“Plak!”
Tamparan itu mendarat tepat di wajah Velicia. Tubuh wanita yang tengah mengandung delapan bulan itu tersentak, tapi ia masih berusaha berdiri tegak meski nafasnya mulai tak stabil.
“Pegang kedua tangannya! Paksa dia berlutut di depan Sania,” perintah Michael dingin, suami yang seharusnya menjadi pelindungnya.
“Michael… apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” suara Velicia bergetar, menahan sakit dan kecewa. “Aku tidak bersalah! Sania berbohong! Aku tidak—”
“Diam! Sejak Sania dibawa tinggal di sini, kau selalu mencari cara untuk menyiksa dan mengusirnya! Berapa kali aku sudah bilang, jangan sentuh dia! Sania itu istri mendiang kakakku! Dan anaknya akan jadi pewaris keluarga Kensington. Kau terlalu iri karena anakmu tidak akan jadi pewaris!” kata Michael.
Kalimat itu menghantam lebih dalam daripada tamparan mana pun.
Velicia menatap suaminya tak percaya. “Michael, aku ini ibu dari anakmu. Dan anak ini juga anakmu. Kenapa kamu bicara seolah-olah dia bukan anakmu?”
“Berlutut! Bahkan kalau dia anakku sekalipun, anak Sania jauh lebih berharga daripada anakmu! Kau cuma perempuan dari kalangan bawah. Aku menikahimu karena kau sudah terlanjur mengandung anakku! Kau yang menjebakku sampai aku tidur denganmu, sampai akhirnya Sania harus menikah dengan kakakku! Sania seharusnya jadi istriku sejak awal, kalau saja kau tidak masuk ke dalam hidupku dan merusaknya!”
Sania berdiri di samping pria itu, menggenggam lengan Michael dengan lembut. Wajahnya terlihat rapuh dan tak berdaya. “Sudahlah, Michael. Kalau istrimu tidak mau aku tinggal di sini… aku pergi saja. Biarkan aku dan anakku tinggal di tempat lain, meskipun aku akan kesepian di luar sana.”
Melihat mata Sania yang berkaca-kaca, mantan kekasih yang menjadi istri dari mendiang kakak laki-lakinya, darah Michael langsung mendidih. Emosi Michael pun langsung meledak.
“Pengawal! Buat dia berlutut!” tunjuk Michael pada Velicia.
Dua pengawal langsung maju dan menahan kedua tangan Velicia ke samping.
BRUK!
Tubuh Velicia ditekan paksa hingga berlutut di lantai marmer dengan keras. Rasa sakit langsung menjalar di perutnya, wajahnya meringis menahan nyeri.
“Michael, perutku—”
“Jangan pura-pura!” potong Michael tajam. “Sekarang minta maaf pada Sania! Sujud di kakinya!”
Ia menarik rambut Velicia dengan kasar, memaksa kepala wanita itu turun hingga hampir menyentuh lantai.
BUK!
Kening Velicia membentur lantai tepat di depan kaki Sania.
“Cepat minta maaf! Atau aku kurung kau di ruang bawah tanah!” ancam Michael sambil kembali menekan kepala Velicia ke lantai dingin itu.
Mata Velicia berkilat dingin, dalam sekejap ia tersadar jika dia dan anaknya memang tidak pernah dianggap penting oleh Michael. Cintanya selama tiga tahun runtuh begitu saja, berubah menjadi kecewa dan benci. Tapi ia menahannya, demi anaknya.
“Sania… maaf. Aku tidak sengaja mendorongmu dari tangga. Maafkan aku... aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Velicia dengan susah payah.
Sania berdiri dingin, menatap puas ke arah Velicia yang terhina. Namun saat Michael menoleh padanya, Sania langsung merubah ekspresi menjadi lembut dan polos, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Sudahlah, aku orang yang pemaaf.” Suara Sania terdengar lembut, seperti malaikat.
Michael menatapnya penuh kekaguman. “Kau terlalu baik.”
Lalu tatapan pria itu beralih pada Velicia. “Kau dengar itu? Belajarlah dari Sania! Hatimu terlalu kotor!”
Velicia masih berlutut, tubuhnya gemetar hebat karena rasa sakit di perutnya yang mulai menguat.
“Argh…” ia memegang perutnya. “Tolong… anakku…”
Insting seorang ibu membuatnya merangkak, mencoba menyentuh kaki Michael. “Michael… tolong…”
Namun pria itu justru menarik diri, dan menghentak kakinya. “Jangan menyentuhku! Aku sudah bilang, jangan berpura-pura!”
Velicia terhempas ke lantai.
“Dia akan dihukum di sini satu jam,” lanjut Michael dingin. “Biar dia tahu tempatnya!”
“Jika terjadi sesuatu pada anak ini…” suara Velicia melemah, namun matanya menajam. “Kau akan menyesal, Michael!”
Michael hanya mendengus, ia membalikkan badan. Menggenggam tangan Sania dan mereka berjalan pergi bersama. Langkah keduanya menjauh, meninggalkan Velicia yang tergeletak dengan tubuh gemetar di lantai dingin.
“Jadi… ini akhirnya,” bisiknya, tangan Velicia mengepal kuat, buku-buku jarinya sampai memutih. “Michael… kau pikir aku wanita biasa.”
Air matanya berhenti, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya... api dendam.
...*****...
Mansion salah satu milik keluarga Kensington kembali sunyi setelah Michael pergi bersama Sania. Namun di lantai dingin itu, Velicia masih duduk. Tatapan matanya tidak kosong, justru terlalu jernih. Seolah setiap hinaan yang baru saja ia terima… sedang ia susun ulang menjadi sesuatu yang lain.
“Berlutut di sini satu jam!”
Kalimat Michael masih berputar di kepalanya. Velicia menunduk pelan, tangannya menyentuh perutnya sendiri.
“Maaf sayang… Mama tidak bisa menang hari ini,” bisiknya pelan pada janin di dalam kandungannya.
Satu jam kemudian, Velicia mulai bergerak pelan dan hati-hati.
Selama menjalani pernikahan, tanpa Michael sadari, Velicia bukan hanya “istri yang ditinggalkan di rumah”. Ia adalah orang yang membantu menjaga agar seluruh sistem keluarga Kensington tetap berdiri.
Velicia menunduk, perutnya masih kesakitan tapi ia memaksakan diri. Begitu pengawal itu menjauh, langkahnya berubah. Lebih ringan dan lebih terarah. Dia berjalan ke ruang kerja Michael, pintu itu tidak pernah benar-benar terkunci untuknya. Tentu saja bukan karena Michael sangat percaya padanya, tapi pria itu memang tidak pernah menganggap Velicia ancaman. Itu adalah kesalahan pertama Michael.
Klik!
Kunci ruangan terbuka dan Velicia melangkah masuk. Ruangan itu gelap, hanya lampu meja yang menyala redup. Ia melangkah tanpa suara, tangannya membuka laci pertama lalu laci kedua. Matanya cepat menangkap apa yang penting, dokumen-dokumen dan kontrak distribusi. Catatan transaksi bawah tanah, serta kode rute pengiriman.
Dan satu file khusus bertanda segel merah: “KENSINGTON INTERNAL – LEVEL ALPHA”
Velicia mengambilnya satu per satu. Memindahkan ke dalam map tipis yang tersedia. Di sudut meja, ada foto Michael dan Sania saat masih menjadi sepasang kekasih dulu. Ia hanya menatap foto itu sekilas, lalu menutup laci tanpa mempedulikan apapun lagi.
“Michael…” Suaranya pelan, hampir seperti angin. “Kau mengajariku satu hal hari ini.”
Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca di dalam ruangan, seorang wanita hamil yang terluka tapi tidak rapuh.
“Aku tidak akan bertahan di sisimu lagi, dan aku... tidak akan pergi dengan tangan kosong. Aku akan menghancurkanmu!”
Di kejauhan, mesin mobil terdengar menyala di gerbang mansion. Waktu Velicia di sini hampir selesai, tapi sesuatu yang jauh lebih penting sudah ia bawa pergi terlebih dahulu. Yaitu bagian dari kekuasaan Michael sendiri. Dan itu… baru permulaan dari pembalasan dendamnya.
*
*
*
Like, komen, favorit dan mohon jangan numpuk chapter ya. Makasih 🙏🏻😘
Langkah Velicia keluar dari mansion Kensington tidak terburu-buru. Ia tidak berlari dengan panik, bahkan tidak menoleh ke belakang.
Langit sore mulai berubah gelap saat ia melewati gerbang utama, pengawal hanya melirik sekilas. Tidak ada yang menghentikannya. Bagi mereka, Velicia hanyalah istri yang tidak dicintai oleh Tuan mereka. Dan justru karena itu… ia bisa pergi dengan mudah.
Itulah kesalahan kedua Michael.
Di luar gerbang, udara terasa berbeda. Velicia berhenti sejenak di trotoar sepi, dan menarik nafas dalam-dalam. Satu tangannya menahan perutnya yang mulai terasa berat, sementara tangan lainnya merapatkan mantel tipis yang menutupi map dokumen di balik tubuhnya.
Isi map itu bukan hanya kertas biasa, tapi struktur kekuasaan. Jalur uang dan rute distribusi. Dan celah kecil yang bisa membuat kerajaan mafia Michael retak dari dalam. Ia menatap jalan panjang di depannya, mobil hitam itu masih di sana menunggunya.
Pria di dalamnya tidak keluar, hanya suara pintu yang terkunci otomatis terdengar pelan saat Velicia mendekat.
“Masuk,” suara itu terdengar singkat dari dalam.
Velicia berhenti.
“Ini bukan bantuan,” jawabnya datar.
“Aku tidak menawarkan bantuan,” balas pria itu tenang. “Aku menawarkan pintu keluar.”
Velicia terdiam selama beberapa saat, ia pun membuka pintu mobil itu. Di dalam mobil, suasananya jauh lebih sunyi daripada mansion tadi. Tidak ada percakapan, hanya mesin yang bergetar halus.
Pria di kursi pengemudi akhirnya menoleh sedikit. Usianya tidak muda, tapi juga tidak tua. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang sudah lama berhenti terkejut oleh dunia. Matanya menatap Velicia sekilas.
“Jadi mereka akhirnya melakukan ini padamu.”
Velicia menghela napas pelan, menekan rasa sesak yang kembali menerjang dadanya. Ia pun duduk tegak, menjaga napasnya agar tetap stabil.
“Aku tidak ingin mengeluh padamu.”
Pria itu mengangguk kecil. “Aku juga tidak punya waktu untuk mendengarkan.“
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area mansion, lampu-lampu gerbang semakin jauh di kaca spion. Dan bersamaan dengan itu… satu bab hidup Velicia resmi tertutup.
“Dokumen sudah kau ambil?” tanya pria itu.
“Sudah.”
“Semua?”
Velicia mengeluarkan map itu sedikit, tidak membukanya. “Cukup untuk membuatnya kehilangan kendali.”
“Michael selalu terlalu percaya diri dengan sistem di organisasi-nya.” Pria itu tersenyum tipis.
Velicia menatap pria itu tajam. “Sekarang, dia bukan masalah utamaku.”
“Anak?” Pria itu melirik Velicia sekilas.
Tangan Velicia perlahan turun ke perutnya. “Anakku tidak akan lahir di lingkungan di mana ayahnya sendiri tidak menginginkan kehadirannya.”
Mobil melaju melewati jalanan kota yang mulai padat, lampu kendaraan seperti garis-garis merah dan putih yang bergerak tanpa arah tetap. Di kaca jendela, bayangan Velicia terlihat samar. Wajahnya tidak lagi penuh kesakitan seperti beberapa waktu sebelumnya, yang ada hanya ketenangan yang terlalu apik untuk seseorang yang baru saja dipermalukan.
“Dia akan mencarimu,” kata pria itu lagi.
“Biarkan saja.”
“Kau tidak takut?”
Velicia menatap lurus ke jalan di depan. “Demi anakku, aku tidak takut apa pun lagi.”
Pria itu menipiskan bibirnya, kalimat itu terlalu dingin untuk seorang wanita hamil delapan bulan. Namun justru itu yang membuat Velicia menarik.
Di dalam mobil yang sudah menjauh dari kota, Velicia menutup matanya.
“Menurutmu, saat ini dia sudah sadar?” tanya pria itu.
“Cepat atau lambat dia akan sadar.”
“Apa kau sengaja meninggalkan jejak kecil?”
Velicia tersenyum kecil. “Sesuatu harus tetap membuatnya terus bergerak.”
Pria itu akhirnya tertawa. “Kau benar-benar tidak berubah.”
“Kau salah... aku sudah banyak berubah. Aku tahu bagaimana rasanya ketika manusia tidak diberi kesempatan untuk memilih.” Velicia tersenyum dingin, ia mengencangkan genggamannya pada map dokumen itu. “Sekarang… aku tidak akan lagi melunak. Balas budi pada Michael sudah aku lunasi.”
Malam turun perlahan, mobil berhenti di sebuah gedung lama di pinggir kota. Tempat itu tidak mencolok, hanya pintu besi sederhana. Velicia turun tanpa bantuan. Setiap langkahnya tetap stabil, meski tubuhnya jelas tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Pria itu turun terakhir.
“Masuk,” katanya.
Velicia menatap bangunan itu. “Apa ini?”
“Tempat sementara, untuk orang yang sedang memutuskan siapa dirinya kembali.”
Velicia tidak menjawab, dia berjalan masuk. Di dalam, ruangan itu lebih luas dari kelihatannya. Beberapa monitor kecil menyala, dokumen berserakan rapi di meja. Ia berjalan pelan, matanya membaca semuanya tanpa bertanya.
Velicia berhenti di tengah ruangan, ia meletakkan map dokumen di meja. Lalu membuka satu kancing mantel pelan, memastikan perutnya tetap nyaman.
“Michael akan segera mencariku, tapi semakin dia marah… semakin bagus.”
“Dan Sania?”
Nama Sania tidak lagi membuat Velicia emosi. “Wanita itu hanya variabel kecil.”
...*****...
Di Mansion Kensington.
Michael baru kembali ke ruang kerjanya, Sania duduk di sofa, memegang teh hangat dengan ekspresi tenang.
“Dia masih disana?” tanya Michael pada pengawal.
Pengawal itu tampak ragu. “Tidak, Tuan. Nyonya Velicia sudah meninggalkan area mansion.”
Michael berhenti berjalan. “Sejak kapan?”
“Sekitar satu jam yang lalu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sania menatap Michael sekilas, lalu menunduk kembali. “Dia pasti pulang ke rumah orang tuanya.”
Namun Michael tidak menjawab, matanya tertuju pada meja kerja. Ada sesuatu yang terasa tidak beres.
“Cek ruanganku,” perintah Michael tiba-tiba.
Pengawal langsung bergerak.
Beberapa menit kemudian…
“TUAN!”
Suara itu membuat seluruh ruangan menegang. “Dokumen di laci level tiga… hilang.”
Sania menegakkan tubuhnya sedikit, Michael tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri diam, lalu perlahan membuka laci lain.
Kosong.
Satu per satu.
Kosong.
Hingga akhirnya ia berhenti, tangannya mengepal. “Tidak mungkin…”
Malam itu, Michael berdiri di balkon. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi pikirannya tidak tenang. Di tangannya, satu laporan terbuka, hilangnya dokumen-dokumen penting. Dan satu fakta yang mulai mengganggu pikirannya, Velicia tidak pernah benar-benar seperti yang ia kira.
Di belakangnya, Sania mendekat pelan. “Michael… dia pasti hanya membawa sedikit dokumen. Tidak cukup untuk membahayakan kita.”
Wajah Michael tampak dingin, matanya tajam menatap jauh ke kota.
Sudah lima hari sejak Velicia meninggalkan mansion Kensington. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Michael merasa segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Tuan, pihak pelabuhan menolak memperpanjang izin."
Michael mengangkat kepala.
"Alasannya?"
"Mereka tidak menjelaskan."
Michael mengerutkan kening. "Hubungi direktur pelabuhan."
"Sudah, Tuan."
"Hasilnya?"
Pria itu tampak ragu-ragu menjawab. "Dia menolak bertemu."
Atmosfer ruangan mendadak dingin, Michael melempar dokumen di tangannya dengan keras ke atas meja. Situasi saat ini bukan hal yang normal, karena selama bertahun-tahun pihak pelabuhan selalu memberi jalan bagi organisasi Kensington dan tak pernah ditolak sekalipun. Namun... hari ini berbeda.
"Tuan." Seorang bawahan lain masuk dengan wajah tegang.
"Ada masalah lagi."
"Apa sekarang?"
"Pengiriman dari utara dibatalkan."
"Kenapa?!" Michael menatapnya tajam.
"Mitra kita mengundurkan diri."
"Mereka berani mengundurkan diri?"
"Ya."
Michael mengepalkan tangannya dengan erat, urat-urat dilehernya menonjol saking emosinya. Satu masalah mungkin kebetulan, dua masalah mungkin kesalahan. Tapi jika semuanya terjadi bersamaan... maka ada sesuatu yang sedang bergerak di belakang layar.
Malam harinya...
Michael pulang ke mansion lebih awal, tapi begitu memasuki kamar utama langkahnya melambat. Ruangan itu terasa terlalu sepi, tidak ada lampu yang sengaja dinyalakan.
Bahkan, tak ada lagi secangkir teh hangat yang biasa menunggunya. Tidak ada suara langkah kaki yang tergesa-gesa datang saat ia pulang, dan menyambutnya dengan senyuman.
Velicia benar-benar sudah pergi, Michael langsung mengerutkan kening. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri, kenapa harus memikirkan wanita itu lagi?
Bukankah Velicia yang bersalah?
Bukankah wanita itu yang menyakiti Sania?
Bukankah Velicia yang selalu membuat masalah?
Michael membuka laci meja di samping tempat tidur, dan kosong. Velicia benar-benar membawa seluruh barang pribadinya, tidak ada satu pun yang tersisa. Seolah wanita itu tidak berniat kembali, dan tiba-tiba saja dada Michael terasa sesak.
Keesokan paginya...
Michael menerima kabar buruk lagi, salah satu proyek terbesarnya gagal mendapatkan persetujuan. Padahal sebelumnya proyek itu hampir pasti lolos.
"Siapa yang menolaknya?"
"Kami tidak tahu."
Michael berdiri dari kursinya, wajahnya mulai mengeras. Dalam dunia mafia, tidak ada yang namanya kebetulan. Seseorang sedang mencabut sesuatu dari organisasinya, rapi dan sangat terencana. Namun yang paling membuatnya marah... dia bahkan tidak tahu siapa pelakunya.
...*****...
Di sisi lain kota, Velicia baru saja menyelesaikan pemeriksaan kandungannya di sebuah rumah sakit swasta. Ia duduk di ranjang pemeriksaan sambil mendengarkan penjelasan dokter. Di layar USG yang masih menyala, bayangan kecil calon buah hatinya terlihat jelas. Dan setiap kali melihatnya, hati Velicia selalu terasa lebih tenang. Di tengah semua masalah yang sedang dihadapinya, anak itu menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya tetap kuat.
Dokter tersenyum sambil menutup berkas hasil pemeriksaan. "Kondisi bayi sangat baik."
"Syukurlah." Velicia mengembuskan napas lega yang sejak tadi tanpa sadar ditahannya.
"Perkembangannya sesuai usia kehamilan, detak jantungnya juga kuat. Untuk saat ini... tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Terima kasih, Dokter." Tangan Velicia perlahan mengusap perutnya.
"Sama-sama. Yang penting, Anda jangan terlalu stres dan jaga kondisi tubuh."
Velicia mengangguk pelan.
Setelah memberikan beberapa arahan tambahan, dokter itu berpamitan keluar dari ruangan.
Velicia menundukkan pandangannya ke arah perutnya yang sudah membesar. Usia kandungannya kini memasuki bulan sembilan, senyum lembut terukir di bibirnya saat jemarinya mengusap perut itu dengan penuh kasih sayang.
"Kesayangan Mama, harus tumbuh sehat, ya. Mama akan selalu melindungimu."
Suara Velicia terdengar pelan, namun sarat ketulusan. Setiap hari, ia menantikan saat bisa menimang buah hatinya. Meski banyak hal yang harus ia hadapi, dia akan melakukan apa pun demi menjaga anak yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Apa pun yang terjadi setelah ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti anaknya.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu terdengar.
Velicia mengangkat kepalanya. "Masuk."
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah tenang. Wajahnya serius, sementara tatapannya langsung tertuju pada Velicia.
"Nona Velicia."
Velicia duduk lebih tegak. "Ada kabar? Apa ada perkembangan?"
"Ya." Pria itu menyerahkan sebuah tablet.
Velicia membaca laporan di layar, pelabuhan menolak kerja sama. Mitra-mitra bisnis Michael mundur, dan dua jalur distribusi ditutup. Ia membaca semuanya tanpa perubahan ekspresi.
"Lanjutkan."
"Semuanya?"
"Ya."
Pria itu mengangguk, tidak bertanya lagi. Karena jika Velicia sudah mengambil keputusan, maka keputusan itu tidak akan berubah.
Dua tahun lalu... saat Michael menyelamatkannya dari baku tembak, Velicia sedang berada jauh dari keluarganya. Ia sengaja hidup menggunakan identitas biasa, tidak ada nama besar yang menempel padanya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup wanita itu, seseorang menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya.
Orang itu adalah Michael, karena itulah Velicia jatuh cinta. Karena itulah ia memilih tinggal di sisi Michael, dan selama dua tahun terakhir ia diam-diam membantu pria itu. Dia tidak terpaksa, apalagi diminta pria itu. Sayangnya... semua pengorbanannya tidak pernah dihargai oleh Michael.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!