Indonesia
NovelToon NovelToon

Trio Detektif : Kasus Dingin

Sheva, Kenzie dan Zane

"Shevaaaa! Ayok!" seru seorang remaja laki-laki berusia empat belas tahun dengan wajah cool. Rambutnya hitam dengan mata coklat dan ada bintik-bintik di pipinya khas campuran.

Di sampingnya, juga ada remaja laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan wajah sama campuran tapi lebih ceria. Matanya hazelnya tampak jenaka dan jahil. Rambutnya bewarna coklat terang, memakai Hoodie dan membawa bola basket.

"Iyaaaa sebentar! Ish, lagi pakai sepatu juga!" teriak seorang anak perempuan sambil mengikat sepatu basketnya.

"Kalian berangkat sama siapa?" tanya seorang wanita di belakang anak perempuan yang sedang duduk di teras memakai sepatu. Wanita berambut pirang itu tidak sendirian, ada seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun di sebelahnya.

"Mama, aku pergi dulu!" Anak remaja perempuan itu mencium pipi wanita itu. "Diva, jaga rumah. Jangan lupa bikin peer!"

"Lha? Kan udah Mbak!" eyel anak laki-laki itu.

"Halo Tante Shea, Diva. Kita dianter Papa tapi lagi keluarin mobil tadi. Makanya aku kesini sama Kenzie duluan, tahu kalau Rapunzel satu ini sukanya molor!" jawab remaja cool itu sambil salim diikuti remaja satunya.

"Lho, Papamu masih tidur ya Zane?" kekeh Shea karena tahu ayah remaja bernama Zane itu baru pulang dari luar kota bersama dengan suaminya.

"Iya. Kan baru pulang jam dua pagi ... Kata Mama habis dinas dengan Oom Steven," jawab Zane. Mereka menoleh dan tampak mobil Destinator ayah Zane datang.

"Pagi Shea. Hai Sheva, Diva. Steven masih tidur?" tanya pria gagah yang berada di balik kemudi.

"Pagi bang Victor. Iya, bang Steven masih tidur. Maap ya merepotkan," senyum Shea.

"Tidak apa-apa. Aku kan sudah janji. Ayo anak-anak, katanya mau tanding basket!" ajak Brigjen Victor Sihasale.

Ketiga remaja itu langsung pamitan dengan Shea dan Sadiva, adik Sheva. Mereka pun masuk ke dalam mobil bewarna hitam itu.

"Sekarang kita nga ... Lho mana Mbak Lilis?" Shea celingukan tidak melihat khodam Sadiva.

"Mbak Lilis nebeng Brem-Brem, Mama," jawab Sadiva cuek. "Namanya juga Kunti gabut." Bocah berambut brunette dan punya gaya cool seperti ayahnya, langsung ngeloyor ke dalam rumah.

Shea menggelengkan kepalanya. "Ya ampun. Kunti comel itu ya."

***

Sekolah Menengah Pertama XX

"Papa ngopi di cafe sebelah sana ya sambil menunggu kalian selesai daripada bolak balik. Kan Papa bisa sekalian nonton siaran ulang bola semalam," ucap Brigjen Victor ke Zane yang sedang melepaskan sabuk pengamannya.

"MU menang tuh Pa. Oom JJ cetak hat-trick," jawab Zane cuek. "City dibantai 5-0."

"Makanya Papa mau nonton." Brigjen Victor menoleh ke belakang dimana Sheva dan Kenzie juga bersiap turun. "Oom tahu kalian bertiga panasan, tapi tolong jangan berkelahi ya? Sudah cukup kami bertiga dipanggil kepala sekolah. Oke?"

Sheva dan Kenzie saling berpandangan. "Nggak janji Oom," jawab mereka berdua.

"Haaaiiissshh!" Brigjen Victor tampak gemas dengan dua keponakannya.

Ketiganya pun turun dari mobil setelah berpamitan dengan Brigjen Victor. Mobil hitam itu pun pergi meninggalkan halaman sekolah SMP itu.

"Kok Mbak Lilis ikutan sih?" tanya Sheva ke Kunti comel di belakangnya.

"Kepo," jawab Mbak Lilis cuek.

"Brem-Brem kasih izin ikut?" tanya Zane.

"Nanti nangis, aku yang repot," jawab Abraham, pengawal Sheva yang tetap berwujud anak kecil bule.

Sontak ketiga bocah indigo itu cekikikan. Sheva dan Zane bisa melihat dan berkomunikasi, sementara Kenzie hanya bisa mendengar dan berkomunikasi, seperti Opa Raidennya.

"Aaahh Brem-Brem, kamu memang anak bule yang baik," ucap Mbak Lilis sambil memeluk Abraham.

Abraham hanya menatap datar ke arah Sheva dan Zane. "See?"

"Udah yuk. Kita sudah terlambat tuh!" Kenzie menunjuk ke arah pelatih mereka yang sudah berkacak pinggang.

***

Sheva, Kenzie dan Zane adalah tiga remaja sebaya. Sheva hanya lebih tua beberapa bulan dari kedua sepupunya itu ( Zane dianggap sepupu meskipun tidak ada hubungan darah ). Mereka bersekolah di sekolah menengah pertama bertaraf internasional milik yayasan keluarga Pratomo yang dikenal sangat disiplin soal moral, manner, adab dan etika. Benar-benar perpaduan sekolah Katolik dan Islam yang harus saling toleransi.

Sekarang mereka sedang melakukan latih tanding dengan SMP XX yang dikenal sekolah swasta saingan SMP PRC. Sheva, Zane dan Kenzie memang sekelas yang dikenal trio Sultan apalagi Sheva dan Kenzie keturunan Pratomo. Namun mereka juga dikenal anak-anak yang humble meskipun orang tua mereka punya jabatan dan pekerjaan yang mentereng.

"Aku duduk di pinggir ya!" seru Sheva sambil mengikat tinggi rambut pirangnya. Entah bagaimana, rambut Sheva memang tetap pirang seperti ibunya meskipun ayahnya orang Jawa.

"Oke," jawab Zane dan Kenzie. Kedua remaja itu pun berkumpul dengan para teman-teman satu timnya.

Sheva duduk sembari mengawasi sekelilingnya. Dia merasa ada yang tidak beres tapi tidak tahu apa. Insting kepo dan detektif nya merasakan ada yang aneh di sekolah ini.

"Sheva kenapa?" tanya Abraham yang duduk di sebelahnya.

"Ada yang tidak beres," gumam Sheva.

Abraham juga tahu hanya saja dia tidak bisa bilang ke Sheva. "Tetap waspada, Sheva."

Sheva mengangguk namun konsentrasinya terpecah saat melihat teman-temannya datang untuk mendukung tim basketnya. Mereka pun langsung heboh khas anak remaja.

***

Pertandingan pun selesai dengan kemenangan diraih tim SMP PRC. Para teman-teman Zane dan Kenzie bertepuk tangan dengan heboh. Apalagi banyak yang naksir Zane yang cool. Garis tampan Brigjen Victor terlihat di wajahnya ditambah dengan sikapnya yang dingin seperti ibunya, Jaksa Sandra, makin banyak cewek-cewek ABG tertarik padanya.

Zane memberikan kode pada Kenzie untuk ke toilet. Kenzie pun mengikuti sahabatnya itu sementara Sheva menunggui tas-tas mereka.

"Jangan lama-lama!" seru Sheva. "Aku sudah hubungi Oom Victor."

"Yaaaaa!" jawab kedua remaja pria itu.

Mereka pun menuju ke toilet yang ada di bagian belakang gedung sekolah. Setelah melepaskan hajat, mereka pun keluar. Sebuah suara mencurigakan, membuat Zane dan Kenzie saling berpandangan. Jiwa kepo mereka pun mengarahkan mereka untuk mencari sumber suara.

Keduanya mendengar kegiatan di balik tembok toilet dan mereka pun berusaha mencari tahu. Zane dan Kenzie melihat kegiatan yang janggal di sekolah tempat mereka tanding basket. Insting mereka mengatakan kagak beres ini.

"Ini masih sekolah kan Zane?" bisik Kenzie sambil mengawasi di balik tembok.

"Belum jadi museum sih Kenz. Itu ngapain bawa-bawa peti dari gudang?" balas Zane.

"Apa isinya mayat?" gumam Kenzie.

"Mentang-mentang emak lu dokter mayat! Semua yang dibawa dalam peti adalah mayat!" gerutu Zane.

Kedua remaja itu terbelalak saat melihat peti itu terbuka dan terlihat sebuah tangan keluar dari dalam.

"Itu mayat Kenz?"

"Mana aku tahu!"

"Kita ikuti!" Putus Zane.

"Pertandingan basketnya gimana?" tanya Kenzie.

"Urusan mayat lebih seru!" cengir Zane.

"Dasar anaknya pupici!" desis Kenzie.

"Popici, Kenz!"

Keduanya pun mengikuti kemana orang-orang itu membawa peti-peti itu. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah awal petualangan mereka.

***

Yuhuuu up Pagi Yaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

Tim Kasus Dingin

Sheva duduk di bangku penonton dengan wajah manyun. Bibirnya yang merah alami itu tampak dimajukan lima senti, kesal karena dua sepupunya tidak datang-datang.

"Kemana dua kadut itu!" gerutu Sheva.

"Aku perlu cari tahu?" tawar Mbak Lilis.

"Iya Mbak. Gemas aku!" pinta Sheva. Ponselnya berbunyi dan tampak nama 'Oom Victor' di layar. "Halo Oom ... Pada masih di kamar mandi, Oom. Bertapa mungkin ... Biasa lah ... Iya Oom. Kami segera ke halaman sekolah."

Mbak Lilis segera mencari dua remaja laki-laki itu. Abraham menatap Sheva.

"Mereka baik-baik saja kan?" tanya Abraham ke Sheva yang memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.

"Paling bebelen!" cebik Sheva membuat Abraham tertawa.

"Casing bule tapi tetap bilang bebelen," kekeh arwah bocah Belanda itu.

"Njelehi!"

Introducing Selvarina 'Sheva' Kristal de Luca Sasono

***

Kenzie dan Zane berjalan mengendap-endap mengikuti orang-orang itu. Terbiasa latihan bela diri dari kecil dan mulai diperkenalkan latihan menembak, membuat kedua remaja itu menjadi lebih percaya diri.

"Mereka kemana ya?" gumam Kenzie.

"Baru tahu aku ada pintu ke belakang seperti itu," bisik Zane.

"Ada enam orang. Eh ada yang bawa kardus besar. Kok pipih ya?" Kenzie semakin curiga. Terbiasa mendengar cerita kedua orang tuanya yang bekerja di RS Bhayangkara dan Medical Examiner rumah sakit yang sama, belum Oom-oomnya anggota tim gabut di Polda Metro Jaya, pikirannya kemana-mana.

"Mereka pergi." Zane dan Kenzie berjalan dari balik tembok lalu bergegas ke pintu belakang sekolah. Keduanya melihat dua mobil Van hitam pergi dengan tergesa-gesa.

"Kamu catat nomor polisinya?" tanya Zane.

"Done!" jawab Kenzie sambil menulis diatas kertas nota beli burger. Kebiasaan seperti ayahnya, dokter Lucky, Kenzie selalu membawa bolpoin dan kertas.

"Kalian berdua ngapain?"

"Ya Tuhan Yesus!" seru Zane.

"Astaghfirullah!" timpal Kenzie.

"Ayo pulang. Pak Victor sudah menunggu di halaman." Mbak Lilis menatap dua remaja itu.

"Yuk pulang. Biar kita rundingan sama Sheva dulu," ajak Kenzie. "Yang penting, kita sudah dapat nomor polisinya meskipun aku tidak yakin ini asli."

Kedua remaja dengan satu Kunti comel itu pun kembali ke tempat Sheva sudah menunggu dengan wajah sebal.

"Kalau kalian bertapa, jangan lama-lama dong!" sungut Sheva sebal.

"Kita bukan bertapa Sheva. Ada sesuatu!" balas Kenzie. Dia dan Zane mengambil tas masing-masing.

Sheva menaikkan sebelah alisnya. "Apaan?"

Mereka bertiga berjalan keluar dari lapangan basket itu. Tampak masih ada beberapa siswa disana.

"Sepertinya kita akan ada kasus," bisik Kenzie.

Mata hijau Sheva terbelalak. "Kasus apa?"

"Nanti saja," sahut Zane.

"Haaaaiii Zaannneee! Lihat sini dong!"

"Zaneeee!"

Zane hanya melirik dan wajahnya tampak sebal karena digoda para remaja perempuan yang bersekolah di SMP ini.

"Banyak yang naksir elu tuh," goda Kenzie.

"Kenziiieeee!"

"Lha?" Kenzie menoleh dan tampak seorang remaja dengan wajah dibuat sok imut, melambaikan tangannya.

"Astagaaa ...." Sheva menggelengkan kepalanya.

Ketiganya pun segera masuk ke dalam mobil milik Brigjen Victor.

"Zane, siapa itu?" tanya Brigjen Victor.

"Groupies!" jawab Zane judes.

"Groupies? Kamu punya groupies?" Brigjen Victor menaikkan sebelah alisnya.

"Fansnya Zane banyak Oom," kekeh Sheva.

"Masa? Duh, mamamu bisa ngereog ini," gumam Brigjen Victor.

Zane hanya mendengus. "Bukan selera aku. Aku tidak suka cewek centil dan sok iyeee gitu!"

Brigjen Victor hanya tertawa. "Kita pulang ya. Papa mau bayar hutang tidur."

Note

Groupie adalah penggemar fanatik suatu grup musik (biasanya band rock) yang sangat mengidolakan sang artis hingga rela mengikuti mereka ke mana pun saat tur.

Meskipun pada awalnya kental dengan konotasi seksual dan stereotip perempuan tanpa kekuasaan, banyak yang melihat peran ini lebih kompleks. Saat ini, istilah tersebut juga kerap dipakai secara lebih luas untuk menggambarkan penggemar yang sangat antusias terhadap atlet, penulis, atau tokoh publik lainnya. Sumber Google.

***

Keesokan paginya, ketiganya pulang dari sekolah dengan sepeda karena rumah mereka dekat dengan sekolah. Sheva sudah diceritakan Kenzie dan Zane, auto penasaran.

"Kita cari mobilnya?" tanya Sheva sambil mengayuh sepedanya. Mereka bertiga memakai helm dan sepeda yang canggih.

"Mau cari ke ...." Mata hazel Kenzie melihat mobil itu di depan galeri seni yang sudah tutup dekat sekolah mereka. "Itu mobilnya!"

Kedua sepupunya menoleh dan mobil itu pun pergi keluar dari galeri seni.

"Kejar!" seru Kenzie.

"Mau kejar gimana Kenz! Pengkor nih kaki! Mesin mereka pakai Mercedes! Kita mersikil!" omel Sheva. "Mending lapor ke Papa deh!"

Kenzie hanya mengangguk. Ya kali dia mau jadi atlet balap sepeda.

***

Ruang Kerja Brigjen Victor Sihasale, bekas ruang kerja Irjen Dean Thomas yang sudah pensiun ( delapan tahun kemudian )

Brigjen Victor Sihasale melihat dua kakak beradik kembar di depannya. Dia pun membaca data mereka berdua.

"Cristiano dan Casey ... Santoso? Kalian anaknya Indrawan Santoso kan? Pemilik pabrik baja dan jalan tol?" tanya Brigjen Victor Sihasale.

"Benar," jawab Iptu Cristiano.

"Kenapa kalian jadi polisi? Lulusan terbaik Akpol Semarang pula." Brigjen Victor tampak bingung karena dua anak konglomerat yang kayanya minta ampun malah jadi ... Polisi?

"Kami gabut Pak Victor," jawab Iptu Casey.

Brigjen Victor menggeleng bingung. "Lalu, kalian ditempatkan di sini karena ... Indigo? Kalian berdua indigo?"

"Benar Pak Victor," jawab keduanya.

"Oke. Kalau begitu, aku test." Brigjen Victor pun berdiri dan memberikan kode ke dua Iptu itu untuk mengikuti dirinya.

Iptu Cristiano dan Iptu Casey pun mengikuti calon komandannya. Mereka masuk ke dalam ruang kerja dimana sudah ada tiga anak ABG sedang ribut dengan Kombes Steven dan Kombes Arief.

"Tapi itu beneran Papa!" seru remaja ABG perempuan berambut pirang panjang.

"Sheva, Papa tidak mungkin memeriksa sekolah itu kalau tidak ada buktinya," ucap Kombes Steven dengan sabar.

"Tapi Pa ...."

"Sheva. Papa kan banyak pekerjaan jadi tidak mungkin periksa kesana."

"Ehem!"

Semua orang menoleh. Remaja ABG dengan wajah dingin segera menghampiri Brigjen Victor.

"Pa. Ada mayat di sekolah XX tempat aku tanding basket sama Kenzie," lapor Zane Sihasale.

"Masa di sekolah itu ada mayat?" tanya Brigjen Victor.

"Beneran Oom!" sahut ABG pria satu lagi yang terlihat blasterannya. Mata hazelnya adalah warisan dari ibunya.

"Kenz ... Kamu tahu dari mana?" tanya AKP Rosita.

"Tante, kan Mama selalu kasih ilmu ke aku dan dik El. Siapa tahu kita mau jadi dokter," jawab Kenzie Buwono.

"Itu memang mayat."

Sekarang semua orang menoleh ke sosok asing di belakang Brigjen Victor.

"Eh .. Halo, aku Iptu Casey," cengir gadis berambut pendek itu. "Ini saudara kembar aku, Iptu Cristiano. Kami dipindahkan kemari karena ... "

"Hiiyyyaaahhh! Mbak Kunti!" seru Iptu Cristiano sambil loncat di belakang saudara kembarnya.

"Mas Cristiano ganteng ih! Aku suka!" seru Mbak Lilis sambil cekikikan. "Namaku Lilis, Mas. Bukan Mbak Kunti."

"Mbak Lilis, tolong," pinta Iptu Casey dengan wajah tegas.

Semua orang melongo melihat kejadian itu. "Eh Gaban, perasaan kita kalah gede sama si Cristiano bukan Ronaldo itu tapi nggak sampai jejeritan gitu ya?" gumam AKP Samsudin.

"Kayaknya tim kita makin plenger deh!" balas AKP Ghafar sambil makan roti.

"Aku setuju!"

Kedua sahabat itu menoleh dan tampak Tole bersila sambil melayang dan makan popcorn.

"Hiiyyyaaahhh!"

New Member

***

Yuhuuu up Pagi Yaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

Elina Buwono

"Astogeeee Dragon Ball! Mbok biasa saja deh Gavan dan Sharivan kurang Shaider!" seru Tole. "Sekian abad kerjasama kok ya masih kaget!"

"Sekian abad ... Baru satu dekade!" cebik AKP Ghafar. "Eh, kok Tole tahu soal itu?"

"Daku itu tuyul milenial. Tontonannya itu sama Goggle Five. Ya kali gue bukan tuyul milenial yang kagak tahu ada The A-Team," cebik Tole judes. Dia pun menghilang membuat kedua sahabat itu langsung mengucapkan hamdalah.

"Gavan dan Sharivan itu apa?" tanya Iptu Cristiano bingung.

Tanpa basa basi Kombes Fariz memperlihatkan apa yang dimaksud Tole.

Karakter Space Sheriff

"Ooohhh macam Power Rangers dan Kamen Rider?" gumam Iptu Cristiano Santoso.

"BEDAAAAA!" seru semua orang di ruangan itu.

"Eh buset!" Iptu Cristiano menepuk dadanya karena kaget.

"Oom, mau bantuin nggak?" Tiba-tiba Sheva menghampiri anggota baru itu.

"Ini Sheva, anaknya Kombes Steven. Ini Zane, putraku, dan ini Kenzie, anaknya dokter Lucky Buwono. Dokter Lucky dan istrinya, dokter Daisy adalah dokter bedah dan dokter forensik di Bhayangkara," ucap Brigjen Victor memperkenalkan ketiga remaja itu.

"Apakah ketiga anak dan keponakan Pak Victor biasa membantu tim kasus dingin?" tanya Iptu Casey.

"Biasa. Mereka bertiga indigo juga, cuma Kenzie yang tidak bisa lihat. Dia bisa mendengar dan berkomunikasi. Oh, disini yang indigo ada AKBP Rosita. Kalian bisa panggil Kak Ros tapi bukan dari kampung dunia runtuh," ujar Kombes Steven.

"Setidaknya aku tidak sendirian deh!" kekeh AKBP Rosita.

"Oom Victor, boleh pinjam Oom Cristiano dan Tante Casey? Idep-idep plonco awal gitu," kerling Kenzie.

"Mau kalian bawa kemana?" tanya Kombes Arief.

"Ke galeri seni yang sudah tutup itu Oom. Aku melihat mobil kemarin yang ada di tempat tanding basket," jawab Kenzie.

"Lha, mobil kan banyak yang kembar, Kenz."

"Tapi ini beneran sama!" eyel Kenzie ke Kombes Arief.

"Begini saja. Benar kata Kenzie. Dua orang ini diplonco saja. Ros, kamu dampingi mereka," ucap Kombes Fariz.

"Oke Mas Fariz. Lumayan jalan-jalan," senyum AKBP Rosita.

***

Sekolah Dasar PRC Jakarta, Ruang Kepala Sekolah

Dokter Lucky dan Daisy hanya bisa menatap gemas ke Elina yang menunduk.

"Jadi Elina menendang anunya Jay?" tanya Daisy dengan wajah dingin menahan amarah ke putrinya. Ya benar kamu buyut, cicit dan cucunya Mafioso tapi kamu baru sepuluh tahun!

"Iya Mom Daisy," jawab Kepala Sekolah.

"Pak Tommy dimana?" tanya dokter Lucky. "Biar aku ketemu Tommy, Jeng."

"Pak Tommy dan Bu Samira di PRC Hospital, Dok Lucky. Ya ... sebenarnya karena kesalahpahaman. Tapi Elina kan memang judes anaknya," senyum Kepala Sekolah maklum.

"El, katakan pada Papa. Kenapa kamu tendang anunya Jay?" tanya dokter Lucky sambil menatap putri bungsunya.

"Mas Jay .... " Elina menatap takut-takut ke ayahnya. "Mas Jay tadi lihat El masih nunggu jemputan. Terus ... Mas Jay nemenin El kan Mas Kenzie pulang duluan bareng Mas Zane dan Mbak Sheva. Kata Papa harus nunggu Oom Hugo. Kita nonton teman-temannya Mas Jay main baseball. Terus ... ada bola nyasar hampir kena El. Ditangkap Mas Jay tapi posisinya malah ... El jatuh sama Mas Jay ...."

Elina menatap kedua orangtuanya dengan perasaan bingung dan takut.

"Cerita saja El ... Papa dan Mama tidak marah," ucap dokter Lucky lembut.

Elina menghela napas panjang berulang kali sebelum bercerita.

"Kan Papa dan Mama selalu bilang kalau harus jaga badan El kan?" Mata hitam Elina warisan dari dokter Lucky tampak takut.

"Iya. Memang Jay kenapa?" tanya Daisy.

Elina menunduk. "Mas Jay jatuh sambil ... lindungi El tapi ... pipi El kena cium bibir Mas Jay."

Mata dokter Lucky melebar sementara Daisy berusaha tetap tenang meskipun tak ayal bingung juga.

"Ini ada CCTV nya, Mom Daisy, Dokter Lucky." Kepala Sekolah memperlihatkan CCTV di lapangan baseball.

SD PRC dan SMP PRC memang dalam satu komplek yang luas jadi tak heran jika banyak orang tua yang punya dua anak, sering menyekolahkan disana supaya bisa dipantau. Tak jarang kakaknya yang sudah SMP menjemput adiknya yang masih SD.

Kedua orangtua Elina itu pun melihat kejadiannya. Meskipun tidak sengaja, tapi karena Elina sudah terbiasa dididik dari kecil agar menjaga dirinya, otomatis dia bereaksi. Jay pun terkejut lalu meminta maaf pada Elina. Namun gadis cilik itu sudah marah dan menendang anu nya Jay dengan dengkulnya.

Dokter Lucky pun meringis dan merasa miliknya ikut ngilu.

"Ya Allah El ...." Daisy memegang pelipisnya.

"Maaf Mama, maaf Papa ...." Elina pun terisak.

"Begini saja. Kita ke rumah sakit, dan biar sama-sama enak serta legowo. Toh Jay tidak ada maksud dan Elina bereaksi akibat ajaran kita." Daisy tersenyum. "Sayang, Mama tahu kamu hanya menjaga diri kamu tapi lain kali, jangan tendang anunya ya. Pukul tempat lain saja."

Elina mengangguk. "Kata Mas Kenzie, paling mantap disitu kalau lawan cowok."

"Eh?" Daisy dan Kepala Sekolah melongo. "Mas Kenzie dikasih tahu siapa?" tanya Daisy.

"Papa."

Dokter Lucky memilih diam daripada kena omel Daisy. Dia pun melirik dan tampak wajah judes Daisy.

"Lho? Benar kan Jeng?" ringis dokter Lucky.

Visual Elina kecil

***

Dua mobil itu pun tiba di galeri seni yang sudah tutup dekat dengan Polda Metro Jaya dan dikabarkan hendak dirubuhkan. Bangunan dua lantai itu pun tampak terbengkalai dan tidak ada tanda-tanda orang disana. Hanya ada sisa-sisa makan dan sampah dari gelandangan.

AKP Rosita pun turun bersama Sheva sementara mobil satunya yang membawa dua saudara kembar Santoso, Kenzie dan Zane, terparkir di mobil istri dokter Juno itu.

Keenamnya pun berjalan ke gedung itu.

"Kita bagi tugas, gimana? Sheva sama aku, Kenzie sama Cristiano, Casey sama Zane. Pada bawa senter kan?" AKBP Rosita melihat ke semua orang.

"Senter selalu bawa. Kan kita detektif Boys!" jawab Kenzie.

"Dikira kita Ayumi, Genta dan Mitsuhiko apa ya?" gumam Zane sambil mengeluarkan senter dari dalam tasnya.

"Hati-hati ya," ucap AKBP Rosita.

"Oke."

Tiga tim itu pun menyebar. Iptu Cristiano dan Kenzie menuju sisi kiri, AKBP Rosita dan Sheva ke arah tengah sementara Iptu Casey bersama Zane ke arah kanan.

Iptu Cristiano dan Kenzie melewati pinggir halaman samping yang terdapat rumput tinggi bahkan ada ilalang disana. Hingga hidung keduanya mencium sesuatu.

"Kenz, ini bau ...."

"Mayat yang membusuk! Aku tahu karena beberapa kali mencium bau begini di kantor Mama."

Iptu Cristiano dan Kenzie lalu mencari sumber bau itu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok jenazah yang sudah dalam kondisi mumifikasi.

"Kamu tidak salah Kenz," ucap Iptu Cristiano.

"Syukurlah kami benar."

***

Yuhuuu up Pagi Yaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!