Kalau ada yang bilang hidup itu keras, mungkin Alya mahendra nggak akan terlalu paham. Karena selama ini, apa pun yang dia inginkan selalu bisa ia dapatkan dengan mudah.
Jadi, ketika universitas mewajibkan seluruh mahasiswa tingkat akhir untuk mengikuti kuliah kerja nyata (Kkn), Alya sama sekali tidak ambil pusing.
Dipikiran Alya, kkn tidak lebih dari sekedar kegiatan pindah tempat tinggal untuk sementara. Mirip liburan kecil yang agak panjang, di mana ia tetap bisa tampil cantik. lalu menikmati suasana desa tanpa harus memikirkan hal rumit.
Tapi, ketika daftar peserta kkn akhirnya muncul di layar ponselnya, Alya langsung terdiam. Matanya tertuju pada satu nama yang terpampang jelas di barisan ke tiga: Arga Pratama.
"Yaa Ampun.. Kenapa harus dia?"
Alya nyaris menjatuhkan ponselnya ke lantai. Wajahnya langsung memerah, kali ini bukan karena malu. Tapi, karena kesal.
Arga Pratama es kutub Selatan, merupakan teman sekelasnya yang Alya benci bukan main.
Bukan karena mereka pernah berantem, bukan jika karena Arga Pratama pernah berbuat jahat. Tapi, karena.. dia terlalu dingin.
Dan yang lebih menyakitkan dinginnya itu hanya terasa ke Alya.
Padahal Alya tidak perna punya masalah dengannya. Bahkan perna beberapa kali mencoba menyapa dengan sopan. Tapi balasannya? cuma anggukan kecil tanpa ekspresi.
Ditengah kejengkelannya, alya sedikit bernapas lega saat melihat satu nama di urutan ke tujuh. Tiara Calista, Sahabatnya.
Mereka sering kerja kelompok bareng, kadang nongkrong sepulang kuliah. Dan tiara selalu tau bagaimana cara menenangkan Alya saat mood-nya sedang tidak baik.
Dengan adanya tiara, setidaknya Alya tidak harus menghadapi Arga sendirian.
Selain mereka bertiga, Alya juga mengenali beberapa nama lain yang akan menjadi teman kkn nya.
Totalnya ada 13 orang dari berbagai fakultas yang mana 8 orang laki-laki, sedangkan perempuan ada 5 orang.
Setelah itu, Alya mematikan ponselnya. Namun, Baru saja layar ponselnya menggelap, matanya tiba-tiba membulat seolah baru mengingat sesuatu.
“Astaga!” serunya spontan.
Ia langsung berdiri dari posisi duduknya hingga kursi di belakang sedikit bergeser.
“Aku harus belanja kebutuhan buat KKN lusa!” teriaknya antusias.
Rasa kesal yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan menghilang, tergantikan oleh semangat yang mendadak memuncak.
Di pikirannya sekarang cuma ada satu tujuan, membeli semua hal yang sekiranya akan ia butuhkan untuk bertahan selama menjalani KKN di tempat yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, Alya segera meraih tas kecilnya. Hari ini, mau tidak mau, semua persiapan harus selesai.
Tujuannya sudah jelas: mall.
Kalau peserta lain sibuk mempersiapkan kebutuhan KKN seperti alat tulis, obat-obatan, atau perlengkapan lapangan, Alya justru punya prioritas berbeda.
Baginya, pergi ke pelosok bukan berarti harus kehilangan gaya. Tinggal di desa selama beberapa minggu bukan alasan untuk tampil berantakan. Skincare harus lengkap, outfit tetap on point, dan barang-barang favorit tentu wajib dibawa.
Dengan semangat menggebu, Alya segera melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan.
Sesampainya di sana, ia memarkir kendaraan lalu turun sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan terkena angin dari pendingin mobil.
Tatapannya menyapu area sekitar.
Suasana basement mall cukup ramai sore itu. Deretan mobil memenuhi hampir setiap sisi parkiran, suara langkah kaki bercampur dengan dentingan troli belanja yang sesekali melintas.
Aroma samar parfum dan pendingin ruangan khas pusat perbelanjaan langsung menyambut begitu ia menutup pintu mobil.
Alya tersenyum kecil.
“Oke… saatnya belanja.”
Tanpa membuang waktu, ia mulai melangkah menyusuri basement menuju lift utama mall, siap menjalankan misi pentingnya hari ini.
Bukan sekadar persiapan KKN… tapi memastikan dirinya tetap tampil maksimal di mana pun berada dan yang lebih penting adalah ini adalah keperluan untuk bertahan hidup di pelosok.
Alya langsung bergerak dari satu toko ke toko lain dengan semangat yang sulit dibendung.
Keranjang belanjanya perlahan mulai penuh. Ia mengambil berbagai perlengkapan yang menurutnya wajib dibawa untuk KKN.
Mulai dari jaket multifungsi berbahan ringan dan tahan panas, pakaian pelindung anti-serangga, bahkan setelan khusus seperti yang biasa dipakai petani madu.
“Siapa tahu nanti aku disuruh bantu ambil madu di hutan,” ujarnya santai pada seorang SPG yang hanya bisa menatapnya bingung, tak yakin apakah Alya sedang bercanda atau benar-benar serius.
Belum selesai sampai di situ, Alya juga memilih beberapa baju lengan pendek berbahan breathable agar tetap nyaman dipakai di cuaca panas, daster tidur satin demi menjaga kualitas istirahatnya, hingga beberapa outfit harian yang tetap terlihat chic tanpa meninggalkan kesan sopan.
Setiap barang dipilih dengan satu tujuan yang menurut Alya sangat penting: siap tempur.
Tak butuh waktu lama, troli belanjanya sudah terisi penuh sampai nyaris meluber. Dari kejauhan, dua kasir yang berjaga di depan toko hanya bisa saling melirik dengan ekspresi tak percaya.
Pemandangan itu benar-benar menarik perhatian. Rasanya seperti mereka sedang melihat seseorang yang bukan hendak berangkat KKN… melainkan bersiap memulai ekspedisi bertahan hidup di tengah hutan Amazon.
Salah satu kasir, seorang perempuan muda yang sudah cukup sering melihat Alya berbelanja di butik itu, akhirnya terkekeh kecil sebelum angkat bicara.
“Kak Alya…” katanya sambil menatap isi troli yang menggunung.
“Ini mau KKN… atau mau buka basecamp di Amazon?” tanyanya setengah bercanda, meski nada herannya terdengar jelas.
Alya justru mengangkat dagu, menampilkan raut puas seolah seluruh isi trolinya adalah keputusan paling rasional di muka bumi.
“Persiapan itu kunci,” jawabnya enteng sembari meraih sepasang boots lapangan yang baru saja ia sambar dari rak dekat kasir.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan menanti di Sukamaju nanti.”
Kedua kasir itu kembali bertukar pandang. Yang satu menahan tawa, sementara yang lain hanya menggeleng tak habis pikir masih berupaya mencerna logika pelanggan paling eksentrik di butik tersebut.
“Tapi, Kak…” salah satu kasir memberanikan diri, jemarinya menunjuk gunungan barang yang nyaris menutupi dasar troli.
“Isinya ada jaket anti panas, pakaian anti serangga, sepatu lapangan, skincare satu pouch penuh, dan…”
matanya menyipit saat menemukan benda ganjil di antara tumpukan itu, “daster satin?”
Alya mengangguk mantap, sama sekali tidak merasa ada yang janggal.
“Tidur yang nyenyak itu kebutuhan primer.”
“Di Sukamaju, maksudnya?”
Alya tersenyum tipis.
“Justru karena di Sukamaju. Kalau seharian tenaga habis terkuras kegiatan KKN, setidaknya saat terlelap, aku harus merasa kalau hidupku tetap high quality.”
Jawaban itu memancing tawa kecil dari kedua kasir. Namun, Alya belum puas. Ia berbalik, kembali melangkah ke rak terdekat, lalu menyambar sebuah topi pantai bertepi lebar dan kacamata hitam.
“Kak…” panggil kasir itu dengan nada pasrah.
“Serius deh… KKN di Sukamaju itu sebenarnya tempatnya seperti apa? Sampai harus bawa baju anti lebah?”
Alya memasukkan barang terakhir tersebut ke troli, lalu menoleh dengan wajah penuh keyakinan.
“Entahlah,” sahutnya santai.
“Tapi kalau ternyata medan di sana ekstrem…” ia menggantung kalimatnya, menatap penuh arti ke arah "ekspedisi" belanjaannya,
“…setidaknya aku sudah siap menghadapi segalanya.”
Keheningan singkat menyelimuti meja kasir. Salah satu dari mereka kemudian berbisik pelan pada rekannya.
“Aku yakin… dia bukan mau KKN ke desa biasa.”
“Terus?”
Kasir itu melirik Alya yang kini tengah sibuk mengecek daftar belanja di ponselnya dengan teliti.
“Dia sepertinya sedang bersiap ikut syuting survival show di hutan belantara.”
Sudut bibir Alya terangkat pelan, puas Karena setidaknya satu misi penting telah berhasil ia tuntaskan hari ini.
Begitu keluar dari butik, Alya menarik napas panjang. Udara sejuk dari pendingin ruangan mall langsung menyentuh wajahnya yang sedikit berkeringat setelah hampir dua jam berkeliling dari satu toko ke toko lain.
Kedua tangannya dipenuhi berbagai kantong belanja dari brand ternama mulai dari pakaian kasual, perlengkapan outdoor, sampai beberapa outfit yang rasanya terlalu mewah untuk dipakai di desa.
Alya berhenti sejenak, menatap semua barang bawaannya, lalu menghela napas kecil.
“Kayaknya… aku butuh satu koper lagi,” gumamnya sambil memiringkan kepala.
Tanpa pikir panjang, ia segera berbelok menuju toko perlengkapan perjalanan yang berada tak jauh dari sana. Tatapannya langsung tertuju pada deretan koper berbagai ukuran yang dipajang rapi di bagian depan toko.
Dan seperti biasa, seleranya bekerja lebih cepat daripada logikanya.
Sebuah koper jumbo berwarna rose gold berkilau langsung mencuri perhatian. Elegan, mewah, dan tentu saja terlihat cantik.
Cocok dengan casing ponselnya.
Alya langsung melangkah menuju bagian travel gear di lantai dua mall, sama sekali tak memedulikan orang-orang di sekitarnya.
Fokusnya kini hanya satu mencari koper yang cukup besar untuk menampung seluruh perlengkapan KKN-nya, yang jumlahnya sudah lebih menyerupai persiapan ekspedisi daripada kegiatan pengabdian masyarakat.
Setelah mengamatinya beberapa detik, Alya menoleh pada pramuniaga yang berdiri di dekat rak.
“Mbak, saya ambil yang ini, ya. Sekalian dibungkus.”
Tanpa ragu, ia mengeluarkan kartu ATM hitam dari dompet kecilnya lalu menyerahkannya begitu saja. Itu memang bukan black card, hanya kartu solitaire dari salah satu bank, tapi tampilannya cukup membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum menebak isi rekening pemiliknya.
“Baik, Kak. Saya proses pembayarannya dulu, ya,” ujar sang pramuniaga dengan senyum profesional.
Alya mengangguk santai.
Beberapa menit kemudian, pramuniaga itu kembali sambil menyerahkan kartu miliknya.
“Karena total pembelian Kakak hari ini di atas lima juta rupiah, untuk transaksi berikutnya Kakak mendapatkan diskon tiga puluh lima persen. Ini kartu member-nya, Kak.”
Alya menerima kartu itu dan menatapnya beberapa detik.
Entah akan dipakai atau tidak.
Sejujurnya, ia hampir tidak pernah menggunakan diskon saat berbelanja. Tapi tidak masalah. Mungkin suatu hari nanti berguna.
Tanpa berpikir lebih jauh, kartu itu langsung ia selipkan ke dalam dompetnya, bergabung dengan beberapa kartu diskon lain yang selama ini juga ia simpan dengan pemikiran serupa. Siapa tahu nanti dipakai.
Saat hendak berbalik, langkah Alya tiba-tiba terhenti.
Tak jauh dari sana berdiri seorang laki-laki tinggi di depan rak koper berwarna hitam. Kaos polos gelap yang dikenakannya membuat tubuh atletisnya terlihat semakin tegas.
Wajahnya tampak serius, alis sedikit bertaut, sementara matanya fokus menatap label harga seperti sedang menghitung sesuatu di kepala.
Alya mengernyit pelan, mencoba memastikan penglihatannya, sampai akhirnya Ia mengenali siapa sosok laki-laki itu.
“Arga?” panggilnya spontan.
Ia menoleh pelan, menampilkan raut wajah yang nyaris tanpa emosi, membuat siapa pun sulit menebaK apa yang sedang dipikirkannya.
“Iya.” jawabnya singkat.
Alya sempat terdiam beberapa detik, menunggu setidaknya sedikit respons darinya. Mungkin sebuah senyum kecil, sapaan balik, atau sekadar ekspresi ramah yang menunjukkan Bahwa ia mengenali keberadaannya.
Namun harapan itu pupus begitu saja.
Arga justru kembali mengalihkan pandangannya pada koper di hadapannya, seolah pertemuan singkat itu tak cukup penting untuk menarik perhatiannya lebih lama. Bagi Alya, keberadaannya barusan terasa tak lebih dari suara singkat yang datang lalu menghilang.
Sama seperti biasanya. Dingin. Sulit ditebak.
Meski begitu, Alya tak bisa menahan rasa heran kecil dalam dirinya. Setidaknya kali ini Arga merespons sapaan yang ia berikan, sesuatu yang bisa dibilang cukup langka.
Sudut bibirnya terangkat samar. Dengan suasana yang masih sedikit canggung, Alya memberanikan diri kembali melanjutkan percakapan.
“Nyari koper juga?” tanyanya, berusaha mencairkan suasana di antara mereka.
Arga hanya mengeluarkan gumaman pendek.
“Hm.”
Seperti biasa, Arga hanya memberikan jawaban singkat tanpa ekspresi berarti.
Alya yang berdiri di sampingnya sedikit mendekat, ikut melirik koper hitam yang sejak tadi diperhatikan laki-laki itu.
“Kamu suka yang itu?” tanyanya ringan.
Arga mengangguk pelan.
“Iya.” jawabnya singkat.
Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali jatuh pada label harga yang tergantung di sisi koper. Keningnya sedikit berkerut.
“Nggak jadi.” gumamnya pelan.
Alya menangkap perubahan kecil pada ekspresi Arga. Tanpa bertanya lebih jauh, ia segera membuka dompet kecil yang sedari tadi berada di genggamannya, lalu mulai menelusuri deretan kartu yang tersusun rapi di dalamnya.
Jemarinya bergerak lincah, memilah satu per satu Kartu member dari berbagai toko sambil berusaha menemukan sesuatu yang sedang ia cari.
Ia ingat pernah mendapat kartu diskon dari toko koper ini. Bahkan seingatnya… lebih dari satu.
Beberapa detik kemudian wajahnya langsung berbinar.
“Nah, ketemu.” gumamnya puas.
Rupanya ada beberapa Kartu diskon dari toko yang sama terselip di antara tumpukan kartu lainnya.
Tanpa ragu, Alya mengambil salah satunya, lalu menoleh ke arah Arga sambil mengangkat kartu itu di depan wajahnya.
“Aku punya voucher diskon. Mau?” tanyanya santai.
Arga mengalihkan pandangannya pada beberapa kartu diskon yang kini berada di tangan Alya. Untuk sesaat ia terdiam, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan sesuatu.
Sebenarnya ia memang membutuhkan koper baru. Di rumahnya tak ada koper yang cukup layak dipakai, sementara beberapa hari lagi mereka akan berangkat KKN. Mau tidak mau, ia harus membeli satu.
“Nggak kamu pakai?” tanyanya, sekadar berbasa-basi.
Padahal Arga sudah tahu seperti apa jawaban Alya.
Sebagai putri bungsu dari keluarga pemilik salah satu perusahaan terbesar di kota itu, diskon jelas bukan sesuatu yang berarti baginya. Bahkan rasanya, sekalipun Alya membeli sesuatu bernilai fantastis, ia tetap tidak akan terlalu memedulikan potongan harga.
Alya justru mengangkat bahu santai.
“Nggak. Aku cuma hobi ngumpulin kartu diskonan.” jawabnya ringan.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Arga menatap Alya sedikit lebih lama.
“Thanks.” katanya pendek.
Alya tersenyum kecil lalu menyerahkan kartu itu ke tangannya.
Meski sering kesal karena Arga selalu bersikap dingin dan seolah menjaga jarak darinya, bukan berarti Alya tega membiarkannya kesulitan saat dirinya tahu ia bisa membantu.
Alya tahu persis kalau harga koper di toko itu jelas tidak murah. Setidaknya, voucher diskon yang ia berikan bisa membantu mengurangi pengeluaran
Arga, meski mungkin tidak terlalu banyak.
Ya… paling tidak, itulah yang ada di pikirannya.
Sementara itu, Arga masih menatap kartu diskon yang kini berada di tangannya.
Berusaha mencerna fakta bahwa seseorang seperti Alya baru saja memberinya bantuan tanpa banyak alasan.
Namun seperti biasa, Alya terlalu cepat mengalihkan suasana.
“Oh iya…” katanya tiba-tiba antusias.
“Aku udah beli baju berkebun, baju anti serangga, baju tidur, baju rumahan…”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Arga penuh rasa ingin tahu.
“Menurut kamu, apa lagi yang kurang?”
Arga menoleh perlahan. Ekspresi di wajahnya kembali tenang, Nyaris tanpa menunjukkan emosi apa pun seperti biasanya.
“Akal sehat lo.” jawabnya dingin.
Suasana langsung hening dua detik.
Alya menatapnya tak percaya.
Pria ini… sudah dibantu malah masih sempat-sempatnya menghina dirinya.
Alya langsung mengerucutkan bibirnya, rasa kesal terpancar jelas dari wajahnya.
“Aku pergi dulu, ya.” katanya cepat, jelas malas berlama-lama di sana.
“Lama-lama ngobrol sama kamu, aku bisa ikut beku.”
Arga hanya memberi respons seadanya.
“Hm.”
Alya melotot tajam sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi sambil membawa belanjaannya.
Tatapan Arga mengikuti langkah Alya yang semakin menjauh, sementara pikirannya kembali mengingat semua barang aneh yang tadi gadis itu beli tanpa ragu.
“…Sebenarnya dia mau KKN… atau pindah buat bertahan hidup di tengah hutan?” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Entah kenapa, memikirkan tingkah Alya barusan justru membuat sudut bibirnya terangkat samar. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat, sesuatu yang jarang sekali muncul dari pria sepertinya.
Jalanan sore itu terasa begitu bersahabat. Sedan mewah berwarna midnight blue milik Alya melaju mulus membelah jalanan kota tanpa hambatan berarti.
Mobil keluaran terbaru dengan plat nomor khusus itu bergerak elegan, seolah sama mahalnya dengan seluruh barang belanjaan yang memenuhi bagasi belakangnya.
Tak butuh waktu lama hingga kendaraan itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah megah milik keluarganya. Sebuah kamera otomatis yang terpasang di gerbang utama langsung memindai plat nomor mobil Alya.
Beberapa detik kemudian, gerbang besi tinggi bermotif klasik perlahan terbuka, seakan sedang menyambut kepulangan sang putri kecil keluarga itu kembali ke rumahnya.
Dan memang… rumah itu nyaris menyerupai istana modern.
Bangunan utama bergaya modern classic berdiri megah di atas lahan luas, dengan dominasi marmer putih mengilap yang melapisi hampir seluruh fasad bangunan.
Pilar-pilar tinggi menjulang gagah di bagian depan, mengingatkan pada villa-villa aristokrat Eropa, sementara deretan jendela besar semakin menambah kesan elegan sekaligus mewah.
Begitu masuk ke dalam rumah, Alya langsung mendapati suasana ruang keluarga yang ramai.
Di sofa utama, papinya bersama kedua kakak laki-lakinya terlihat sedang bersantai sambil menikmati kopi dan menonton televisi.
Begitu melihat sang putri bungsu datang, wajah Alya langsung berbinar. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil lalu langsung memeluk papinya erat seperti anak kecil yang baru pulang bermain.
“Papiii…” rengeknya manja sambil memeluk pinggang pria paruh baya itu.
Sang papi hanya tersenyum hangat, membalas pelukan putri kesayangannya dengan penuh kelembutan.
Salah satu kakaknya yang duduk tak jauh dari sana menoleh sekilas ke arah tumpukan kantong belanja yang dibawa beberapa asisten rumah tangga dari belakang Alya.
“Habis belanja perlengkapan KKN?” tanyanya santai.
Namun beberapa detik kemudian, kedua kakaknya mulai saling bertukar pandang. Alis mereka perlahan berkerut.
Perhatian ketiganya langsung tertuju pada koper jumbo rose gold yang ukurannya begitu besar hingga tampak mencolok dibanding barang lainnya. Belum lagi puluhan kantong belanja yang terus berdatangan dari mobil.
Alya justru terlihat sangat antusias. Ia segera duduk di samping papinya lalu mulai bercerita tanpa diminta.
“Tadi Alya beli banyak banget. Ada baju berkebun, terus jaket anti panas, baju anti serangga…”
Alya berhenti sejenak, seolah memastikan tak ada satu pun daFtar belanjanya yang terlewat, sebelum kembali melanjutkan dengan nada penuh antusias.
“Oh iya, Alya juga beli baju perlindungan anti lebah. Siapa tahu nanti disuruh ambil madu di hutan.”
Kalimat itu langsung membuat ketiga pria di ruangan itu terdiam beberapa detik.
Ekspresi mereka berubah aneh. Antara ingin tertawa, kesal, sekaligus gemas menghadapi tingkah putri bungsu keluarga mereka.
Elang hanya bisa menghela napas panjang sambil Mengusap wajahnya, seolah sedang berusaha menerima kenyataan bahwa adik kesayangannya memang selalu di luar nalar.
“Tunggu…” katanya pelan. “Kamu mau KKN… atau pindah buat tinggal di hutan Amazon?”
Keano ikut menggeleng pelan, masih berusaha Mencerna daftar belanja adiknya yang semakin lama terdengar semakin tidak masuk akal.
“Baju anti lebah?” ia menatap Alya tak percaya.
“Serius?”
Alya justru mengangguk polos.
“Iya dong. Kita nggak pernah tahu keadaan di sana kayak gimana.”
Mendengar itu, kakak keduanya langsung bersandar di sofa sambil menggeleng berkali-kali.
“Buset…” gumamnya.
“Sekalian aja princess-ku beli lahan pertanian di sana.”
Ucapan Keano sontak membuat suasana ruang keluarga pecah oleh gelak tawa.
Sementara sang papi hanya bisa menghela napas pasrah melihat tingkah anak bungsunya yang sejak kecil memang selalu penuh kejutan.
Dengan senyum lembut, pria itu mengangkat tangan lalu mengusap pelan rambut Alya penuh kasih sayang.
“Apa nggak repot, sayang, bawa barang sebanyak itu nanti?” tanyanya lembut.
Alya langsung menggeleng mantap.
“Nggak, Papi.” jawabnya serius.
“Ini semua perlengkapan wajib, Papi. Alya nggak tahu nanti bakal menghadapi apa di sana.”
Mendengar jawaban itu, Elang dan Keano akhirnya tak sAnggup lagi menahan tawa mereka.
“Bertahan hidup katanya…” salah satu dari mereka terkekeh.
Yang lain ikut menimpali sambil menunjuk koper jumbo milik Alya.
“Kayak mau ikut ekspedisi berbulan-bulan aja, bukan KKN.”
Alya justru memeluk papinya lagi dengan wajah penuh keyakinan.
Ia sadar, bagi orang lain persiapannya mungkin tampak seperti sesuatu yang terlalu berlebihan untuk sekadar KKN.
Namun Alya sama sekali tidak peduli. Baginya, lebih baik bersiap untuk segala kemungkinan daripada menyesal ketika sudah berada di lokasi nanti.
Biarlah mereka menertawakannya hari ini. Sebab ketika saat itu benar-benar tiba, Alya yakin hanya dirinya yang sudah siap menghadapi apa pun yang menunggu di sana.
Dan di dalam pikirannya, keyakinan itu terdengar sangat masuk akal.
Sementara itu, beberapa asisten rumah tangga masih sibuk membawa sisa belanjaan dari mobil ke dalam rumah. Tumpukan paper bag berbagai merek ternama kini memenuhi sudut ruang keluarga.
Keano menatap pemandangan itu cukup lama, lalu menghela napas sambil menunjuk koper jumbo rose gold milik adiknya.
“Aku serius nanya, ya…” katanya pelan.
“KKN kalian cuma beberapa minggu, kan?”
Alya yang sejak tadi menempel di sisi papinya hanya mengangguk santai, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan serius.
“Iya. Memangnya kenapa?”
Dari tempat duduknya, Elang akhirnya menoleh lalu ikut Menanggapi dengan nada tenang.
“Karena koper kamu itu ukurannya kayak orang mau pindahan.” katanya datar.
Alya mendecak pelan, lalu menyilangkan Tangan di depan dada dengan ekspresi protes.
“Kalian tuh lebay.” protesnya.
“Aku cuma lagi berjaga-jaga.”
“Berjaga-jaga apanya?” Keano bertanya sambil tertawa kecil.
Tak terima dibantah, Alya langsung menegakkan tubuhnya lalu mulai merinci semuanya dengan jari yang terangkat satu demi satu.
“Kalau ternyata cuacanya panas ekstrem, aku udah siap. Kalau banyak serangga, aku juga aman. Kalau ada kegiatan outdoor, aku punya baju khusus.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada penuh keyakinan.
“Dan kalau ternyata tempatnya nggak nyaman buat tidur… aku udah beli daster satin baru.”
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Papinya sampai berhenti meminum kopi, sementara Elang dan Keano saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya bersamaan menggeleng pasrah.
Papinya tak bisa menahan senyum melihat tingkah ketiga anaknya. Dengan lembut, pria itu kembali mengusap rambut panjang Alya yang sejak tadi duduk menempel manja di sampingnya.
Namun di balik semua itu, Alya sudah memiliki satu pemikiran yang sejak awal tidak pernah berubah.
Ketika nanti peserta lain mulai kerepotan menghadapi kondisi di lokasi KKN, hanya dirinya yang akan tetap tenang karena sudah mempersiapkan semuanya sejak awal.
Dan dengan pikiran itu, Alya merasa keputusan belanja hampir setengah hari tadi adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat.
Setidaknya… untuk sekarang, ia benar-benar percaya demikian.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!