Indonesia
NovelToon NovelToon

Bukan Sepupu Suami Ku

01

Suara sutil dan wajan beradu memecah kesunyian pagi, Nadila sedang di sibuk kan dengan tugas nya menyiapkan makanan untuk suami nya.

Hari ini Irfan akan pulang dari dinas nya di luar kota, sudah 3 hari Irfan berada di luar kota. Di rumah ini, Nadila hanya tinggal berdua dengan Irfan, suami nya.

Usia pernikahan mereka sudah memasuki 5 tahun, tapi mereka belum di percayakan untuk mengasuh seorang anak. Orang tua Nadila tinggal di kota yang sama dengan mereka, sedangkan orang tua Irfan tinggal di desa.

"Mas Irfan pasti seneng banget, aku udah masak makanan kesukaan nya!" Nadila berkata sambil memandang hasil olahan tangan nya yang sudah tertata rapi di atas meja makan.

Di rumah ini mereka hanya tinggal berdua, Nadila memang sengaja tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Dia masih bisa menghandel semua nya, mungkin jika mereka punya anak nanti baru lah dia akan memakai jasa Art.

Nadila segera bersiap untuk berangkat ke butik nya, dia adalah seorang perancang busana. Nadila memiliki sebuah butik di pusat kota, butik milik nya yang dia kelola sendiri. Sebelum berangkat ke butik nya, Nadila menyempatkan diri untuk menelepon sang suami, untuk menanyakan jam berapa dia tiba di rumah.

"Hallo mas,,,!" Sapa Nadila.

"Hallo sayang, ada apa?" Tanya Irfan dari seberang sana.

"Gak Papa Mas, aku cuma mau tanya kira - kira jam berapa pas pulang nanti?. Masalah nya aku pulang sore, ada janji sama klien, jadi aku gak bisa nungguin mas di rumah!" Ujar Nadila.

"Gak papa sayang, kamu urus saja semua kerjaan kamu!" Irfan berkata dari seberang sana.

"Ya udah deh mas, maaf ya aku gak bisa menyambut mu di rumah!" Nadila berkata dengan lembut.

"Iya sayang, udah dulu sayang. Tuh ada yang manggil aku!" Ujar Irfan.

Tut, tut, tut,

Tiba - tiba panggilan terputus secara sepihak, padahal Nadila belum selesai bicara dengan suami nya.

"Kebiasaan deh mas Irfan ini, main di matikan saja!" Omel Nadila.

Nadila lalu memasang helm di kepala nya, dia pergi ke butik dengan menggunakan motor matic nya. Sebenarnya Nadila memiliki mobil, tapi mobil nya di gunakan oleh Irfan. Lagian Nadila lebih suka keluar dengan menggunakan motor, karena lebih cepat dan bisa menghindari macet di jalanan.

Rumah yang mereka tempati ini masih mencicil, mereka sengaja tinggal terpisah dari orang tua Nadila agar bisa lebih mandiri. Nadila tidak ingin suami nya merasa tidak nyaman jika harus tinggal di rumah orang tua nya.

Gaji Irfan cukup besar, tapi cicilan rumah ini lebih sering di bayar oleh Nadila. Uang gaji Irfan sebagian besar di kirim kan ke desa, Irfan adalah anak sulung. Dia memiliki sepasang adik kembar yang masih belajar di SMA, semua biaya adik dan orang tua nya dia tanggung oleh Irfan.

"Selamat pagi,,,!" Sapa karyawan nya.

"Selamat pagi, bu!" Balas karyawan nya dengan tak kalah ramah.

Butik ini memiliki beberapa karyawan, dan butik ini cukup besar. Semua baju yang di jual di sini adalah hasil rancangan Nadila sendiri, dan kualitas nya sangat bagus. Bahkan banyak orang - orang dari kelas atas memesan baju dengan Nadila.

Nadila segera naik ke lantai 2, di mana ruangan pribadi nya berada. Dia meneruskan rancangan gaun pengantin pesanan dari seorang putri pengusaha kaya, yang akan menikah bulan depan. Nadila tidak ingin mengecewakan pelanggan nya, dia begitu konsentrasi menyelesaikan semua nya dengan baik.

Tidak terasa, Nadila sudah cukup lama berkutat di depan meja nya. Bahkan dia sampai melewatkan makan siang nya, Nadila melihat jam di pergelangan tangan nya sudah menunjuk kan jam 14.30.

"Sudah hampir sore, untung saja sedang datang tamu bulanan sehingga tidak perlu sholat!" Guman Nadila.

Perut Nadila terasa perih, dia lalu segera memesan makanan untuk makan siang nya. Dia akan makan dulu, setelah itu dia akan pulang saja. Rencana nya besok saja dia akan menemui pelanggan nya, dia minta Nadila datang ke rumah nya. Rencana nya meraka akan membuat seragan keluarga.

"Lebih baik aku pulang saja, mungkin Mas Irfan sudah tiba di rumah!" Guman Nadila.

Setelah menghabiskan makanan nya, Nadila memilih untuk pulang saja. Dia sengaja tidak memberi tahu Irfan, dia ingin memberi kejutan pada suami nya. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, dan Nadila merasa rindu dengan sang suami.

Selama dinas di luar kota, Irfan sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk bicara dengan Nadila. Sekarang Nadila ingin memberikan kejutan untuk Irfan, dengan pulang lebih cepat.

Benar saja dugaan Nadila, dia melihat mobil suami nya sudah terparkir di halaman rumah. Nadila segera memarkir kan sepeda motor nya di sebelah mobil sang suami, dan dia berjalan masuk ke dalam rumah.

"Mas Irfan pasti di kamar nya!" Guman Nadila sambil tersenyum.

Tapi alangkah terkejut nya Nadila, saat dia melihat seorang wanita hamil sedang duduk dengan santai di sofa ruang tamu rumah nya. Seperti nya wanita itu tidak merasa terganggu dengan kehadiran Nadila.

"Siapa kau? Kenapa kau bisa berada di rumah ku?" Tanya Nadila dengan heran.

Wanita itu hanya melirik sekilas ke arah Nadila, terkesan cuek dan tidak perduli. Padahal ini bukan rumah nya, Nadila geram dengan sikap wanita ini.

"Sayang, ini jus nya!" Tiba - tiba Irfan muncul dari arah dapur sambil membawa segala jus jeruk.

Tapi langkah nya mendadak berhenti, saat dia melihat Nadila sudah berdiri di sana. Irfan tampak gugup, dia tidak menyangka bahwa Nadila akan pulang lebih cepat dari biasa nya.

"Sejak kapan kau berubah seperhatian ini, Mas?' Tanya Nadila heran.

Selama 5 tahun mereka menikah, belum pernah sekalipun Irfan bersikap romantis dengan membawa nya minuman. Hari ini tampak berbeda, tapi jus jeruk bukan lah minuman kesukaan Nadila. Dan Irfan tahu betul, bahwa Nadila tidak suka minum jus jeruk.

"Sayang,,,, kapan kau datang? Kenapa tidak memberi tahu ku?" Irfan bertanya dengan gugup pada Nadila.

"Aku sengaja pulang cepat untuk bertemu dengan mu, Mas. Tapi saat tiba di rumah, aku malah menemukan wanita ini. Siapa dia mas?" Tanya Nadila heran.

Bergegas Irfan meletakkan jus jeruk yang dia bawa tadi di atas meja, lalu dia segera membawa Nadila duduk di sofa berseberangan dengan Wanita itu.

"Maaf sayang, aku tidak memberi tahu mu. Aku juga tidak tahu kalau Rani akan datang kemari. Dia adalah Rani, sepupu ku dari kampung. Suami nya baru saja meninggal dunia dan dia sangat sedih. Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, agar dia bisa melupakan suami nya yang sudah tiada!" Irfan memberikan penjelasan pada Nadila.

Nadila memperhatikan wanita hamil yang bernama Rani tersebut, entah kenapa Nadila merasa tidak yakin kalau dia baru saja kehilangan suami nya. Dari raut wajah nya, seperti nya tidak ada sedikit pun kesedihan di sana.

02

"Sayang, maaf ya mas tidak memberi mu! Mas kangen banget sama kamu!" Irfan langsung menarik Nadila membawa nya ke dalam dekapan nya.

Irfan memberikan kode pada wanita bernama Rani itu melalui kedipan mata nya, dan Rani mengerti akan kode yang di berikan oleh Irfan. Irfan lalu mengurai pelukan Nadila, dan membingkai wajah istri nya itu.

"Mbak Nadila, maafkan aku jika kedatangan ku ke sini telah membuat mu tidak nyaman. Aku akan pergi saja!" Rani berkata dengan nada sedih.

Rani lalu segera berdiri dari tempat duduk nya, dia berjalan ke arah pintu kekuar.

"Tunggu Rani,,,!" Nadila langsung menghentikan langkah Rani sebelum dia mencapai pintu.

Rani langsung berhenti, dengan posisi membelakangi Nadila. Tanpa Nadila sadari, Rani dan Irfan tampak menyunggingkan senyum di sudut bibir mereka.

"Kamu bisa tinggal di sini Rani, untuk sementara ini!" Nadila mengucap kan kata - kata itu.

"Terima kasih, mbak Nadila. Maaf aku merepotkan mu!" Rani berkata sambil membalik kan badan nya menghadap Nadila.

Rani menunduk kan wajah nya, menunjuk kan bahwa dia adalah wanita kampung yang lugu. Nadila merasa tersentuh hati nya mendengar kisah Rani, wanita hamil yang harus di tinggal kan mati oleh suami nya. Nadila tahu, ini sangat tidak mudah bagi Rani.

"Terima kasih sayang, karena kau mau menerima sepupu ku!" Irfan bahagia mendengar nya.

******

"Sayang, ini susu nya. Kamu pasti lelah kan karena seharian ini bekerja!" Irfan masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas susu hangat coklat.

"Makasih ya mas!" Ujar Nadila sambil tersenyum.

"Sama - sama sayang, segera di minum ya nanti dingin dan tidak enak lagi!" Irfan segera menyodorkan gelas susu itu ke bibir Nadila.

Nadila merasa bahagia dengan perlakuan dari suami nya, dia menghabiskan segelas susu itu dengan cepat. Nadila menguap, dan dia merasa mengantuk.

"Kok aku ngantuk banget ya mas!" Ujar Nadila.

"Kami tidur aja, kalau ngantuk. Mas juga mau istirahat, mas juga udah ngantuk!" Irfan lalu merebahkan tubuh nya di samping Nadila.

Tidak butuh waktu lama, Nadila pun tertidur dengan pulas. Irfan melihat istri nya yang sudah terlelap, dia segera bangun dan berjalan keluar dari dalam kamar nya.

Irfan melangkah kan kaki nya menuju ke kamar tamu, di mana Rani berada.

Ceklek.

Irfan membuka pintu dan wanita dengan pakaian seksi itu sudah menunggu nya sejak tadi.

"Bagai mana mas? Apakah Nadila sudah tidur?" Tanya Rani.

"Sudah sayang, kamu tenang saja. Dia tidak akan terbangun dan tidak ada yang bisa menganggu kita!" Irfan segera memeluk tubuh Rani.

"Mas, apakah Nadila tidak curiga dengan hubungan kita?" Tanya Rani lagi.

"Tidak sayang, dia percaya bahwa kau adalah sepupu ku dari kampung!" Irfan berkata sambil tersenyum puas.

"Mas, kapan kau akan menikahi ku secara resmi? Anak kita butuh status? Dia tidak akan di akui secara resmi oleh negara jika kita hanya nikah sirih!" Rani bertanya pada Irfan.

"Kamu sabar dulu sayang, sekarang ini Nadila baru saja menerima mu sebagai sepupu ku. Kamu tenang saja, anak ini pasti akan mendapat kan hak nya secara utuh!" Irfan mengelus perut Rani.

"Aku tidak ingin terus - terusan menjadi simpanan mu, Mas. Aku tidak mau setiap hari harus berakting di depan istri mu, aku juga istri mu!" Rani berkata dengan wajah cemberut.

"Sayang, dengar kan aku. Saat ini kita harus bersabar sedikit lagi, aku pastikan bahwa Nadila akan menerima mu dan anak ini!" Kembali Irfan membujuk Rani.

"Benar kah itu mas?" Tanya Rani lagi.

"Benar sayang, kapan mas pernah bohong pada mu?" Irfan membawa Rani ke dalam pelukan nya.

"Terima kasih, Mas!" Rani sangat bahagia mendengar nya.

Malam ini Irfan menghabiskan waktu bersama Rani, sedangkan Nadila tertidur dengan pulas di kamar nya. Dia tidak tahu apa yang di lakukan oleh suami nya di belakang nya.

Tengah malam, Nadila terjaga dan dia tidak melihat kehadiran Irfan di samping nya.

'Hemmmm, kemana mas Irfan?' Batin Nadila di dalam hati.

Nadila berniat mencari suami nya, tapi entah kenapa mata nya terasa mengantuk berat. Hingga Nadila tidak mampu bangun, dan dia kembali ke alam mimpi nya.

Suara adzan subuh berkumandang sayup - sayup di masjid yang berada tidak jauh dari rumah nya, Nadila segera bangun. Kepala nya masih terasa berat, dia menguap. Nadila melihat Irfan masih tertidur dengan nyenyak, suara deru nafas nya terdengar teratur.

Nadila segera pergi ke kamar mandi, dan dia mencuci muka nya. Dia sedang kedatangan tamu bulanan nya, jadi dia tidak sholat. Nadila bergegas ke dapur, dia mengolah bahan makanan untuk sarapan mereka pagi ini.

Setelah hampir satu jam semua nya siap, Nadila bergegas kembali ke kamar nya. Dia membangun kan Irfan yang masih tertidur dengan nyenyak.

"Mas, bangun mas. Ini udah siang, nanti mas Terlambat ke kantor!" Nadila mengguncang kan lengan suami nya.

Irfan melenguh pelan, dan dia membuka mata nya. Dia langsung tersenyum saat melihat wajah cantik istri nya, dia langsung bangun dan duduk sambil bersandar di sandara tempat tidur.

"Udah pagi ya sayang? Mas capek banget, jadi semalam mas tidur nyenyak banget!" Irfan berkata sambil menutup mulut nya yang sedang menguap.

"Mas, tadi malam saat aku terbangun dan mas tidak ada di samping ku. Mas kemana ya?" Tanya Nadila.

"Oh ya? Kapan sayang, tadi malam ketika kau tidur mas juga langsung tidur. Jadi mas tidak pergi kemana pun, mungkin kau hanya mimpi saja!" Irfan berkata dengan degan nada terkejut.

"Mungkin saja Mas, maaf ya tadi malam aku langsung tidur. Gak sempat bicara sama mas, mata ku rasanya ngantuk banget!" Nadila merasa bersalah pada suami nya.

"Gak papa sayang, kamu juga pasti lelah kan udah kerja seharian di butik. Gimana keadan butik sekarang, rame gak?" Tanya Irfan berbasa - basi.

"Alhamdulillah mas, rame banget loh!" Jawab Nadila.

"Bagus lah, oh ya sayang mas mandi dan bersiap dulu ya!" Irfan langsung bangun dan turun dari tempat tidur.

"Iya mas!" Jawab Nadila.

Nadila lalu menyiapkan pakaian kerja Irfan, dia letak kan pakaian itu di tempat tidur. Sambil menunggu Irfan mandi, Nadila lalu membongkar koper suami nya yang di bawa dari luar kota. Nadila memisahkan pakaian kotor, dia tidak sempat mencuci semua ini. Jadi nanti, akan dia antarkan langsung ke tempat laundry langganan nya saja.

Setelah Irfan selesai mandi, gantian Nadila yang mandi. Hari ini rencana nya dia akan datang ke rumah pelanggan nya yang minta di buatkan baju, dia akan mengukur sendiri ukuran baju mereka.

03

Nadila dan Irfan segera menuju ke meja makan, di sana makanan yang sudah di masak oleh Nadila tertata rapi. Nadila melayani suami nya dengan baik, seperti biasa nya.

Pada saat itu, Rani datang ke meja makan. Rani datang dengan rambut basah nya, seperti nya dia sudah mandi keramas. Nadila mengernyitkan dahi nya, dia melihat tanda merah di leher Rani, padahal semalam tidak ada tanda itu.

"Rani, ayo sarapan dulu. Kau harus banyak makan, anak mu harus tumbuh sehat!" Irfan begitu perhatian pada Rani.

"Terima kasih Mas!" Rania segera menarik kursi yang ada di samping Irfan, padahal saat ini Nadila sedang berdiri sana melayani suami nya.

"Rani, leher mu kenapa merah semua?" Tanya Nadila penasaran.

"Eh,, ini mbak, semalam di gigit nyamuk!" Jawab Rani dengan nada gugup.

Nadila merasa heran, rumah ini selalu bersih dan tidak pernah ada nyamuk. Tapi kenapa Rani bilang di gigit nyamuk? Apalagi tanda merah itu tidak hanya satu, ada beberapa. Persis seperti tanda yang sering di buat oleh seseorang yang punya pasangan.

Nadila tidak ingin berfikir negatif, dia langsung menarik kursi lain. Dia langsung mengisi sarapan nya sendiri, lalu mulai sarapan. Selama sarapan berlangsung tidak ada yang bicara, yang terdengar hanyalah dentingan piring yang beradu dengah sendok dan garpu.

"Mas berangkat dulu ya sayang, Rani kami di rumah saja. Jangan kemana- mana!" Irfan mengingat kan Rani.

"Iya mas!" Jawab Ranai sambil mengangguk kan kepala nya.

Nadila lalu mengantarkan suami nya hingga ke depan pintu, dia menunggu hingga Irfan berangkat. Setelah itu dia kembali ke dalam, Nadila langsung membereskan meja makan. Dia mencuci semua piring kotor yang tadi di pakai untuk sarapan, setelah itu dia menyempatkan membereskan rumah sebelum pergi ke butik nya.

Setelah semua nya selesai, Nadila mengetuk pintu kamar tamu yang di tempati oleh Rani.

"Ada apa mbak?" Tanya Rani yang menyembul kan kepala nya di balik pintu.

"Ran, mbak mau berangkat kerja dulu ya. Makan siang untuk mu udah mbak siap kan, tapi kalau kamu tidak suka dengan makanan nya kamu bisa masak sendiri ya. Di kulkas semua bahan makanan udah lengkap kok!" Nadila berkata pada Rani.

"Baik mbak!" Jawab Rani sambil mengangguk kan kepala nya.

"Ya udah, mbak berangkat dulu ya!" Nadila pamit para Rani.

Nadila segera berangkat, dia memang tidak terlalu pagi berangkat nya. Dia biasa berangkat setelah memastikan semua tugas nya di rumah siap, dia adalah pemilik butik itu jadi dia bisa datang kapan saja.

Nadila tiba di butik nya, semua karyawan nya sudah pada datang. Dia fokus pada pekerjaan nya, dia menyelesaikan rancangan nya yang tinggal di sedikit lagi.

"Akhir nya selesai juga!" Guman Nadila sambil tersenyum puas melihat rancangan gaun pengantin pesanan pelanggan nya.

Nadila melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, sudah jam 10 lewat.

"Sekarang saja aku ke rumah bu Risti!" Guman Nadila.

Bu Risti adalah orang yang memesan baju dari Nadila, baju yang akan di pakai oleh keluarga nya untuk acara pernikahan adik sepupu nya.

"Din, aku keluar dulu ya. Kalau ada yang cari aku, bilang aku keluar ya!" Nadila berpesan pada Dini.

"Baik mbak!" Jawab Dini.

Dini adalah salah satu orang kepercayaan Nadila, dia adalah anak yatim piatu di kota ini. Dini bekerja paruh waktu di butik ini, dia juga masih berstatus sebagai seorang mahasiswa.

Nadila bergegas menuju ke rumah bu Risti, berbekal share lock yang di kirim kan oleh bu Risti. Satu jam perjalanan, Nadila berhasil menemukan alamat bu Risti.

"Nadila ya, ayo masuk!" Bu Risti menyambut Nadila di depan pintu rumah nya.

"Makasih bu!" Jawab Nadila sopan.

"Jangan panggil ibu deh, seperti nya usia kita tidak jauh beda, biar lebih dekat aja!" Ujar bu Risti.

"Boleh deh, aku panggil mbak Risti!" Jawab Nadila sambil tersenyum.

Nadila dan Risti bicara banyak hal, mereka cepat akrab sekalipun ini pertama kali nya mereka bertemu. Usia Nadila dan Risti tidak jauh berbeda, Risti lebih tua satu tahun dari Nadila.

"Itu foto suami nya Dil?" Tanya Risti yang tanpa sengaja melihat wallpaper ponsel nya Dila adalah foto nya bersama Irfan.

"Iya mbak, ini suami saya!" Jawab Nadila sambil tersenyum.

"Saya pernah lihat gitu, tapi lupa di mana!" Ujar Risti sambil tersenyum.

"Mungkin mbak pernah ketemu di jalan kali!" Ujar Nadila.

"Mungkin saja!" Jawab Risti sambil mengangguk kan kepala nya.

Nadila mulai mengukur baju Risti, dan kedua anak kembar nya yang masih berusia 4 tahun. Sedangkan saat ini suami nya Risti yang berprofesi sebagai dokter kandungan sedang tidak ada di rumah.

"Bagaimana dengan suami nya mbak Risti?" Tanya Nadila.

"Nanti biar aku ajak dia datang ke butik kamu saja deh, pas dia punya waktu senggang!" Jawab Risti.

"Baik lah kalau begitu, saya pamit permisi dulu ya!" Nadila segera berdiri.

"Makan siang aja dulu Dil, nanti baru pulang!" Risti menawarkan pada Nadila.

"Gak usah, makasih mbak. Aku masih punya banyak pekerjaan di butik. Lain kali aja ya mbak!" Nadila menolak dengan halus tawaran Risti.

"Ya udah deh kalau gitu!" Risti pun mengerti kesibukan seorang desainer seperti Nadila.

Nadila segera pergi meninggal kan rumah Risti, dia ingin kembali ke butik nya. Saat ini jalanan cukup macet, karena ini adalah jam makan siang.

Ketika sedang berada di dalam perjalanan, Nadila tidak sengaja melihat mobil yang sangat dia kenal. Ya itu adalah mobil milik nya, yang di pakai oleh sang suami. Kaca mobil yang setengah terbuka, membuat Nadila bisa melihat siapa yang ada di dalam nya.

"Mas Irfan, Rani?" Kata - kata itu keluar dari mulut Nadila.

Nadila melihat Rani sedang bersandar di bahu nya Irfan, sekalipun saat ini posisi mobil sedang berjalan. Nadila menambah kecepatan motor nya, agar bisa sejajar dengan mobil itu. Tapi sayang dari arah depan, muncul mobil lain. Jadi mau tidak mau Nadila terpaksa memundurkan motor nya.

Mobil Irfan melaju dengan kencang, hingga melewati Traffic Light. Lampu merah pun menyala, sedangkan mobil Irfan sudah melewati tempat itu. Nadila terpaksa berhenti, dia kehilangan jejak mobil suami nya.

"Apa yang mas Irfan lakukan bersama Rani? Seharusnya saat ini dia berada di kantor!" Nadila bermonolog pada diri nya sendiri.

Perasaan Nadila mulai tidak enak, entah kenapa setelah melihat Rani yang bersandar di bahu Irfan tadi. Nadila merasa ada sesuatu yang tidak dia ketahui antara Irfan dan Rani, naluri nya sebagai seorang istri mengatakan hal tersebut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!