Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Mafia Masuk Ke Tubuh Ibu Susu Tuan Kejam

Janji Setia

Bau anyir darah dan besi berkarat memenuhi udara di dalam gudang terbengkalai di pinggiran pelabuhan. Di tengah ruangan, seorang pria dengan wajah babak belur terikat erat di kursi besi. Dia adalah salah satu orang kepercayaan organisasi yang baru saja menjual jalur penyelundupan utama Black Valley kepada musuh demi uang miliaran.

Tap!

Tap!

Tap!

Langkah kaki yang tenang namun berat menggema, memecah kesunyian.

Kayden Gilbert berjalan maju. Jas hitamnya tampak sempurna tanpa cela, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Di tangannya, sebilah pisau bedah kecil berkilau terkena cahaya lampu yang temaram.

"Tuan Kayden... ampuni aku... Aku terpaksa..." rintih pengkhianat itu. Tubuhnya gemetar hebat hingga kursi besinya berderit. "Mereka menyandera keluargaku!" lanjutnya memohon belas kesihan.

Kayden berhenti tepat di depan pria itu. Wajahnya datar tanpa emosi, dan matanya sedingin es kutub. Statusnya sebagai 'Iblis Black Valley’ bukan sekadar julukan kosong.

"Kau tahu berapa kerugian yang kau timbulkan, Karno?" suara Kayden terdengar seperti bisikan maut. "Tiga jalur utama kita lumpuh. Lima belas orangku tewas. Dan kau... berani menggunakan alasan klise itu di hadapanku? Aku sudah tahu semuanya, duda sialan!"

"A-aku bersumpah akan menggantinya! Tolong—"

Jleb!

"AKKKKKHHHHHHH!"

Tanpa peringatan, Kayden menancapkan pisau bedah itu ke paha Karno, lalu memutarnya perlahan. Jeritan histeris Karno menggema di seluruh gudang, namun Kayden bahkan tidak berkedip.

"Aku tidak butuh uangmu. Aku butuh kepalamu sebagai peringatan bagi yang lain," ucap Kayden dingin. Ia mencabut pisau itu, membiarkan darah segar menyembur mengotori lantai.

Kayden merebut pistol dari pinggang asistennya, lalu mengarahkannya tepat di antara kedua mata sang pengkhianat yang melebar karena horor.

"Selamat tinggal."

DOR!

Satu tembakan tepat sasaran. Karno terkulai tidak bernyawa. Kayden mengembalikan pistol tersebut, lalu mengambil sapu tangan sutra dari sakunya untuk membersihkan bercak darah yang tidak sengaja menciprat ke ujung sepatunya.

"Bereskan kekacauan ini. Aku harus pulang. Istriku telah menungguku," ujar Kayden. Nadanya berubah drastis menjadi buru-buru saat mengingat istrinya yang sedang hamil tua.

Ia melemparkan saputangan kotor itu ke atas mayat Karno, berbalik, dan melangkah lebar meninggalkan gudang maut tersebut demi kembali ke pelukan wanita yang menjadi satu-satunya poros hidupnya.

Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Kayden untuk memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. Begitu menginjakkan kaki di mansion, sang Bos Mafia yang baru saja mengeksekusi pengkhianat itu luruh tanpa sisa. Sosoknya digantikan oleh kepanikan luar biasa saat mendapati sang istri sudah merintih kesakitan.

"Vivian! Napas, Sayang! Napas!"

Kayden Gilbert, pria yang dikenal sebagai 'Iblis Black Valley’ karena ketenangannya saat mencabut nyawa orang, kini terlihat seperti orang gila. Ia mondar-mandir di kamarnya sambil menenteng tiga tas besar berisi segala hal, mulai dari baju bayi sutra hingga botol minum canggih yang bisa mengatur suhu otomatis.

"Kay... aku cuma mules sedikit, belum mau keluar sekarang," rintih Vivian yang duduk di tepi ranjang sambil memegangi perut buncitnya.

Sebenarnya ia merasa gemas melihat suaminya yang dulu sangat dingin dan kaku, sekarang malah begitu panik dan lengket padanya.

"Sedikit katamu? Ini calon penerus kita, sayangku! Bagaimana kalau dia tidak sabar? Bagaimana kalau mobilnya kurang cepat? Aku sudah menyuruh anak buahku memblokade jalan ke rumah sakit agar tidak macet!" racau Kayden, berteriak panik ke arah para pengawalnya.

"CEPAT SIAPKAN HELIKOPTER! JANGAN PAKAI MOBIL! TERLALU LAMA!"

Vivian tertawa kecil di tengah rasa sakitnya yang semakin menjadi-jadi. "Kamu berlebihan, Kay."

"Tidak ada yang berlebihan untukmu dan putri kita," bisik Kayden yang tiba-tiba melembut. Pria muda itu berlutut di depan Vivian dan mengecup keningnya lama. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi, berjanjilah untuk tetap di sini setelah dia lahir."

"Janji, kamu juga harus setia." Vivian menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking suaminya.

Sayangnya, itu adalah janji yang gagal Vivian tepati.

Bip... Bip... Bip...

Suara monitor jantung yang berdetak tidak teratur menjadi satu-satunya melodi horor di lorong rumah sakit VIP itu. Kayden Gilbert tak bisa duduk tenang.

Ia mencengkeram rambutnya dan mondar-mandir lagi dengan napas yang memburu. Jas mahalnya sudah tergeletak entah di mana, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung asal.

"Tuan, minumlah sedikit," ucap asistennya pelan.

"Diam!" bentak Kayden dengan suara serak. "Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku akan meratakan rumah sakit ini dengan tanah!"

Tepat saat itu, suara tangisan bayi pecah dari dalam ruangan. Melengking, jernih, dan kuat. Namun bagi Kayden, suara itu bukan musik kemenangan. Itu adalah lonceng kematian.

Pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah pucat dan kepala tertunduk.

"Tuan Kayden... kami sudah berusaha semampu kami. Nyonya Muda... mengalami pendarahan hebat yang tidak bisa dihentikan."

Blaarr!

Dunia Kayden runtuh seketika. Detik itu juga, oksigen di sekitarnya seolah habis. Ia menerjang masuk ke dalam ruangan, mengabaikan suster yang sedang menggendong bayi mungil yang masih merah.

"Sayang? Hei, bangun..." Kayden menggenggam tangan Vivian yang sudah mulai mendingin, terus mengecupi jemari istrinya dengan putus asa. "Bangun, Sayang. Kamu sudah janji. Kita akan membesarkan anak ini bersama. VIVIAN!"

Keheningan menyambutnya. Wajah cantik yang biasanya tersenyum itu kini mulai memucat pasi.

"Tuan Kayden," ucap suster mendekat dengan ragu, lalu menyodorkan bayi di dekapannya. "Ini putri Anda. Dia sangat cantik, mirip sekali dengan Nyonya—"

"BAWA PERGI!" bentak Kayden menggelegar. Suara itu terdengar seperti desis iblis dari dasar jurang.

"Tuan?"

Kayden berdiri. Matanya merah padam karena amarah dan duka yang meledak. Bos Mafia itu menatap bayi kecil yang sedang menggeliat itu dengan pandangan benci yang murni.

"Singkirkan makhluk kecil itu dari hadapanku! Gara-gara dia... Vivian-ku mati!" raung Kayden hingga urat lehernya menegang. "Dia bukan putriku. Dia pembunuh! Dia membunuh istriku! KELUARKAN DIAAAA!"

"Tapi Tuan, bayi ini butuh Anda—"

"Aku tidak peduli! Buang dia ke paviliun belakang, berikan pengasuh, apa pun! Jangan biarkan DIA muncul di depanku!"

Kayden kembali jatuh berlutut di samping tubuh Vivian, terisak tanpa suara sambil memeluk tubuh istrinya.

“Jika akan seperti ini, seharusnya aku melarangmu hamil. Tidak! Seharusnya pernikahan ini tak terjadi. Ayahmu... dia benar, kau lebih pantas bersama Arsen. Maafkan aku, Vivian. Kumohon bangunlah…” tangis Kayden pecah, didera rasa bersalah yang teramat sangat pada istri dan orang tuanya.

Ia tidak sadar, di balik selimut bayi yang tipis, jari mungil bayi perempuan itu sempat bergerak ingin menggapai ayahnya. Namun, apa yang ia dapatkan bukan kehangatan, melainkan kebencian dari satu-satunya orang tua yang ia miliki.

Sudah Gila

Gelap. Dingin. Sunyi.

Dan tiba-tiba…

Byurr!

"Bangun, dasar perempuan tidak berguna! Masih berani kau tidur nyenyak setelah mempermalukan keluarga kami?!"

Ugh!

Vivian tersentak. Paru-parunya terasa sesak seolah baru saja dipompa paksa. Ia terbatuk-batuk, meraup udara dengan rakus. Namun, bukan aroma parfum kayu manis mewah milik suaminya yang tercium, melainkan bau apek dan air bekas pel yang anyir, membasahi seluruh wajah dan pakaiannya.

Ia membuka mata. Pandangannya yang buram tidak menangkap langit-langit rumah sakit VIP, melainkan sebuah kamar sempit, pengap, dengan cat dinding yang mengelupas. Di depannya, seorang wanita tua berdiri berkacak pinggang sambil memegang ember plastik kosong. Tatapannya penuh penghinaan.

"Apa lihat-lihat?! Cepat keluar dari sini. Arman sudah menandatangani surat cerai. Ambil barang-barang rongsokanmu dan pergi dari rumah ini! Tempatmu bukan lagi di sini. Jika perlu, susul bayimu yang mati karena kau tidak becus mengurusnya itu!"

Vivian terdiam. Kepalanya mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa. Ia melihat tangannya sendiri—kurus, kasar, dan penuh bekas luka kapalan. Ini bukan tangannya yang halus.

Tunggu... Bukankah aku sedang melahirkan? Kenapa aku tiba-tiba bangun di tempat kumuh ini?

Ia menyentuh perutnya. Rata, kosong, dan dingin. Rasa sakit akibat kehilangan anaknya di kehidupan sebelumnya langsung menghujam jantungnya, berbaur dengan gelombang ingatan asing yang berdesakan masuk ke kepalanya.

Empat tahun telah berlalu sejak malam tragis di rumah sakit itu. Jiwanya kini terlempar ke tubuh Arini. Arini adalah seorang ibu muda malang yang baru saja kehilangan bayinya karena penyakit kuning. Ia diusir oleh suami yang ketahuan selingkuh, dan disiksa oleh mertua berhati iblis.

Vivian memejamkan mata sejenak, menyelaraskan sisa rasa sakit di tubuh barunya. Ketika ia membuka mata kembali, ketakutan di wajah 'Arini' telah lenyap sepenuhnya.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang dingin dan mematikan. Senyum khas seorang Vivian Marvis, sang penerus berdarah dingin dari klan mafia Marvis.

"Suami?" gumam Vivian dengan suara serak yang merindingkan bulu kuduk.

Ia berdiri dengan tenang, mengabaikan lututnya yang sempat lemas. Vivian melangkah maju, lalu menatap wanita tua di depannya dengan pandangan intimidatif yang membuat nyali wanita itu menciut seketika.

"Dengar, Wanita Tua," ujar Vivian sambil menyeka sisa air di wajahnya dengan gerakan yang teramat elegan, sangat tidak cocok dengan baju lusuh yang dikenakannya. "Aku tidak tahu siapa kamu, tapi menyiram air bekas pel ke wajah seorang Marvis... adalah tiket satu arah menuju NERAKA."

"A-apa? Marvis? Kamu gila ya, Arini?!" Wanita tua itu melangkah mundur, mendadak ketakutan melihat sorot mata menantunya yang seperti ingin menguliti orang hidup-hidup.

Vivian tidak membalas. Kilatan matanya menangkap selembar koran bekas di pojok ruangan. Judul utamanya tercetak dengan huruf tebal yang mencolok.

EMPAT TAHUN KEMATIAN ISTRI SANG MILIARDER, KAYDEN GILBERT MASIH MENUTUP DIRI.

Dicari Pengasuh atau Ibu Susu untuk Baby Elvano. Syarat: Memiliki kesabaran ekstra menghadapi Tuan Kejam yang sangat temperamental.

Kesabaran?

Vivian menyeringai dingin. Mengingat bagaimana dulu ia mengendalikan transaksi gelap jalur internasional keluarga Marvis, menjinakkan pria temperamental seperti Kayden adalah hal yang terlalu mudah baginya.

Aku punya lebih dari sekadar kesabaran untuk pria sepertimu, Kayden.

Namun, tatapan Vivian turun pada foto anak kecil di bawah artikel tersebut. Jantungnya berdenyut hebat, menyisakan rasa perih yang teramat sangat. Anak itu... memiliki garis wajah yang sangat mirip dengannya. Tampak kurus, dengan tatapan mata yang kosong dan kurang kasih sayang.

Anakku... Dia tidak bahagia.

Si 'Monster' Kayden itu ternyata benar-benar berubah jadi iblis tak berhati, bahkan menelantarkan darah daging mereka demi anak lain entah dari mana?

"Kayden Gilbert..." Vivian mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat hingga kukunya memutih.

"Berani-beraninya kamu membiarkan putriku menderita di paviliun belakang, sementara ada anak lain di mansionmu?"

Ia menoleh kembali ke arah mertua Arini yang masih melongo. "Simpan surat cerai sampah ini. Aku pergi. Tapi sebelum itu..."

PLAKK!

Satu tamparan keras berkekuatan penuh mendarat di pipi si wanita tua hingga tubuhnya pun terjerembab ke lantai, menabrak lemari.

"ARINI! BERANINYA KAU PADA IBUKU! DASAR JALANG TIDAK TAHU DIRI!"

Suara tinggi itu menggelegar dari pintu. Seorang pria masuk dengan wajah merah padam karena amarah. Dialah Arman, mantan suami Arini yang brengsek.

"Jadi istri nggak becus! Ngurus anak juga gagal! Mau jadi apa kau, hah?!" bentaknya sambil melayangkan tangan, siap memukul.

Namun, Vivian jauh lebih cepat. Sebelum tangan kotor itu menyentuh kulitnya, Vivian mengelak dengan gerakan taktis. Ia mengepalkan tinju, memanfaatkan berat tubuhnya, dan menghantam rahang Arman dengan presisi seorang petarung.

BUGH!

BUGH!

Dua pukulan beruntun membuat Arman terhuyung. Belum sempat pria itu menyeimbangkan tubuh, Vivian melayangkan tendangan lutut tepat ke arah ulu hatinya, disusul satu pukulan mentah di mulut.

BUGH!

Dua gigi depan Arman lepas, melesat terbang bersama cipratan darah. Pria itu ambruk ke lantai sambil memegangi mulutnya, melolong kesakitan.

Bagus. Insting bertarungku tidak hilang, meskipun tubuh ini masih terlalu lemah, batin Vivian, menatap tangannya yang sedikit memar dengan puas.

"ARINI! KAU SUDAH SINTING YA?! KAU BISA MEMBUNUH ANAKKU!" teriak sang ibu mertua histeris, memeluk anaknya yang bersimbah darah.

"Itu adalah upah untuk air pel dan mulut busukmu," desis Vivian. Ia melangkah maju, menginjak dada Arman dengan sepatu kumuhnya, membuat pria itu terbatuk darah. "Jangan pernah cari aku lagi, atau kupastikan nama keluarga kalian hilang dari peta kota ini. Dan kau, laki-laki bodoh... kau bahkan lebih rendah dari kotoran babi."

Cuh!

Vivian meludah tepat di samping wajah Arman yang pucat pasi karena ketakutan.

Dengan langkah mantap, punggung tegak, dan dagu terangkat tinggi, Vivian berjalan keluar dari rumah kumuh itu tanpa menoleh lagi. Tujuannya kini hanya satu: Kayden Gilbert.

Jika dunia memaksanya menjadi 'Ibu Susu' untuk bisa masuk ke sana, maka dia akan menjadi ibu susu paling berbahaya yang akan meruntuhkan kesombongan sang Iblis Black Valley, menjinakkan kembali suaminya, dan merebut kembali takhta serta anaknya.

Kepergiannya yang drastis sukses meninggalkan atmosfer horor di rumah itu. Sepasang ibu dan anak yang biasanya hobi menyiksa itu kini hanya bisa menggigil di lantai.

"B-Bu... apa yang terjadi? Mengapa Arini mendadak jadi monster?" bisik Arman dengan suara rumpang karena giginya habis. "Tak mungkin kan air pel tadi mengandung kekuatan magis?!"

Mertuanya menatap pintu yang terbuka dengan tubuh gemetar hebat. "Entahlah... dia... dia sepertinya sudah kerasukan SETAN!"

...

Setan kok teriak setan.

Jangan lupa dukungannya! Klik Like, Komen, Vote, dan berikan Mawar Merahnya ya, agar Mom Ilaa semakin semangat update setiap hari! ❤️

Takut

Oekkk!

Oekkk!

Tangisan melengking bayi itu memecah keheningan paviliun kediaman Gilbert. Suaranya terdengar serak, pertanda sang bayi sudah menangis terlalu lama karena kelaparan.

Di dalam kamar bayi yang megah, dua orang pembantu muda tampak kalang kabut. Pakaian mereka bahkan sudah acak-acakan karena kewalahan.

"Aduh, bagaimana ini? Baby Elvano tidak mau minum susu formula sama sekali! Dia terus memuntahkannya!" seru Lastri panik sambil terus menimang bayi laki-laki berusia beberapa hari itu.

Mila, pembantu satu lagi yang memakai lipstik merah menyala, mendengus kasar. "Ibu susu yang baru dipecat tadi pagi juga payah! Tak ada satupun yang cocok dengan seleranya. Kalau Tuan pulang dan melihat Baby El masih menangis seperti ini, kita semua bisa habis!"

Di tengah kepanikan dan kebisingan itu, sebuah tirai pintu besar di sudut ruangan bergerak pelan. Dari balik kain beludru itu, muncullah seorang gadis kecil berumur empat tahun.

Gadis kecil itu memiliki mata bulat yang jernih, bulu mata lentik, dan wajah yang sangat cantik—sebuah jiplakan sempurna dari mendiang Vivian. Namun, nasib gadis kecil bernama Deana itu tidak secantik wajahnya.

Sejak lahir, ia kehilangan kehangatan seorang ibu dan harus menerima vonis kebencian dari ayahnya sendiri. Kayden mengurungnya di area paviliun, melarangnya menginjakkan kaki ke luar rumah, membuat Deana tak pernah tahu bagaimana indahnya dunia luar.

Bahkan, Deana yang malang tidak berani meminta bertemu dengan kakek dan neneknya dari keluarga Gilbert atau Marvis. Di otaknya yang masih kecil, sudah tertanam doktrin kejam bahwa dirinya adalah pembawa sial yang bisa melukai mereka jika berdekatan.

Mendengar tangisan Elvano yang semakin melemah, hati kecil Deana merasa iba. Dengan langkah kecil yang ragu, ia mendekat.

"Bibi... boleh Dea gendong Baby El? Mungkin... mungkin kalau Dea gendong, Baby El mau diam," bisik Deana takut-takut. Tangan kecilnya terulur, ingin menyentuh selimut bayi itu.

PLAK!

"Singkirkan tangan kotormu itu!"

Bukan sambutan hangat yang didapat, Mila justru mendorong bahu mungil Deana dengan kasar hingga anak itu terjerembab ke lantai marmer yang dingin.

"Aww..." Deana meringis, memegangi sikutnya yang memerah.

"Jauh-jauh kamu dari Baby Elvano! Dia itu pewaris sah Tuan Kayden! Kalau sampai kulit Baby El yang berharga ketularan sial darimu, kamu mau tanggung jawab, ha?!" bentak Mila berapi-api, menunjuk muka Deana dengan penuh kebencian.

"Mila! Apa-apaan kamu ini?!" Lastri yang melihat hal itu langsung berteriak tak terima.

Ia segera meletakkan Baby Elvano di ranjang bayi dengan aman, lalu cepat-cepat membantu Deana berdiri. "Dia ini anak kandung Tuan Kayden juga. Darah daging Nyonya Vivian. Berani sekali kamu mendorongnya!"

Bukannya merasa bersalah, Mila malah berkacak pinggang dan tertawa meremehkan. "Darah daging? Lastri, bangun dari mimpimu! Semua orang di rumah ini juga tahu kalau Tuan Kayden menganggap anak ini sebagai pembunuh Nyonya Vivian. Dia dibenci ayahnya sendiri!"

"Tapi tidak sepantasnya kamu mengasari anak kecil! Aku akan melaporkan perlakuanmu ini pada kepala pelayan, atau bahkan pada Tuan Kayden langsung!" ancam Lastri geram sambil mendekap tubuh Deana yang mulai gemetar.

Mila justru tertawa semakin keras, seolah ancaman Lastri adalah lelucon paling lucu tahun ini.

"Laporkan saja! Silakan!" tantang Mila sinis. "Kamu pikir Tuan Kayden akan membelanya? Jangankan membelanya, menatap wajah anak pembawa sial ini saja Tuan Kayden muak! Asal kamu tahu ya, anak ini tidak lebih dari anak haram yang kehadirannya tak pernah diinginkan! Hanya Tuan Elvano kecil yang diakui sebagai pewaris sesungguhnya di rumah ini!"

Kata-kata 'pembawa sial' dan 'anak haram' itu menghujam langsung ke dada Deana. Jantung kecilnya berneon-neon nyeri. Seluruh tubuhnya terasa terguncang hebat, dan matanya mulai berkaca-kasar menahan luapan emosi.

Sakit. Rasanya sangat sakit dihina terus seperti itu.

Namun, seiring dengan makian Mila yang semakin menjadi-jadi, sesuatu di dalam diri Deana seolah bergejolak. Rasa sedihnya mendadak menguap, digantikan oleh kilatan amarah yang asing. Darah ibunya yang mengalir di tubuhnya berontak.

Sebelum Mila sempat mencaci lebih jauh, Deana tiba-tiba melangkah maju. Dengan sisa tenaganya dan kecepatan yang tak terduga, gadis kecil itu menerjang.

BUGH!

"Jangan bicala buluk tentang Deaaa!" teriak Deana lantang seraya mendorong pinggul Mila.

Mila yang sedang berdiri berkacak pinggang dan memakai sepatu hak tinggi sama sekali tidak siap. Akibatnya, tubuh wanita jahat itu oleng dan ambruk ke lantai. Ia menabrak meja kayu kecil hingga vas bunga di atasnya jatuh mendenting.

PRANKK!

Tepat pada detik suara vas itu pecah, pintu ganda paviliun terbuka lebar dengan kasar.

Seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas hitam formal melangkah masuk. Auranya begitu pekat, dingin, dan mengintimidasi, seolah membawa musim dingin ekstrem ke dalam ruangan. Kayden Gilbert. Sang Tuan Kejam itu baru saja menginjakkan kakinya di sana, dan matanya langsung menangkap basah aksi berani putrinya yang baru saja mendorong pelayan rumah.

Deana seketika membisu. Wajah cantiknya yang semula memerah karena amarah langsung saja memucat pasi seperti kertas. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyadari aksinya barusan disaksikan langsung oleh sang ayah, pria yang paling ia takuti di dunia ini.

Kayden berdiri mematung di ambang pintu. Pria itu sedikit tertegun. Sepasang mata elangnya yang sedingin es menatap lurus pada Deana. Selama empat tahun ini, yang ia tahu Deana hanyalah anak yang penakut, selalu bersembunyi di balik tirai, dan selalu menunduk setiap kali ia lewat.

Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, Kayden melihat kilatan tajam dan raut wajah membangkang dari putrinya. Sorot mata Deana saat mendorong Mila tadi... entah mengapa mengingatkannya kepada seseorang yang sangat ia rindukan.

Namun, momen tertegun itu tidak berlangsung lama.

"Hwaaa! Tuan Besar! Tolong saya, Tuaaaan!"

Mila yang melihat kedatangan Kayden langsung memanfaatkan situasi. Mengabaikan rasa sakit di bokongnya, wanita itu segera bangkit dan berlari tertatih-tatih ke arah Kayden. Ia berlutut di dekat kaki majikannya, menangis histeris dengan air mata buaya seolah-olah dirinya adalah korban paling menderita.

"Tuan Besar, tolong hukum Nona Muda Deana! Saya hanya berniat menjaga Baby Elvano yang sedang menangis, tapi Nona Deana tiba-tiba mengamuk dan mendorong saya sampai jatuh seperti ini! Dia sangat kasar, Tuan! Saya takut... nanti Baby Elvano yang jadi sasaran amukannya!" ratap Mila dramatis, sengaja membawa-bawa nama Elvano untuk memancing kemarahan Kayden.

Mampus kau anak bodoh! Kita lihat hukuman apa yang akan kau terima setelah ini! Aku harap kau segera menyusul Ibumu!

Mendengar aduan fitnah dari Mila, ketakutan Deana melonjak ke puncaknya. Ia tahu ayahnya sangat kejam. Ia tahu ayahnya tidak pernah menyukainya. Bayangan akan hukuman berat yang menantinya membuat tubuh kecil Deana bergetar hebat.

Gadis kecil itu meremas ujung gaun usangnya, menundukkan kepala sedalam-dalamnya dan mencoba sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak pecah di depan sang ayah yang kini menatapnya tanpa ekspresi.

___

Visual Deana..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!