Tsukkk
Sreshhh
Brukkk
Shen Yunan terjatuh dengan lutut membentur tanah begitu kuat.
Beberapa saat yang lalu, wanita itu baru saja melihat orang yang sangat dia cintai berjalan ke arahnya. Dia tersenyum begitu bangga, ketika pria yang dia cintai dan dia bela, serta dukung selama ini memakai mahkota kaisar.
Namun ketika dia menghampiri pria itu, berharap pelukan hangat seperti yang selama ini selalu di janjikan oleh sang pria. Justru sebuah tusukann dari pedang yang begitu tajam yang dia terima, menusukk tepat di jantungnya yang berdetak selama ini untuk pria itu.
"Xie Yuzin!!"
Air mata berwarna merah menetes dari kedua sudut mata Shen Yunan. Menahan sakit di dadanya, juga menahan kecewa yang begitu besar di hatinya.
"Kenapa? bukankah aku sudah melakukan apapun yang kamu perintahkan? aku menghabisi Liu Yuting..."
"Adik..."
Arah pandangan Shen Yunan teralihkan pada seorang wanita yang menggunakan jubah Phoenix. Jubah yang seharusnya menjadi miliknya.
"Salahmu sendiri, kenapa kamu malah menghabisi orang yang selama ini melindungi mu diam-diam. Kamu tahu tidak, ternyata yang menyelamatkanmu ketika anak buah pangeran ke empat akan menghabisimu. Itu Liu Yuting, dia pasti sangat sedih ketika kamu menusuknya dengan pedangmu!"
Wanita yang bicara itu, adalah Shen Yuxiao. Orang yang selama ini mencuri identitasnya sebagai putri sah kediaman Marquis. Anak pelayan yang sengaja ditukar dengan Shen Yunan, supaya mendapatkan kehidupan mewah. Sayangnya, ibu kandung Shen Yunan justru selalu lebih membela Yuxiao. Hingga apapun yang dilakukan Yuxiao dibiarkan saja oleh nyonya Marquis.
"Kalian tidak akan hidup tenang..."
Tsukkk
"Jangan banyak bicara. Aku bosan mendengar suaramu yang membuat telingaku sakit!" Shen Yuxiao menusukk Shen Yunan dengan pedang lain yang dia ambil dari pengawal yang berdiri di sampingnya.
Bruahhh
Darahh itu tumpah, dengan semua rasa sakit hati dan kebencian yang begitu besar dan dalam.
"Xie Yuzin, kau bilang hanya aku yang akan jadi permai... suri... mu..."
"Permaisuri ku harus wanita yang bersih, kenapa aku harus menjadikan wanita yang sudah di hancurkan kehormatannya oleh tukang jagal, dan yang tangannya penuh dengan darahh sepertimu untuk jadi permaisuriku!"
Brukkk
Tubuh Shen Yunan jatuh terkulai di tanah. Dia ingat semuanya. Dia datang ke perjamuan istana, dihina semua orang karena asalnya dari desa. Saat itu Xie Yuzin membelanya. Mengajarinya beladiri. Dan menjadikannya pisauu yang paling tajam. Menghabisi semua lawannya. Menjadikannya seorang raja.
Tangan yang berlumuran darahh itu, adalah tangan yang membantu Xie Yuzin mendapatkan tahta. Tapi begitu pria itu menjadi kaisar, dia mengatakan kalau tangan Shen Yunan sangat kotor. Wanita yang punya tangan kotor dan penuh darahh tak layak jadi permaisurinya.
Dan tawa Shen Yuxiao semakin membuat dada Shen Yunan mau meledak rasanya. Wanita yang dulu dia lepaskan, karena ibunya berlutut memohon ampun. Dia yakin ibunya dan ayahnya juga ada di balik semua ini.
"Yang mulia, kuburan masal telah penuh dengan prajurit dan orang-orang Liu Yuting. Bagaimana kalau mayat adikku ini dibakar saja?" tanya Shen Yuxiao dengan manja pada Xie Yuzin.
Pria itu, pria yang sudah menjadi seseorang yang di puja oleh Shen Yunan selama tiga tahun. Menjadi seseorang yang selalu dia lindungi dengan nyawanya sendiri malah terkekeh.
"Terserah permaisuri ku saja!"
Hancur, patah dan tidak berbentuk lagi. Perasaan Shen Yunan sungguh tak berbentuk lagi.
'Aku tidak akan memaafkan kalian. Jika ada kehidupan kedua, aku akan menghabisi kalian semua!'
Byurrr
Minyak di siramkan di tubuh Shen Yunan. Wanita itu terbakar dengan mata terbuka. Dia melihat sendiri sebelum akhir nafasnya. Pria yang sangat dia cintai pergi meninggalkannya dengan wanita yang paling dia benci.
Blarrr
Jegerr
Shen Yunan membuka matanya perlahan, dia mendengar suara petir yang sangat besar. Dan dia merasa sesuatu yang cukup berat menimpanya.
Begitu mata itu terbuka sepenuhnya, dia melihat seorang pria tengah mencoba membuka paksa pakaiannya.
"Chao Yunan, akhirnya aku bisa menyentuhmu!"
Tatapan pria di atas tubuh Yunan begitu menjijikan. Pria itu adalah tetangganya yang memang sangat suka padanya. Tapi dia selalu menolak.
'Sunfeng' batin Yunan melihat pria di atasnya itu.
Yunan menoleh ke arah sekeliling. Dia berada di rumah orang tua palsu yang telah menculiknya dan menukarnya dari kediaman Marquis.
Mata Yunan melebar,
'Aku terlahir kembali?' batinnya.
Brekk
Yunan segera meraih tusuk konde yang terpasang di rambutnya.
Tsukk
"Agkkhh... dasar wanita siall...."
Brukk
Yunan menendang pria itu sampai terjatuh dari tempat tidur.
Yunan buru-buru bangun dan mendengus kesal. Dia kembali di malam sebelum orang dari kediaman Marquis menjemputnya. Orang tua palsunya, yang merupakan orang tua asli dari Shen Yuxiao merencanakan semua ini. Karena tidak ingin kedudukan Yuxiao benar-benar digantikan oleh Yunan.
Di kehidupan lalunya, Yunan tetap di bawa ke kediaman Marquis. Namun masalah dia sudah dicemari membuat Marquis dan nyonya tidak perduli padanya karena sangat malu. Hidupnya benar-benar sulit di kediaman Marquis. Hingga dia bertemu dengan Xie Yuzin, di ajari ilmu beladiri, di ajari bagaimana caranya menjadi pisauu yang tajam untuk Xie Yuzin.
"Semua ajaran pria brengsekk itu ternyata berguna!" gumam Yunan yang berhasil menghabisi Sufeng si mata keranjang dengan satu tusukann saja.
Yunan melepaskan pakaiannya yang sobek, dia berganti pakaian. Karena menurut ingatannya, di kehidupan lalu. Sebentar lagi ayah palsunya itu akan datang untuk memeriksa, apakah dia sudah di permalukan oleh Sufeng. Dan ibunya, ibu palsunya yang jahat dan selalu memukulnya itu, saat ini juga sedang pergi untuk melapor pada bibi Mo yang memang sudah datang ke desa ini, tapi malah tinggal di penginapan.
Yunan membakar pakaiannya yang tadi, dan mencari pakaian dalam ibu palsunya. Yunan menyelipkan pakaian dalam ibu palsunya itu, di dalam pakaian Sufeng.
"Dulu, kalian menjebak ku bukan?" gumam Yunan.
Dia masih ingat, saat kedua orang tua palsunya itu berkunjung ke rumah Marquis. Mereka selalu mengatakan keburukan Yunan. Membuat Marquis dan nyonya semakin tidak suka.
"Pembalasan itu lebih kejam. Aku akan tunjukan pada kalian!" ujar Yunan meniup lilin yang menyala di atas meja.
Kriettt
Suara pintu terdengar, Chao Yanhui masuk mengendap-ngendap ke dalam kamar itu.
"Heh, kenapa sepi sekali! gelap juga!"
Tsukk
"Ka....uuu"
Brukk
Yunan menusukk pria yang telah memperlakukannya seperti budakk selama 17 tahun lebih itu.
"Rasakan itu!"
Begitu dua orang itu terkapar tak bernyawa, Yunan pun segera keluar dari kamar itu sambil berteriak ketakutan.
"Tolong... Tolong!"
Yunan berlari ke arah rumah nenek dan kakek tua yang kerap menolongnya, tak jauh dari rumah itu.
"Tolong..."
"Yunan, ada apa?" sang kakek yang terkejut segera keluar dan menghampiri Yunan.
"Kakek, tolong... ada, ada... ada mayat!"
***
Bersambung...
Wajah pria tua itu sangat terkejut mendengar ucapan Yunan.
"Kenapa?" tambah seorang wanita tua yang juga tertatih keluar dari rumah reot nya.
"Nenek...hiks!"
Yunan berlari ke arah nenek itu, merangkulnya dan pura-pura sangat ketakutan.
"Ada mayat nenek, di rumah ada mayat. Matanya terbuka, aku takut..."
"Mayat siapa?" tanya kakek tua itu penasaran.
Yunan segera membelalakkan matanya yang sudah penuh dengan air mata itu.
"A... ayah..."
"Hah, bagaimana bisa? tadi baru saja Yanhui lewat sini..."
"Kakek, ada satu lagi. Aku terlalu takut untuk melihat siapa itu!"
"Anak manis, kasihan sekali. Kakek, cepat panggil kepala desa!"
Yunan tersenyum menyeringai. Dia dulu menjadi tontonan semua orang ketika ayah palsunya itu memergoki Sufeng yang melecehkannyaa. Tapi sekarang, dia akan mengaturnya sedemikian rupa. Hingga pada akhirnya orang-orang yang berniat menjebaknya itu yang akan celaka.
Kakek itu pun segera pergi ke rumah kepala desa. Sementara si nenek, berusaha untuk menenangkan Yunan.
Tak lama rombongan kepala desa datang. Orang-orang di desa itu sudah tidak terkejut lagi bagaimana mereka melihat Yunan setelah hari menangis.
Kedua orang tuanya memang selalu memperlakukan dirinya dengan sangat tidak baik. Kadang di depan warga desa yang lain, Mo Bian, ibu palsu Yunan itu kerap memukul dan mencambuk Yunan. Masalahnya selalu sepele, kadang tidak banyak mendapat jamur di hutan, kadang salah memotong sayuran. Bahkan hanya untuk kesalahannya menyapu terlalu berisik saja, orang tua Yunan kerap memukul.
Tapi, setahu warga desa. Yunan paling hanya menangis. Gadis itu tidak pernah melawan. Setahu mereka, Yunan adalah gadis yang sangat lemah.
Melihat Yunan menangis terisak dan ketakutan, warga desa agak penasaran. Apalagi kepala desa.
"Yunan, kata kakek Sun kamu melihat mayat?" kepala desa datang dan bertanya dengan cepat.
Yunan yang masih terisak segera menganggukkan kepalanya, membenarkan hal itu.
"Iya pak kepala desa, di rumah... di rumah, a... yah mati!"
Seluruh warga desa yang ikut dengan kepala desa tercengang. Dan langsung bergunjing satu sama lain.
"Yunan, ayo kita lihat!" anak kepala desa.
"Kasihan sekali anak itu!"
"Tapi kenapa Chao Yanhui bisa mati? bukannya tadi sore masih mencari ikan di sungai?"
"Entahlah!"
Terdengar para warga yang sibuk berspekulasi. Yunan masih terus merangkul lengan nenek Sun dan berjalan mengikuti kepala desa menuju ke rumahnya.
"Anak ini tadi berlari ketakutan, dia berteriak minta tolong. Pas aku tanya, di rumahnya ada mayat katanya. Mayat ayahnya matanya terbuka" jelas kakek itu pada kepala desa.
Kepala desa mengangguk pelan. Dan terus berjalan ke arah rumah Chao Yanhui, orang tua palsu Yunan.
Kepala desa membuka pintu. Dan rumah itu gelap sekali.
"Nyalakan lilin!" perintah kepala desa.
Dan seorang pria menyalakan lilin. Warga desa langsung terkejut, di kamar itu tergeletak Chao Yanhui dengan mata terbuka. Dan tak jauh dari sana, seorang pria juga tampak sudah tergelak.
"Siapa lagi itu?"
"Ada dua mayat!"
"Bagaimana bisa?"
Warga kembali bergunjing. Dan seorang pemuda yang tadi menyalakan lilin memeriksa mayat yang satunya lagi.
"Ini Sufeng!" teriaknya yang juga terkejut.
Kepala desa mendekat, warga sudah menjadi ramai. Mereka cukup terkejut. Kenapa Sufeng mati di tempat itu.
Namun yang mencengangkan kepala desa, ketika dia memeriksa mayat itu dan menemukan pakaian dalam wanita.
"Ini, milik siapa?" tanya kenapa desa menunjukkan pakaian dalam itu pada Yunan.
Yunan segera berakting sangat terkejut.
"Hah, itu... itu punya ibu!"
"Hah, punya Mo Bian. Jangan-jangan mereka berkelahi karena Mo Bian dan Sufeng ketahuan selingkuh oleh Chao Yanhui"
Yunan tersenyum puas dalam hatinya. Memang seperti itulah para warga desa. Mereka selalu bicara sesuai dengan apa yang mereka lihat. Mau itu benar atau salah, mereka selalu percaya pada apa yang mereka lihat sebagai bukti.
Itulah kenapa, Yunan sengaja mengeluarkan pakaian dalam ibu palsunya dan menyisipkan di pakaian Sufeng.
"Ternyata ibu..." Yunan kembali menangis di pelukan nenek Sun.
"Yang sabar ya anak baik!" kata nenek Sun berusaha menghibur Yunan.
"Ini keterlaluan pak kepala desa!" seru seorang warga.
"Benar, Mo Bian sudah mencemari desa kita. Dia itu seorang wanita bersuami. Bikin malu saja dia berselingkuh dengan mata keranjang Sufeng itu!"
"Benar kepala desa!"
"Masukan dia ke keranjang babi!"
"Bakar saja, supaya tidak ada yang seperti ini lagi"
Yunan memeluk nenek Sun dengan erat.
"Pantas saja belakangan ayah dan ibu sering bertengkar. Rupanya ibu berselingkuh hiks hiks!"
Yunan sengaja mengatakan semua itu supaya api kekesalan dan kemarahan warga desa semakin besar. Sebelum Mo Bian dan Chao Yanhui nanti menjadi pemicu kekesalan orang tua kandungnya, seperti di kehidupan lalunya. Yunan memang harus menyingkirkan mereka. Gara-gara dua orang jahat itu juga, selama 17 tahun lebih kehidupannya di masa lalu dia menjadi budak dan selalu mendapatkan siksaan.
"Keterlaluan sekali! dimana Mo Bian!" pekik kepala desa yang juga sudah terpengaruh dan menjadi geram atas kelakuan salah satu warganya.
Yunan menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu pak kepala desa, sebelum ibu pergi dia hanya memintaku membersihkan kandang. Katanya jangan kembali sebelum tengah malam, tapi aku haus... " ucapnya ketakutan.
Nenek Sun mengusap lembut kepala Yunan.
"Tidak apa-apa nak, tidak apa-apa!" ujar nenek tua itu.
Hingga beberapa saat kemudian, salah satu warga yang ada di luar melihat Mo Bian mengendap-ngendap. Warga itu pun merasa aneh.
"Pak kepala desa, itu Mo Bian datang. Tapi kenapa dia mengendap-ngendap?"
Pertanyaan warga itu membuat Yunan semakin puas. Bukankah cara masuk ke dalam rumah sendiri yang dilakukan Mo Bian sangat mencurigakan.
"Sufeng, bagaimana?" Mo Bian langsung bicara seperti itu begitu mendekati kamar Yunan.
Dia ingin tahu apa Sufeng sudah berhasil melecehkann Yunan.
"Jadi memang kamu yang meminta Sufeng menghabisi suamimu sendiri?" tanya kepala desa.
Kepala desa dan para warga keluar. Mo Bian terkejut bukan main.
"Kalian! apa yang kalian lakukan di rumah ku?" tanya wanita yang mungkin sebentar lagi tinggal nama itu.
"Jangan pura-pura lagi Mo Bian! kamu berselingkuh dengan Sufeng. Dan menyuruh Sufeng menghabisi Chao Yanhui kan?" pekik salah satu warga.
Mo Bian sangat terkejut. Dia segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak begitu..."
"Ibu, kenapa ibu tega pada ayah?"
Mata Mo Bian terbelalak lebar, dia langsung menunjuk ke arah Yunan.
"Kamu... ini semua pasti ulahmu!"
"Tega sekali kamu! sudah selingkuh, sekarang memfitnah anak malang ini!" nenek Sun membela Yunan.
"Masukkan dia dalam keranjang babi!"
"Iya, betul tenggelamkan di sungai!"
"Tenggelamkan!"
"Tidak, bukan aku!" pekik Mo Bian.
Tapi warga sudah tidak mendengarkan ucapannya. Warga menangkapnya dan memasukkan ke dalam keranjang babi.
***
Bersambung...
"Lepaskan aku! bukan aku! ini pasti ulah Chao Yunan tidak tahu diri itu!"
Dari dalam kurungan babi, Mo Bian terus berteriak mengatakan kalau dirinya tidak bersalah.
Tapi sayangnya semua warga desa tidak mendengarkan. Orang seperti mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat. Dan yang terlihat adalah ada dua mayat saling bunuhh, dengan pakaian dalam wanita milik Mo Bian berada di baju Sufeng.
Kepala desa dan kakek Sun juga nenek Sun, bahkan terus membela Yunan. Pada akhirnya, tetap saja mau Mo Bian menjerit, berteriak seperti apa. Tetap saja para warga membawanya ke arah sungai.
Di jaman dimana mereka berada saat ini. Hukuman langsung dari masyarakat adalah menenggelamkan pelaku perselingkuhan ke dalan sungai. Dan itu yang akan dilakukan pada Mo Bian.
Begitu semua orang yang membawa kurungan keranjang babi itu sampai di tepi sungai. Kepala desa mendekati Yunan.
"Yunan, meskipun mereka telah banyak menyakiti kamu. Tapi mereka juga orang tuamu. Kamu... katakanlah sesuatu sebelum ibumu ditenggelamkan!"
Yunan berpura-pura sangat sedih. Hal itu tidak sulit, hanya berpura-pura memelas, sedikit terisak dengan air mata yang berusaha dia keluarkan.
Yunan melangkah perlahan, dia membiarkan bagian bawah pakaiannya basah begitu saja. Itu lebih terkesan dramatis, ketimbang dia menyincingnya kan?
Mata Mo Bian melotot begitu melihat Yunan.
"Dasar tidak tahu diri, kamu pikir bisa lolos begitu saja setelah melakukan semua sandiwara ini...!"
"Ibu!"
Yunan berseru histeris, tapi justru dia mendorong kurungan keranjang babi itu ke bawah. Membuat Mo Bian menghentikan ocehannya karena mulutnya kemasukan air sungai.
"Aku tidak tahu kalau ternyata ibu dan paman Sufeng punya hubungan seperti itu. Biasanya ibu bicara dengan paman Sufeng di kebun, aku pikir hanya sekedar bertemu biasa. Ternyata..."
"Bicara apa kamu?" pekik Mo Bian.
Warga desa semakin gerah. Mereka benar-benar tak akan membiarkan ada yang mencemari desa mereka. Bisa sial nantinya.
"Dasar murahan!"
"Wanita tidak setia!"
"Cepat tenggelamkan!"
Warga desa segera menarik kurungan keranjang babi itu ke tengah.
"Lepaskan aku!" Mo Bian masih terus bersikap.
Hingga warga mengikat batu besar di kedua ujung kurungan. Perlahan, kurungan itu tenggelam.
"Kalian salah! aku tidak pernah...."
Blubuk blubuk
Kurungan itu tak terlihat lagi, gelembung air hilang perlahan bersama dengan tenggelam sepenuhnya kurungan keranjang itu.
Nenek Sun kembali menghampiri Yunan.
"Yunan, yang sabar ya nak!"
Yunan menangis di pelukan nenek Sun. Semua warga tampak puas melihat orang yang telah mencemari desa mereka mendapatkan hukuman setimpal. Itu juga dilakukan untuk pembelajaran, agar lain kali jangan pernah ada lagi perselingkuhan di desa itu. Karena akan membawa sial bagi warga desa lainnya.
Yunan kembali ke rumah, nenek Sun menemani sampai pagi. Hingga beberapa orang dari kediaman Marquis datang.
Rombongan pengawal, pelayan dan pengasuh di kediaman Marquis berjalan ke arah rumah Mo Bian.
"Bibi Mo, apa kita benar-benar akan membawa wanita kampung itu ke kediaman Marquis?" tanya pelayan wanita di sisi bibi Mo.
"Tentu saja, kalau kita menghabisinya di jalan. Para tetua yang sudah menerima kabar kalau putri kediaman Marquis tertukar pasti akan mempertanyakan hal itu. Tapi khawatir apa? wanita kampung itu tidak akan menjadi ancaman apapun untuk nona ketiga kita. Karena Mo Bian, sudah merencanakan sesuatu yang akan merusak nama baiknya. Hingga meskipun dia tiba di kediaman Marquis pun. Dia tidak akan diperlakukan seperti majikan. Malah akan dibenci seperti sampah!"
Pelayan yang ada di sisi Bibi Mo terkekeh. Mereka memang pendukung setia nona ketiga kediaman Marquis, Shen Yuxiao. Siapapun di ibukota tahu, kalau Shen Yuxiao adalah wanita paling berbakat dan punya hubungan dekat dengan putra mahkota. Dia juga digadang-gadang sebagai murid kesayangan perdana menteri yang sangat berpengaruh, Liu Yuting.
Bukan hanya di jaman ini, di jaman manapun. Seseorang memang cenderung akan mendukung orang yang akan menjamin kesejahteraannya ke depannya.
"Pelayan! sampaikan kedatangan ku. Mo Bian pasti sudah menunggu!" kata bibi Mo.
"Pengasuh senior kediaman Marquis tiba!" seru pelayan dengan suara lantang.
Dari dalam rumah sangat sederhana itu, nenek Sun menoleh ke arah pintu.
"Kediaman Marquis? Yunan, apa kamu kenal mereka?" tanya nenek Sun.
Yunan menggelengkan kepalanya.
Tapi situasi di kehidupan lalu, Yunan tahu persis. Setelah kedatangan bibi Mo di umumkan. Mo Bian akan keluar dan langsung memulai drama menjadi seorang ibu yang tidak beruntung karena telah gagal mendidik putrinya.
Di kehidupan lalu, Mo Bian keluar, menangis berguling-guling. Memukul-mukul kepalanya sendiri, benar-benar seperti seorang ibu yang sangat kecewa. Saat itu para warga datang, bibi Mo bertemu kepala desa dan menyampaikan apa tujuannya datang.
Lalu kepala desa mendengus, kecewa pada kelakuan Yunan yang merayu Sufeng. Padahal saat itu Sufeng yang melecehkann Yunan.
Saat itu bibi Mo bersikeras membawa Yunan, tapi dengan sangat tidak hormat. Dia bahkan di biarkan berjalan, sementara kereta kuda yang ada di penginapan, malah di pakai bibi Mo dan pelayannya.
Di kehidupan kali ini, Yunan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Yunan, ayo keluar!" ajak nenek Sun.
"Nenek, aku takut. Kita tunggu kepala desa dulu ya!" kata Yunan yang menunjukkan kalau dia merasa takut bertemu dengan orang yang tidak dia kenal.
Nenek Sun segera merangkul Yunan. Kasihan, gadis itu masih berusia 17 tahun. Tapi orang tuanya meninggal langsung keduanya, dan dia akan sendirian. Wajar kalau dia ketakutan.
Sementara di luar, bibi Mo terlihat kesal.
"Kenapa belum ada yang keluar? pelayan, umumkan sekali lagi!"
Pelayan pria di belakang bibi Mo, meletakkan dua telapak tangannya di kanan dan di kiri lalu kembali berseru dengan lantang.
"Pengasuh dari kediaman jenderal tiba! siapapun yang di dalam, cepat keluar!"
Tapi Yunan masih tidak keluar, tentu saja dia harus menunggu kepala desa. Harus ada saksi yang melihat ketika bibi Mo mengatakan dia adalah putri sah jenderal yang tertukar 17 tahun yang lalu.
Tak lama, ketika bibi Mo kembali mendengus kesal. Kepala desa dan beberapa warga datang.
"Kalian ini siapa?" tanya kepala desa yang masuk ke pekarangan rumah sederhana itu.
"Kalian yang siapa? kami dari kediaman Marquis, kami akan menjemput putri sah kediaman Marquis yang tertukar 17 tahun yang lalu!" kata pelayan wanita di sebelah Bibi Mo.
"Siapa?"
"Dia adalah anak perempuan Mo Bian dan Chao Yanhui!" kata bibi Mo.
"Yunan?"
Warga desa langsung heboh. Mereka saling bergunjing.
"Ternyata bukan anak kandung, pantas saja diperlakukan tidak baik!"
"Mereka memang pantas mati, bahkan menukar anak Marquis!"
"Iya benar kasihan Yunan, selama ini sudah mendapatkan ketidakadilan!"
Dari belakang pintu. Yunan tersenyum tipis.
'Bagaimana bibi Mo? dulu aku pergi dengan hinaan warga desa. Sekarang, aku akan pergi dengan dukungan warga desa, lihat bagaimana kamu akan memperlakukan aku seperti apa?' batin Yunan.
***
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!