Aku tak ingat sejak kapan air mataku mulai menetes. Yang pasti, tangisan itu sudah berlangsung selama setengah jam belakangan ini, dan entah mengapa, rasanya tak mau berhenti. Aku duduk bersandar di sudut kamar kos yang sempit—hanya berukuran tiga kali empat meter—sambil memeluk kedua lutut rapat ke dada. Daguku kusandarkan di atas lutut, dan mataku—yang pasti sudah bengkak serta kemerahan—terkunci menatap layar ponsel yang bersinar redup di tanganku.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.47.
Di luar, hujan masih mengguyur kota Depok tanpa ampun. Aku bisa mendengar suara air yang jatuh deras dari ujung genting ke selokan di bawah, bunyi yang seharusnya membawa ketenangan, namun malam ini terdengar lolongan panjang yang terasa menyayat hati. Angin bertiup kencang hingga membuat jendela kamarku—yang sudah tidak pas lagi bingkainya—bergetar pelan, mengeluarkan bunyi berirama: krek… krek… krek… persis seperti tulang-tulang yang saling bergesekan.
Aku berusaha menarik napas panjang, namun udara yang masuk terasa berat dan sesak. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada, tepat di sebelah kiri tulang rusukku, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku perlahan namun terus-menerus, hingga terasa perih yang dalam.
Ponselku masih menyala.
Di layarnya terpampang pesan singkat yang sudah kubaca berulang kali selama dua jam terakhir. Pesan itu datang dari Mas Reza—atau lebih tepatnya, dari lelaki yang baru saja kulepas sebagai kekasihku dua jam yang lalu.
Sekali lagi aku membaca tulisan itu, untuk kesekian kalinya:
“Kamu egois, Tari. Selalu begitu.”
Aku menelan ludah, namun terasa ada rasa pahit yang menggenang di tenggorokan.
“Setelah segala hal yang sudah kulakukan untukmu, begini caramu membalasnya? Kamu kira aku tak merasa sakit hati?”
Bibir bawahku gigit pelan hingga nyaris berdarah. Sakit hati? Apakah dia mengira hanya dia yang merasakan rasa sakit itu?
“Tapi sudahlah. Terserah keinginanmu saja. Aku tak mau memperpanjang pertengkaran. Jika itu memang maumu, ya sudah.”
Kalimat terakhirnya—“ya sudah”—terasa seolah aku ditusuk dengan pisau yang tumpul. Tidak langsung menusuk sampai tembus, namun rasa sakitnya terasa luar biasa, menyebar ke seluruh dada.
Dua setengah tahun lamanya aku menjalin hubungan dengannya. Dua setengah tahun aku berjuang mempertahankan hubungan ini dengan segala cara. Dua setengah tahun pula aku menelan beragam perlakuan—mulai dari yang penuh manis, hingga yang paling menyakitkan hati. Namun semuanya berakhir hanya dalam waktu lima menit saja; berakhir di pinggir jalan raya, tepat di depan gerbang kampus, saat rintik hujan belum turun terlalu deras.
Aku masih ingat betul bagaimana semuanya bermula.
***
Waktu itu pukul 16.30 sore, di depan gerbang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Hujan belum turun saat itu. Langit hanya tertutup awan kelabu yang tebal, persis seperti langit-langit kamar kosku yang kini mulai tampak retak dan berjamur di beberapa sudutnya. Aku berdiri di bawah kanopi kecil penahan hujan, memegang payung lipat berwarna merah marun yang warnanya sudah mulai pudar. Mataku tak pernah lepas dari jalanan yang ada di hadapanku, berharap sosok yang kutunggu segera muncul.
Mas Reza sudah berjanji akan menjemputku pukul tiga sore.
Namun jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.30.
Artinya, aku sudah menunggu selama satu setengah jam.
Tiga kali aku mengirim pesan kepadanya: satu jam yang lalu, tiga puluh menit yang lalu, dan sepuluh menit yang lalu pula. Namun tak ada satu pun balasan yang masuk. Aku pun sudah meneleponnya dua kali, namun teleponku sama sekali tak diangkat.
Kembali aku menggigit bibir bawahku—kebiasaan buruk yang tak pernah bisa kutinggalkan. Di dalam dada, bercampurlah rasa khawatir, kesal, dan kekecewaan; perasaan yang sudah sangat sering kurasakan hingga terasa terlalu akrab. Bukan khawatir karena aku takut terjadi hal buruk padanya, melainkan khawatir karena aku tahu persis hal ini pasti akan berakhir dengan pertengkaran lagi.
Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi?
Aku pun tak sanggup lagi menghitungnya. Hampir setiap bulan, paling tidak dua atau tiga kali, kami selalu bertengkar karena persoalan yang sama saja: Mas Reza datang terlambat, Mas Reza tak memberi kabar, lalu dia yang marah jika aku berani menegur atau mengeluh.
Namun aku selalu saja memaafkannya. Selalu saja.
Mungkin karena aku terlalu takut kehilangan dirinya. Mungkin karena aku masih terlalu berharap dia akan berubah menjadi lebih baik. Atau mungkin karena aku memang terlalu bodoh untuk menyadari satu hal nyata: orang yang benar-benar mencintaimu tak akan membiarkanmu menangis berkali-kali seperti ini.
Tepat pukul 16.45, sebuah mobil Fortuner berwarna hitam berhenti perlahan di hadapanku.
Mas Reza turun dari kendaraan dengan wajah yang kusut—kusut bukan karena rasa khawatir atau terburu-buru, melainkan kusut persis seperti orang yang baru saja bangun tidur atau baru saja selesai melampiaskan kemarahannya. Rambutnya yang biasanya disisir rapi dan berkilau kali ini tampak agak berantakan. Kemeja batik lengan panjang yang ia kenakan pun terlihat berkerut di bagian kerah, seolah dipakai dengan tergesa-gesa tanpa dirapikan.
“Maaf, tadi jalanan macet,” ujarnya dengan nada bicara yang datar. Tak ada nada bersalah, tak ada sedikit pun rasa empati.
Aku bangkit dari bangku kayu tempatku duduk hampir dua jam lamanya. Bagian belakang rok jeansku sedikit basah terkena percikan air saluran pembuangan di pinggir jalan, dan sepatu Converse putihku—yang baru kubeli bulan lalu—sudah tercoreng noda hitam di bagian ujungnya.
“Macet ya, Mas?” tanyaku dengan suara pelan, berusaha sekuat tenaga agar tetap tenang. “Padahal dari kantor ke sini jaraknya tak jauh, paling hanya butuh waktu setengah jam jika lancar. Ini sudah satu jam empat puluh lima menit lamanya.”
Mas Reza menghela napas panjang—jenis hembusan napas yang sudah terlalu sering kudengar. Itu adalah cara bicaranya yang seolah berkata: “Kamu mulai lagi.”
“Tadi ada rapat mendadak,” jawabnya singkat.
“Rapat mendadak, tapi kenapa Mas tak memberi kabar sedikit pun? Tak kirim pesan, tak angkat telepon?”
“Lho, kalau sedang rapat mana mungkin aku pegang ponsel?”
“Sebelum rapat dimulai, Mas kan masih sempat. Cukup tulis satu kalimat saja: ‘Ta, aku ada rapat dulu, jadi mungkin terlambat datangnya.’ Tak butuh waktu lebih dari semenit pun.”
Mas Reza terdiam sejenak. Matanya—sepasang mata berwarna coklat tua yang dulunya membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama—kini menatapku dengan tatapan yang dingin. Tak ada lagi kehangatan di sana, tak ada lagi jejak rasa cinta yang dulu kurasakan.
“Kamu mulai lagi, ya, Tari,” akhirnya ia bersuara. “Selalu saja ingin mengatur-ngatur.”
Dadaku terasa semakin sesak mendengar ucapan itu. Mengatur-ngatur? Apakah meminta kabar dari orang yang mengaku kekasihku kini dianggap sebagai perilaku mengatur?
“Aku hanya minta satu hal saja, Mas: komunikasi. Itu saja yang kuminta.”
“Sudah kubilang maaf, aku terlambat. Sekarang ayo naik, aku antarkan kamu makan.”
Ia langsung berbalik arah, masuk kembali ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin tanpa menunggu aku bergerak atau sekadar memastikan aku sudah siap. Aku masih terpaku berdiri di tempat, menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik kaca berwarna gelap.
Inilah dia. Kejadian seperti inilah yang selalu berulang. Aku kecewa lalu marah, dia membalas dengan kemarahan pula, kemudian kami diam-diaman berhari-hari. Namun pada akhirnya, akulah yang selalu meminta maaf, akulah yang selalu berusaha memulihkan keadaan, lalu kami berbaikan, dan tak lama kemudian hal yang sama terulang kembali. Sebuah lingkaran yang tak pernah berubah bentuknya.
Aku pun berjalan mendekati mobil, membuka pintu penumpang, lalu duduk di sebelahnya. Udara di dalam kendaraan terasa sangat dingin—penyejuk udara diputar terlalu kencang, persis seperti kebiasaannya yang lain.
“Kita mau ke mana?” tanyaku, berusaha mencairkan suasana yang kaku.
“Makan di pinggir jalan yang dekat sini saja. Aku sudah sangat lelah,” jawabnya pendek.
Kata lelah. Itulah kalimat yang selalu ia gunakan setiap kali ia tak mau bersusah payah. Kata yang keluar setiap kali ia tak mau berusaha mengerti perasaanku. Kata yang menjadi alasan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya saja, tanpa perlu memikirkan apa yang kurasakan.
“Bagaimana kalau kita ke tempat biasa, Mas? Di dekat pasar itu,” kataku lagi dengan suara yang makin pelan.
Tak ada jawaban dari mulutnya. Ia hanya menginjak pedal gas, dan mobil pun melaju meninggalkan kawasan kampus.
***
Pukul 17.30 sore, kami sudah sampai di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan raya dekat pasar Depok.
Tempat itu sangat kecil, hanya berupa tenda dari terpal plastik berwarna biru yang didirikan di bahu jalan, dilengkapi lima atau enam meja plastik yang warnanya sudah mulai kusam dan pudar. Aroma masakan nasi goreng dan mi goreng bercampur baur dengan asap kendaraan bermotor yang berlalu-lalang tak henti. Lampu minyak tanah yang digantungkan di kerangka atap menerangi ruangan dengan cahaya yang remang dan sedikit berasap.
Kami memilih duduk di meja yang paling pojok. Mas Reza memesan sepiring nasi goreng istimewa dan es teh manis. Aku memesan menu yang sama persis, meski sejujurnya aku sama sekali tak memiliki selera makan. Perutku sudah terasa mual sejak tadi, dan aroma masakan yang seharusnya menggugah selera itu malah membuatku ingin muntah.
“Makanlah, Tari,” kata Mas Reza seraya mengambil sendok, lalu mulai menyantap makanannya dengan lahap—seolah tak ada hal yang sedang terjadi di antara kami.
Aku pun mengambil sendok, menyendok sedikit nasi ke dalam mulut, lalu mengunyahnya perlahan. Rasanya hambar, tak ada kenikmatan sedikit pun di lidahku.
“Mas…” panggilku pelan.
“Iya?” jawabnya tanpa menoleh.
“Aku sudah lelah.”
Gerakan mengunyahnya terhenti sejenak. Ia menatapku dengan alis yang terangkat ke atas. “Lelah kenapa?”
“Aku lelah menjalani hal-hal seperti ini… lelah dengan keadaan kita berdua.”
Mas Reza meletakkan sendoknya ke pinggir piring. Raut wajahnya berubah: dari datar menjadi penuh kewaspadaan, lalu berubah lagi menjadi sikap yang seolah bersiap mempertahankan diri dari serangan.
“Apa maksud perkataanmu itu, Tari? Mau bicara apa sebenarnya?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Tanganku yang terlipat di bawah meja mulai gemetar hebat. Aku tahu, kata-kata yang akan kuucapkan sesaat lagi akan mengubah seluruh jalan hidupku. Namun aku pun sadar, jika bukan saat ini aku mengatakannya, mungkin aku tak akan pernah memiliki keberanian untuk mengakhirinya selamanya.
“Aku ingin kita berpisah, Mas. Aku ingin mengakhiri hubungan ini.”
Ia terdiam. Matanya sedikit membelalak, seolah tak menyangka akulah yang pertama kali mengungkapkan hal itu. Biasanya, dialah yang sering mengancam akan pergi, lalu akulah yang berusaha menahan dan memohon agar ia tetap tinggal. Kali ini, akulah yang memulainya.
“Kamu bicara sungguh-sungguh?” tanyanya, nadanya berubah menjadi dingin.
“Sungguh, Mas.”
“Hanya karena aku datang terlambat tadi?”
“Bukan hanya karena hal itu.”
“Terus karena apa?”
Aku menatap tepat ke manik matanya, berusaha menyampaikan segala rasa yang menumpuk di dada selama ini. “Karena aku sudah habis tenagaku, Mas. Aku lelah terus-menerus menunggu kabar dan kedatanganmu. Aku lelah sering diabaikan dan dianggap tak penting. Aku lelah menjadi pihak yang selalu mengalah, yang selalu memaafkan kesalahanmu, dan yang selalu berusaha memperbaiki keadaan—padahal hubungan yang sehat seharusnya tak perlu diperbaiki terus-menerus seperti ini.”
Mas Reza kembali menghela napas, namun kali ini terdengar jelas penuh kekesalan.
“Kamu kira aku tak merasa lelah, Tari? Aku yang bekerja keras, aku yang mencari nafkah, aku yang—”
“Mas, selama kita bersama, aku tak pernah sekali pun meminta uang darimu. Satu rupiah pun tak pernah kuminta,” potong pembicaraanku, suaraku mulai bergetar menahan tangis. “Aku mencintaimu bukan karena harta atau uangmu. Tapi jika rasa cinta ini hanya berjalan satu arah saja, lalu untuk apa lagi kita bertahan?”
Ia terdiam, tak menjawab apa-apa.
“Coba ingat-ingatlah sendiri, Mas. Kapan terakhir kali kamu menjemputku tepat waktu sesuai janji? Kapan terakhir kali kamu mengajakku jalan-jalan atau sekadar bertemu tanpa aku yang harus memintanya duluan? Dan kapan terakhir kali kamu bertanya kabar dan keadaanku, sebelum aku sendiri yang bercerita padamu?”
Mas Reza tetap diam seribu bahasa.
“Nah, itulah jawabannya, Mas. Kamu bahkan tak sanggup mengingatnya sama sekali.”
Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu menggenggam kedua tangannya sendiri dengan erat—seolah berusaha menahan amarah yang meluap agar tak meledak di tempat.
“Kalau begitu, pasti kamu sudah menemukan orang lain, ya?” tanyanya tiba-tiba, dengan nada curiga.
Aku terkejut mendengar tuduhan itu. “Apa maksudmu?”
“Pasti ada lelaki lain yang kamu inginkan. Makanya kamu berani bersikap begini dan minta berpisah.”
“Mas, aku tak pernah—”
“Jangan berani berbohong padaku, Tari!”
Suaranya meninggi hingga terdengar keras dan tajam. Beberapa orang yang sedang makan di warung itu ikut menoleh ke arah kami. Pipiaku terasa panas membara—bukan karena rasa malu diperhatikan orang lain, melainkan karena rasa marah yang meluap. Marah karena ia sama sekali tak pernah menganggap serius apa yang kurasakan. Baginya, pasti selalu ada alasan lain, pasti selalu ada kesalahan di luar dirinya sendiri.
“Aku tak berbohong, Mas. Aku hanya mulai sadar, bahwa hubungan seperti ini tidak baik untuk kesehatanku, maupun untuk dirimu sendiri.”
Mas Reza bangkit berdiri. Ia meletakkan uang kertas di atas meja—berjumlah sekitar lima puluh ribu rupiah, jauh lebih dari cukup untuk membayar dua porsi makan dan minum kami.
“Baiklah, kalau memang begitu keinginanmu,” katanya dengan nada yang sangat dingin, menusuk ke dalam hati. “Aku tak mau memperpanjang pertengkaran yang tak ada gunanya ini.”
Ia pun berbalik badan, berjalan menuju mobil, lalu masuk ke dalam kendaraan tanpa menunggu aku selesai bergerak sedikit pun.
Aku masih duduk diam di tempat, menatap punggungnya yang perlahan hilang di balik kaca gelap mobilnya.
Ia pergi begitu saja.
Benar-benar meninggalkanku di sana.
Setelah menghela napas panjang, aku pun bangkit berdiri, mengambil uang yang ditinggalkannya, lalu menyerahkannya kepada pemilik warung—seorang ibu paruh baya yang mengenakan daster usang dan kerudung yang warnanya sudah luntur.
“Nona, tidak pulang bersama kekasihnya?” tanya ibu itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Dia bukan kekasihku lagi, Bu,” jawabku tenang.
Aku berjalan keluar menuju pinggir jalan, lalu segera memesan taksi daring lewat ponselku. Saat itu, rintik hujan mulai turun—mulai dari titik-titik halus, lalu makin lama makin deras membasahi bumi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, aku sudah sampai kembali di kamar kosku.
Dan selama dua jam sejak saat itu hingga sekarang, aku masih tetap duduk bersandar di sudut ruangan ini, memeluk lutut, dengan air mata yang tak kunjung berhenti menetes.
***
Sekarang sudah pukul 22.15 malam.
Hujan di luar masih turun dengan derasnya.
Aku belum juga beranjak dari sudut kamar ini.
Tiba-tiba ponselku bergetar lagi di sampingku.
Aku menoleh dan melihat nama pengirim pesan yang muncul di layar: Mama.
“Anakku, ingat ya, besok Mama sudah mengatur pertemuanmu dengan anaknya Bu Dewi. Jangan sampai kau malas-malasan atau menolak ya. Biar cepat ada pengganti yang baik menggantikan si Reza itu.”
Aku menatap tulisan pesan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Jadi Mama sudah tahu? Pasti Mas Reza sudah menelepon ibunya, lalu ibunya menghubungi Mama. Begitulah selalu terjadi dalam lingkaran kehidupan kami; semua orang tahu urusan pribadiku, semua orang ikut campur, dan setiap orang merasa berhak memberi pendapat tentang hidupku.
Aku mengetik balasan dengan singkat: “Iya, Ma. Aku ingat.”
Tak ada lagi tenaga yang tersisa dalam diriku untuk berdebat atau menolak. Tak ada gunanya bertengkar dengan Mas Reza, dengan Mama, maupun dengan siapa pun malam ini.
Aku mematikan layar ponsel, lalu merebahkan tubuh di atas kasur tipis yang hanya dialasi seprei yang sudah agak menipis. Di sebelahku ada satu buah bantal guling yang bentuknya sudah penyok, bekas terlalu sering kupeluk saat kesepian.
Langit-langit kamarku tampak retak-retak. Air hujan merembes turun lewat celah plafon, lalu menetes perlahan ke lantai keramik yang warnanya sudah kusam. Bunyinya berirama: tik… tik… tik… persis seperti detak jam dinding yang terus berjalan tanpa henti, mengingatkanku bahwa waktu terus berlalu—tak peduli apakah aku sedang baik-baik saja atau sedang hancur hatiku.
Besok aku harus berangkat ke sebuah kedai kopi di kawasan Kemang.
Harus bertemu dengan anak lelaki Bu Dewi itu.
Lelaki yang sama sekali tak kukenal, tak tahu rupa dan wataknya seperti apa.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Namun di balik kelopak mata yang tertutup itu, bayangan Mas Reza masih terus berputar dan menghantui. Terbayang wajahnya yang dingin saat mengucapkan kalimat penutup itu. Terbayang matanya yang kosong tanpa rasa bersalah sedikit pun. Terbayang pula langkah kakinya yang tegas meninggalkanku sendirian di pinggir jalan tempo hari.
Sudahlah, Tari. Cukupkan sampai di sini saja. Besok adalah lembaran hari yang baru.
Aku menggigit bibir bawahku lagi—kebiasaan yang tak bisa hilang—lalu menarik selimut tipis hingga menutupi dagu, berusaha memaksakan diri untuk terlelap.
Namun, kantuk sama sekali tak kunjung datang.
Yang hadir dan menetap bersamaku hanya suara hujan di luar sana, serta rasa sakit yang masih tertahan dan menyesakkan di dalam dada.
Aku sama sekali tak bisa memejamkan mata semalaman.
Bukan semata-mata karena rasa sakit hati akibat perpisahan—meski harus kuakui, ada sedikit rasa itu yang masih tersisa. Namun, yang lebih membuat kepalaku terasa penuh sesak adalah segala bayangan tentang hari ini. Tentang pertemuan yang harus kujalani dengan anaknya Bu Dewi. Tentang Mama yang pasti sudah berkali-kali menelepon Bu Dewi—bisa jadi sudah sepuluh kali lebih—hanya demi memastikan segalanya berjalan sempurna sesuai rencana. Dan di atas segalanya, tentang betapa aneh dan tak masuk akalnya jalan hidupku belakangan ini.
Baru saja semalam aku mengakhiri hubungan dengan Reza. Namun hari ini, aku sudah disiapkan untuk bertemu lelaki lain seolah tak ada jeda waktu sama sekali.
Rasanya seperti menonton sebuah lakon yang ceritanya terlalu dipaksa, tak masuk akal sama sekali.
Atau seperti sedang ikut perlombaan lari estafet dalam urusan percintaan: begitu satu tonggak dilepas, tonggak berikutnya sudah harus segera disambung. Tak ada waktu istirahat. Tak ada kesempatan untuk sekadar menarik napas panjang, merenung, atau menangis sepuas hati hingga rasa itu hilang.
Sudah sejak pukul enam pagi aku bangkit dari tempat tidur. Bukan karena semangat membara, melainkan karena setiap kali aku mencoba berbaring kembali, perutku terasa mual hebat. Entah apakah itu dampak dari rasa patah hati yang belum tuntas, atau sekadar akibat saraf yang menegang kaku memikirkan pertemuan ini—aku sendiri pun tak tahu jawabannya.
***
Pukul 07.30 pagi, di kamar kos.
Aku berdiri di depan sebuah cermin berukuran sedang yang menempel di dinding, persis di samping lemari plastik dua susun yang engselnya sudah retak dan agak longgar. Permukaan cermin itu tak lagi bening sempurna; penuh dengan goresan halus bekas sentuhan yang tak sengaja terjadi, sejak pertama kali aku menempati kamar ini dua tahun silam.
Perlahan aku menatap bayangan diriku sendiri.
Wajahku tampak sangat pucat. Lingkaran hitam di bawah kedua mataku tercetak tegas, persis seperti noda bekas kuas cat air yang tercecer tanpa sengaja di atas kertas putih. Bibirku kering kasar dan sedikit pecah-pecah di bagian sudutnya. Rambutku—yang biasanya selalu kusayangi dan kurawat dengan ramuan masker alami buatan sendiri—kini terlihat kusut tak beraturan, kering dan kaku seperti tumpukan jerami kering.
“Cantik sekali,” gumamku dalam hati dengan nada yang penuh sarkasme. “Pasti Mama akan merasa sangat bangga melihat penampilanmu begini.”
Aku mulai memilih pakaian dari tumpukan yang ada di lemari, berusaha menemukan yang paling sopan dan pantas dipakai. Akhirnya tanganku berhenti pada satu helai blus berwarna putih bersih berlengan panjang, dengan hiasan lipatan-lipatan kecil yang rapi di bagian dada—hadiah ulang tahun dari Mama tahun lalu, yang belum pernah sempat kugunakan karena terkesan terlalu rapi dan mewah sekadar untuk berangkat ke kampus. Aku memadukannya dengan rok kain bermotif batik berdasar warna hitam yang potongannya melebar menyerupai huruf A, serta sepatu pantofel berwarna hitam dengan hak pendek yang nyaman dipakai berjalan jauh.
Penampilan yang aman, pikirku. Tidak terlalu mencolok hingga mengundang tatapan orang, namun juga tidak terkesan terlalu sederhana atau asal-asalan. Cukup untuk membuatku tampak seperti gadis yang berkelakuan baik, yang siap diperkenalkan kepada keluarga orang lain dengan pantas.
Di leherku, aku mengenakan seutas kalung perak yang sangat tipis dengan liontin berhuruf “T”—kado ulang tahun ke-20ku dari sahabatku, Maya. Itulah satu-satunya aksesori yang membuatku merasa sedikit lebih menjadi diriku sendiri, bukan sekadar boneka cantik yang dipoles khusus untuk sebuah pertemuan formal.
Sekali lagi aku menatap bayangan di cermin, merapikan sedikit bagian yang terasa kurang pas.
“Baiklah, Tari. Kamu pasti sanggup menjalani ini,” bisikku menyemangati diri sendiri. “Anggap saja kamu sedang datang untuk sarapan gratis saja. Mengobrol sebentar, lalu pulang. Semuanya akan selesai begitu saja.”
***
Pukul 08.45 pagi, di dalam taksi dalam perjalanan ke Kemang.
Aku duduk sendirian di kursi belakang, mataku tak lepas dari pemandangan yang berlalu di luar jendela. Lalu lintas Jakarta pagi ini ternyata tidak terlalu padat—mungkin karena hari ini hari Sabtu, atau mungkin memang aku sedang beruntung saja. Gedung-gedung tinggi dan deretan pertokoan tampak bergerak lewat di hadapanku, seolah adegan dalam sebuah film yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
Tiba-tiba ponselku bergetar pelan di dalam tas.
Pesan masuk dari Maya.
“TARI! AKU BARU DENGAR KAMU ADA KENCAN BUTA HARI INI! CEPAT CERITA SEMUANYA!”
Aku tersenyum tipis membaca tulisan sahabatku itu. Maya memang selalu tahu segalanya, persis seperti mata-mata yang tak pernah tertidur. Entah dari mana saja ia selalu mendapatkan kabar, yang pasti dialah orang pertama yang selalu tahu setiap kali ada hal penting yang terjadi dalam hidupku.
Aku membalas pesannya dengan singkat: “Ini bukan kencan buta. Hanya sekadar bertemu saja.”
Tak sampai semenit, balasan darinya sudah masuk kembali, penuh dengan huruf besar seperti biasa jika ia sedang bersemangat.
“YA ITU DISEBUTNYA KENCAN BUTA! BERTEMU DENGAN ANAKNYA BU DEWI KAN?! AKU DENGAR DIA TAMPAN SEKALI, TAR! LULUSAN TERBAIK ITB DAN KERJA DI PERUSAHAAN ASING YANG BESAR! MANTAP KAN?!”
Aku menghela napas panjang. Rasanya Maya dan ibuku seolah berasal dari dunia yang sama—dunia di mana jabatan, pekerjaan, kekayaan, dan penampilan fisik dianggap sebagai hal yang paling utama.
“Belum tentu juga tampan. Bisa jadi jelek, kan?” tulisku membalas.
“KALAUPUN JELEK TIDAK MASALAH, YANG PENTING KAYA!”
“Maya, kamu ini sungguh terlalu, matrealistis sekali.”
“INI BUKAN MATREALISTIS, TAPI AKU ITU REALISTIS, DASAR KAMU YANG TERLALU BERHARAP PADA HAL YANG TAK NYATA! SUDAH SANAN BERANGKAT, JANGAN SAMPAI KAMU YANG DATANG TELAT YA!”
Aku melirik jam di layar ponselku: pukul 08.52. Janji bertemu pukul sembilan tepat. Aku takkan terlambat—karena sejujurnya, aku sangat benci jika harus datang terlambat. Itulah salah satu alasan terbesar mengapa hubunganku dengan Reza terasa begitu melelahkan dan berat; dia yang selalu datang terlambat, dan akulah yang selalu harus menunggu, berjam-jam kadang-kadang.
“Aku sudah hampir sampai. Doakan saja semoga orangnya tidak menyebalkan ya,” tulisku terakhir kali padanya.
“AMIN! NANTI KABARI AKU SEGERA YA! JANGAN LUPA!”
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas selempang berwarna coklat—tas dari kulit tiruan yang sudah mulai mengelupas di bagian sudut-sudutnya, namun masih cukup pantas untuk kubawa ke acara semi-formal seperti ini.
***
Kendaraan pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan kafe.
Tempat itu bernama “Maison de Café”, sebuah kedai mewah di kawasan Kemang yang belum pernah sekalipun aku kunjungi sebelumnya.
Gaya bangunannya menyerupai rumah-rumah zaman Eropa kuno: dindingnya berwarna krem dengan susunan bata yang sengaja dibiarkan terlihat, jendela-jendela besar berbingkai kayu berwarna hijau tua pekat, serta pintu masuk yang kokoh dari kayu jati dengan pegangan kuningan yang berkilau terkena cahaya. Di bagian halaman depan, tersedia taman kecil yang ditata rapi lengkap dengan meja dan kursi dari anyaman rotan, dilindungi payung-payung besar berwarna senada dengan dinding. Lampu-lampu gantung berukuran kecil berjejer di langit-langit teras, memancarkan cahaya hangat yang memberi kesan mewah namun tetap nyaman.
Aku membayar ongkos perjalanan—sekitar tujuh puluh ribu rupiah, jumlah yang cukup terasa menguras isi dompetku sebagai mahasiswa—lalu turun dari kendaraan.
Di luar, hujan gerimis mulai turun perlahan. Titik-titik airnya jatuh pelan sekali, seolah seperti air mata yang ditahan agar tak mengalir deras. Aku mengeluarkan payung lipat berwarna merah marun dari dalam tas—payung yang sama persis yang kubawa kemarin sore, saat aku menunggu Reza berjam-jam di depan gerbang kampus.
“Jangan biarkan pikiranmu melayang ke arah Reza,” tegurku dalam hati dengan tegas. “Hari ini bukan tentang dia. Hari ini urusannya lain.”
Setelah sampai di bawah atap penahan hujan, aku melipat kembali payungku hingga rapi, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan jantungku. Di balik kaca pintu yang berat itu, ada seseorang yang sedang menungguku. Seseorang yang belum pernah aku lihat wajahnya, belum pernah aku dengar suaranya. Seseorang yang entah kelak akan menjadi bagian dari hidupku, atau sekadar menjadi bahan cerita lucu yang akan kuceritakan pada Maya nanti malam.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mendorong pintu itu hingga terbuka.
***
Di dalam ruangan kafe, suasana terasa sangat kontras dengan udara dingin dan gerimis di luar sana. Lampu-lampu gantung berwarna kuning keemasan menggantung indah di langit-langit, menyinari ruangan dengan cahaya yang hangat namun agak redup. Lantai marmer berwarna putih bersih mengkilap hingga memantulkan bayangan kursi-kursi berlapis beludru merah yang tersusun rapi berderet di samping meja-meja kayu jati yang kokoh. Udara di dalam ruangan harum semerbak, campuran antara aroma biji kopi pilihan dan wangi vanila yang keluar dari lilin penyerap bau yang dinyalakan di setiap sudut ruangan.
Mataku segera bergerak menyapu seluruh ruangan, mencari tanda keberadaannya. Di mana dia?
Mama pernah berpesan bahwa ia akan duduk di dekat jendela besar, tepat di meja bernomor tujuh. Aku pun berjalan perlahan menyusuri lorong di antara deretan meja, melewati pasangan-pasangan yang sedang berbincang dengan suara rendah, melewati seorang ibu paruh baya yang sibuk mengetik di depan komputer jinjingnya, hingga melewati seorang pria berjas rapi yang sedang membaca koran pagi dengan tenang.
Meja nomor tujuh ternyata berada di sudut paling belakang, berdekatan dengan kaca jendela luas yang menghadap langsung ke taman kecil di luar. Dari tempat itu, aku bisa melihat jelas bagaimana butiran gerimis membasahi daun-daun tanaman hias yang tertata rapi.
Namun kursi di meja itu masih kosong.
Ternyata akulah yang datang lebih dulu.
Aku menghela napas panjang—campuran rasa lega dan sedikit kesal. Lega karena aku tak perlu merasa canggung mencari-cari orang asing di tengah keramaian. Namun ada rasa kesal yang terselip; karena sekali lagi, akulah yang harus menunggu orang lain datang.
Aku duduk di kursi yang posisinya berhadapan langsung dengan pintu masuk, agar aku bisa melihat siapa saja yang datang dan pergi. Tas selempangku kusandarkan di pangkuan, kakiku kusilangkan dengan sopan, dan sekuat tenaga aku berusaha tampak tenang—meski di dalam dada jantungku berdegup kencang tak karuan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan muda—berambut pendek sebahu, mengenakan celemek berwarna coklat dengan senyum yang ramah—mendekati mejaku.
“Selamat pagi, Nyonya. Ada yang ingin dipesan? Atau masih menunggu teman datang?” sapanya lembut.
“Masih menunggu teman sebentar, Mbak,” jawabku seraya tersenyum tipis. “Nanti jika sudah siap, aku akan memanggil.”
Pelayan itu mengangguk paham, lalu berjalan pergi meninggalkanku sendiri.
Aku kembali melirik jam di ponselku: pukul 08.58. Masih tersisa dua menit lagi menuju pukul sembilan tepat.
Aku membuka kembali pesan-pesan dari Maya yang belum sempat kubaca sepenuhnya.
“TARI, KAMU SUDAH SAMPAI BELUM SIH?! TAMPAN TIDAK ORANGNYA YANG KAMU TEMUI ITU?!”
Aku membalas dengan cepat: “Belum datang. Aku sudah menunggu di sini.”
Hanya sesaat, pesan balasan muncul kembali. “ASTAGA! MASA KAMU YANG DATANG LEBIH AWAL DARIPADA DIA? PADAHAL KAN DULU KAMU YANG SELALU TERLAMBAT KE MANA-MANA!”
“Aku tak mau datang terlambat. Ini kan pertemuan orang baru, kasihan juga kalau dia yang harus menunggu aku,” tulisku menjelaskan.
“BAGUSLAH KAMU UBAH KEBIASAAN BURUKMU ITU! TAPI INGAT YA, JANGAN SAMPAI KAMU TERLIHAT TERLALU BERHARAP SAMPAI DIA MENGIRA KAMU SANGAT MENGINGINKANNYA!”
Aku tersenyum sendiri membaca pesan itu. Sungguh, hanya Maya yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa sedikit, bahkan di saat-saat paling canggung sekalipun.
“Sudah ya, Maya. Aku matikan ponselku dulu,” balasku singkat.
“SIAP! SEMANGAT YA SAYANG! MUACH”
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Jarum jam di dinding bergerak maju menunjuk angka sembilan tepat.
Aku menatap tajam ke arah pintu masuk.
Belum ada siapa-siapa yang muncul.
Pukul 09.05.
Masih sepi di sana.
Rasa gugup mulai merayapi dadaku. Mungkin dia berubah pikiran dan tak jadi datang? Atau mungkin dia sudah melihat wajahku dari kejauhan, lalu memutuskan pergi begitu saja karena merasa tak cocok? Atau bisa jadi—
Ting…
Bunyi bel kecil di atas pintu berbunyi nyaring.
Kepalaku segera menoleh ke arah sumber suara dengan gerakan yang agak terlalu cepat, terlalu bersemangat—bahkan mungkin terlihat jelas bahwa aku sudah tak sabar menunggu.
Di ambang pintu, berdiri seorang pemuda yang sedikit basah di bagian bahu karena terkena percikan gerimis.
Tubuhnya tampak tinggi tegap, kira-kira sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter atau lebih sedikit lagi. Bahunya bidang dan lebar, membuat jaket jeans berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat pas dan serasi di tubuhnya. Di balik jaket itu, terlihat kaus polos berwarna hitam yang sederhana. Ia mengenakan celana panjang kain berwarna kelabu muda, serta sepatu pantofel hitam yang sedikit berkilau meski sudah agak basah terkena air hujan.
Rambutnya hitam berkilau, sebagian ujungnya terlihat sedikit basah dan lepek. Ia mengusap rambutnya ke belakang dengan gerakan tangan yang santai dan luwes—bukan karena merasa canggung, melainkan seolah memang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Matanya—sepasang mata berwarna coklat tua yang teduh, terbingkai di balik kacamata bingkai tipis berbentuk bulat—segera mengamati seluruh isi ruangan. Pandangannya bergerak perlahan dan teliti, seolah sedang mencari sosok tertentu, memeriksa setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang jarang kulihat pada orang lain.
Hingga akhirnya, pandangannya berhenti tepat di mejaku.
Tepat di mataku.
Ia lalu tersenyum tipis—senyum yang tak terlalu ramah berlebihan, namun juga tak terasa dingin atau menyendiri. Senyum yang seolah berkata: “Ah, jadi kamulah yang kucari.”
Dengan tenang ia melangkah mendekat ke arahku. Setiap langkahnya terasa mantap, tak terburu-buru namun juga tak ragu sedikit pun. Seolah ia sudah tahu persis ke mana ia harus berjalan dan apa yang harus ia lakukan.
Sesampainya di depan mejaku, ia berhenti sejenak, lalu menatapku lekat-lekat di balik kacamatanya.
Dan akhirnya ia bersuara.
“Kamu Tari, ya?”
Suaranya terdengar lembut namun berat, rendah, dan agak serak—persis seperti suara orang yang baru saja bangun tidur, atau orang yang seharian banyak berbicara. Bukan jenis suara yang pernah kubayangkan sebelumnya pada anak lulusan ITB yang bekerja di perusahaan asing. Suara ini terasa jauh lebih hangat. Jauh lebih… manusiawi.
Aku mengangguk pelan. “Iya. Dan kamu pasti Aldo, kan?”
“Betul.”
Ia segera menarik kursi kosong yang ada di hadapanku, lalu duduk dengan santai tanpa menunggu dipersilakan lebih dulu. Gerakan yang sedikit terasa kurang sopan menurut aturan umum, namun entah mengapa, dari caranya melakukannya, hal itu justru terasa wajar dan apa adanya.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja—terlihat sudut kanan atas layarnya sudah retak—lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sama.
“Aku minta maaf,” ucapnya tiba-tiba.
Aku sedikit mengangkat alis, heran. “Minta maaf untuk apa?”
“Karena aku datang terlambat.” Ia menunjuk ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya—jam model klasik berikat kulit berwarna coklat tua yang terlihat sudah cukup tua namun terawat sangat baik. “Seharusnya aku sudah ada di sini pukul sembilan tepat. Sekarang saja sudah lewat tujuh menit.”
Hatiku terasa sedikit tersentuh. Dia meminta maaf dengan tulus. Berbeda jauh dengan Reza yang hampir tak pernah sekalipun meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Reza selalu saja punya ribuan alasan—mulai dari kemacetan, rapat mendadak, rasa lelah, dan segala hal lain—dan baginya, keterlambatan bukanlah kesalahan yang perlu disesali.
“Tidak apa-apa, sungguh,” jawabku pelan. “Aku juga baru saja sampai.”
Aldo mengerutkan keningnya sedikit—bukan tanda marah, melainkan seolah sedang memikirkan sesuatu dengan saksama.
“Baru saja sampai, katamu?” ucapnya berulang, lalu menatapku tajam namun ramah. “Kalau benar baru saja sampai, rambutmu pasti masih agak lepek terkena uap air, bajumu belum rapi benar, dan payungmu itu…” jarinya menunjuk ke arah payung merah marun yang sudah tergantung rapi di sebelah tasku, “…pasti masih agak basah dan belum terlipat sempurna. Sedangkan payungmu ini sudah kering dan terlipat sangat rapi, persis seperti yang sudah diletakkan sejak sepuluh menit yang lalu.”
Aku terdiam seribu bahasa, tak tahu harus menjawab apa.
Ia pun melanjutkan penuturannya dengan tenang. “Payung yang baru saja dilipat biasanya masih meninggalkan sisa tetesan air dan lipatannya belum pas rapi. Tapi milikmu sudah kering bersih. Artinya, kamu sudah ada di sini jauh sebelum waktu yang ditentukan.”
“Kamu… teliti sekali, ya,” sahutku akhirnya.
“Jadi, kenapa kamu bilang baru saja datang?” tanyanya lagi, matanya berbinar antara rasa ingin tahu dan sedikit nada menggoda. “Tak perlu berbohong, Tari. Akulah yang terlambat, akulah yang berbuat salah. Tak usah berusaha menutupi kekhilafanku agar aku tak merasa bersalah.”
Mulutku terbuka ingin menjawab, namun tak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Pria ini—yang baru saja kutemui tak sampai lima menit yang lalu—ternyata sudah mampu membaca kebohonganku hanya lewat sebuah payung lipat.
“Maafkan aku,” ucapku akhirnya, mencoba mengakui segalanya. “Aku hanya… tak ingin kamu merasa tak enak hati atau terbebani.”
“Tapi memang seharusnya aku merasa bersalah, kan?” jawabnya tegas namun tetap lembut.
“Tapi kan—”
“Tak ada kata ‘tapi’ di sini.” Aldo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya di dada. “Datang terlambat adalah kesalahan yang nyata. Tak perlu ditutupi, tak perlu dicari alasan. Dan terima kasih ya sudah bersedia menungguku.”
Aku kembali terdiam. Ada rasa yang aneh menyusup ke dalam dadaku—bukan rasa tak nyaman, melainkan rasa yang justru membuatku merasa lebih tenang. Rasanya jarang sekali bertemu orang yang mau mengakui kesalahannya begitu saja, tanpa berkelit, tanpa membuat keributan, tanpa drama yang berlarut-larut.
Apakah inilah yang orang sebut kedewasaan berpikir? batinku bertanya-tanya. Atau apakah ini hanya kebetulan belaka?
Tak lama kemudian, pelayan kembali mendekat ke meja kami. “Ada yang ingin dipesan, Kak?”
Aldo menoleh sejenak. “Satu cangkir kopi Americano tanpa gula, ya.”
“Saya pesan teh bunga chamomile yang hangat saja,” tambahku. Itulah minuman yang selalu kupesan di mana pun aku berada; karena bagiku, teh takkan pernah mengecewakan rasanya.
Setelah pelayan pergi, Aldo kembali menatapku lekat-lekat.
“Jadi, Tari,” buka percakapannya lagi, “kamu sudah tahu kan, kalau pertemuan kita ini disiapkan oleh orang tua kita masing-masing?”
Aku menghela napas panjang pelan. “Tahu. Mama yang memberitahuku semalam.”
“Dan… apakah kamu setuju dengan rencana semacam ini?”
“Setuju?” Aku menggeleng pelan. “Kalau boleh jujur, tidak sepenuhnya setuju. Tapi rasanya aku tak punya banyak pilihan saat ini.”
Aldo sedikit mengangkat alisnya, seolah tak setuju dengan pendapatku. “Tak punya pilihan? Di zaman sekarang ini? Kamu bukanlah orang yang terikat perbudakan, Tari. Kamu tetap punya hak sepenuhnya untuk menerima atau menolak apa pun yang ditujukan padamu.”
“Tapi Mamaku… dia orangnya sangat keras kepala dan sulit diajak bicara.”
“Begitu juga aku,” jawabnya santai. “Ibuku juga orang yang keras kepala.”
“Terus bagaimana jadinya?” tanyaku bingung.
Aldo kembali menyunggingkan senyum tipisnya. “Bagaimana kalau kita anggap pertemuan ini bukan sebagai kencan buta yang harus berakhir dengan jadian?” Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arahku, meletakkan kedua sikunya di atas meja. “Anggap saja ini sekadar pertemuan biasa antara dua orang yang sama-sama dipaksa oleh orang tua, dan sama-sama tak suka dipaksa-paksa begini.”
Aku menatapnya lekat-lekat, berusaha memahami maksud ucapannya. “Maksudnya bagaimana?”
“Maksudnya, kita mengobrol saja seperti orang biasa yang baru saja saling kenal. Tak ada tekanan apa-apa. Tak ada harapan harus langsung saling jatuh cinta. Tak ada target harus menjadi pasangan atau hal lain semacam itu.”
“Kamu bicara sungguh-sungguh?”
“Sungguh-sungguh.” Matanya menatapku dengan pandangan yang tulus dan jernih. “Kita kenalan dulu, bercerita tentang diri kita masing-masing. Siapa tahu kelak kita cocok menjadi sahabat saja. Siapa tahu juga tidak cocok sama sekali. Yang paling penting, satu hal saja: kita tak boleh saling berbohong.”
Untuk pertama kalinya sejak aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe ini, aku tersenyum lepas—senyum yang datang dari hati yang mulai merasa lega.
“Baiklah kalau begitu,” jawabku mantap seraya menjulurkan tangan kananku ke arahnya. “Aku setuju dengan usulanmu itu.”
"Aku Aldo. Mungkin nama ini sudah tak asing lagi bagimu," ucapnya seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi beludru merah yang empuk. Gerakannya terasa begitu santai dan luwes, sama sekali tidak kaku atau canggung layaknya orang yang sedang berada di bawah tekanan berat. "Aldo Pratama. Umurku dua puluh enam tahun. Pekerjaanku psikolog forensik, meski belakangan ini lebih banyak waktuku kuhabiskan untuk mengajar di universitas daripada menangani kasus langsung di lapangan."
Aku mengangguk perlahan, berusaha menyerap satu per satu keterangan yang baru saja ia sampaikan. Psikolog forensik… batinku bergumam. Jadi bukan lulusan teknik dari ITB yang bekerja di perusahaan asing besar, persis seperti yang selalu dikabarkan Mama. Atau mungkin, Mama memang hanya menyebutkan latar belakang pendidikannya di sana, dan akulah yang terlalu cepat berasumsi bahwa ia pasti bergerak di bidang teknik.
"Kenapa memilih jalan menjadi psikolog forensik?" tanyaku kemudian. Sebenarnya rasa penasaranku belumlah terlalu mendalam, namun aku butuh topik pembicaraan apa pun untuk memecah keheningan yang mulai terasa makin menekan dan canggung di antara kami. Lagipula, pertanyaan itu terasa paling aman untuk diajukan—tidak terlalu masuk ke urusan pribadi, namun juga tidak terkesan datar atau klise belaka.
Aldo mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Karena aku selalu penasaran dengan cara berpikir dan perilaku manusia. Ingin tahu alasan di balik segala tindakan mereka. Kenapa ada orang yang sanggup melakukan hal‑hal yang sama sekali tidak masuk akal? Kenapa ada yang rela menyakiti sesamanya demi keuntungan sesaat saja? Dan kenapa rasa cinta—yang seharusnya menjadi hal terindah dalam hidup—bisa berubah menjadi racun yang perlahan merusak segalanya?"
Aku terdiam seketika. Dua alasan terakhir yang ia sebutkan—tentang orang yang saling menyakiti dan tentang cinta yang berubah menjadi racun—terasa begitu tajam, seolah‑olah sengaja ditujukan tepat ke arahku sendiri. Atau mungkin ini hanya perasaanku belaka? Bisa jadi aku sudah terlalu lama hidup dalam kecurigaan akibat sikap Reza, sehingga kini aku selalu berprasangka bahwa setiap orang yang kutemui pasti memiliki maksud tersembunyi di balik ucapannya.
"Kamu… sedang berusaha menyelidiki aku, ya?" tanyaku, berusaha tetap terdengar santai meski jantungku mulai berdegup kencang menahan rasa gugup.
Aldo tersenyum tipis—senyum yang sama sekali bukan senyum menyindir, bukan pula senyum menggoda. Melainkan senyum yang terasa tulus dan terbuka. "Apakah ada hal dalam dirimu yang perlu diselidiki, Tari?"
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara masuk dan keluar perlahan. "Setiap manusia pasti memiliki rahasia, Aldo. Tak perlu ada yang menyelidiki pun, rahasia itu tetap ada."
"Setuju sepenuhnya," jawabnya mantap seraya mengangguk. "Namun ingatlah satu hal: rahasia itu berbeda dengan kebohongan. Rahasia adalah hal yang kau simpan karena waktunya belum tepat untuk dibagi kepada orang lain. Sedangkan kebohongan adalah hal yang kau ubah atau rekayasa semata‑mata karena kau merasa takut."
Aku menatapnya lekat‑lekat. Kata‑katanya terdengar begitu dalam dan berat—terlalu dalam untuk sekadar percakapan pembuka di pertemuan pertama. Namun entah mengapa, tak ada satu pun kalimatnya yang terasa dipaksakan atau dibuat‑buat. Ia mengucapkannya dengan nada bicara yang biasa saja, persis seperti orang yang sedang menjelaskan hal sederhana, misalnya warna langit hari ini atau suhu udara di luar sana.
"Apakah kamu memang biasa bicara seperti ini kepada orang baru yang dikenal?" tanyaku lagi.
"Seperti bagaimana maksudmu?"
"Seperti… sedang berdiri di depan kelas dan memberi kuliah pada mahasiswa."
Aldo tertawa kecil—suara tawa yang renyah, membuat bahunya tampak naik turun perlahan. "Maafkan ya. Kebiasaan yang sulit hilang. Memang begini sifat kebanyakan dosen, suka sekali menggurui orang lain."
"Setidaknya kamu sadar akan kebiasaanmu itu," sahutku.
"Mengetahui kesalahan diri sendiri adalah langkah paling awal untuk berubah," jawabnya tenang.
Aku pun ikut tersenyum. Pria ini sungguh berbeda dari orang lain yang pernah kutemui. Aku belum tahu pasti apakah perbedaan itu akan membawa hal baik atau buruk bagiku nanti, tapi satu hal yang jelas: ia sama sekali tidak membosankan. Berbeda jauh dari kebanyakan pria yang diperkenalkan keluarga—yang biasanya bersikap terlalu kaku, terlalu menjaga tata krama, dan penuh dengan kata‑kata manis kosong yang tak ada habisnya.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan kami ke meja.
Di hadapan Aldo, diletakkan secangkir kopi hitam Amerika yang pekat—tanpa gula, tanpa krim, tanpa campuran apa pun selain kopi dan air panas. Aku bisa melihat uap putih yang masih mengepul naik dari permukaannya, membawa aroma khas yang tajam dan sedikit pahit menusuk hidung.
Sebaliknya, di depanku tersaji cangkir keramik putih berisi teh bunga chamomile yang masih hangat. Aroma bunganya yang lembut dan menenangkan segera tercium memenuhi udara di sekitar meja, menciptakan perpaduan yang indah namun kontras dengan aroma kopi yang kuat di sebelahnya.
"Kopi Amerika tanpa gula sama sekali," ujarku, sambil mengamati cangkirnya dengan rasa ingin tahu. "Pasti rasanya sangat pahit."
"Kopi itu tidak perlu dimaniskan agar enak," jawab Aldo seraya menyerupai minumannya perlahan, seolah menikmati setiap tetesnya. "Karena kopi sendiri sudah memiliki karakter rasa yang kuat dan utuh."
"Kalau dengan teh?" tanyaku lagi.
Aldo mengalihkan pandangannya ke arah cangkirku. "Teh chamomile… lembut, hangat, dan menenangkan batin. Sangat pas diminum di pagi hari yang masih dingin dan berkabut seperti saat ini."
Aku sedikit mengangkat alis, takjub. "Kamu ternyata tahu jenis teh ini juga?"
"Aku tahu banyak hal, Tari," jawabnya sambil tersenyum misterius. "Tapi aku takkan membagikan semuanya kepadamu hari ini saja. Nanti kamu malah cepat bosan mendengarkanku."
"Dan dari mana kamu bisa memastikan aku tidak akan bosan sejak pertemuan pertama ini?" tantangku balik.
Aldo menatapku cukup lama—tatapan yang teliti, seolah sedang berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mataku. Lalu ia kembali tersenyum tipis. "Aku tahu dari matamu sendiri. Matamu bercerita bahwa kamu sudah sangat bosan dengan segala hal yang itu‑itu saja, yang berulang tanpa perubahan. Kamu butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang berbeda."
Jantungku berdetak makin cepat dan keras. Aku tak yakin apakah ia sedang berusaha menganalisis kepribadianku secara mendalam, atau sekadar berbicara berdasarkan pengamatan biasa saja. Namun satu hal yang pasti: kata‑katanya itu langsung menancap tepat ke dalam hati, menyentuh sisi diriku yang selama ini tak pernah berani kuakui—bahkan kepada diriku sendiri sekalipun.
Aku memang bosan…
Bosan dengan kebiasaan Reza yang selalu sama dan tak pernah mau berubah.
Bosan dengan pertengkaran dan drama rumah tangga muda yang terus berulang tanpa ujung.
Bosan dengan hidup yang terasa seperti roda kincir tempat hamster berlari—terus bergerak, terus berputar, namun tak pernah maju ke mana‑mana.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku yang sebenarnya," kataku, berusaha mengalihkan perhatian agar ia tak terlalu jauh masuk ke dalam isi kepalaku.
"Pertanyaan mana?" ulangnya.
"Aku sempat bertanya: kenapa kamu bersedia datang ke pertemuan perjodohan ini? Katamu sendiri kamu tak suka dipaksa‑paksa atau diatur orang lain. Tapi nyatanya kamu tetap ada di sini."
Aldo kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya menggenggam cangkir kopi itu, namun tak segera diminum. Ia hanya memutarnya perlahan dengan gerakan berulang yang teratur, seolah‑olah sedang memberi waktu bagi pikirannya untuk menyusun jawaban yang tepat.
"Aku datang karena penasaran," jawabnya akhirnya, dengan nada yang serius.
"Penasaran dengan apa?"
"Dengan wanita yang berani mengambil keputusan mengakhiri hubungan dengan kakakku."
Dunia di sekitarku terasa seakan berhenti berputar seketika.
Dadaku mendadak terasa sesak napas. Kedua kakiku—yang sedari tadi kusilangkan dengan rapi dan tenang—kini terasa lemas dan lembek persis seperti tersengat arus listrik halus yang menjalar ke seluruh persendian.
"Kamu… sudah tahu semuanya?" suaraku keluar hampir berupa bisikan yang tertahan.
"Aku sudah tahu sejak awal," jawab Aldo dengan nada datar dan tenang, tanpa ada perubahan sedikit pun di wajahnya. "Aku tahu kamulah mantan kekasih Reza. Aku tahu kalian baru saja berpisah kemarin sore. Aku tahu kakakku sempat mengamuk sepanjang malam—membanting pintu, berteriak‑teriak sendiri di kamar, hingga membuat Ibuku sendiri merasa sangat cemas dan stres karenanya."
"Kalau begitu… kenapa kamu tetap mau bertemu denganku?"
Aldo menatapku tepat ke manik mataku. "Karena aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri, sosok wanita seperti apa yang sanggup membuat kakakku kehilangan kendali atas dirinya sendiri."
Aku terdiam seribu bahasa. Mataku mulai terasa panas di sudut‑sudutnya—bukan karena aku hendak menangis di hadapannya, melainkan karena rasa sakit lama yang baru saja berusaha kubur dalam‑dalam kini kembali muncul lagi ke permukaan. Rasa sakit yang sudah kucoba lupakan sejak pagi tadi, sejak aku bertekad takkan memikirkan Reza lagi hari ini.
"Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu merasa tak nyaman atau tersinggung," kata Aldo, nada bicaranya kini menjadi jauh lebih lembut dan rendah. "Aku hanya berusaha jujur kepadamu, Tari."
"Kamu terlalu jujur, Aldo. Kadang kejujuranmu terasa terlalu tajam."
"Dan bukankah lebih baik berterus terang seperti ini, daripada saling menutupi hal penting dengan kebohongan?"
Aku menghela napas panjang yang berat. "Itu tergantung keadaannya. Ada kalanya kebohongan itu jauh lebih baik, demi menjaga hati orang lain agar tidak terluka oleh kebenaran yang pahit."
"Itulah yang sering dikatakan orang‑orang, sekadar untuk membenarkan kebiasaan mereka berbohong dan berpura‑pura," bantahnya halus namun tegas.
"Aldo…" aku memotong, hendak menjelaskan lebih jauh.
"Aku mengerti maksudmu," potongnya kali ini sambil mengangkat tangan kanannya sedikit, seolah memintaku bersabar. "Aku sadar ini semua berjalan terlalu cepat. Kita baru saja berkenalan, dan aku sudah membahas hal‑hal yang berat dan pribadi. Tapi begini saja caraku. Aku tak suka basa‑basi berlebihan. Aku tak suka berpura‑pura menjadi orang lain. Kita dipertemukan di sini oleh keinginan orang tua kita, bukan karena kita berdua yang merencanakannya. Jadi, setidaknya ada satu hal yang bisa kita berikan satu sama lain: kejujuran sepenuh hati."
Aku diam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak salah. Ia memang hanya… berbeda dari kebanyakan orang. Dan entah bagaimana, perbedaan sikapnya itu justru perlahan membuat dadaku terasa lebih lega dan tenang.
"Baiklah kalau begitu," jawabku akhirnya, lalu mulai memperkenalkan diri dengan lengkap. "Aku Tari. Tari Winata. Umurku dua puluh satu tahun. Saat ini aku masih kuliah jurusan Sastra Indonesia. Aku sangat suka menulis cerita pendek, dan kadang kala juga menulis puisi jika ada waktu luang atau suasana hati yang mendukung. Aku sama sekali tak suka kopi—terutama yang pahit tanpa gula seperti milikmu itu. Tubuhku juga punya alergi terhadap udang, tapi anehnya aku tetap gemar makan hidangan laut, jadi sering kali aku memakannya diam‑diam dan keesokan harinya badanku penuh bentol gatal. Aku juga suka begadang kalau sedang mengerjakan tugas kuliah, tapi sebaliknya aku sangat benci harus bangun pagi‑pagi sekali. Dan aku…"
Ucapanku terhenti di tengah jalan.
Aldo menatapku dengan sorot mata yang sulit kutafsirkan—campuran antara rasa terhibur, rasa serius, rasa ingin tahu, dan sesuatu yang lain… sesuatu yang tampak seperti kekaguman yang halus.
"Lanjutkan ceritamu," desaknya pelan.
"Aku baru saja mengakhiri hubungan dengan kakakmu kemarin," lanjutku dengan keberanian yang terkumpul sekuat tenaga. "Dan sejujurnya, sampai detik ini aku belum sepenuhnya bisa melupakan masa lalu itu. Jadi jika kamu berharap ada hal istimewa yang bisa tumbuh di antara kita mulai pertemuan ini saja… maafkan aku, tapi aku belum siap untuk hal baru."
Aldo tak langsung menjawab. Ia hanya kembali menyerupai kopinya, perlahan dan tenang, seolah sedang membiarkan ucapanku itu meresap masuk ke dalam pikirannya.
"Aku tak mengharapkan apa‑apa darimu, Tari," katanya setelah meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja. "Aku datang hanya dengan satu keinginan: ingin berkenalan denganmu. Itu saja."
"Berkenalan? Untuk tujuan apa?"
Aldo mengangkat bahunya santai. "Untuk memuaskan rasa penasaranku yang tadi itu. Dan siapa tahu, setelah saling kenal, kita bisa menjadi teman yang baik."
"Teman saja?"
"Ya, teman biasa. Tak ada ikatan lebih dari itu. Kamu bilang belum bisa melupakan masa lalumu… dan aku pun sejujurnya juga belum sepenuhnya lepas dari sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupku."
Aku mengangkat alis, terkejut mendengar pengakuannya itu. "Kamu? Belum bisa melupakan apa?"
Aldo tersenyum tipis—senyum yang kali ini terasa getir dan pahit, hingga membuat dadaku ikut terasa sedikit sesak melihatnya. "Ceritanya cukup panjang dan rumit. Nanti saja akan kuceritakan padamu, kalau kita sudah mulai akrab dan tak saling asing lagi."
Aku pun tak memaksanya untuk bercerita lebih jauh. Aku hanya mengangguk mengerti, lalu kembali menyerupai teh chamomileku yang kini suhunya sudah pas, tak terlalu panas lagi.
Di luar sana, rintik hujan gerimis masih terus turun perlahan. Butiran‑butiran air menempel di permukaan kaca jendela besar, lalu bergerak turun berirama, saling bertemu dan melebur menjadi satu—persis seperti air mata yang ditahan agar tak jatuh deras. Aku memandangi pemandangan itu sejenak, lalu kembali menatap Aldo yang duduk di hadapanku.
Ia sedang menatapku.
Bukan tatapan yang membuatku merasa risih atau terganggu. Bukan pula tatapan yang penuh makna ganda atau harapan tersembunyi. Melainkan tatapan tenang, seolah‑olah ia sedang membaca halaman demi halaman sebuah buku yang menarik—dan akulah buku itu, yang sedang ia nikmati isinya.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
"Bukan apa‑apa, maafkan aku," jawabnya seraya menggelengkan kepala. "Aku hanya… merasa kamu ini wanita yang sangat menarik, Tari."
"Menarik?"
"Ya. Mulai dari caramu berbicara, caramu duduk dengan sopan namun tetap tegas, hingga caramu menggenggam dan meminum teh dari cangkirmu itu. Kamu sama sekali tak berusaha menjadi orang lain, tak berpura‑pura tampak lebih baik atau lebih sempurna dari aslinya. Hal seperti itu… sungguh menyegarkan hati untuk dilihat."
Aku tersenyum malu, hingga pipiku terasa agak hangat. "Mungkin karena aku memang tak punya cukup tenaga dan energi untuk berpura‑pura menjadi orang lain."
"Justru itulah yang membuatmu terasa istimewa dan menarik di mataku," jawabnya mantap.
Tiba‑tiba ponselku yang tergeletak di meja bergetar hebat.
Aku menunduk melihat layar yang menyala, dan seketika seluruh tubuhku menegang kaku saat membaca nama yang tertera jelas di sana:
Mas Reza Sedang Menelepon…
Jantungku kembali berpacu kencang—berdentum keras, berirama tak beraturan, persis seperti ada sesuatu yang memalu bagian dalam dadaku. Tanganku yang sedari tadi santai beristirahat di sisi meja kini mulai gemetar tak tertahankan.
"Aku… aku harus mengangkat telepon ini," kataku dengan suara yang mendadak serak dan lemah.
Aldo hanya mengangguk tenang. "Silakan saja. Aku tunggu di sini."
Dengan tangan yang masih gemetar, aku menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"H‑halo…?" suaraku terdengar begitu lemah dan goyah, bahkan di telingaku sendiri pun rasanya terdengar sangat menyedihkan.
Di seberang sambungan telepon, terdengar keheningan yang panjang. Lalu terdengar suara napas yang berat dan memburu. Hingga akhirnya terdengar suara Reza—suara yang dulu selalu membuatku merasa aman dan terlindungi, namun kini terdengar tajam dan kasar seperti silet yang siap menggores kulit.
"Tari… maafkan aku ya…"
Aku diam seribu bahasa, bibirku terkatup rapat menahan segala rasa yang berkecamuk.
"Tari? Kamu masih di sana kan?" tanyanya lagi.
"Aku masih di sini," jawabku datar—terlalu datar, sekeras apa pun aku berusaha menahan agar suaraku tak terdengar seperti orang yang sedang menahan tangis.
"Aku minta maaf atas semua kejadian kemarin. Aku sama sekali tak bermaksud bicara sekeras itu padamu. Waktu itu aku benar‑benar sedang lelah luar biasa, banyak beban pikiran dan tekanan di kantor—"
"Reza…" potongku cepat, memotong penjelasannya yang sudah terlalu sering kudengar. "Kamu selalu saja bicara hal yang sama. Setiap kali kita bertengkar atau ada masalah, kamu pasti bilang kamu lelah, kamu stres, kamu begini, kamu begitu… Kapan kamu akan benar‑benar berubah?"
Kembali terdengar keheningan panjang dari seberang sana.
"Tari… aku sungguh menyayangimu…" suaranya terdengar melemah, berusaha membujuk.
"Sayang?" ulangku, rasanya ada rasa pahit yang memenuhi mulut. "Kamu bilang sayang padaku, tapi kenapa kamu tega meninggalkanku sendirian di warung pinggir jalan kemarin? Kamu bilang sayang, tapi kenapa hampir tak pernah sekalipun kamu datang tepat waktu sesuai janji? Kamu bilang sayang, tapi kenapa kamu tak pernah mau berusaha mengerti perasaanku, tak pernah mau—"
Kalimatku tak bisa dilanjutkan lagi. Suaraku pecah seketika. Dan air mataku—yang sedari pagi tadi berusaha mati‑matian kutahan agar tak jatuh—akhirnya tumpah juga. Mengalir deras membasahi pipi, merusak sedikit riasan tipis yang kausapkan sebelum berangkat pagi ini.
Aldo memperhatikanku dengan tenang. Ia tak bersuara sedikit pun. Ia hanya merogoh saku jaketnya, mengambil sekotak tisu bersih, lalu meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di samping tanganku yang gemetar.
Aku mengambil selembar tisu itu, mengusap air mata yang terus menetes, dan berusaha sekuat tenaga mengatur napas agar kembali teratur.
"Dengar, Reza… aku sudah muak," kataku, suaraku masih bergetar namun tegas. "Aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah muak dengan sikapmu yang tak pernah mau berubah."
"Tapi aku sungguh sayang padamu, Tari! Kenapa kamu tak mau mengerti?!" serunya dengan nada yang mulai meninggi.
"Rasa sayang itu tak cukup hanya dengan kata‑kata yang diucapkan saja, Reza! Sayang itu harus dibuktikan dengan perbuatan! Sayang itu berarti berusaha saling menjaga dan mengerti! Dan selama ini… kamu tak pernah benar‑benar berusaha untukku!"
Tanpa menunggu jawaban lagi darinya, aku langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Dadaku naik turun dengan cepat. Tanganku masih gemetar hebat. Air mata pun masih terus mengalir, meski sudah kausap berkali‑kali dengan tisu.
"Aku… maafkan aku," kataku pada Aldo, merasa sangat malu. "Maafkan aku kamu jadi harus menyaksikan semua kekacauan ini di depan matamu."
Aldo hanya menggeleng pelan. "Tak ada hal yang perlu kamu minta maafkan, Tari."
"Tadi aku seharusnya—"
"Bukan," potongnya lembut namun tegas. "Kamu tak seharusnya melakukan apa‑apa selain apa yang baru saja kamu lakukan tadi." Aldo menatapku dengan sorot mata yang—entah mengapa—tak ada sedikit pun rasa kasihan yang membuatku merasa kecil atau rendah. Yang ada hanyalah rasa pengertian yang dalam. "Kamu berhak marah. Kamu berhak kecewa. Kamu pun berhak menangis sepuas hatimu. Ingatlah, ini baru sehari berlalu sejak kalian berpisah. Tak ada orang waras yang berharap kamu bisa baik‑baik saja seketika."
"Aku… aku sendiri pun tak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap," akuku jujur. "Selama berhubungan dengannya, aku sudah terbiasa memaafkan segala kesalahannya, apa pun yang terjadi."
"Kebiasaan memang hal yang paling sulit untuk diubah," sahutnya pelan.
"Ya… sangat sulit."
"Namun ingatlah satu hal: kamu sudah memulainya dengan langkah yang benar. Kamu sudah berani berkata ‘tidak’ padanya. Itu adalah langkah yang sangat besar dan berani."
Aku menatap Aldo lekat‑lekat. Wajahnya tetap teduh dan tenang, persis seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam kafe ini tadi.
"Apakah kamu memang selalu bersikap begini pada orang lain?" tanyaku.
"Begini bagaimana maksudmu?"
"Selalu tenang, sabar, dan penuh pengertian."
Aldo tersenyum tipis. "Tak selamanya begitu. Dulu aku juga pernah berbeda. Tapi aku belajar. Belajar dari kesalahan‑kesalahan yang pernah kulakukan sendiri di masa lalu."
"Kesalahan apa yang kau maksud itu?"
Aldo menghela napas panjang. Ia menyerupai sisa kopinya yang mungkin sudah mulai dingin, lalu meletakkan kembali cangkirnya ke meja.
"Dulu aku juga pernah bersikap sama persis seperti Reza," akunya perlahan, dengan nada yang terdengar berat. "Mungkin tak sama persis dalam segala hal, tapi aku juga pernah menyakiti hati orang yang mencintaiku, semata‑mata karena aku terlalu memikirkan ego dan kepentinganku sendiri. Aku juga pernah keras kepala, tak mau mengubah kebiasaan buruk, dan merasa diriku selalu benar. Hingga akhirnya aku kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku… semata‑mata karena aku terlalu bodoh untuk melihat dan terlalu lambat untuk berubah."
Aku terdiam mendengar pengakuan itu.
"Itulah sebabnya aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan, Tari," lanjut Aldo dengan pandangan yang dalam dan tulus. "Bukan karena aku orang yang baik atau sempurna. Tapi karena aku sendiri pernah berada di posisi sebagai pihak yang bersalah, dan pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan akibat kesalahan sendiri."
Kata‑katanya itu terasa menembus jauh ke dalam hatiku—tak menyakitkan, justru membawa rasa lega yang luar biasa. Seolah ia sedang berkata kepadaku: “Kamu tak sendirian merasakan hal berat ini. Aku pun pernah ada di sana.”
"Terima kasih…" ucapku lirih, tanpa sadar.
"Untuk apa berterima kasih?"
"Karena… karena kamu tak pernah menghakimi diriku apa adanya."
Aldo tersenyum hangat. "Tak ada hal dalam dirimu yang pantas dihakimi, Tari. Hidup ini adalah proses belajar yang tak berkesudahan. Kamu sedang belajar mengenal diri sendiri dan orang lain. Aku pun masih terus belajar. Kita semua sama‑sama belajar menjalani hidup."
***
Sisa waktu satu jam berikutnya kami habiskan dengan percakapan yang jauh lebih ringan, santai, dan menyenangkan.
Aldo bercerita banyak hal mengenai pekerjaannya—tentang bagaimana ia membantu pihak kepolisian menganalisis pola pikir pelaku kejahatan, bagaimana ia harus tetap tenang dan dingin meski berhadapan dengan kisah kejahatan yang mengerikan, serta bagaimana pengalaman itu mengajarinya bahwa manusia tak pernah bisa diprediksi sepenuhnya tingkah lakunya.
Sebaliknya, aku pun bercerita tentang kegemaranku menulis—mulai dari bagaimana aku mulai menulis sejak masih duduk di bangku SMP, bagaimana almarhumah Nenek menjadi sumber inspirasi terbesarku, hingga impianku yang terpendam: suatu hari kelak ingin bisa menerbitkan sebuah novel lengkap karyaku sendiri.
"Kamu pasti akan mampu mewujudkannya," ucap Aldo dengan nada yakin. "Gaya tulisanmu sangat indah dan mengalir."
"Kamu belum pernah membaca tulisanku sama sekali," bantahku sambil tersenyum.
"Aku sudah membaca cerpenmu yang dimuat di majalah kampus UI edisi bulan lalu," jawabnya santai. "Berjudul ‘Hujan di Ujung Malam’. Tulisan itu sungguh bagus dan menyentuh hati."
Mataku terbelalak tak percaya. "Kamu… kamu membaca majalah kampus UI?"
"Kadang aku membacanya, kalau sedang ada waktu luang atau sekadar bosan di kantor."
"Dan kamu benar‑benar membaca tulisanku itu?"
"Tentu saja. Dan aku sangat menyukainya. Gaya bahasamu mengalir begitu saja, tak kaku dan tak dipaksakan. Rasanya seperti kamu sedang bercerita langsung kepada pembaca."
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Pria ini—yang baru saja kukenal beberapa jam yang lalu—ternyata sudah membaca tulisanku, mengingatnya dengan baik, dan bahkan menyukainya. Hal itu membuat hatiku terasa hangat tak terkira.
"Terima kasih banyak…" ucapku pelan, hampir tak terdengar.
"Kenapa kamu jadi malu begitu?" godanya halus.
"Aku… aku memang tak terbiasa dipuji orang lain seperti ini."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah… mungkin karena aku kurang percaya diri pada kemampuanku sendiri."
Aldo menatapku cukup lama dengan pandangan yang serius dan meyakinkan. "Dengarkan aku, Tari. Kamu harus mulai belajar percaya pada nilai dirimu sendiri. Kamu berbakat menulis, itu fakta nyata, bukan sekadar pujian kosong belaka."
Aku tersenyum—senyum yang kali ini datang tulus dari dasar hati yang mulai merasa bahagia.
***
Pukul 11.30 siang, kami berdua berdiri bersiap meninggalkan kafe, berjalan keluar menuju halaman depan.
Hujan gerimis sudah berhenti sepenuhnya. Langit masih tampak mendung kelabu, namun ada celah‑celah kecil di antara awan yang mulai terbuka, dan dari sanalah sinar matahari pagi menyelinap turun—tipis namun hangat, persis seperti secercah harapan yang perlahan mulai tumbuh kembali.
"Bolehkah aku mengantarkanmu pulang?" tawar Aldo seraya mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya.
"Tak usah repot‑repot, aku bisa memesan taksi daring sendiri saja," tolakku halus.
"Tapi—"
"Aldo…" aku menatapnya dengan lembut namun tegas. "Terima kasih untuk segalanya hari ini. Untuk waktumu, untuk tehnya, dan… terima kasih karena sudah mau mendengarkan ceritaku dengan sabar."
Aldo tersenyum tulus. "Sama‑sama. Dan terima kasih kembali karena kamu mau datang dan berkenalan denganku. Aku tahu betul situasi pertemuan ini sama sekali tak ideal bagimu."
"Memang tak ada hal yang benar‑benar ideal di dunia ini," jawabku.
"Namun kita selalu punya kesempatan untuk berusaha menjadikannya lebih baik," tambahnya.
Aku mengangguk setuju.
Aldo mengulurkan tangannya ke arahku. "Senang sekali bisa bertemu denganmu, Tari."
Aku menyambut uluran tangannya. Telapak tangannya terasa hangat dan bersahabat. Genggamannya pas—tidak terlalu kuat hingga menyakitkan, namun juga tak terlalu lemah dan lemas. Persis seperti ia sudah paham seberapa jauh ia boleh bersikap.
"Aku juga senang sekali bertemu denganmu, Aldo," jawabku tulus.
Kami pun saling melepaskan genggaman.
Aldo berjalan menuju mobilnya—sebuah sedan berwarna hitam yang terparkir rapi di sudut tempat parkiran. Aku berdiri diam di trotoar, menatap punggungnya yang menjauh perlahan.
Namun sebelum masuk ke dalam mobil, Aldo berbalik badan kembali ke arahku.
"Tari!" serunya.
"Iya?" jawabku agak meninggikan suara.
"Besok kita bertemu lagi ya, di waktu yang sama?"
Aku tersenyum lepas. "Janji ya?"
"Janji," jawabnya mantap sambil mengangguk.
Ia pun masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, lalu melaju perlahan meninggalkan halaman kafe itu.
Aku masih berdiri diam di sana, menatap mobil hitam itu hingga lenyap sepenuhnya di tikungan jalan raya.
Aku baru saja berpisah dari kekasihku kemarin sore.
Aku sendiri sadar, hatiku belum sepenuhnya lepas dari masa lalu itu.
Namun aneh… kenapa rasanya dadaku terasa jauh lebih ringan dan lega dibandingkan sebelumnya?
Aku menarik napas panjang, membuka aplikasi pemesanan kendaraan di ponselku, dan segera memesan tumpangan untuk pulang.
Di dalam hatiku, ada sesuatu yang baru mulai tumbuh perlahan.
Mungkin itu harapan yang baru.
Atau mungkin belum apa‑apa.
Namun satu hal yang pasti: untuk pertama kalinya setelah berhari‑hari terpuruk, aku tak lagi merasa sendirian berhadapan dengan dunia.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!