"Maaf nyonya, bayi anda tidak bisa diselamatkan." Kata-kata itu seperti pisau yang menancap tepat di jantung nya. Tangan dengan infus yang tertancap disana bergerak seolah ingin menggapai sosok mungil yang tidak menangis maupun bergerak lagi.
Bayinya tiada setelah dilahirkan. Air mata nya mengalir deras, namun tidak ada suara dari bibirnya. Tubuhnya masih terasa lemah, suaranya bahkan belum kembali setelah teriakan dan rasa sakit di ranjang persalinan.
"Bayiku....."
"Bawa segera! Tidak perlu membiarkan nya berlama-lama!" Suara tegas bercampur dingin itu datang dengan tatapan tanpa belas kasih maupun genangan di pelupuk matanya.
"Jangan....." Tahannya. Tapi permintaannya tidak didengarkan.
"Simpan air mata mu itu. Tidak ada gunanya menangis. Bersyukurlah! Hanya bayi itu yang tiada, bukan putriku!" Sentak nya dengan tatapan tajam.
"Aku masih berbelas kasih padamu. Tapi, bukan berarti.... Aku tidak bisa melakukan hal yang buruk padamu! Anggap saja ini hukuman karena kejahatan mu ingin melukai putriku!"
Manik basah wanita itu menatap sosok pria yang dulunya dia kagumi lalu menjadi cinta dan berusaha menjadi seorang istri dan ibu dari anak yang bukan miliknya. Namun, bukannya sebuah pelukan atau kata-kata yang manis bercampur penguatan maupun dukungan. Justru kata-kata kutukan yang terlontar.
"Bukan aku..." Bibirnya ingin menjelaskan.
"Sudah Daddy, aku tidak papa. Tapi adik bayinya... Tidak bisa menangis lagi?" Matanya beralih pada sosok yang bicara sedih dengan tatapan berkaca-kaca itu. Anak perempuan itu, yang dia lindungi dengan segenap hati, justru menjadi penyebab dia kehilangan darah dagingnya.
"Mommy, tidak papa?" Tanyanya kembali.
"Sudah, dia tidak papa. Sebentar lagi akan sembuh! Ayo ikut Daddy!"
Kepala kecilnya mengangguk dan mengikuti langkah besar sang Daddy. " Dengar Athena.... Jangan berulah lagi. Lebih baik kau istirahat, mobil akan menjemput mu dalam beberapa hari." Pria itu kembali berujar sebelum akhirnya melenggang pergi menghilang dari ruangan itu.
"Putraku...." Dia kembali menangis, sendiri tanpa siapapun yang menemaninya. Seolah derita dia genggam dan telan sendiri.
**************
Saat matanya kembali terbuka, dia masih berada di ruangan yang sama. Beraroma disinfektan mengelilingi hidung nya. Sama, matanya melihat hal yang sama tidak ada yang menemani nya selain....
"Selamat pagi bu." Seorang perawat datang mengecek kondisinya.
Beberapa hari, Athena duduk di ranjang pasien dengan tatapan yang digenangi air mata nya dan pipinya yang selalu basah. Perawat kembali masuk dengan langkah hati-hati, matanya menangkap kesedihan itu. Bukan hanya sekedar kehilangan, tapi ada hal lain. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak selain memberikan dukungan untuk wanita yang menyedihkan itu.
"Bu, ayo sarapan dulu." Ajaknya membawa makanan.
Athena menoleh, dia melihat nampan berisi makanan dan diletakan seperti biasanya di hadapan nya. "Terimakasih." Ujarnya pelan.
"Apa, tidak ada yang datang?" Tanyanya dan dia berharap jawabannya tidak seperti yang dipikirkan nya.
Perawat itu menghentikan tangannya bekerja. "Bu...."
"Sudah, aku tau jawabannya." Ujar Athena melihat bibir perawat itu begitu berat mengatakannya.
"Bu, jangan bersedih lagi. Saya yakin kebahagiaan akan kembali menghujani anda, Bu." Bibir Athena tersenyum kecut.
"Ya, aku......"
"Mommy!" Suara panggilan itu mengalihkan pandangannya. Sosok mungil dengan rambut yang dikepang dua masuk sambil berlari kecil.
"Mommy, hari ini mommy sudah bisa pulang. Ayo, kita pulang." Ujarnya dengan senyuman. Athena melihat senyuman manis itu, dari tubuh kecil yang dirawat nya.
"Kenapa mommy?" Manik matanya berkedip dengan tangannya yang mencoba bergerak tapi kembali tertahan.
"Apa mommy tidak mau pulang? Jangan khawatir, Daddy sudah tidak marah lagi. Aurora sudah bicara." Jelasnya kembali meyakinkan.
"Iya Athena. Aku juga sudah bicara dengan Logan. Dia sudah menyiapkan mobil untukmu. Aku dan Aurora menjemputmu." Bunyi lancip dari hak sepatu itu berbenturan dengan lantai. Seorang wanita dengan rambut pirang datang dengan tas ternama di jinjing nya. Menatap ramah dan tersenyum manis pada Athena.
"Aku turut berdukacita atas apa yang menimpa mu. Aku juga sudah bicara dengan Logan, kalau yang terjadi bukan salahmu."
"Sungguh?" Ujar Athena.
"Ya, karena itu. Ayo, kita pulang. Kau bisa lihat nanti."
"Terimakasih Miranda."
"Jangan bicara begitu. Ayo! Ayo Aurora ajak mommy mu."
"Iya, ayo mommy!" Mendengar semuanya, Athena menjadi lebih tenang. Dia juga menunggu untuk pulang meskipun bukan suaminya yang menjemput, tapi setidaknya ada sosok yang dianggap sebagai putrinya.
'Syukurlah, tidak seperti pemikiran ku.' Batinnya, dia yakin sosok mungil yang menggenggam tangannya ini tidaklah jahat. Itu hanya salah paham. Apalagi, dia melihat senyuman dan sapaan manis dari Aurora.
"Apa masih lama?" Tanya Athena. Mobil mereka tiba-tiba berhenti karena ban bocor.
"Jangan khawatir Athena. Aku akan menghubungi Logan untuk mendatangkan mobil lain untuk menjemput kita. Sebentar ya." Ujar Miranda mengeluarkan ponselnya.
"Astaga, jaringan jelek sekali. Aku kesana ya."
"Mommy jangan khawatir." Tangan kecil Aurora mengenggam tangan nya yang masih terasa dingin.
"Kalau ada dirimu. Mommy tidak khawatir." Ujar Athena.
"Mommy mau air? Aku ambilkan ya." Anak itu membuka pintu mobil dan mengambil sebotol air lalu memberikannya dari jendela mobil.
"Terimakasih sayang."
"Segar mommy?" Athena mengangguk. Namun tak lama kepalanya terasa pusing.
"Rora, mommy...."
"Mommy, tidurlah dan jangan kembali lagi. Kau tidak pantas menjadi mommy ku. Selamat tinggal mommy. Ikutlah bersama dengan bayimu yang tiada." Mommy ku hanya bibi Miranda!"
"Rora apa.....ma-ksud-mu." Kepala Athena terasa berat. Dia bisa melihat Aurora berlari kencang di ujung jalan dan menggenggam tangan Miranda. Keduanya tersenyum kecil sebelum akhirnya.....
Mobil langsung meledak menghilangkan kesadaran Athena seiring rasa panas menjalar di tubuhnya.
Dugaannya benar. Namun, semuanya sudah terlambat. Sosok kecil yang manis yang dibesarkan nya nyatanya ikut terlibat dalam rencana jahat untuk menghabisi nya.
'Jika aku diberikan kesempatan, aku akan merubahnya!'
"Hah!" Napasnya tersengal-sengal dengan sepasang matanya yang terbuka mendadak.
"Kau sudah bangun, cepat! Segeralah bersiap. pernikahan mu dan Logan dalam hitungan jam!"
"Aku? kembali......." Ujarnya pelan menatap tak percaya dirinya di pantulan cermin.
Bersambung....
Halo semuanya author kembali lagi dengan cerita baru. Mohon dukungannya ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏
Athena kembali memastikan dirinya adalah nyata. Kakinya perlahan menginjak lantai yang dilapisi dengan karpet bulu yang hangat dan lembut itu. Saat kakinya menginjak karpet bulu itu dia langsung menghentakkan kakinya seolah merasakan semuanya nyata.
"Apa yang kau lakukan Athena?" Namun Athena tidak menanggapi, bibirnya tersenyum kecil saat merasakan semuanya adalah nyata. Dia kembali, dia mendapatkan kesempatan kedua.
"Athena!" Bahu Athena langsung ditahan membuatnya berhenti.
"Ya mom?" Balasnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau harus mandi dan MUA akan segera datang merias mu. Ayo cepat!" Seru mommy nya, tak lupa mendorong tubuh putrinya ke kamar mandi. Athena tidak mengatakan apapun, telinga nya mendengar pintu kamar mandi tertutup dari luar.
Athena kembali menatap pantulan nya di cermin. "Aku sungguh hidup kembali.... Mendapatkan kesempatan." Ucapnya, tangannya menyentuh kaca yang memantulkan bayangan nya.
"Aku akan menikah dengan Logan. Aku tidak bisa mengubahnya. Tapi, aku bisa mengubah takdir ku dirumah itu. Jika dulunya aku adalah pengantin yang menerima dengan senang hati segala kekayaan dan sikap pria itu, anaknya, keluarga nya maupun wanita itu." Athena menggelengkan kepalanya. "Tapi sekarang, tidak lagi! Ucapkan selamat tinggal Athena yang polos, lugu dan patuh serta ibu tiri yang baik! Katakan selamat datang pada Athena yang baru! Yang akan membalas siapapun yang menganggu nya dan menciptakan dunia nya sendiri." Athena membentangkan tangan seolah mengajak setiap elemen yang ada disekitarnya menyambut kehidupan keduanya.
"Selamat datang Athena yang baru!" Teriaknya.
****************
"Ini dia! Ayo cepatlah, kenapa kau lama sekali di kamar mandi? Hampir saja Daddy mu mendobrak nya." Gerutu mommy nya sambil menarik tangannya, memaksa duduk di depan meja rias.
"Dobrak saja. Lagipula, aku harus benar-benar bersiap. Mommy dan Daddy sudah bersusah payah menjual ku pada keluarga itu..."
"Athena!" Potong mommy nya dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa? Itu benar, kenapa mommy merasa tersinggung atau marah atas ucapan ku. Aku harus menjadi seorang putri yang memenuhi ekspektasi kalian bukan? Tenang saja, aku akan melakukan nya dengan baik."
"Athena, hentikan! Daddy mu bisa dengar nanti! Dan dia....."
"Daddy tidak akan melakukan apapun. Dia akan menjaga ku seperti permata yang berharga tidak akan ada goresan. Karna aku..... Satu-satunya investasi nya yang tersisa." Sindir Athena dengan senyuman tipis.
"Kau...." Namun ucapan wanita itu terhenti saat MUA yang bertugas mendadani Athena sudah datang.
Wanita itu memundurkan langkahnya memberi ruang untuk perias putrinya. Athena duduk manis dengan alat makeup maupun benda-benda kecantikan yang semakin membuat wajahnya menawan.
'Sebentar lagi. Aku akan kembali bertemu dengan pria itu. Dia, dia membuat ku kehilangan putraku! Dan anak nya, aku akan memberikan pelajaran pada putrinya itu bagaimana menjadi anak yang baik!' batin Athena.
*****************
Mobil dengan harga fantastis itu berhenti di depan gedung yang akan menjadi saksi dimana dia kembali menyebutkan janji pernikahan. Namun, tidak ada senyuman merekah maupun wajahnya yang memerah seiring dengan langkahnya.
Disisi nya ada sosok kecil dengan rambut coklat yang tidak melepaskan tangan besarnya. "Daddy...." Panggil nya pelan.
"Tetap bersama Daddy." Sosok kecil itu mengangguk dan mengikuti langkah Daddy nya dengan kepala yang mendongak menatap dekorasi pesta, namun bukan itu tujuan nya.
'Mana dia?'
"Sudah, wah.... Cantik sekali! Sungguh semakin menawan nona." Puji MUA yang merias dirinya. Kelopak mata Athena bergerak. Perlahan, dia melihat pantulan nya yang sudah dipoles seperti boneka Barbie. Cantik, wajahnya yang mulus dan bersih begitu membuat make up menempel sempurna di wajahnya.
"Pengantin pria nya tidak akan bisa menutup mulutnya dan melepaskan pandangannya." Imbuh MUA. "Iya, pastinya!" Timpal rekannya. Mereka menatap kagum kecantikan klien mereka.
"Athena......" Sejenak kata-kata itu menggantung di udara. Kakinya melangkah pelan, matanya terpaku pada Athena di depannya.
"Kau sangat cantik....." Puji nya.
"Ayo, pengantin pria sudah datang." Athena mengikuti langkah itu. Dengan gaun putih yang memiliki ekor panjang dibelakang dan veil nya yang terpasang sempurna membayangi kecantikan nya. Dulu, Athena akan memberikan senyuman yang paling manis, tatapan yang paling memuja dan pipi nya yang bersemu merah, serta menanamkan kata-kata dihatinya untuk menjadi istri yang baik, ibu yang baik serta mencintai nya seumur hidup. Tapi sekarang, Athena rasanya ingin m3ludahi kata-katanya itu.
Merasakan kehadiran pengantin wanitanya. Kepala itu tetap mendongak seolah ingin memperlihatkan kesombongannya. Dulu Athena berpikir mata yang tidak berkedip itu adalah tatapan memuja maupun terpesona, tapi itulah kebodohannya. Athena mengalihkan pandangannya ke sisi kursi undangan. Dia melihat sosok kecil yang bersama dengan sepasang suami istri paruh baya dan lihatlah, siapa yang ada di sebelah anak itu.
'Miranda.'
Athena kembali mengalihkan pandangannya ke calon suaminya. Saat jarak mereka terkikis.... Athena tersenyum tipis dengan wajah yang mendongak menatap tatapan abu-abu itu. "Hai, calon suamiku." Sapa Athena tanpa senyuman yang luntur.
Athena dapat melihat punggung kokoh yang menegang itu dan dia senang. 'Apa yang kau pikirkan? Aku akan menatap mu dengan malu-malu dan mer3mas jari-jari ku? Dengan leher tertunduk. Kau salah! Ini baru dimulai!'
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰🥰🥰
Tangan besar dan berurat itu perlahan bergerak meraih tangan mungil nan lembut yang ada dihadapannya. "Aku serahkan putriku kepadamu. Aku harap, kau menjaganya." Athena rasanya ingin muntah mendengar kata-kata itu. Bahkan Daddy nya tidak peduli dia hidup atau mati di kediaman pria yang merupakan menantunya itu. Didalam pikirannya, hanyalah uang dan kestabilan saham di perusahaan sungguh takut hidup miskin.
"Ya, jangan khawatir." Sungguh, Athena benar-benar menertawai kebohongannya menganggap kata-kata itu adalah sebuah janji yang tidak akan diingkari.
Athena merasa jengah, tapi dia harus tetap memperlihatkan keanggunan nya. Bukan sekarang waktunya. "Baiklah, pemberkatan akan segera dimulai." Rangakaian acara berlangsung hingga mulailah pada bagian paling sakralnya.
"Saudara Logan Alistair Vance dihadapan Tuhan dan jemaat nya , bersediakah saudara mengambil Athena Charlotte Alexander menjadi istrimu, mengasihi nya, setia dalam suka maupun duka dalam sehat maupun sakit. sampai maut memisahkan?"
"Ya, saya bersedia." Jantung Athena akan berdebar saat mendengar nya dulu. Namun sekarang, tidak lagi. Dia tidak akan terbedaya, namun dia akan membuatnya menjadi benar dan pria itu akan melakukan nya untuk nya!
"Saudari Athena Charlotte Alexander bersediakah saudari mengambil Logan Alistair Vance sebagai suami mu. Mengasihi nya, setia dalam suka maupun duka dalam sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?" Ujar pendeta. Athena diam, dan itu membuat suasana menjadi bisik-bisik sambil berpikir apa yang terjadi. Athena merasakan genggaman Logan menyentuh nya kasar. 'Inilah pria itu yang sebenarnya.'
"Aku bersedia!" Jawab Athena. Dia mengulangi kata-kata itu dengan kata-kata yang berbeda di hatinya. 'Aku bersumpah akan membalas rasa sakit ku, kehilangan putraku, hinaan yang aku terima dan memoroti uang dan hartamu hingga habis seperti yang kau tuduhkan padaku! Aku akan membuat kau dan putrimu bertekuk lutut padaku!'
"Kalau begitu, silahkan untuk mempelai pria mencium mempelai wanitanya. Kalian resmi menjadi suami istri!"
Ekor mata Athena melirik mata yang terbakar cemburu dan tangannya sudah menggenggam belahan gaunnya di samping. 'Sekarang kau akan lihat, pria ini yang kau idamkan ini menjadi milikku dan dibawah kendali ku!'
"Kau tunggu apa? Aku mencium mu?" Suara itu begitu dingin berbisik menusuk telinga Athena. "Jangan harap!" Bisik nya.
"Kenapa? Apa bibir mu terasa gatal karena getah?" Balas Athena.
"Getah apa?"
"Hanya kau yang tau, suamiku. Lagipula, aku juga tidak mau lipstik mahal ku rusak karena getah itu dan biarkan orang-orang semakin berpikir kalau seorang Logan menikahi wanita yang seperti istrinya dan hanya sekedar untuk saham perusahaan serta baby sitter gratis!" Bisik Athena balik.
"Oh, lihatlah... putri kecil mu itu dan siapa wanita itu? Apa dia kerabat mu? Atau...." Tangan besar itu menarik pinggang ramping itu dengan cepat. Membuat semuanya berpikir itu adalah suasana yang intim dan mesra atas pengantin baru.
"Kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya? Kau tidak merasa malu?" Ancam Logan.
Bukanya tatapan yang memelas maupun leher yang tertunduk. Tapi senyuman manis dan tatapan yang menyala namun tenang. "Katakan saja. Lagipula, kalau bukan aku, siapa yang akan menjadi pengantin mu? Apa.... wanita itu? Tebak Athena.
"Kau ingin ciuman? Betapa rendahnya dirimu. Aku pikir, kau akan tersipu."
"Tersipu karena apa? Wajahmu? Ada banyak pria Italia dan Spanyol yang lebih darimu. Hartamu? Ya, tapi tetap saja banyak yang lebih darimu. Lagipula, kau itu seorang duda. Sudah ada minusnya." Ejek Athena.
"Kau!" Tapi amarah Logan tertahan. Mereka masih di altar. Tidak ingin memperpanjang masalah, Logan langsung menangkup wajah Athena dan mencium nya.
'Hanya butuh percikan, kena kau!' Athena tersenyum puas, apalagi melihat reaksi Miranda dengan mata yang terbelalak dan bibir terkatup rapat. Sedangkan, sosok kecil itu menatap dengan alisnya yang bertaut.
'Lihatlah mereka! Jangan khawatir, ini baru permulaan!' Athena menahan Logan yang ingin menarik wajahnya memutuskan tautan bibir mereka. Tapi dia tidak membiarkannya, Athena memperdalam ciumannya. Seketika suasana langsung riuh dengan tepuk tangan yang meriah.
Athena melihat tatapan kesal Logan setelah ciuman mereka berakhir. "Pastinya ada paparazi sekecil mungkin, atau pandangan orang-orang. Kau tidak ingin itu mempengaruhi awal pernikahan kita bukan?" Sahut Athena sambil mengusap bibir suaminya yang basah.
"Lumayan, suamiku. Tadinya aku berpikir kau sudah terlatih. Tenyata masih amatir!" Bisikan Athena membuat Logan menahan diri dengan rasa kesal memuncak.
'Wanita ini....' Geramnya.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!