“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!”
Suara Liora menggema di dalam mobil hitam yang melaju tanpa tujuan jelas. Tangannya terikat di pergelangan, meski tidak terlalu ketat seakan penculiknya tidak benar-benar menganggapnya berbahaya. Atau justru… terlalu yakin dia tidak akan kabur.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang untuk anak seusianya.
Liora menelan ludah. “Kamu… siapa sebenarnya?”
Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Keivan,” jawabnya singkat.
Liora hampir tertawa, tapi tidak jadi. Meski geli, tapi saat itu bukan situasi lucu.
“Keivan ya? Oke, Keivan kecil… suruh sopir ini berhenti sekarang. Aku bisa kasih uang, aku bisa—”
“Aku tidak butuh uangmu.” Potong anak itu dengan nada dingin.
Liora mendengus pelan mendengar suara anak itu yang sok cool.
“Aku butuh kamu.” Anak itu melanjutkan, suaranya tetap datar.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya, lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Krik krik krik...
Suasana mobil kembali hening. Liora berkedip pelan, merasa situasi yang sedang ia alami terlalu konyol.
“HAHA—” ia benar-benar tertawa, tapi langsung berhenti saat melihat ekspresi dingin anak itu tidak berubah sama sekali.
“Ini bercanda, kan? Kamu masih kecil lho, dek! Terus, apa kamu juga tahu konsep ibu tiri?!”
Keivan menatap tajam Liora, bibirnya menipis. “Jangan meremehkanku, calon ibu tiri.”
Liora merasa kepalanya mau pecah.
Mobil itu terus melaju, melewati jalanan kota yang semakin asing. Tidak ada tanda-tanda mereka menuju tempat umum, Liora benar-benar diculik oleh bocah enam tahun.
Di luar mobil, hujan mulai turun rintik-rintik. Keivan mengeluarkan tablet kecil dari tasnya, lalu menyalakannya dengan gerakan tenang. Jarinya menari cepat di layar, seolah-olah ini adalah hal paling normal di dunia.
Liora menatapnya dengan tidak percaya. “Hei, Nak. Kamu ini anak siapa sebenarnya…?”
“Aku pewaris keluarga Salendra.”
Nama Salendra membuat Liora terdiam, nama keluarga yang hanya muncul di berita ekonomi, politik, dan daftar orang paling berpengaruh di negara ini. Bisa dibilang, keluarga yang tidak tersentuh. Keluarga yang tidak mungkin melakukan hal gila seperti… menculik orang untuk dijadikan ibu tiri.
“Jadi kamu… anak orang kaya?” suara Liora melemah.
Keivan hanya mengangkat bahu, matanya tetap fokus pada layar. “Aku membawamu karena ayahku butuh istri, dan aku butuh wali resmi. Di keluarga ini, selain kakekku… tidak ada yang bisa aku percaya.”
“HAH?!” Kepala Liora langsung mendongak, dia benar-benar tak mengerti. “Ayahmu siapa?! CEO itu? Atau presiden?! Atau apa?!”
Keivan akhirnya mengangkat wajahnya dari tablet di tangannya dan menatap Liora kembali, “Dewangga Salendra.”
Liora memang pernah mendengarnya. CEO muda yang pernah muncul di majalah bisni, tampan, dingin, dan… kemudian menghilang dari publik setelah kecelakaan besar.
“Dia… kan katanya sakit?” gumam Liora.
Keivan mengangguk. “Aku akan jujur, Ayahku memang seperti anak berusia lima tahun sekarang. Dalam artian, dia penyandang disabilitas intelektual yang sangat berat.”
Liora menatap kosong, mulutnya terbuka menganga lebar. “Jadi… aku diculik untuk dinikahkan dengan pria dewasa yang mentalnya seperti anak kecil… oleh anak kecil yang tingkahnya seperti orang dewasa kayak kamu?!”
“Kau cerdas juga.” Keivan mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah itu adalah kesimpulan paling logis di dunia.
Kali ini Liora tertawa putus asa. “Ini keluarga gila…”
Keivan menutup tabletnya.
“Kalau kamu kabur… aku akan sedih.“ Kali ini, suaranya sedikit lebih pelan.
Liora tersentak, ada sesuatu dalam ucapan anak itu.
Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti. Gerbang besar terbuka perlahan, memperlihatkan mansion megah di baliknya.
Seorang penjaga berlari menghampiri, lalu membuka pintu mobil.
“Tuan muda, Anda sudah kembali.“
Keivan hanya mengangguk pelan, lalu dia berusaha turun dari dalam mobil dengan kaki kecilnya. Meski itu sangat lucu, Liora kembali menahan rasa gelinya.
Anak itu menoleh ke Liora. “Selamat datang di rumah calon suamimu, cepat turun!”
Liora mematung, ternyata semuanya beneran nyata. “Gila… apa aku akan masuk neraka versi keluarga kaya?”
Meski masih merasa aneh, akhirnya Liora turun dari mobil. Rasa takutnya kalah oleh rasa penasaran.
Namun baru saja ia melewati pintu utama, seorang pria dewasa dengan wajah sangat tampan dan maskulin berlari ke arah mereka.
“Kei! Kei! Mana es krim punyaku?!” teriak pria dewasa itu dan bertingkah seperti anak kecil.
Pria itu adalah Dewangga Salendra. Ia memakai piyama rumah, sandal berbulu, dan memeluk boneka anjing.
“Perkenalkan, dia ayahku sekaligus calon suamimu,” ucap Keivan dengan tenang, menunjuk pria yang baru saja berteriak itu.
Astagaaaaa!!!
Wajah Liora terlihat tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
*
*
*
Like, komen, favorit, jangan nabung chapter ya🙏🏻😘
Liora berdiri kaku di ambang pintu mansion itu, seperti seseorang yang baru saja salah masuk ke dunia lain. Di depannya, pria dewasa yang disebut Dewangga Salendra masih sibuk mengguncang boneka anjing di tangannya.
“Kei, es krimku mana? Aku mau yang cokelat, bukan yang vanila!” rengek Dewangga, nada suaranya benar-benar seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Keivan bahkan tidak menoleh. “Papa, nanti. Aku sedang sibuk sekarang.”
“Kamu selalu sibuk!” Dewangga mengerucutkan bibir, lalu melirik Liora dengan mata polos yang terlalu jernih untuk seorang pria 35 tahun. “Siapa dia? Teman baru?”
Liora refleks mundur setengah langkah. Tangannya yang tadi terikat sudah dilepaskan oleh pengawal di luar tadi. Dan kini, otaknya sedang menolak menerima realitas di depannya.
Keivan menarik napas pelan, lalu menjawab sang ayah, “Dia... calon istrimu.”
Dewangga sempat terdiam, lalu matanya berbinar cerah. “Wah! Istri? Aku punya istri?”
Suara pria dewasa itu naik beberapa oktaf seperti anak yang baru diberi hadiah ulang tahun. Ia langsung mendekat, membuat Liora spontan menahan nafasnya. Dewangga menatapnya tanpa jarak, ia tersenyum lebar. “Cantik! Kamu bisa masak es krim juga?”
“Hah?” Liora benar-benar kehilangan kata.
Belum sempat ia mundur lebih jauh, Keivan sudah melangkah dan berdiri di antara mereka.
“Jangan dekat-dekat, dia bukan mainanmu.” Ucap Keivan dingin.
Dewangga langsung cemberut. “Tapi aku mau main sama dia!”
Liora menutup mata sejenak, rumah itu adalah tempat orang-orang dengan cara berpikir yang aneh.
Keivan menarik Liora berjalan masuk tanpa basa-basi, memperlihatkan interior mansion yang sangat megah.
“Duduk,” perintah Keivan.
Liora tidak langsung menurut. “Aku masih belum paham ini semua, kalian nggak bisa seenaknya—”
“Kamu sudah dibawa ke sini, itu artinya kamu sudah terlibat,” potong Keivan.
Nada suara bocah itu tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Liora sadar jika Keivan tidak sedang bermain-main dengannya.
Keivan meminta sebuah map dari pengawal pribadinya, lalu melemparkannya ke atas meja. “Kontrak pernikahan.”
Liora menatap map itu seolah itu lelucon buruk. “Kamu bocah gila.”
“Aku dan ayahku butuh wali. Aku juga butuh seseorang yang bisa menggantikan posisi ibuku, keluarga Salendra butuh citra yang stabil di publik.” Keivan berbicara seperti membaca laporan bisnis. “Dan kamu, bisa hidup nyaman dan aman.”
Liora tertawa pendek, “Aman? Dengan kalian?”
Keivan menatapnya. “Atau kamu mau kembali ke dunia luar dan berpura-pura tidak pernah melihat apa pun di sini? Lagipula, bukankah utangmu sangat banyak untuk biaya ibumu di rumah sakit? Para penagih utang juga terus mencarimu…”
Kalimat itu menghantam tepat sasaran, Liora terbungkam.
Keivan membuka map itu sedikit, memperlihatkan beberapa dokumen hukum. Semua rapi, legal, dan… mengerikan karena terlalu serius untuk situasi tidak waras ini.
Di sisi lain ruangan, Dewangga sedang duduk di lantai, bermain dengan mobil-mobilan kecil seperti anak lima tahun. Sesekali ia tertawa sendiri, dan terkadang matanya menatap sekeliling dengan pandangan kosong.
“Dia benar-benar… CEO?” gumam Liora saat memperhatikan Dewangga.
“Dulu, ayahku adalah pemimpin yang hebat… sebelum kecelakaan yang menimpa dia dan ibuku.”
Liora masih menatap Dewangga, pria itu sekarang sedang berbicara dengan boneka anjingnya. “Kamu jadi sopir ya! Kita mau jalan-jalan nanti.”
Tidak ada sisa-sisa aura pemimpin bisnis, tak ada ketegasan apalagi kebanggaan. Hanya seorang pria dewasa yang tersesat di dalam pikirannya sendiri.
Liora mengalihkan pandangan dengan cepat.
“Dan kamu,” katanya pelan, menatap Keivan, “Kenapa kamu bisa setenang ini di umur sekecil ini?”
Keivan merapikan map kontrak itu, lalu menjawab dengan nada datar. “Karena kalau aku tidak seperti ini, rumah ini akan hancur. Atau mungkin… aku dan ayahku tidak akan bisa bertahan hidup.”
Hening sesaat memenuhi ruangan, Liora seakan ikut merasakan sedikit kesakitan dari diri anak kecil itu. Sebenarnya, apa yang terjadi di keluarga Salendra... sampai anak sekecil Keivan harus berpikir seperti orang dewasa?
Dewangga tiba-tiba berdiri lagi. “Kei! Aku lapar!”
“Tunggu.”
“Aku nggak mau nunggu!”
Keivan menutup mata sebentar, seperti menahan sesuatu yang sudah terlalu sering terjadi.
Liora memperhatikan semuanya. Perlahan, rasa panik yang tadi ia rasakan berubah. Ini bukan sekadar penculikan, tapi keluarga yang sedang berusaha bertahan dengan cara yang tidak biasa.
Keivan menatap Liora lagi. “Aku tidak akan memaksamu langsung setuju.”
“Oh, ya?” Liora menyeringai kecil, meski matanya masih waspada.
“Tapi kamu juga tidak akan pulang, sampai aku yakin kamu tidak berbahaya untuk keluarga ini.”
Liora menghela napas pelan. “Jadi secara tidak langsung, aku ini tahanan?”
“Calon anggota keluarga,” koreksi Keivan tanpa ekspresi.
Dari arah lain, Dewangga berlari kecil sambil membawa bantal. “Aku juga mau calon istri! Aku mau dua!”
Keivan langsung berkata tanpa menoleh, “Papa, duduk.”
“Tidak mau!”
Keivan akhirnya menatap ayahnya dengan pandangan tajam. “Duduk! Sekarang juga!”
Dewangga langsung berhenti bertingkah, dan duduk dengan patuh seperti anak kecil yang takut dimarahi ibunya.
Liora menyaksikan itu semua, lalu tertawa kecil tanpa sadar. “Ini benar-benar rumah paling kacau yang pernah ada…”
“Tapi kamu sudah di dalamnya sekarang.” Keivan menatapnya datar.
Liora mengangkat sebelah alisnya.
Keivan meletakkan sebuah kartu di atas meja, limitnya 1 miliar. “Kartu ini pembayaran pertama kamu sebagai calon istri ayahku dan calon ibu tiriku. Limitnya 1 miliar, cukup untuk melunasi semua utang rentenir dan biaya kuliahmu yang belum lunas. Kalau ada sisa, kamu bisa simpan. Setelah itu... hidupmu akan nyaman sebagai Nyonya Dewangga Salendra. Kamu bahkan bisa balas dendam pada ibu tirimu yang membuat ibu kandungmu celaka dan masih koma di rumah sakit. Termasuk... membalas mantan pacarmu yang selingkuh itu dan menipu uangmu.”
Mata Liora membelalak. “Kamu menyelidiki hidupku?”
“Kalau tidak, bagaimana aku bisa tertarik padamu?” Bocah itu tersenyum tipis.
Keivan melanjutkan dengan tenang, “Keluarga Salendra sedang tidak baik-baik saja, mirip drama perebutan warisan. Paman, bibi, dan para sepupu ayahku ingin merebut perusahaan dan posisi pewaris. Ayahku adalah anak pertama. Kakek masih memegang kendali, tapi kesehatannya menurun. Dan meski aku pintar... ada hal yang tidak bisa aku lakukan sebagai anak kecil, seperti mengurus saham dan menghadapi dewan perusahaan.”
Liora mulai mencerna semuanya. “Lalu kenapa kamu memilihku?”
“Jurusan kuliahmu Administrasi Bisnis, nilaimu di universitas juga yang terbaik. Aku butuh kamu jadi wali ayahku dan waliku untuk mengelola perusahaan. Jika kamu kompeten, kamu tidak akan rugi.”
Tatapan Keivan menjadi lebih serius. “Apa kamu bersedia? Karena kalau kamu menolak… mungkin tidak lama lagi kamu akan mendengar kabar kematianku dan ayahku. Nyawa kami tergantung padamu.”
Liora langsung menegang.
“Mama Liora… kamu mau menyelamatkan nyawa kami?” kali ini, suara Keivan terdengar seperti memohon.
Mama?!
Liora benar-benar kehilangan kata-kata.
Mendengar suara bocah itu yang memohon, Liora sempat hampir mengangguk. Tapi instingnya menahan. Ia tidak mau terlibat dengan keluarga orang kaya, apalagi yang terdengar seperti perebutan warisan.
“Aku menolak, maaf. Lagipula… kamu kelihatannya cuma berpura-pura. Kamu pintar berakting. Harusnya kamu jadi aktor cilik saja, Tuan muda Keivan.” Dengan tegas ia menolak, bahkan Liora menyeringai tipis.
Wajah Keivan yang tadi tampak melunak langsung berubah, ia tersenyum dingin. Namun bagi Liora, senyuman anak itu tidak menakutkan. Wajah Keivan tampak lucu, dengan berbagai ekspresinya.
“Ck, aku kira kamu akan tertipu.” Keivan menghela napas berat, benar-benar terdengar seperti orang dewasa. “Kamu benar, aku memang berpura-pura menyedihkan. Nyawaku dan ayahku... tidak semudah itu dilenyapkan. Rumah ini punya keamanan tingkat tinggi.”
Bocah jenius itu menatap Liora lebih tajam. “Aku akui, penilaianmu soal orang lain sangat bagus. Tapi aku tetap butuh kamu di sini, pikirkan lagi tawaran pernikahan itu. Untuk sementara... kau akan tinggal di sini, dan tidak bisa keluar.”
Keivan menatap Liora dengan tatapan sedikit melunak. “Sekarang… bisakah kamu masak? Ayahku sudah lapar.”
Liora langsung mendelik. “Di rumah sebesar ini memangnya nggak ada koki?”
“Tentu saja ada, tapi kalau kamu yang masak... aku akan bayar. Sekali masak, sepuluh juta. Lagipula, kamu tidak akan punya banyak kegiatan di sini. Selama kamu di sini, tolong rawat ayahku juga. Tenang saja, upahmu akan ku gandakan.”
Keivan berdiri dari kursinya. “Aku harus pergi ke rumah utama, Kakek menunggu. Ada urusan perusahaan. Oh ya, jangan kasar-kasar pada ayahku. Waspadalah padanya, atau kamu bisa repot sendiri.”
“Dia cuma pria dewasa yang tingkahnya seperti anak kecil, apa yang harus aku takutkan?” Liora mendengus pelan.
Keivan tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Ia memberi isyarat pada pengawal, lalu berjalan pergi. Di tengah langkahnya, ia berhenti sebentar di depan ayahnya.
“Papa, jangan nakal! Aku pergi dulu.”
Keivan menepuk pelan kepala ayahnya, seperti seorang ayah yang menyayangi anaknya. “Kalau Papa mau es krim, minta sama Liora. Kalau Papa lapar, dia juga akan masak. Oke?”
Keivan kembali melanjutkan langkahnya, dia hampir sampai di ujung lorong ketika suara Dewangga terdengar dari belakang.
“Kei…”
Langkah Keivan berhenti, dia menolehkan kepalanya.
“Papa boleh ikut?”
Liora yang masih berdiri di ruang tamu menatap ke arah mereka. Dewangga berdiri di dekat sofa, tangannya masih memegang mainan. Jari-jarinya mencengkeram pelan, seperti anak kecil yang takut ditinggal.
Keivan menghela napas. “Tidak! Patuhlah pada Liora, ya.”
Mata pria dewasa itu berkedip beberapa kali, perlahan wajahnya berubah. “Kenapa… Papa nggak boleh ikut?”
Dewangga berlari kecil ke arah anaknya, lalu berhenti lagi seperti ragu-ragu. “Papa salah, ya?”
Keivan tidak menjawab, dan itu cukup untuk membuat Dewangga terlihat semakin bingung. “Papa mau ikut… Kei. Jangan tinggalin Papa...”
Perkataan itu seperti ucapan anak kecil yang takut ditinggal di tempat asing.
“Aku nggak ninggalin Papa, nanti aku kembali.“ Keivan kembali menghela napas.
“Benar?” Mata Dewangga berbinar lagi.
“Iya.”
“Papa tunggu di sini, sama Liora. Dia orang baik, dan akan menjaga Papa.”
Dewangga langsung menoleh ke Liora, seakan mengerti kata-kata anaknya. Ia berjalan mendekat ke arah perempuan itu, dan tanpa aba-aba menarik ujung baju Liora. “Kamu mau jadi temanku? Ayo bermain! Teman itu… baik. Jangan pergi ya.“
Wajah Liora sontak membeku. “Eh baiklah… aku nggak akan pergi ke mana-mana kok.”
“Yeaayyy...” Dewangga tersenyum lebar, ia tampak benar-benar puas.
Liora melirik ujung bajunya yang masih dipegang Dewangga, lalu dia menatap Keivan yang masih berdiri di lorong.
“Dia… selalu begini?” tanya Liora pelan.
“Kadang lebih buruk kalau sedang merasa sendirian.”
Dewangga tiba-tiba menatap Liora lagi. “Kamu tidak pergi?”
“Tidak.”
“Janji?”
Liora terdiam sebentar, lalu mengangkat dua jari. “Janji sementara.”
“Oke.” Dewangga langsung tersenyum puas, ia kemudian duduk di sofa lagi, memeluk mainannya erat seperti benda paling berharga di dunia. “Aku mau es krim...”
Liora menghela napas panjang, lalu melirik Keivan. “Jadi sekarang, aku adalah Babysitter CEO?”
“Kamu bisa menganggapnya begitu.” Keivan mengangkat bahunya.
Sebelum Liora sempat protes, Keivan sudah melanjutkan, “Kasih saja, Papa tidak akan tenang sebelum makan sesuatu yang manis.”
Dewangga langsung menegakkan tubuh. “Manis!”
“Ya, Tuan Dewangga.” Liora mengangkat tangan pasrah. “Manis, es krim. Aku akan kasih sama kamu.”
“Liora baik.” Dewangga tersenyum senang mendengarnya, ucapan pria dewasa itu sangat polos tanpa maksud apapun.
Namun Liora memandang Dewangga dengan tatapan lebih dalam, pria itu terlalu polos sampai terasa menyakitkan. Liora mengalihkan pandangan dengan cepat dan berdeham pelan. “Oke, aku juga akan masak. Tapi jangan berharap, rasa makananku seperti di Michelin star ya.”
Dewangga langsung mengangguk cepat. “Apa itu Michelin?”
“Lupakan.”
Dewangga tertawa kecil lagi.
Sementara itu, Keivan sedikit merasa lega melihat ayahnya bisa akrab dengan Liora. “Nona Liora...”
“Apa lagi?”
“Dia tidak suka ditinggal sendirian terlalu lama. Kalau dia mulai gelisah, beri dia sesuatu untuk dipegang atau diajak bicara.”
Liora melirik Dewangga yang sekarang sedang memeluk boneka anjingnya kembali sambil bersenandung kecil.
“Dia kayak… boneka hidup?”
“Kurang lebih.”
Dewangga tiba-tiba menatap mereka berdua. “Aku boneka?”
Liora langsung gelagapan. “Bukan! Bukan itu maksudnya!”
Dewangga tampak berpikir sebentar, lalu tertawa. “Boneka lucu?”
“I-iya...” Liora menghela nafas pasrah.
Dewangga terlihat bangga, ia mengangkat bonekanya sedikit. “Aku boneka lucu...”
Keivan tersenyum kecil. “Kalau ayahku memegang bajumu, jangan dilepaskan terlalu tiba-tiba.”
Liora melirik Dewangga, yang bersangkutan kembali memegang ujung bajunya erat-erat.
“Kalau aku lepas?” tanya Liora.
“Ayahku akan mengira kamu akan pergi darinya, selamanya. Dia masih punya trauma, bukan hanya karena kecelakaan itu... tapi juga karena kematian ibuku.”
Dewangga menatap Liora lagi dengan wajah polos. “Liora tidak pergi... kan?”
Suara pria dewasa itu terdengar samar seperti ketakutan, dan kali ini perempuan itu tidak ingin bercanda.
“Nggak akan, aku akan selalu di sini bersamamu.” Liora tersenyum lembut. Tangannya terangkat secara refleks, lalu mengusap pelan kepala Dewangga.
Dewangga tersenyum lebar, ia lebih tenang dari sebelumnya dan tangannya tetap memegang ujung baju Liora.
Tiba-tiba...
Cup!
Dewangga mengecup pipi Liora, membuat perempuan itu seketika membelalak.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!