HALLO👋👋SELAMAT DATANG LAGI DI NOVEL TERBARU AUTHOR, AUTHOR HARAP SEMOGA PARA READERS SETIA AUTHOR SELALU DALAM KEADAAN SEHAT, AMIMM🤲🤗
JANGAN LUPA DUKUNGAN NYA YA, TERIMA KASIH 👍🙏🙏
SELAMAT MEMBACA😍😍🫰🫰
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
"Papa aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku kenal!" Suara lembut, namun terdengar gemetar dan tegas memecah keheningan di sudut ruang keluarga besar dan mewah.
Terlontar di bibir merah seorang gadis belia bernama Maureen Adisty, wajah manis nya terlihat pucat mata nya memerah menahan tangis. Sang ayah menatap dengan wajah datar dan mata yang dingin.
"Ini sudah keputusan Papa, dan kamu tidak bisa mengubah nya karna kakak mu tidak bisa menikah, jadi kamu yang harus menggantikan nya." tegas sang Papa yang tak bisa dibantah.
Maureen merasa seperti di hantam badai, perintah bernada penuh penekanan dan tak bisa di tawar itu membuat nya seketika terhuyung.
"Tapi, Pah.. Kakak tidak bisa menikah karena dia mungkin sudah punya pilihan sendiri, tapi tidak kah papa bertanya aku setuju atau tidak? pernikahan itu hal yang sakral pah, dan aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai." ucap Maureen ingin menentukan pilihan nya sendiri.
Darah tuan Herman mendidih dan menggeram saat mendengar protes dari putri kedua nya, pria paruh baya itu pun menggelengkan kepala nya.
"Papa tidak peduli dengan cinta yang penting nama keluarga dan kekayaan, kamu akan menikah dengan putra tertua keluarga Carlson, karena hanya ini jalan satu-satu nya agar kita tidak jatuh miskin!" tegas Papa Herman.
Tak hanya nada bentakan sang ayah, kedua pasang mata sinis pun memindai ke arah Maureen dengan ekspresi penuh amarah dari ibu dan kakak nya.
"Maureen! Apa yang di katakan oleh ayah itu benar, kamu harusn ya berbakti pada kami," Sindir Nyonya Susan seraya berkacak pinggang.
Maureen masih mematung, kata-kata ayah dan ibu nya seolah menjadi tamparan keras, bahkan di sidang keluarga dia sangat terpojok, akan tetapi di usia yang masih muda prinsip nya masih tetap ingin menggapai karier dan cita-cita nya terlebih dulu.
"Maafkan aku Papa, Mama. Aku tidak ingin menikah sekarang dan aku janji akan berbakti pada kalian dengan cara ku sendiri, bekerja dengan giat agar bisa membantu keluarga kita." ucap Maureen mengangkat wajah dengan netra yang berkaca-kaca, helaan nafas panjang dan berat tersirat jelas ketika memberanikan diri menolak perintah.
Alih-alih mendapatkan respon baik dari sang ayah, malah penolakan Maureen semakin menyulut emosi. "Kau berani membangkang Papa.." teriak nya.
Rahang tuan Herman mengeras belum sempat dia menuntaskan perkataan nya, tiba-tiba saja tangan nya memegang erat dada sebelah kiri.
Bruk!
Tiba-tiba saja tubuh nya limbung terjatuh di depan semua orang yang ada di sana.
"Papa!" Seketika semua mata langsung terlihat cemas dan panik terutama Maureen.
Beberapa kali Maureen berusaha memangil dan memegang tangan sang ayah untuk memastikan kondisi nya. Namun tidak ada sahutan atau pun respon dari tuan Herman. Maura mendelik, lalu menepis kasar tangan adik nya.
"Maureen! ini semua gara-gara kamu, sekarang cepat telepon ambulans," Maki Maura mengarahkan jari telunjuk ke arah telepon yang berada di meja samping, bahkan sampai mendorong kasar tubuh Maureen.
Maureen nyaris terjatuh, gadis itu berusaha berdiri. Kaki nya yang lemas berjalan dengan langkah tertatih.
Kedua pupil mata indah nya tertuju pada benda komunikasi canggih yang ada di sudut ruangan, lalu mengangkat gagang nya dengan tangan yang gemetar.
"Halo pak. Tolong segera datang ke kompleks Sekar Sari," Pinta Maureen dengan nada serak parau di iringi isak tangis.
"Tentu saja nona, kami akan segera ke sana." Kata sang petugas.
****
30 menit berlalu, setiba nya di Hospital. Semua para tenaga medis berpakaian seragam serba putih segera menghampiri dengan membawa brankar, lalu mereka membaringkan tuan Herman untuk segera memberikan tindakan medis.
Setelah berjalan setengah berlari menyusuri lobi gedung beraroma obat-obatan itu, akhir nya sampai di instalasi Gawat Darurat,
Para suster di sana menutup pintu, dan meminta pihak keluarga agar tetap menunggu di luar.
Meskipun Maureen sempat ingin masuk, tapi demi keselamatan nyawa ayah nya ia terpaksa harus sabar menunggu, rasa penyesalan dan gelisah semakin berkecamuk di dalam hati nya.
"Papa!" Lirih Maureen menatap nanar pintu ruangan yang penuh ketegangan di sana.
Mengingat apa yang telah terjadi pada sang suami, Nyonya Susan semakin geram saat melihat sikap keras kepala putri nya.
"Ini kan yang kamu inginkan Maureen? Melihat penyakit ayah kambuh lagi? Atau kamu senang melihat nya sampai mati?" ucap Susan.
Pertanyaan sang ibu membuat Maureen terperanjat kaget, sampai menelan ludah beberapa kali lalu menggelengkan kepala nya.
"Maafkan aku Ma, aku tidak bermaksud membuat Papa sakit lagi," Maureen menyanggah dan berusaha membela diri. Kedua jemari nya meremas ujung dress. Menahan rasa sakit atas pertanyaan bernada tuduhan sang ibu.
Sebagai seorang Kakak, Maura bukan nya menjadi penengah, akan tetapi ia malah sengaja memprovokasi.
Jika semua ini di sebabkan oleh Maureen. Dia mengatakan saat ini karier nya baru saja naik sebagai aktris dan tidak baik jika harus menikah buru-buru.
Berbeda dengan Maureen, menurut nya lebih layak untuk berkorban demi keluarga. Apa lagi mengingat adik nya yang baru magang di sebuah perusahaan Fashion.
"Gaji mu itu kecil Maureen, jadi tidak akan bisa membantu masalah Papa. Sekarang lebih baik kamu terima perintah nya saja," Bentak Maura menunjuk-nunjuk kecil dahi Maureen.
"Benar apa yang di katakan Kakak mu. Jika kamu tidak mau rasa nya Mama sangat menyesal telah melahirkan putri egois seperti mu." Sambung Nyonya Susan.
Maureen masih bergeming, saat menerima cacian dan makian ibu dan kakak nya dengan kata-kata pedas bak belati tajam menusuk ke dalam hati. Membuat ia menghela nafas berat dan sesekali memejamkan mata dengan wajah yang tertunduk.
Ketika mereka tengah berbicara serius, terlihat seorang pria berjas hitam menghampiri dengan raut wajah penuh kebingungan
Sebagai orang kepercayaan tuan Herman, lelaki bernama Gio itu memberanikan diri menyampaikan berita darurat, jika saat ini semua karyawan tengah berdemo menuntut upah mereka yang masih belum di bayar dua bulan ini.
Jantung nyonya Susan seperti berhenti berdetak, kepala nya terasa nyeri dan pusing sampai dia hampir terjatuh. Dengan sigap Maura segera menahan ibu nya. "Ma..Mama tidak apa-apa?"
Nyonya Susan seketika menggelengkan kepala seraya memijat kening nya. Dia semakin kalang kabut atas apa yang menimpa perusahaan sang suami yang hampir bangkrut.
Tak ingin membuat istri bos nya marah, Gio pun segera undur diri setelah menyampaikan berita penting itu.
"Maureen kamu dengar itu nak? Tidakkah kamu ingin membantu Papa dan Mama mu?" Nyonya Susan tak henti-henti nya mengingatkan dan terus menekan.
Maureen mengigit bibir bawah nya, hati nya tak karuan saat melihat kondisi dan mendengar berita buruk perusahaan properti ayah nya yang di bangun dari nol saat ini tengah berada di ujung tanduk.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku masih ingin mengejar impian ku sebagai seorang desainer, tapi aku juga tidak ingin jika sampai Papa sakit dan putus asa dengan keadaan keluarga kami yang sekarang." lirih Maureen di dalam hati nya.
Maureen benar-benar tertekan di saat Mama dan kakak nya terus menyudutkan diri nya.
"Jika sampai terjadi apa-apa pada Papa, maka ini salah mu Maureen!" Bentak Maura menatap nyalang penuh emosi pada adik nya.
*
Bersambung.............
Maureen terduduk lemas di kursi tunggu, ia menutup wajah dengan kedua tangan mungil nya, hati dan pikiran nya saat ini seolah tengah berperang sangat hebat.
Dia sangat dilema antara impian dan bakti nya pada kedua orang tua. Kedua hal itu saat ini membayangi isi kepala. "Apa yang harus aku lakukan?" Tanya nya dalam hati penuh kebingungan dan kegelisahan.
Sementara Maura dan mama nya duduk di sebrang, sebagai putri pertama yang selalu di manja oleh kedua orang tua nya, membuat Maura tak bosan mengingatkan.
"Ma, Mama harus membujuk Maureen bagaimana pun cara nya. Aku tidak mau jika kita sampai jatuh miskin. Bisa-bisa karier ku ikut terancam juga," ucap Maura menggerutu sembari menatap nyalang ke arah Maureen yang ada di depan nya.
Susan memegang erat tangan Maura, wanita paruh baya itu pun meyakinkan.
"Maura, kamu tenang saja nak, Mama tidak akan membiarkan putri membanggakan seperti mu, menghabiskan waktu untuk menikahi pria yang berwajah cacat dan kejam, biarkan Maureen saja," Bisik Susan mengusap lembut rambut panjang putri kesayangan nya itu.
Maura memancarkan senyum licik, hati nya merasa sedikit tenang. "Makasih ma, mama memang mama terbaik," ujar Maura merangkul dan memeluk erat ibu nya.
Maureen menatap nanar pemandangan pahit, saat mama nya memeluk penuh ketulusan pada sang kakak. Bohong jika dia tidak cemburu karena selama ini dia tidak pernah merasakan nya.
"Mama dan papa sangat menyayangi kak Maura, kenapa aku tidak pernah mendapatkan pelukan seperti itu? "Batin Maureen bertanya-tanya.
Tapi Maureen berusaha menepis semua pemikiran negatif. "Papa dan Mama pasti juga sangat menyayangi ku," tegas Maureen mengepalkan kedua tangan dan berusaha menghibur diri sendiri nya.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Maureen, terlihat seorang pria berjas putih baru keluar ruangan IGD. Membuat nya segera beranjak lalu menghampiri.
"Dokter, bagaimana kondisi Papa saya?" tanya Maureen.
"Suami ku kondisi nya bagaimana dok?" Dokter tersebut menghela nafas sejenak, perlahan dia melepaskan kaca mata putih nya lalu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Maureen dan nyonya Susan.
"Pasien mengalami serangan jantung ringan beruntung segera di bawa ke sini, jadi kami masih bisa menangani nya, tapi.." Ujar sang Dokter yang terjeda sejenak.
Maureen, Susan dan kakak nya Maura menghela nafas lega. Akan tetapi melihat raut wajah sang dokter terlihat begitu serius membuat kening Maureen berkerut.
"Ta-tapi kenapa Dokter?" Maureen meminta dokter itu untuk memperjelas perkataan nya.
"Jangan sampai pasien marah atau syok berat, karena mungkin akibat nya akan lebih fatal dan kami tidak bisa menjamin keselamatan nya," imbuh Dokter tersebut dengan nada tegas.
Lalu dia pergi setelah memberikan penjelasan. Maureen terdiam dan mencerna semua peringatan Dokter itu, Mama dan kakak nya lebih dulu masuk ke dalam ruangan memastikan keadaan sang ayah.
"Untung Papa selamat, aku tidak boleh membuat nya marah dan kaget lagi," janji Maureen pada diri nya sendiri.
Suara langkah kaki pelan nya mulai memasuki dan menggema di ruangan di mana tuan Herman kini tengah terbaring tak berdaya, beberapa alat medis terlihat menghiasi tubuh nya. Terutama alat elektro kardiogram terlihat tak stabil. Membuat Maureen sangat sedih.
"Papa!" panggil Maureen lirih.
Tuan Herman perlahan membuka kedua bola mata nya, saat mendengar suara Maureen. Ingin sekali dia berbicara namun mulut nya terhalang oleh alat bantu pernapasan.
Maureen menggelengkan kepala, ia menatap nanar wajah tua sang ayah dengan penuh rasa penyesalan. "Papa jangan banyak bergerak dulu, maafkan aku, aku sangat menyesal." Ungkap Maureen meremas kedua jemari dengan wajah yang tertunduk.
Baru saja nyonya Susan ingin menegur Maureen, karena sudah berani berdebat dan membangkang perintah suami nya.
Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel tuan Herman yang terus saja berdering, membuat kebisingan di sana. Karena kesal nyonya Susan segera meraih benda pipih persegi canggih itu, lalu membuka dan membaca pesan yang membuat nya sangat terkejut.
"Ma ada apa?" Tanya Maura penasaran, saat melihat raut wajah mama nya yang berubah menjadi muram.
Nyonya Susan memperlihatkan pesan chat dari tuan Hans, yang bernada peringatan jika pernikahan kedua putra mereka tinggal menghitung hari dan harus benar-benar di langsungkan sesuai yang sudah di sepakati.
Jika tidak semua aset dan rumah nya akan di sita sebagai pelunas hutang tuan Herman yang sudah menumpuk pada mereka.
Maura seketika sangat cemas, dia tidak ingin jika sampai jatuh miskin. Ia menoleh dan membidik ke arah Maureen.
"Kamu lihat kan Maureen, Papa sangat tertekan dengan perjodohan ini. Selain para karyawan yang demo, sekarang kolega nya menekan tidak kah kamu merasa kasihan?" tanya Maura.
Satu pertanyaan Maura membuat Maureen semakin terpojok, di tambah lagi dengan nyonya Susan yang semakin menatap tajam, membuat gadis yang baru berusia dua puluh tiga tahunan itu pun memejamkan kedua pelupuk mata nya.
"A-aku bersedia menikah, selama itu membuat Papa sembuh dan terbaik untuk keluarga kita," ucap Maureen setuju, suara nya terdengar gemetar. Meskipun hati nya sangat berat.
Entah sosok pria macam apa yang akan menjadi suami nya nanti, yang jelas kesembuhan sang ayah adalah prioritas utama yang lebih penting dari segala-gala nya untuk saat ini.
Kedua bola mata Nyonya Susan dan Maura membeliak, senyum sinis penuh kepuasan terjerat jelas di raut wajah kedua nya.
"Nah, begitu dong. Harus nya kamu dari tadi setuju tidak harus berdebat dengan papa dulu, mama sangat bangga pada mu nak," Imbuh Susan mendaratkan tangan tepat di bahu putri bungsu nya.
Maureen hanya mengangguk patuh dia menatap sang ayah, terlihat tuan Herman yang tengah terbaring bernafas lega.
Begitu juga dengan Maura, hati nya sangat lega setelah sang adik mau patuh atas keputusan mereka.
"Ingat Maureen, kamu jangan sampai berubah pikiran lagi. Kalau tidak mau keluarga kita hancur dan jadi gembel. Lagi pula menjadi ibu rumah tangga sangat cocok untuk mu," Ledek Maura menatap remeh pada Maureen sembari melipat kedua tangan di dada dengan penuh kesombongan.
Maureen tidak ingin menyanggah lagi, karena dia tidak ingin ayah nya sakit yang nanti akan menjadi penyesalan di sepanjang hidup nya.
***
Sementara di kediaman tuan Hans Carlson terlihat seorang pria berdiri di atas balkon kamar besar dalam suasana gelap yang hanya di terangi cahaya bulan.
Langkah kaki besar pria paruh baya yang di kenal sebagai konglomerat nomor satu di seluruh kota, mendekati putra sulung nya yang saat ini tengah berdiri membelakangi nya.
"Arik! sebentar lagi pernikahan kalian akan segera di langsungkan. Papi harap kamu segera memberikan keturunan." ucap Tuan Hans pada Alarick atau dipanggil Arik itu.
Tuan Hans tak pernah absen untuk mengingatkan putra tertua dari ketiga saudara itu, mengingat begitu banyak isu liar yang beredar di circle bisnis nya atau pun di dunia maya.
Jika setelah mengalami kecelakaan itu putra nya sangat jarang mengandeng seorang wanita ke setiap acara formal perusahaan atau pun acara resmi lain.
Lelaki yang bertubuh tinggi dan berbahu tegak itu hanya menjawab dengan sebuah deheman saja, sesekali terlihat menghembuskan asap filter rokok nya.
Melihat sang putra yang diam membuat Tuan Hans sangat kesal. "Ingat Arik! jangan hanya karena satu wanita kau menghancurkan hidup mu!" peringat Tuan Hans pada sang putra.
\*
Bersambung.................
Beberapa hari kemudian, suara burung berkicau di pohon menyejukkan suasana pagi hari ini.
Maureen yang baru bangun dan beranjak dari tempat tidur nya ia menggeliatkan kedua tangan nya. Lalu keluar kamar untuk memastikan keadaan ayah nya yang sudah pulang dari rumah sakit beharap keadaan nya semakin membaik.
Baru saja dia berjalan menuruni tangga, terlihat Papa dan Mama nya sedang bersama sang kakak berbicara santai, namun terlihat sangat serius.
"Jaga diri mu baik-baik selama di Prancis nanti nak, Mama ingin melihat mu menang di acara penghargaan aktris terbaik nanti," Imbuh nyonya Susan menatap lembut penuh kebanggaan pada Maura.
Maura yang sedang mengemas beberapa barang ke koper nya, hanya mengangguk patuh. "Papa dan mama tenang saja, pokok nya aku akan membawa kabar baik untuk kalian, oleh-oleh apa yang kalian inginkan setelah nanti aku pulang?" Tanya Maura terdengar begitu manja.
"Papa tidak ingin apa-apa, pulang lah dengan selamat nanti," sambung Tuan Herman tersenyum, kata-kata nya penuh restu saat mendukung karier putri sulung nya.
Maureen masih mematung di sudut tangga, pupil mata indah nya terlihat memerah menahan tangis, sesekali ia mengigit bibir nya menahan rasa sakit hati. Karena melihat sikap kedua orang tua nya yang tampak jelas berbeda pada nya dan sang Kakak.
Sekilas Maureen menerawang jauh, di mana saat kecil mereka dulu. Maura yang lebih cantik dan lebih pintar dari nya yang selalu mengambil perhatian besar.
Bahkan selalu di bangga-banggakan oleh orang tua mereka, sempat ada satu moment di mana dia memperlihatkan hasil wisuda nya tidak pernah di gubris sekali pun. Malah memprioritaskan memilih satu agency terbaik untuk Maura.
"Apakah karena kakak lebih cantik, lebih pintar dan lebih membanggakan? Sampai mereka tidak pernah mengganggap ku ada?" Beberapa pertanyaan menyeruak dalam batin Maureen.
Perih dan sakit menyelimuti hati Maureen, namun apalah daya sebagai putri terkecil dia tidak mempunyai kemampuan untuk merubah semua keadaan yang membelenggu nya saat ini.
"Tuan tidak usah khawatir. Putri saya sudah setuju dengan pernikahan ini jadi kami akan menyiapkan pesta pernikahan yang mewah dan megah untuk kedua anak kita."
Suara bariton sang ayah membuyarkan lamunan Maureen. Jantung nya berdegup sangat kencang. Perasaan gelisah ketika ayah nya begitu bersemangat untuk membahas pernikahan itu.
Membuat nya semakin sedih, lalu memutuskan untuk kembali ke kamar nya dengan langkah kaki yang pelan hampir tak terdengar.
Namun Maura yang sudah melihat nya segera memanggil. "Adik, kamu sudah bangun?" sapa Maura.
Langkah Maureen terhenti, ia menarik napas dalam-dalam lalu perlahan memutar badan dan memancarkan senyum manis, untuk menutupi rasa sedih saat melihat momen hangat mereka.
"Kakak, iya aku baru bangun. Bagaimana kondisi ayah apa sudah membaik?" Tanya Maureen berusaha melupakan apa yang telah dia lihat tadi lalu mendekat dan ikut bergabung di ruang keluarga.
Tuan Herman yang baru saja selesai menutupi pertengkaran dengan calon besan nya, ia perlahan membalik badan menatap serius pada Maureen.
"Papa sudah membaik, ingat Maureen. Kamu harus bersiap karena pesta pernikahan akan dilangsungkan beberapa hari lagi." ucap Herman.
"Setelah resmi menikah, jadilah istri dan menantu yang baik di sana. Jangan membuat keluarga kita malu." ujar Susan menimpali.
Maureen mengangguk, wajah manis nya terlihat pasrah saat kedua orang nya mewanti-wanti, karena percuma juga beradu argumen apa lagi jika sampai membahayakan kondisi penyakit jantung ayah nya.
"I-iya Pa, ma. Aku tahu..." sahut Maureen tersenyum getir, mata indah nya berkaca-kaca. Berusaha menerima apa yang sudah di putuskan demi kebaikan keluarga.
"Bagus! Mama pegang kata-kata mu." ujar Mama Susan.
"Jika dia berani merubah keputusan, lebih baik Papa dan Mama usir saja dari rumah," Usul Maura memutar kedua bola mata malas, seraya mengukir senyum sinis di wajah oval-nya.
Kedua paruh baya itu setuju, sedangkan Maureen hanya menghela nafas berat. Saat mendengar perkataan kakak nya yang selalu bersikap semena-mena.
Tak ingin membuang waktu lagi, Maura yang memiliki jadwal sebuah acara penting. kini wanita berprofesi sebagai aktris itu pun bergegas pamit.
Tuan Herman dan Nyonya Susan, mengantarkan Maureen ke depan rumah dan membantu membawa beberapa barang nya.
Namun ketika mereka membuka pintu rumah di kejutkan oleh seorang pria berjas hitam dan beberapa rekan nya yang baru saja akan menekan bel.
"Selamat siang, apakah ini rumah tuan Herman?" Sapa pria itu melontarkan satu pertanyaan dengan tubuh setengah membungkuk penuh rasa hormat.
Kedua paruh baya itu dan Maureen pun saling menatap dengan kening yang berkerut penuh keheranan, Maureen yang berada di belakang hanya bisa mendengar suara samar-samar di depan nya.
Tanpa ragu tuan Herman membenarkan dan mengklaim, jika dia memang pemilik rumah dan orang yang di cari. Lalu dia berbalik tanya pada pria itu apa maksud dan tujuan mereka.
Sebagai seorang utusan tuan Hans sekaligus asisten kepercayaan nya putra sulung sang konglomerat nomor satu, dia mulai menjelaskan jika kedatangan mereka hanya untuk mengantarkan beberapa mahar pernikahan yang sudah di janjikan untuk mempelai pengantin wanita.
Kedua bola mata Nyonya Susan dan Maura terbelalak, saat melihat para pengawal yang berjajar sangat banyak kurang lebih berjumlah dua puluh orang membawa satu kotak berwarna merah yang berisi beberapa emas berupa batang dan koin, serta barang-barang wanita tas, sepatu dan beberapa gaun mewah dari brand terkenal dunia.
Membuat ibu dan anak itu menelan ludah, sampai tatapan mereka berbinar-binar melihat semua barang berharga dan mewah yang ada di depan mata.
"Ma, barang-barang nya mewah sekali, aku mau," bisik Maura menatap iba penuh harap.
Tenang nak. Itu semua untuk mu," Kata Nyonya Susan memegang lengan Maura.
Maura bernafas lega seraya memancarkan senyum penuh kemenangan, setelah ibu nya menjamin. Jika barang-barang itu akan di simpan untuk nya.
Setelah melihat apa yang ada di kotak-kotak mewah, tuan Herman tanpa sungkan menerima semua mengingat tadi hal ini sudah di bicarakan di telepon.
“Tolong simpan semua nya di sana,” titah nya menunjuk ke arah meja.
"Baik tuan."
Para pengawal itu segera berjalan dan menata rapih semua hadiah mas kawin yang sengaja dikirim oleh bos mereka lebih awal ke kediaman tuan Herman.
Setelah mereka pergi, Maureen yang baru melihat begitu banyak kotak tersusun rapih di atas meja. Membuat ia menghampiri ibu dan kakak nya.
"Ma, mereka siapa dan barang-barang itu apa?" Celetuk Maureen dengan sikap polos dan rasa penasaran. Karena tadi ia tidak sempat melihat, dan terhalang oleh mereka.
Maura melirik dan mendengus kesal, saat adik nya bertanya. "Kamu ini kepo sekali Maureen, tidak ada urusan dengan mu sana pergi, lebih baik buatkan aku jus mangga sebelum aku berangkat," perintah nya.
Maureen tersentak, saat melihat tanggapan sang kakak. "Ma-maafkan aku kak, aku hanya bertanya saja. Kakak tidak perlu semarah itu." ujar Maureen.
"Heh, sudah jangan banyak tanya lagi, apakah kamu tuli? Buatkan aku jus sekarang!" ketus Maura menatap nyalang Maureen.
"Ba-baik kak," Ujar Maureen. Gadis itu menggelengkan kepala, sungguh terkadang dia tidak mengerti dengan sikap Maura yang selalu kasar tanpa ada alasan yang jelas.
\*
Bersambung.....................
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!