Indonesia
NovelToon NovelToon

Saat Dokter Itu Kembali

Episode 1

Bab 01

Nadia Lestari tidak pernah membayangkan akan melihat Raka Pradipta lagi di tempat seperti ini.

Bukan di reuni kampus.

Bukan di jalan saat hujan.

Bukan pula di mimpi buruk yang sesekali masih datang ketika tubuhnya terlalu lelah.

Ia melihat laki-laki itu di balik meja praktik, memakai jas dokter putih, dengan stetoskop tergantung rapi di leher. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya lebih tegas daripada tujuh tahun lalu, dan matanya masih sama.

Dingin.

Tenang.

Seperti orang yang tidak pernah kehilangan apa pun.

"Nomor antrean berikutnya, Alya Putri Lestari."

Suara perawat dari pintu membuat kaki Nadia terasa kosong.

Alya menggenggam tangan ibunya. Jari kecilnya hangat, sedikit berkeringat karena mereka sudah menunggu hampir satu jam di ruang tunggu poli jantung anak.

"Mama," bisik Alya, "itu dokterku?"

Nadia ingin mundur.

Hanya satu langkah.

Lalu dua.

Lalu keluar dari ruangan itu, turun lift, naik ojek online, dan pulang ke kontrakan kecil mereka di Tebet seolah-olah pagi ini tidak pernah terjadi.

Namun berkas rujukan ada di tangannya. Hasil ekokardiografi lama ada di map biru. Janji temu hari ini sudah ia atur sejak tiga minggu lalu. Jadwal dokter anak jantung yang biasa menangani Alya mendadak penuh karena ada operasi, dan perawat menyarankan konsultasi dengan dokter pengganti dari tim bedah jantung.

"Dokter Raka hari ini yang pegang pasien follow up, Bu. Beliau konsultan bedah toraks kardiovaskular. Ibu jangan khawatir."

Jangan khawatir.

Kata itu terdengar lucu sekarang.

Nadia berdiri di ambang pintu, tidak bergerak.

Laki-laki di balik meja itu mengangkat wajah. Tatapannya singgah pada Alya lebih dulu, lalu pada Nadia.

Tidak ada perubahan di matanya.

Tidak ada terkejut.

Tidak ada nama lama yang jatuh dari mulutnya.

Ia tidak mengenalinya.

"Silakan masuk," katanya.

Suara itu.

Nadia menggigit bagian dalam pipinya sampai nyeri.

Alya menarik tangannya pelan. "Ma, ayo."

Nadia memaksa kaki melangkah. Ia duduk di kursi di depan meja dokter, sementara Alya duduk di sebelahnya sambil memeluk boneka kelinci bersayap lebah yang sudah buluk di bagian telinga.

Raka mengambil map dari tangan perawat.

"Alya Putri Lestari. Usia enam tahun." Ia membaca cepat, lalu menatap Alya. "Halo, Alya. Aku Dokter Raka."

Alya mengangguk. "Halo, Dok."

"Boleh Dokter dengar jantungnya?"

Alya menoleh pada Nadia dulu. Nadia mengangguk, meski tenggorokannya seperti disumpal kapas.

Raka berdiri, mengambil kursi kecil, lalu mendekat dengan gerakan yang tenang. Ia tidak terburu-buru. Tangannya profesional saat menempelkan stetoskop ke dada Alya, tapi Nadia tetap melihat jari-jari itu.

Jari yang dulu pernah menggenggam tangannya di lorong kampus.

Jari yang dulu pernah mengangkat dagunya saat ia menunduk terlalu lama.

Jari yang dulu tidak pernah datang ketika ia benar-benar membutuhkannya.

"Tarik napas, Alya."

Alya menarik napas.

"Buang pelan."

Anak itu menurut.

Raka mendengarkan beberapa titik, kemudian kembali duduk. Ia membuka hasil pemeriksaan, membandingkan dengan catatan sebelumnya.

"Keluhannya akhir-akhir ini apa, Bu?"

Nadia hampir tidak sadar ia yang ditanya.

"Kadang cepat capek," jawabnya pelan. "Kalau naik tangga terlalu banyak, napasnya berat. Tapi tidak sering pingsan. Batuk juga tidak."

"Obat masih diminum rutin?"

"Masih."

"Kontrol sebelumnya di RS daerah?"

"Iya. Dulu di Semarang. Setelah pindah ke Jakarta, kami pakai rujukan BPJS dulu. Tapi karena jadwalnya lama, beberapa pemeriksaan saya bayar mandiri."

Raka mengangguk. "Untuk kasus Alya, pemantauan harus rapi. Dari hasil lama, ada kelainan bawaan yang perlu dipantau ketat. Operasi mungkin belum sekarang, tapi dalam beberapa tahun ke depan harus disiapkan."

Nadia sudah tahu.

Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali dari dokter lain.

Tetap saja, setiap kali kata operasi keluar, perutnya terasa seperti ditinju.

"Biayanya..." Suaranya tertahan. Ia tidak ingin terdengar miskin di depan Raka. Tidak lagi. "Saya akan cari jalan."

Raka menatapnya sedikit lebih lama.

Bukan tatapan kasihan.

Lebih seperti sedang menilai sesuatu yang tidak ia mengerti.

"Nanti saya bantu jelaskan alur medisnya. Kalau memakai BPJS, pastikan rujukannya aktif. Kalau ada pemeriksaan tambahan yang tidak bisa menunggu, rumah sakit punya program bantuan melalui yayasan. Ibu bisa konsultasi dengan bagian administrasi pasien."

Ibu.

Ia memanggilnya Ibu.

Dulu ia memanggilnya Citra.

Kadang, kalau sedang menggoda, ia memanggilnya "anak keras kepala".

Nadia menunduk. "Terima kasih, Dokter."

"Saya perlu tanya riwayat kelahiran Alya."

Jantung Nadia berhenti sesaat.

"Lahir cukup bulan?"

"Tidak."

"Prematur?"

"Iya."

"Di usia kandungan berapa?"

Nadia meremas ujung map di pangkuannya. "Tiga puluh empat minggu."

Raka mencatat.

"Persalinan di Semarang?"

"Bukan. Di kota kecil dekat sana."

"Ada komplikasi?"

Nadia mengangkat wajah. "Dokter perlu tahu untuk pemeriksaan jantungnya?"

Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang ia rencanakan.

Raka berhenti menulis.

Ruang praktik mendadak terlalu sepi. Dari luar terdengar suara perawat memanggil nomor antrean lain, langkah orang di koridor, dan tangis bayi yang samar.

Raka meletakkan pena.

"Saya menanyakan riwayat kelahiran karena beberapa kondisi bayi prematur berpengaruh pada evaluasi. Kalau Ibu tidak nyaman, kita bisa bahas pelan-pelan."

Nada suaranya tetap datar.

Justru itu yang membuat Nadia makin ingin pergi.

Ia lebih siap jika Raka kasar. Ia lebih siap jika Raka dingin seperti dulu, menertawakan, meremehkan, atau bahkan tidak peduli.

Namun Raka di hadapannya berbicara seperti dokter yang baik.

Seperti orang asing yang sedang membantu anaknya.

"Ada komplikasi," jawab Nadia akhirnya. "Tapi saya tidak punya semua catatan lama."

"Tidak apa-apa. Nanti kita minta rekam medis tambahan kalau memungkinkan."

"Tidak perlu."

Raka menatapnya.

Nadia sadar ia terlalu cepat menjawab.

Ia menelan ludah. "Maksud saya, saya akan coba cari dulu di rumah."

Alya yang sejak tadi diam tiba-tiba menyentuh tangan Raka.

Sentuhan kecil itu membuat Nadia hampir berdiri.

"Dok," kata Alya, "Dokter pernah ketemu Mama?"

Nadia menahan napas.

Raka menoleh pada Alya.

"Kenapa tanya begitu?"

Alya memiringkan kepala. Rambutnya yang diikat dua bergerak pelan. "Soalnya Mama dari tadi pucat."

"Alya." Nadia mencoba tersenyum. "Mama cuma capek."

"Bukan." Alya menatap Raka lagi dengan mata bening yang selalu membuat Nadia sulit berbohong. "Dokter mirip orang di foto."

Darah Nadia seperti turun ke kaki.

Tidak ada foto Raka di rumah.

Tidak ada.

Ia sudah membuang semuanya.

Atau ia pikir begitu.

Raka menatap Nadia. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu bergerak di balik matanya, kecil tapi tajam.

"Foto siapa?" tanyanya.

Alya membuka mulut.

Nadia langsung berdiri. Kursinya bergeser, menimbulkan suara kasar.

"Maaf, Dokter. Alya harus minum obat. Kami juga ada urusan lain." Ia meraih map, memasukkan kembali hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar. "Untuk kontrol berikutnya, saya akan daftar lewat aplikasi."

Raka ikut berdiri.

"Bu Nadia, konsultasinya belum selesai."

Nama itu terdengar asing ketika keluar dari mulutnya.

Bu Nadia.

Bukan Citra.

Bagus.

Seharusnya bagus.

"Saya sudah mengerti garis besarnya." Nadia memegang bahu Alya. "Terima kasih."

Alya menatap ibunya bingung. "Ma, tapi Dokter belum kasih stiker."

Raka mengambil satu stiker kecil dari laci. Bentuknya bintang kuning.

Ia menyodorkannya pada Alya.

"Untuk pasien yang berani."

Alya menerimanya dengan senyum lebar. "Terima kasih, Dok."

Nadia tidak sanggup melihat senyum itu.

Ia menarik putrinya keluar.

Di koridor, napasnya baru pecah. Ia berjalan terlalu cepat sampai Alya harus setengah berlari.

"Ma, pelan-pelan."

Nadia berhenti di dekat lift, menekan tombol berkali-kali.

"Mama kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Mama mau nangis?"

Nadia menunduk, mengusap pipi putrinya. "Alya, dengarkan Mama. Dokter tadi hanya dokter. Jangan tanya hal aneh-aneh lagi, ya?"

Alya memeluk bonekanya lebih erat.

"Tapi dia mirip Papa."

Lift terbuka.

Nadia tidak langsung masuk.

Satu kalimat itu membuat seluruh tubuhnya dingin.

"Alya tidak punya papa seperti itu," katanya pelan.

Alya menatapnya dengan wajah terluka.

Nadia menyesal begitu kalimat itu keluar, tapi ia tidak bisa menariknya kembali.

Ia membawa Alya masuk lift.

Pintu tertutup.

Di dalam ruang praktik, Raka masih berdiri di tempatnya.

Ia menatap pintu yang sudah kosong.

Di meja, ada satu kertas kecil tertinggal di bawah map cadangan. Hasil lab lama. Mungkin jatuh saat Nadia terburu-buru.

Raka mengambilnya.

Nama pasien: Alya Putri Lestari.

Nama ibu: Nadia Lestari.

Bagian catatan kelahiran tampak pernah dikoreksi. Ada tinta berbeda, ada bekas penghapusan, ada satu nama fasilitas kesehatan di kota kecil yang samar.

Raka membaca nama kota itu.

Lalu sesuatu di dadanya bergerak.

Tujuh tahun lalu, dari kota itulah satu nomor asing pernah meneleponnya tengah malam.

Nomor yang tidak pernah ia ingat.

Nomor yang setelah diangkat tidak mengeluarkan suara.

Raka menutup mata sebentar.

Ketika membukanya lagi, wajahnya tetap tenang.

Tapi jari-jarinya mencengkeram kertas itu sampai ujungnya terlipat.

Episode 2

Bab 02

Nadia tidak langsung pulang.

Ia membawa Alya turun ke lantai dasar, keluar dari lobi rumah sakit, lalu berhenti di dekat minimarket kecil di samping area parkir. Matahari Jakarta pukul sebelas siang terasa tajam, tapi telapak tangannya tetap dingin.

Alya duduk di bangku panjang, memeluk boneka kelincinya. Stiker bintang dari Raka ditempel di punggung tangan.

Anak itu memandangnya terus.

"Ma."

"Iya?"

"Mama marah sama aku?"

Nadia menatap wajah putrinya. Hatinya langsung melembek.

"Tidak."

"Tadi Mama ngomong keras."

"Mama kaget."

"Karena aku bilang Dokter Raka mirip Papa?"

Nadia menutup mata sebentar.

Nama itu. Dokter Raka.

Keluar begitu mudah dari mulut Alya, seolah laki-laki itu memang bagian dari hidup mereka.

"Alya," kata Nadia pelan, "jangan panggil dia seperti itu terus. Dia dokter. Kita hormati dia sebagai dokter."

"Aku tahu."

"Kalau Mama bilang sesuatu, Alya dengarkan, ya?"

Alya menunduk. "Iya."

Nadia menarik napas. Ia ingin memeluk putrinya, tapi takut kalau ia mulai memeluk, ia akan menangis di tempat umum. Jadi ia membeli air mineral dan roti, lalu duduk di sebelah Alya.

"Minum dulu."

Alya menerima botol itu. Tangannya kecil, kukunya pendek, ada bekas plester dari pemeriksaan darah minggu lalu. Nadia melihatnya dan dada kembali sesak.

Selama enam tahun, ia sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri.

Antrean rumah sakit.

Surat rujukan.

Biaya obat yang kadang tidak semua bisa ditanggung.

Demam malam hari.

Pertanyaan anak kecil soal ayah.

Ia pikir, setelah sekian lama, tidak ada lagi yang bisa mengguncangnya.

Ternyata satu pintu ruang praktik dan satu jas dokter putih cukup untuk membuat seluruh pertahanannya runtuh.

"Ma."

"Hm?"

"Dokter Raka baik."

Nadia meremas botol air di tangannya.

"Dokter memang harus baik ke pasien."

"Tapi dia lihat aku seperti..."

Alya mencari kata-kata.

"Seperti apa?"

"Seperti dia kenal aku."

Nadia tidak menjawab.

Anak-anak sering melihat sesuatu yang orang dewasa pura-pura tidak lihat. Alya selalu begitu. Ia mudah menangkap nada suara, tatapan, bahkan diam yang terlalu panjang.

"Alya," Nadia mengusap rambutnya, "kita mungkin tidak kontrol sama dokter itu lagi."

Alya langsung mengangkat wajah. "Kenapa?"

"Karena Mama mau cari jadwal dokter yang biasa."

"Tapi Dokter Raka bilang jantungku harus dipantau."

"Dokter lain juga bisa memantau."

"Tapi aku suka dia."

Kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Nadia kira.

Aku suka dia.

Dulu, ia juga pernah mengucapkan kalimat itu pada dirinya sendiri, pelan-pelan, malu-malu, seperti anak bodoh yang menemukan rahasia indah.

Aku suka Raka.

Lalu rahasia indah itu berubah menjadi lubang.

"Kita pulang," kata Nadia.

Ia berdiri terlalu cepat. Alya mengikuti, masih bingung tapi tidak membantah.

Mereka naik taksi online karena Nadia tidak sanggup naik TransJakarta sambil membawa semua map itu. Di dalam mobil, Alya tertidur setelah sepuluh menit. Kepalanya bersandar pada lengan Nadia.

Nadia membuka ponsel.

Ada pesan dari Nenek Sari.

Sudah selesai? Dokternya bilang apa?

Nadia mengetik:

Masih sama, Nek. Perlu kontrol rutin. Nanti Nadia jelaskan di rumah.

Ia berhenti, lalu menambahkan:

Tolong jangan khawatir.

Pesan terkirim.

Nenek Sari membalas cepat.

Nenek selalu khawatir. Itu tugas nenek.

Nadia hampir tersenyum, tapi matanya panas.

Di ruang praktik lantai tiga, Raka masih memegang kertas hasil lab lama ketika perawat masuk untuk mengingatkan pasien berikutnya.

"Dok?"

Raka mengangkat wajah.

"Pasien berikutnya sudah menunggu."

"Masukkan lima menit lagi."

Perawat itu terkejut. Raka Pradipta dikenal tidak pernah menunda pasien untuk urusan pribadi. Ia bahkan tetap praktik sehari setelah pulang dari konferensi di Singapura, dengan wajah pucat dan suara serak.

"Baik, Dok."

Setelah pintu tertutup, Raka duduk kembali.

Ia membuka sistem rekam medis rumah sakit, mengetik nama Alya Putri Lestari. Data yang muncul tidak banyak. Pasien baru pindahan, membawa rujukan dari fasilitas kesehatan sebelumnya. Riwayat di Jakarta baru beberapa bulan.

Nama ibu: Nadia Lestari.

Status ayah: -

Bagian itu kosong.

Raka menatap tanda strip itu lama.

Ia bukan orang yang mudah menghubungkan hal-hal tanpa bukti. Ia dokter. Ia dilatih untuk membaca data, bukan perasaan. Namun pagi tadi terlalu banyak hal yang tidak bisa ia abaikan.

Mata anak itu.

Cara Nadia memutih ketika melihatnya.

Nama kota kecil di catatan lama.

Dan satu kalimat anak itu.

Dokter mirip Papa.

Raka menutup sistem.

Ia mengambil ponsel, membuka grup lama yang sudah bertahun-tahun ia bisukan. Grup angkatan SMA. Ratusan pesan belum dibaca. Foto reuni, candaan basi, undangan acara, promosi usaha.

Satu nama membuat jarinya berhenti.

Dimas: Rak, lo beneran nggak datang reuni bulan ini? Anak-anak pada nanyain. Sekalian bahas Citra. Ada yang bilang dia pernah kelihatan di Jakarta, tapi kurus banget sampai nggak dikenali.

Citra.

Nama itu seperti benda tajam yang jatuh ke lantai.

Raka mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Kau dapat kabar dari siapa?

Balasan datang tidak sampai satu menit.

Dimas: Wah, akhirnya muncul juga. Dari Rini katanya. Tapi nggak jelas. Kenapa? Lo masih kepikiran dia?

Raka tidak menjawab pertanyaan itu.

Kirim nomor Rini.

Dimas mengirim kontak sambil menambahkan emotikon tertawa. Raka mengabaikannya.

Pasien berikutnya masuk.

Raka kembali menjadi dokter. Ia mendengar keluhan, menulis resep, menjelaskan risiko operasi, menjawab pertanyaan orang tua yang takut. Wajahnya tidak berubah. Tangannya stabil. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pikirannya terus kembali pada perempuan yang keluar dari ruang praktik dengan wajah seputih kertas.

Sore hari, ketika jadwal praktik selesai, Raka duduk sendirian di ruang dokter. Di luar jendela, langit Jakarta mulai kusam.

Ia menelepon nomor Rini.

"Halo?"

"Rini. Ini Raka."

Hening beberapa detik, lalu suara perempuan itu meninggi.

"Raka Pradipta? Serius? Ya ampun. Ada apa?"

"Aku mau tanya soal Citra Ayuning."

Hening lagi.

Kali ini lebih panjang.

"Kenapa tiba-tiba tanya Citra?"

"Kau pernah melihat dia di Jakarta?"

Rini tertawa kecil, tapi terdengar tidak nyaman. "Aku juga cuma dengar. Ada yang bilang dia kerja di perusahaan desain kecil. Tapi mungkin bukan dia. Citra dulu..."

Rini menggantung kalimat.

Raka menunggu.

"Maksudku, Citra dulu badannya besar. Yang kulihat di foto teman temanku itu perempuan kurus, cantik, beda banget. Jadi aku nggak yakin."

Raka memejamkan mata.

Kurus. Cantik. Beda.

"Punya fotonya?"

"Nggak. Itu story lama, sudah hilang."

"Nama sekarang?"

"Entahlah. Katanya Nadia atau Nadira. Aku lupa."

Jari Raka mengencang di ponsel.

"Raka?"

"Ya."

"Kenapa kau cari dia? Bukannya dulu kalian..."

"Terima kasih, Rini."

Ia memutus panggilan sebelum perempuan itu menyelesaikan kalimat.

Ruang dokter kembali sepi.

Raka menatap layar ponsel yang sudah gelap.

Nadia.

Citra.

Dua nama itu berdiri berdampingan dalam kepalanya, tapi ia belum bisa menyatukannya.

Di rumah kontrakan, Nadia baru selesai menidurkan Alya ketika ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia menatap layar lama.

Biasanya ia tidak mengangkat nomor asing. Terlalu banyak penawaran pinjaman, asuransi, dan orang-orang lama yang tidak ingin ia temui.

Namun entah kenapa, kali ini jantungnya lebih dulu tahu.

Nomor itu berdering sampai mati.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

Bu Nadia, ini Raka Pradipta. Ada hasil pemeriksaan Alya yang tertinggal. Bisa saya kirim lewat kurir, atau Ibu ambil di rumah sakit besok.

Nadia membaca pesan itu tiga kali.

Tangannya gemetar.

Ia ingin membalas singkat.

Kirim saja.

Tapi sebelum ia mengetik, pesan kedua masuk.

Dan kalau Ibu tidak keberatan, saya ingin menanyakan beberapa hal soal riwayat kelahiran Alya.

Nadia langsung mematikan layar.

Kamar menjadi gelap.

Alya tidur di sebelahnya, napasnya pelan, satu tangan memeluk kelinci bersayap.

Nadia berbaring tanpa bergerak.

Di luar, suara motor lewat satu per satu.

Ia menatap langit-langit yang retak halus.

Tujuh tahun ia bersembunyi.

Tujuh tahun ia mengganti nama, tubuh, kota, hidup.

Dan hari ini, hanya dalam satu pagi, Raka Pradipta sudah mengetuk pintu yang paling ia takutkan.

Nadia menekan ponsel ke dadanya, seolah benda kecil itu bisa mendengar detak jantungnya. Ia ingin percaya pintu itu masih terkunci. Ia ingin percaya Raka hanya dokter yang terlalu teliti. Namun ia tahu, begitu laki-laki itu mulai curiga, ia tidak akan berhenti di depan ambang.

Episode 3

Bab 03

Raka tidak tidur malam itu.

Ia berbaring di kamar apartemennya dengan lampu padam, tapi matanya tetap terbuka. Dari lantai dua puluh tujuh, Jakarta terlihat seperti hamparan titik kuning yang tidak pernah benar-benar lelah. Jalan layang masih ramai. Sirene ambulans lewat sekali. Lalu hening lagi.

Di meja samping ranjang, ponselnya menyala beberapa kali.

Pesan dari Dimas.

Rak, jangan lupa reuni tanggal 20. Kali ini wajib datang. Anak-anak penasaran sama lo.

Rak?

Lo beneran cari Citra?

Raka tidak membalas.

Nama Citra Ayuning sudah lama ia simpan di tempat yang tidak ia sentuh. Bukan karena lupa. Justru karena terlalu sadar.

Ia ingat gadis itu.

Rambut panjang selalu diikat rendah. Seragam kebesaran. Tas kanvas yang warnanya sudah pudar. Cara berjalan yang berusaha tidak menarik perhatian, tapi justru membuat orang makin mudah menargetkannya.

Ia ingat Citra menunduk saat orang lain tertawa.

Ia ingat Citra menggenggam buku sampai buku itu penyok.

Ia ingat Citra tersenyum untuk pertama kali padanya, kecil sekali, seolah senyum itu bukan haknya.

Yang tidak ia ingat adalah bagaimana semua itu berakhir.

Atau mungkin ia ingat, tapi selama bertahun-tahun memilih bentuk cerita yang paling nyaman untuk dirinya sendiri.

Citra pergi.

Citra memutuskan hubungan.

Citra tidak pernah menghubunginya lagi.

Sesederhana itu.

Namun hari ini seorang anak enam tahun bertanya apakah ia papa.

Dan seorang perempuan bernama Nadia Lestari menatapnya seperti ia adalah luka lama yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.

Pagi berikutnya, Raka tetap datang ke rumah sakit sebelum pukul tujuh.

Ia visite pasien pascaoperasi, memeriksa hasil lab, lalu masuk ke ruang rapat kecil untuk diskusi tim. Semua berjalan seperti biasa. Rekan-rekannya membicarakan jadwal operasi, daftar pasien prioritas, dan satu kasus bayi dengan kelainan jantung kompleks.

Raka menjawab seperlunya.

"Dok Raka, nanti siang ada rapat yayasan," kata dr. Malik, seniornya. "Pak Direktur minta Anda hadir. Program bantuan pasien anak mau dibahas."

"Saya hadir."

"Wajah Anda pucat. Kurang tidur?"

"Tidak."

dr. Malik tertawa pelan. "Jawaban dokter yang paling tidak bisa dipercaya."

Raka hanya menutup map.

Saat rapat selesai, Dimas menelepon. Kali ini Raka mengangkat.

"Akhirnya," kata Dimas. "Gue kira lo mati."

"Ada apa?"

"Gue yang harus tanya. Lo kenapa tiba-tiba cari Citra?"

Raka berjalan ke ruang dokter, menutup pintu. "Jawab saja. Kau masih punya kontak siapa pun yang dekat dengannya?"

"Dekat? Citra dulu dekat sama siapa, Rak? Dia cuma dekat sama lo."

Kalimat itu membuat Raka diam.

Dimas melanjutkan, suaranya sedikit lebih rendah. "Setelah lo ke luar negeri, dia benar-benar hilang. Nomornya mati. Akun sosmednya kosong. Ada kabar dia pindah, ada kabar dia sakit, ada juga yang jahat bilang dia mati. Lo tahu sendiri mulut anak-anak dulu."

"Siapa yang bilang dia mati?"

"Entah. Gosip. Dari grup lama mungkin. Kenapa sih?"

"Aku bertemu seseorang."

"Mirip dia?"

Raka tidak menjawab.

Dimas mendesah. "Kalau benar itu Citra, lo mau apa?"

Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras dari seharusnya.

Mau apa?

Raka memandang jendela ruang dokter.

Ia tidak punya jawaban yang pantas.

"Tanggal reuni di mana?" tanyanya.

Dimas langsung cerah. "Nah, akhirnya. Di restoran Kemang. Gue kirim detailnya. Lo datang, ya. Sekalian tanya-tanya. Siapa tahu ada yang tahu."

"Kirim."

"Rak."

"Apa?"

"Kalau soal Citra... dulu kami semua jahat sama dia. Lo juga tahu. Tapi lo satu-satunya orang yang dia lihat beda."

Raka menutup mata.

Dimas berkata lagi, lebih pelan, "Jangan cari dia cuma karena penasaran."

Telepon terputus setelah itu.

Raka menatap ponsel lama.

Penasaran.

Ia ingin percaya bahwa ini hanya rasa penasaran. Bahwa ia hanya dokter yang ingin melengkapi riwayat pasien. Bahwa ia hanya kebetulan bertemu perempuan yang mirip masa lalu.

Namun tubuhnya tidak bereaksi seperti itu.

Ia tidak seperti ini ketika menghadapi operasi delapan jam.

Ia tidak seperti ini ketika rapat direksi keluarga memanas.

Ia tidak seperti ini bahkan ketika peluru pernah menembus dadanya tiga tahun lalu di daerah konflik.

Satu nama lama membuatnya kehilangan ritme.

Sementara itu, Nadia bekerja dari rumah.

Laptop tua terbuka di meja makan kecil. Beberapa sketsa pakaian anak dan motif kain tersebar. Ia sedang menyelesaikan desain untuk klien kecil, butik muslimah yang ingin membuat koleksi Lebaran dengan sentuhan tenun lurik.

Alya duduk di lantai, menggambar rumah dengan krayon.

"Ma, rumah kita nanti harus ada pohon," kata Alya.

"Kenapa?"

"Biar Nenek bisa duduk di bawah pohon. Terus aku bisa main sama kelinci."

"Kita nggak punya kelinci."

"Boneka kelinci."

Nadia tersenyum tipis. "Boleh."

Pintu kamar Nenek Sari terbuka. Perempuan tua itu keluar pelan, memakai daster batik dan kardigan tipis.

"Kalian belum makan?"

"Nadia masak sebentar lagi."

"Kamu dari tadi kerja terus."

"Deadline, Nek."

Nenek Sari duduk di kursi. Matanya yang mulai keruh menatap cucunya lama.

"Kemarin dokter bilang apa?"

Nadia berhenti menggerakkan stylus.

"Sama seperti dokter sebelumnya. Alya harus dipantau. Mungkin operasi beberapa tahun lagi."

"Dokternya bagus?"

"Bagus."

"Kok mukamu begitu?"

Nadia menunduk ke layar. "Muka Nadia memang begini kalau kurang tidur."

Nenek Sari tidak tertipu. Ia membesarkan Nadia sejak kecil. Ia tahu perbedaan lelah, marah, takut, dan pura-pura baik-baik saja.

"Kamu lihat siapa di rumah sakit?"

Jari Nadia berhenti.

Alya mengangkat wajah dari gambar.

"Nenek, dokterku ganteng."

Nadia memejamkan mata. "Alya."

Nenek Sari menatap Alya, lalu kembali pada Nadia. Dalam beberapa detik, wajah tuanya berubah.

"Dia?"

Nadia tidak menjawab.

Tidak perlu.

Nenek Sari menggenggam ujung meja.

"Dia mengenalimu?"

"Tidak."

"Alhamdulillah," bisik Nenek Sari, lalu langsung menutup mulut seolah merasa bersalah telah lega.

Alya menatap mereka bergantian. "Kenapa kalau Dokter Raka kenal Mama?"

Tidak ada yang menjawab.

Nadia berdiri. "Mama masak dulu."

Ia masuk dapur sempit dan menyalakan kompor. Tangannya gemetar saat mencuci beras. Ia benci betapa cepat hidupnya kembali berputar di sekitar laki-laki itu.

Ponselnya bergetar di meja.

Nenek Sari melihat layar.

Nomor Raka.

"Nadia," panggilnya pelan.

Nadia keluar dari dapur. Begitu melihat layar, wajahnya mengeras.

Telepon itu berdering sampai berhenti.

Lalu pesan masuk.

Bu Nadia, saya bisa kirim berkas Alya hari ini. Mohon alamat pengiriman.

Nenek Sari membaca dari jauh, lalu menghela napas.

"Kalau hanya berkas, suruh kirim ke rumah sakit saja. Kamu ambil lewat administrasi."

"Iya."

Nadia mengetik:

Titip di administrasi poli saja, Dok. Besok saya ambil.

Ia hendak mengirim, tapi pesan lain masuk lebih dulu.

Atau saya bisa antarkan. Saya ada urusan dekat Tebet sore ini.

Nadia langsung menghapus kalimatnya.

Ia mengetik lagi:

Tidak perlu. Titip administrasi.

Kirim.

Balasan Raka datang singkat.

Baik.

Hanya itu.

Terlalu patuh.

Terlalu tenang.

Nadia justru makin tidak tenang.

Malamnya, Raka membuka detail reuni dari Dimas. Restoran di Kemang, Sabtu malam, pukul tujuh.

Ia menatap daftar nama yang akan hadir.

Banyak nama lama.

Rini.

Yudha.

Maya.

Tania.

Orang-orang yang dulu tertawa saat Citra berjalan melewati lorong.

Orang-orang yang mungkin tahu sesuatu.

Raka mengambil kotak kecil dari laci meja kerjanya. Kotak beludru biru tua. Di dalamnya ada sebuah pulpen hitam, catnya sudah sedikit mengelupas di bagian badan, ujungnya pernah retak lalu diperbaiki.

Hadiah ulang tahun tujuh tahun lalu.

Ia tidak pernah tahu mengapa Citra memberikan hadiah itu lalu menghilang.

Atau mungkin ia tidak pernah berani mencari tahu.

Raka menyentuh pulpen itu dengan ibu jari.

Di luar, hujan mulai turun.

Ia teringat pintu ruang praktik yang terbuka, wajah Nadia yang pucat, dan mata Alya yang menatapnya tanpa takut.

Jika perempuan itu benar Citra, maka ia tidak hanya mengganti nama.

Ia mengganti seluruh hidupnya.

Dan Raka, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, merasa takut pada jawaban yang sedang mendekat.

Ia menutup kotak itu lagi, tetapi tidak menguncinya. Pulpen itu tetap berada di atas meja, hitam dan diam, seperti saksi yang selama ini ia paksa tutup mulut. Malam itu, Raka baru mengerti bahwa benda yang paling lama disimpan seseorang biasanya bukan kenangan indah. Kadang, itu adalah bukti dari kesalahan yang belum selesai.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!