Aroma antiseptik yang menyengat selalu berhasil membuat bulu kuduk Naura meremang.
Namun, sore itu, rasa ngeri di hatinya bukan lagi sekadar reaksi tubuh terhadap atmosfer rumah sakit, melainkan sebuah cengkeraman ketakutan yang nyata. Di balik dinding kaca ruang Intensive Care Unit(ICU), tubuh ringkih sang ayah terbaring tak berdaya.
Berbagai selang dan kabel medis menempel pada kulit keriput pria paruh baya itu, sementara bunyi statis dari monitor jantung menjadi satu-satunya melodi horor yang mengisi keheningan.
Baru tadi pagi, ayahnya, Rahardjo, tersenyum hangat melepas Naura berangkat kerja. Namun, sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol telah memutarbalikkan dunia Naura dalam sekejap mata.
Dokter mengatakan ada pendarahan internal yang parah, dan harapan hidup sang ayah kini berada di ujung tanduk.
Dengan langkah gemetar dan air mata yang tak tumpah sejak menginjakkan kaki di rumah sakit, Naura mendorong pintu kaca tersebut. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu berlutut di sisinya.
Digenggamnya tangan sang ayah yang terasa begitu dingin.
"Papa ... " bisik Naura, suaranya serak menahan sesak yang menyumbat tenggorokan.
Perlahan, kelopak mata Rahardjo bergerak. Pria itu membuka matanya dengan sangat kepayahan. Masker oksigen yang menutupi paruh wajahnya mengembun setiap kali ia mengembuskan napas. Ketika melihat sang putri tunggal berada di sana, kilat kepasrahan sekaligus kecemasan terpancar dari sepasang netra yang mulai meredup itu.
Rahardjo menggerakkan jemarinya yang lemah, memberi isyarat agar Naura mendekatkan telinganya. Dengan sisa tenaga yang ada, Rahardjo melepaskan masker oksigennya sedikit demi sedikit, mengabaikan alarm monitor yang mulai berbunyi peringatan.
"Nau ... ra ... " suara itu terputus-putus, nyaris tak terdengar di antara desis mesin medis.
"Iya, Pa. Naura di sini. Papa jangan banyak gerak dulu, ya? Papa harus kuat," tangis Naura akhirnya pecah. Air matanya luruh membasahi punggung tangan sang ayah.
Rahardjo menggeleng lemah.
Ia tahu waktunya tidak banyak lagi. "Dengarkan Papa, Sayang. Di laci meja kerja Papa ... ada sebuah surat. Papa ... Papa sudah mengatur perjodohanmu."
Kata terakhir itu bagaikan petir di siang bolong bagi Naura. Ia mematung, bahkan tangisnya sempat terhenti selama beberapa detik karena rasa terkejut yang luar biasa. "Perjodohan? Maksud Papa apa?"
"Menikahlah ... dengan Arka. Arka Pratama. Dia anak sahabat Papa," bisik Rahardjo, napasnya kian memburu, tersengal-sengal. "Ini ... ini wasiat terakhir Papa, Naura. Tolong, penuhi permintaan Papa. Hanya Arka ... yang bisa menjaga kamu setelah Papa tidak ada."
Jantung Naura berdegup kencang, berpacu dengan ritme monitor jantung di samping mereka. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi gelombang penolakan yang hebat. Kepala Naura menggeleng kuat-kuat.
"Enggak, Pa! Kenapa tiba-tiba begini? Papa tahu sendiri, kan, kalau Naura sudah punya Rama? Papa kenal Rama!" Naura setengah berteriak, panik dan tidak habis pikir.
Bagaimana mungkin ayahnya meminta hal sekrusial ini di saat-saat terakhirnya? Rahardjo sangat mengenal Rama. Rama adalah kekasih Naura selama tiga tahun terakhir. Pria itu sopan, mapan, dan sudah sering datang ke rumah mereka untuk sekadar makan malam bersama.
Ayahnya bahkan selalu menyambut Rama dengan senyuman selama ini. Mengapa sekarang, di ambang kematian, ayahnya justru melemparkan sebuah nama asing yang sama sekali belum pernah Naura dengar?
"Arka ... tidak seperti yang kamu pikirkan. Janji pada Papa, Nau ... nikahi dia ..." genggaman tangan Rahardjo pada jemari Naura mendadak mengencang, sebuah kekuatan terakhir yang dipaksakan. Matanya menatap Naura dengan tatapan memohon yang begitu dalam, seolah seluruh sisa hidupnya dipertaruhkan pada jawaban sang putri.
"Tapi, Pa –"
"Janji ... Naura ..."
Garis di monitor jantung tiba-tiba berfluktuasi dengan ekstrem. Bunyi bip panjang dan nyaring langsung memotong kalimat Naura. Detik itu juga, cengkeraman tangan Rahardjo terlepas. Matanya perlahan terpejam, meninggalkan ekspresi lelah yang kini membeku menjadi kedamaian yang abadi.
"Papa? Papa!" Naura menjerit histeris. Ia mengguncang bahu ayahnya, namun tubuh itu tetap bergeming.
Dokter dan perawat berhamburan masuk ke dalam ruangan, menarik Naura menjauh dari ranjang. Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, Naura hanya bisa melihat dari balik punggung para petugas medis yang sedang melakukan resusitasi jantung. Segala upaya dikerahkan, namun takdir telah mengunci pintunya.
Pada pukul lima sore, sang ayah dinyatakan meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, kebebasan Naura untuk memilih jalan hidupnya pun ikut mati.
Seminggu setelah pemakaman, rumah kediaman Rahardjo telah sepi dari pelayat.
Namun, bagi Naura, rumah itu terasa jauh lebih dingin dan asing. Ia duduk di lantai kamar kerja ayahnya, dikelilingi oleh berkas-berkas tua.
Di pangkuannya, terdapat sebuah amplop cokelat tebal yang ia temukan di laci rahasia meja kerja sang ayah, persis seperti yang dikatakan mendiang sebelum mengembuskan napas terakhir.
Dengan tangan gemetar, Naura membuka isi amplop tersebut. Di dalamnya terdapat selembar surat perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh ayahnya dan seorang pria bernama Baskoro Pratama, lengkap dengan materai sepuluh ribu yang sudah agak menguning. Di bawah surat itu, terselip sebuah foto seukuran paspor.
Naura mengambil foto tersebut. Di sana tergambar sosok seorang pria muda dengan rahang tegas, alis tebal, dan tatapan mata yang sangat tajam namun tenang. Pria itu sangat tampan, tipe pria yang mungkin akan membuat banyak wanita menoleh di jalanan.
Di balik foto itu tertulis sebuah nama: "ARKA PRATAMA"
"Kenapa, Pa? Kenapa Papa tega melakukan ini sama Naura?" lirih Naura, air matanya menetes mengenai permukaan foto tersebut.
Rasa bingung, sedih, dan marah bercampur aduk di dalam dadanya. Ia merasa dikhianati oleh keputusan sepihak ayahnya. Mengapa ayahnya tega menjodohkannya dengan orang asing? Apakah cinta Naura pada Rama selama tiga tahun ini tidak ada artinya di mata sang ayah?
Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar kerja yang terbuka. Naura menoleh dan mendapati Rama berdiri di sana.
Wajah pria itu tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah matanya karena ikut begadang menemani Naura selama seminggu ini.
"Sayang," panggil Rama lembut. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di samping Naura. Tangannya terulur untuk mengusap air mata di pipi kekasihnya.
"Kamu belum makan dari siang. Jangan seperti ini terus, ya? Aku sedih melihatmu tersiksa."
Melihat wajah tulus Rama, tangis Naura kembali pecah. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu, menumpahkan segala beban yang menghimpit dadanya. Rama mendekapnya erat, mengusap punggung Naura dengan penuh kasih sayang.
"Rama ... Papa ... " Naura terisak di dada Rama.
"Iya, aku tahu kamu kehilangan Om Rahardjo. Tapi ada aku di sini, Nau. Aku akan menjaga kamu. Kita akan hadapi ini sama-sama," ucap Rama menenangkan.
Mendengar janji manis itu, hati Naura justru semakin sakit. Keberaniannya menciut untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.
Bagaimana ia harus menjelaskan kepada Rama bahwa ia harus menikah dengan pria lain karena wasiat terakhir ayahnya?
Bagaimana perasaan Rama jika tahu kesetiaannya selama ini dibalas dengan kenyataan sepahit ini?
Naura perlahan melepaskan pelukannya, menatap mata Rama dengan binar keputusasaan. "Ram, kalau ... kalau ada sesuatu yang memaksa kita untuk pisah, apa yang akan kamu lakukan?"
Rama mengernyitkan dahi, bingung dengan pertanyaan acak tersebut. Namun, ia segera tersenyum dan menggenggam kedua tangan Naura. "Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Naura. Kita sudah sejauh ini. Setelah masa berkabung ini selesai, aku bahkan berniat untuk resmi melamarmu. Kamu tahu itu, kan?"
Kalimat Rama bagaikan belati yang menghujam tepat di jantung Naura.
Sanggupkah ia menghancurkan hati pria sebaik Rama? Namun, di sisi lain, bayangan wajah memohon sang ayah di ruang ICU terus menghantuinya setiap malam. Suara parau ayahnya yang meminta janji terakhir itu terus terngiang-ngiang bagaikan alarm yang tidak bisa dimatikan.
Dua hari kemudian, kenyataan pahit itu benar-benar menjemput Naura. Sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan rumahnya. Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah bersama seorang pemuda.
Naura mengenali pemuda itu dari foto di amplop cokelat milik ayahnya. Itu Arka Pratama.
Secara langsung, Arka terlihat jauh lebih mengintimidasi daripada di foto. Pria itu mengenakan kemeja formal hitam yang digulung hingga siku, menampilkan kesan maskulin yang kuat.
Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seolah-olah kedatangannya ke rumah ini hanyalah untuk menghadiri rapat bisnis, bukan untuk membicarakan sebuah pernikahan.
Baskoro, ayah Arka, menyambut Naura dengan senyuman hangat yang penuh rasa duka. "Naura, apa kabarmu, Nak? Om turut berduka atas kepergian Rahardjo. Dia adalah sahabat terbaik Om."
"Kabar baik, Om. Terima kasih sudah datang," jawab Naura seadanya, berusaha bersikap sopan meski dadanya bergemuruh hebat. Tatapannya sesekali melirik ke arah Arka, yang hanya mengangguk pelan memberikan penghormatan formal tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah mereka duduk di ruang tamu, Baskoro langsung membuka inti pembicaraan. "Naura, mungkin ini terasa terlalu cepat dan mengejutkan untukmu. Tapi, sebelum ayahmu tiada, kami sudah sepakat untuk menyatukan kalian berdua. Rahardjo sangat mengkhawatirkan masa depanmu jika dia sudah tidak ada. Karena itu, Om di sini ingin menunaikan janji itu. Arka akan menikahimu."
Naura mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya. Ia menatap Baskoro, lalu beralih menatap Arka yang masih mempertahankan wajah dinginnya.
"Om," suara Naura bergetar namun mencoba terdengar tegas. "Maaf sebelumnya. Tapi ... apakah pernikahan ini harus tetap terjadi? Saya ... saya bahkan tidak mengenal Kak Arka. Dan lagi, saya sudah memiliki kekasih."
Mendengar ucapan blak-blakan Naura, Arka akhirnya menunjukkan reaksi. Alis tebal pria itu sedikit terangkat, dan matanya mengunci pandangan Naura. Ada kilat ketidaksukaan yang samar di sana, namun ia tetap memilih untuk diam, membiarkan ayahnya yang berbicara.
Baskoro menghela napas panjang, tatapannya melunak penuh empati. "Om tahu ini tidak adil untukmu, Naura. Tapi ini adalah wasiat terakhir ayahmu. Perjanjian ini dibuat bukan tanpa alasan yang kuat. Ada hal-hal di masa lalu yang membuat ayahmu mempercayakanmu sepenuhnya kepada Arka. Om mohon, jangan biarkan jiwa ayahmu tidak tenang di sana karena janji terakhirnya tidak terpenuhi."
Kata-kata 'jiwa ayahmu tidak tenang' langsung meruntuhkan seluruh dinding pertahanan Naura. Logikanya berteriak untuk menolak, namun baktinya sebagai anak melumpuhkan segala argumen yang sudah ia susun di kepala.
Naura menunduk, memandangi jemarinya yang saling bertautan. Di dalam benaknya, wajah sang ayah yang tersengal-sengal meminta janji itu kembali berputar.
Dengan berat hati, dengan seluruh impian masa depannya yang runtuh berkeping-keping, Naura akhirnya memejamkan mata.
"Baik, Om. Saya ... saya akan menerima pernikahan ini," ucap Naura pelan, nyaris seperti bisikan pasrah.
Di seberang meja, Arka hanya menatap wanita yang kini resmi menjadi calon istrinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Pernikahan ini akan dimulai, bukan dengan kelopak bunga mawar dan senyuman bahagia, melainkan dengan air mata penolakan dan rahasia yang terkunci rapat.
Empat puluh hari telah berlalu sejak gundukan tanah merah itu mengubur separuh jiwa Naura. Namun, bagi Naura, aroma tanah kuburan yang basah dan wangi bunga kantil yang mengering di atas makam ayahnya seolah masih melekat erat pada indra penciumannya.
Kehilangan Bapak Rahardjo adalah hantaman paling telak dalam hidupnya. Rumah yang dahulu selalu hangat dengan gelak tawa sang ayah, kini berubah menjadi tempat yang sunyi, asing, dan dipenuhi oleh bayang-bayang kenangan yang menyakitkan.
Di atas meja ruang tamu, sebuah undangan pernikahan sederhana berwarna putih gading tergeletak membisu. Nama yang tertera di sana adalah namanya dan seorang pria yang hampir tidak pernah ia bayangkan akan menjadi pendamping hidupnya: Naura Ayu Rahardjo & Arka Pratama
Pernikahan ini tidak lahir dari getaran cinta, melainkan dari sebuah surat wasiat bermeterai yang ditinggalkan almarhum ayahnya. Sebuah utang budi masa lalu yang harus dibayar lunas oleh Naura dengan mengorbankan masa depannya sendiri.
Naura menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar tidurnya. Hari ini adalah hari akad nikah itu. Sesuai kesepakatan keluarga besar, mereka sengaja menunggu hingga genap empat puluh hari masa berkabung selesai sebelum melaksanakan ijab kabul.
Tidak ada pesta megah, tidak ada pelaminan berhias lampu-lampu kristal, dan tidak ada ratusan tamu yang mengantre untuk bersalaman. Hanya ada sebuah prosesi sakral yang akan digelar di masjid Jawahirul mustajab dekat rumah, dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa kerabat dekat.
"Nona Naura, mobil jemputan dari keluarga Tuan Pratama sudah tiba di depan," ucap Bi Sumi, asisten rumah tangga senior yang sudah ikut dengannya sejak kecil. Suara wanita tua itu terdengar sarat akan rasa iba.
Naura mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya yang kian menyesakkan. "Iya, Bi. Aku segera turun."
Ia menatap gaun kebaya putih panjang yang membalut tubuh ringkihnya. Gaun itu terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan ton batu yang siap menenggelamkannya ke dasar laut.
Sebelum melangkah keluar kamar, jemari Naura bergerak perlahan membuka laci meja riasnya. Di sana, tersimpan sebuah cincin perak sederhana bermotif polos. Cincin yang diberikan oleh Rama, kekasihnya, tepat dua bulan lalu sebelum semua skenario hidup ini berubah total.
[“Tunggu aku ya, Nau. Aku akan datang ke rumah ini bersama ibuku untuk melamarmu secara resmi,”] kalimat Rama hari itu kembali bergema di kepala Naura, tajam dan menyakitkan, seperti sembilu yang sengaja diiriskan ke atas luka yang belum mengering.
Naura memejamkan mata erat-erat, membiarkan satu tetes air mata lolos merusak sedikit riasan tipis di pipinya.
Dengan cepat, ia menyeka air mata itu menggunakan ujung jarinya. Ia tidak boleh menangis lagi. Hari ini, ia harus mengubur dalam-dalam cintanya pada Rama demi menghormati napas terakhir sang ayah.
Masjid Jawahirul mustajab bernuansa putih bersih itu tampak begitu tenang saat Naura tiba. Udara pagi yang sejuk bercampur dengan aroma wewangian kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang begitu khidmat sekaligus mengintimidasi.
Di tengah-tengah ruang utama masjid, di atas hamparan karpet beludru hijau tua, beberapa orang telah duduk melingkar. Di sana ada Pak Pratama yang tampak berwibawa dengan beskap hitamnya, petugas KUA yang sibuk memeriksa berkas-berkas, dan seorang pria muda yang duduk tegap memunggungi pintu masuk.
ARKA PRATAMA
Pria itu mengenakan kemeja batik sutra tulis berwarna gelap, senada dengan celana kainnya. Dari belakang, punggungnya terlihat begitu kokoh dan tak tergoyahkan.
Naura melangkah perlahan dibimbing oleh bibinya. Ketika ia mengambil posisi duduk di sebelah kiri Arka, pria itu menoleh sedikit. Pandangan mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Sepasang mata elang milik Arka tampak begitu tenang, jernih, namun menyimpan kedalaman misteri yang sulit diselami. Sifat tenangnya justru membuat Naura merasa semakin tertekan dan terintimidasi.
"Baik, karena wali hakim dan para saksi sudah lengkap, serta masa berkabung keluarga mempelai wanita telah digenapi selama empat puluh hari, kita bisa memulai prosesi ijab kabul ini," ujar petugas KUA seraya membetulkan letak kacamatanya.
Naura menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Jemarinya yang dingin meremas kain kebayanya sendiri hingga kusut. Di dalam kepalanya, dia tidak bisa membayangkan wajah Rama yang hancur kalau tahu pernikahan ini .
"Saudara Arka Pratama bin Baskoro Pratama," suara petugas KUA mulai menggema di dalam ruang masjid yang sunyi.
"Saya," jawab Arka. Suaranya terdengar bariton, berat, mantap, dan tanpa ada getaran keraguan sedikit pun. Ketenangan pria di sampingnya ini entah mengapa membuat dada Naura terasa kian sesak.
Bagaimana bisa seseorang menghadapi pernikahan tanpa cinta dengan begitu tenang?
"Aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan Naura Ayu Rahardjo binti Rahardjo, yang walinya telah mewakilkan kepada saya, dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan logam mulia seberat lima puluh gram dibayar tunai."
Arka menarik napas pendek, lalu menjabat tangan petugas KUA dengan cengkeraman yang sangat kuat dan tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Naura Ayu Rahardjo binti Rahardjo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Saksi? Sah?"
"Sah."
"Sah."
Suara ucapan "sah" yang menggema dari para saksi seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dinding pertahanan hati Naura.
Di hadapan hukum agama dan negara, ia bukan lagi seorang wanita bebas yang bisa memimpikan masa depan bersama Rama. Ia telah resmi menjadi seorang istri dari pria asing bernama Arka Pratama.
Air mata Naura luruh tanpa suara, menetes satu demi satu membasahi pangkuannya. Di sampingnya, Arka tampak menoleh pelan, menatap Naura yang bahunya mulai bergetar karena menahan tangis. Namun, pria itu tidak melakukan tindakan apa pun untuk menenangkan istrinya. Ia hanya kembali menatap lurus ke depan, merapikan kancing lengan kemejanya dengan ekspresi datar yang sulit diartikan.
Air mata Naura terus mengalir deras di dalam hati, meski wajahnya berusaha tetap tenang di hadapan para tamu. ("Ya Tuhan, ini nyata. Aku bukan lagi Naura Ayu Rahardjo yang bebas. Sekarang aku istri Arka Pratama. Istri orang asing yang bahkan tak pernah kukenal hatinya.") Kata-kata itu bergema seperti petir di dada Naura, menghancurkan segala benteng yang selama ini ia bangun untuk melindungi cintanya pada Rama.
Dalam hati yang hancur, Naura menangis tanpa suara. Ia mengingat senyuman Rama yang selalu membuat dunianya cerah.
Malam-malam mereka berbincang di teras rumah, merencanakan masa depan bersama,rumah kecil di pinggir kota, anak-anak yang lucu, dan perjalanan ke pantai yang selalu mereka impikan. “Kita akan menikah suatu hari, Naura. Aku janji,” bisik Rama dulu, suaranya begitu hangat. Kini semua itu harus dikubur hidup-hidup.
("Statusku sudah berubah. Aku milik Arka sekarang. Di mata agama, di mata negara, di mata dunia. Tak ada lagi ruang untuk Rama. Tak boleh ada.") Pikiran itu seperti pisau yang menusuk berulang kali.
Naura membayangkan bagaimana ia harus tersenyum pada suaminya yang baru, melayani kebutuhannya, tidur di ranjang yang sama, sementara hatinya tetap tertambat pada pria lain. Mimpi-mimpi indahnya bersama Rama,pernikahan sederhana, liburan berdua, bahkan nama-nama anak yang pernah mereka bisikkan,semua harus ia kubur dalam-dalam, tak boleh tumbuh lagi.
Tangis di dalam hati Naura semakin menjadi. ("Mengapa harus seperti ini? Mengapa aku tak bisa melawan?") Ia merasakan bahunya bergetar pelan, tapi tangan Arka yang dingin di sampingnya tak bergerak sedikit pun. Pria itu asing baginya, seperti bayang-bayang yang kini menjadi penjara.
Setiap detik, Naura merasa dirinya semakin tenggelam. Cinta pada Rama harus mati, meski rasa sakitnya tak kunjung padam. Ia harus belajar mencintai kenyataan baru ini, atau setidaknya berpura-pura. Tapi bagaimana? Bagaimana mengubur hati yang masih hidup?
Di balik kerudung pengantinnya, Naura menutup mata sejenak. ("Selamat tinggal, Rama. Maafkan aku.") Air mata batinnya tak berhenti, membasahi seluruh jiwa yang kini terbelah dua. Pernikahan ini sah, tapi hatinya? Hatinya masih milik masa lalu yang takkan pernah kembali. Dan itu, lebih menyakitkan dari segalanya.
Setelah prosesi penandatanganan buku nikah dan doa bersama yang terasa begitu panjang bagi Naura, mereka dipersilakan untuk menuju ke area pelataran luar masjid untuk berfoto bersama keluarga dalam jumlah yang sangat terbatas.
Aroma melati yang menguar dari ronce yang menghiasi sanggulnya terasa mencekik leher Naura. Di dalam mobil mewah yang melaju membelah keheningan malam ibu kota, tidak ada percakapan. Hanya ada suara deru mesin halus dan rintik gerimis yang memukul kaca jendela.
Di sebelah kanan Naura, duduk seorang pria yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya di hadapan penghulu. Arka Pratama. Pria itu menatap lurus ke depan, dengan rahang kokoh yang mengatup rapat dan ekspresi yang sulit dibaca.
Pernikahan mereka digelar begitu cepat, sederhana, dan tertutup di salah satu masjid dekat rumah sakit, sebagai bentuk penghormatan terhadap masa berkabung atas kepergian ayah Naura. Tidak ada pesta pora, tidak ada ucapan selamat yang meriah dari ratusan tamu. Yang ada hanyalah rasa sesak yang kian menghimpit dada Naura hingga rasanya ia ingin melompat keluar dari mobil saat itu juga.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern berlantai dua di kawasan Jakarta Selatan, jantung Naura berdegup kencang. Ini adalah rumah Arka. Mulai malam ini, tempat asing ini akan menjadi penjaranya.
"Turunlah," ucap Arka. Suaranya terdengar bariton, berat, dan datar tanpa riak emosi sedikit pun.
Naura tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil sendiri tanpa menunggu dibukakan. Dengan tangan yang gemetar, ia mengangkat sedikit gaun kebaya putih panjangnya agar tidak tersandung saat melangkah memasuki halaman rumah.
Arka berjalan di depan, membuka pintu utama dengan menekan beberapa digit kode angka pada kunci digital. Begitu pintu terbuka, interior rumah yang didominasi warna putih, abu-abu, dan hitam langsung menyapa indra penglihatan Naura.
Rumah itu sangat rapi, bersih, namun terasa sangat dingin dan tidak bernyawa,persis seperti pemiliknya.
"Kamar kita di atas," kata Arka lagi, memecah keheningan seraya melangkah menaiki tangga kayu.
Naura mengekor di belakang dengan kepala tertunduk. Setiap anak tangga yang dipijaknya terasa seperti langkah menuju tiang gantungan.
Di dalam kepalanya, bayangan wajah Rama kembali berputar. ("Bagaimana keadaan Rama sekarang?") pikir Naura merana. Rama pasti hancur. Pria itu sempat mendatangi masjid tempat akad nikah berlangsung, namun dihadang oleh beberapa petugas keamanan yang disewa keluarga Pratama.
Air mata Naura kembali menggenang, namun ia buru-buru menyekanya dengan ujung jemari sebelum Arka menyadarinya.
Arka membuka sebuah pintu kayu jati di ujung koridor lantai dua. Kamar utama itu sangat luas, dengan sebuah ranjang berukuran king size yang tertata rapi di tengah ruangan. Jendela besar di sudut kamar langsung menghadap ke arah kolam renang di bawah, memantulkan cahaya lampu air yang temaram.
Naura berdiri mematung di dekat pintu, merasa sangat canggung dan takut. Ia meremas jemarinya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Jubah pengantinnya terasa semakin berat dan menjerat tubuhnya.
Arka berjalan menuju lemari besar, membuka kancing teratas kemeja batiknya, lalu berbalik menatap Naura. Pria itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sarat akan beban yang sama beratnya dengan yang dipikul Naura.
"Duduklah, Naura. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Arka seraya menunjuk ke arah sofa panjang beludru yang terletak di dekat jendela.
Naura melangkah pelan, lalu mendudukkan diri di ujung sofa, menjaga jarak sejauh mungkin dari Arka. Arka kemudian menarik sebuah kursi kerja, memutarnya menghadap Naura, lalu duduk di hadapan wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya.
Dari jarak sedekat ini, Naura harus mengakui bahwa Arka adalah pria yang sangat tampan. Struktur wajahnya tegas, dengan hidung mancung dan sepasang mata elang yang tajam namun tampak begitu tenang. Sifat tenangnya justru membuat Arka terlihat semakin mengintimidasi.
Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat rapi, lalu meletakkannya di atas meja kopi di antara mereka.
"Ini adalah kesepakatan privasi selama kita tinggal bersama," kata Arka langsung pada inti persoalan.
Naura mengernyitkan dahi. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya dengan saksama. Di sana tertulis beberapa poin yang diketik dengan sangat rapi:
[
Pernikahan ini dijalankan semata-mata untuk memenuhi wasiat almarhum Bapak Rahardjo.
Kedua belah pihak dilarang mencampuri urusan pribadi dan kehidupan profesional masing-masing.
Tidak ada tuntutan pemenuhan nafkah batin atau hubungan suami-istri sampai batas waktu yang tidak ditentukan, kecuali atas kesepakatan bersama tanpa paksaan.
Masing-masing pihak wajib menjaga nama baik keluarga di depan publik dan orang tua.
]
Naura menatap Arka dengan pandangan tidak percaya setelah selesai membaca poin-poin tersebut. Rasa terkejut sekaligus lega bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
"Kak Arka ... membuat ini?" tanya Naura, suaranya masih agak serak.
"Ya," jawab Arka tenang. "Aku tahu kamu terpaksa menikahiku karena wasiat ayahmu. Begitu pula denganku. Aku menghormati keputusan ayahku, dan aku tidak berniat untuk memaksakan apa pun darimu. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu, Naura. Kamu aman di rumah ini."
Mendengar kalimat itu, benteng pertahanan Naura sedikit melunak. Setidaknya, ketakutan terbesarnya tentang malam pertama yang mengerikan bersama pria asing tidak akan terjadi. Arka ternyata memiliki sopan santun yang tinggi dan menghargai batasannya sebagai seorang wanita.
"Terima kasih," bisik Naura tulus.
"Sama-sama. Malam ini, kamu tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa ini," ucap Arka seraya berdiri, mengambil sebuah selimut tebal dan bantal dari dalam lemari linen, lalu meletakkannya di sofa.
"Tapi, Kak, sofa itu terlalu pendek untuk ukuran tubuh Kakak," ujar Naura, merasa tidak enak melihat pria setinggi Arka harus menekuk tubuhnya di atas sofa semalaman.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa," potong Arka dengan nada final yang tidak menerima bantahan. "Bersihkan dirimu, lalu istirahatlah. Besok pagi aku harus ke kantor pagi-pagi sekali."
Tanpa menunggu jawaban Naura, Arka berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Naura mengembuskan napas lega yang panjang. Ia segera bangkit, menuju meja rias untuk melepaskan jepitan rambut, ronce melati, serta menghapus riasan tebal di wajahnya.
Proses itu memakan waktu cukup lama karena pikirannya yang terus melayang ke mana-mana.
Beberapa menit kemudian, Arka keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaus oblong hitam santai dan celana training panjang. Tanpa menatap Naura, pria itu langsung merebahkan tubuhnya di sofa, memunggungi ranjang, dan menyelimuti dirinya hingga sebatas dada.
Naura bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti kebayanya dengan baju tidur katun yang longgar. Ketika ia kembali ke kamar, suasana sudah sangat sunyi. Hanya terdengar suara ketukan gerimis di luar dan desau halus pendingin ruangan.
Naura berjalan berjinjit menuju ranjang besar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. Namun, keempukan kasur itu sama sekali tidak bisa mengusir rasa gelisah yang berkecamuk di dalam hatinya.
Dua jam berlalu, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Naura masih memandangi langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar antara kesedihan kehilangan ayahnya dan nasib hubungannya dengan Rama yang kini kandas di tengah jalan.
Tiba-tiba, keheningan malam dipecah oleh suara getaran halus yang berulang. Naura menoleh ke arah meja nakas di samping ranjang. Suara itu bukan berasal dari ponselnya, melainkan dari ponsel Arka yang tertinggal di atas meja nakas saat pria itu mengisi daya baterai.
Layar ponsel itu menyala terang di tengah kegelapan kamar. Karena posisinya yang cukup dekat, Naura bisa melihat sebuah notifikasi pesan WhatsApp yang muncul di layar kunci. Sebuah nama kontak tertera di sana: [Valerie]
Di bawah nama itu, sebaris kalimat pesan tertulis dengan jelas dan dapat terbaca oleh Naura:
["Aku tahu malam ini kamu terpaksa bersamanya. Tapi tolong ingat janji kamu, Arka. Aku tunggu kamu kembali, Sayang. Aku nggak akan pernah lepasin kamu."]
Jantung Naura berdegup kencang seketika. Tangannya membekap mulutnya sendiri karena terkejut. [Valerie?] Naura membatin dengan tubuh yang mendadak kaku. Jadi ... Arka sudah memiliki kekasih? Pria itu ternyata juga mengorbankan perasaan wanitanya demi mematuhi keinginan orang tua?
Naura membalikkan tubuhnya membelakangi meja nakas, menatap punggung Arka yang diam tak bergerak di atas sofa di seberang ruangan. Rasa sesak yang baru kini menyergap dadanya. Jika tadi ia merasa menjadi satu-satunya korban yang paling merana dalam perjodohan ini, kenyataan barusan menamparnya dengan keras.
Mereka berdua ternyata berada di kapal yang sama. Dua orang asing yang memiliki kisah cinta masing-masing di luar sana, namun dipaksa bersatu dalam sebuah ikatan suci yang terasa seperti belenggu besi.
Naura memejamkan matanya dengan rapat, membiarkan air matanya mengalir membasahi bantal dalam diam. Di kamar pengantin yang dingin itu, di atas batas suci yang mereka sepakati, Naura menyadari bahwa pernikahan ini akan menjadi perjalanan yang jauh lebih rumit dan menyakitkan dari yang pernah ia bayangkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!