Malam semakin larut, namun kediaman mewah berlantai tiga yang terletak di kawasan elite ibu kota itu masih tampak sunyi, seolah menelan setiap suara yang mencoba hadir. Rumah itu adalah mahakarya arsitektur modern didominasi oleh dinding kaca besar, marmer hitam mengilat yang memantulkan cahaya temaram, serta lampu gantung kristal yang menjuntai anggun di ruang tengah. Namun, di balik segala kemegahannya, rumah itu terasa dingin, tak ubahnya sebuah sangkar emas yang sunyi dan hampa.
Di ruang makan lantai satu, seorang wanita cantik bernama Kinara duduk termenung. Ia mengenakan baju tidur satin premium berwarna navy yang lembut, membingkai tubuh rampingnya dengan sangat anggun. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, sedikit bergoyang setiap kali ia menghela napas berat.
Di hadapannya, sebuah meja makan berbahan kayu mahoni mahal telah ditata dengan sangat rapi. Di atasnya, berdiri sebuah kue ulang tahun kecil berhiaskan krim putih dengan angka '6' yang terbuat dari lilin. Di sekeliling kue itu, tersaji beberapa menu makan malam mewah yang sengaja ia masak sendiri sejak sore tadi.
Lilin di atas kue itu sudah menyala sejak beberapa jam yang lalu, kini lelehannya mulai membanjiri permukaan krim, perlahan memadamkan apinya sendiri. Sama seperti harapan Kinara yang kian meredup seiring berjalannya waktu.
"Kamu di mana, Mas...?" bisik Kinara lirih. Matanya yang indah menatap nanar ke arah pintu utama yang tak kunjung terbuka.
Malam ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang keenam. Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bertahan dalam sebuah pernikahan yang sepi. Suaminya adalah Zergan Airlangga, seorang CEO muda berdarah dingin yang memimpin perusahaan konglomerat ternama di negara ini. Di luar sana, Zergan dipuja sebagai pria sempurna yang memiliki segalanya. Namun di mata Kinara, Zergan adalah sosok pria misterius yang hatinya tak pernah bisa ia gapai.
Selama enam tahun ini, Kinara berjuang mencintai sendirian. Pria itu teramat dingin. Zergan lebih sering menghabiskan waktunya di kantor, tenggelam dalam tumpukan berkas dan rapat-rapat penting, ketimbang pulang ke rumah ini. Jika pun pulang, pria itu hanya menganggap rumah ini tak lebih dari tempat persinggahan untuk mandi dan berganti pakaian.
Jarum jam dinding terus berputar kejam.
Pukul 01.00 dini hari... tidak ada tanda-tanda mobil Zergan memasuki pekarangan rumah.
Pukul 02.00 dini hari... ponsel Zergan yang dihubungi Kinara berkali-kali tetap berada di luar jangkauan.
Pukul 03.00 dini hari... keheningan malam kian mencekam.
Kinara akhirnya menyerah. Air mata yang sejak tadi ia tahan, luruh satu demi satu membasahi pipinya. Dengan jemari yang bergetar, ia meniup sendiri lilin ulang tahun yang sudah hampir habis itu. Kegelapan seketika menyelimuti meja makan. Dengan langkah gulai dan hati yang patah, Kinara berjalan gontai menuju kamar utama di lantai dua, meninggalkan semua makanan yang kini telah mendingin dan membeku, persis seperti sikap suaminya.
Keesokan paginya, sinar matahari terbit menembus celah gorden kamar yang super luas. Kinara terbangun dengan mata yang terasa sedikit sembab. Saat ia menoleh ke sisi ranjang berukuran king size di sampingnya, tempat itu masih rapi dan dingin. Suaminya tidak pulang semalam.
Namun, sayup-sayup Kinara mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi di dalam kamar mereka. Jantungnya berdesir. Zergan sudah pulang?
Kinara segera beranjak dari tempat tidur. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Sosok pria bertubuh jangkung dan atletis keluar dari sana. Zergan Airlangga. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih bersih yang belum dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan dada bidangnya. Wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, serta tatapan matanya yang setajam elang selalu mampu membuat Kinara terpesona, sekaligus merasa terasing di saat yang bersamaan. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Kinara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengubur rasa kecewa dan sedihnya semalam. Ia melangkah mendekat dengan senyum lembut yang dipaksakan, berusaha menjadi istri yang berbakti.
"Mas... kamu sudah pulang?" tanya Kinara, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
Zergan tidak menjawab. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arah Kinara. Jemari tangannya yang kokoh sibuk merapikan dasi sutra di lehernya di depan cermin besar.
Kinara melangkah lebih dekat, mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk membantu merapikan kerah kemeja sang suami. "Selamat ulang tahun pernikahan yang keenam, Mas," ucapnya lirih, menatap wajah suaminya dari jarak dekat, mencari sedikit saja binar kehangatan di sana. "Semalam aku menunggumu sampai jam tiga pagi..."
Gerakan tangan Zergan terhenti sejenak, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar papan tripleks. "Aku sibuk. Banyak urusan di kantor yang tidak bisa ditinggal," jawabnya dingin, datar, dan tanpa beban.
Kinara menelan saliva, tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Jawaban klasik yang selalu ia dengar selama enam tahun ini. Namun, ia tidak ingin berdebat di pagi hari. Ia kembali memasang senyum manisnya, meski hatinya terasa seperti diiris sembilu.
"Iya, Mas, aku mengerti," kata Kinara dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, seolah semuanya baik-baik saja. "Hari ini... jam berapa kamu pulang, Sayang? Aku bisa masakan makanan kesukaanmu lagi nanti malam."
Zergan memakai jas hitam mewahnya, lalu meraih tas kerja dan jam tangan Rolex-nya di atas meja nakas. Ia berbalik, menatap Kinara sekilas dengan tatapan mata yang kosong, tanpa ada kehangatan, apalagi rasa bersalah karena telah melewatkan hari penting mereka.
"Jangan menungguku. Aku tidak tahu pulang jam berapa. Mungkin aku akan menginap di kantor lagi," ucap Zergan singkat dan padat.
Setelah mengatakan kalimat yang begitu menyayat hati itu, Zergan melangkah lebar meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi, menyisakan aroma parfum maskulinnya yang mahal yang tertinggal di udara.
Brakk.
Pintu kamar tertutup rapat. Kinara terpaku di tempatnya berdiri. Kamar mewah yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekik. Bahunya merosot seketika. Air mata yang sejak tadi pagi ia tahan dengan sekuat tenaga, akhirnya tumpah tak terbendung lagi. Suasana pagi yang seharusnya cerah dan penuh semangat, seketika berubah menjadi abu-abu dan penuh duka bagi Kinara. Rumah megah tiga lantai ini kembali terasa seperti kuburan yang sunyi bagi hatinya yang hancur.
Kinara menatap pintu kamar yang telah tertutup rapat dengan pandangan kosong. Kakinya terasa lemas, seolah seluruh kekuatannya telah ditarik paksa dari dalam tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya pada pilar ranjang yang dingin, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai marmer.
"Selalu seperti ini..." ucap Kinara lirih. Suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar yang luas itu.
Setiap hari, setiap minggu, dan setiap tahun, skenario yang sama terus berulang dalam hidupnya. Harapan yang membubung tinggi di malam hari, selalu dihancurkan oleh kenyataan pahit di pagi hari.
Setelah beberapa saat membiarkan air matanya mengalir, Kinara menghapus jejak basah di pipinya dengan kasar. Ada rasa sakit yang teramat akrab yang tiba-tiba mendesak dadanya—sebuah rasa penasaran bercampur luka yang selalu ia simpan sendiri. Dengan langkah gontai, ia bangkit dan berjalan menuju sebuah lemari nakas kayu yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping meja kerja kecil milik Zergan.
Kinara berlutut di depan nakas tersebut. Jemarinya yang ramping membuka laci paling bawah, lalu meraba bagian paling dalam yang tersembunyi di balik tumpukan dokumen-dokumen penting milik suaminya. Di sana, di tempat yang paling privat, ada sebuah amplop cokelat tua yang sengaja disimpan Zergan jauh dari jangkauan siapa pun.
Dengan tangan yang gemetar, Kinara membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat tumpukan kertas memo lama dan sebuah foto berukuran sedang yang sudah sedikit usang di bagian ujungnya.
Kinara mengeluarkan foto itu. Di dalam selembar kertas foto tersebut, tampak sosok Zergan beberapa tahun lalu—sosok yang sama sekali berbeda dengan pria dingin yang baru saja keluar dari kamar ini. Dalam foto itu, Zergan sedang tersenyum lepas, matanya berbinar penuh kehangatan, dan lengannya merangkul erat seorang wanita cantik yang tertawa bahagia di sampingnya. Wanita itu adalah mantan kekasih Zergan, cinta sejati pria itu yang telah tiada.
Melihat senyuman Zergan di foto itu, dada Kinara terasa seperti dihantam godam yang sangat besar. Selama enam tahun pernikahan mereka, Zergan tidak pernah sekalipun memberikan senyuman sehangat itu kepadanya. Jangankan tersenyum, menatap matanya dengan lembut pun tidak pernah.
Kinara mendekap foto itu di dadanya, lalu menatapnya kembali dengan senyum getir yang penuh keputusasaan.
"Kalau dia masih hidup... pasti kamu akan menikah dan hidup bahagia dengannya sekarang, Mas," ucap Kinara sendiri, bicaranya teramat lirih menembus kesunyian malam yang tersisa di pagi hari.
Air matanya kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan foto, mengenai wajah Zergan yang sedang tersenyum bahagia.
"Kamu nggak akan kesiksa seperti sekarang... Kamu nggak perlu memaksakan diri tinggal di rumah ini dengan wanita yang sama sekali tidak kamu inginkan," bisiknya lagi, meratapi nasibnya sendiri.
Kinara tahu betul, pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta, melainkan karena sebuah keharusan yang mengunci kebebasan Zergan. Di balik sikap dingin sang suami, Kinara sadar bahwa Zergan juga sedang tersiksa—pria itu terpenjara dalam komitmen pernikahan bersamanya, sementara seluruh jiwa dan hatinya telah mati dan terkubur bersama masa lalunya. Meratapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebuah bayang-bayang yang tak teranggap, Kinara hanya bisa menangis dalam diam, meremas foto yang menjadi bukti abadi bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wanita itu di hati Zergan.
Siang harinya, suasana di dapur mewah itu tampak sedikit berbeda. Kinara mencoba mengubur dalam-dalam kesedihan yang menyelimuti hatinya sejak pagi. Hari ini ia kembali menyibukkan diri di depan oven dan meja konter dapur yang luas. Ada alasan khusus mengapa ia begitu bersemangat: hari ulang tahun pernikahan mereka memang jatuh pada kemarin, namun hari ini hanya berselang satu hari adalah hari ulang tahun Zergan.
Bagi Kinara, ini adalah momen yang teramat sakral. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia selalu bersemangat menyambut hari lahir suaminya. Dengan penuh cinta, ia menakar tepung, mengocok mentega, dan melelehkan cokelat premium. Wangi manis adonan kue yang dipanggang perlahan memenuhi seluruh ruangan rumah lantai tiga yang sepi itu.
Meskipun di sudut hatinya ada rasa perih yang mengingatkan bahwa kue-kue ulang tahun buatannya di tahun-tahun lalu tak pernah sekalipun disentuh apalagi dicicipi oleh Zergan, Kinara tidak peduli. Baginya, membuatkan kue adalah caranya berkomunikasi, cara paling tulus untuk mengekspresikan rasa cintanya yang terabaikan. Ia menghias kue tart cokelat itu dengan krim lembut, lalu menuliskan kalimat "Selamat Ulang Tahun, Suamiku" dengan tulisan tangan yang sangat rapi di atasnya.
Setelah merapikan dapur, Kinara berjalan ke luar rumah membawa kantong berisi kemasan bahan kue yang sudah tidak terpakai untuk dibuang ke tempat sampah di depan pagar. Udara siang itu terasa agak gerah dan pekat.
Saat Kinara menutup tutup tempat sampah, tiba-tiba sebuah suara parau mengejutkannya. "Nona..."
Kinara tersentak dan berbalik. Di hadapannya, berdiri seorang nenek tua asing dengan pakaian yang sedikit lusuh. Tatapan matanya yang sayu namun tajam langsung menusuk manik mata Kinara.
"Eh, ya, Nek? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kinara ramah, meski agak bingung dari mana nenek ini muncul di kawasan perumahan elite yang dijaga ketat ini.
Nenek itu menggeleng perlahan, lalu memegang pergelangan tangan Kinara. Sentuhannya terasa sangat dingin. "Suamimu... suamimu sedang dalam bahaya besar siang ini. Nyawanya terancam."
Kinara tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum tipis, menganggap itu hanya bualan atau modus orang asing. "Maaf, Nek, suami saya sedang bekerja di kantornya. Dia baik-baik saja."
"Pergilah... temui dia sebelum terlambat. Darah akan mengalir jika kau tidak bergerak," ucap nenek itu lagi dengan nada yang penuh penekanan, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh hingga menghilang di tikungan jalan.
Kinara terpaku di tempatnya. Awalnya ia mencoba mengabaikan ucapan itu. Namun, entah mengapa, tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan sebuah perasaan tidak enak feeling seorang istri yang kuat mendadak menyergap pikirannya. Gelisah dan cemas bercampur menjadi satu. Tanpa berpikir panjang lagi, Kinara segera masuk ke rumah, menyambar tasnya, dan memutuskan untuk langsung menyusul Zergan ke kantor menggunakan taksi.
Gedung pencakar langit milik Airlangga Group berdiri dengan megah di pusat bisnis kota. Kinara yang sudah biasa datang ke sana segera menuju ke lantai teratas, tempat ruangan CEO berada. Sekretaris Zergan sempat menahannya, namun karena kecemasan yang sudah memuncak, Kinara langsung menerobos masuk ke dalam ruangan sang suami.
Cklek.
Di dalam ruangan yang luas dan ber-AC dingin itu, Zergan tampak sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar, memeriksa beberapa berkas. Pria itu mendongak, alisnya bertaut tajam melihat kedatangan Kinara yang tiba-tiba dengan napas yang terengah-engah.
"Kinara? Sedang apa kamu ke sini tanpa memberi tahu?" tanya Zergan, suaranya terdengar berat, dingin, dan penuh ketidaksukaan karena privasi kerjanya terganggu.
Kinara memandangi suaminya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada luka, tidak ada tanda-tanda bahaya. Pria itu tampak sangat aman dan berwibawa seperti biasanya. Kinara menghela napas panjang, bahunya merosot lega. Ternyata semuanya baik-baik saja. Nenek tua tadi pasti hanya orang linglung.
"Maaf, Mas... Aku... aku tadi hanya merasa perasaanku tidak enak, jadi aku langsung ke sini untuk memastikan keadaanmu," jawab Kinara dengan suara bergetar, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
Zergan meletakkan penanya dengan kasar ke atas meja, menimbulkan bunyi ketukan yang tajam. Ia menatap Kinara dengan pandangan jengah. "Hanya karena perasaanmu yang tidak jelas itu, kamu mengganggu waktu kerjaku? Pulanglah, Kinara. Jangan kekanak-kanakan. Aku punya banyak urusan yang harus diselesaikan."
Mendengar pengusiran yang begitu telak, Kinara hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Rasa lega di hatinya seketika berganti dengan rasa bersalah sekaligus sedih karena lagi-lagi kehadirannya hanya dianggap sebagai pengganggu.
"Baik, Mas. Maafkan aku. Aku akan pulang," ucap Kinara lirih.
Kinara berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Zergan, yang entah mengapa merasa sedikit terusik dengan raut wajah istrinya yang sangat pucat ketakutan tadi, akhirnya memutuskan untuk ikut berjalan keluar, berniat mengantar Kinara sampai ke lobi depan halaman kantor sebelum ia melanjutkan rapatnya.
Mereka berdua berjalan beriringan dalam keheningan melewati pintu kaca lobi, menuju ke area halaman depan tempat taksi biasanya bersiap. Suasana siang yang terik itu mendadak terasa mencekam.
Tepat saat mereka melangkah di area halaman terbuka kantor, sebuah mobil SUV hitam yang terparkir di pojok mendadak menyalakan mesinnya dengan raungan yang sangat keras. Sebelum ada yang sempat menyadari, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, memekikkan suara ban yang bergesekan dengan aspal, menargetkan arahnya dengan sengaja tepat ke arah tempat Zergan berdiri.
"Mas Zergan, awas!!!"
Semua terjadi dalam hitungan detik. Zergan yang membelakangi arah mobil sempat menoleh, namun tubuhnya terpaku melihat kendaraan yang melesat cepat ke arahnya.
Melihat bahaya yang nyata di depan mata, otak Kinara tidak sempat berpikir tentang keselamatan dirinya sendiri. Rasa cintanya yang mendalam kepada pria itu mengambil alih seluruh kesadarannya. Dengan refleks yang luar biasa, Kinara berlari sekuat tenaga dan mendorong tubuh Zergan menjauh dari jalur mobil.
BRUKKKKK!!!
Suara benturan keras terdengar mengerikan mengguncang halaman kantor. Tubuh Zergan terpental ke atas rerumputan taman di pinggir halaman. Namun, tubuh mungil Kinara tidak seberuntung itu. Ia hantam dengan keras oleh moncong mobil hingga tubuhnya sempat melayang di udara sebelum akhirnya jatuh terhempas ke atas aspal yang keras. Mobil misterius itu langsung tancap gas dan melesat kabur meninggalkan area kantor yang seketika menjadi kacau balau.
Zergan meringis menahan sakit di bahunya akibat terjerembab, namun matanya langsung melebar sempurna saat melihat ke depan.
Beberapa meter darinya, Kinara tergeletak tak berdaya. Darah segar berwarna merah pekat mengalir deras dari kepalanya, membanjiri aspal jalanan, dan merembes ke pakaian yang dikenakannya.
Zergan merangkak dengan cepat, lalu berlutut di samping tubuh istrinya. Tangan pria yang biasanya selalu kokoh dan tenang itu kini bergetar hebat. Ia mencoba menyentuh wajah Kinara, namun jemarinya gemetar melihat banyaknya darah yang terus keluar.
"Ki... Kinara?"
Zergan terdiam membisu. Suaranya mendadak tercekat di tenggorokan, bahkan tidak bisa keluar lagi seolah-olah pita suaranya telah diputus paksa. Matanya yang selalu dingin kini dipenuhi dengan rasa syok, ketakutan, dan kengerian yang teramat sangat, menatap wanita yang selama enam tahun ini selalu ia abaikan, kini egois memberikan hidupnya demi menyelamatkan nyawanya.
Suasana di halaman kantor Airlangga Group seketika berubah menjadi lautan kepanikan. Jeritan histeris dari para staf wanita terdengar bersahut-sautan. Puluhan karyawan yang menyaksikan kejadian mengerikan itu langsung berlarian keluar dari lobi. Beberapa dari mereka dengan tangan gemetar segera merogoh ponsel, menghubungi ambulans dan polisi dengan suara yang panik dan terbata-bata.
Namun, di tengah keriuhan dan hiruk-pikuk itu, waktu seolah berhenti bagi Zergan.
Pria yang biasanya selalu tampil berwibawa, tegas, dan tak tersentuh itu kini terduduk bersimpuh di atas aspal yang panas. Kedua lututnya yang berbalut celana kain mahal kini kotor terkena noda debu dan cipratan darah. Dengan tangan yang bergetar hebat, Zergan mengangkat perlahan kepala Kinara, membawanya ke dalam pangkuannya.
Aroma parfum maskulin mahal milik Zergan kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh bau anyir darah yang menyengat indra penciumannya. Telapak tangan Zergan yang menahan tengkuk Kinara terasa basah dan hangat oleh cairan merah pekat yang terus mengalir tanpa henti dari kepala sang istri. Tubuh mungil Kinara terasa begitu dingin dan rapuh di dalam dekapannya.
"Ki... Kinara... dengarkan aku. Tetap buka matamu! Jangan berani-berani menutup matamu!" suara Zergan akhirnya keluar, namun terdengar sangat serak, pecah, dan dipenuhi keputusasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Di ambang kesadarannya yang kian menipis, Kinara merasakan kehangatan yang selama enam tahun ini selalu ia dambakan dari suaminya. Untuk pertama kalinya, Zergan memeluknya seerat ini. Untuk pertama kalinya, ada guratan rasa cemas yang teramat sangat di wajah tampan pria itu—dan itu semua karena dirinya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Kinara perlahan membuka kelopak matanya yang terasa teramat berat, seolah ditimpa sebongkah batu besar. Pandangannya sudah mulai kabur dan memutih, namun ia tetap memaksakan manik matanya untuk menatap wajah Zergan untuk yang terakhir kali.
Kinara mencoba menggerakkan bibirnya yang sudah memucat pasi. Suaranya sudah hampir hilang, hanya berupa bisikan yang terputus-putus dan teramat lirih di antara deru napasnya yang pendek.
"Mas... Zer... gan..." bisik Kinara, terbata-bata.
Zergan langsung mendekatkan telinganya ke bibir Kinara, air matanya—yang selama ini tidak pernah luruh untuk siapa pun sejak kepergian masa lalunya—kini menetes jatuh mengenai pipi Kinara yang mulai mendingin. "Iya, aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, ambulans akan segera datang!"
Kinara membentuk sebuah senyuman kecil yang teramat getir di sudut bibirnya. "Se... lamat... u... lang tahun, Mas..." ucapnya dengan satu-satu kata yang keluar dengan susah payah. "Ma... af... selama... enam tahun ini... aku selalu... mengganggu... hidupmu..."
Uhuk!
Kinara terbatuk kecil, dan setitik darah kembali keluar dari sudut bibirnya, membuat dada Zergan seperti dihantam godam yang luar biasa hancur.
Di dalam hatinya yang paling dalam, bersamaan dengan pandangannya yang kian menggelap, Kinara berbisik pada dirinya sendiri, 'Jika ada kehidupan selanjutnya... aku berjanji akan mengalah untuk kebahagiaanmu, Mas. Aku tidak akan muncul di hidupmu lagi, agar kamu tidak perlu merasa tersiksa...'
Senyuman lembut itu menjadi gurat terakhir di wajah cantiknya. Kinara menghela napas panjang untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya melemas. Kelopak matanya perlahan tertutup rapat, dan genggaman tangan mungilnya yang sempat mencengkeram kemeja Zergan kini terkulai jatuh di atas aspal. Kinara telah mengembuskan napas terakhirnya tepat di pelukan pria yang teramat dicintainya.
Melihat hal itu, pertahanan Zergan runtuh sepenuhnya. Jiwanya seolah ikut tercerabut dari raga. Kondisi Zergan benar-benar hancur dan mengerikan; ia memeluk erat jasad istrinya yang sudah tak bernyawa ke dadanya, membiarkan kemeja putih mahalnya sepenuhnya ternoda oleh darah Kinara.
"Kinara? Tidak... KINARA!!! BANGUN!!!" teriak Zergan histeris. Suaranya yang menggelegar dipenuhi penyesalan mendalam, menggema di antara dinding-dinding gedung tinggi, meratapi kepergian wanita tulus yang terlambat ia hargai cintanya.
Byurrrrr!
Air es yang teramat dingin tiba-tiba menyiram seluruh wajah dan kepala Kinara. Sensasi dingin yang menusuk itu seketika merenggutnya dari kegelapan yang pekat.
"Hahahahaha!"
"Liat tuh, basah kuyup kayak ayam kecemplung got!"
"Makanya, kalau malam itu tidur, jangan begadang mulu!"
Suara gelak tawa yang riuh dan menggelegar langsung memenuhi seisi ruangan. Kinara tersentak hebat, tubuhnya menegak seketika. Jantungnya bertalu-talu dengan sangat cepat, dan napasnya tersenggal-senggal seolah ia baru saja keluar dari dasar air yang menenggelamkannya. Di kepalanya, bayangan aspal yang dingin, bau anyir darah, dan wajah histeris Zergan masih terpatri dengan sangat jelas. Rasa sakit saat mobil itu menghantam tubuhnya bahkan masih terasa nyata.
Namun, rasa sakit itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa.
Kinara mengerjukan matanya berkali-kali untuk menghalau air yang menetes dari bulu matanya. Ia menatap sekeliling dengan pandangan linglung. Ruangan ini... bukan halaman kantor Zergan yang megah. Ini adalah sebuah ruang kelas dengan deretan meja kayu, papan tulis putih besar, dan puluhan pasang mata yang sedang menertawakannya.
’Ini... kelas waktu kuliah dulu?!’ batin Kinara, lumpuh dalam kebingungan. ’Tapi... bagaimana bisa?’
Belum sempat otaknya mencerna situasi, sebuah suara lantang dan melengking membuyarkan lamunannya.
"KINARA!"
Seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya berdiri tepat di samping meja Kinara, memegang sebuah botol air mineral yang sudah kosong. Itu adalah Dosen Killer yang sangat ditakuti di kampusnya dulu.
"Kamu ini niat kuliah atau tidak?! Ini sudah jam berapa? Setiap mata kuliah saya, kamu selalu saja tidur di kelas! Kalau kamu masih mau tidur, silakan angkat kaki dari kelas saya sekarang juga!" omel sang dosen dengan berkacak pinggang, napasnya memburu menahan geram melihat mahasiswinya yang tampak linglung.
Kinara tidak mendengarkan omelan itu dengan jelas. Pikirannya mendadak menjadi sangat lemot dan tumpul. ’Tidur? Aku tidur? Bukannya tadi aku... mati ditabrak mobil?’
Dengan tangan yang gemetar dan masih basah oleh sisa air siraman tadi, Kinara refleks meraih tas kainnya yang tergeletak di atas meja. Ia meraba-raba ke dalam, mencari benda persegi pipih miliknya. Begitu jemarinya menyentuh ponsel, ia segera mengeluarkannya dan menyalakan layar utama.
Matanya membelalak sempurna. Napasnya seolah berhenti berputar di paru-paru saat melihat angka digital yang tertera di pojok atas layarnya.
Jumat, 5 Juni 2026.
’2026?!’ Kinara menjerit histeris di dalam hatinya. ’Bukan 2032?!’
Seingatnya, kecelakaan tragis itu terjadi di tahun 2032, tepat setelah ia melewati enam tahun pernikahan yang dingin dan menyiksa bersama Zergan. Namun sekarang, layar ponselnya dengan sangat jelas menunjukkan tahun 2026. Tahun di mana ia masih menjadi seorang mahasiswi tingkat akhir. Tahun di mana ia bahkan... belum menikah dengan Zergan Airlangga!
’Apa yang sebenarnya terjadi?! Apa aku... kembali ke masa lalu?!’
Kinara berteriak frustrasi di dalam hatinya, mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ini semua nyata, jika ia benar-benar kembali ke enam tahun sebelum kematiannya, maka takdir baru saja memberinya kesempatan kedua. Kesempatan untuk menepati janji terakhirnya: mengalah, menjauh, dan tidak akan pernah masuk ke dalam kehidupan Zergan Airlangga lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!