Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Rahasia CEO yang Terbuang

Episode 1

Bab 1

Hari itu, Nayla keluar dari ruang dokter dengan langkah yang terasa bukan miliknya.

Koridor rumah sakit swasta di Kuningan itu bersih, dingin, dan terlalu terang. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah, ada yang menggenggam hasil lab, ada yang menuntun orang tua, ada yang memeluk anak kecil. Semua bergerak. Hanya Nayla yang seolah tertinggal di satu titik.

Kertas di tangannya bergetar.

Ia sudah membaca tulisan itu berkali-kali, tapi huruf-hurufnya tetap seperti pisau.

Karsinoma lambung stadium lanjut.

"Mbak Nayla," suara dokter tadi masih menempel di telinganya, pelan namun tak mungkin disalahpahami. "Kami menyarankan pemeriksaan lanjutan secepatnya. Jangan menunda. Semakin cepat ditangani, semakin baik."

Jangan menunda.

Bagaimana cara seseorang tidak menunda ketika hidupnya baru saja dijatuhkan dari lantai paling tinggi?

Nayla berdiri di depan lift cukup lama sampai seorang perawat menegurnya dengan sopan.

"Mbak, mau turun?"

Nayla tersadar. "Iya. Maaf."

Ia masuk ke lift. Di dalam, ada ibu hamil dengan suaminya. Pria itu memegang tas istrinya, sesekali mengusap punggung perempuan itu, lalu bertanya, "Mual lagi?"

Perempuan itu mengangguk manja. "Sedikit."

"Nanti kita beli bubur dulu, ya. Dokter bilang kamu jangan telat makan."

Nayla menunduk.

Tangannya yang menggenggam hasil pemeriksaan terasa makin dingin.

Tiga tahun menikah dengan Arga, tak pernah sekali pun lelaki itu bertanya dengan nada seperti itu.

Arga Pradipta, CEO Pradipta Group, suami yang namanya hanya tercatat di buku nikah dan beberapa dokumen keluarga. Di kantor, Nayla adalah asisten eksekutifnya. Di rumah, ia istri yang menunggu pulang, menyiapkan jadwal, mengingatkan obat maag, memilihkan dasi, menutup pintu kamar ketika Arga bekerja sampai pagi.

Di luar, tak ada yang tahu.

Nayla pernah bertanya, sekali saja, setahun setelah mereka menikah.

"Mas, kapan aku boleh dikenalkan sebagai istrimu?"

Arga waktu itu sedang membaca laporan. Ia bahkan tidak mengangkat wajah.

"Belum waktunya."

"Kapan waktunya?"

"Kalau semua sudah aman."

Aman.

Kata itu menjadi pagar yang mengurungnya selama tiga tahun.

Lift berhenti di lantai dasar. Nayla keluar dengan kepala ringan. Ia tidak sanggup menunggu sopir. Ia berjalan keluar rumah sakit, melewati pintu kaca otomatis, lalu duduk di bangku dekat halte kecil di depan gedung.

Jakarta siang itu panas. Klakson terdengar berlapis-lapis dari jalan. Di kejauhan, penjual kopi keliling berhenti di bawah pohon, menawarkan minuman pada satpam.

Nayla menatap hasil lab lagi.

Ia baru dua puluh tiga tahun.

Baru dua puluh tiga, tapi tubuhnya sudah seperti menandatangani surat pamit.

Ponselnya bergetar.

Nayla mengira itu Arga.

Untuk sepersekian detik, harapan bodoh itu naik begitu saja. Mungkin Arga akhirnya ingat ia izin ke rumah sakit hari ini. Mungkin Mas Arga bertanya hasilnya. Mungkin, untuk sekali ini, ia boleh menjadi istri yang dikhawatirkan.

Namun nama yang muncul bukan Arga.

Chika Larasati.

Nayla menatap layar lama.

Nama itu tidak pernah disimpan olehnya. Nomor itu pernah menghubunginya sekali, beberapa bulan lalu, saat Chika baru pulang dari luar negeri. Perempuan itu bicara sopan, terlalu sopan, meminta jadwal kosong Arga seolah Nayla hanyalah pegawai yang memegang kalender.

Pesan masuk lagi.

Chika mengirim foto.

Nayla membukanya.

Hasil pemeriksaan kehamilan.

Nama pasien: Chika Larasati.

Usia kehamilan: 7 minggu.

Di bawah foto itu, pesan lain masuk.

Chika:

Mbak Nayla, aku tahu ini mengejutkan. Tapi aku rasa Mbak berhak tahu.

Pesan berikutnya menyusul.

Chika:

Mas Arga sudah tahu. Dia ingin anak ini lahir. Selama ini Mbak pasti paham kenapa pernikahan kalian tidak pernah diumumkan. Tolong jangan mempertahankan sesuatu yang memang sejak awal tidak ingin dia akui.

Nayla tidak berkedip.

Chika:

Aku tidak ingin mempermalukan Mbak. Aku cuma ingin anakku punya ayah. Kalau Mbak masih punya harga diri, lepaskan Mas Arga baik-baik.

Orang-orang di halte masih bergerak. Seorang ibu memarahi anaknya karena berlari terlalu dekat ke jalan. Seorang ojek online bertanya alamat pada calon penumpang. Dunia tetap normal, seolah dada Nayla tidak sedang dibelah.

Ia memperbesar foto itu.

Nama Chika jelas.

Tanggal jelas.

Logo klinik jelas.

Nayla menatap hasil pemeriksaannya sendiri, lalu foto yang dikirim Chika.

Ia tertawa pelan.

Suara itu keluar begitu saja. Kering, pendek, dan asing.

Ternyata begini caranya Tuhan bercanda.

Hari ini ia diberi tahu bahwa hidupnya mungkin tidak lama lagi. Di hari yang sama, cinta lama suaminya memberi tahu bahwa ia sedang mengandung anak Arga.

Tiga tahun ia hidup di rumah yang namanya tidak pernah sungguh-sungguh menjadi rumah. Tiga tahun ia menelan semua gosip kantor, semua tatapan merendahkan, semua pertanyaan kenapa seorang asisten muda selalu ikut CEO sampai larut. Tiga tahun ia menyembunyikan cincin, menyembunyikan nama keluarga, menyembunyikan dirinya sendiri.

Dan balasan untuk semua itu adalah satu foto.

Satu foto yang mengatakan: kamu bukan siapa-siapa.

Ponsel Nayla bergetar lagi.

Chika:

Aku harap Mbak tidak membuat Mas Arga semakin membencimu. Dia sudah cukup lama menahan diri.

Nayla membaca kalimat itu berkali-kali.

Menahan diri?

Jadi selama ini Arga menahan diri darinya?

Ia menekan nomor Arga.

Nada sambung berbunyi lama.

Tidak diangkat.

Ia menelepon lagi.

Masih tidak diangkat.

Pada panggilan ketiga, akhirnya tersambung. Suara Arga datang datar, seperti biasa.

"Ada apa?"

Nayla membuka mulut, tapi suara tidak langsung keluar.

"Nayla?" Arga terdengar sedikit tidak sabar. "Aku sedang rapat."

Sedang rapat.

Tentu saja.

Selalu ada rapat. Selalu ada urusan lebih penting. Selalu ada dunia yang menempatkannya di pinggir.

"Mas," kata Nayla pelan. "Aku dari rumah sakit."

Hening sebentar.

"Kenapa?"

Satu kata.

Hanya satu kata, tapi Nayla hampir menangis karena akhirnya ia mendengar nada itu. Kecil. Hampir tidak ada. Mungkin ia hanya membayangkannya.

"Aku mau bicara malam ini."

"Kalau soal izin sakit, kirim saja ke HR. Kamu tahu prosedurnya."

Nayla menggenggam ponsel lebih erat. "Aku bicara sebagai istrimu."

Di seberang, Arga diam.

Diamnya lebih dingin daripada udara rumah sakit.

"Malam ini," ulang Nayla. "Pulanglah lebih cepat."

"Aku belum tentu bisa."

"Mas Arga."

Suara Nayla pecah sedikit.

Mungkin Arga mendengarnya. Mungkin tidak.

Lelaki itu hanya berkata, "Nanti aku kabari."

Panggilan terputus.

Nayla menurunkan ponsel perlahan.

Nanti aku kabari.

Kalimat itu terdengar seperti pintu yang ditutup dari dalam.

Ia menatap jalanan. Matanya panas, tapi air mata tidak turun. Ada sesuatu yang lebih kering daripada tangis di dalam dirinya.

Setelah beberapa menit, Nayla berdiri.

Ia menyelipkan laporan kanker ke dalam tas. Foto Chika masih terbuka di layar ponselnya, tapi ia tidak menatapnya lagi.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Nayla tidak ingin menunggu Arga pulang.

Ia ingin pulang untuk mengambil napas terakhir dari rumah itu.

Lalu pergi.

Di taksi menuju rumah, Nayla membuka lagi layar ponselnya.

Tidak ada panggilan balik dari Arga.

Ia hampir menertawakan dirinya sendiri. Bahkan setelah diagnosis itu, bahkan setelah foto Chika, bagian paling bodoh dari hatinya masih menunggu satu tanda kecil dari laki-laki itu. Satu pesan. Satu kalimat. Satu bukti bahwa tiga tahun ini bukan hanya ia yang menganggap pernikahan mereka nyata.

Sopir bertanya lewat kaca spion, "Mbak, AC-nya terlalu dingin?"

Nayla baru sadar tangannya gemetar.

"Tidak, Pak. Sudah cukup."

Ia menyimpan ponsel ke tas, tepat di sebelah dua laporan yang saling menghancurkan: satu mengatakan ia mungkin akan mati, satu lagi mengatakan pernikahannya memang sudah mati lebih dulu.

Di lampu merah, Nayla melihat pasangan muda menyeberang sambil tertawa di bawah payung kecil.

Dulu ia pernah menginginkan hal sesederhana itu.

Bukan rumah besar.

Bukan nama Pradipta.

Hanya seseorang yang berjalan di sebelahnya tanpa membuatnya merasa disembunyikan.

Saat lampu berubah hijau, taksi bergerak lagi. Nayla menyandarkan kepala ke kaca dan membiarkan Jakarta lewat sebagai garis kabur.

Di dalam tasnya, ponsel kembali bergetar.

Kali ini hanya notifikasi bank, bukan Arga.

Nayla menutup mata.

Ia akhirnya berhenti berharap untuk satu perjalanan pulang itu.

Episode 2

Bab 2

Arga pulang pukul sebelas malam.

Nayla tahu karena ia masih duduk di ruang makan, di depan semangkuk sup ayam yang sudah dingin dan segelas teh tawar yang permukaannya tak lagi beruap. Rumah besar di Pondok Indah itu terlalu sunyi. Jam dinding berdetak, AC berdengung, dan dari halaman terdengar langkah satpam berkeliling.

Pintu utama terbuka.

Nayla tidak menoleh.

Ia mendengar suara sepatu Arga menyentuh lantai marmer, lalu berhenti sebentar di foyer. Seperti biasa, lelaki itu tidak memanggil namanya. Seperti biasa, ia melepas jas dan menyerahkannya pada asisten rumah tangga yang berjaga.

"Mbak Sari, tidak perlu. Aku yang urus," kata Nayla.

Mbak Sari menatapnya ragu dari dekat pintu dapur.

Arga juga menoleh.

Nayla berdiri, mengambil jas hitam dari tangan Mbak Sari, lalu menggantungnya di rak. Gerakannya tenang. Terlalu tenang sampai Mbak Sari makin gelisah.

"Mbak, saya ke belakang dulu, ya."

"Iya."

Setelah Mbak Sari pergi, rumah itu menyisakan dua orang yang seharusnya suami istri, tapi malam itu terasa seperti orang asing yang duduk di ruang mediasi.

Arga melonggarkan dasi. "Kamu belum tidur?"

"Aku menunggumu."

"Aku sudah bilang rapatku panjang."

"Aku tahu."

Arga duduk di ujung meja. Ia melirik makanan. "Kamu belum makan?"

Pertanyaan itu datang terlambat, tapi tetap membuat dada Nayla bergerak.

Ia tersenyum tipis. "Masih peduli?"

Alis Arga bergerak sedikit. "Apa maksudmu?"

Nayla mengambil ponsel dari meja. Ia membuka foto yang dikirim Chika, lalu mendorong ponsel itu ke depan Arga.

"Ini maksudku."

Arga melihat layar.

Wajahnya tidak banyak berubah. Itu bagian paling menyakitkan.

Kalau ia terkejut, Nayla mungkin masih bisa bernapas. Kalau ia marah, Nayla bisa percaya ada sesuatu yang salah. Tapi Arga hanya menatap foto itu, lalu mengangkat mata padanya.

"Dari mana kamu dapat ini?"

Nayla tertawa pelan. "Itu pertanyaan pertamamu?"

"Nayla."

"Chika yang kirim."

Arga mengambil ponsel itu, melihat lebih dekat. Rahangnya mengeras, tapi Nayla tidak tahu kemarahan itu untuk siapa.

"Dia juga bilang kamu sudah tahu," lanjut Nayla. "Dia bilang kamu ingin anak itu lahir."

"Kamu percaya?"

Nayla menatapnya lama.

Lucu. Arga bertanya seolah ia selama ini memberi alasan untuk dipercaya.

"Aku harus percaya apa, Mas?" tanya Nayla. "Berita kalian ada di akun gosip setiap minggu. Kamu jemput dia di bandara. Kamu antar dia ke rumah sakit. Kamu biarkan orang kantor bisik-bisik kalau dia calon Bu Arga yang sebenarnya. Aku tanya, kamu bilang aku tidak punya hak mencampuri urusanmu."

"Kamu memang tidak perlu mencampuri hal yang tidak kamu pahami."

Kalimat itu jatuh di meja seperti gelas pecah.

Nayla menggigit bagian dalam pipinya.

Ia ingin menunjukkan laporan kanker. Ia ingin berkata, aku sakit, Mas. Aku takut. Aku butuh kamu. Tapi kalimat Arga menutup semua pintu.

"Aku tidak paham karena kamu tidak pernah menjelaskan."

"Ada hal yang tidak bisa kuberitahu."

"Termasuk kalau mantan kekasihmu hamil?"

"Chika bukan mantan kekasihku."

"Bukan?" Nayla tersenyum, tapi matanya panas. "Seluruh Jakarta tahu dia cinta pertama Arga Pradipta."

"Jakarta juga percaya kamu hanya asistenku."

Nayla terdiam.

Arga tampak sadar kalimatnya terlalu tajam, tapi ia tidak menariknya kembali.

Itulah Arga. Selalu begitu. Kata-katanya seperti pintu besi. Sekali tertutup, ia berdiri di belakangnya dan menunggu orang lain yang terluka menenangkan diri sendiri.

"Jadi karena orang-orang tidak tahu aku istrimu, aku harus diam?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Lalu apa?"

Arga berdiri. "Aku lelah. Kita bicarakan besok."

Nayla juga berdiri. Kursi bergerak mundur dan menimbulkan bunyi keras.

"Tidak. Malam ini."

Arga menatapnya. Ada kekesalan samar di wajahnya.

"Aku baru pulang dari rapat sebelas jam, Nayla."

"Aku baru pulang dari rumah sakit dengan hidup yang mungkin tinggal sebentar."

Kalimat itu hampir keluar.

Hampir.

Nayla menelannya kembali.

Ia tidak ingin mengemis belas kasihan. Tidak malam ini. Tidak setelah foto Chika. Tidak setelah Arga bertanya dari mana ia dapat laporan itu, bukan bertanya apakah hatinya hancur.

"Aku mau tanya satu hal," kata Nayla akhirnya. "Selama tiga tahun ini, aku ini apa buatmu?"

Arga diam.

Nayla menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Jawaban tidak datang.

Ia tertawa kecil. "Sulit sekali?"

"Kamu istriku."

"Istri yang tidak boleh dikenal siapa pun."

"Itu demi keselamatanmu."

"Keselamatan dari apa?"

Arga menatapnya tajam. "Sudah kubilang, ada hal yang tidak bisa kuberitahu."

"Aku istrimu, Mas. Bukan tamu di rumah ini."

"Kalau kamu benar-benar merasa begitu, kenapa kamu selalu bertingkah seolah pernikahan ini beban?"

Nayla membeku.

"Beban?"

Arga menarik napas, seolah ia pun sudah menyimpan sesuatu terlalu lama.

"Aku mendengar ucapanmu di acara gala dua bulan lalu."

Nayla mengernyit. "Ucapan apa?"

"Kamu bilang pada beberapa perempuan bahwa kamu bertahan di dekatku karena posisiku. Karena Pradipta Group. Karena tidak semua orang bisa menjadi perempuan di sisi Arga Pradipta."

Nayla menatapnya tidak percaya.

Malam itu.

Ia ingat.

Beberapa sosialita mengejeknya sebagai asisten yang menjual diri demi naik jabatan. Mereka mengatakan perempuan seperti Nayla tidak pantas berdiri di samping Arga. Nayla, yang selama tiga tahun selalu diam demi menjaga nama Arga, akhirnya membalas dengan sarkasme.

Dan Arga mendengar bagian itu saja.

"Kamu percaya?" suara Nayla sangat pelan.

Arga tidak menjawab.

Nayla merasakan sesuatu di dadanya retak lebih dalam daripada tadi siang.

"Tiga tahun aku menunggu kamu pulang. Tiga tahun aku menahan semua pertanyaan orang. Tiga tahun aku sembunyikan nama keluargaku, pekerjaanku, semua hal tentang diriku, hanya karena kamu bilang belum aman. Lalu kamu mendengar satu kalimat yang kuucapkan untuk melawan hinaan orang, dan kamu percaya aku hanya mengincar uangmu?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu memperlakukanku begitu."

Arga menunduk sebentar. "Aku marah."

"Jadi karena marah, kamu biarkan Chika berdiri di antara kita?"

"Chika tidak ada di antara kita."

"Dia mengirim laporan hamil ke istrinya Arga Pradipta, Mas. Kalau itu bukan berdiri di antara kita, lalu apa?"

Arga kembali diam.

Nayla mengangguk pelan. Jawaban sudah jelas.

Ia mengambil ponselnya dari meja.

"Besok pengacaramu akan mengirim berkas lagi?"

Mata Arga berubah. "Apa?"

"Jangan pura-pura. Aku sudah menerima tujuh draft permohonan cerai dari tim legalmu selama dua bulan ini. Mungkin besok yang kedelapan."

"Itu hanya—"

"Hanya apa? Cara menakutiku?"

Arga menggenggam tepi meja. "Aku tidak pernah memintamu menandatangani."

"Tapi kamu terus mengirimnya."

Nayla menatap lelaki yang pernah ia pilih melawan seluruh dunia.

Dulu ia mengira cinta cukup. Ia salah.

"Kirimkan yang terakhir besok," kata Nayla. "Aku akan tanda tangan."

Wajah Arga menegang.

"Nayla, jangan bicara saat emosi."

"Aku tidak emosi."

Justru itulah yang paling mengerikan.

Ia sangat tenang.

"Aku capek, Mas. Dan kali ini, aku tidak mau menunggu kamu menjelaskan hal-hal yang tidak pernah kamu anggap pantas kuketahui."

Nayla berbalik menuju tangga.

Arga memanggil, "Nayla."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Kalau kamu pergi sekarang, jangan berharap semuanya bisa kembali seperti semula."

Nayla memejamkan mata.

Dulu ancaman seperti itu akan membuatnya berbalik. Malam ini tidak.

"Justru itu yang kuinginkan," jawabnya.

Lalu ia naik ke kamar, meninggalkan Arga di ruang makan bersama sup ayam yang dingin dan sebuah pernikahan yang akhirnya berhenti berpura-pura hidup.

Arga tidak segera menyusul.

Ia berdiri di tempat yang sama, menatap tangga tempat Nayla menghilang. Di kepalanya, masih ada kalimat terakhir Nayla. Justru itu yang kuinginkan.

Seharusnya ia marah.

Biasanya ia marah saat Nayla membantah. Biasanya ia merasa Nayla terlalu emosional, terlalu ingin masuk ke wilayah yang belum boleh ia sentuh. Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda. Nayla tidak membanting pintu. Tidak menangis. Tidak memohon.

Ia pergi seperti orang yang sudah selesai menghitung kerugiannya.

Arga mengambil ponsel Nayla yang tadi sempat tertinggal di meja, lalu sadar benda itu bukan miliknya. Ia meletakkannya kembali.

Di layar yang masih menyala, foto laporan Chika terlihat sekali lagi.

Untuk pertama kalinya, Arga merasa kebisuan yang ia pilih mungkin sudah berubah menjadi senjata.

Dan senjata itu mengarah pada orang yang seharusnya ia lindungi.

Episode 3

Bab 3

Pagi berikutnya, Nayla tidak turun untuk menyiapkan sarapan.

Arga menyadarinya ketika ia masuk ke ruang makan dan hanya menemukan Mbak Sari berdiri gugup di samping meja. Biasanya, Nayla sudah ada di sana. Kadang ia membaca jadwal di tablet, kadang menandai dokumen dengan pena merah, kadang hanya duduk sambil minum teh hangat karena maagnya kambuh.

Hari itu kursinya kosong.

"Ibu Nayla belum turun, Pak," kata Mbak Sari hati-hati.

Arga melirik jam. "Dia sakit?"

"Saya tidak tahu, Pak. Saya ketuk pintu tadi, tidak dijawab."

Tangan Arga yang hendak mengambil kopi berhenti.

Tidak dijawab?

Nayla bukan tipe orang yang membuat orang rumah khawatir. Sekalipun demam, ia tetap membalas. Sekalipun marah, ia tetap tahu sopan santun pada orang yang tidak bersalah.

Arga berbalik menuju tangga.

Ia mengetuk pintu kamar utama.

"Nayla."

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi. "Nayla, buka pintunya."

Masih sunyi.

Arga memasukkan sandi pintu. Pintu terbuka.

Kamar itu rapi.

Terlalu rapi.

Tempat tidur sudah dibereskan. Meja rias bersih. Lemari di sisi kanan terbuka sedikit. Arga berjalan ke sana dan menarik pintu lemari.

Beberapa pakaian Nayla hilang.

Tidak banyak. Justru itu yang membuat perasaan Arga tak enak. Seolah ia tidak sedang pindah rumah, hanya mengambil yang benar-benar miliknya, lalu meninggalkan sisanya karena tidak lagi ingin membawa kenangan.

Di meja kecil dekat jendela, ada amplop cokelat.

Arga mengambilnya.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen: kartu akses rumah, kartu akses kantor, kartu kredit tambahan atas namanya, dan cincin tipis yang selama ini Nayla pakai hanya di rumah.

Arga menatap cincin itu.

Dadanya tiba-tiba terasa ditekan.

Di bawah cincin, ada secarik kertas.

Tulisan Nayla rapi.

Mas Arga,

Aku tidak membawa apa pun yang bukan milikku.

Untuk proses hukum, kirimkan berkas ke emailku.

Mulai hari ini, aku tidak akan datang ke kantor.

Jangan mencariku kalau hanya ingin marah.

Nayla.

Arga membaca surat itu dua kali.

Jangan mencariku kalau hanya ingin marah.

Ia meremas kertas itu, lalu segera merapikannya lagi, seolah bekas kusut bisa membuat kalimatnya berubah.

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul: Dimas, kepala legal Pradipta Group.

Arga mengangkat dengan suara rendah. "Apa?"

"Pak, maaf mengganggu pagi-pagi. Draft permohonan cerai yang Bapak minta revisi kemarin sudah selesai. Apakah perlu saya kirim ke Ibu Nayla hari ini?"

Arga diam.

Kemarin, sebelum pulang, ia memang meminta Dimas menyiapkan versi terakhir. Ia sedang marah. Marah karena Nayla mempertanyakan Chika, marah karena ucapan di gala itu masih mengganggunya, marah karena setiap kali melihat Nayla menatapnya dengan mata kecewa, ia merasa seperti orang yang kalah.

Ia tidak benar-benar ingin bercerai.

Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.

Dokumen itu hanya tekanan.

Hanya cara untuk membuat Nayla berhenti menantangnya.

Namun sekarang Nayla pergi sebelum dokumen itu dikirim.

"Pak?" suara Dimas terdengar lagi.

Arga menutup mata sebentar. "Kirim."

Hening di seberang.

"Ke email pribadi Bu Nayla?"

"Ya."

"Baik, Pak."

Panggilan berakhir.

Arga berdiri di tengah kamar yang mendadak terasa asing. Ia ingin menelepon Nayla, tapi harga dirinya menghalangi. Ia ingin bertanya di mana dia, tapi surat itu seolah menampar lebih dulu.

Jangan mencariku kalau hanya ingin marah.

Apa dia hanya marah?

Arga menuruni tangga dengan wajah dingin. Mbak Sari menatapnya dari dapur, tapi tidak berani bicara.

"Kalau Bu Nayla kembali, hubungi saya," kata Arga.

Mbak Sari ragu. "Pak, Ibu pergi?"

Arga menatapnya.

Mbak Sari langsung menunduk. "Baik, Pak."

Arga pergi ke kantor tanpa sarapan.

Di mobil, sopir beberapa kali melirik lewat kaca spion. Biasanya Nayla yang mengatur rute, mengingatkan jadwal, bahkan menyiapkan obat maag di kotak kecil dalam tas kerja Arga. Hari ini, kursi di sebelahnya kosong.

Arga membuka ponsel.

Chat terakhir dengan Nayla terjadi tiga hari lalu.

Nayla:

Mas, nanti malam makan di rumah? Aku masak sup ayam.

Ia tidak membalas.

Di bawahnya, pesan kemarin.

Nayla:

Aku izin ke rumah sakit pagi ini. Maagku kambuh.

Ia juga tidak membalas.

Arga mengunci layar.

Beberapa menit kemudian, ia membukanya lagi.

Ia menekan nama Nayla.

Panggilan tidak tersambung.

Nomor tidak aktif.

Arga menatap layar. Rahangnya mengeras.

Ia mencoba lagi.

Hasilnya sama.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang dingin merayap di belakang lehernya.

Nayla benar-benar memutus akses.

Setiba di kantor, suasana lantai direksi langsung berubah. Semua orang menyadari Bu Nayla tidak datang. Tidak ada yang berani bertanya pada Arga, tapi bisik-bisik bergerak lebih cepat daripada lift.

Dimas menunggu di depan ruang kerja.

"Pak Arga."

"Sudah dikirim?"

"Sudah, Pak. Bu Nayla juga sudah membalas."

Langkah Arga berhenti.

"Apa katanya?"

Dimas membuka tablet. "Beliau menyatakan menerima draft untuk dibaca. Beliau juga menanyakan apakah semua aset yang diberikan selama pernikahan bisa dikembalikan melalui kantor legal atau langsung ke rumah."

Arga menatap Dimas.

Dimas menelan ludah. "Beliau juga menulis bahwa beliau tidak akan menuntut nafkah, kompensasi, saham, rumah, kendaraan, atau apa pun dari Pradipta Group."

Tidak akan menuntut apa pun.

Kalimat itu seharusnya membuat proses mudah. Sangat mudah.

Namun Arga justru merasa seperti dihina.

"Dia pikir aku tidak mampu menafkahi mantan istri?"

Dimas bingung harus menjawab apa.

"Pak, secara hukum—"

"Aku tidak bertanya hukum."

Dimas menutup mulut.

Arga masuk ke ruang kerja. Di meja, folder-folder sudah menunggu. Biasanya Nayla menyusun semuanya berdasarkan prioritas. Hari ini, asistennya yang lain tampaknya mencoba meniru, tapi urutannya salah.

Arga membuka satu dokumen, lalu menutupnya lagi.

Tidak fokus.

Ia memanggil sekretaris pengganti sementara, Rani.

Rani masuk dengan gugup. "Pak?"

"Jadwal jam sepuluh?"

"Meeting dengan tim investasi, Pak."

"Materinya?"

Rani membuka tablet, agak panik. "Sebentar, Pak. Saya cek dulu."

Arga menatapnya tanpa ekspresi.

Nayla tidak pernah butuh "sebentar". Ia tahu semua. Ia bahkan tahu investor mana yang alergi kacang, komisaris mana yang harus disapa duluan, dan kapan Arga perlu kopi pahit tanpa gula.

"Keluar."

Rani membeku. "Pak?"

"Keluar."

Rani pergi hampir berlari.

Arga duduk di kursi kerjanya. Di sisi kanan meja, masih ada kotak kecil berisi obat maag yang disiapkan Nayla minggu lalu. Ia membuka kotak itu.

Ada catatan kecil.

Jangan minum kopi sebelum makan.

Arga menatap tulisan itu lama.

Pintu ruang kerja diketuk.

宋? No.

Di versi hidupnya yang sekarang, bukan Song Cheng. Namanya Bagas, asisten pribadi yang mengurus urusan luar.

"Masuk," kata Arga.

Bagas masuk membawa ponsel. "Pak, Mbak Chika ada di lobi. Katanya sudah janji dengan Bapak."

Arga mengangkat wajah.

Chika.

Nama itu datang di saat yang salah.

"Aku tidak punya janji."

"Beliau bilang soal jadwal rumah sakit Bu Ratih."

Bu Ratih.

Nama ibunya membuat Arga menahan napas. Itu alasan yang tidak bisa ia abaikan. Chika memang terhubung dengan pengobatan ibunya. Tapi hari ini, nama Chika juga berarti foto yang dikirim pada Nayla.

"Suruh naik," kata Arga akhirnya.

Bagas keluar.

Arga mengambil ponselnya dan membuka chat Nayla lagi. Ia ingin mengirim pesan. Ingin menulis bahwa laporan Chika tidak seperti yang ia pikirkan. Ingin menulis bahwa ia tidak pernah menyentuh Chika.

Tapi ia terhenti.

Kalau ia menjelaskan sekarang, terdengar seperti takut kehilangan.

Dan Arga Pradipta tidak pernah belajar mengatakan takut.

Pintu terbuka.

Chika masuk dengan gaun pastel dan senyum yang tampak terlalu lembut.

"Mas Arga."

Arga menatapnya tanpa membalas senyum.

"Kamu kirim apa ke Nayla?"

Senyum Chika membeku.

Di saat itu, Arga tahu.

Ada sesuatu yang busuk di balik wajah manis itu.

Namun Arga belum tahu seberapa jauh bau busuk itu sudah masuk ke rumahnya.

Chika menunduk di depannya, memainkan ujung tas, masih memakai wajah perempuan terluka. Dulu Arga akan mengakhiri percakapan seperti ini dengan keputusan bisnis: batalkan, pindahkan, selesaikan lewat legal. Tapi kali ini ada Nayla di tengahnya.

Dan setiap kali nama Nayla muncul, semua keputusan yang dulu mudah menjadi terlambat.

"Mas," kata Chika lirih, "aku tidak punya niat jahat."

Arga menatapnya.

Di masa lalu, ia mungkin membiarkan kalimat itu lewat.

Pagi itu tidak.

"Orang yang tidak punya niat jahat tidak mengirim foto seperti itu pada istri orang."

Chika mengangkat wajah. Matanya tampak basah, tapi Arga akhirnya melihat sesuatu yang selama ini tertutup: perhitungan.

Ia menekan interkom.

"Bagas, tunggu di luar. Jangan biarkan siapa pun masuk."

Untuk pertama kalinya, Chika tampak benar-benar takut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!