Indonesia
NovelToon NovelToon

Forget Hate, Remember Love

Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami

WARNING!

SLOW BURN ROMANCE.

.

.

.

Saat membuka mata, Ailin Shen seperti melihat dunia lain. Langit-langit berwarna putih, tirai putih, sprei putih. Semuanya serba putih hingga ia berpikir apakah ia telah mati.

"Sudah sadar?" Suara pelan nan dingin itu membuat Ailin menoleh. Ia menatap pria di sampingnya, namun tidak mengatakan apa-apa.

"Aku akan memanggil dokter." Pria itu menekan sesuatu, lalu berjalan sembari duduk. Apa? Berjalan sambil duduk? Ailin yang sempat menoleh ke tempat lain kembali mencari keberadaannya. Ternyata pria yang tampak tampan itu duduk di atas kursi roda. Hampir saja ia mengira dirinya telah gila, sampai bisa melihat orang berjalan sambil duduk.

Ia kembali memejam, merasakan tubuhnya yang begitu lemah. Juga kepalanya yang sakit luar biasa.

"Padahal dia bisa suruh suster saja," batinnya. Berpikir pria itu kenapa repot-repot sampai harus keluar sendiri.

Hingga beberapa saat kemudian akhirnya seorang dokter bersama dua perawat masuk. Memeriksa dirinya, tetapi pria itu tidak lagi terlihat. Ailin menoleh ke arah pintu, berharap dia datang lagi. Namun hingga pemeriksaan selesai, dia tidak juga muncul.

"Nyonya sedang menunggu tuan Juan, ya?" Seorang perawat mencoba bertanya padanya. Ia tersenyum ramah, namun Ailin belum bisa menjawab. Mulut dan lidahnya masih terasa kaku.

"Suami Anda sedang berbicara dengan seseorang di luar. Mungkin sebentar lagi akan kembali."

"Sua-mi?" Akhirnya ia bisa mengeluarkan suara walau dengan paksa. Suara yang terdengar serak.

"Iya, suami Nyonya, tuan Juan Xie."

"Aku? Su-dah ber-sua-mi?" tanya Ailin lagi. Kali ini kebingungan di wajahnya membuat sang perawat saling memandang dengan dokter dan perawat satunya. Lalu ketiganya kembali menatap Ailin yang wajahnya tampak penuh pertanyaan.

"Dia beneran suamiku?" tanya wanita itu dengan suara rendah yang lebih lancar.

"Benar, Nyonya."

Ailin terdiam, membuat ketiga orang di sana ikut hening. Hingga tiba-tiba wanita itu tertawa kecil.

"Sejak kapan? ... Tapi kalau memang benar, ternyata aku selera cowoknya bagus juga," ujarnya dengan senyum bangga. Kali ini perawat dan dokter di sana yang gantian mengerutkan kening bingung.

...

Saat Juan kembali, dokter dan perawat telah meninggalkan ruangan. Pria itu membawa sebuah dokumen di atas pangkuan, dokumen yang telah berbulan-bulan ia abaikan. Namun dengan enggan ia setujui pada akhirnya.

Sementara Ailin yang telah duduk sembari bersandar itu sedikit senang melihatnya. Setidaknya sejak sadar hanya pria ini yang ada di dekatnya. Sedangkan keluarganya sendiri tidak terlihat satu pun.

"Aku sudah tanda tangan," ujar pria itu rendah, dengan tangan sedikit bergetar ia mengulurkan dokumen yang sejak tadi ia bawa.

Ailin mengerutkan kening, mengambil dokumen dari tangan sang suami sembari bertanya, "Tanda tangan apa?"

"Permohonan cerai."

"Ce-rai?" Ailin menatap pria di sampingnya itu tidak percaya.

"Ya, kamu ... pasti senang."

"Senang? ... enggak, aku baru sadar. Masih bingung, masih syok sudah menikah. Sekarang ditambah ce-rai?"

Juan mengerutkan alis, istrinya ini tampak tidak senang? Pria itu akhirnya menarik napas berat. "Bukankah ini keinginanmu? Sekarang, aku sudah mengabulkannya."

"Haish, aku saja masih kurang percaya sudah menikah denganmu, apalagi mau cerai ... Kak Juan."

Juan mengernyit, membalas tatapan Ailin yang bingung dan polos namun asing itu. "Kamu panggil aku apa?"

"Kakak Juan. Aku sudah ingat, kamu sahabat kakakku yang pendiam tapi suka aku jahilin."

Untuk sesaat, Juan seperti lupa caranya bernapas. Pria itu menatap sang istri, melihat wajah yang selama bertahun-tahun ini menatapnya penuh kebencian. Dan sekarang ... sorot hangat dan panggilan itu?

"Kak Juan?" Panggilan itu menyadarkan lamunan sang pria. Ia berdehem pelan, menarik napas dengan sedikit tidak beraturan.

"Aku keluar sebentar." Juan cepat-cepat menekan tuas kontrol kursi rodanya, melaju meninggalkan Ailin yang bergerutu sendiri. "Heh, jangan pergi!"

...

Ceklek.

"Kau!" Dokter Zilan Ye yang tengah memeriksa rekap pasien itu memandang Juan kesal. Ia tidak menyambut, tetap duduk di depan meja kerjanya.

"Ada apa dengan dia?" tanya Juan tanpa basa-basi. Pria itu mendekat, berhenti di samping meja Zilan dan menatapnya dengan serius.

Sementara Zilan menghela napas berat dulu. "Istrimu sudah sadar dan secara fisik kondisinya stabil. Tapi hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya amnesia."

Juan mengerutkan alis. "Amnesia?"

"Iya, hilang ingatan sebagian. Dalam kasus Ailin, kami perkirakan dia kehilangan memori sekitar lima tahun terakhir.”

"…Lima tahun?"

Zilan mengangguk pelan. "Hem, dia masih ingat hal-hal sebelum itu, keluarga, rumah lama, sekolah lamanya. Tapi memori setelah periode itu… hilang. Untuknya, waktu seolah berhenti lima tahun lalu. Dia bahkan bilang masih berusia 17 tahun saat ditanya."

Juan bergeming sejenak, tanpa sadar jari-jarinya mencengkeram sandaran kursi roda sampai buku-buku jarinya memucat. "Jadi… dia nggak ingat apa yang terjadi di lima tahun terakhir?"

"Belum tentu hilang sepenuhnya. Tapi, kemungkinan besar, dia tidak mengenalimu dan anak-anakmu seperti dulu."

"Apa ... ingatannya bisa kembali?"

"Kemungkinan itu ada. Tapi aku harus jujur, tidak ada waktu pasti. Bisa beberapa minggu, bulan… bahkan tahun. Kadang sebagian ingatan kembali perlahan, kadang tidak sama sekali."

Juan kembali terdiam, kedua matanya tampak kosong dengan pikiran melayang jauh.

"Juan?"

"Hm?"

"Aku bukannya senang melihat istrimu mendapat musibah. Tapi dengan dia tidak mengingat sekarang ...."

"Aku mengerti maksudmu. Tapi ... kalau nanti saat dia ingat?"

"Aku tidak mau terlalu banyak berharap dulu."

...

Di dalam ruangannya, Ailin yang ditinggal menggerutu beberapa saat. Wanita itu lalu menyadari sesuatu yang ia pegang. Tangannya bergerak untuk membuka dokumen, hingga muncul sebuah kertas bertuliskan permohonan cerai.

Keningnya mengernyit, melihat dengan tajam tanda tangan yang telah ia sendiri bubuhkan. "Kak Juan sudah bagus, kenapa aku mau cerai? Dasar Ailin, jadi orang yang pas-pas saja! Jangan rakus-rakus!"

Ia lalu membolak-balikkan kertas, melihat sesuatu yang terselip. Dengan penasaran, wanita itu mengambilnya. "Wah, foto nikah. Jadi aku beneran istrinya?"

"Eh, tapi ini Kak Juan lagi senyum malu-malu." Ailin memiringkan kepala, mengerutkan kening tampak berpikir keras.

Lalu jarinya mengetuk-ngetuk wajahnya sendiri di foto itu. "Aku kok malah pasang muka seperti mau ke medan perang, sih?"

Tatapannya turun ke surat cerai di pangkuannya. Kemudian kembali ke foto itu.

"Jangan-jangan..."

Senyumnya perlahan memudar.

"Aku memang dipaksa nikah?"

.

.

.

Hai semuanya!

Selamat datang di perjalanan Juan dan Ailin.

Kalau suka ceritanya, jangan lupa tinggalkan like dan komentar. ❤️

Oh ya, buat yang merasa pernah baca, kalian nggak salah kok. Ini versi revisi yang author tulis ulang dengan beberapa perubahan pada alur cerita.

Selamat membaca.

See you next chapter.

Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat

Cukup lama ia ditinggal. Ailin yang kebosanan memutar pandangan ke segala arah. Bibirnya mengerucut, kesal karena merasa kesepian.

Setiap mendengar suara, ia akan menoleh ke arah pintu. Namun semuanya hanya perawat atau dokter yang sekedar lewat. Juan sama sekali tidak kembali, apalagi keluarganya yang bahkan batang hidungnya pun Ailin belum lihat sejak bangun.

Tanpa sadar kedua matanya mulai memanas, dalam ingatannya ia adalah putri bungsu yang begitu disayangi dan dimanjakan. Tergores sedikit saja, sang kakak akan panik dan membawanya ke rumah sakit. Tapi sekarang ia yang terluka parah hingga hilang ingatan ini, hanya ditinggal seorang diri seolah tidak ada yang peduli.

Ceklek.

Ailin yang mengira Juan kembali, menoleh dengan senyuman lebar. Namun yang datang ternyata dua orang perawat. Ia cepat-cepat menutup mata, malu sekali kalau ia ketahuan tengah menangis oleh orang lain.

"Pasien sedang tidur," bisik seorang perawat sembari mengganti air infus yang hampir habis.

Perawat satunya mengangguk, ia memeriksa kondisi luar Ailin. "Kasihan sekali dia, sejak sadar kemarin, tidak ada yang benar-benar menemaninya."

Juan yang hendak masuk bersama seorang pria lain meminta sang asisten untuk berhenti mendorong. Ia berdiam di depan pintu, berniat menunggu hingga pemeriksaan selesai.

Namun percakapan dua perawat itu selanjutnya justru membuatnya semakin tidak ingin masuk sekarang. Pria itu tidak ingin mempermalukan sang istri. Terlebih sebelumnya Ailin memang merasa ia memalukan.

"Aku malah kasihan sama tuan Juan." Perawat yang tengah mengatur air infus itu, membalas dengan asal.

"Kenapa?" tanya temannya penasaran.

Setelah selesai mengganti infus, ia berjalan menghampiri sang rekan dengan semangat. Mata melirik Ailin yang tampak tertidur, lalu dengan suara kecil ia mulai bergosip.

"Selama nyonya koma, hampir tiap hari dia datang."

"Serius?"

"Iya. Bahkan saat hujan deras kemarin dia tetap datang."

"Tuan sangat menyayangi istrinya, ya."

Perawat itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Tapi yang aku dengar, mereka sepertinya mau bercerai."

"Benarkah? Hm, mungkin saja mereka ada alasannya. Kita kan nggak tahu," balas temannya sambil melirik wajah Ailin.

"Sstt, yang aku dengar lagi. Nyonya Ailin ini punya orang lain di luar."

"Hah, serius?" Temannya menutup mulut dengan kaget. Ia kembali melirik Ailin, lalu memandang temannya. "Jangan keras-keras! Nanti nyonya dengar."

"Dia lagi tidur."

"Iya sih. Tapi takut aja, kan?"

"Aku juga nggak asal ngomong, kakak sepupuku kenal dekat sama dia. Jadi aku sering dengar ceritanya."

"Kalau cuma dengar cerita, jangan sembarangan! Gimana kalau nggak benar?"

"Aku juga nggak tahu sih. Tapi kalau aku yang ada di posisi dia, aku juga sepertinya nggak sanggup... kita sama-sama tahu bagaimana kondisi tuan Juan."

Temannya terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Merasa setuju dengan pernyataan sang rekan.

Sementara di dalam diamnya, Ailin yang sejak tadi mendengar akhirnya tidak bisa menahan lagi. Ia membuka mata perlahan, dadanya terasa sesak.

Ia sendiri bahkan belum mengenal baik Juan sebagai suami. Tapi orang asing ini bahkan sepertinya lebih tahu kehidupan rumah tangga mereka.

"Sudah selesai gosipnya?" Kedua perawat itu menoleh dengan kaget. Di sana Ailin tengah memandang dengan kedua mata merah.

"Nyo-nyonya, bukankah Anda sedang tidur?"

"Aku enggak tahu kalau pekerjaan perawat sesenggang ini. Aku bisa membuat keluhan untuk kalian, loh. Kira-kira sanksinya apa, ya?Kalau dikeluarkan, kalian pasti semakin punya banyak waktu untuk bergunjing." Ailin menopang tubuhnya, bergeser dan berusaha duduk dengan nyaman.

"Biar saya bantu!"

"Nggak perlu!" Ailin menepis tangan perawat yang lebih banyak bicara itu. Matanya menatap lencana yang terpasang di atas dada mereka.

"Siran Kong... Ziya Guan. Oke, aku sudah ingat nama kalian. Silakan keluar!" Ailin berbicara dengan acuh tak acuh. Wanita itu menatap dengan wajah sombongnya.

Sementara kedua perawat itu jelas ketakutan. Namun Siran masih ingin membela diri, seingatnya Ailin selalu membenci sang suami. "Tapi apa yang saya katakan benar. Bukankah Anda malu karena memiliki suami lumpuh? Anda bahkan tidak mau mengakui dia sebagai suami."

Ailin mendelik, ia tidak mengakui Juan? Apa benar? Bahkan diingatan yang tersisa, selalu ada kekaguman pada pria itu. Namun teringat foto pernikahan itu, ia juga jadi ragu.

"Anda bahkan punya pacar di luar."

"Kamu mengenalku?"

"Kakak sepupuku yang bilang. Kalian teman baik."

"Jadi kamu bahkan nggak tahu sendiri?"

"Sa-saya...."

"Kalian keluar!... Sebelum aku benar-benar melaporkan kalian."

"Tapi ...."

"Baik, kami keluar." Ziya menarik tangan Siran. Jika benar akhirnya harus keluar dari rumah sakit ini. Itu lebih baik daripada tidak mendapat pekerjaan selamanya. Ia sudah bersusah payah mendapatkan gelar perawat ini.

"Udah, jangan buat dia marah lagi!" bisiknya sembari menarik Siran untuk pergi.

Juan yang melihat kedua perawat itu akan keluar, segera memberi kode pada sang asisten untuk mendorong. Namun suara sang istri membuatnya kembali urung.

"Tunggu!" panggil Ailin membuat Siran dan Ziya menoleh dan tersenyum senang. Mungkin saja Ailin berubah pikiran sekarang.

Wanita itu menatap lurus. "Tentang aku dan suamiku, itu bukan urusan kalian."

"Aku nggak peduli seperti apa hubungan kami sebelumnya. Tapi memangnya kenapa kalau dia duduk di kursi roda?"

"Asal kalian tahu, dia jauh lebih baik daripada orang-orang yang sibuk mengurusi kehidupan orang lain."

"Dan kalian bahkan nggak mengenalnya. Dia juga nggak pernah ganggu hidup kalian. Jadi siapa kalian sampai merasa berhak menilainya?" Ailin menatap dengan tajam. Membuat kedua perawat itu sedikit bergidik ngeri.

"Keluarlah!"

"Ah, iya. Baik." Keduanya berbalik dan berjalan dengan cepat. Kali ini berebutan keluar dan Juan tidak sempat kabur lagi. Saat membuka pintu, mereka melihat dua pria di sana yang berekspresi canggung.

"Tuan," sapa keduanya dan langsung beranjak pergi. Sementara Juan langsung berdehem pelan. Emosinya cukup terganggu dengan pembelaan sang istri.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mendengar Ailin membelanya di depan orang lain.

Anehnya, hal itu justru membuat dadanya terasa sesak. Rasa takut tiba-tiba muncul dari lubuk hati terdalamnya. Ini semua, mungkin hanya bersifat sementara.

"Tuan, kita jadi masuk?" tanya sang asisten setelah cukup lama sang tuan terdiam.

"Kau pergi bereskan mereka!" titah Juan akhirnya dan langsung menekan tuas kursinya, masuk seorang diri.

.

.

.

Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol

Ketika mendengar suara lagi, Ailin mengira kedua perawat itu kembali. Wanita itu sudah memasang wajah tidak bersahabat saat melihat siapa di balik pintu itu. Hingga yang muncul membuat wajah itu berubah kaget.

"Dia ... enggak dengar, kan?" gumam wanita itu tegang. Namun ekspresi tenang dan datar Juan membuat keresahan itu menghilang perlahan.

Sementara Juan bergerak lurus ke arah meja, berhenti di sana dan membuka laptop seperti biasa. Tangannya bergerak di atas keyboard dengan lincah, memeriksa berbagai pekerjaannya yang sempat tertunda karena kecelakaan sang istri.

"Hem, Kakak dari mana saja?" tanya Ailin setelah Juan tidak kunjung membuka suara. Padahal sudah beberapa menit sejak pria itu masuk, Ailin pun jadi tidak sabar menunggu lagi.

Sementara yang ditanya perlahan mendongak, menoleh ke arah Ailin dan menatap lurus. "Sarapan," balasnya singkat namun membuat Ailin merasa lebih tenang.

Juan masih seperti biasa, berbicara seperlunya dengan wajah datar. Pria itu pasti tidak mendengar perkataannya tadi.

"Kakak ... enggak pulang?"

"Enggak, jagain kamu."

Ailin sempat terpanah, namun akhirnya ia hanya mengejek pelan. "Jagain aku tapi fokus sama laptop. Lebih baik enggak perlu!"

"Kalau enggak perlu, aku akan pulang."

"Kakak dengar? Hehe, aku cuma bercanda, kok."

"Baiklah." Juan menatap sang istri sebentar, lalu kembali fokus pada laptop di pangkuannya.

Ailin yang lagi-lagi diabaikan memilih kembali tiduran. Mencoba terlelap namun tetap saja tidak ada kantuk yang melanda. Justru ia semakin merasa kebosanan, tubuhnya ia putar sana sini. Nanti ke kiri, nanti lurus, nanti ke kanan. Hingga beberapa kali ia memutuskan berhenti untuk menatap sang suami.

Ia terpaku, wajah itu masih tetap sama tampannya, walau sekarang terlihat lebih dewasa. Namun sayang sekali tubuh jangkung yang dulu lebih tinggi dari kakaknya, kini harus terjebak di atas kursi beroda itu.

"Sebenarnya kenapa dia bisa lumpuh?" batin Ailin penasaran. Ia ingin bertanya, namun mengingat penghinaan dua perawat tadi. Juan juga pasti sering mendengar dari orang lain. Ia tidak ingin pria itu kembali bersedih karena diingatkan olehnya.

Jadi ia buang jauh-jauh rasa penasaran itu untuk sekarang. Tapi tidak berarti ia tidak akan cari tahu di kemudian hari. Ia pasti akan menemukan jawabannya cepat atau lambat.

Cukup lama ia memperhatikan Juan, namun kegiatan monoton pria itu membuat rasa bosannya kembali melanda.

"Kak, aku punya ponsel, kan? Di mana?" tanya Ailin dengan wajah polosnya. Juan yang hendak mengambil ponsel wanita itu urung. Tangannya beralih mengambil ponselnya sendiri. Lalu bergerak menuju brankar wanita itu.

"Ponselmu rusak saat kecelakaan. Pakai punyaku dulu. Kalau sudah boleh pulang, akan aku belikan yang baru," ujarnya sembari menyodorkan benda persegi panjang berwarna hitam mengkilap.

Ailin mengangguk, menerima ponsel sang suami. "Yang tadi bukan punyaku?" tanyanya yang sempat melihat Juan hendak mengambil ponsel yang lain.

"... Itu punyaku juga. Untuk urusan pekerjaan." Setelahnya ia kembali ke depan meja, berkutat dengan laptopnya lagi.

Keduanya akhirnya terdiam beberapa saat, namun Ailin yang tengah menggeser-geser layar ponsel, mengerutkan kening dengan dalam. "Yang tadi untuk pekerjaan, jadi yang ini pribadi? Tapi ini enggak ada bedanya."

Ia bergerutu sendiri. Isi ponsel Juan benar-benar membosankan sama seperti orangnya. Bahkan gim pun tidak ada.

"Oh, ada ini." Ia berujar senang. Setidaknya ada satu aplikasi hiburan. Dengan semangat ia membukanya, namun wajah ceria itu berubah setelah beberapa kali geser layar.

"Membosankan." Hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan. Aplikasi yang ia kira selalu berisi video-video lucu yang sering ia tonton ternyata juga bisa berisi tentang materi keuangan, bisnis, investasi dan sejenisnya.

Dengan kesal ia menaruh ponsel ke atas nakas. Lalu kembali menatap Juan yang masih sibuk di hadapan laptop. Ia mengerucutkan bibir.

"Kak, aku mau minum." Juan kembali mengalihkan atensinya pada sang istri. Namun tatapannya bergeser pada air minum di atas nakas. Menyadarinya, Ailin tersenyum malu.

Ia lalu mengangkat tangannya untuk menggapai gelas itu, namun baru setengah suara berdesis terdengar. "Sshh, tanganku masih diinfus. Sakit," ujarnya dengan wajah memelas.

Juan mengernyit, menekan tuas kontrolnya untuk kembali mendekati brankar.

"Ini, minumlah!" pintanya sembari mengulurkan gelas minumnya.

"Tambahin sedotan!" Juan menurut, menaruh sedotan ke dalam gelas dan kembali menyodorkannya.

"Lebih dekat lagi!" Lagi-lagi pria itu menurut, menyodor lebih dekat untuk sang istri.

"Haish." Ailin meraih gelas itu beserta tangan sang suami. Ia menggenggamnya, menarik hingga dekat ke bibirnya sendiri. Lalu menyedot beberapa tegukan.

"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum manis.

Sementara Juan cepat-cepat menarik tangannya. Ia menaruh gelas kembali ke atas nakas, lalu bergerak kembali ke depan meja.

Perasaannya semakin tidak karuan. Sikap sang istri yang seperti ini diam-diam mengusiknya. Di antara senang dan takut.

Sementara Ailin yang tidak menyadari, memutar kepala untuk melihat seisi ruangan. Siapa tahu ada hal menarik untuk menghindar dari kejenuhan. Namun berusaha pun tak membuahkan hasil, ia tetap kebosanan sekarang.

"Ck, membosankan." Wanita itu mengembungkan pipinya sebal. Ia kembali memutar tubuh ke sana sini, lalu berhenti untuk menatap sang suami lagi.

"Kak ... naikin brankar aku, dong!" pintanya lengkap dengan wajah memelas lagi. Juan mengangguk, bergerak kembali ke arahnya dan memutar tuas di bawah brankar.

"Sudah cukup?"

"Sedikit lebih tinggi!"

"Sudah?"

"Ketinggian."

"Begini sudah?"

"Hehe, sepertinya yang tadi lebih pas, Kak." Juan kali ini menatap wanita itu lama. Membuat Ailin jadi salah tingkah sendiri.

"Sedikit lagiii saja lebih tinggi!" pintanya dengan senyuman lebar namun wajah tidak enak hati. Juan mengangguk, memutar tuas sekali lagi dan mendongak pada sang istri.

"Sudah. Sudah pas." Kali ini ia tidak ingin mengerjai Juan lagi, karena tatapan pria itu tadi seperti bisa menembus ke jantungnya. Sangat tidak sehat untuk organ tubuhnya itu.

Juan pun kembali mengangguk, memutar kembali kursi rodanya lalu bekerja dengan serius lagi. Cukup tenang karena Ailin tak lagi berisik, namun ternyata itu hanya sesaat. Setelahnya terdengar lagi suara lembut yang sangat kontras dengan yang sering ia dengar dulu.

"Kak, aku mau baca koran itu." Juan mengambilkan.

Setelah beberapa saat. "Kak, aku mau minum lagi."

"Bukannya tadi kamu baru minum?"

"Kakak nggak tahu saja. Aku tadi baca korannya keras-keras dalam hati. Sekarang jadi haus lagi, deh."

Juan yang mendengar jadi terpaku. Bukan karena terpukau, tapi karena tidak habis pikir dengan sang istri yang bisa bicara seperti itu dengan wajah meyakinkan. Namun akhirnya ia tetap membantu wanita itu.

"Kak, punggungku gatal." Ailin membuka mulutnya lagi setelah beberapa saat diam.

"Lalu?"

"Garukin!"

Ketika ia ingin menekan tuas, pria itu seperti tersadar sesuatu. Perlahan ia menatap wajah sang istri yang tersenyum lebar. Pria itu lalu memasang raut datar yang cukup dingin. "Kamu sengaja, ya?"

"Sengaja apa?"

"Menyuruhku bolak-balik."

"Hah?"

"Ranjang kamu sudah pas dari awal."

"Koran ada di sampingmu."

"Minum juga sebenarnya kamu bisa sendiri."

"... Kamu mempermainkanku?"

"Aku nggak ngerti."

"Kamu jelas nggak memerlukan bantuan ku."

Ailin terdiam sejenak. Senyum lebarnya perlahan menghilang. "Aku bukan mau mempermainkan Kakak."

Ia menunduk, memainkan ujung selimut dengan jemarinya. "Aku... cuma pengen Kakak ngobrol sama aku."

Kali ini Juan yang terdiam, cukup lama hingga akhirnya ia menutup laptop di pangkuannya.

Bunyi klik kecil itu membuat Ailin mendongak.

"Mau ngobrol apa?" ujar Juan pelan.

"...."

"Aku nggak sibuk lagi."

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!