Indonesia
NovelToon NovelToon

Anak Rahasia Raja Vampir

MUAL

"Eungh... ahh... gerah," racau Naya dalam tidurnya yang setengah sadar, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri dengan keringat yang mulai membesahi dahinya.

"Panggil nama aku, Sayang. Alexander," geram Alexander yang sedikit tidak suka mendengar racauan tak jelas dari bibir Naya, meski dia tahu gadis itu masih terjebak di dalam tidurnya.

Sebagai seorang Raja Vampir, ego Alexander begitu tinggi, namun keindahan tubuh Naya selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya.

Alex membungkuk, menatap wajah Naya yang tampak begitu cantik di bawah remang lampu kamar.

"Ahh... sakit... tapi enak... ahh..." gumam Naya lagi dengan mata yang masih terpejam, tangannya bergerak spontan mencengkeram sprei kasur dengan erat.

"Tahan sebentar, Sayang, ini akan terasa luar biasa untuk kita berdua," jawab Alexander sambil meraih kedua tangan Naya, menguncinya ke atas kepala gadis itu dengan satu tangan besarnya yang kokoh.

Deg

Naya tersentak dan terbangun dari tidurnya.

"Sialan, mimpi gila itu lagi?" umpat Naya dengan suara serak khas bangun tidur.

Naya mendudukkan diri di ranjang, menyibak selimut nya dan seketika tertegun dan matanya melotot, ada noda cairan bening yang sudah agak mengering di atas seprai sutra putihnya.

"T-tidak mungkin..." bisik Naya pada diri nya sendiri.

Sudah beberapa Minggu ini dirinya bermimpi aneh, dan selalu terbangun dengan kondisi yang sama, seperti hari ini.

Naya adalah wanita karir, seorang COW di perusahaan yang dia dirikan sendiri, gadis itu terkenal sebagai pengusaha wanita dengan sifat dingin dan cuek, baginya, laki-laki hanyalah makhluk yang merepotkan.

Tapi seminggu terakhir ini, tidurnya selalu diganggu oleh pria misterius bernama Alexander itu.

Mimpi tentang seorang pria bernama Alexander yang selalu memperlakukannya dengan begitu lembut dan menuntut di atas ranjang.

"Kenapa rasanya nyata banget sampai badanku pegal semua begini?" gumam Naya sambil memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut kencang.

Naya menyentuh lehernya, merasakan sensasi hangat yang aneh di sana, seolah-olah baru saja ada napas seseorang yang berembus di kulitnya.

Naya menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran konyol itu, segera turun dari ranjang, meraih jubah mandinya, dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum bersiap pergi ke kantor.

Perutnya juga terasa tidak nyaman dan mual, seperti ada gejolak yang mendesak naik ke kerongkongannya.

"Pasti cuma masuk angin karena stres mikirin tender besar siang ini," ucap Naya pada dirinya sendiri, mencoba mengusir kecurigaan lain yang mulai melintas di kepalanya.

Naya bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tegas, wanita seperti dirinya tidak punya waktu untuk mengeluh sakit, apalagi memikirkan sebuah mimpi hanya bunga tidur.

Satu jam kemudian, Naya sudah rapi dengan pakaian kerja nya, wajah nya yang cantik serta tatapan matanya yang tajam, membuat pesona seorang Kanaya Tabitha semakin mempesona.

Naya turun ke lantai bawah menuju meja makan, di mana Bi Sumi, asisten rumah tangganya, sudah menyiapkan sarapan.

"Selamat pagi, Non Naya, ini roti panggang sama kopi hitamnya sudah siap," sapa Bi Sumi dengan senyuman ramah.

"Pagi, Bi. Terima kasih," jawab Naya singkat, duduk dan langsung menyesap kopi hitam tanpa gula kesukaannya.

Bi Sumi memperhatikan wajah majikannya yang terlihat sedikit pucat, lengkap dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.

"Non Naya kelihatan capek banget. Akhir-akhir ini tidurnya kurang nyenyak ya, Non?" tanya Bi Sumi hati-hati, merasa khawatir dengan kesehatan wanita muda yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu.

Naya menghentikan kunyahan rotinya sejenak, lalu menghela napas pelan.

"Saya cuma kecapekan kerja urus proyek baru, makanya otaknya stres dan kurang tidur," jawab Naya bohong, tidak mungkin dia menceritakan mimpinya, tentu saja itu terlalu memalukan.

"Ya sudah kalau begitu, Non. Tapi kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu Bibi ya," ucap Bi Sumi sebelum kembali ke dapur.

Naya menyelesaikan sarapannya dengan cepat, dia melirik jam tangan mahal nya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, waktunya dia berangkat ke kantor karena ada rapat penting dengan investor jam 9 nanti.

Naya bangkit berdiri, menyambar tas kerja dan kunci mobilnya di atas meja. Namun, baru dua langkah berjalan menuju pintu depan, kepalanya mendadak berputar hebat. Pandangannya mengabur selama beberapa detik, membuat tubuhnya limbung.

"Uuugghhh..." Naya mengerang sambil memegangi pinggiran sofa terdekat agar tidak terjatuh.

Naya memejamkan matanya erat-erat, mencoba menetralkan rasa pusing yang datang tiba-tiba, perutnya juga mendadak terasa mual dan bergejolak.

"Kenapa tiba-tiba pusing dan mual begini? Apa aku masuk angin karena semalam lupa tutup jendela kamar?" gumam Naya heran sambil memegangi perut ratanya.

Naya menarik napas dalam-dalam, sampai rasa pusing itu perlahan mereda.

"Cuma masuk angin biasa. Nanti di kantor tinggal minum obat juga sembuh," ucap Naya menenangkan dirinya sendiri.

Naya menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya baik-baik saja. Namun, baru saja dia menegakkan tubuh, rasa mual yang tadinya hanya samar kini mendadak naik ke kerongkongan dengan begitu kuat.

"Hoek..."

Naya membekap mulutnya sendiri, matanya langsung berair karena menahan desakan dari perutnya.

Tanpa pikir panjang, dia berbalik dan berlari kecil kembali ke arah kamar mandi di dekat dapur.

Suara langkah kakinya yang terburu-buru membuat Bi Sumi yang sedang mencuci piring langsung menengok dengan wajah panik.

"Non Naya? Non, kenapa?" tanya Bi Sumi, buru-buru mematikan keran air dan menyusul majikannya.

Di dalam kamar mandi, Naya bertumpu pada wastafel, memuntahkan cairan bening, perutnya seperti diaduk-aduk, padahal dia baru saja makan roti panggang dan kopi hitam.

"Hoek... uhuk!" Naya membasuh mulutnya dengan air mengalir, napasnya terengah-engah dan wajahnya yang tadi sudah dipoles makeup kini tampak semakin pucat.

Bi Sumi yang baru sampai di depan pintu kamar mandi langsung memijat tengkuk Naya dengan lembut.

"Ya ampun, Non...masuk angin, sampai muntah air begitu. Kopinya belum sempat dicerna ya?" ucap Bi Sumi, khawatir.

Naya memejamkan mata sambil memegangi perutnya yang masih terasa melilit.

"Iya kayaknya, Bi. Perut saya langsung kaget pas minum kopi tadi. Agak melilit banget rasanya," jawab Naya, pelan.

"Makanya, Non, kalau lagi stres atau capek, jangan langsung minum kopi hitam pagi-pagi, lambungnya gak kuat," omel Bi Sumi dengan nada khawatir, tangannya masih telaten mengusap punggung Naya.

"Bibi ambilin minyak kayu putih ya? Sama buatin teh anget manis dulu," ucap Bi Sumi.

"Gak usah, Bi. Gak sempat lagi, setengah jam lagi saya harus sudah sampai di kantor. Investor dari negara G gak suka sama orang yang gak tepat waktu," jawab Naya menggelengkan kepala pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding wastafel.

DUA TITIK MERAH

"Tapi kondisi Non begini, gimana mau nyetir? Muka Non Naya pucat banget lho, Bibi jadi takut," ucap Bi Sumi, matanya menatap cemas ke arah wajah majikannya yang biasanya selalu terlihat segar dan tegas.

Naya memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba mengembalikan citra dirinya yang kuat dan mandiri.

"Saya gak apa-apa, Bi. Cuma pusing bentar tadi, sekarang udah mendingan kok setelah di muntahin," ucap Naya, meyakinkan.

Naya berjalan keluar dari kamar mandi, melangkah kembali ke meja makan untuk mengambil tasnya yang sempat tergeletak.

Sementara Bi Sumi mengikuti dari belakang dengan perasaan yang masih mengganjal.

"Beneran ya, Non? Nanti kalau di kantor makin parah, langsung pulang saja, atau minta antar supir, biar Non gak usah nyetir sendiri," saran Bi Sumi, masih mencoba membujuk.

Naya memakai kacamata hitamnya untuk menutupi matanya yang agak sembap akibat muntah tadi.

"Gak usah, Bi, saya bisa nyetir sendiri, pelan-pelan saja," tolak Naya, menggeleng kan kepala nya.

"Ya sudah kalau Non Naya maunya begitu. Hati-hati di jalan ya, Non, jangan lupa minum air putih yang banyak di kantor," ucap Bi Sumi sambil mengantar Naya sampai ke pintu depan.

Naya hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu melangkah keluar menuju mobil nya yang terparkir di garasi.

Begitu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu, keheningan langsung menyergapnya.

Naya menyandarkan kepalanya ke setir mobil, membiarkan dahinya menyentuh permukaan kulit setir yang dingin.

Rasa mualnya memang sudah berkurang, tapi ada satu ketakutan aneh yang tiba-tiba melintas di pikirannya, ketakutan yang langsung dia tepis jauh-jauh karena terasa sangat tidak masuk akal.

"Gak mungkin, aku bahkan gak punya pacar, gimana bisa..." bisik Naya pada diri sendiri, suaranya sedikit bergetar.

Naya menggeleng kuat-kuat, mengusir pikiran gila nya.

Naya langsung menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, dan membelah jalanan pagi kota yang mulai padat, mencoba melupakan mimpi buruk, noda di seprai, dan rasa mual yang aneh itu demi tender besar yang sudah menantinya.

Naya mencengkeram setir mobil miliknya dengan sangat erat, meskipun pendingin ruangan sudah dinyalakan cukup dingin, keringat dingin tampak bercucuran di pelipisnya.

"Sialan, kenapa mualnya nggak hilang-hilang sih?" umpat Naya pelan sambil memukulkan tangan kanannya ke setir mobil.

Naya mencoba mengalihkan fokusnya pada jalanan di depan, namun kepalanya terasa semakin berat dan berdenyut-denyut.

Naya yang biasanya sangat fokus saat menyetir, kali ini harus berulang kali menghela napas panjang hanya untuk mempertahankan kesadarannya.

Begitu sampai di gedung perusahaan mewah miliknya, Naya melangkah keluar dari mobil dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki.

Punggungnya tetap ditegakkan, ekspresi wajahnya kembali dingin dan datar, menyembunyikan rasa sakit yang sedang menyiksa tubuhnya.

Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat, tidak ada satu pun yang berani menegur karena aura intimidasi Naya yang begitu kuat.

"Selamat pagi, Nona Muda, jadwal rapat dengan para investor negara G, satu jam lagi," sapa Siska, sekretaris pribadi Naya, yang langsung mengekor di belakangnya begitu Naya keluar dari lift lantai teratas.

Naya tidak langsung menjawab, dia terus berjalan menuju ruang kerjanya yang luas dengan desain modern-minimalis yang mendominasi.

Setelah pintu ruangannya tertutup, barulah Naya menghentikan langkah dan berbalik menatap Siska.

"Siska, tolong ambilkan saya air hangat sekarang. Sama minyak angin kalau kamu punya," perintah Naya dengan suara yang terdengar agak serak.

Siska seketika tertegun mendengar perintah bosnya.

Selama tiga tahun bekerja menjadi sekretaris Naya, dia tahu betul kalau wanita di depannya ini hampir tidak pernah mengeluh sakit, apalagi sampai meminta minyak angin di pagi hari.

"Baik, Nona, Anda kelihatan pucat sekali, apa rapatnya perlu kita undur dulu?" tanya Siska dengan nada penuh kekhawatiran sambil memperhatikan wajah Naya yang tidak sefres biasanya.

Naya langsung mengangkat satu tangannya di udara, mengisyaratkan penolakan yang mutlak atas saran dari sekretarisnya itu.

"Nggak perlu diundur. Investor kita itu tipe orang yang sangat menghargai waktu, saya nggak mau reputasi perusahaan rusak cuma karena masalah sepele begini. Cepat ambilkan airnya," jawab Naya dingin, tidak ingin didebat lebih lanjut.

Siska hanya bisa mengangguk patuh lalu segera keluar dari ruangan untuk memenuhi perintah bosnya, dia tahu kalau Naya sudah bersikap keras kepala, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengubah keputusannya.

Di dalam ruangannya, Naya langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran miliknya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata.

Rasa mual itu kembali datang, membuat Naya terpaksa membekap mulutnya sendiri.

"Ada apa sebenarnya sama badanku hari ini? Nggak biasanya aku selemah ini cuma karena telat makan atau masuk angin," gumam Naya heran sambil memijat pelipisnya sendiri yang berdenyut kencang.

Tak lama kemudian, Siska kembali masuk ke dalam ruangan sambil membawa segelas air hangat dan sebotol kecil minyak angin sesuai dengan permintaan Naya sebelumnya.

"Ini air hangatnya, Nona, dan ini minyak anginnya," ucap Siska sambil meletakkan kedua benda tersebut dengan hati-hati di atas meja kerja Naya.

Naya meraih gelas tersebut dan meminum air hangatnya perlahan-lahan.

Glek

Sensasi hangat yang mengalir di tenggorokannya sedikit mengurangi rasa mual yang melilit perutnya sejak pagi tadi.

"Terima kasih, Siska. Kamu bisa keluar sekarang dan siapkan semua berkas yang perlu saya tanda tangani setelah rapat selesai nanti," ucap Naya setelah meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.

"Baik, Nona. Saya permisi dulu," pamit Siska seraya membungkuk sopan sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan kerja Naya.

Setelah Siska keluar, Naya meraih botol minyak angin, mengoleskannya sedikit ke bagian pelipis dan lehernya, berharap rasa pening nya bisa segera berkurang.

Namun, saat jemarinya menyentuh kulit leher bagian samping, Naya merasakan sesuatu yang aneh, kulit lehernya terasa agak perih, seperti ada luka kecil di sana.

"Kenapa dengan leher ku," batin Naya, mengernyitkan keningnya.

Naya segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju cermin besar yang terpasang di salah satu sudut ruang kerjanya, dia menurunkan sedikit kerah blazer hitamnya untuk memeriksa leher bagian kanan.

Deg

"Apa ini?" bisik Naya terkejut saat melihat bayangan dirinya di dalam cermin.

Di lehernya yang jenjang nya, terdapat dua titik merah kecil yang jaraknya sangat berdekatan, mirip seperti bekas gigitan atau tusukan sesuatu yang tajam.

Luka itu tampak masih baru, namun anehnya tidak mengeluarkan darah sama sekali, hanya menyisakan warna kemerahan di sekitarnya.

Naya menyentuh titik merah itu dengan ujung jarinya, dan seketika rasa nyeri yang aneh menjalar hingga ke dadanya, membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

MILIK KU

Deg

Deg

Deg

"Nggak mungkin, apa semalam ada serangga yang gigit aku pas tidur?" tanya Naya pada dirinya sendiri, mencoba mencari penjelasan yang paling masuk akal.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, bayangan mimpi semalam mendadak berputar kembali di kepalanya.

Suara berat Alexander yang berbisik di telinganya, sentuhan tangannya yang penuh gairah, semuanya terasa begitu nyata dengan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.

Naya menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba menghapus semua bayangan kotor itu dari pikirannya sebelum hal itu merusak konsentrasinya.

"Naya, fokus. Kamu itu CEO, jangan biarkan mimpi bodoh dan gigitan serangga bikin kamu jadi parno begini," ucap Naya dengan tegas pada dirinya sendiri, mencoba mengembalikan kewarasannya yang sempat goyah.

Naya sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam rahimnya, sebuah benih merah darah yang sangat kuat dan sakral milik sang Raja Vampir telah tertanam dengan sempurna, siap untuk tumbuh dan mengubah seluruh hidupnya.

Sementara itu, di gedung perusahaan yang merupakan perusahaan terbesar di dunia, sosok pria bertubuh tegap dan jangkung sedang berdiri di dekat dinding kaca besar yang langsung menghadap ke pemandangan kota.

Pria itu adalah Alexander Giorgio, dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, dia menatap lurus ke depan dengan sepasang mata tajamnya.

Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan ruangan mewah tersebut.

Tok

Tok

Tok

"Masuk," ucap Alexander dengan suara berat dan dingin.

Ceklekk

Pintu ruangan terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas rapi melangkah masuk dengan kepala agak tertunduk penuh hormat.

Pria itu adalah James, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Alexander yang sudah mengabdi selama puluhan tahun.

"Tuan, Nona Kanaya seperti biasa, hari ini pergi ke perusahaannya," lapor James dengan nada suara yang sangat formal dan lugas.

"Hem, terus awasi dia, jangan biarkan bahaya mendekatinya," ucap Alex dingin, matanya sedikit menyipit saat membayangkan wajah Naya yang selalu memenuhi pikirannya.

"Baik, Tuan," jawab James patuh.

James tidak langsung berbalik pergi, dia masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan yang tertaut di depan tubuh, tampak seperti sedang menimang-nimang sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada sang Raja Vampir.

Alexander yang memiliki kepekaan tinggi, langsung bisa merasakan keraguan dari asistennya tersebut, dia membalikkan tubuhnya perlahan, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap James dengan tatapan mengintimidasi.

"Ada lagi yang mau kamu sampaikan, James? Jangan membuatku menunggu," tanya Alexander dengan nada yang sedikit menuntut.

"Ehem, itu tuan."

James berdeham pelan, mencoba menetralkan rasa gugupnya di hadapan aura magis sang Raja yang begitu pekat mendominasi ruangan.

"Maaf, Tuan. Mengenai Nona Kanaya, mata-mata kita yang berada di sekitar kantornya melaporkan bahwa pagi ini Nona Kanaya terlihat kurang sehat," jelas James dengan hati-hati.

Mendengar laporan itu, kilatan merah darah sempat melintas di manik mata hitam milik Alexander, dan sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman seringai tipis yang sarat akan arti.

"Sepertinya benihku sudah mulai bekerja di dalam rahimnya," gumam Alexander dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin.

"Tuan... apa tidak sebaiknya Anda menjemput Nona Kanaya sekarang? Jika kondisi fisiknya melemah karena mengandung keturunan Anda, dia akan menjadi incaran yang sangat mudah bagi kaum Vampir pemberontak," ucap James, menyuarakan kekhawatiran nya.

Alexander menghela napas panjang, lalu berjalan menuju kursi kerjanya, menyandarkan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap meja kerjanya yang bersih.

"Belum waktunya, James, dunia kita sekarang sedang tidak stabil. Dewan Vampir terus mengawasi ku, begitupun dengan para Vampir pemberontak, mereka sedang mencari celah untuk menjatuhkan ku," ucap Alexander dengan nada suara yang kembali datar dan dingin.

"Tapi, Tuan, membiarkan Nona Kanaya berada di luar sana sendirian dalam kondisi mengandung anak Anda, bukankah itu juga sangat berisiko?" tanya James lagi, mencoba memahami jalan pikiran tuannya.

"Naya ku adalah wanita yang pintar dan sangat mandiri. Membawanya ke kehidupanku sekarang justru akan langsung membawa nya ke dalam bahaya. Musuh-musuhku tidak akan segan-segan menggunakannya untuk menghancurkan ku," ucap Alexander dengan tegas, ada kilat perlindungan yang sangat besar di matanya.

"Saya mengerti, Tuan. Jadi, kita akan tetap mengawasinya dari jauh?" James memastikan kembali perintah dari sang Raja.

"Benar! Tingkatkan jumlah pengawal bayangan di sekitar rumah dan perusahaan nya, jangan sampai ada satu pun vampir liar atau manusia yang berniat buruk bisa menyentuhnya. Jika seujung kuku Naya ku terluka karena kelalaianmu, kamu tahu sendiri apa konsekuensinya, James," ancam Alexander dengan suara yang sangat tenang namun terdengar begitu mematikan.

Glek

James seketika merinding, dia angsung membungkuk lebih dalam untuk menunjukkan kepatuhannya yang mutlak.

"Baik, Tuan Alexander, saya akan memastikan keamanan Nona Kanaya dengan nyawa saya sendiri," jawab James tegas, sebelum akhirnya melangkah mundur dan keluar dari ruangan kerja Alexander yang menegangkan itu.

Setelah kepergian James, Alexander kembali bangkit dari kursinya, berjalan mendekati meja kecil di sudut ruangan, tempat sebuah botol kristal berisi cairan merah pekat berada.

Alexander menuangkan cairan merah itu ke dalam gelas, lalu menyesapnya perlahan.

Cairan merah itu bukan wine tapi itu adalah ramuan darah khusus yang biasa dia konsumsi untuk menahan dahaganya selama berada di dunia manusia.

Pikiran Alexander kembali melayang pada sosok Naya, mengingat bagaimana kulit gadis itu terasa sangat halus di bawah dekapannya, dan bagaimana aroma tubuh Naya yang manis selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali setiap malam.

"Maaf kalau aku harus egois dengan menanamkan benih ku tanpa persetujuan mu, Sayang..." bisik Alexander pada keheningan ruangan.

Sebagai Raja Vampir yang sudah hidup selama ratusan tahun, Alexander belum pernah merasakan ketertarikan yang begitu besar pada seorang wanita, apalagi seorang manusia biasa. Namun Naya berbeda, dari pertama kali dia melihat Naya, sesuatu dalam dirinya langsung bergejolak, perasaan yang belum pernah dia rasakan seumur hidup nya.

Alexander sengaja memilih cara ini, datang di saat malam hari, dan memanipulasi kesadaran Naya agar menganggap semuanya hanya mimpi, karena dia tahu dengan sifat Naya yang keras tidak akan pernah menerima kehadirannya begitu saja.

"Kamu adalah milikku, Kanaya Tabitha," gumam Alexander, tersenyum tipis.

Alex tahu betul bahwa anak yang ada di dalam kandungan Naya bukanlah anak biasa.

Seiring berjalannya waktu, janin itu akan menuntut energi yang besar, dan satu-satunya hal yang bisa menenangkan tubuh Naya nantinya adalah keberadaan sang ayah dari anak tersebut, yaitu dirinya sendiri.

Bagi Alexander, membiarkan Naya tetap hidup di dunianya yang normal sebagai seorang CEO yang sukses adalah pilihan terbaik untuk saat ini, setidaknya sampai dia berhasil membersihkan semua tikus-tikus pemberontak yang mencoba mengacaukan takhtanya di dunia keabadian.

"Tunggulah sebentar lagi, Sayang, setelah semuanya aman, aku sendiri yang akan menjemputmu dan anak kita untuk naik ke atas singgasana," gumam Alexander dengan seringai tipis yang kembali menghiasi wajah tampannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!