Langit di atas Ibu Kota Kerajaan Feng Ling tampak mendung, seolah-olah awan hitam sengaja berarak menutupi kemegahan istana yang dibangun di atas kebohongan. Di sebuah gang sempit pinggiran kota, rakyat jelata berkumpul di depan sebuah rumah kecil yang tua. Mereka tidak sedang menunggu pembagian gandum, melainkan menunggu sosok yang mereka sebut sebagai "Tabib Cadar Putih"
Di dalam rumah yang kecil itu, Ling Xie berjalan dengan anggun. Jari-jarinya yang lentik menyentuh kening seorang anak kecil yang menggigil hebat karena demam. Meski mengenakan pakaian kain kasar yang pudar, aura ketenangan terpancar dari tubuhnya.
Sial, aku ingat bagian ini, batin Ling Xie sambil menghela napas.
"Ini adalah bab yang ku tulis saat aku sedang patah hati. Aku membuat karakter Putri Ling Xie menderita di tempat paling kumuh sebagai pembuka konflik. Sekarang, aku sendiri yang harus merasakannya."
Ling Xie memejamkan mata. Di bahu belakangnya, tanda lahir Phoenix emas berdenyut hangat di balik kain bajunya sebuah rahasia yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami. Cahaya terang keemasan yang sangat tipis mengalir dari ujung jarinya ke tubuh anak itu. Seketika, napas sang anak menjadi stabil.
"Terima kasih, Tabib Agung! Terima kasih!" sang ibu menangis tersedu sambil bersujud.
"Simpan terima kasihmu untuk Dewa," suara Ling Xie terdengar lembut namun berwibawa dari balik cadarnya.
"Pergilah, beri dia air rebusan akar teratai ini."
Saat Ling Xie melangkah keluar, suasana damai itu pecah oleh derap langkah kaki kuda yang kasar. Sekelompok pengawal istana berbaju zirah emas datang menerjang kerumunan rakyat.
"Minggir, rakyat rendahan! Beri jalan untuk Putri Li Mei Feng!" teriak salah satu pengawal sambil mengayunkan pecut.
Ling Xie berdiri mematung di ujung jalan. Di atas kereta kencana yang megah, duduklah seorang wanita muda dengan pakaian Hanfu sutra merah yang menyilaukan. Itulah Li Mei Feng. Wajahnya cantik, namun bibirnya melengkung penuh kesombongan. Ia sengaja menghentikan keretanya tepat di depan rumah kecil itu, menutup hidungnya dengan kipas sutra seolah udara di sana beracun dan menjijikan.
"Siapa gadis ini?" tanya Li Mei Feng dengan nada meremehkan. "Berani-beraninya dia memakai cadar putih di wilayahku? Hanya wanita dari rumah bordil yang suka bersembunyi di balik kain agar harga jualnya lebih mahal!"
Tawa pelayan-pelayan di belakang Li Mei Feng pecah. Di antara mereka, tampak Jin Lim Jian, Kakak Kedua Ling Xie yang asli. Bukannya membela, Jin Lim Jian justru menatap Ling Xie dengan iba namun terlihat lemah dan tak berdaya.
"Mei Feng, sudahlah... mungkin dia hanya orang miskin yang sedang mencari nafkah," ucap Jin Lim Jian dengan suara lirih.
"Kakak Lim, kau terlalu baik hati," sahut Li Mei Feng dengan kebencian yang mendalam.
"Dengar, wanita murahan! Aku tahu siapa kau. Kau adalah Ling Xie, gadis yang sering menggoda lelaki di kedai arak, bukan? Jangan coba-coba berlagak menjadi tabib suci di sini!"
Li Mei Feng memberi isyarat pada pengawalnya. "Hancurkan tempat ini! Aku tidak ingin ada tempat kotor yang menampung wanita penghibur di kota ini!"
Ling Xie menggenggam erat botol obat di tangannya. Amarah mulai membakar dadanya, dan seiring dengan itu, tanda lahir di bahunya mulai bereaksi panas. Namun, sebelum ia sempat bertindak, seorang pria tampan yang menunggangi kuda hitam melintas di antara mereka.
Pria itu mengenakan zirah naga perak yang berkilau. Sorot matanya setajam pedang, mengunci pandangan Li Mei Feng hingga sang putri palsu itu terdiam seketika.
Itu adalah Pangeran Zhang Yong dari Kerajaan Shen Long.
Zhang Yong tidak menatap Li Mei Feng. Matanya tertuju pada sosok gadis bercadar di ujung jalan. Untuk sesaat, udara seolah berhenti berputar. Zhang Yong bisa merasakan getaran energi yang kuat, sebuah getaran rasa yang hanya bisa dirasakan oleh Naga Emas ketika bertemu dengan Phoenix Emas yang asli.
"Putri Li Mei Feng," suara Zhang Yong terdengar dingin. "Apakah Kerajaan Feng Ling sekarang memiliki hobi menghancurkan tempat pengobatan rakyat?"
Li Mei Feng terkejut. Wajahnya yang semula angkuh mendadak pucat pasi. Ia segera memaksakan senyum manis yang kaku. "Pangeran Zhang Yong, Anda salah paham. Wanita ini bukan tabib, dia hanyalah penipu. Saya hanya ingin melindungi rakyat Feng Ling."
Zhang Yong turun dari kudanya dengan wibawa penuh. "Penipu? Aku baru saja melewati perbatasan Utara, dan rakyat di sana memuja seorang tabib bercadar putih yang menyembuhkan wabah tanpa meminta bayaran. Apakah itu juga penipuan, wahai Putri?"
Li Mei Feng menggigit bibir, lalu menatap Jin Lim Jian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kakak Lim Jian, lihatlah... Pangeran Zhang Yong lebih memercayai orang asing daripada aku. Hatiku sangat sakit."
Jin Lim Jian langsung merasa iba. Ia menyeka sudut mata Li Mei Feng, kemudian menatap Zhang Yong.
"Pangeran, adikku hanya mencemaskan ketertiban kota. Gadis bercadar ini... dia memang sering terlihat di kedai-kedai minuman rendah. Dia bukan gadis baik-baik."
Ling Xie akhirnya menengadah. Di balik cadarnya, matanya berkilat tajam bukan karena benci, tapi karena harga diri yang diinjak.
"Pangeran Jin Lim Jian," suara Ling Xie memotong dingin. "Ketulusan seseorang tidak ditentukan oleh di mana dia berdiri, tetapi oleh apa yang ia lakukan dengan tangannya. Jika menolong rakyat yang sedang sekarat dianggap sebagai dosa, maka biarlah aku menjadi pendosa."
Mendengar suara itu, tanda Phoenix di bahu Ling Xie berdenyut panas, merespons kehadiran Zhang Yong yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
"Lancang sekali kau!" bentak Li Mei Feng. "Pengawal, tangkap dia! Bawa dia ke alun-alun untuk dicambuk karena telah menghina martabat istana!"
Para pengawal mulai bergerak, namun sebuah aura naga emas yang sangat kuat mendadak terpancar dari tubuh Zhang Yong, menghentikan langkah mereka.
"Siapa pun yang berani menyentuhnya, harus berhadapan dengan Pedang Naga Emasku," ucap Zhang Yong dingin.
Li Mei Feng gemetar karena malu dan marah.
"Pangeran Zhang Yong! Kau membela seorang wanita seperti ini?"
"Cukup, Li Mei Feng!" Sebuah teguran berat datang dari Jin Ling Jian, Kakak Pertama dari Kerajaan Feng Ling. Ia datang menunggangi kuda perang perkasa dengan zirah tempur yang berderit.
Jin Ling Jian menatap adiknya, Li Mei Feng, dengan tatapan menusuk. "Kau adalah Putri Kerajaan Feng Ling. Tidak pantas berteriak seperti wanita biasa di jalanan. Pulanglah ke istana sekarang!"
"Tapi Kakak Jin.."
"Sekarang!" perintah Jin Ling Jian tanpa bantahan.
Li Mei Feng hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal dan memerintahkan keretanya untuk pergi. Setelah kereta itu menjauh, Jin Ling Jian beralih menatap Ling Xie. Ia merasakan kerinduan yang aneh pada gadis asing ini, namun ia tetap mempertahankan wajah kaku.
"Nona, jika kau benar-benar seorang tabib, berhati-hatilah. Li Mei Feng memang suka semena-mena."
Ling Xie hanya membungkuk singkat, lalu berbalik pergi tanpa kata. Jin Ling Jian pun pergi meninggalkan lokasi, diikuti oleh Zhang Yong yang sempat memberikan tatapan terakhir yang dalam pada Ling Xie sebelum melanjutkan tugasnya.
Ibu Kota Feng Ling berdiri kokoh di atas puncak tebing yang selalu diselimuti awan putih, layaknya negeri di atas awan. Istana pusatnya memiliki julukan Istana Sayap Langit, karena atapnya melengkung tajam menyerupai kepak sayap Phoenix, dengan pilar-pilar marmer yang dihiasi relief emas burung mistis tersebut.
Namun, kemegahan itu terasa sangat jauh dari Dusun Bara Rendah, tempat Ling Xie tinggal. Di ujung pasar dusun yang berdebu, berdiri sebuah klinik sederhana di papan nama "Pondok Kayu Tabib Cadar Putih" (Baiyi Shenyi Mu-Lu).
Setiap fajar, antrean penduduk sudah mengular di halaman. Di dalam ruang tamu sempit yang harum akan aroma akar-akaran dan tanaman herbal, Ling Xie bekerja. Ia memiliki sebuah kotak obat kuno dari kayu cendana hitam berisi dua jenis jarum akupunktur: jarum perak untuk kaum bangsawan, dan jarum biasa untuk rakyat jelata.
Ling Xie diasuh oleh Zheng Lao San dan Chen Niang. Pasangan itu sebenarnya kaya raya dari usaha kain sutra dan Hanfu mewah yang dipasok ke istana, namun keserakahan telah membutakan hati mereka. Bagi mereka, Ling Xie hanyalah "pohon uang". Segala upah yang didapatkan Ling Xie dari mengobati pasien harus diserahkan tanpa sisa kepada mereka.
"Aku yang menulis karakter orang tua angkat ini, untuk menjadi sosok yang dibenci pembaca," ucap Ling Xie dalam hati, sambil menyerahkan sekantong koin perak kepada Chen Niang pagi itu. Tapi merasakannya sendiri ternyata sepuluh kali lebih menyebalkan.
Keheningan Dusun Bara Rendah pecah oleh derap kaki kuda yang kencang. Dari jendela, Ling Xie melihat Kasim Han Gui Zhong datang dengan mandat emas di tangannya. Jantung Ling Xie berdegup kencang. Apakah ini karena kejadian dengan Li Mei Feng kemarin?
Ia segera mengenakan cadar putihnya. Kasim Han masuk dan membungkuk hormat.
"Tabib Agung, mohon kemurahan hati Anda. Ibu Suri di Paviliun Feng Ling sedang dalam kondisi kritis. Ini adalah perintah langsung dari Kaisar Jin Feng."
Langkah kaki Ling Xie terasa berat saat menapaki lantai marmer putih istana. Di depannya, Kasim Han berjalan dengan wajah tegang.
"Tetaplah menunduk," bisik Kasim Han serak.
"Jangan bicara kecuali Kaisar memintamu!"
Alih-alih langsung ke paviliun, Ling Xie langsung di bawa ke Aula Keagungan.
Di atas singgasana Phoenix, duduklah Kaisar Jin Feng. Di sampingnya, Permaisuri Yan Shi yang cantik namun memiliki tatapan tajam, serta ketiga anak mereka Jin Ling Jian, Jin Lim Jian, dan sang putri palsu, Li Mei Feng.
Setelah memberi penghormatan, Ling Xie segera diantar menuju Paviliun Feng Ling. Di sana, Ibu Suri Zhao He terbaring lemah. Ling Xie segera memeriksa nadi sang Ibu Suri.
" Nadi yang kuat, keras, dan sulit ditekan... ini bukan penyakit biasa," gumam nya.
Sebagai penulis cerita ini, sebuah ingatan mendadak muncul di kepala Ling Xie.
"Tunggu... aku ingat! Di draf novelku, Ibu Suri tidak sakit parah, dia diracuni secara perlahan menggunakan jamur liar beracun!" gumamnya dalam hati.
Ling Xie segera mengambil jarum perak dan menusukkannya ke beberapa titik akupunktur. Tiba-tiba, tubuh Ibu Suri bereaksi. Ia terbangun dan memuntahkan darah hitam yang berbau tajam.
"Astaga! Apa yang kau perbuat, tabib bodoh!" teriak Li Mei Feng yang baru saja masuk bersama Permaisuri Yan Shi.
"Kau mencoba membunuhnya!" Permaisuri Yan Shi maju dengan marah, menarik paksa Ling Xie hingga cadar putihnya terlepas sesaat.
"Pengawal! Tangkap wanita jahat ini!" perintah Permaisuri Yan Shi sambil berteriak.
Ling Xie di tangkap oleh dua orang pengawal istana Feng Ling. Kedua pengawal itu memegang tangan Ling Xie dengan erat. Ling Xie melepaskan cengkraman tangan para pengawal itu dengan sangat keras. Ling Xie segera membetulkan cadarnya dan bersujud tenang, menghadap Permaisuri Yan Shi.
"Ampun, Yang Mulia. Ini adalah reaksi pembersihan racun."
Ia kemudian memanggil Kasim Xiao, asisten yang ditunjuk kaisar untuk membantunya.
"Kasim Xiao, siapkan ramuan ini sekarang juga!"
Setelah ramuan dicampur madu asli diminumkan, perlahan-lahan Ibu Suri Zhao He mulai sadar. Matanya terbuka, dan napasnya kembali teratur.
"Tabib... sakit apakah aku ini?" tanya Ibu Suri dengan suara lemah.
"Ampun, Ibu Suri. Anda tidak memiliki penyakit berbahaya. Tubuh Anda hanya bereaksi terhadap racun dari makanan yang Anda konsumsi," jawab Ling Xie tenang namun tegas.
Mendengar kata keracunan wajah Permaisuri Yan Shi dan Li Mei Feng mendadak pucat. Itu adalah ulah mereka! Mereka sengaja memasukkan jamur liar beracun ke dalam hidangan Ibu Suri agar wanita tua itu segera tiada.
"Keracunan makanan?" Li Mei Feng berpura-pura terkejut dan hampir pingsan.
"Nenek... nenek, apakah kau baik-baik saja?" Ia mencoba memeluk Ibu Suri dengan kasih sayang palsu.
Namun, di luar dugaan, Ibu Suri Zhao He justru mendorong Li Mei Feng hingga gadis itu terjatuh ke lantai.
"Lepaskan aku! Jangan menyentuhku!" bentak Ibu Suri dingin.
"Yang Mulia Ibu Suri, mengapa Anda mendorong Li Mei Feng? Dia adalah cucu kesayangan Anda!" seru Permaisuri Yan Shi sambil membantu anaknya berdiri, wajahnya menunjukkan kesedihan yang dibuat-buat.
Ibu Suri hanya memalingkan wajah, seolah instingnya mulai menyadari siapa yang tulus dan siapa yang beracun di ruangan itu.
Ling Xie berdiri diam, menyaksikan drama yang dulu ia tulis sendiri. Ia tahu ini baru permulaan.
"Yang Mulia Permaisuri, Putri Li Mei Feng.. tolong biarkan Ibu Suri beristirahat untuk memulihkan kondisinya."
Dengan wajah merah padam karena kesal, Li Mei Feng dan ibunya akhirnya keluar dari paviliun itu, meninggalkan Ling Xie sendirian menjaga Ibu Suri yang kini menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
Saat di kamar pribadi milik putri Li Mei Feng. Ibu dan anak itu, merasa kesal sekali.
"Seperti nya...tabib cadar putih itu, memiliki niat tidak baik, Yang mulia!" ujar Dayang Cui Er, dayang pribadi Putri Li Mei Feng.
"Bu, seperti nya yang di katakan dayang itu memang ada benarnya, juga." sahut Li Mei Feng pada Ibunya.
"Kita harus waspada, Yang Mulia!" sahut Dayang Su Yan, seorang dayang pribadi Permaisuri Yan Shi.
"Benar! Kita harus waspada! Seperti nya..dia menginginkan sebuah posisi terpenting di kerajaan ini!" ucap Putri Li Mei Feng mempengaruhi permaisuri Yan Shi.
"Lihatlah Ling Xie..aku tidak akan tinggal diam! aku tidak ingin kau menghancurkan semua rencana ku!" gumam Putri Li Mei Feng dalam hatinya dengan wajah liciknya.
"Ini baru permulaan, putri palsu! Aku akan rebut kembali apa yang di takdirkan untuk Ku! Dan kau akan membayar mahal untuk ini!" gumam Ling Xie dalam hatinya, seraya menatap dalam wajah Li Mei Feng.
Suasana di paviliun Feng Ling di pagi itu, sangat berlawanan dengan muram kelamnya batin Li Mei Feng. Mengapa tidak, Ibu Suri Zhao He, kemarin terlihat hampir meregang nyawa, kini duduk Tegak di ranjangnya dengan wajah jauh lebih sehat dari sebelumnya. Yang lebih membuatnya kesal adalah, Ling Xie si tabib cadar murahan itu yang telah menyembuhkan penyakit ibu suri. Seharusnya Ibu suri mati secara perlahan dengan penyakit menggerogoti tubuhnya.
"Iih! Awas kau Tabib Cadar Putih! Beraninya kau merusak rencanaku!" ucap Li Mei Feng dalam hatinya.
Pagi, itu Ling Xie si tabib cadar putih memang tidur di samping kasur tempat tidur ibu suri. Pagi itu Ling Xie masih merawat Ibu Suri, Ia mulai memeriksa denyut nadi.
"Kau sudah bangun, Tabib!" sapa Ibu Suri Zhao He yang melihat Ling Xie duduk di kursi samping tempat tidur nya.
"Eh, Yang Mulia Ibu Suri. Mari, saya periksa dulu denyut nadi, anda." sahut Ling Xie sambil berdiri meraih tangan Ibu Suri.
"Syukur, Yang Mulia. Denyut nadi nya sudah stabil," kata Ling Xie si tabib cadar putih.
Wajah Ibu Suri sedang sekali mendengar perkataan dari mulut tabib cadar putih itu.
"E...Tabib cadar putih...bolehkah aku mengetahui nama aslimu? Biar aku lebih enak menyapamu," tegur Ibu Suri Zhao He.
"Hormat hamba, Yang Mulia Ibu Suri. tentu saja boleh. Nama hamba, Ling Xie." sahut Ling Xie.
"Nama yang bagus. Cantik, seperti hatinya," puji Ibu Suri Zhao He.
Dayang senior Istana bernama Si Yi, berdiri di samping tempat tidur Ibu Suri. Ibu Suri Zhao He, memanggil dayang senior Si Yi.
"SiYi! Kemari lah!" panggil Ibu Suri.
Si Yi berjalan perlahan dengan langkah anggun namun tegas, menundukkan kepala, lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil membungkuk dalam-dalam di hadapan tempat tidur Ibu Suri Zhao He.
"Dayang Senior Si Yi memberi salam hormat kepada Ibu Suri Zhao He. Semoga Ibu Suri dianugerahi kesehatan, kedamaian, dan umur panjang yang tak bertepi." posisi sedikit membungkuk, menunggu isyarat untuk bicara.
"Hamba memenuhi panggilan Yang Mulia Ibu Suri. Segala titah dan perintah Anda, hamba siap mendengarkan dan melaksanakannya dengan sepenuh hati,"
"Segera ambilkan hadiah, yang sudah aku persiapkan untuk tabib Ling Xie," perintah Ibu Suri pada Sayang senior Si Yi.
"Baik, Yang Mulia Ibu Suri," sahut Dayang Senior Si Yi sambil sedikit membungkuk dengan posisi tangan di depan dada.
Dayang senior Si Yi membawakan hadiah sepeti kecil. Dan Begitu di buka, peti itu sebuah baju hanfu putih hijau yang mewah, dan Giok batu berwarna putih hijau sebagai hadiah, karena telah menyembuhkan penyakit Ibu Suri.
"Ambilah! Itu hadiah untuk mu," perintah Ibu Suri kepada Ling Xie.
Ling Xie menghampiri hadiah itu.
"Woow...ini semua untuk, hamba Yang Mulia?" tanya Ling Xie merasa senang.
"Iya, ini untuk mu." sahut Ibu Suri Zhao He sambil tersenyum.
Lalu Ling Xie menghampiri Ibu Suri Zhao He, dan duduk. Ia merasa tidak pantas memilki hadiah semewah itu. Karena itu terlalu mahal untuk nya.
"Maaf, Yang Mulia Ibu Suri. Hamba..tidak pantas menerima hadiah pemberian anda. Ini..terlalu mahal untuk hamba. Berilah sekedarnya saja," ujar Ling Xie dengan penuh rasa segan.
Ibu suri Zhao He meraih tangan nya dan menaruh tangan beliau tepat di atas tangan nya seraya berkata," Ling Xie...tak perlu menolaknya. Ini ucapan terima kasihku padamu. Apa kamu tidak menyukainya?"
"Bu...bukan begitu Yang Mulia. Hanya saja..hamba merasa ini terlalu istimewa untuk hamba." sahut Ling Xie dengan rasa segan.
Ibu Suri Zhao He terus saja memaksanya untuk menerima hadiah itu. Ia pun menerima hadiah pemberian itu.
"Terimakasih banyak, Yang Mulia Ibu Suri. Hamba sungguh berterima kasih,"
Tepat saat Ling Xie menyimpan peti hadiah itu ke dalam lengan bajunya dan mengucapkan terima kasih, tiba-tiba suara perangkat yang jelas dan dingin langsung bergema di dalam kepalanya, bersamaan dengan munculnya tulisan berwarna emas di layar biru di hadapannya.
[SISTEM ALUR CERITA]
PEMBERITAHUAN STATUS TUGAS
Tugas Pertama : Selesai Sempurna.
Selamat Kepada Tuan Rumah Ling Xie.
Anda telah menyelesaikan tugas, bagian awal dari misi terpenting ini. Tindakan anda yang telah membantu mengobati, dan menyembuhkan Ibu Suri Zhao He yang keracunan. Telah berjalan dengan sempurna, dengan alur yang anda tulis sendiri.
Poin yang di dapatkan : +5 Poin utama.
Hadiah Tambahan: Kepercayaan penuh dari Ibu Suri Zhao He, akses ke Paviliun Tamu Agung, serta wewenang istana yang sah.
Catatan Penting Sistem:
Penerimaan hadiah Hanfu putih-hijau dan Giok pelindung. Telah di konfirmasi bahwa itu sebagai bukti kuat posisi anda di istana.
Peringatan:
Tahap selanjutnya, tugas kedua anda mengungkap pelaku yang telah meracuni Ibu Suri Zhao He dan membuat pelaku nya mengakui kesalahannya di depan Kaisar Jin Feng. Dengan hadiah Poin +5.
Tersangka utama : Putri Palsu Li Mei Feng. Tugas itu dimulai dari sekarang!
Waktu anda 3 hari, untuk menyelesaikan tugas ini.
"Hah, Yang benar saja! Tugas itu sangat berat. Bisakah memperpanjang waktunya menjadi 1 Minggu." usul Ling Xie pada Sistem Perangkat.
"Maaf, Nona Ling Xie! Tugas ini tidak ada tawar-menawar," kata sistem perangkat.
Lalu Sistem Perangkat itupun menghilang. Tak lama kemudian, Dayang Si Yi datang bersamaan dengan Dayang Bai Zhi. Dayang, yang akan menjadi asisten pribadi Ling Xie, selaku tabib cadar putih kepercayaan ibu suri Zhao He.
"Salam Hormat kami, kepada Tabib Ling Xie. Hamba di perintahkan oleh Ibu Suri Zhao He, membawa dayang Su Yan, sebagai asisten pribadi Tabib Ling Xie," ujar Dayang Senior Si Yi, sambil membungkuk badan seraya tangan ke atas dada, sebagai bukti penghormatan.
"Baiklah," sahut Ling Xie.
Lalu, Dayang Senior Si Yi pamit undur diri. Dayang Si Yi, kembali ke Paviliun Feng Ling, kembali ke sisi Ibu Suri Zhao He. Sedangkan Dayang Bai Zhi l, berada di paviliun Tamu Agung, menemani Ling Xie di sana.
"Tabib Ling Xie..mengapa tak di coba saja, hadiah bajunya? Pasti Tabib Ling Xie cantik," usul Dayang Bai zhi sambil memuji Ling Xie.
"Oh, Ya Bai Zhi . Tolong Panggil Nona Ling Xie saja, biar lebih akrab." pinta Ling Xie.
"Baiklah, Nona Ling Xie. Mari saya bantu memakaikan nya." ujar Dayang Bai Zhi.
Dayang pun membantu Ling Xie memakai baju hanfu pemberian dari ibu suri Zhao He tadi. Setelah selesai, Ling Xie berputar seraya berkata," Bagaimana menurut mu, Su Yan?"
"Wah..Nona Ling Xie sangat cantik. Seperti putri kerajaan saja," puji Dayang Bai Zhi padanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!