BUKK.... !
Si kembar Kian dan Azka, bersama Dylan dan Emil menatap pada teman perempuan mereka yang baru saja terjatuh akibat dorongan kasar dari Aditama yang juga bersama pengikut setianya.
Wanda Safia yang jatuh berlutut itu memunguti buku buku yang terburai dari dalam goodie bag yang terhampar di lantai.
"Sama perempuan jangan kasar, dong." Kian langsung nge gas.
"Terserah gua. Dia ini bisa sekolah di sini karena bokap gua. Salahnya sendiri bawa tas aja ngga becus," sergah Aditama pongah.
Kian menatap tajam sebelum ikut berjongkok membantu Wanda memunguti buku bukunya. Emil juga ikut membantu sedangkan Azka dan Dylan mengawasi Aditama dan teman temannya yang selalu membuat masalah.
"Tapi papa lo dapat nama, kan, karena sudah menyekolahkan dia," tukas Azka sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Tatapnya menyorot dingin.
Aditama menyeringai.
"Ya. Aku juga bebas memperlakukan dia seperti apa," sentaknya masih sama dengan wajah pongah dan sikap mengintimidasi.
Dalam hati dia memaki karena bertemu lawan yang setara dengannya lagi. Musuh bebuyutannya sejak masuk SMA elit ini.
Beberapa yang lainnya masih belum muncul, batinnya lagi ketika menyadari jumlah musuhnya tidak sebanyak biasanya.
Di sekolah ini gank dia dan gank Kian yang paling dominan. Beberapa kali mereka harus dinasehati guru BP. Tapi semuanya dianggap angin lalu saja, karena keluarga mereka bukan orang biasa. Orang tua mereka donatur tetap SMA Elit Darmawangsa ini.
"Uangmu tidak bisa memperlakukan orang seenaknya," kecam Kian sambil memberikan goodie bag yang sudah terisi semua buku pada Wanda yang mengambilnya dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak menahan malu yang amat sangat. Hampir tiap hari di sekolah dia diperlakukan begini oleh anak bos mendiang mamanya.
"Kamu ngga apa apa?" tanya Kian lagi. Tatapannya lembut tanpa sorot menjatuhkan. Seperti biasa.
Wanda mengangguk pelan. Sejak pertama kali mendapatkan bantuan Kian, jantungnya selalu berdebar aneh. Rasa sakit dipermalukan seakan bisa perlahan disembuhkan. Tapi lama kelamaan dia merasa terbebani. Wanda makin merasa tak ada artinya di depan Kian.
"Terimakasih," jawabnya lirih sambil menerima goodie bag itu. Sementara di punggungnya ada tas Aditama. Wanda menunduk, tidak membalas tatapan Kian.
Aditama yang melihatnya mendengus muak.
"Sepertinya tuan muda suka dengan babuku ini," sarkasnya kemudian tertawa ngakak bersama teman temannya.
Kian mengabaikan ejekan itu, dia masih menatap Wanda yang tubuhnya tampak gemetaran.
Emil menyerahkan sebuah goodie bag lagi pada Kian. Isinya dua buah tumbler dan sebuah mangkok bekal yang untungnya masih tertutup rapat.
Kian menyerahkannya pada Wanda.
"Makannya dihabiskan." Kian tersenyum tipis.
Wanda yang awalnya tidak mau menatap Kian, kini menautkan netra mereka.
Senyum Kian selalu bisa mengobati rasa terhinanya. Perlahan dia bangkit diikuti Kian dan Emil.
"Heh, tuan muda. Sayangnya babuku tidak akan kuserahkan padamu." Lagi lagi Aditama memprovokasi Kian agar marah dan memulai duluan perkelahian dengannya.
"Kamu ngga punya tulang, ya, selalu menyuruh Wanda membawa tasmu." Kian balas mengejek sambil menepuk nepuk celananya yang menumpu lantai tadi.
"Memang sudah tugasnya," ketus Aditama.
"Dasar lemah," kekeh Kian mengejek. Tatapnya meremehkan.
Aditama langsung naek darah. Apalagi ketiga remaja laki laki yang bersama Kian juga tergelak.
Beberapa yang menonton adu mulut ini menahan tawa, sementara yang lain menatap cemas. Mereka yakin sebentar lagi pasti akan berakhir dengan perkelahian.
"SIA-LAANNN!!" Aditama melepaskan tinjunya ke pipi Kian yang refllek menepis dengan tangannya.
Teman teman Aditama langsung bersiaga. Teriakan teriakan mulai terdengar. Ada yang melarang tapi kebih banyak juga yang mengompori.
"Selalu saja mencari masalah." Reyhan muncul di balik kerumunan para siswa. Di belakangnya ada dua pasang anak kembar.
"Ternyata kalian sudah lengkap. Mau lanjut di lapangan?" tantang Aditama dengan wajah menyeringai marah karena tinjunya berhasil ditangkis tadi.
"Lebih baik kita pergi saja." Dylan memilih mengalah. Nasehat papi dan maminya cukup sering dia terima sejak masuk SMA.
"Jangan pedulikan dia." Emil juga setuju dengan Dylan.
"Aku juga ngga berniat melawan pecundang," sinis Kian berucap. Cengiran penuh ejekan tersemat di bibirnya sebelum berbalik pergi. Azka juga melakukan hal yang sama.
"Dasar pengecut!" sentak Aditama dalam marahnya ketika diacuhkan. Wajahnya terlihat be-ngis karena dipermalukan di hadapan teman temannya. Kakinya bergerak cepat menendang bokong Kian.
Wanda menutup mulut berharap Kian berhasil mengelak lagi seperti tadi.
Ternyata Kian ngga serta merta percaya kalo Aditama akan melepasnya begitu saja. Pengalaman adu mulut dengannya yang selalu berakhir dengan ayunan tangan dan kaki membuat Kian waspada. Dia pun memutar cepat tubuhnya dengan bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lain menendang kuat kaki Aditama.
Tepat kena di betisnya hingga tubuh Aditama kehilangan keseimbangan. Untung saja teman temannya menahan tubuhnya hingga tidak sampai jatuh ke lantai.
Beberapa orang temannya langsung menghadang Kian dan csnya. Memba-bi buta memukul dan menendang.
"Dasar," maki Azka yang terpaksa melayani mereka.
Alen yang baru saja datang juga ikut membantu dengan wajah sumringah.
"Suka banget olah raga pagi."
Dua pasang kembar juga ikut turun agar perkelahian seimbang
Kerumunan langsung mundur menjauh, agar tetap bisa menonton tanpa terkena pukulan dan tendangan.
Reyhan memijat kepalanya sambil menghembuskan nafas berulang kali. Dylan dan Emil yang berada di dekatnya juga mengawasi perkelahian yang kini jumlahmya sudah seimbang. Tapi sudah jelas Aditama kalah kualitas. Kian cs menang dalam segi teknik. Mereka menguasai karate, taekwondo, pencak silat, dan juga muay thai.
Bahkan mereka juga masuk dalam jajaran atlet muda berprestasi. Bukan seperti Aditama cs yang seni bertarungnya ala grasa grusu.
Ngga lama kemudian pemenangnya langsung terlihat jelas. Tapi bukan berarti yang menang aman dari hukuman.
Terdengar bunyi peluit kencang, seperti biasa, untuk menghentikan perkelahian itu.
Beberapa guru dan sekuriti datang untuk memisahkan, tepatnya mengamankan yang sudah babak belur.
Bu Elia menghela nafas berkali kali ketika melihat pelakunya itu itu saja.
"Kalian semua dijemur!" Bu Elia menatap beberapa sekuriti yang tampak kaget mendengar hukuman yang ngga lazim ini.
"Pak, jemur anak anak ini di lapangan!" perintahnya lagi.
Bu Elia adalah guru BP yang ngga pernah takut dengan para donatur yang memiliki anak anak yang selalu membuat masalah di sekolah.
Para sekuriti masih bergeming dan saling tatap, bingung dan bercampur takut. Anak yang akan mereka tangani bukan anak dari kalangan biasa.
Kian cs maupun Aditama cs berseru kaget. Biasanya hukumannya hanya pemanggilan orang tua saja ke sekolah.
"Kok dijemur, Bu," seru Aditama ngga terima.
"Panas banget, Bu," sambung teman Aditama-Mahesa.
"Surat aja , Bu. Atau langsung telpon juga boleh." Alen juga ikut menawar.
Kian jadi merasa bersalah dengan kerabatnya.
"Bu, saya aja yang dijemur sama Aditama," usulnya yang jelas ditolak Aditama.
"Enak aja. Kamu sendiri yang lebih pantas dijemur" sanggahnya dengan tatapan horor.
Kian melirik sinis.
"Semuanya dijemur!" ulti Bu Elia lagi. Sudah pusing dia menghadapi perkelahian anak para donatur ini.
"Tapi , bu?" bisik Bu Nanda agak keberatan.
"Kalo ada apa apa, urusannya sama saya."
Karena ini spin off dari novel Pesona Cassanova, diinfokan aja, ya, anak anak mereka😊
Anak Khalid& Ziza \= Dylan
Anak Ziyan&Vivian \= Emil
Anak Malik&Casaie\= Keyra
Anak Sean&Ariella\=Alen
Anak Quin \= Dira dan Vira
Anak Deva&Vina.\= Zio dan Gio
Anak Dewa&Emily \= Kian dan Azka
Anak Theo&Rubby \= Naresh dan Denish
Anak Shakti&Sheila\=Reyhan
■
■
"Kalian ngapain mau ikutan dijemur?" sindir Alen sambil menatap Reyhan, Emil dan Dylan yang tidak ikut berkelahi bersama mereka tadi. Tatapannya jelas meremehkan.
Reyhan tersenyum miring. Ngga mungkin dia, Dylan dan Emil melarikan diri dari hukuman yang baru pertama kali dijatuhkan pada kerabatnya.
"Kalo mereka ikut, lawan bakal kalah jumlah. Namanya ngga adil, kan," bela Denish santai sambil melirik Aditama yang menyeringai marah mendengarnya.
Alen tergelak, memprovokasi Aditama cs. Mahesa sampai mengeluarkan geraman marahnya. Dibanding yang lainnya, Mahesa teman terdekat Aditama.
Pagi ini tim Aditama belum full. Sudah lumrah mereka maen keroyok, karena anggota mereka lebih banyak dari Kian cs.
Berbeda dengan Kian cs yang mengandalkan tim dengan keanggotaan berdasarkan kekerabatan. Tim Aditama merekrut timnya berdasarkan pertemanan dan sebagiannya lagi karena hubungan bisnis orang tua mereka.
"Sampai kapan kita dijemur seperti ikan begini?" keluh Zio. Walaupun hari masih pagi, panas matahari sudah sangat menyengat.
"Aku akan minta papa memberikan sanksi pada Bu Elia," geram Mahesa sambil menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Punggung seragamnya juga sudah basah. Dia memang paling gampang berkeringat. Apalagi dijemur di bawah terik matahari. Sebentar saja keringat sudah membanjiri tubuhnya. Mahesa melepas jas sekolahnya dan melemparkannya begitu saja karena tubuhnya sudah merasa sangat gerah
"Bu Elia berani sekali pada kita," dengus Bayu, salah satu anggota tim Aditama. Dia juga melakukan hal yang sama.
"Aku juga akan meminta papa melakukan hal itu," sambungnya lagi dengan nada marah. Dia juga melempar jasnya sembarangan.
"Aku akan meminta pengawal mengantarkan seragam baru untuk kita," ucap Reyhan. Dia paling awal melepaskan jasnya. Begitu juga Kian dan yang lainnya.
"Ini semua karena lo. Kalo lo ngga bikin gue marah, kita ngga akan dijemur begini." Aditama menatap Kian mangkel.
"Apa, sih, yang membuat lo selalu membela babu gue, hah?!" marah Aditama lagi. Dia ngga suka ada yang mengganggu kesenangannya.
"Babu, babu. Dasar majikan yang hanya bisa ngandalin uang orang tua," ejek Kian mebuat hati Aditama tambah panas.
"Uang orang tua gue, ya, uang gue. Lo orang luar, jangan ikut campur!" sentak Aditama lagi dengan tatapan makin horor.
"Jangan jangan si Kian beneran suka sama Wanda, Tama," kompor Bayu menyahuti. Tawa meremehkannya terdengar. Temen temannya juga ikut mengurai tawa.
Aditama menyeringai.
"Drama tuan muda yang menyukai gadis miskin." Mahesa ikut mengejek.
Tangan Kian mengepal.
"Lebih bagus lagi drama tuan muda yang menyukai babunya sendiri," skak math Denish, kemudian tergelak dengan perasaan sangat pu@s bersama kembarannya Naresh. Alen juga ikut mengeluarkan tawa kerasnya
Wajah Aditama makin merah membara. Harga dirinya dijatuhkan di depan teman dan lawannya.
"B@ngs@aaatt!" Tinjunya terarah pada Denish yang sudah mengeluarkan kalimat merendahkannya.
"Aku lawanmu, pecundang!" Kian yang ambil alih perkelahian ini.
Seperti dikomando, Mahesa dan yang lainnya juga langsung menghajar Denish cs. Perkelahian ngga berimbang pun terjadi. Reyhan, Dylan dan Emil terpaksa ikut serta dalam perkelahian ini. Tim Kian cs menang dari segi kuantitas dan kualitas.
Peluit kencang dan kepanikan para sekuriti kembali terdengar bersahut sahutan. Mereka yang diminta menjaga anak anak donatur ini kini berusaha keras meleraikan perkelahian mereka lagi.
*
*
*
Ezra-adik Ziza-maminya Dylan, diminta mewakili keluarga Kian cs datang menghadap guru BP. Laki laki yang masih menjomblo di usia yang sudah melewati angka tiga puluhan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat seragam keponakan dan kerabatnya yang sudah kotor berlumuran tanah dan rumput. Wajah dan rambut mereka juga acak acakan.
Mereka berada di ruangan yang terpisah dari Aditama cs.
"Kalian maunya apa, sih Berantem melulu," omel laki laki yang belum laku itu gusar.
Kakaknya terpaksa menelponnya agar mengurus Dylan dan yang lainnya karena hari ini kebetulan dia dan para mami mereka sedang belanja bareng di Singapura. Butuh waktu dua jam untuk kembali dan mengurus masalah anak anak mereka di sekolah.
Sedangkan daddy daddy mereka kebetulan sedang sibuk meeting di.luar kota. Ezra yang berada di Jakarta terpaksa harus mengurusi masalah yang kerap terjadi ini.
Efek dari pergulatan kedua tim yang dilakukan di lapangan, Bu Elia akhirnya memutuskan untuk memanggil orang tua mereka lagi. Sekarang beliau sedang berada di ruang sebelah, tempat di mana Aditama cs berada bersama para walinya.
"Bukan kita yang mulai," cuit Gio membela diri. Kancing seragamnya hilang dua hingga kaos dalamnya terlihat jelas.
Harusnya kalian abaikan mereka, sungut Ezra dalam hati
"Kok, om, yang datang. Mami mana?" Dylan bertanya dengan heran. Baru kali ini maminya ngga datang ke sekolah.
"Mami kalian sedang shopping di Singapura." Ezra menatap penampilan keponakannya dengan miris. Bisa dia bayangkan perasaan Ziza yang selalu shock setiap tau putranya kerap berkelahi di sekolah. Mungkin bukan hanya Ziza saja, tapi mami mami mereka yang lain pasti juga punya perasaan yang sama.
Ezra merasa aneh dan pusing dengan generasi anak kakak kakaknya yang hobi berantem adu kekuatan fisik di sekolah. Beda dengan generasinya dulu, juga generasi daddy daddy mereka yang jauh dari perkelahian seperti ini.
Kian cs hanya ber oo aja meresponnya.
"Bu Elia mana? Kita mau pulang sekarang, nih. Aku gerah mau mandi." Alen melihat ke arah pintu.
"Gara gara Om Ezra datangnya telat, Bu Elia ke tempat si lemah itu duluan," omel Gio dengan lirikan kesal ke arah Ezra yang reflek mendelikkan matanya.
"Masih untung aku bisa datang, anak nakal." Ezra balas mengomel.
"jadi kita harus berterimakasih?" sindir Azka.
"Sepertinya begitu." Naresh yang sejak tadi diam saja juga mengeluarkan keluhannya. Dia sudah tidak tahan dengan kondisi tubuhnya. Basah dan kotor.
"Kalian ini....." Belum lagi Ezra meneruskan rutukannya, pintu ruangan terbuka.
Bu Elia datang. Wanita muda itu menatap Ezra dengan tatapan aneh, kemudian melihat ke sekitarnya.
Dia siapa?
Biasanya dia akan menemukan wajah wajah cantik nan anggun yang tersenyum lembut ke arahnya.
Elia berjalan pelan diiringi tatap ngga sabar dari para murid bengalnya. Sorot tatapan itu sama seperti yang dia dapatkan di ruang sebelah. Mungkin kalo dia bukan anak kepala sekolah Dharmawarsa, semua orang pasti akan memarahi tindakannya yang sudah berani beraninya menjemur anak anak dengan kekayaan dan kekuasaan yang hampir tanpa batas.
"Bu Elia, apakah kita sudah boleh pulang?" tanya Kian sambil berdiri setelah gurunya berjalan di dekatnya. Ucapannya terdengar sangat sopan.
"Kami mau mandi dan ganti baju, bu," sambung Denish. Walaupun AC sudah mendinginkan suhu tubuhnya, tapi tetap saja dia tidak suka lama lama mengenakan baju yang bekas keringat dan kotor.
"Aku belum pernah berkeringat dan sekotor ini, bu," sambung Alen ikut merengek menyuarakan isi hati yang lainnya juga.
Anak anak ini, batin Elia gemas. Jika saja tidak melihat kelakukan mereka di luar tadi, orang orang pasti akan menduga mereka anak anak yang manis. Apalagi mereka juga berprestasi.
"Bisa kita bicara sekarang? Maaf, waktu saya tidak banyak." Ezra juga ikut menyela sambil melihat jarum jam tangannya.
Elia melirik sebal pada satu satunya laki laki dewasa yang ada di ruangan ini. Perasaan dongkolnya makin menjadi jadi
"Anda om mereka?" interogasi Elia sudah dimulai. Dia menatap tenang wajah tak sabar di depannya.
"Ya."
"Semuanya?" Elia sulit percaya. Dia menatap satu persatu siswanya. Wajah wajah mereka cukup berbeda selain yang kembar identik. Apalagi ada yang setengah bule.
"Dylan anak kakak saya. Selain itu kami bersaudara karena hubungan pernikahan dan juga persahabatan kakek buyut," jelas Ezra apa adanya.
Elia terdiam, dia sudah mendengar hubungan keluarga mereka dari papanya. Karena orang tua bahkan kakek nenek mereka bersekolah di sini.
"Harusnya orang tua mereka saja yang datang." Helaan nafas Elia terdengar berat. Padahal dia perlu berbicara pada orang tua mereka dari hati ke hati. Perkelahian ini sudah melibatkan banyak siswa dan menimbulkan gap antara dua kubu di sekolah.
"Saya akan menyampaikan pesan anda pada orang tua mereka. Kami punya grup keluarga. Anda tinggal katakan saja."
Hampir saja Elia.mendengus melihat sikap menggampangkan laki laki yang mengaku sebagai om mereka ini.
Menurut penglihatannya, para keponakannya ini tidak terlalu menurut pada omnya.
"Untuk sementara anak anak diskors sambil kami menganalisis akar masalah pertengkaran mereka."
"Skors? Berapa lama, bu?" cetus Alen dengan wajah senang.
Elia menghela nafas sambil memperhatikan para siswanya yang sebagian besar tampak bahagia dengan hukuman ini. Sama saja dengan para siswa yang berada di ruangan sebelah tadi.
"Satu hari. Setelah itu kalian akan melaksanakan bakti sosial di sekolah."
"Bakti sosial seperti apa, bu?" tanya Kian dengan perasaan ngga nyaman. Firasat buruk menyusup dalam pikirannya.
"Kalian akan bergantian membersihkan kamar mandi selama satu minggu."
Baru selesai Elia mengucapkannya terdengar suara mual.
Ezra tertawa pelan.
Gutu ini berani juga.
"Ibu sudah memberikan jadwal pada Aditama dan teman temannya."
"Mereka mau?" ceplos Reyhan ngga yakin.
Elia mengangguk.
"Terpaksa mau. Ingat, satu minggu," tegas Elia berkata.
Terdengar kasak kusuk dengungan penuh penolakan.
"itu pengingat kalo kalian ingin berkelahi lagi seperti tadi." Elia menyadari, anak anak yang dia hadapi sudah dipastikan punya puluhan Art di rumah. Mereka pasti tidak pernah bersinggungan dengan pekerjaan yang dianggap menji-jikan begitu.
Harapan Elia semoga mereka kapok karena selalu membuat keributan dan huru hara di sekolah.
Satu minggu paati akan membuat mereka merasa muak dan tidak akan mau melakukannya lagi di waktu yang akan datang.
"Bagaimana kalo satu hari saja, bu?" Kian menawarkan kesepakatan.
Elia menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa, Kian. Satu hari tidak akan membuat kamu jera. Kalo kalian masih juga berkelahi di sekolah, ibu akan menambahkannya menjadi satu bulan." Dalam hati Elia tertawa melihat ekspresi shock dan ngga terima siswa siswanya. Reaksi Aditama dan teman temannya juga begitu.
Ezra tertawa melihat wajah kecut keponakan keponakan bengalnya. Dalam hati dia salut juga dengan keberanian guru BP ini.
Tidak takut dipecat, ya? batinnya geli.
"Baiklah, kalo begitu anak anak sudah boleh pulang, kan?" tanya Ezra dengan sisa tawa di bibirnya.
"Bentar, pak. Pihak sekolah sedang mendata kerugian yang ditimbulkan akibat perkelahian mereka. Nanti akan saya kirimkan berapa jumlah yang harus ditranfer ke rekening sekolah."
Akibat perkelahian di dua tempat tadi, pot pot beserta bunga hancur, lemari kaca pecah dan rumput rumput mahal di lapangan hancur ngga berbentuk lagi.
"Om Ezra, tidak bisa begitu. Kani belum setuju yang satu minggu. Minta keringanan, bu," mohon Gio menyela dengan wajah memelas.
"Kalian bisa bergantian melakukannya," jawab Ezra enteng.
"Ngga bisa begitu, Om." Denish kelihatan gusar karena omnya tidak melakukan negosiasi dengan benar. Dia butuh kehadiran maminya sekarang.
"Makanya jangan bertengkar lagi. Ayo pulang. Kalian punya waktu satu hari untuk memikirkan akibat perbuatan bodoh yang sudah kalian lakukan," sergah Ezra ngga mau dibantah. Dia harus segera pergi karena tidak ingin terlambat bertemu klien penting.
"Sebentar Pak Ezra, nomor telpon siapa yang bisa saya hubungi ?" cegah Elia yang merasa diacuhkan ketika Ezra dan murid muridnya bersiap melangkah pergi.
Eza memberikan ponselnya pada Elia.
"Silakan ketik nomor anda."
Dylan dan yang lainnya menatap omnya dengan tatapan merendahkan.
"Maksudnya saya akan mengjrimnya ke nomor anda?" Elia agak enggan mengetikkan nomor ponselnya.
"Ya. Ada masalah?" Ezra agak tersinggung karena guru BP ini menolak mendapatkan nomornya. Padahal nomornya yang ini sangat pribadi. Tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Elia ngga punya pilihan.lain selain mengetikkan nomornya. Kemudian mengembalikan ponsel itu pada Ezra.
Ezra menekan nomor itu hingga terdengar suara dering halus dari ponsel yang berada di atas meja.
"Kami permisi," pamitnya yang hanya dianggukkan Elia.
Dia pun berjalan duluan dan diikuti keponakan keponakannya yang melangkah di belakangnya sambil menggerutu.
Ezra membuka pintu dan membiarkan keponakan keponakannya keluar duluan. Ketika Dylan yang terakhir melewati pintu, Ezra menoleh ke arah Elia.
"Kalo anda dipecat karena ini, anda bisa menghubungi saya. Saya suka dengan karakter pemberani anda, bu Elia."
Dylan dan Azka yang sempat mendengar kata kata manis jomblo yang ngga laku laku itu mendengus.
"Ommu sedang merayu guru BP kita," decak Azka yang dianggukkan Dylan.
"Dia benar benar ngga laku." Dylan menatap Ezra dengan tatap kasian.
"Jangan khawatir, Pak Ezra. Saya tidak akan dipecat karena ini."
"Semoga." Ezra menyahut pelan dengan memamerkan lesung.di kedua pipinya. Tapi ketika melihat wajah Dylan membuat senyumnya pupus.
"Jangan mengira aku merayu guru BPmu, ya," sungutnya pelan tapi dengan nada yang penuh tekanan.
Dylan dan Azka meresponnya tatapan datar.
*
*
*
Wanda yang sedang melihat teman temannya dijemur di lapangan menghela nafas panjang.
Dia merasa kasian dengan Kian bersaudara sekaligus takut dengan Aditama. Dia pasti akan bertambah tambah marah dengannya nanti.
Kian, tolong abaikan saja aku, keluhnya dalam hati dengan perasaan sedih.
"Di sini rupanya yang selalu membuat sekolah gonjang ganjing!"
Wanda agak tersentak mendengar suara makian sinis. Azula. Dia mengambil nafas dalam dalam sebelum menoleh pada teman perempuannya yang sedang berkacak pinggang dan menatapnya penuh amarah..Di dekatnya ada beberapa.dayang dayangnya. Raya, Dona dan Richi.
Azula mencengkeram keras dagu Wanda hingga meninggalkan kesan perih karena ujung ujung kukunya melukai dagunya.
"Berani beraninya merayu Kian!" maki Azula geram. Dia heran, apa kelebihan Wanda hingga Kian selalu bersimpati padanya. Selama ini Kian dan csnya yang tampan tampan itu hanya perhatian pada tiga perempuan saja yang merupakan kerabatnya.
Kemudian Azula mendorong keras tubuh Wanda setelah melapaskan cengkeramannya. Punggung gadis itu menabrak tembok hingga terasa nyeri.
Azula.kemudian mengambil tumblernya, membuka tutupnya dan menyiramkannya ke wajah Wanda.
"Itu akan kamu dapatkan kalo masih mencoba mencari perhatian Kian." Setelah mengatakannya Azula pergi bersama dayang dayangnya.
Wanda mengusap wajahnya yang diguyur air sedingin es dengan tangan gemetar. Dia melirik beberapa anak perempuan yang melihat pembulian terhadapnya yang bergerak menjauh. Tidak mau ikut campur, apalagi membantunya.
Dia kesepian di sekolah elit yang ngga pernah dia minta untuk ada di sini. Tapi mama tuan mudanya yang bersikeras memasukkannya ke sini agar menjadi babu anak tunggalnya. Neneknya yang sudah lama mengabdi di rumah Aditama sama sekali tidak pernah menggubris keinginannya untuk pindah ke sekolah lain yang biasa saja.
*
*
*
"Hai, kamu ngga apa apa?"
Sapaan Kian membuat Wanda yang baru keluar dari toilet kaget. Ya, sejak berada di sekolah ini jantungnya selalu ngga pernah bisa berdetak normal. Selalu ada saja yang membuatnya terkejut dan takut.
"Tid tidak apa apa....," jawabnya gugup. Cowo di depannya, tampan dan selalu bersinar terang di matanya. Hanya Kian yang mempedulikannya tapi efeknya malah membuatnya mendapatkan banyak masalah.
"Rambutmu basah. Juga jasmu." Kian menatap kemeja dan jasnya juga yang kotor, hingga tidak bisa dia pinjamkan pada Wanda. Tadi setelah dari ruangan Bu Elia, dia melihat gadis itu keluar dari toilet sambil melamun. Rambut basahnya mengusik instingnya.
Siapa lagi yang membullynya?
"Sebentar lagi kering, kok."
Kian ngga bereaksi apa apa. Bukan itu maksud perkataannya.
"Kian....."
"Ya....?" Keduanya saling beradu pandang. Dada Kian berdebar melihat tatapan penuh keputusasaan itu.
"Maaf.... tadi kamu.... dan saudara saudara kamu harus dijemur....."
Kian tersenyum tipis.
"Laki laki biasa aja dijemur." Dalam hati dia mentertawakan kalimat barusan yang dia ucapkan. Karena saat dijemur tadi dia merasa sangat kegerahan dan ingin hukuman itu cepat berakhir.
"WANDA!"
Terdengar langkah sepatu dengan sol ringan yang berjalan setengah berlari menuju ke arah mereka.
Aditama.
Kian berdecak melihat kedatangannya sedangkan Wanda sudah merasakan lututnya bergetar begitu mendengar suaranya saja.
GREP
Aditama mencekal kasar lengan Wanda.
"Kamu akan mendapat hukuman di rumah!" Setelah melirik Kian sinis, Aditama membawa Wanda pergi bersamanya.
Ketika Kian akan menghalangi, Wanda menggeleng pelan.
"Kamu mau hukuman kita ditambah?!" bentak Aditama menggelegar membuat Kian terdiam.
Dia ngga takut soal harus membersihkan kamar mandi berbulan bulan. Tapi dia akan merasa sangat bersalah dengan kembaran, sepupu dan kerabatnya yang jadi kena hukuman juga gara gara dirinya.
Aditama menyeringai sinis.
"Jangan campuri urusan pribadiku lagi!" sentaknya sebelum pergi bersama Wanda.
Kian menghembuskan nafas kesal. Rahangnya mengeras. Wajah tertekan Wanda mengganggu pikirannya.
Kenapa ada orang yang sangat kasar dengan perempuan, batinnya gusar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!