Indonesia
NovelToon NovelToon

Cincin Yang Terlalu Sesak

PDKT

Sore hari pukul setengah empat, Bianca selesai membersihkan seluruh area rumah, ia bergegas mandi dan menunaikan sholat ashar. Sedikit terlambat dari waktu sholat ashar. Tiba tiba terdengar suara motor sedang berparkir di teras rumahnya.

“Assalamualaikum bu, Bianca nya ada?” Suara cowok bertanya sopan kepda ibunya Bianca.

“Waalaikum salam mas,ohhh ada ,silahkan masuk .” Jawab ibu Bianca

Bianca mengintip dari balik jendela ruang tamu, lalu ia segera berlari ke kamar. Gugup. Sambil berkaca berdandan. Mengenakan baju berwarna pink, celana jeans navy.

Rambut Bianca yang lurus dan hitam disisir rapi. Make up yang tipis, natural dan lipstick merah jambu ,dengan senyuman manisnya. Menghampiri cowok yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Cowok itu mengenakan kaos hitam , celana jeans Panjang.

“Arya,maaf ya lama,baru selesai mandi aku.” Kata Bianca

“Iya Bi gak papa, jalan sekarang yuk!” Ajak Arya

“ Ayuk,aku ambil tas dulu ya.”

Mereka pun berangkat menuju salah satu tempat wisata malam yang ada di kota Batu. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam, tidak banyak ngobrol karena suara bising kendaraan lalu Lalang. Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tersebut. Arya melepas helmnya, sementara Bianca kesulitan melepas helmnya. Arya pun membantu melepaskannya, dipandangnya wajah manis Bianca dengan tatapan seolah Arya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sambil berjalan santai mereka berbincang menyusuri tempat wisata yang banyak gemerlap lampu. Menerangi di semua sudut jalan. Hingga akhirnya sampai pada salah satu wahana yang membuat Bianca enggan menaikinya namun ia memberanikan diri. Mulai masuk ke area tersebut . Dikayuhnya sepeda udara dengan ketinggian 5 meter,melaju perlahan. Namun berhenti di tengah perjalanan.

“Bi,boleh ngomong sesuatu?” kata Arya.

“ Boleh ar,mau ngmong apa ya?” Tanya bianca.

“  Dari pertama aku tau dan kenal kamu pas lagi d rumah kamu, aku suka sama kamu,tapi waktu itu kamu masih dengan cowokmu,dan saat aku tau kamu putus dari cowokmu,aku langsung chat kamu di fb ,dan di saat ini di tempat ini ,aku suka sama kamu,kamu mau jadi pacarku?” tanya Arya sambil memandag wajah Bianca dan memegang kedua tangan Bianca yang dingin karena udara di kota tersebut.

Bianca gugup

“ Emm harus jawab sekarang?” Tanyanya balik.

“ Iya bi.”

Sejenak terdiam dan kemudian Bianca menjawab.

“ Iya mau .” Jawab bianca malu.

Malam itu berlalu dengan keindahan remaja yang sedang jatuh cinta.

Esok paginya Bianca bersiap pergi ke sekolah. Mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atrinutnya. Tas ransel abu-abu di kenakannya di punggung. Bianca berjalan menuju jalan raya yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Angkot dari rumah Bianca ke sekolah tidak ada,sehigga harus jalan kaki menuju jalan raya. Belum sampai dijalan raya ,Langkah Bianca dihentikan oleh sahutan dari belakangnya.

“ Bi, barengan yuk.”

Bianca pun menoleh ke belakang. Dan suara cowok itu adalah Lian. Cowok yang sudah lama naksir Bianca, namun selalu gagal mendapatkan hati Bianca. Tidak berhenti berusaha, Lian terus mendekati Bianca dengan berbagai cara.

“Loh kok kamu lewat sini.” Tanya Bianca

“ Iya Bi,soalnya macet kalok lewat jalan biasanya.”

“ Oh gitu,yaudah yuk berangkat.”

Mereka berdua pun berangkat. Sesampainya di sekolah saat mereka pergi ke kelas bareng,walau kelas mereka berbeda namun bersebelahan. Mereka berjlan perlahan menyusuri

“ Ciyeeeeee…….” Suara sorak teman-teman mereka yang sudah berada di sekolah lebih dulu.

Teman-teman mereka memang selalu heboh. Selalu asyik.

Bianca dan Lian tersenyum malu. Mereka masuk kelas masing” dan jam belajar telah dimulai.

Hari itu berlalu, Bianca yang setiap sore selalu membantu menyelesaikan pekerjaan rumah ibunya,mendadak tidak mengerjakan. Badannya sedikit demam dan sangat lemas, kepalanya pusing,matanya merah. Ayahnya yang mengetahuinya segera membawa Bianca ke klinik terdekat. Setelah di periksa Bianca di diagnosa terkena typhoid/tipus. Ia harus di bawa ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan lebih baik lagi,karena di klinik itu hanya untuk pemeriksaan ringan saja.

Tanpa pikir Panjang Ayahnya langsung menyewa ambulans,dan ambulans pun melaju dengan kencang. Sesampainya di rumah sakit

,Bianca pun di periksa lagi dan tangannya pun harus di pasang infus. Ayahnya sangat mengkhawatirkannya.

“ Di infus lagi ya,,,,yaudah deh gak papa,kan udah biasa.” Katanya dalam hati.

Bianca pun melanjutkan istirahat. Badannya masih panas dengan suhu tinggi,mukanya memerah seperti udang terkena panas. Sembari dikompres dahinya,ia merintih kesakitan.

Tiba-tiba Arya dan temannya datang ke rumah sakit. Membawakan buah kesukaan Bianca dn beberapa vitamin untuk daya tahan tubuhnya. Cairan infus berwarna pink menggantung di tiang. Airnya menetes dengan perlahan.

“ Sakit apa mbak?” tanya temannya Arya

“ Typus mas,ini baru pulang kerja?” tanya Bianca balik

“ enggak mbak kebetulan dari kampus terus si Arya bilang mau kesini jenguk kamu,jadi aku  ikut sekalian,dan kebetulan juga kampus bersebelahan sama rumah sakit ini.”

“ Rumah sakit ini milik kampus sebelah saying.” Kata Arya

“Ohhhh benar sekali,baru ngeuh kalau nama rumah sakit sama kampus sebelah sama”. Katanya dalam hati. Ya, salah satu rumah sakit di kota Malang ini gedungnya dekat dengan kampusnya.

Arya dan temannya berbincang tentang cairan infus yang menggantung itu. Cairan infus yang katanya hanya untuk sapi . Teman arya mahasiswa dengan jurusan peternakan. Jadi dia paham soal sapi dan infusnya.

“ Aku pulang dulu ya sayang,besok pulang kerja aku kesini lagi. Kamu istirahat yang cukup,vitaminnya diminum,bauhnya dimakan ya.” Kata Arya pelan.

“ Iya sayang,makasih ya udah nyempetin kesini. Kamu hati=hati dijalan, mas Ari maksih ya udah jenguk kesini.” Arya dan Ari pun berpamitan dengan ayah dan ibu Bianca.

Malam beralalu. Tiga hari Bianca dirawat di rumah sakit akhirnya sudh diperbolehkan pulang. Arya yang saat itu pulang kerja langsung menghampiri Bianca di rumahnya.

“aku bawain martabak manis keju kacang kesukaan kamu sayang.” Sambal menyodorkan kotak kardus packaging yang khas untuk bungkus martabak. Arya tau semua kesukaan Bianca.

“ makasih sayang,kamu mau minum kopi apa teh?” Kata Bianca menawarkan minum.

“ kopi aja yank.”

“ Yaudah tunggu bentar aku buatin dulu ya.”

Bianca berjalan ke dapur sementara Arya di ruang tamu sambal menikmati martabak yang dibawanya. Ayah dan ibu Bianca sedang nonton tv di ruang tengah. Mendengar ada Arya di ruang tamu,hanya ibu yang menghapirinya,sementara ayah asyik nonton tv. Ibu dan Arya ngobrol sembari menunggu Bianca membuat kopi. Arya memang gampang akrab dengan orang,tidak butuh waktu lama untuk mendekatkan diri pada keluarga Bianca. Ibu dan ayahnya Bianca pun sangat hangat menyambut Arya dekat denga anaknya….

pacaran

Tak terasa empat tahun lamanya mereka berpacaran. Arya sudah sangat dekat dengan semua anggota keluarganya Bianca,bahkan sodara-sodara Bianca ia kenal dengan baik. Semua saudara Bianca memang menyambut semua orang yang datang untk menjadi anggota keluarganya. Tidak memandang latar belakang orang seperti apa,yang jelas jika anggota keluarganya Bersama dengan dia Bahagia,maka restu pun akan sangat mudah didapatkan. Niat baik tentunya yang nomor satu.

Selama empat tahun berpacaran,ribut masalah sepele pun tidak dapat terhindarkan. Bianca memang orang yang yang berhati sangat lembut,sensitif,tidak tegaan dan gampang sekali melow. Beberapa kali Arya sering membuat Bianca menangis sedih.

Namun apalah daya dia sudah terlanjur mencitai Arya dan meyakini bahwa lama kelamaan sikapnya akan berubah setelah menikah nanti.

Senja telah datang,kumandang adzan magrib akan segera terdengar ,waktu berbuka puasa akan tiba. Saat itu Arya sepulanh kerja langsung ke rumah Bianca. Berbuka Bersama di rumah pacarnya,namun Arya tidak memberi tahu Bianca.  Pintu rumah terdengar ada yang mengetuk,segera Bianca membukanya.

“Sayang,kok kamu kesini,baru pulang kerja ?” tanya Bianca

“iya sayang aku mau buka puasa di sini bareng kamu.”

“Ihhh kok ga bilang pagi tadi,tau gitu aku minta ibu masak yang special dikit.”

“ Gak papa sayang , sekalian nanti kita keluar ya beli baju lebaran.”

“ Boleh sayang,yaudah bentar lagi adzan sholat dulu terus buka puasa ya.”

Arya mengangguk sambal tersenyum kecil.

Setelah mereka berbuka puasa ,mereka pergi ke salah satu mall terbesar di kota Malang itu. Berjalan perlahan menyusuri Lorong-lorong tok,dari satu toko ke toko lain,mencar baju couple untuk mereka berdua pakai di moment lebaran nanti. Mata bianca tertuju pada salah satu toko batik yang terkenal di toko itu,dan mereka memilih baju yang Bianca mau. Dibungkusnya baju tersebut dan mereka berjalan menuju parkiran.

Langkah Arya berhenti karena handphone nya berdering. Arya meminta izin kepda Bianca untuk menerinma panggilan telpon itu. Dalam hati Bianca “ mengapa harus menjauh kalau mau angkat telpon,kan bisa di dekatku sini,ada apa dan siapa yang menelponnya?”

Arya Kembali ke tempat dimana Bianca menunggunya. Tanpa basa basi mereka pun meninggalkan mall itu. Sepanjang jalan tidak banyak kata yang keluar dari mulut mereka. Bianca yang saat itu penasaran dengan sosok yang menelpon Arya tadi,langsung berpura-pura memunjah ponsel milik Arya. Dengan tanga bergetar Bianca membaca pesan dari salah satu nomor yang ia tak pernah mendengar Namanya.

“ Aku pulang dulu .” kata Arya kepada cewek itu.

Bianca membaca chat itu dengan perasaan tak karuan,semakin tak karuan perasaaan Bianca semakin ia penasaran dan terus membaca chat yang dikirim di hari ini dan beberapa hari lalu.

Betapa terkejutnya Bianca ternyata beberapa hari lalu Arya berpamitan buka bersama dengan teman-teman alumni SMP nya,bertemu dengan cewek yang memang sudah lama ia ingin dekati namun gagal. Syaira Namanya. Cewek yang sedang menempuh Pendidikan S1 nya di salah satu universitas negeri di Malang. Hatinya kacau,matanya tiba-tiba meneteskan air mata dan jatuh membasahi pipinya, Sepanjang jalan Bianca hanya diam. Benar- benar diam. Selama 4 tahun ini bareng-bareng, baru kali ini Arya membuat Bianca cemburu dan sakit hati. Sesampainya di rumah neneknya ,Bianca langsung menanyakan siapa cewek itu.

“ ini siapa?”

“Bukan siapa-siapa,dia hanya teman smp.” Jawab Arya

“teman smp kok pamit pulang segala,ada kata sayangnya juga. Terus beberapa hari yang lalu yang kamu bilang anter temen ke mall itu lagi jalan sama dia dan kamu beli’in dia 3 hijab.” Bianca makin marah

“ kalok kamu udah bosen bilang,jangan tiba-tiba kayak gini,selama ini aku gak pernah curangi kamu,tapi kenapa kamu setega ini sama aku?” “ kurang gimana aku menurut kamu? Aku effort banget kamu ulang tahun aku izin libur buat acara syukuran kamu,masak di rumah kamu,walaupun kamu ngundang cewek yang entah siapa aku ga tau,kado jam tangan yang ga pernah kamu pakai pun aku ga permasalahin, kamu kira gak sakit hati aku saat itu,sedangkan kamu,kamu mana pernah merayakanku,sekalipun tidak pernah,aku ulang tahun aja kamu malah pergi sama temen kamu,hpku ketinggalan di rumah kamu malem malem hujan deres aku kesana ambil hpku,kamu tidur nyuekin aku,waras gak sihh jadi cowok?” jelas Bianca.

Arya hanya diam seperti orang bisu,menunduk  dan mendengar semua kata-kata yang diungkapkan Bianca kepadanya.

“Sekarang aku tanya,kita sudah empat tahun bareng-bareng,kedepannya mau gimana?” Tanya Bianca. Namun Arya Kembali hanya diam tidak keluar sepatah kata pun dari bibirnya.

“ oke aku paham,mungkin memang niat kamu dari awal hanya untuk mengisi kebosanan,ya sudah sekarang kamu pamit baik-baik sama ayah ibuku,kita sudah tidak  bisa bareng-bareng lagi.”

Bianca berdiri dari tempat duduknya,dan Arya pun mengikutinya. ketika Berjalan menuju rumah Bianca,Arya menarik tangan Bianca.

“ Aku gak mau kita udahan.” Tahan Arya

“ terus mau kamu gimana,kamu diem-diem jalan sama cewek lain,sedangkan aku disini jaga perasaan kamu banget lo.?!”

“ ya maaf aku salah aku…”

“ sekarang kamu pilih aku atau dia?” potong Bianca.

“ aku pilih kamu.”

Disini Bianca benr-benar tidak menyadari jika yang dia katakan itu salah. Bianca tidak menjadikannya sebuah pilihan,jika memang tujuan Arya adalah Bianca ,seharusnya Arya memberikan kepastian kepada Bianca. Bukan Bianca yang membuat pilihan.

Malam itu berlalu,Bianca bangun seperti biasa dan bergegas berangkat kerja. Seharian ia berada di tepat kerja namun pikirannya masih saja kacau. Bukan karena pekerjaannya,namun karena Arya yang membuat Bianca menjadi tidak focus bekerja. Data yang di input salah semua,kepalanya pening badannya sedikit hangat,tiba -tiba ia tumbang,badannya menggeletak di bawah meja. Office girl yang saat itu berada di dekatnya sgera berteriak keluar ruangan untuk minta bantuan orang.

Sekitar 4 orang berlari menuju tempat Bianca pingsan. Lalu mereka mengangkat tubuh Bianca dan membawanya ke tempat istirahat karyawan di lantai atas. Salah satu orang meekan-nekan telapak tangan Bianca dengan kencang, agar dia cepat sadar, ada juga yang mengoles minyak angin ke bawah hidung Bianca. Office girl yang bersamanya sejak pagi bingung harus menghubungi siapa,ia tak tahu pacar Bianca siapa. Hp Bianca pun tidak ada di meja kerjanya. Mungkin tertinggal di rumahnya. Office girl itu lalu menyeduh the dan membarikan pada Bianca yang sudah sadar.

hari mulai petang,Bianca pun berkemas bergegas pulang ke rumahnya.

“mbak bi sudah gapapa kah?” tanya office girl itu.

“udah gapapa kok mbak,aman.”

“yasudah, hati-hati dijalan ya mbak,kabarin aku kalok udah sampek rumah ya mbak.”

Bianca hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Dia masih lemas. Sambal menunggu ojek online datang, Bianca Kembali degan tatapan kosongnya. Melamun seakan tidak percaya dengan perlakuan Arya yang menduakannya. Tak lama ojol yang ditunggunya datang dan segera melaju mengantar Bianca pulang.

Empat Tahun

Motor Arya berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Lampu teras masih nyala, kuning temaram. Jam baru nunjukin jam setengah tujuh malam, tapi langit udah gelap karena mendung.

Bianca turun duluan. Kakinya agak pegal habis seharian duduk di depan laptop. Helm dia lepas, gantung di spion. Rambutnya berantakan, kena angin jalanan.

Mereka habis perjalanan jauh,jarak tempat kerja Arya dengan rumah memakan waktu 2 jam lamanya.

Pintu depan kebuka sebelum mereka sempet ketok. Mama Arya muncul, masih pakai celemek biru. Tangannya basah, kayaknya habis cuci piring.

“Eh, Bi? Arya? Kok bareng?” Suaranya kaget tapi senang. “Masuk, masuk. Udah makan belum? Mama baru masak sayur asem.”

Bianca senyum, tapi senyumnya kaku. “Nggak usah repot, Tante. Aku… aku numpang sebentar aja. Mau ngomong bentar.”

Mama Arya langsung ngelirik ke belakang Bianca. Arya masih berdiri di teras, satu kaki di luar, satu kaki di dalam. Kayak orang bingung mau maju atau mundur. Matanya nathap lantai, nggak berani ketemu mata mamanya.

“Kenapa, Nak? Mukanya kok serius banget berdua?” Mama Arya hapus tangannya ke celemek, jalan mendekat. “Ada masalah di kantor?”

Bianca narik napas panjang. Dadanya naik turun. Dia lirik Arya lagi\, ngasih kode pakai mata: _tolong\, bilang sesuatu_. Tapi Arya tetep diam. Tangan masuk saku celana. Bibir kebuka sedikit\, terus ketutup lagi.

Akhirnya Bianca yang bicara. Suaranya pelan, tapi jelas di ruang tamu yang sepi itu.

“Tante… aku sama Mas Arya… udah pacaran empat tahun.”

Kalimat itu jatuh kayak batu. Mama Arya berhenti di tengah langkah. Celemek di tangannya lepas, melorot ke lantai. “Empat… tahun?” ulangnya, kayak nggak percaya sama telinganya sendiri.

“Iya, Tante. Empat tahun.” Bianca ngangguk. Matanya mulai panas. “Dari aku sekolah kelas 11. Waktu itu Mas Arya baru lulus, dia kerumah sama faisal temennya mas Arya yang kebetulan juga temen sekolahku tan, terus jadi sering chat, terus…”

Suara Bianca pecah sedikit. Dia tahan. “Tapi selama ini kami nggak pernah berani bilang ke Tante sama Om. Karena Mas Arya takut. Takut Tante marah. Takut Om kecewa. Takut dianggap nggak serius.”

Mama Arya langsung noleh ke arah Arya. “Ya? Arya? Bener ini?”

Arya masih diam. Rahangnya makin ngunci. Dia ngangkat kepala sedikit, ketemu mata mamanya sepersekian detik, terus nathap lantai lagi.

Bianca lanjut, suaranya makin bergetar. “Dan sekarang aku capek, Tante. Capek banget. Capek sembunyi-sembunyi. Capek kalau harus nunggu lama lagi,capek harus bersaing dengan wanita lain yang di kenla mas Arya di luar sana,capek hubungan ini tanpa arah.”

Air mata Bianca akhirnya jatuh. Satu, dua, terus ngalir. “Aku udah nunggu empat tahun, Tante. Empat tahun nunggu kepastian. Nunggu Mas Arya berani ngomong ke Tante. Tapi sampai sekarang…”

Dia berhenti, lirik Arya lagi. Harapannya tipis banget, tapi masih ada. Siapa tau Arya bakal maju, genggam tangannya, bilang “iya Ma, bener”.

Tapi nggak. Arya masih diam. Patung.

“Bi…” Mama Arya akhirnya ngomong lagi. Suaranya lembut, tapi ada luka di situ. “Kenapa nggak dari dulu bilang ke Mama? Kalau dari dulu Mama tau, Mama bisa…”

“Karena yang harusnya ngomong duluan, bukan aku, Tante,” potong Bianca. Nadanya bukan marah, lebih ke putus asa. “Aku cewek, Tante. Aku nggak bisa terus-terusan nunggu cowok berani ngomong ke mamanya. Aku juga punya harga diri.”

Ruang tamu jadi hening. Cuma ada suara jam dinding. Tik. Tok. Tik. Tok.

Mama Arya jongkok, pungut celemeknya yang jatuh. Tangannya gemetar. Dia lirik Bianca, lirik Arya, balik lagi ke Bianca. “Jadi… selama empat tahun ini… tiap Arya bilang lembur, tiap Arya pulang malem, itu sama kamu?”

Bianca ngangguk. “Sering, Tante. Kadang lembur beneran. Kadang juga… kami makan bareng. Nonton. Ngobrol di  rumah sampai jam 9 malam,sering motoran jauh.”

Mama Arya tutup mulutnya pakai tangan. Matanya berkaca-kaca. “Ya Allah, Nak. Mama kira… Mama kira anak Mama masih sendiri. Mama kira…”

“Tante nggak salah,” cepat Bianca nyaut. “Ini salah kami. Salah aku juga karena mau nunggu selama ini.”

Baru kali ini Arya gerak. Dia angkat kepala. Mukanya pucat. “Bi, cukup…” suaranya serak.

Bianca noleh ke dia. “Cukup apa, Mas? Cukup aku nunggu? Cukup aku diam?”

Arya buka mulut, tapi nggak ada kata yang keluar. Dia lirik mamanya, terus natap lantai lagi.

Mama Arya jalan pelan ke arah Arya. Dia berdiri di depan anaknya. “Arya, jawab Mama. Ini bener?”

Arya diam beberapa detik yang rasanya kayak sejam. Terus dia angguk. Pelan. Sekali.

Mama Arya menghela nafas panjang. Dia tutup mata sebentar. Waktu buka lagi, dia lihat Bianca. “Bi, kamu anak baik. Mama tau kamu anak baik. Tapi kenapa… kenapa kalian nggak bilang dari awal?”

“Karena takut, Tante,” jawab Bianca jujur. “Takut Tante bilang aku nggak cocok. Takut Om bilang aku matre. Takut Mas Arya dibilang nggak becus jaga anak orang.”

“Jadi kalian milih bohong selama empat tahun?” Suara Mama Arya nggak tinggi, tapi nusuk.

Bianca nggak bisa jawab. Dia cuma bisa nangis. Air matanya udah nggak bisa dibendung.

Arya akhirnya maju selangkah. “Ma, aku…”

“Apa, Ya?” Mama Arya nathap dia tajam. “Apa yang mau kamu bilang setelah empat tahun diam?”

Arya buka mulut. Tutup lagi. Dia lirik Bianca yang udah nangis di depan mamanya. Dia lihat Bianca yang udah berjuang sendiri selama ini. Dan dia sadar, dia pengecut.

“Ma… aku minta maaf,” katanya akhirnya. Suaranya kecil, nyaris nggak kedengeran. “Aku takut. Aku takut Ma nggak setuju. Aku takut Ma bandingin Bi sama anak orang lain. Aku takut…”

“Takut, takut, takut,” ulang Mama Arya. “Terus Bi gimana? Bi nggak takut apa? Bi nggak capek nunggu kamu berani?”

Arya nggak bisa jawab. Dia lihat Bianca. Bianca udah nggak lihat dia. Bianca lagi hapus air mata pakai punggung tangan, berusaha tegar di depan mama pacarnya.

Mama Arya jalan ke arah Bianca. Dia genggam tangan Bianca. Tangannya hangat, beda sama tangan Bianca yang dingin banget.

“Bi, dengerin Mama. Mama nggak marah kamu pacaran sama Arya. Mama cuma… kecewa kalian bohongin Mama selama ini.”

Bianca angkat kepala. “Aku minta maaf, Tante.”

“Mama tau kamu anak baik. Mama lihat kamu dari dulu, waktu sering main ke sini ngerjain tugas sama Arya. Kamu sopan, kamu pinter, kamu rajin. Kalau dari awal kalian bilang, mungkin Mama udah anggap kamu anak Mama sendiri.”

Bianca sesenggukan. “Beneran, Tante?”

“Beneran,” angguk Mama Arya. “Tapi sekarang masalahnya bukan Mama setuju atau nggak. Masalahnya… Arya.”

Dia noleh ke Arya lagi. “Kamu mau apa, Ya? Kamu mau terus kayak gini? Sembunyi-sembunyi? Bikin Bi nunggu nggak jelas? Atau kamu mau jantan, ngomong jelas ke Mama, ke Papa, ke keluarga besar, kalau kamu serius sama Bi?”

Arya diam. Lama banget. Bianca nahan napas. Ini momennya. Kalau Arya masih diam, berarti empat tahunnya sia-sia.

Detik berasa menit.

Akhirnya Arya ngomong. Suaranya masih serak, tapi jelas. “Ma… aku serius sama Bi. Aku… aku mau nikahin dia.”

Bianca nengok cepat. Matanya masih basah, tapi ada kaget di situ. Beneran?

Mama Arya juga kaget. “Kamu yakin?”

Arya angguk. Kali ini lebih tegas. Dia jalan ke arah Bianca, berdiri di sampingnya. Dia nggak genggam tangan Bianca, tapi posisinya udah nunjukin dia ada di pihak Bianca.

“Ma, aku tahu aku telat. Aku tahu aku nyakitin Bi. Tapi aku sayang dia, Ma. Udah empat tahun, dan aku nggak mau kehilangan dia.”

Bianca nutup mulutnya pakai tangan. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini karena lega.

Mama Arya lihat mereka berdua. Lama. Terus dia senyum tipis. “Ya udah. Kalau kamu serius, buktiin. Jangan cuma ngomong. Besok panggil Papa. Kita ngomong baik-baik. Kalau kalian beneran mau lanjut, ya kita jalanin yang bener. Nggak ada lagi sembunyi-sembunyi.”

Bianca ngangguk cepat. “Iya, Tante. Makasih, Tante.”

Mama Arya peluk Bianca. Pelukan hangat yang udah lama Bianca tunggu. “Udah, Nak. Jangan nangis lagi. Mukamu bengkak nanti.”

Di belakang mereka, Arya masih berdiri. Dia lihat Bianca dipeluk mamanya. Ada lega di dadanya. Ada takut juga. Tapi yang paling besar… ada harapan.

Empat tahun nunggu. Akhirnya, pintunya kebuka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!