Indonesia
NovelToon NovelToon

I Love You, Cinta

1. Mimpi Buruk

Bab 1

 

“Cinta ….”

Bau hangus karet ban bercampur anyir darah yang pekat menusuk udara. Sebuah sepeda motor bebek tergelimpang beberapa meter di dekat pembatas jalan, rodanya masih berputar sia-sia di udara, menyisakan deru mesin yang sekarat sebelum akhirnya mati total.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, tiga tubuh terhempas terpisah. Tubuh seorang wanita bergerak pelan, dadanya sesak seperti tertikam belati setiap ia menarik nafas. Sakit itu ia abaikan, saat rungunya menangkap suara tangis lirih yang begitu ia kenal.

“Bunda … sakit,” jerit bocah 6 tahun dan menangis merasakan sakit di tubuhnya.

Sang bunda, bergerak samar. Posisinya berada tidak jauh, tapi tak tergapai. Tangan yang terulur berusaha meraih bocah itu. Dar4h segar mengalir di sela Jari-jarinya, berusaha menggapai.

“Sa-yang, Cinta,” panggil wanita itu lagi sambil meringis.

“Bunda, sakit.” Bocah bernama Cinta itu menoleh ke arah lain.

Sang ayah berada di posisi lebih jauh, dekat tiang lampu jalan yang padam. Lelaki itu sudah terbujur kaku. Terpental dan terbentur begitu keras merenggut nyawanya seketika tanpa mengucap kata perpisahan. Luka menganga di kaki dan kepalanya mengalirkan darah segar yang lambat laun membentuk genangan gelap di bawah tubuhnya.

“Cinta yang kuat, ayah dan Bunda sayang Cinta.”

CInta menggeleng, ia ingin meraih tangan Bunda, tapi sulit. Entah apa yang membuatnya sulit bergerak, seolah ada sesuatu menimpa di kakinya dan rasanya … sakit.

Terdengar teriakan dan jeritan orang-orang, bocah itu masih menangis sambil teriak memanggil Bundanya yang sudah terdiam. Ia kesal, kenapa bundanya tertidur, kenapa bundanya tidak beranjak dan membantunya bangun. Tidak seperti biasanya, selalu perhatian dan sayang. Kenapa sekarang tidak peduli.

“Bunda ….” Teriaknya saat ia diangkat oleh seseorang, kakinya terasa semakin sakit. Wajahnya menoleh ke arah Bunda yang kini ditutupi oleh kain. “BUnda, aku mau bunda!”

“Bun-da.” Cinta mengerjapkan matanya, mulutnya berteriak memanggil nama bunda. Sudah 20 tahun berlalu, tapi kejadian itu masih begitu jelas di benaknya. Seolah menjadi mimpi paling buruk.

Beranjak duduk sambil menyeka keringat. Padahal, kamar yang ditempati menggunakan ac. Ia mengambil ponsel di atas nakas, setengah 6 pagi hampir saja ia kesiangan.

 

...Yess Production...

 

Mr. Arief : Diingatkan kembali, bagi yang tidak bertugas pagi ini. Kita meeting, jam 8 pagi. Jangan telat. @Cinta-cuantik, telat lagi siap-siap saya mutasi

Asep : Siap bos. Cinta masih gadis telat mulu

081323xxx : Siap pak

0815687xxx : Okeh

Restu : Langsung otw. Cinta, mau dijemput nggak?

Cinta_Cuantik : Iya, pak. ini udah otw … ke toilet 🫣 @Restu : nggak usah, aku udah dijemput

Umar : Dijemput siape?

CInta_Cuantik : Abang

Restu : Halah, paling abang Ojek

Asep : Ngapain pada berisik di sini, bubar. Ini grup resmi untuk kerja. Btw, lo udah punya pacar Ta?

081345xx : Perlu masuk infotainment nggak? CInta anak produksi akhirnya punya pacar 🤔🤭

Mr. Arief : Diingatkan kembali, bagi yang tidak bertugas pagi ini atau baru selesai produksi. Kita meeting, jam 8 pagi

Cinta_Cuantik : Bukan saya yang mulai kegaduhan ini

Umar : Terus siapa?

CInta_Cuantik : Pak Arief

Asep : Stres si Cinta

Mr. Arief : 🤔berani kamu Ta. Awas terlambat

Cinta mendengus meninggalkan obrolan di grup, ada pesan masuk lagi

 

...Restu...

Serius nih, mau dijemput nggak?

^^^Nggak^^^

...Asep...

Restu makin gencar aja. Terima napa?

^^^Aku ikhlas kalau Kang Asep ^^^

^^^mau terima Restu^^^

Ngaco, gue masih normal. Iya kali mau adu pedang sama Restu

Hampir empat tahun CInta bekerja di Yess TV, berada di divisi Produksi dan Pak Arief sebagai ketua tim produksi. Lulusan broadcasting mendukung pekerjaannya saat ini. Bisa dikatakan ia sangat beruntung, lulus sarjana melamar di sana langsung diterima. Training hanya 1 bulan berikutnya tanda tangan sebagai karyawan tetap. Sebagai gadis perantau sejak jaman kuliah tinggal di kosan. Hanya saja sekarang kosannya lebih baik dibandingkan saat masih kuliah.

 CInta berkumur setelah menyikat gigi, mimpinya tadi kembali mengusik pikiran. Kejadian itu seolah menjadi trauma. Kecelakaan yang ia alami merenggut nyawa kedua orangtua pun dengan kakinya yang saat itu tertimpa motor bahkan sampai tindakan operasi. Selama sekolah ia tidak mengikuti olahraga apalagi yang ekstrem termasuk lari.

Yang ia ingat malam itu bukan hanya keluarganya yang mengalami kecelakaan, ada mobil dan suara tangisan anak kecil, balita mungkin. Namun, yang paling membekas adalah sang Ayah yang berlumuran dar4h dan Bunda yang berusaha meraih tangannya lalu terdiam. Kejadian itu menyisakan trauma, sampai sekarang ia tidak sanggup melihat kejadian mengerikan seperti itu lagi termasuk dar4h. Ia akan panik, berteriak atau menangis. Untungnya tidak terjadi ketika ia mendapatkan periode bulanannya.

“Bun-da,” lirih Cinta menyusut ujung matanya yang berair.

***

Penampilan CInta tidak seperti gadis lain, feminim apalagi dengan full make up lengkap dengan maskara dan eyeliner. Pagi ini ia memakai celana jeans hitam, kaos putih dan sneaker senada dengan kaos dilapisi kemeja tactical warna cream seragam tanpa kancing. Kemeja ini seragam kerja dari Yess TV. Rambut dikuncir ekor kuda dan helaian poni dia jepit agar lebih rapi.

Bukan berarti CInta tidak suka bergaya feminim. Di lemarinya ada beberapa dress dan rok dan blouse, juga alas kaki jenis wedges. Ia akan pakai sesuai kebutuhan saja dan pekerjaannya menuntut ia lebih fleksibel agar bisa bergerak aktif saat proses shooting sebuah acara.

Wajahnya ia sapukan tipis bedak dan mengoles lipstik nude dan beberapa kali menyemprotkan parfum. Cantik, sudah pasti. Kalau tidak cantik mana mungkin Restu to the point menggodanya di grup besar di mana semua anggota divisi produksi bernaung.

“Oke, jangan sampai telat, dari pada dimutasi Pak Arif,” gumam CInta. Mengambil ransel kecil memasukan ponsel dan charger, tidak lupa mematikan lampu dan semua perangkat listrik yang tidak digunakan sebelum meninggalkan kamar kosan.

Sampai di lobby gedung Yess TV, Cinta fokus dengan ponsel mencari aplikasi untuk absen. Cukup ramai pagi ini, para karyawan bergegas menuju lift tidak ingin terlambat sampai di ruangan.

Bugh.

Bahunya tersenggol seseorang. Ia menoleh bukan karena kesal, sudah biasa hal itu terjadi karena rebutan menuju lift. menoleh karena aroma parfum, parfum mahal. Bukan karyawan biasa pastinya.

“Sorry mbak.”

CInta hanya berdehem dan kembali fokus dengan ponsel. mentab id cardnya untuk melewati gate dan kembali menggantungkan ke leher.

“Mbak CInta, makin manis aja.”

“Mas Tarjo, makin lebay aja,” seru CInta membalas sapa petugas cleaning service yang bertugas di area lobby dengan senyum.

“Nggak lebay mbak, saya jujur loh.”

“Iya, harusnya Mas Tarjo itu jadi wakil rakyat. Negara kita butuh orang-orang jujur kayak Mas Tarjo.”

“Bisa aja mbak CInta, jadi makin cinta saya.”

Cinta meringis lalu mengangguk menunjuk lift sambil menggeleng pelan. Seseorang merangkul bahunya, ia menoleh dan berdecak mendorong Asep agar menjauh.

“Kasih kesempatan dong Ta. Restu nggak lo terima, Mas Yahya yang News Anchor aja lo cuekin masa Tarjo lo abaikan juga,” seru  Asep. “Mau yang kayak gimana?”

Dari cleaning service, rekan satu divisi sampai pembaca berita yang penampilannya nggak kaleng-kaleng. Cinta tidak bertubuh tinggi bak model, apalagi wajah glowing yang biasa perawatan mahal. Disejajarkan dengan Asep saja, tingginya hanya sebatas bahu, bisa dikatakan mungil. Kalau tersenyum lesung pipi membuatnya terlihat menggemaskan. Mungkin itu daya tarik dari seorang Cinta.

“Restu nggak mungkin, aku nggak mau harus mundur dari Yess TV karena pacaran apalagi berjodoh sama dia. Hari gini susah cari kerja. Sama Tarjo, pun sama. Mas Yahya, nggak rela bagi-bagi. Tiap pagi dia nyapa semua orang, nggak kebayang banyaknya perempuan yang nungguin dia tampil karena kagum. Hah, nggak dah.”

“Pe4.” Asep mendorong kepala Cinta. “Dia nyapa satu negara karena baca berita.”

“Tau ah. Ngantri nih, naik tangga aja yuk. Daripada telat, nanti dimutil4si pak Arif.”

“Mutasi dodol, mutasi.”

“Oh, udah ganti ya.” Cinta terkekeh menuju arah pintu darurat. “Yuk ah, siapa cepat nanti siang traktir makan.”

Asep bergegas melangkah mendahului CInta.

“Heh, aba-aba dari aku.”  

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hai, ketemu lagi sama karya aku. Kalau sudah baca ini berarti siap untuk baca sampai tamat ya. Kisah dan situasi agar berbeda dengan Geng Pencari Kitab Suci apalagi Geng Pria Terkutuk, semoga tetap suka. Jangan lupa tinggalkan jejak. Thanks ya, love you full

2. Wangi Parfum

Bab 2

 

Cinta menyimak penjelasan Pak Arif sebagai ketua Tim Produksi. Pembagian ulang tim dan lingkup tugas untuk menghindari kejenuhan dan suasana baru. Ia mengernyitkan dahi dan berdecak karena Asep menendang kakinya, masih berada satu tim dengan Asep.

“Tim 1 s.d 3 on air dan live. Tim 4 dan 5 off air, tim 7 keluar kota area pulau jawa dan tim 8 luar pulau jawa.”

Masih menyimak penjelasan dan setiap tim jumlah personilnya berbeda, tergantung area dan jenis acaranya.

“Bosen gue sama lo,” bisik Asep. CInta cuek, tidak ingin kena ultimatum Pak Arif. Ia pernah dilempar laser pointer karena ngobrol saat rapat.  

“Tidak ada nego tukar tim dengan alasan tidak masuk akal,” seru Pak Arif lagi. “Bisa dipahami?”

“Bisa, pak.”

“Sebelum bubar, ada pertanyaan?”

Restu mengangkat tangannya, pria itu duduk bersebrangan dengan CInta yang masih menatap layar menunjukan daftar nama tim enggan melihat ke arah pria itu.

“Saya nggak masuk tim 7 aja pak, kasihan itu CInta perempuan. Dapat tugas keluar kota,” tutur Restu.

“Nggak,” sahut Arif.

Asep tergelak sedangkan Restu menggaruk kepala. “Lo pikir CInta perempuan, dia mah jadi-jadian.”

“Maksud kamu kalian bertukar, kamu tim 7 Cinta masuk tim 4. Gitu?” tanya Arif, bukan rahasia kalau Restu ada hati dengan CInta.

“Saya tim 7 aja,” seru Cinta. Divisi produksi, didominasi dengan laki-laki. Kalaupun ada yang perempuan tugasnya di belakang meja, proses editing atau desain dan yang mengurus talent juga wardrobe untuk acara indoor.

“Maksud saya, nggak pa-pa saya pindah ke tim 7,” seru Restu.

“Yang lain?” tanya Arif enggan menanggapi usulan Restu.

“Udah bener lo nggak di tim kami, kalau ada elo malah nggak aman,” seru Umar.

“Iya, bang Umar ‘kan udah kayak bapaknya anak-anak produksi. CInta ini anak bungsunya Bang Umar, sungkem dulu gih, minta restu,” cetus Asep pada Restu.

“Gue nggak setua itu juga kali.” Umar melempar tisu yang direm4s ke wajah Asep.

“Tapi tim 7 Cuma 4 orang pak,” seru Restu.

“Lima orang dengan supir dan 1 orang magang. Mulai hari ini ada 10 karyawan magang, 5 orang tersebar di tim produksi. Salah satunya di tim 7, sisanya di tim 1 sampai 4.”

Pertemuan pun berakhir, ada tim yang langsung beranjak menuju tempat tugasnya, tidak dengan tim 7 dan 8 masih menunggu surat perintah tugas kemana mereka akan pergi.

“Umar, stay dulu!” titah Arif, yang lain pun membubarkan diri dari ruang rapat begitupun dengan Cinta.

***

Cinta menyesap minuman sereal sambil menghidupkan komputer di kubikelnya. Asep bertelepon dengan calon istrinya. Pria berumur 30 tahun itu akan menikah beberapa bulan lagi. Cukup dekat dengan CInta, sejak gadis itu dimutasi dari tim kreatif ke tim produksi berada di bawah arahan Asep. Sikap Cinta yang cuek, tidak baper bahkan sering membalas ejekan dan m4kian dari Asep, membuat pertemanan mereka makin erat.

“Heran gue, sarapan tuh nasi uduk, nasi kuning. Suami lo nanti seneng banget, irit hidup lo.”

“Nggak sempat sarapan, lagian aku lagi diet karbo. Ini aja kemanisan banget, harusnya teh hijau kali ya.”

“Diet apaan, badan udah kurus begitu,” ejek Asep sambil membuka email, mana tahu surat tugas sudah masuk. “tapi gue bagi tips buat irit duit. Pagi minum sereal, siang cukup Okky jelly, malam promagh.”

“Besoknya di IGD, kena tipes,” sahut Cinta.

“Surat tugas udah gue terima,” seru Umar melewati kubikel Asep dan CInta yang bersisian. Kedua manusia itu mengekor langkah Umar menuju kubikelnya.

“Kemana kita?” tanya Asep menarik kursi dari meja yang tidak ada penghuninya. Cinta tetap berdiri.

Umar sibuk dengan layar komputer, mencetak surat tugas yang masuk ke WA pribadi mengingat ia adalah ketua tim. “Nih!”

CInta menunduk dan Asep mendekat membaca surat itu. “Cirebon,” ucap mereka serempak.

“Bentar lagi gue briefing sama tim riset, baru kita obrolin keberangkatan dan embel-embelnya. Terkait anak magang,” jelas Umar menjeda kalimatnya.

“Cewek bang?” tanya Cinta.

“Laki.”

“Hah, tim kita emang laki semua. Elo kan cewek jadi-jadian,” seru Asep dan tangan CInta mendarat di bahu pria itu lumayan kencang.

“Sembarangan, gadis tulen aku tuh.”

“Jangan semena-mena sama anak magang, kita bimbing dia karena semakin dia terarah dan kompeten bisa jadi memudahkan dan bantu kerja kita juga. Baru lulus sarjana dia, jadi belum ada pengalaman,” tutur Umar menasehati kedua rekannya. Ada 1 lagi rekan satu tim, orang teknisi alat jadi keseharian tidak berkumpul di ruangan itu.

“Anak magang tim 7 agak khusus, dia titipan orang penting. Magang ini untuk dia belajar, nanti ada masa dia ditugaskan di bagian lain. sampai waktunya dia punya posisi penting. Ingat ya, titipan orang penting artinya dia juga penting.”

Umar mengingat penjelasan Arif terkait anak titipan ini. Semoga tidak menyusahkan timnya.

“Hei, kemari!” Umar berteriak tangannya melambai ke arah pintu masuk. Cinta menoleh, dengan posisinya yang berdiri bisa melihat jelas seorang pria melangkah mendekat.

Cinta ragu kalau pria itu sudah sarjana karena terlihat lebih muda. Tubuhnya tinggi, mungkin beberapa centi dari Asep. Mengenakan kemeja putih lengan panjang digulung sampai siku, celana hitam model slim fit. Name tag dengan tali menggantung di lehernya. Penampilannya macam pemain drama yang menjadi idola remaja dan ibu-ibu, ia ragu pria ini bisa mengikuti ritme tim yang cukup hectic dan sulitnya bekerja di outdoor.

Semakin dekat, pria itu tersenyum. Aroma parfumnya menguar di hidung Cinta.

Tunggu, wangi parfumnya tidak asing

3. Banyak Fans

Bab 3

 

 

“Nanti saya jemput jam berapa Den?”

“Belum tahu. Nggak usah jemputlah, bisa ojol atau taksi.”

“jangan gitu Den, nanti Nyonya marah. Telpon aja ya atau mau saya tungguin? Nyonya bilang Aden masih sakit, harusnya mulai kerja nanti aja kalau udah sehat.”

“Nggak pa-pa Pak, saya udah sehat. Nggak usah jemput karena belum pasti pulang jam berapa.” Membuka pintu mobil lalu keluar dari sana. Dengan langkah pasti melewati pintu lobby menuju meja resepsionis.

“Pagi mbak, saya mulai magang hari ini.” Ia tersenyum membaca nama dan melihat foto dirinya di name tag, tidak mengawasi kaki melangkah dan ….

Bugh.

“Sorry, mbak,” ucapnya menabrak seseorang.

Senyumnya semakin lebar saat orang itu menoleh dan berdeham. Wajah setengah jutek dan cuek itu kembali fokus dengan layar ponsel.

“Cantik,” batinnya. Baru kali ini ia bertemu perempuan dan tidak terkesima saat bertatapan dengannya, bahkan melirik seola penasaran dan mencuri pandang pun tidak. “Macan nih,” batinnya lagi mengekor langkah gadis itu.

Ia mengu-lum senyum mendengarkan gadis itu berbincang dengan rekannya. Namanya Cinta, membuat para pria jatuh cinta. Agak risih melihat tangan rekan Cinta merangkul bahunya.

“Semoga kita bertemu lagi, mbak Cinta.”

Rupanya semesta sedang berpihak padanya. Setelah menemui HRD ia diarahkan ke devisi produksi dan bertemu lagi dengan gadis itu. Cinta.

“Ini Asep dan Cinta, kita sekarang satu tim,” seru Umar.

Ia mengangguk dan kembali tersenyum. Gadis itu, Cinta masih menatapnya.

“Salam kenal, saya Eru. Mohon bimbingannya.” Ia menjabat tangan Cinta dan Asep.

“Anak magang belum dapat meja, lo gabung sama Cinta. Ambil kursi di pojok sana. Kalian cari tahu destinasi kita, nanti siang kita brief untuk keberangkatan,” jelas Umar mengarahkan anggotanya.

“Okeh, siap,” seru Asep lalu beranjak dari sana.

“Eru?”

“Iya, mbak.” ia mengangguk. CInta meraih name tagnya.

“Eru doang?” tanya Cinta agak menengadah untuk menatap.

“Mahameru,” serunya lagi, Cinta beroh ria.

“ikut aku!”

Dengan senang hati, batinnya.

Sampai dengan tadi ia masih merutuk niat keluarga besarnya, terutama Ayah Akbar Arkatama kakak dari mendiang Papi yang mengharuskan ia magang dan training di beberapa divisi sampai akhirnya fokus di satu bidang. Papinya dan Ayah Akbar pemilik Digital Corp. Ada tiga perusahaan bernaung di Digital Corp. Yess Tv, di mana ia magang. Media suara, portal berita online maupun cetak. Venus Music Entertainment, perusahaan yang bergerak di bidang entertainment. Namun, semua berubah. Sepertinya ia akan menyukai kegiatan magang ini.

CInta mendadak berhenti, membuatnya harus rem mendadak agar tidak menabrak tubuh mungil itu.

“Kamu ….” Menoleh lalu mengendus dengan hidung yang kembang kempis. “Parfum kamu, kayaknya nggak asing. Waktu di lobby, aku  ….”

“Maaf mbak, saya yang nabrak mbak.”

“Oh, bukan itu masalahnya?”

Ia mengernyitkan dahi heran. “Saya ada masalah mbak?”

“Ish, bukan. Abaikan aja.” Cinta mengibaskan tangan di depan wajah.

Gemes banget sih, batin Eru.

“Ta, cari tahu tentang situ Sedong gue cari info tentang Gua Sunyaragi!” titah Asep sudah fokus dengan layar komputer.

Cinta duduk dan menggeser mousenya. “Males ah, nanti aja tunggu laporan dari tim riset.”

“Buat bahan kita juga, kadang laporan mereka nggak detail.” Asep menendang kursi Cinta membuatnya terdorong. Tangan Eru menahan kursi itu.

“Rese banget dah,” cetus CInta lalu mengarahkan Eru mengambil kursi.

“Saya ngerjain apa mbak?” tanya Eru memposisikan kursinya di samping Cinta. Gadis itu melepas kemeja tacticalnya dan menyampirkan ke sandaran kursi.

“Belum adalah, aku aja masih nganggur nih.”

“Riset lokasi Ta!” titah Asep lagi.

***

Eru mencatat hal-hal berkaitan dengan lokasi yang disebutkan oleh Asep. Mengenai cuaca, kondisi area dan budaya masyarakat sekitar. Ia mengerjakan itu menggunakan komputer di meja Cinta, sedang pemiliknya sejak tadi pergi setelah mendapat telpon dari Umar.

Hampir tengah hari Cinta baru kembali ke mejanya.

“Dari mana lo, ngayap aja. Makan gaji buta,” ejek Asep, tapi pandangannya tetap pada layar.

“Dih, gimana bisa makan gaji kalau buta. Aku ikut rapat bareng Bang Umar.” Menempati kursi milik Eru. “Ru, nomor hp kamu berapa?”

Eru menyebutkan sederet nomor. Cinta berdecak dan melirik sekilas ke arah Eru.

“Emang keren, tapi nggak usah narsis juga,” gumam Cinta dan Eru hanya terkekeh, ia tahu maksud Cinta.

 

...Pejuang Tanggal Muda...

 

Cinta_Cuantik menambahkan Asep

Cinta_Cuantik menambahkan Umar

Cinta_Cuantik menambahkan Eru_kerenz

Cinta_Cuantik menambahkan Abil

 

Asep : grup apaan lagi ini

Abil : Gue bukan pejuang tanggal muda doang Ta

Cinta_Cuantik : Pejuang 45 ya 🤭. Ini khusus tim 7 ya, obrolin pembagian tugas di sini aja

Eru_kerenz : Mohon arahannya para senior 🙏

Cinta_Cuantik : Anak baru harus di ospek dulu

Asep : Setuju

Umar : Jangan aneh-aneh, jam 2 kita briefing

Cinta_Cuantik : ish ish ish, tak patut

Eru tersenyum membaca pesan grup dan menyimpan kontak seluruh anggota tim. Ada pesan lain masuk di ponselnya

 

...Mami...

 

Eru sayang, jangan telat makan ya. obat kamu nggak dibawa nih

Diantar Pak Budi aja, gimana?

^^^Nggak usah Mih^^^

^^^Aku minum nanti sore, udah enakan kok^^^

 

“Mbak, istirahat jam berapa?”

Cinta menatap jam dinding. “Mau makan ya, sekarang juga nggak pa-pa. Ayo, nanti rame liftnya. Tadi pagi aja aku naik tangga.” Cinta beranjak, Eru mengikutinya. “Mau nitip apa mau jalan?” tanyanya pada Asep.

“Nggak, gue bekel nih. Semalem ikut kenduri,” sahut Asep sudah login game dengan ponselnya. Jam istirahat selalu digunakan dengan hal yang bermanfaat, selain makan, main game bisa juga tidur.

Kantin khusus karyawan itu sudah mulai ramai, Eru mengekor langkah Cinta. Ada beberapa tenant di kantin, pilihan CInta kali ini nasi dan soto ayam. Eru memilih menu yang sama. Mereka menjadi perhatian. Bahkan ada yang terang-terangan memanggil CInta dan menawarkan kursi. Juga karyawan perempuan yang menanyakan siapa pria di samping Cinta.

“Rekan 1 tim, nggak usah ada yang aneh-aneh nanti dia sawan terus besok nggak balik lagi,” sahut Cinta.

“Nomor hp boleh kali Ta.”

“Tanya langsung aja,” sahut Cinta membawa nampan berisi makanan nya menuju meja kosong agak sudut. Eru menempati kursi berseberangan dengannya.

“Saran aja kalau nggak nyaman makan di sini, mending keluar. Cuma agak jauh dan lebih mahal tentunya. Bisa juga pesan online, tapi pesan 1 jam sebelum jam makan siang. Nanti datangnya pas udah istirahat. Bisa juga bekal dari rumah, lebih sehat dan ngirit juga.”

Eru mengangguk menekuni makanan di hadapannya atau menatap Cinta, enggan menatap sekitar karena ada mata yang memandang dan mencuri pandang ke arah mereka.

“Mbak sering makan di sini?”

“Kadang-kadang. Yang tadi aku bilang, kadang pesan online atau bawa bekal, tapi kalau bawa bekal effortnya luar biasa. Aku harus bangun lebih pagi dan … malaslah.”

“Cinta, pulang gue antar ya.” Entah dari mana datangnya Restu, tiba-tiba sudah duduk di samping CInta.

“Nggak usah, nanti sore aku diantar Kang Asep. Kita mau cari sesuatu, prepare keberangkatan.”

“Yakin?”

Cinta mengangguk cepat, sambil menyuap makanan nya. Restu berdecak lalu menatap Eru. “Elo siapa?”

“Saya Eru, mas. Timnya mbak Cinta.”

“Anak magang?”

“Iya, mas.”

“Jangan naksir sama dia ya, udah gue patok,” ujar Restu lalu beranjak.

“Dih, apaan sih.” Cinta berdecak malas.

Mendadak selera makan Eru menguap, bahkan makanan yang ada di mulut terasa sulit untuk dikunyah. Ia menatap Cinta yang masih mengoceh pada Restu yang melenggang begitu saja.

“Mbak Cinta,” sapa pria itu dengan senyum peps0dent.

Apa lagi ini batin Eru.

Pria dengan seragam biru dan abu, khas cleaning service dengan gaya rambut klimis dan licin. Entah berapa banyak minyak rambut yang ditumpahkan di sana.

Banyak juga fansnya

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!