Lantunan selawat menggema indah di dalam masjid agung yang berdiri megah dengan pilar-pilar putih menjulang. Hari ini, tempat suci ini menjadi saksi dari sebuah perhelatan besar yang menyatukan dua keluarga terpandang. Ratusan tamu undangan memadati ruangan, semuanya serasi mengenakan pakaian serba putih melambangkan kesucian, keberkahan, dan awal yang baru. Senyum bahagia terukir jelas di wajah Kiai Malik dan sang sahabat, menyambut para tamu yang hadir untuk menyaksikan penyatuan dua nasab pesantren besar yang telah lama direncanakan.
Namun, di sudut pilar belakang yang temaram, atmosfer terasa amat kontras.
Seorang wanita berdiri membeku di sana. Di tengah lautan manusia berpakaian putih bersih, ia menjadi satu-satunya titik kelam yang mencolok, namun tersembunyi. Ia mengenakan gamis hitam pekat, lengkap dengan selendang hitam yang dililitkan erat untuk menutupi rambutnya. Tidak hanya itu, sebuah cadar kain berwarna senada menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata indahnya yang kini telah membengkak dan memerah. Air mata tak berkesudahan mengalir menyusuri pipinya, membasahi kain pelindung itu hingga terasa lembap dan menyesakkan.
Dia adalah Evelyn. Wanita yang selama bertahun-tahun ini menjadi pemilik seutuhnya dari hati Gus Arsalan di London. Evelyn bukanlah wanita biasa yang bisa dipandang sebelah mata. Di luar negeri, ia dikenal sebagai seorang penulis novel terkenal yang karya-karyanya selalu menyentuh hati jutaan orang, mengoyak emosi pembaca dengan diksi-diksi indahnya. Dia cerdas, cantik, mandiri, dan memiliki masa depan yang gemilang. Namun, secerdas apa pun dia dalam merangkai alur cerita dan menuntun takdir karakter-karakter fiktifnya, Evelyn tidak pernah bisa menulis takdirnya sendiri untuk bersanding dengan pria yang teramat dicintainya.
Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di dalam masjid itu menguap habis. Dengan sisa keberanian yang perlahan runtuh dan lutut yang gemetar hebat, Evelyn melangkah maju. Ia membelah kerumunan putih yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Sesuai dengan adat pernikahan Muslim yang taat di pesantren ini, akad nikah dilangsungkan tanpa kehadiran mempelai wanita di sisi pria. Ning Humaira, sang pengantin wanita, tidak duduk di samping Arsalan. Gadis itu berada di sebuah ruangan khusus di lantai atas masjid, menunggu dengan khusyuk ditemani para ibu nyai, terpisah dari pandangan kaum pria hingga ikatan suci itu sah terucap.
Fakta bahwa mereka dipisah tidak mengurangi rasa sakit di hati Evelyn. Justru, kesunyian dan kesakralan momen ini membuat hatinya semakin teriris. Ia terus berjalan mendekat ke arah aula utama, tempat meja akad nikah diletakkan, berhenti tepat di balik pembatas saf agar bisa melihat punggung pria yang amat dirindukannya.
Tepat saat Evelyn sampai di sana, suasana masjid mendadak hening seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Di depan sana, Gus Arsalan duduk tegap menghadap Kiai Malik. Arsalan terlihat begitu tampan dan berwibawa dengan beskap putihnya, namun dari posisi ini, Evelyn tahu betul bahwa bahu tegap itu sedang tegang. Tatapan mata Arsalan kosong, sedingin es, menatap lurus ke arah meja akad tanpa ada binar bahagia sedikit pun. Tidak ada senyuman, tidak ada binar cinta. Hanya ada kepatuhan buta seorang anak pada titah orang tuanya.
Abah Humaira menjabat erat tangan Arsalan, menjalin genggaman yang akan memindahkan seluruh tanggung jawab dunia dan akhirat seorang putri kepada seorang suami. Detik berikutnya, suara lantang Arsalan menggema di seluruh sudut masjid, mengucapkan kalimat ijab kabul dalam bahasa Arab yang fasih, berat, dan menggetarkan arsy.
*"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka..."*
Kalimat itu meluncur tanpa keraguan secara syariat. Arsalan mengucapkannya dalam satu tarikan napas yang mantap. Namun bagi Evelyn, setiap kosakata Arab yang keluar dari bibir pria itu bagaikan belati tajam yang merobek jantungnya menjadi kepingan tak berbentuk. Pria yang berjanji akan memperjuangkan cintanya di London, pria yang memeluknya di bawah rintik hujan kota asing itu, kini resmi mengikatkan jiwanya pada wanita lain di hadapan Allah.
"SAH!"
Kata itu bergaung kompak dari para saksi dan diaminkan oleh ratusan orang yang hadir. Air mata Evelyn menetes semakin deras, menembus kain cadar hitamnya. Tangisnya pecah tanpa suara di tengah gemuruh ucapan alhamdulillah dan doa-doa suci yang dipanjatkan untuk kedua mempelai. Sakitnya begitu menghujam, membuat tubuhnya lemas hingga ia harus berpegangan pada pilar masjid agar tidak terjatuh ke lantai. Di atas sana, di ruangan tersembunyi, Humaira mungkin sedang menangis haru atau pasrah, sementara di bawah sini, ada hati yang tewas seketika.
Tak sanggup lagi menghirup udara di dalam masjid yang terasa semakin mencekik dan membakar dadanya, Evelyn berbalik. Ia berlari secepat mungkin, menerobos kerumunan putih dengan air mata yang terus mengalir menyusuri pipinya. Ia ingin pergi, menghilang, dan berlari sejauh mungkin dari kenyataan pahit yang baru saja meremukkan seluruh hidupnya.
Evelyn terus berlari keluar menuju halaman masjid yang luas, mengabaikan tatapan heran dari beberapa orang yang melihat seorang wanita bercadar hitam berlari dalam tangis. Langkah kakinya baru terhenti ketika sebuah sosok tinggi tegap menghadang jalannya di dekat gerbang keluar.
"Sudah puas melihatnya?"
Suara berat dan familier itu membuat Evelyn menghentikan langkahnya yang gemetar. Ia mendongak dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Di depannya berdiri Jordan, sahabat karibnya sesama perantau di London yang sengaja mengantarnya dan menemaninya terbang jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk memastikan keselamatan wanita ini. Tatapan Jordan penuh dengan rasa iba yang mendalam sekaligus kekecewaan melihat bagaimana seorang penulis hebat sekelas Evelyn bisa hancur lebur hanya demi sebuah masa lalu yang tak punya masa depan.
Evelyn tidak bisa menjawab. Bibirnya di balik cadar bergetar hebat. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa meremas dadanya yang teramat perih, menangis sejadi-jadinya di bawah terik langit siang itu, meratapi akhir tragis dari cerita cintanya yang telah habis dibakar oleh takdir orang lain.
Malam telah larut merayap di atas kompleks Pesantren Al-Anwar. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dan selawat yang tadi siang bergemuruh di seantero pondok, kini telah berganti dengan keheningan yang mencekam. Di sebuah rumah kayu jati yang megah kediaman milik Abi dan Umi dari Gus Arsalan sebuah kamar pengantin telah disiapkan dengan begitu indah.
Aroma kelopak bunga mawar merah dan melati menyeruak, berbaur dengan wewangian kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan. Kamar itu begitu cantik, dihiasi kain-kain brokat putih dan ranjang besar bertirai marun yang anggun. Namun, bagi Ning Humaira, keindahan kamar ini tak lebih dari sebuah dekorasi sebuah sangkar emas yang siap mengurung kebebasannya.
Humaira duduk membeku di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun putih panjangnya, namun cadar yang tadi siang menutupi wajahnya kini sudah dilepas, diletakkan dengan rapi di atas meja rias. Wajah manisnya yang biasa dihiasi senyum ceria dan tawa lepas di depan sahabat-sahabatnya, malam ini tampak begitu pias. Matanya yang bulat sepasang binar yang biasanya teduh kini meredup, menyiratkan ketakutan, kebingungan, dan rasa lelah yang luar biasa.
Di pondok pesantrennya sendiri, Humaira dikenal sebagai sosok Ning yang mandiri, bahkan cenderung "bar-bar" dan ceplas-ceplos jika sudah berada di lingkaran orang terdekatnya. Namun malam ini, semua ego dan topeng ketangguhannya runtuh. Di kamar ini, dia hanyalah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menyerahkan seluruh sisa hidupnya kepada seorang pria asing melalui selembar kertas akad.
Cklek.
Suara knop pintu yang berputar membuat jantung Humaira mencelos. Tubuhnya menegang seketika.
Gus Arsalan melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan jas beskap pengantinnya, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan dada bidangnya yang tegap. Perawakan tinggi tegap bak model panggung Paris itu bergerak dengan langkah yang teramat santai, namun memancarkan aura dingin yang membekukan atmosfer di dalam kamar. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas menatap lurus ke depan, sama sekali tidak melirik ke arah Humaira yang duduk gemetar di ujung tempat tidur.
Arsalan berjalan menuju meja, meletakkan jam tangan mewahnya dengan ketukan yang terdengar nyaring di tengah kesunyian. Ia menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar penuh beban dan kepasrahan yang dipaksakan.
Humaira meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Sesuai ajaran ummahnya, ia harus menyambut suaminya dengan takzim. Dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dada, Humaira memberanikan diri untuk berbicara.
"Gus... mau kulo bantu lepaskan kemejanya? Atau... Njenengan mau kulo siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Humaira, mencoba menggunakan bahasa krama inggil yang sehalus mungkin, wujud rasa hormatnya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.
Arsalan tidak langsung menjawab. Pria itu membalikkan badannya perlahan. Sepasang mata elang milik Arsalan menatap Humaira. Tatapan itu begitu tajam, namun kosong dari rasa hangat. Tidak ada binar kagum melihat kecantikan Humaira yang malam ini begitu bersinar. Yang ada hanyalah jarak sejauh ribuan mil, seolah ada dinding kaca raksasa yang memisahkan jiwa mereka.
Arsalan melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Humaira yang mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Humaira," suara Arsalan terdengar datar, berat, dan teramat tenang. Namun ketenangan itulah yang justru terasa mencekik. "Pernikahan ini terjadi karena kepatuhan saya pada Abi dan Umi. Dan saya tahu, kamu pun berada di sini karena titah dari Abahmu."
Humaira menahan napasnya. Dadanya mulai terasa sesak.
Arsalan menatap lurus ke dalam manik mata Humaira, sebelum kalimat yang paling ditakuti oleh setiap wanita di malam pertamanya meluncur tanpa belas kasihan dari bibirnya yang dingin.
"Saya akan memenuhi seluruh kebutuhan lahirmu, Humaira. Rumah ini, pakaian, uang, dan segala fasilitas materi yang kamu butuhkan sebagai seorang istri dari seorang Gus, tidak akan pernah saya kurangi sepeser pun. Tugas saya memberi nafkah lahir akan saya tunaikan dengan sempurna sebagai kewajiban saya kepada Allah."
Arsalan mengambil jeda sesaat, menatap lekat wajah pias di depannya dengan kilatan rasa bersalah yang langsung ia tepis dengan ego.
"Tapi tidak dengan batinmu. Jangan pernah meminta hati saya, jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu, dan jangan pernah menuntut kasih sayang seorang suami dari saya. Karena nafkah batin itu... tidak akan pernah bisa saya berikan untukmu. Hati saya sudah mati di London, dan pemiliknya bukan kamu."
Deg.
Bagai dihantam godam tak kasat mata tepat di ulu hatinya, pertahanan Humaira runtuh seketika. Kalimat itu begitu singkat, diucapkan dengan intonasi yang lembut, namun dampaknya sanggup menguliti dan mencabik-cabik harga diri Humaira hingga menjadi serpihan yang tak berbentuk lagi. Sakitnya begitu perih, menyayat tanpa mengeluarkan setetes darah pun.
Humaira merasakan dadanya seperti dihimpit batu besar, membuatnya kesulitan untuk sekadar menarik napas. Air mata yang sejak tadi siang ia tahan mati-matian, kini tumpah tak terbendung, mengalir deras membasahi pipi manisnya. Bibirnya bergetar hebat, ingin membantah, ingin berteriak menanyakan mengapa dia harus menanggung hukuman atas cinta masa lalu suaminya, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Arsalan yang melihat air mata itu menetes, sempat tertegun selama beberapa detik. Ada dorongan naluriah di dalam dirinya untuk menghapus air mata di pipi istrinya, namun bayangan wajah Evelyn—wanita yang menangis di balik cadar hitam di sudut masjid tadi siang—kembali melintas di pikirannya. Rasa bersalah karena telah mengkhianati janji cintanya pada Evelyn di London membuat Arsalan mengeraskan hatinya kembali. Ia menarik mundur jaraknya, berbalik memunggungi Humaira.
"Saya akan tidur di sofa. Kamar mandi silakan kamu pakai duluan," ucap Arsalan dingin, sebelum melangkah pergi menuju sofa panjang yang terletak di sudut kamar, membawa sebiji bantal dan selimut tipis.
Humaira ditinggalkan sendirian di atas ranjang pengantin yang luas dan penuh bunga melati itu. Begitu punggung Arsalan menjauh, Humaira langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia tidak ingin tangisnya terdengar hingga ke luar kamar, ia tidak ingin membuat Umi dan Abi yang mungkin berada di ruang tengah mendengar bahwa malam pertama putra-putri mereka dipenuhi dengan luka.
Tubuh Humaira merosot dari ranjang, terduduk di atas lantai yang dingin bersandarkan pinggiran tempat tidur. Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan membiarkan seluruh rasa sakit, kehinaan, dan penolakan itu tumpah dalam tangis yang terisak-isak tanpa suara.
Malam pertama yang seharusnya menjadi malam paling suci dan penuh berkah dalam hidup seorang wanita, justru menjelma menjadi malam penuh duri yang menyayat hati terdalam Ning Humaira. Di dalam kamarnya sendiri, di bawah atap pesantren yang suci, ia meratapi nasibnya yang kini berstatus sebagai seorang istri yang halal, namun selamanya akan tetap dianggap asing oleh suaminya sendiri.
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa semburat warna jingga yang perlahan mengusir pekatnya malam di atas langit Pesantren Al-Anwar. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dari speaker masjid dan langkah kaki para santri yang bergegas menuju aula salat Subuh mulai terdengar, memecah kesunyian kompleks pondok.
Di dalam kamar pengantin yang masih menyisakan aroma layu kuncup melati, Humaira sudah terbangun sejak sepertiga malam. Matanya sembap, menyisakan rona merah di sekeliling kelopaknya akibat tangis yang tak kunjung usai hingga menjelang subuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah manis yang biasanya memancarkan binar ceria itu kini tampak begitu lelah dan pias. Namun, didikan abah dan ummahnya telah menanamkan satu hal yang tertanam kuat di kepalanya: seorang wanita harus menjaga muruah dan kehormatan suaminya, apa pun yang terjadi di dalam rumah tangga mereka.
Humaira menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak yang masih bergelayut di dadanya. Ia segera berwudu, mengenakan mukena putih bersih, dan bersiap melaksanakan salat Subuh. Sebelum takbiratulihram, matanya melirik ke arah sofa di sudut kamar.
Di sana, Gus Arsalan masih terlelap. Tubuh tingginya tampak meringkuk kekecilan di atas sofa panjang itu. Wajah tampannya yang kemarin malam begitu dingin dan kejam saat melontarkan kalimat penolakan, kini terlihat begitu tenang saat tertidur. Sisi rapuh yang selalu ia sembunyikan di balik keangkuhan pergaulan London-nya seolah menguar begitu saja.
Humaira mendekat dengan langkah sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia berlutut di samping sofa, menatap wajah suaminya dari dekat. Hatinya kembali berdenyut perih mengingat ucapan Arsalan beberapa jam yang lalu. 'Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu.' Kalimat itu masih terngiang jelas, menguliti harga dirinya sebagai seorang Ning dan seorang wanita.
"Gus... tangisilah wanita yang Njenengan cintai di London," bisik Humaira teramat lirih, nyaris seperti embusan angin. "Tapi tolong, jangan hukum kulo atas takdir yang tidak pernah kulo minta ini."
Satu titik air mata kembali lolos di sudut mata Humaira, cepat-cepat ia hapus sebelum menyentuh mukenanya. Ia kemudian menyentuh pundak Arsalan perlahan, menggoyangkannya lembut. "Gus... Gus Arsalan, paring azan subuh sampun berkumandang. Mboten kesiangan, Gus."
Arsalan melenguh, sepasang mata elangnya perlahan terbuka. Begitu kesadarannya pulih dan mendapati wajah Humaira yang berbalut mukena berada sangat dekat dengannya, sorot mata dingin itu kembali hadir. Ia langsung terduduk tegak, memijat pangkal hidungnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia segera bangkit, menyambar handuk, dan melangkah masuk ke kamar mandi tanpa sekalipun menatap mata istrinya.
Humaira hanya bisa menghela napas pasrah. Satu pekan ke depan akan menjadi awal dari sandiwara terpanjang dalam hidupnya.
Satu minggu berlalu seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca bagi Humaira. Setiap hari, ia menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan sangat sempurna, tanpa cela. Sebelum Arsalan terbangun, pakaian koko yang sudah disetrika rapi, sarung tenun terbaik, dan wewangian sudah tertata di atas ranjang. Di dapur, Humaira selalu membantu Umi Arsalan memasak, menyiapkan makanan kesukaan suaminya dengan tangannya sendiri.
Arsalan menerima semua pelayanan itu. Ia memakan masakan Humaira, ia memakai pakaian yang disiapkan Humaira, dan ia memberikan uang nafkah lahir dalam jumlah yang sangat lebih dari cukup setiap awal pekan. Namun, semuanya dilakukan dalam keheningan yang mencekam. Di dalam rumah, mereka layaknya dua orang asing yang tidak sengaja menyewa kamar di penginapan yang sama. Tidak ada obrolan, tidak ada candaan, bahkan tidak ada kontak mata yang berlangsung lebih dari tiga detik.
Namun, segalanya akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika mereka melangkah keluar dari pintu rumah kayu tersebut.
Pagi itu, komplek pesantren kedatangan kunjungan dari para kiai sepuh dari luar kota. Sesuai agenda, Gus Arsalan dan Ning Humaira harus ikut menyambut dan menemani Abi dan Umi di ndalem utama untuk menemui para tamu.
"Humaira, gandeng tangan suamimu. Pengantin baru kok jalannya jauh-jauhan begitu," goda Umi Khadijah, ibunda Arsalan, saat melihat keduanya berjalan beriringan di selasar menuju ndalem namun menyisakan jarak satu meter.
Mendengar teguran itu, tubuh Humaira menegang. Namun, sebelum ia sempat berbuat apa pun, sebuah tangan yang besar, hangat, dan kekar tiba-tiba menyusup ke sela-sela jarinya. Arsalan menggenggam jemari Humaira dengan sangat erat, lalu menarik tubuh istrinya mendekat hingga bahu mereka bersentuhan.
Humaira mendongak dengan mata membulat terkejut. Di sampingnya, Gus Arsalan sedang tersenyum sangat manis ke arah Uminya. Senyuman yang begitu menawan, yang sanggup membuat santri putri mana pun jatuh hati dalam sekali lihat.
"Mboten, Umi. Ini Arsalan genggam terus, takut Humaira-nya hilang," ucap Arsalan dengan nada suara yang begitu lembut, manja, dan penuh kasih sayang. Pria itu bahkan menoleh ke arah Humaira, menatapnya dengan tatapan mata yang begitu dalam dan teduh, seolah-olah Humaira adalah satu-satunya wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
Deg.
Jantung Humaira berpacu gila-gilaan. Sisi "bar-bar" di dalam dirinya mendadak ingin berteriak menuduh pria di sampingnya ini sebagai aktor terbaik yang pernah ada. Bagaimana bisa seorang pria yang malam harinya tidur memunggungi istrinya di sofa dengan rahang mengeras, kini bisa menatapnya seolah ia adalah belahan jiwanya?
Didirono oleh rasa profesionalisme dan rasa hormat pada mertuanya, Humaira terpaksa menyunggingkan senyum termanisnya. Ia membalas genggaman tangan Arsalan, lalu sedikit menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami. "Enggeh, Umi. Gus Arsalan terlalu protektif," sahut Humaira, mengimbangi permainan sandiwara suaminya.
Umi Khadijah terkekeh pelan, hatinya membuncah bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya. "Alhamdulillah, Umi tenang melihat kalian berdua serasi begini. Semoga cepat diberi momongan, ya."
"Amin, Umi. Doakan saja," jawab Arsalan mantap, masih dengan senyum manisnya yang mematikan.
Namun, bagi Humaira, setiap kata "Amin" dan setiap senyuman manis dari Arsalan di depan publik terasa seperti duri yang ditancapkan semakin dalam ke lubuk hatinya. Genggaman tangan ini hangat, namun ia tahu betul bahwa kehangatan ini palsu. Pelukan ini nyaman, namun ini hanyalah sebuah kewajiban untuk menjaga nama baik keluarga kiai. Di hadapan ratusan santri dan kiai sepuh hari itu, mereka berdua tampil sebagai representasi pasangan ideal yang penuh berkah, namun di dalam hati masing-masing, ada badai yang siap menghancurkan segalanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!