerakan lambat sebuah lengan saat mencuci rambut.
Damar tidak mengalihkan pandangan.
Rahangnya menegang.
Darah turun ke perutnya dengan kecepatan yang tidak nyaman.
Dia melangkah ke arah pintu.
Lalu berhenti.
Dia ingin membukanya. Ingin melihatku tanpa kaca di antara kami.
Kirana tidak tahu dia ada di sana.
Damar mengepalkan tangan, menarik napas dalam, lalu mundur.
Aku keluar terbungkus jubah mandi merah muda, rambutku masih basah.
Kami saling menatap.
Tatapannya menyusuri tubuhku tanpa tergesa.
Secara naluriah aku menutup dada.
"Kamu pulang kapan?"
"Aku tinggal di sini."
Hebat, Kirana. Pertanyaan brilian lagi.
"Aku mau ganti baju."
Aku kabur ke ruang pakaian.
Ketika keluar, Damar duduk dengan ponsel di tangan. Jas dan dasinya sudah dilepas. Kemeja gelap yang terbuka di bagian leher membuatnya tampak tidak terlalu sulit dijangkau.
Dan lebih berbahaya.
"Aku perlu bertanya sesuatu," kataku.
"Katakan."
"Besok Mama ingin kita makan di rumah. Itu pertama kalinya aku kembali setelah pernikahan. Kamu bisa?"
Dia berpikir sebentar.
"Aku ikut."
"Kalau kamu tidak mau karena Laras..."
"Yang harus dihadapi, ya dihadapi. Selain itu, kita suami istri. Keluarga kita akan tetap berurusan."
Aku mengangguk.
Lalu aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
Dia melihat rambutku.
"Kamu belum mengeringkannya."
"Nanti aku cari hair dryer."
Dia berdiri, membuka laci, lalu mengeluarkannya.
"Duduk. Aku yang lakukan."
"Tidak, aku bisa."
"Kirana."
Dia hanya menyebut namaku, tapi aku duduk.
Semudah itu.
Aku merapikan jubah di atas paha. Cara dia menyebut namaku membuat telingaku panas.
Udara hangat mulai menggerakkan rambutku. Jarinya memisahkan helaian rambut dengan hati-hati, dari akar sampai ujung. Tubuhku kaku. Setiap sentuhan membuatku sadar betapa dekatnya dia.
Aku menggigit bibir.
Itu hanya jari-jarinya di rambutku. Tidak lebih.
Lalu kenapa aku memikirkan tangan yang sama di pinggangku? Di tengkukku? Di pahaku?
Aku merapatkan lutut di bawah jubah dan berpura-pura panas itu berasal dari hair dryer.
Ketika dia mematikan alat itu, rasanya aku akhirnya bisa bernapas.
"Selesai."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Aku berusaha menata kegugupanku.
"Kunci Bentley kutaruh di nakas."
"Aku melihatnya."
Lalu dia mulai membuka kancing kemeja.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku mau mandi."
Aku membuang pandangan seolah baru melihat sesuatu yang terlarang.
Dia berhenti sedetik. Lalu masuk ke kamar mandi.
Suara pancuran memenuhi kamar.
Aku menoleh ke pintu kaca buram.
Bayangannya bergerak di balik sana.
Aku diam, mendengarkan air dari kamar mandi.
Kulit kepalaku masih terasa peka karena jari-jarinya.
Dan sekarang aku memandangi bayangannya di bawah pancuran seolah tidak punya rasa malu.
Sementara Damar mandi, aku memakai piyama yang lebih sopan.
Menurutku sopan.
Sayangnya tubuhku tidak tahu cara bekerja sama. Sofia selalu bilang aku bisa memakai selimut sekalipun dan tetap terlihat seperti dosa.
Pintu kamar mandi terbuka tepat ketika aku sedang mencoba naik ke ranjang dan pura-pura tidur.
Aku langsung duduk.
Kasur berbunyi.
Damar menatapku.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Aku mengetes apakah ranjangnya kuat."
Aku ingin melempar diri ke luar jendela.
Dia berjalan ke arahku dengan jubah mandi setengah terbuka. Dadanya tegas dan perutnya samar terlihat di balik kain.
Aku menggigit bibir.
Enam? Delapan?
Tidak. Cukup.
"Lalu?" tanyanya. "Kuat?"
"Ya. Sangat."
Dia duduk. Aku mundur.
"Kamu menghindariku?"
"Aku memberimu ruang."
Dia tidak percaya. Tentu saja.
"Kamu mau tidur?" tanyaku.
"Kamu ingin melakukan hal lain?"
Aku menggeleng terlalu cepat.
"Aku ingin," katanya.
Wajahku terbakar.
Dia mengatakannya tanpa malu. Tanpa kecanggungan anak muda. Seperti pria yang mengenal keinginannya dan tidak merasa perlu menyamarkannya.
"Tapi kamu bilang akan memberiku waktu."
"Kemarin kita terbiasa tidur bersama. Hari ini kita bisa maju sedikit."
"Maju?"
"Mendekat."
Aku bergeser beberapa sentimeter. Dia bosan dengan kelambatanku dan menarikku ke sisinya. Tubuhku menempel pada tubuhnya.
"Tidak pernah dipeluk pria?"
"Pernah."
Alisnya menegang.
"Siapa?"
"Papa."
Ketegangan di wajahnya mengendur.
Lalu dia menatap mulutku.
"Dan ciuman? Kamu pernah mencium seseorang?"
"Belum."
Kata itu nyaris tidak terdengar.
"Kamu tidak pernah membayangkan rasanya?"
"Tidak."
Bohong. Mungkin pernah. Tapi bukan dengan mantan kakak iparku yang berubah menjadi suamiku.
Suara Damar turun.
"Angkat wajahmu sedikit. Aku akan menciummu."
"Apa?"
Jarinya memegang daguku.
Dia diam sesaat, menatap mulutku.
Aku tidak menjauh.
Bibirnya menyentuh bibirku.
Awalnya dia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam di sana, dingin dan lembut, menempel pada mulutku. Tapi jantungku seperti ingin melarikan diri.
Itu ciuman pertamaku.
Ciuman pertamaku.
Dengan suamiku.
Damar menggigitku sangat pelan.
"Tutup mata saat dicium."
Aku menurut seperti orang bodoh.
Aku memejamkan mata. Pipiku panas dan mulutku berdenyut bahkan sebelum dia menyentuhku lagi.
Lalu ciuman itu tidak lagi lembut.
Bibirnya bergerak di atas bibirku. Dia membuka mulutku dengan kesabaran yang sama sekali tidak polos. Aku tidak tahu cara bernapas, cara bergerak, atau harus meletakkan tangan di mana.
Ketika dia melepaskanku, aku sudah bersandar kepadanya, pusing.
"Bernapas saja belum bisa," katanya.
Aku menyembunyikan wajah di dadanya.
Malu sekali.
"Sekarang kamu tahu rasanya berciuman."
Aku tidak menjawab.
Tidak bisa. Tidak ketika mulutku masih panas dan otakku terus mengulang bahwa pria itu, mantan kakak iparku, baru saja mengajariku berciuman.
Damar mengusap rambutku.
Dari sisinya, ia menganggap kecanggunganku membuktikan sesuatu: aku memang belum pernah mencium siapa pun. Keputusan impulsif untuk menikah denganku, yang lahir di tengah kekacauan keluargaku, mulai terasa tidak terlalu absurd baginya.
"Besok kita ke rumah orang tuamu jam berapa?"
"Jam sembilan."
"Tidur."
Dia berbaring sambil memelukku.
Aku tetap kaku, menunggu sesuatu yang lain.
Tapi dia tidak melakukan apa-apa.
Hanya memelukku.
Dan tetap saja butuh waktu lama sampai jantungku tenang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!