Indonesia
NovelToon NovelToon

THE AGENTS : Perburuan Aset

Key-1

Dua minggu yang lalu

Meudon, Paris

Perlahan kelopak mata Arsela terbuka. Untuk sesaat wanita itu masih terdiam. Mencoba mencerna apa yang terjadi padanya. Seingatnya dia sedang berada di Paris, menghadiri peragaan busana salah satu temannya.

Sepulang dari acara, mobil yang ditumpanginya diikuti. Mereka dicegat di tengah jalan. Dan setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi.

Pelan-pelan Arsela bangun dari posisinya. Dia memindai seluruh ruangan. Saat ini dia tengah berada di sebuah kamar. Dilihat dari interior kamar, ini adalah kamar seorang wanita.

Matanya kemudian melihat ke lengannya. Tepat di bagian tengah terdapat plester yang tertempel. Sepertinya seseorang sudah mengambil darahnya.

Di tengah kebingungannya, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Arsela kembali membaringkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya lagi.

Dapat dia dengar suara pintu terbuka. Dugaannya, ada lebih dari satu orang yang memasuki kamar.

“Dia belum bangun,” terdengar suara seorang pria menggunakan bahasa Inggris.

“Apa rencanamu kalau dia bangun?”

“Kita kembalikan dia ke hotel tempatnya menginap. Bilang kalau kita yang menolongnya saat dia hendak diculik.”

Hening … tidak ada suara lagi. namun kemudian Arsela merasakan seseorang mencabut plester di lengannya.

“Kenapa ini belum dicabut? Bisa bahaya kalau dia sadar kita sudah mengambil DNA-nya.”

Pembicaraan keduanya terhenti ketika terdengar deringan ponsel. Salah satu pria menjawab panggilan. Sayang sekali Arsela tidak bisa mengerti pembicaraan, karena sang pria menggunakan bahasa Spanyol.

“Ada apa?” tanya temannya.

“Kita belum bisa melepaskan dia.”

“Kenapa?”

“Sampel kedua sudah didapat. Professor ingin menguji coba DNA-nya dengan DNA sampel dua. Jadi dia harus tetap di sini.”

Setelahnya kedua orang itu keluar dari dalam kamar.

Ketika yakin tidak mendengar suara-suara lagi di dekatnya, Arsela membuka matanya perlahan. Dia segera menegakkan tubuh.

DNA apa yang dimaksud?

Sampel apa yang mereka bicarakan? Lalu kenapa mereka butuh DNA?

Sejuta pertanyaan memenuhi benak Arsela, namun tak ada satu pun yang bisa dijawabnya. Satu hal yang terlintas dalam pikirannya sekarang adalah, bagaimana caranya keluar dari tempat ini.

Arsela segera bangun kemudian menuju jendela yang ada di samping kanan. Suasana gelap langsung tertangkap matanya. Pelan-pelan dia membuka jendela, kepalanya melongok keluar untuk melihat situasi.

Rupanya dia sedang berada di sebuah rumah yang ada di daerah perbukitan. Sekeliling rumah hanya ada pepohonan saja. Walau kondisi gelap, namun Arsela tahu kalau saat ini dia berada di daerah Meudon. Jaraknya sendiri tidak jauh dari Paris.

Aku harus pergi dari sini. Aku bisa ke rumah Camille.

Saat akan membuka jendela lebih lebar, tanpa sengaja mata Arsela melihat sesuatu tergeletak di atas meja rias. Selembar foto polaroid dirinya yang terbaring di kasur. Di pergelangan tangannya terdapat gelang pasien dengan tulisan KEY-1 Q-3394C di atasnya.

Tak punya banyak waktu untuk berpikir, Arsela segera keluar melalui jendela. Beruntung dia ditempatkan di kamar yang ada di bawah. Setelah berhasil keluar, wanita itu menutup kaca jendela. Secepat kilat Arsela berlari menjauh.

Nafas Arsela nampak terengah, namun dia terus saja berlari. Kakinya yang tak beralas terus melewati tanah yang tertutup rumput, sampai akhirnya dia tiba di jalanan beraspal. Kembali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri.

Entah ini suatu keberuntungan atau apa, tapi yang jelas, rumah tempatnya disekap ternyata tidak jauh dari kediaman Camille. Arsela kembali melanjutkan langkahnya ke sana.

Kembali Arsela harus menaiki bukit karena posisi rumah Camille cukup berada di ketinggian.

Sesampainya di sana, keadaan rumah nampak sepi dan gelap. Arsela mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah. Dia terpaksa memecahkan kaca di dekat pintu. Tangannya masuk untuk membuka pintu dari dalam.

Sementara itu, salah satu pria yang menculik Arsela menuju kamar untuk melihat keadaan wanita itu. Dia terkejut ketika melhat wanita itu sudah tidak ada di tempatnya.

“Sh*t!! Enrique!!”

“Ada apa?”

“Perempuan itu kabur.”

“Sial!”

Pria bernama Enrique itu segera memeriksa CCTV rumah ini. Dia terus memperhatikan kemana Arsela kabur.

“Cari tahu semua tentang perempuan itu. siapa saja temannya di sini. Aku yakin kalau dia pergi ke rumah temannya,” seru Enrique pada rekannya yang bernama Caleb.

Caleb langsung mencari tahu semua tentang Arsela. Data wanita itu memang sudah dikumpulkan.

“Ada rumah temannya tidak jauh dari sini. Aku tahu di mana itu!”

Enrique dan Caleb segera mencari keberadaan Arsela. Tak lupa dia membawa senjata untuk melumpuhkan wanita itu. Bukan senjata api, tapi hanya senjata kejut. Karena Arsela adalah aset yang harus dijaga nyawanya.

Di rumah Camille, Arsela langung mencari telepon yang bisa digunakannya. Dia mengambil telepon wireless yang ada di meja tengah. Wanita itu sengaja tidak menyalakan lampu, agar bisa bersembunyi dengan baik.

Sambil mendudukkan diri di lantai dekat sofa, wanita itu menyingkapkan dress yang dikenakannya. Di pahanya tertera deretan nomor yang sengaja dibuat tato temporer olehnya. Itu adalah nomor yang bisa digunakan olehnya jika berada dalam keadaan darurat.

“Halo, siapa ini?” tanya seseorang dari seberang.”

“Aku Arsela.”

“Arsela?”

“Ya. Aku diculik dan berhasil kabur. Apa kamu bisa mejemputku?”

“Sebentar, aku akan hubungankan kamu pada agen yang bertugas.”

Untuk beberapa saat Arsela menunggu. Tak berapa lama kemudian, dia tersambung pada seseorang.

“Halo, apa kamu berada di tempat yang aman sekarang?”

“Ya, aku berada di rumah temanku. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini.”

“Tunggu di sana. Aku akan menjemptmu.”

“Kamu tahu di mana aku berada sekarang?”

“Tentu saja. Kami sudah melacak lokasimu dari sambungan telepon yang kamu gunakan.”

Perasaan Arsela langsung lega. Untung saja dia mendengarkan nasehat ayahnya untuk menyimpan nomor darurat yang bisa digunakan. Alih-alih menyimpannya di ponsel, wanita itu memilih mentatonya di paha.

“Jangan putuskan sambungan ini, supaya aku tahu kamu baik-baik saja.”

“Baik.”

“Apa kamu tahu, berapa orang yang menculikmu?”

“Setahuku dua orang.”

“Mereka pasti akan mencarimu. Kamu harus hati-hati. Apa lokasimu sekarang cukup jauh dari tempat kamu disekap?”

“Cukup jauh tapi tidak terlalu jauh juga,” jawab Arsela sambil berdiri.

Habis berlari cukup jauh, membuatnya haus juga. Saat hendak menuju dapur, dia melihat dua pria berjalan mendekati rumah Camille. Wanita itu langsung menunduk lagi.

“Mereka berhasil menemukanku,” lirih Arsela seperti suara berbisik. Pria yang memandunya masih terlihat tenang.

“Mereka menjadikanmu target, pasti mereka mencari tahu tentangmu. Tenanglah. Apa ada basement di rumah itu?”

“Tidak ada.”

“Lantai dua?”

“Ada.”

“Kalau begitu naik ke atas.”

Arsela menuruti perintah pria di ujung telepon. Sambil menunduk, wanita itu naik ke lantai dua. Sama seperti di bawah, keadaan di atas pun sepi dan gelap.

“Apa ada kamar mandi?”

“Ya.”

“Apa pintunya bisa dikunci dari luar?”

“Sepertinya bisa.”

“Bagus. Kamu ke sana, tutup pintunya lalu kunci dari luar.”

Bergegas Arsela menuju kamar mandi. Dia mengambil kunci yang tergantung di bagian dalam. Pelan-pelan dia menutup pintu kemudian menguncinya.

“Cari kamar yang ada lemari bajunya. Buka pintunya setengah, agar kamu bisa mendengar suara. Kalau bisa taruh cermin yang bisa kamu lihat dari dalam lemari.”

Arsela segera memasuki kamar yang ada di lantai atas. Dia sengaja membuka pintu setengah seperti titah pria yang memandunya. Lebih dulu dia memindahkan cermin ke dekat pintu. Dengan begitu, dia bisa melihat pantulan orang yang melintasi kamar.

Jantungnya hampir copot ketika mendengar suara dari arah bawah. Buru-buru Arsela masuk ke dalam lemari. Dia bersembunyi dibalik pakaian yang bergantungan. Matanya terus melihat ke cermin.

“Kamu sudah di dalam lemari?”

“Ya,” lirih Arsela.

“Cari ke atas!”

Terdengar suara seorang pria, yang kemudian disusul dengan suara langkah kaki.

Jantung Arsela berdetak cepat ketika dia melihat kaki seseorang melangkah mendekati kamar dari pantulan cermin.

***

Siap berpetualang dengan Zyan dan Arkan?

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like, komen, ulasan dan bintang 5 ya🤗

Aset Diamankan

Mata Arsela terus melihat ke pantulan cermin. Kaki pria itu berdiri sebentar di depan kamar, kemudian melanjutkan langkahnya. Sekarang dia berjalan menuju ruangan lain di sana.

“Apa kamu mendengar suara?”

“Belum,” bisik Arsela. “Sebentar ….”

DUK … DUK …

Terdengar suara seperti seseorang menghantam sesuatu.

“Sepertinya dia sedang membuka pintu kamar mandi,” jelas Arsela dengan suara berbisik.

“Bagus. Dia sudah terpancing. Tetap dia di tempatmu, jangan timbulkan suara apa pun.”

Arsela refleks menganggukkan kepalanya, seakan pria yang sedang berbicara dengannya bisa melihatnya.

Ketegangan masih menguasai Arsela, karena pria tadi masih berada di lantai atas. Dia mulai memeriksa ruangan di lantai dua satu per satu.

Wanita itu menahan nafasnya ketika langkah sang pria mendekati kamar. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Bagaimana keadaannya?” tanya agen yang memandunya. “Kalau dia tidak mendekat dan kamu tidak bisa bicara, tekan tombol nol di telepon.”

Arsela menekan tombol nol, kemudian menutup mulut dengan sebelah tangannya. “Dengar,” sang agen terdiam sebentar. Dengan suaranya yang masih terdengar tenang, dia lanjut bicara. “Kalau dia menemukanmu, kamu harus melawan sekuat tenaga. Bagaimanapun caranya kamu harus bertahan sampai aku datang.”

Pria di ujung telepon yang baru saja memberikan pengarahan pada Arsela menekan pedal gas lebih dalam. Sekitar lima menit lagi, dia akan sampai di sana.

Ketegangan dan ketakutan yang dirasakan Arsela sudah sampai ke puncaknya. Apalagi sekarang pria yang mengejarnya sudah berdiri di depan lemari.

BRAK!

Jantung Arsela serasa bergeser dari tempatnya begitu pintu terbuka. Tangan sang pria hendak menyibak deretan pakaian di depannya.

Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Arsela bersiap untuk menyerang.

SREK!

Begitu deretan pakaian yang tergantung tersibak, Arsela langsung bangun kemudian menerjang pria di depannya.

Terkejut dengan kemunculan Arsela yang tiba-tiba, pria itu tidak bisa menahan keseimbangannya. Pria itu terjatuh dengan posisi telentang.

Arsela mengambil parfum yang ada di meja rias. Tanpa ragu dia menyemprotkan cairan beralkohol itu ke mata pria tadi.

“Aaarrgghhh!!” terdengar teriakan pria itu ketika merasakan perih di matanya.

Hal tersebut dimanfaatkan Arsela untuk melarikan diri. Dia bersembunyi dulu di balik tembok ada di dekat tangga. Menunggu pria satu lagi datang. Di tangannya terdapat vas bunga yang diambilnya tadi.

Benar saja, mendengar teriakan temannya, Enrique bergegas menaiki anak tangga. Belum sempat pria itu memasuki kamar, Arsela langsung menyerangnya dari belakang. Dia memukulkan vas di tangannya ke kepala Enrique.

PRANG!

Vas langsung pecah ketika mengenai kepala Enrique. Pria itu hampir saja terjatuh sambil memegangi kepalanya yang terkena pukulan.

Tanpa membuang waktu, Arsela bergegas menuruni anak tangga.

Enrique langsung berbalik kemudian mengejar Arsela. Temannya pun ikut keluar setelah rasa perih di matanya sedikit berkurang.

Karena tidak melihat jalan, kaki Arsela tersandung kaki meja. Tanpa dapat ditahan, tubuh wanita itu meluncur ke depan kemudian jatuh berdebam ke lantai kayu di bawahnya.

Sambil menahan rasa sakit, Arsela berusaha bangun. Namun pergelangan kakinya berhasil diraih oleh Enrique. Sebisa mungkin Arsela berontak. Dia meraih barang apa pun di dekatnya, kemudian melemparkan pada Enrique.

BUGH!

Sebuah pukulan diberikan Enrique ke wajah Arsela. Untuk beberapa detik, wanita itu tidak bisa menguasai dirinya. Pandangannya hampir gelap akibat pukulan itu.

“Ingat Enrique! Kita harus menangkapnya hidup-hidup!” peringat Calleb dari belakang.

Sadar kalau buruannya harus tetap hidup, Enrique urung memukul kembali Arsela. Dia menarik rambut wanita itu hingga tubuhnya terseret.

“Aaarrrggghhh ….”

Suara rintihan dan erang kesakitan terdengar dari mulut Arsela. Tangannya mencoba menggapai tangan pria yang sedang menjambaknya. Sebisa mungkin dia melepaskan tangan pria itu dari kepalanya. Namun usahanya sia-sia.

Sekarang pria itu sudah berada di depan pintu. Ketika dia membuka pintu ….

BUGH!

Sebuah pukulan keras mengenai wajah pria tersebut. Tubuhnya mundur ke belakang dan pegangannya di rambut Arsela terlepas.

Belum sempat menyadari siapa orang yang sudah menyerangnya, kali ini sebuah tendangan mengenai perutnya. Tanpa dapat ditahan, tubuhnya melayang kemudian jatuh terhempas mengenai kursi di belakangnya.

Dengan cepat pria tadi membantu Arsela berdiri.

“Pergilah, naik ke mobilku. Cepat!!” titah pria yang ternyata agen yang sudah memandunya tadi.

Secepat kilat Arsela berlari menuju mobil yang terparkir. Dia masuk ke dalam lalu duduk. Kecemasan dan ketakutan belum sepenuhnya hilang dari darinya. Dadanya masih bergerak naik turun, nafasnya nampak terengah, tangannya juga masih bergetar.

Matanya terus tertuju pada rumah Camille. Berharap pria yang menolongnya tadi segera datang dan membawanya pergi.

Di dalam rumah, setelah berhasil membuat Enrique terjatuh, sekarang sang agen tengah menghadapi Calleb. Perkelahian di antara keduanya segera terjadi.

Sang agen menggerakkan kepalanya ke kanan untuk menghindari pukulan. Kemudian dia menangkap tangan Calleb, menariknya, kemudian melayangkan pukulan ke wajah pria itu menggunakan sikunya sebanyak dua kali.

Tubuh Calleb terdorong mundur. Dengan kesal dia mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Pria itu kembali menyerang agen yang dihadapinya.

Sekarang dua jab beruntun mengenai wajahnya, diakhiri dengan sebuah upper cut ke dagunya. Tubuh Calleb kembali terdorong ke belakang.

BRUK!

Punggung Calleb menghantam keras lantai kayu, membuat pria itu mengerang kesakitan.

Secepat kilat agen tersebut keluar dari rumah. Ada hal penting yang harus dilakukannya, membawa Arsela pergi dari sini.

Melihat orang yang sudah menyelamatkan buruannya kabur, Enrique membantu Calleb berdiri. Keduanya segera mengejar agen tersebut.

Perasaan Arsela langsung lega ketika melihat penolongnya berlari mendekat. Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Dia langsung menjalankan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi.

“Sh*t!!” maki Enrique ketika mobil yang ditumpangi Arsela melaju, tepat ketika dia tiba.

Calleb langsung mengambil ponselnya. Dia menghubungi rekannya yang lain.

“Halo.”

“Key-1 kabur. Dia pergi menggunakan mobil SUV warna silver dengan plat nomor FL-209-MQ.”

Usai melapor pada rekannya, Calleb mengajak Enrique mengejar mereka. Lebih dulu mereka kembali ke rumah penyekapan untuk mengambil mobil.

Kaki sang agen terus menekan pedal gas, menambah laju kecepatan mobilnya. Dia harus membawa Arsela ke safe house, sebelum membawa Arsela keluar dari Paris.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ujar Arsela membuka pembicaraan di antara mereka.

“Sudah tugasku.”

“Apa kamu yang memanduku di telepon tadi?”

“Hem.”

“Siapa namamu?”

“Kael.”

Arsela tersenyum tipis mendengar nama Kael. Dia yakin kalau itu bukan nama sebenarnya. Pria di sampingnya ini adalah seorang agen.

Karenanya tidak mungkin dia membocorkan identitas sebenarnya. Apalagi di tengah misi seperti ini.

Wanita itu menyandarkan kepalanya. Masih bisa dirasakan rasa sakit akibat jambakan Enrique tadi. Ditambah wajahnya yang terkena tonjokan. Denyutan disertai rasa linu dan nyeri masih bisa dirasakan olehnya.

Kael melirik wanita di sampingnya. Bisa dia lihat luka memar di wajah Arsela.

“Selain memar di wajahmu, apa ada bagian lain yang terluka?”

“Hanya kepalaku. Laki-laki sialan itu menjambakku cukup kencang tadi,” Arsela mengusap kepalanya yang masih terasa nyeri. “Sekarang kita ke mana?”

“Safe house.”

Kael memasang earpiece di telinganya. Dia menekan layar ponsel yang terpasang di dashboard. Tak berapa lama, terdengar deringan telepon.

“Aset sudah berhasil diamankan. Kami menuju safe house sekarang.”

“Oke.”

Mata Kael melirik ke spion. Dari pantulan cermin, nampak sebuah kendaraan mendekati mobilnya.

“Kami diikuti, segera kirim bantuan. Lacak lokasiku dari ponselku.”

Kael segera mengakhiri panggilan. Kini konsentrasinya kembali ke jalan di depannya. Mobil di belakang mereka semakin mendekat.

“Menunduk!” titah Kael cepat ketika melihat mobil di belakang sudah berada di samping mobilnya.

Orang di dalam mobil tersebut membuka kaca jendela, kemudian mengarahkan senjata ke arah Kael.

***

Jangan lupa ditoel bintang 5-nya ya🤗

Turtle and Strike

“Menunduk!”

Kael menggunakan sebelah tangannya untuk menekan kepala Arsela agar menunduk. Pria itu juga ikut menunduk sambil terus menjalankan kendaraannya.

“Aaaaa!!”

Terdengar teriakan Arsela ketika peluru menembus kaca jendela di mana kursi Kael berada. Sang penembak kembali menembakkan lagi senjatanya dan kali ini mengenai kaca jendela kursi Arsela. Serpihan peluru mengenai pelipisnya.

Dengan cepat Kael membanting setir ke kanan. Sambil terus menekan gas dia mendorong mobil yang mengejarnya hingga menempel ke pembatas jalan. Untuk beberapa saat Kael masih mempertahankan posisi mobilnya seperti itu.

Mobil yang dipepet Kael tidak bisa mempertahankan posisi hingga naik ke trotoar. Kael langsung memanfaatkan kesempatan. Dia menekan pedal gas lebih jalan, melaju secepat mungkin.

“Kamu tidak apa-apa? Coba kulihat lukamu.”

Arsela menolehkan kepalanya. Sambil sesekali melihat ke jalan di depannya, Kael memeriksa luka di pelipis Arsela.

“Kamu hanya terkena serpihan kaca. Tekan lukamu dengan tisu agar darahnya berhenti keluar.”

Arsela melakukan apa yang diperintahkan Kael.

Di saat Arsela sedang mengurus lukanya, Kael menghubungi kembali timnya.

“Mana bantuan yang kuminta? Kami dikejar dan ditembaki!”

“Aset sedang berjalan ke arahmu bertahanlah!”

Kael terus melajukan kendaraannya. Matanya melihat ke arah spion. Rupanya mobil yang tadi berhasil dipepetnya kembali mengejar.

“Sh*t!” maki Kael. Dia mengambil pistolnya dari balik pinggangnya. “Apa kamu bisa memegang setirnya sebentar?” tanya Kael sambil melihat pada Arsela.

“A-Aku ti—“

Belum selesai Arsela berbicara, Kael sudah melepaskan tangannya dari setir. Pria itu sedikit mengeluarkan tubuhnya dari jendela sambil menembakkan pistol di tangannya beberapa kali.

Arsela cukup kesulitan memegang setir dengan posisinya sekarang. Tapi sebisa mungkin dia mengendalikan jalannya kendaraan.

“Ooh … Kael … Kael!!” teriak Arsela, membuat Kael menolehkan kepalanya. Pria itu kembali masuk dan mengambil alih kemudi, tepat ketika mobil hampir menabrak tiang di sisi jalan.

Jantung Arsela hampir bergeser dari tempatnya. Rupanya kejadian yang memacu adrenalin masih belum selesai mengikutinya.

Dari kaca spion, Kael melihat dua mobil mendekat. Dia tahu kalau itu bantuan yang dikirimkan rekannya. Perasaannya sedikit lega sekarang. Pria itu terus memacu mobilnya sambil sesekali melihat jalan di depannya.

BRAAKK!

Sebuah mobil menghantam bodi bagian belakang mobil yang dikendarai Kael. Mobil berputar beberapa kali, sampai akhirnya berhenti ketika menabrak trotoar.

Tubuh Kael dan Arsela terguncang beberapa kali akibat benturan keras tadi.

“Aaarrgghhh,” Kael mengerang kesakitan sambil memegangi keningnya yang terkena goresan sisa pecahan kaca jendela. “Sela … kamu tidak apa-apa?”

“Ya.”

“Ayo turun.”

Beberapa kali Kael mendorong pintu yang macet, hingga akhirnya terbuka. Dia segera membantu Arsela membuka pintu. Begitu membantu Arsela keluar, matanya langsung melihat ke belakang. Mobil yang menabraknya tadi berhenti secara mendadak.

Matanya memicing, mencoba melihat pria yang ada di dalam mobil.

“Ayo!”

Kael langsung menarik tangan Arsela, membawanya menjauh dari jalan. Orang yang dilihatnya di dalam mobil, adalah pria yang tadi mengincar Arsela di rumah.

Melihat buruannya kabur, sang pengemudi kembali menjalankan kendaraannya.

Sambil sesekali melihat ke belakang, Kael terus berlari. Tangannya menggenggam erat tangan Arsela. Jangan sampai gadis itu lepas dari penjagaannya.

Melihat ada jalan kecil di dekatnya, Kael segera menarik Arsela ke sana. Jalanan yang dilaluinya sekarang tidak cukup untuk dilalui kendaraan roda empat.

Arsela mendongakkan kepalanya ketika merasakan tetesan air dari atas. Hujan yang awalnya hanya rintik kecil, kini mulai membesar.

Derap suara kaki terdengar memenuhi jalanan yang digenangi air. Sepanjang jalan hanya terdapat deretan gedung gelap, seperti tidak ada kehidupan di gang ini.

Kael menarik tangan Arsela memasuki gedung kosong yang ada di sisi kiri jalan. Keduanya terus memasuki gedung yang terdapat pilar-pilar tinggi di dalamnya. keduanya bersembunyi di balik salah satu pilar besar.

“Sela … aku mau kamu naik ke atas. Carilah tempat persembunyian di sana. Mengerti?”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan menghadang musuh di sini. Kamu sebaiknya cepat bersembunyi.”

“A-Aku takut,” suara Arsela terdengar bergetar.

“Tenanglah. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Pegang ini. Tikam orang yang berusaha menyakitimu,” Kael memberikan pisau lipat taktis ke tangan Arsela. “Bersembunyilah sekarang. Cepat!”

Secepat kilat Arsela berlari menaiki tangga. Wanita itu segera mencari ruangan yang aman untuk bersembunyi.

Kael masih bertahan di tempatnya. Dia melihat dulu peluru yang tersisa di dalam pistolnya. Hanya tersisa empat peluru lagi di sana.

Pria itu tetap bersembunyi di balik pilar besar sambil melihat ke pintu masuk. Dapat dia dengar suara derap kaki mendekat.

“Di mana mereka?!” tanya Enrique.

“Sepertinya mereka ada di sini!” tunjuk Caleb ke gedung kosong di sebelah kirinya.

Pelan-pelan keduanya masuk dengan tangan masing-masing memegang senjata api. Keduanya nampak berhati-hati dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.

Dengan gerakan tangan, Enrique meminta Caleb naik ke atas. Sementara dirinya akan menyusuri ruangan bawah.

Ketika Caleb mulai menaiki anak tangga, perhatian Kael tertuju pada Enrique. Mereka menginginkan Arsela hidup-hidup, pasti tidak akan menyakiti wanita itu.

Kael mengendap mendekati Enrique yang sedang mencari keberadaannya.

KRAK!

Tanpa sengaja Kael menginjak pecahan beling. Sontak Enrique langsung menolah. Refleks Kael menundukkan kepalanya sambil berlari ke balik pilar untuk bersembunyi.

Suara tembakan terdengar bergema di gedung kosong ini.

Jantung Arsela berdebar tak karuan begitu mendengar suara tembakan. Ketakutannya menjadi dobel. Takut tertangkap dan takut sesuatu terjadi pada Kael.

Wanita itu semakin menundukkan tubuhnya di bawah meja besar yang ada di ruangan tempatnya bersembunyi.

Samar-samar dia bisa mendengar langkah kaki mendekat. Arsela menutup mulut dengan sebelah tangannya. Sebelahnya lagi menggenggam pisau lipat yang diberikan Kael.

Di ruangan bawah, adu tembakan terjadi antara Kael dan Enrique. Kael menembakkan peluru terakhirnya dan berhasil mengenai lengan Enrique.

“Sh*t!” maki Enrique sambil memegang lengannya yang terkena tembakan.

Kael keluar dari persembunyian dan secepat kilat berlari menuju Enrique. Dia menumpukan sebelah kakinya ke pilar di dekatnya, kemudian melayangkan tendangan berputar pada Enrique.

Tubuh pria itu jatuh terhempas dan pistolnya terlepas jauh darinya.

Belum sempat dia berdiri, Kael sudah berada di dekatnya. Pria itu menduduki perut Enrique kemudian melayangkan pukulan bertubi ke wajah pria itu.

Enrique sudah hampir kehilangan kesadarannya. Tubuhnya sudah terkulai lemas. Darah sudah memenuhi wajahnya.

Kael segera bangun, kemudian mengambil pistol milik Enrique. Pria itu hendak menuju lantai atas, membantu Arsela.

Namun langkahnya tertahan ketika tangan Enrique memeluk kakinya erat. Kael berusaha melepaskan diri, namun pegangan Enrique sulit dilepaskan.

Pria itu mengarahkan senjatanya ke kepala Enrique, kemudian menembakkannya tanpa berkedip.

Seketika tubuh Enrique jatuh dengan kepala bersimbah darah. Tanpa mempedulikan pria itu, Kael segera melanjutkan langkahnya.

Caleb yang belum tahu apa yang terjadi pada rekannya, masih mencari keberadaan Arsela. Sekarang pria itu sudah berada di ruangan di mana Arsela bersembunyi.

“Key-1 di mana kamu?” tanya Caleb.

Arsela semakin tercekat. Kali ini dia menggenggam pisau dengan kedua tangannya. Dia sudah membuka pisau lipat dengan ujung pisau menghadap ke atas.

Langkah kaki Caleb semakin mendekati meja tempatnya bersembunyi. Wanita itu bisa melihat ujung sepatu Caleb semakin mendekatinya.

***

Awas yang tahan napas, jangan sampai jebol dari belakang😁

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!